Jumat, 01 Mei 2020

Sejarah Bogor (40): Adolf Winkler, Penerus Majoor Saint Martin; Daftar Para Komandan Militer dan Benteng VOC Seputar Batavia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Dalam tulisan-tulisan sejarah awal Bogor pada masa ini selalu dihubungkan dengan nama Captein Adolf Winkler. Hampir tidak ada yang menyebut nama Majoor Saint Martin (komandan Adolf Winkler). Mengapa demikian? Adolf Winkler dianggap berperan penting dalam mendeskripsikan situs kuno eks kerajaan Pakwan-Padjadjaran (1690). Namun kenyataannya, David Anreas Stier yang justru sangat berperan penting dalam menulis risalah eks kerajaan Pakwan-Padjadjaran (1730). Adolf Winkler ternyata bukan yang pertama, yang pertama justru Sersan Scipio dan Luitenant Patingi (1687). Dua laporan ini ditindaklanjuti oleh Michiel Ram dan Cornelis Coops (1701).

Bogor tempo doeloe (Peta 1745)
Ketika Cornelis de Houtman melakukan pelayaran Belanda menuju Hindia Timur, semua orang yang berada di bawah kendalinya adalah pelaut dengan memiliki keahlian yang berbeda-beda. Adiknya, yang ikut dalam pelayaran, Frederik de Houtman adalah ahli bahasa (yang menyusun kamus bahasa Melayu, yang mulai disusun di Madagaskar). Ketika Pemerintahan VOC dimulai di Batavia pada tahun 1619 (Jan Pieterszoon Coen), setiap Gubernur Jenderal harus memiliki kemampuan militer. Satu-satunya Gubernur Jenderal yang benar-benar berpangkat jenderal adalah Jacques Specx (Gubernur Jenderal VOC 1629-1632). Mengapa? Ingat serangan Mataram 1628. Ketika Jacques Specx kembali ke Belanda dia bertindak sebagai pimpinan pelayaran (saar itu kapal berlayar masih konvoi). Setelah Generaal Specx, Pemerintah VOC mulai merekrut tentara profesional untuk mengisi jabatan-jabatan komandan di dalam satuan militer. Uniknya para tentara profesional tersebut, umumnya adalah tentara asal Prancis dan Jerman. Para komandan militer yang meniti karir dari bawah ini umumnya menjadi pejabat tinggi di dalam pemerintahan VOC, termasuk Majoor Saint Martin dan Adolf Winkler (yang juga berhasil mencapai pangkat Majoor, pangkat tertinggi militer di Hindia pada era VOC).

Okelah, itu satu hal. Hal lain yang juga penting dipahami adalah siapa Adolf Winkler dan bagaimana perjalanan karirnya? Tentu saja tidak ada yang pernah menulisnya. Jika memang nama Adolf Winkler penting dalam sejarah awal Bogor, sudah semestinya nama Adolf Winkler diketahui lebih banyak. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.  

Situs Kuno Eks Kerajaan Pakwan-Padjadjaran

Sebelum Adolf Winkler, Luitenant Patingi dan Sersan Scipio sudah melakukan eksplorasi wilayah hulu sungai Tjiliwong di sekitar titik singgung terdekat antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane (masing-masing membuat laporan). Tiga situs penting yang ditandai di dalam peta yang mereka buat adalah sungai Sipako [Tjipakoe], sungai Caliko [Tjibalok] dan Fort Padjadjaran. Sungai Tjipakoe bermuara ke sungai Tjisadane (di sekitar Batu Tulis yang sekarang). Sementara itu benteng Fort Padjadjaran adalah benteng yang dibangun oleh pasukan Luitenant Patingi (letaknya di Istana Bogor yang sekarang).

Peta 1687
Dalam laporan Sersan Scipio terungkap bahwa Luitenant Patingi dan pasukannya telah membangun benteng dan juga telah membersihkan situs kuno eks kerajaan Pakwan-Padjadjaran. Sersab Scipio (dan dua tentara Eropa-Belanda lainnya) dilarang memasuki area yang dibersihkan karena beragama Kristen. Keterangan ini tidak jelas maksudnya, apakah anggota pasukan Luitenan Patingi telah menganggap area yang dibersihkan sebagai area suci (tempat penyembahan atau tempat berdoa). Namun akhirnya Sersan Scipio meninjau area. Dalam laporan Sersan Scipio, para pasukan dan Luitenant Patingi pernah mendatangi area untuk berdoa dengan membkar dupa. Masih menurut laporan Scipio bahwa pasukan Patingi percaya area tersebut masih lestari karena dijaga oleh sejumlah harimau besar.

Dalam peta yang dibuat Sersan Scipio ini nama sungai Tjiawi tidak diidentifikasi (karena mungkin sungai yang lebih kecil). Sungai Tjiawi berada diantara sungai Tjipakoe dan sungai Tjibakok. Sungai Tjibalok ini adalah sungai buatan di sepanjang jalan utama yang disodet dari snngai Tjiseuseupan (yang jatuh ke sungai Tjiliwong). Satu lagi sungai yang tidak diidentifikasi di arah hilir adalah sungai Tjipakantjilan (karena berada di arah hilir area). Sebagian aliran sungai Tjibalok yang jatuh ke sungai Tjiliwong dialirkan ke sungai Tjipakantjilan (yang jatuh ke sungai Tjisadane di sekitar Empang yang sekarang). Dalam dua laporan ini tidak terungkap secara eksplisit apakah ditemukan batu bertulis dan patung-patung kuno. Meski para anggota pasukan Luitenant Patingi telah melakukan penyembahan dengan dupa tidak dapat dipastikan apakah mereka menyembah patung-patung tersebut.

Area situs kuno, dua abad kemudian (Peta 1900)
Dalam laporan yang dibuat oleh Michiel Ram dan Cornelis Coops (1701) secara jelas diidentifikasi berbagai benda kuno, seperti dicatat dalam laporan mereka: ‘Di area-area yang hancur ini ada beberapa relik kuno, seperti: sebuah batu datar setinggi sekitar 6 hingga 7 kaki dan lebar 8 kaki, bulat dan ditutupi dengan beberapa kerikil besar, dan pada batu terdapat guratan 6 baris dengan karakter yang telah dipakai sebagian besar pada zaman kuno dan tidak terbaca. Dekat batu ini terdapat enam batu bulat, tegak seperti tunggul pohon setinggi 2, 3, 4 dan 5 kaki yang terbesar yang berdiri tiga kaki dari batu datar yang dijelaska. Enam sampai tujuh batang batu pipih yang disebutkan di atas, masih ada tiga patung yang mirip dengan orang, yang lain tidak ada lagi yang patut untuk diperhatikan’.

Seperti apa isi laporan Adolf Winkler tidak dimuat di sini. Yang akan diuraikan lebih lanjut adalah riwayat Adolf Winkler sebagai tentara profesional yang bekerja sebagai komandan militer VOC yang bertugas di sejumlah tempat.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Adolf Winkler dan Komandan Militer

Tidak diketahui kapan Adolf Winkler berada di Hindia Timur. Keberadaannya di Hindia Timur pada tahun 1683 sebagai Luitenant [Adolf Winckelaar] untuk mendampingi Capiteyn Joan Ruysch ke Cheribon (lihat Daghregister 19 Oktober 1683). Pada tahun 1686 Luitenant van den capiteyn [Adolph Winkelaar] dengan pasukannya berangkat ke Tangerang untuk menemui Majoor Saint Martin. Majoor adalah pangkat tertinggi militer di Hindia pada era VOC.

Terjadi perang saudara di Banten, sang anak mengkudeta sang bapak (Tirtajasa), Sejak itu suhu politik semakin memanas di Tangerang. Sang ayah menyingkir dan telah mengambil tanah Tanara, Pontang dan (sisi barat sungai) Tangerang di bawah pemerintahannya (lihat Daghregister tanggal 1 Juni 1680).

Pada tanggal 7 Maret 1682 Majoor Saint Martin melakukan persiapan terakhir menuju Banten. Pada tanggal 8 Maret 1682 Majoor Martin tiba di Banten dengan 120 orang Bali.

Pada tanggal 19 Maret 1682 sejumlah besar orang (sisi barat sungai) Tangerang melewati batas Batavia (sungai Tangerang). Pada tanggal 21 Maret 1682 Schermutsel ditahan oleh orang Tangerang. Pada tanggal 3 Mei 1682 orang Tangerang melukai orang-orang VOC. Pada tanggal 17 Mei 1682 orang-orang Tangerang benar-benar menyerang dan 300 dari pekerja VOC tewas dan tenggelam di sungai. Pada tanggal 14 Juni 1682 sejumlah orang (sisi timur sungai) Tangerang mendatangi VOC di Batavia.

Pada tanggal 6 Januari 1683 militer VOC berangkat ke sungai Tangerang di bawah pimpinan Kapten Joan Ruysch dan dibantu Sergeant Anthonij Eygel. Sejak inilah Tangerang dijaga oleh militer VOC.

Majoor Saint Martin berhasil mengatasi situasi di Banten dan perjanjian. Situasi di sisi barat sungai Tangerang juga sudah terkendali. Tahunn 1686 adalah berakhirnya ketegangan yang terjadi di Banten dan Tangerang. Sepulang dari Banten (dan Tangerang) Majoor Saint Martin diberi hadiah oleh Pemerintah VOC berupa lahan subur di Tjinere dan Pondok Terong (Tjitajam). Saint Martin sebelumnya sudah memiliki lahan di Batavia (kelak disebut Kemajoran). Sementara Adolph Winkelaar mendapat kenaikan pangkat menjadi Capitein. Struktur kepangkatan militer era VOC: Majoor, Capitein, Luitenznt, Sergeant dan soldaten (prajurit).

Pada bulan Februari 1687 Kapten Adolph Winkelaar dan Raad diketahui menerima kedatangan prajurit dari dataran tinggi Tangerang (hulu sungai Tjisadane). Kapten Winkelaar dengan 100 orang polisi bergerak ke hulu sungai Tjisadane (lihat Daghregister 7 Maret 1687). Laporan dari Kapten Adolph Winkelaar di Parombenking [?] (Daghregister 8 Maret 1687). Pasukan Jawa mengamankan dataran tinggi Tangerang (hulu sungai Tjisadane) atas perintah Kapten Nobel Adolph Winkelaar dan Dewan (lihat Daghregister 11 Maret 1687). Kapten Adolph Winkelaar dan dewan mengirim laporan melalui kopral Jan Regte ke Batavia (lihat Raghregister 17 Maret 1687). Kapten Adolph Winkelaar dan dewan dari Tangerang mengirim laporan ke Batavia melalui tiga tentara Makassar (lihat Daghregister 26 Maret 1687). Kapten Adolph Winkelaar dan dewan menerima surat melalui prajurit dari  Parambouling [?] (lihat Daghregister 13 April 1687). Kapten Adolph Winkeler meminta mengamankan dataran tinggi Tangerang (lihat Daghregister 15 April 1687). Pos kembali dapat diambil alih (lihat Daghregister 23 April 1687). Situasi dapat terkendali di hulu sungai Tangerang (Tjisadane).

Dalam perkembangannya, Majoor Isaac Saint  Martin menerima surat dari Luitenant Patingi dari Chirebon (lihat Daghregister 7 Juli 1689). Seberlumnya Luitenant Patingi dengan 33 prajurit melakukan patroli ke dataran tinggi (lihat Daghregister 26 Mei 1689). Sementara itu Kapten Adolph Winkeler menghadapi situasi yang dilematis, terjadi tragedi di Bantam (Tangerang) atas kekacauan yang dibuat Kapitein Jonker. Majoor St. Martin melihat tingkah laku komplotan Jonker dapat merugikan negara (VOC). Pemerintah lalu mengirim satu detasemen untuk melakukan ekspedisi ke Bantam di bawah pimpinan St. Martin untuk mengendalikan situasi. Detasemen tersebut dipimpin oleh Kapten Adolph Winckelaar.

Kapten Adolph Winckelaar dengan sebanyak 100 tentara Eropa-Belanda dan sebanyak 150 pasukan pribumi bergerak ke sungai Tangerang untuk menghancurkan niat buruk Kapten Jonker (lihat Daghregister 29 Agustus 1689). Laporan Kapten Adolph Winckelaar dikirim ke Batavia melalui prajurit (lihat Daghregister 4 September 1689 dan 7 September 1689). Kapten Adolph Winckelaar dengan pasukan Eropa-Belanda kembali bergerak  (lihat Daghregister 11 September 1689). Kapten Adolph Winckelaar dengan pasukan tentara Eropa dan pribumi menuju Tanjongpriock untuk menyelidiki pemberontak (lihat Daghregister 14 September 1689). Kapten Adolph Winckelaar tiba di Poulo Mandalika dan mengirim 40 atau 50 tentara Eropa-Belanda dan beberapa penduduk asli (lihat Daghregister 20 September 1689). Kapten Adolph Winckelaar juga meminta pasukan dari dataran tinggi timur Batavia. Kapten Adolph Winckelaar beberapa kali bertempur dan merangsek ke Poulo Mandalika untuk melumpuhkan pemberontak Capiteyn Jonker (lihat Daghregister 22 September 1689). Kapten Adolph Winckelaar kembali dari Poulo Mandalika (lihat Daghregister 30 September 1689). Kapten Adolph Winckelaar kembali dari dataran tinggi Batavia (lihat Daghregister 5 Oktober 1689).

Kapten Adolph Winckelaar tampaknya menjadi sangat penting dan berperan. Kapten Adolph Winckelaar menjadi andalan Majoor Saint Martin. Daghregister tanggal 7 Juni 1690 mencatat bahwa Capitain Adolph Winckeler dan bersama lantmeter Bartel van der Valck en adsistent Lucas Meur yang diampingi oleh satu pasukan mulai melakukan pemetaan ke wilayah hulu di selatan sepanjang sungai Tjiliwong dan sebelah barat Tangerang yang disebut sungai Tjidane hingga ke wilayah yang disebut Pakoean.

Kapitain Adolph Winckeler kembali ke pegunungan selatan (hulu sungai Tjiliwong) (lihat Daghregister 22 Juni 1690). Kapitain Adolph Winckeler berangkat ke Banten (lihat Daghregister 26 Oktober 1690). Kapitain Adolph Winckeler kembali berangkat ke Banten (lihat Daghregister 29 Oktober 1690). Besar dugaan ke Banten ini untuk urusan perbatasan. Setelah itu Kapitain Adolph Winckeler kembali ke Batavia. Pada bulan Februari, di Batavia untuk sementara posisi Kapitain Adolph Winckeler digantikan oleh Luitenant Willem Kuffelaer (Dagh 3 Februari 1691). Kemana Kapitain Adolph Winckeler? Mungkin ke tempat yang jauh dimana juga terdapat kekuasaan VOC seperti di Malabar-India. Pada bulan November Kapitain Adolph Winckeler kembali bertugas di Batavia (Dagh 23 November 1691). Kapitain Adolph Winckeler berangkat ke pulau-pulau Jacatra dan telah kembali (Dagh 7 Januari 1692).

Pada tahun 1694 Kapitain Adolph Winckeler ke wilayah timur di sungai Bekasi dan sungai Karawang (sungai Tjitaroem) dan kembali ke ibu kota (Batavia) pada bulan Juni dari Tanjongpoera (lihat Daghregister 16 Juni 1694). Kapitain Adolph Winckeler menyampaikan laporan tertulis tentang orang-orangnya di Bacassy dan Tanjongpoera (lihat Dagh 21 Juni 1694). Kapitain Adolph Winckeler menyiapkan pembangunan benteng dengan pelayaran dari Batavia (Dagh 7 Juli 1694). Tidak dijelaskan benteng dimana, tetapi kemungkinan di Bekasi dan Tandjoengpoera.

Majoor Saint Martin mulai menua dan lelah. Penggantinya telah muncul, seorang capitein cemerlang Captein Adolph Winckeler. Majoor Saint Martin pensiun dari jabatan militer. Pemerintah VOC pada tahun 1694 membebaskannya dari tugas.

Majoor Saint Martin mengalami sakit. Untuk penyembuhan sakitnya Saint Martin memilih istirahat di pulau Ceylon. Akan tetapi tidak lama kemudian Saint Martin dikabarkan meninggal pada tanggal 14 April 1696. Majoor Isaac Saint Martin meninggal dalam status lajang dan tidak memiliki keturunan.

Saint Martin di Hindia bergabung dengan VOC berkarir di militer dari bawah. Setelah usai perang Banten dan telah mengabdi selama delapan tahun, Saint Martin mendapat cuti selama dua tahun ke Vaderland (Belanda). Setelah dua tahun kemudian, Saint Martin kembali ke Hindia Timur. Ketika Pada tahun 1689 Kapitein Jonker membuat ulah, Pemerintah VOC kembali menugaskan Saint Martin kembali mengenakan seragam. Majoor Saint Martin meminta komandan kesayangannya, Kapitain Adolph Winckeler untuk mengejar Kapitein Jonker.

Seperti halnya, Majoor Saint Martin yang juga mendapat tugas-tugas non-militer (sebelum sakit), pada bulan Mei 1696 Captein Adolph Winckeler ditunjuk pemerintah sebagai commissie over de Inlanders (suatu tugas yang pernah dijabat oleh Saint Martin). Penunjukan ini bersamaan dengan pengangkatan raad extraordinaris Joannes Cops menjadi Resident van Heemraden (wilayah Batavia di luar kasteel). Captein Adolph Winckeler kemudian mendapat kenaikan pangkat menjadi Majoor (pangkat tertinggi dalam karir militer VOC).

Pada bulan Noveber 1696 Majoor Adolph Winckeler ditunjuk pemerintah sebagai ketua Dewan Kehakiman di Kasteel Batavia untuk menggantikan posisi E. Andries Cleyer (lihat Daghregister 9 November 1696). Pada bulan Desember, Majoor Adolph Winkler berakhir masa tugasnya dan kemudian digantikan oleh Joannes Cops sebagai Presiden Raad Justice (lihat Daghregister 4 Desember 1699).

Mayor Adolph Winckelee telah mencapai sukses yang pernah diraih oleh Majoor Saint Martin. Namun Majoor Adolph Winckeler tidak secerdas Majoor Saint Martin. Sebab Majoor Saint Martin yang memiliki minat yang kuat pada botani, juga sebagai ilmuwan (saat itu). Majoor Saint Martin dalam tugas sosialnya juga adalah asisten dan yang meneruskan tugas Georg Eberhard Rumphius di Ambon dalam penyusunan tujuh volume (buku) batani di Hindia. Setelah Saint Martin meninggal 1696, tugas ini ditransfer kepada Cornelis Chastelein yang telah membuka lahan baru di Seringsing (Serengseng).

Beberapa isi surat dari saudara-saudara Majoor Adolf Winkler yang ditujukan kepadanya dicatat (Daghregister 1 Mei 1700). Juga hal yang sama dilakukan pada bulan November 1700 (lihat Dagh 8 November 1700). Lalu kemudian juga dilakukan pada bulan Agustus 1701 (lihat Dagh 10 Agu 1701). Beberapa hari kemudian, surat diterima untuk Majoor Adolf Winkler yang ditulis oleh Radja Tambora dari Caab of Good Hope (lihat Daghregister 19 Agustus 1701). Pada bulan November catatan yang ditulis oleh Majoor Adolf Winkler yang ditujukan kepada Deman[g] Marta Singa di Timbangang [Limbangan?].

Seperti yang pernah diperoleh Saint Martin setelah usai perang Banten mendapat cuti dua tahun ke Eropa, Majoor Adolf Winkler pada akhir tahun 1703 mendapat keputusan dari pemerintah untuk cuti ke Eropa. Sebagaimana lazimnya, sejak era Jacques Specx (Gubernur Jenderal VOC 1629-1632) setiap orang yang berpangkat tertinggi di dalam pelayaran menjadi komandan pelayaran ke Belanda. Ini juga menjadi giliran Majoor Adolf Winkler.

Majoor Adolph Winckler ditunjuk sebagai komandan dari sebelas kapal yang akan kembali ke Belanda (lihat Daghregister 20 November 1703). Surat dari komandan armada yang kembali. Adolph Winckler (Daghregister 18 Desember 1703). Surat dari komandan Adolph Winckler untuk dewan dan Heer Edelens (lihat Daghregister 8 Januari 1704).

Tidak diketahui apakah Majoor Adolf Winkler kembali ke Hindia setelah cuti dua tahun di Eropa. Saint Martin masih kembali. Kabar berita Majoor Adolf Winkler tidak pernah ada lagi. Boleh jadi karena pengganti Majoor Adolf Winkler sudah muncul untuk meneruskan estafet para komandan. Nama komandan militer VOC pada saat memulai ekspedisi ke daerah aliran sungai Tjikaniki (barat dari hulu sungai Tjisadane) adalah Majoor Joan van Jasinga (yang namanya kemudian ditabalkan sebagai benteng Djasinga, asal usul nama kota Jasinga di Bogor Barat pada masa ini).

Luitenant Patingi yang pernah menjadi anak buah Majoor Saint Martin diizinkan pemerintah untuk membuka lahan di sisi timur sungai Tjiliwong. Land yang dibuka Luitenant Patingi ini kemudian disebut land Tjimpaeun atau land Patingie, yang dalam perkembangannya nama land tersebut dikenal dengan nama Land Tapos (pada masa ini menjadi kecamatan Tapos, Depok).

Majoor Saint Martin (berdarah Prancis), Majoor Adolf Winkler (berdarah Jerman) dan Majoor Joan van Jasinga (berdarah Belanda) adalah tiga petinggi militer terkenal di era VOC. Masih ada satu lagi komandan militer yang patut dicatat yakni Majoor Jan Andries Duurkoop. Karirnya mulai diberitakan ketika masih berpangkat Luitenant yang menjadi komandan benteng Fort Padjadjaran. Pada tahun 1752 mereka diserang Banten dan villa mantan Gubernur Jenderal van Imhoff terbakar habis. Jan Andries Duurkoop lahir tahun 1722. Setelah pensiun dari militer dengan pangkat Majoor membeli land (perternakan) Tandjong West.

Saat Jan Andries Duurkoop memiliki Land Tandjong West terdapat sebanyak 5.000 ekor sapi perah untuk memproduksi susu. Johs Rach seorang pelukis terkenal yang berkunjung ke land Tandjong West (1772)  peternakan milik Jan Andries Duurkoop dalam situasi dan kondisi puncaknya. Johs Rach melukiskan Land Tandjong West bagaikan Frisia Timur (Oostvriesland) yang mengacu pada wilayah Frisia di perbatasan wilayah pesisir Belanda dan Jerman. Pada tahun 1780 Jan Andries Duurkoop diketahui tidak mampu lagi membayar kepada tenaga kerjanya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 17-08-1893). Pada tahun 1791 Jan Andries Duurkoop diketahui telah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih kecil. Tampaknya sang istri yang ditinggal mewarisi sepenuhnya peninggalan almarhum suaminya. Jan Andries Duurkoop (1722-1792) meninggal dan dimakamkan di land miliknya, Land Tandjong West. Makam Jan Andries Duurkoop diketahui dengan nisan ditemukan di halaman rumput dekat Landhuis Tandjong-Barat (De Indische courant, 22-07-1937)

Tunggu deskripsi lengkapnya

Benteng VOC dan Tanah Partikelir

Pada tahun 1705 dibuat sebuah resolutie tanggal 3 April 1705 tentang pembangunan benteng-benteng baru yang lebih kuat di luar Batavia seperti di muara sungai Bekasi, di Tandjoengpoera (pertemuan sungai Tjibeet dengan sungai Tjitaroem), di Tangerang (sisi timur sungai Tjisadane), Tegal, Semarang dan Soerabaja. Benteng-benteng terdahulu yang sudah dibangun permanen di sekitar Batavia adalah Kasteel Batavia (1619), benteng (pulau) Onrust (1630), fort Jacatra (1650), fort Risjwojk (1650) dan fort Noordwijk (1650) dan fort Angke (1657).

Pembangunan benteng Tangerang dalam kurun yang sama dengan benteng-benteng di Antjol, Bacassie, Tandjoeng Poera dan benteng Tandjoeng (kini Pasar Rebo) serta peningkatan benteng Padjadjaran (kini Istana Bogor).

Setelah selesai semua benteng ini pada tahun 1709 kondisi keamanan [dari timur dari Tjimanoek hingga sisi barat di sungai Tangerang] semakin kuat. Juga dengan dibangunnya benteng-benteng lainnya yang berdekatan kondisi keamaan di seputar daerah aliran sungai semakin kondusif untuk membangun pertanian. Daerah aliran sungai tersebut adalah sungai Tjiliwong, sungai Tjisadane, sungai Bekasi (sungai Tjilengsi) dan sungai Tjitaroem. Babak baru pengembangan wilayah dimulai.

Para investor Eropa/Belanda yang notabene dalam hal ini para pedagang (koopman) VOC mulai bertambah. Para investor ini membeli lahan-lahan atau mengakuisisi lahan-lahan yang sebelumnya telah diusahakan oleh eks pasukan pendukung VOC. Generasi kepemilikan lahan dimulai.

Sebagaimana disebut di atas, pemetaan lahan-lahan dimulai pada tahun 1890 di bawah komandan Captein Adolf Winkler (lihat kembali Daghregister tanggal 7 Juni 1690). Sejak itu, Cornelis Chastelein memperluas lahannya di land Antonij dengan membuka lahan baru di Seringsing pada tahun 1696. Cornelis Chastelein menyusul Saint Martin yang telah lebih dahulu mumbuka lahan di Tjinere dan Pondok Terong (Tjitajam). Pada tahun 1703 Abraham van Riebeeck diberi izin pemerintah untuk mengusahakan lahan di Bodjongmanggis (kini Badjonggede).

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

1 komentar: