Senin, 11 Mei 2020

Sejarah Bogor (52): Cipanas, Cibodas dan Ciputri; Land Tjipoetri Era Inggris (1812), Diakuisisi Pemerintah Hindia Belanda, 1823


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Di timur Gadog berada Tjisaroea. Area tertinggi wilayah Tjisaroea adalah mahkota (puncak) pegunungan Megamendung. Lebih ke timur dari mahkota Megamendung ini terdapat tiga nama tempat yang pertama diidentifikasi, yakni (pesanggrahan) Tjipanas, kampong Tjibodas dan kampong Tjipoetri. Namun tiga nama tempat itu menurut catatan harian Radermacher yang melakukan ekspedisi mengitari gunung Pangrango-Gede tahun 1777 bukan lagi wilayah Buitenzorg tetapi wilayah Tjiandjoer. Menurut Radermacher, punggung pe(gunung)an Megamendong adalah batas pemisah Buitenzorg dan Tjiandjoer. Mahkota punggung gunung Megamendung tersebut kemudian dikenal Pontjak (kini Puncak Pas).

Kecamatan Cipanas dan Pacet; Desa Ciputri (Now)
Pada masa ini, Cipanas, Cibodas dan Ciputri masih menjadi bagian dari wilayah (kabupaten) Cianjur. Batas pemisah antara kabupaten Cianjur dan (kabupaten) Bogor juga masih pegunungan Megamendung (yang kini dikenal Puncak Pas). Tiga nama tempat yang diidentifikasi pertama ini, kini berada di dua kecamatan yang berbeda: desa Tjipanas menjadi bagian wilayah kecamatan Cipanas; sementara desa Cibodas dan desa Ciputri menjadi bagian dari wilayah kecamatan Pacet. Pada masa ini, nama Cipanas dan Cibodas lebih dikenal daripada nama Ciputri, namun di masa lampau nama Ciputri justru yang lebih terkenal dari yang lainnya. Apa pasal? Pada era VOC wilayah Tjisaroea dijadikan tanah partikelir (land) dan pada era pendudukan Inggris wilayah sisi timur Megamendung (Tjipanas, Tjibodas dan Tjipoetri) dijadikan tanah partikelir dengan nama Land Tjipoetri (di bawah kepemilikan Andries de Wilde).

Lantas apa pentingnya sejarah Cipanas, Cibodas dan Ciputri? Ketiga kampong ini pernah menjadi satu kesatuan tanah partikelir dengan nama Land Tjipoetri. Ini bermula setelah dibangunnya jalan pos (Grootepost weg) pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), wilayah terpencil ini semakin terbuka dan diminati investor Andreas de Wilde (di era pendudukan Inggris 1811-1816). Pada era VOC rute jalan dari Tjisaroea ke Tjipanas masih memutar ke arah timur (untuk menghindari terjalnya pegunungan Megamendung). Sehubungan dengan ditingkatkanya pesanggrahan di Tjiipanas menjadi villa-istana Gubernur Jenderal dan penetapan hutan Tjibodas sebagai taman lindung (Natuurmonument), nama Tjipoetri lambat laun menghilang yang hanya kini dikenal sebagai sebuah desa. Oleh karena itulah menarik untuk menulis kembali sejarah Cipanas, Cibodas dan Ciputri agar pengetahuan kita bertambah. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kecamatan Megamendung, Gadog dan Puncak Pas (Now)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.  

Nama Kampong Tjipanas, Tjibodas dan Tjipoetri

Secara geografis nama-nama tempat Tjipanas, Tjibodas dan Tjipoetri berada di wilayah district Tjiandjoer, tetapi secara ekonomis perkembangannya bermula dari Buitenzorg. Seperti halnya Tjisaroea adalah wilayah terjauh di district Buitenzorg, tiga nama tempat tersebut adalah wilayah terjauh di district Tjiandjoer.

Sisi terjauh dari dua wilayah bertetangga ini dipisahkan oleh pegunungan Megamendung. Rute dari Tjisaroea ke Tjipanas (dan sebaliknya) melalui sisi timur gunung Megamendung. Sejak 1713 sudah dibangun pos militer di Tjisaroea dan di Tjipanas. Dua pos ini terhubung dengan benteng Tandjoengpoera di Karawang. Pada tahun 1744 dua nama tempat ini mulai terbuka melalui mahkota gunung Megamendung yang disebut Pontjak Megamendung (kini Puncak Pas). Hal ini terkait dengan adanya tambang di sekitar puncak gunung Megamendung.

Pada tahun 1777 Radermacher melakukan ekspedisi mengitari gunung Pangrango-Gede. Rute yang dilalui Radermacher mengikuti rute militer dari mahkota (Pontjak) gunung Megamendung. Dalam ekspedisi inilah mulai tergambar situasi dan kondisi di sekitar Pontjak Megamendung seperti yang ditemukan di dalam catatan perjalanan Radermacher.

‘Kami akhirnya tiba di punggung gunung Megmedon [Megamednung] dan membuat pondok dan kemudian saya memeriksa lubang gunung api. Goenong Gedé berada di arah ZO dan Pangerango di ZWZ. Mengukur barometer dan termometer. Sersan Geersen dan Aria (orang kedua) dari Tjanjoer menemui kami disini, sementara kami mendengar semak-semak di Tjipannas terbakar.

[Keesokan harinya] Pukul 9.30, kami pergi ke sisi timur dan tangga spiral, yang curam dan licin, dan melewati sungai Giggerbintang, Tsikondol, Tjiborong, Tjimatjan, Tjiwalon, Tjipandawa, semuanya mengalir ke timur menuju sungai Tjitaron atau Krawang. Kami tiba pukul 12 di Tjipannas dan meriamnya ditembakkan. Tjipannas atau pemandian air panas terletak di belakang Gunung Gede, ada rumah kayu dan kebun sayur dan buah yang baik dibawah pengawasan Kopral [Belanda] Joost Wiebe. Di belakang rumah adalah bangunan untuk rumah sakit, dimana ada pancuran air panas dan dingin yang berasal dari selokan kecil naik sekitar 10 batang di belakang gedung. Sungai dingin sekitar 10 batang dari selokan yang hangat.

Di sini [Tjipanas] kami menemukan udara segar yang menyenangkan, jauh di atas Buitenzorg, Pondok Gede atau Ciceroa; tetapi tidak sepadan dengan cara mengerikan yang harus dilewati seseorang menuju kesini. Gunung Gedé dari sini terletak di ZW dan pantas mendapatkan deskripsi khusus. Gunung ini membentuk dua cabang yang berat ke arah NNW dan ZZO. Pada cabang utara membuat gunung Megmedon. Semua sungai dari sisi barat gunung ini membentuk sungai besar Tjiliwong, tetapi yang dari timur runtuh menjadi sungai Tjitaron. Cabang selatan membentuk Pegunungan Kendang yang berarti pemisahan dari air. Semua sungai yang tumbuh dari pegunungan ini di sisi timur jatuh ke Sungai Tjitaron dan mengalir ke laut dekat Krawang, tetapi yang dari sisi barat gunung, mengalir ke Tjimanderi dan ke Laut Selatan. Gunung Gede memiliki pohon-pohon besar dari bawah, tetapi di atasnya hanya [terlihat] semak belukar.

Di NNO dari bangunan ada gunung yang disebut Goenong Kisot, karena banyak yang mengatakan bahwa laut dapat dilihat, jadi kami dibawa kesana pada sore hari. Dalam tiga perempat jam kami datang, di lereng yang tidak menyenangkan lebih buruk dari Megmedon; tetapi kami tiba di pegunungan lalu melihat di sekeliling, dan tidak melihat apa pun selain batu besar, seukuran tempat tidur. Penduduk asli mengatakan bahwa orang-orang kudus atau pertapa tertentu cenderung menginap di sini. Di pangkalan (jalan menuju ke sini) ada dua kampung yang disebut Tjipoetri dan Tjibodas, kedua kampong ini memiliki banyak sawah.

Gambaran dari Radermacher ini mengindikasikan bahwa nama Tjisaroea dan Tjipanas belum dihuni oleh penduduk secara permanen. Seperti yang dilukiskannya Tjisaroea dan Tjipanas adalah tempat pos militer yang sudah ada lama yang ditempati oleh pasukan pribumi dan dipimpin oleh kopral Belanda. Di sekitar pos militer ini hanya ditanam buah-buahan dan sayur-sayuran. Sedangkan penduduk yang membuka kampung secara permanen berada di Tjibodas dan Tjipoetri. Di dua kampong ini sudah terdapat persawahan yang luas.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Andries de Wilde dan Land Tjipoetri

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar