Selasa, 07 Januari 2020

Sejarah Singapura (2): NATUNA, Wilayah Indonesia Sudah Dikenal Sejak Tempo Dulu di Singapura; Apa Dasar Klaim oleh Cina?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Singapura dalam blog ini Klik Disini

Singapura sejak dulu adalah pelabuhan internasional. Para pedagang manca negara seperti Eropa (Inggris, Belanda), Arab, India, Tiongkok dan Jepang di Singapura sudah mengenal Natuna sebagai bagian wilayah Indonesia (baca: Hindia Belanda). Pulau-pulau Natuna ini sangat membantu bagi pelayaran mereka yang melintas di Laut Cina Selatan karena sewaktu-waktu dapat dijadikan sebagai tempat berlindung ketika badai besar terjadi. Lantas mengapa kini, laut (sebelah) utara Natuna diklaim Cina sebagai wilayah tradisionalnya?

Natuna (merah); Spratly (kuning)
Tentu saja klaim Cina terhadap laut (sebelah) utara Natuna baru-baru ini sebagai miliknya membuat para pihak di Indonesia meradang. Para pihak bereaksi dengan klaim Cina tersebut dengan nada patriotisme: NKRI Harga Mati! Apakah reaksi Indonesia tersebut membuat Cina mundur? Kita lihat nanti. Bagi Indonesia melihat perkembangan berikutnya dengan wait en see. Singapoera yang doeloe sebagai kota pelabuhan dan kini menjadi negara berdiri sendiri sudah barang tentu tidak nyaman dengan situasi ini.

Klaim Cina tidak hanya soal laut Natuna. Sebelumnya Cina telah berselisih paham dengan Viernam dan Filipina. Lantas pertanyaannya. Bagaimana Cina membuat klaim pada laut (sebelah) utara Natuna, yang secara spasial berada di antara negara-negara regional di Asia Tenggara (ASEAN)? Apakah Cina tengah coba mengganggu keamanan regional? Itu masalah lain. Tujuan tulisan ini adalah untuk membuktikan Natuna adalah wilayah Indonesia sejak lama. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Natuna dan Sambas: Penang, Malaka, Singapoera dan Serawak

Ekspansi barat (Eropa) ke timur pada jaman lampau menjadi prakondisi munculnya gagasan invasi untuk membentuk kolonisasi di Nusantara. Spanyol di Filipina, Prancis di Vietnam dan Portugis di Timor. Sementara Inggris di Semenanjung (termasuk Penang dan Singapoera), Sabah, Brunai dan Serawak di Kalimantan serta Bengkoelen di Sumatra. Selebihnya adalah Belanda (termasuk Malaka dan Natuna).

Peta 1720
Perseteruan Belanda dan Inggris di selat Malaka, Kerajaan Inggris menugaskan Jhon Anderson di Penang untuk melakukan penyelidikan di kawasan. Hasil penyelidikan yang dilakukan tahun 1821 tersebut menjadi rekomendasi bagi Inggris untuk melakukan pertukaran (tukar guling) antara koloni Inggris di Bengkolen (Sumatra) dan koloni Belanda di Malaka (Semenanjung). Sejak itulah (pulau) Singapoera dikembangkan Inggris sebagai pelabuhan internasional (simpul barat dan timur). Dari Penang, Malaka dan Singapoera, Inggris melakukan invasi ke wilayah Semenanjung (1874). Tentu saja saat itu India dan China sepi sendiri (di bawah tekanan Inggris). Pengaruh Belanda di Jepang hanya sekadar soal perdagangan.  

Inggris yang sudah mencekeram di Penang, Malaka dan Singapoera, mulai memperluas cengkeraman baru di utara Kalimantan (sementara Belanda sudah berada di barat, selatan dan timur). Ini sebagai bentuk lanjut perjanjian Inggris-Belanda (Traktat London 1824), Brooke mulai menetap di Serawak (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 07-05-1847). Disebutkan bahwa nafsu Inggris untuk berkembang lebih jauh di wilayah Asia dimulai ketika Brooke datang dari Singapoera, Earl dari Sydney dan lainnya dari Hongkong di pantai utara Kalimantan.

Keberadaan Brooke di Serawak telah memuncul spekulasi di dalam media-media di Eropa. Media Prancis dan Jerman mengkhawatirkan ekspansi/invasi Inggris ini lebih jauh. Setelah Brooke bermukim di Serawak menyusul militer Inggris dengan dalih untuk memberantas bajak laut yang berada di wilayah laut China selatan antara Singapoera, kepuluan Natoena dan pantai utara Kalimantan. Singkat kata: Brooke semakin aman di Serawak dan pengaruh Inggris di pantai utara Kalimantan semakin kuat.

Pemerintah Hindia Belanda sudah sejak 1829 menempatkan Asiten Residen di Sambas, tempat dimana Raja Sambas berkedudukan. Disebutkan perdagangan Belanda di kepulauan Natoena dan Anambas kurang bergairah karena tidak signifikan. Orang-orang Inggris di Singapoera memanfaatkan perdagangan di kepulauan tersebut (lihat Algemeen Handelsblad, 05-10-1849). Boleh jadi ini yang menjadi awal mengapa James Brooke membuka wilayah baru di Serawak. Dengan adanya jalur Singapoera-Serawak, posisi kepulauan Natoena milik Belanda, terangkat kembali.

Selanjutnya Inggris dari Penang, Malaka dan Singapoera mulai melakukan invasi ke wilayah Semenanjung (1874). Awalnya Inggris berkedudukan di Perak, kemudian ke Kelang dan selanjutnya ke Koelaloempoer. Tentu saja saat itu India dan China sepi sendiri (di bawah tekanan Inggris). Pengaruh Belanda di Jepang hanya sekadar soal perdagangan. Peta 1720

Ini menunjukkan bahwa wilayah laut China selatan di Asia Tenggara telah diperebutkan dan dikuasai oleh Belanda dan Inggris. Untuk sekdara catatan bahwa Koealalompoer sendiri adalah pemukiman yang telah lama dibangun oleh orang-orang Mandailing en Angkola dari Sumatra (Residentie Tapanoeli) saat Inggris memindahkan pusat pemerintahannya dari Kelang ke Koealaloempoer.

Sementara itu, Belanda menguasai kepulauan Riau dan membangun basis di pulau Bintan (di Tandjoeng Pinang). Pulau Singapoera dan pulau Bintan hanya dibatasi oleh selat yang sempit. Belanda menguasai seluruh Sumatra dan seluruh pulau-pulau yang lebih kecil. Belanda kemudian membentuk administrasi pemerintahan (residentie) Riaouw dengan menetapkan ibu kota di Tandjoeng Pinang. Wilayah administratif (residentie) Riaouw termasuk kepulauan Natoena. Sejak saat itulah (kepulauan) Natuna menjadi wilayah Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Peta 1942
Pada era itu, China tidak memiliki pengaruh apa-apa di wilayah lautan (yang kini disebut Laut Cina Selatan). Hanya Inggris dan Belanda yang memiliki pengaruh yang relatif lebih kuat dibanding yang lainnya. Kepulauan Natoena, bagian dari Hindia Belanda menjadi penting bagi Belanda karena pos penghubung kapal-kapal uap Belanda dalam hilir mudik dalam aktivitas perdagangan ke Jepang. Berdasarkan Peta 1942 sebaran pulau di Natuna adalah pulau Natuna dan kepulauan Natuna Utara di utara dan kepulauan Natuna Selatan di selatan (dekat Kalimantan Barat). Dari nama-nama pulau di Kepulauan Natuna menunjukan nama-nama Melayu (tidak ada nama China).

Dari aktvitas perdagangan di laut China selatan, pengaruh China tidak terlihat. Hanya pengaruh Belanda dan Inggris yang ada. Orang-orang di Singapoera mengetahui bahwa Natoena adalah wilayah kekuasaan Belanda, namun dalam soal perdagangan Inggris memanfaatkan situasi yang mana para pedagang Belanda tidak hadir. Secara defacto Natoena adalah wilayah perdagangan Inggris tetapi secara dejure adalah wilayah kekuasaan Belanda.

Sesungguhnya tidak hanya kepulauan Natoena dan Anambas yang terabaikan oleh Belanda, tetapi juga pulau-pulau dan pesisir pantai timur Sumatra. Oleh karena itu para pedagang Inggris dari Singapoera yang hilir mudik di wilayah tersebut. Invasi Pemerintah Hindia Belanda ke pantai timur Sumatra baru dimulai pada tahun 1850an dan baru mencapai Deli pada tahun 1863 (sementara di pantai barat, Belanda sudah sejak 1840 membentuk Residentie Tapanoeli dengan wilayah terjauh di Singkil (dalam hal ini sisa Sumatra hanya tinggal Atjeh yang masih independen).

Invasi Jepang ke Asia Tenggara

Sejak Nienhuys membuka perkebunan tembakau di Deli pada tahun 1865, hubungan Batavia dan Deli baru menjadi ramai. Ini dengan sendirinya wilayah-wilayah Riouw dan wilayah-wilayah di pantai timur Sumatra (yang berpusat di Siak) mulai berkembang dan para pedagang Inggris mulai menyingkir.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar