Sejarah Jakarta (15): Buitenzorg Ibukotanya Blubur, Sejarah Kota Bogor yang Sebenarnya



*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jika kita datang ke Bogor, kini kita disambut dengan satu monumen ‘pintu gerbang’ yang menempel pada latar belakang Kebun Raya Bogor. Monumen ini terdiri dari sembilan pilar ‘paku alam’ yang sejajar, yang menopang satu batang besar sebgai plakat yang bertuliskan ‘Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’. Arti harfiahnya adalah yang ada sekarang adalah hasil masa lampau dan yang dilakukan sekarang buat masa datang.

Semboyan ini saya paham betul artinya dari sudut sejarah, dan saya juga paham betul geografi Kota Bogor secara rinci. sebagai sebuuah lanskap dimana semboyan itu melekat. Saya pernah menjadi warga kota yang indah ini dengan KTP Kota Bogor selama sepuluh tahun. Ketika saya datang ke Kota Bogor baru-baru ini, saya tidak kaget melihat semboyan ini tetapi justru saya menggugatnya: Mengapa monumen semacam itu tidak sejak dulu dibuat?.

Titik singgung sungai Ciliwung dan Cisadane
Kota Bogor masa kini adalah kota yang di masa lampau yang dipilih oleh para pendahulu sesuai dengan anugerah alam untuk kebutuhan pertahanan, panorama dan religi. Pilihan lanskap kota alam ini sejauh yang saya tahu terbaik di nusantara. Titik origin kota Bogor (sebelumnya bernama Buitenzorg) yang sekarang adalah titik persinggungan antara sungai Ciliwung dan sungai Cisadane.

Bayangkan kita berada di tengah kota (titik origin) di masa lampau. Kita berada diantara dua sungai besar yang sejajar yang merupakan jarak terdekat dua sungai ini (titik singgung) yakni sungai Ciliwung dan sungai Cisadane. Diantara dua sungai besar ini terdapat sungai kecil bernama Cipakancilan. Ke arah selatan (sisi sungai Cisadane) terdapat panorama gunung Salak, ke arah utara panorama melandai menuju ke laut. Ke hulu arah timur menuju pusat ibukota kerajaan Pakuan dan ke hilir arah barat persawahan dan berbelok ke utara mengikuti aliran sungai Ciliwung menuju laut. Titik singgung inilah pusat kota Bogor yang sekarang (Bazaar/Pasar Bogor).  Dari titik origin ini ke arah hulu adalah kota lama (Pakuan Pajajaran) dan ke arah hilir terbentuk kota Buitenzorg. Batas itu kini berada di Pasar Bogor dimana di pangkal jalan Suryakencana kini dibuat gapura dengan bertuliskan ‘Lawang Suryakancana’ (lawang=pintu gerbang). 

Untuk mudahnya kita dapat membagi periode kota ini: masa kini (Kiwari), masa lalu (Bihari) dan masa datang. Kita mulai dari nama Buitenzorg sebagai hasil kearifan lokal masa lampau dan memproyeksi ke masa datang.

Buitenzorg, Belanda Manfaatkan Kearifan Lokal

Nama Buitenzorg sudah ada sebelumnya, namun secara resmi nama Buitenzorg baru berlaku tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Meski demikian, nama lama, Bogor juga tetap dipertahankan. Nama Buitenzorg ditujukan kepada orang-orang Eropa/Belanda dan nama Bogor untuk menjaga eksistensi pribumi.

Nama Bogor muncul setelah era Pakuan Pajajaran. Letak nama tempat itu tidak diketahui secara jelas (diperdebatkan). Namun tetap perlu dibuktikan.

Dalam hubungan tersebut, Belanda tidak pernah menghilangkan (menghapus) nama lokal apalagi mendudukinya. Malah berusaha menjaganya. Strategi penamaan kota dengan strategi membangun kota baru tidak jauh dari kampong/kota lama yang kemudian memberikan nama dengan dua cara: mengadopsi nama lama atau memberi nama baru. Di Bogor Belanda memberi nama baru seperti halnya di Jakarta (Batavia yang eksis bersama Sunda Kelapa dan Iacatra). Medan dan Bandoeng sama-sama mengadopsi nama lama.

Penamaan resmi ini dimulai sejak adanya rencana strategis Gubernur Jenderal Daendles dalam pembangunan jalan pos trans-Jawa. Dengan adanya pembangunan ruas jalan pos Batavia-Buitenzorg, wilayah yang dulunya bekas Pakuan-Pajajaran (ibukota Kerajaan Pajajaran) tersebut, Buitenzorg berkembang pesat. Salah satu pemicu perkembangan itu adalah keberadaan istana Buitenzorg yang dibangun tahun 1744. Buitenzorg berasal dari kata rumah peristirahatan (istana peristirahatan) di luar kota (buiten) sebagaimana umumnya ditemukan di Eropa pada masa lampau. Ide istana ini muncul untuk tempat tinggal alternative bagi Gubernur Jenderal yang menganggap Batavia sudah dianggap tidak sehat (kanal-kanal semakin dangkal dan kotor dan tidak aman setelah peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia tahun 1740).

Istana yang menjadi rumah peristirahatan yang disebut Istana Buitenzorg menjadi origin kota Buitenzorg. Istana ini dibangun saat Gubernur Jenderal masih berkantor di Istana Batavia (Stadhuis/Balai Kota Batavia). Istana Buitenzorg lalu kemudian digunakan Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Inggris) sebagai ibukota dan menjadi kediaman resminya antara tahun 1811-1816.

Istana Gubernur Jenderal yang baru (menggantikan Stadhuis Batavia) berada di tempat Istana Merdeka yang sekarang namun hadapnya masih ke utara (ke arah Jalan Juanda yang sekarang) dan dalam perkembangannya diubah posisinya menghadap ke selatan (Koningsplein. Lapangan Monas yang sekarang). Untuk melengkapi Istana Buitenzorg dibangun Kebun Raya oleh Baron Van der Capellen pada tahun 1817 segera setelah Inggris hengkang dari Buitenzorg.

Oleh karena itu, Batavia termasuk Buitenzorg. Pada awal pembentukan administrasi di Jawa dan Madoera, Batavia termasuk salah satu Residentie (Province), yakni: Bantam, Batavia, Preanger, Tjeribon dan sebagainya. Pada masa iitu Residentie Batavia terdiri dari tujuh afdeeling (semacam kabupaten): Tangerang, Batavia, Weltevreden, Meester Cornelis, Tandjong, Tjibinoeng dan Buitenzorg.

Afdeeling Stad en voorsteden: Batavia, de hoofdstad der Residentie en van geheel Nederlandsch Indië, in 1619 door den Gouverneur Generaal J. P. Koen gesticht op de plaats van het oude Jakatra, aan de Baai van Batavia, en sedert dien tijd steeds meer Zuidwaarts uitgebreid, zoodat zich aan die zijde een aantal voorsteden gevormd hebben, waar de meeste Europeanen wonen. De voornaamste van deze voorsteden zijn : Molenvliet; Noordwijk, Rijswijk, met het hôtel van den Gouverneur Generaal; Konings plein; Batoe toelis; Pasar baroe; Parapattan; Tanah-abang (Tanabang); Weltevreden, met het Paleis van Weltevreden en het Plein van Waterloo; Kramat: Struiswijk; Goenoeng Sari; Tanah njonja, en andere meer door Inlanders bewoond. De stad met hare voorsteden telt 63.000 inwoners, waaronder ongeveer 3.000 Europeanen en 17.000 Chinezen, welke laatsten in eene afzonderlijke wijk, de Chinesche kampong, in het Zuid-Westen der stad wonen. Afdeeling Tangërang : Tangërang, de hoofdplaats der Afd. Aan den Grooten weg en de rivier Tji-Dani. Afdeeling Meester Cornelis: Meester Cornelis, hoofdplaats der Afd., ruim een uur ten Zuiden van Weltevreden: Bekassi, aan de Tji-Lingsi en den Krawangschen weg. Afdeeling Buitenzorg: Buitenzorg, de hoofdplaats der Afd. met een buitenverblijf van den Gouverneur Generaal en een Gouvernements plantentuin. Op eenigen afstand van deze plaats vindt men nog enkele overblijfselen der hoofdstad van het oude rijk Padjadjaran (lihat Dr. Hollander, 1869).

Pembagian Administratif dan Penduduk Buitenzoeg

Nama-nama land di district Buitenzorg
Pada awal pembagian administratif Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg memiliki lima district (kecamatan), yakni: Buitenzorg, Paroeng, Tjibinong, Jassinga dan Tjibaroessa. Pada tahun 1861 (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861) terdiri dari 62 tanah (landerien) dan 1.030 kampong. Jumlah penduduk sebanyak 341.083 jiwa, tidak termasuk  orang Eropa/Belanda sebanyak 759.

District Buitenzorg terdiri dari 12 landerien dengan jumlah kampong sebanyak 262 buah dari Cisarua hingga Dermaga. Jumlah penduduk sebanyak 78.607 jiwa. Jumlah penduduk yang terbilang banyak (di atas 10.000 jiwa) berada di land Tjiawi, Land Tjidjeroek en Srogol, Land Bloeboer dan Land Tjiomas.   
.
Pada tahun 1930 informasi mengenai pembagian wilayah administratif secara lengkap di Jawa dan Madoera ditemukan dalam buku Alphabetisch Register van de Administratieve-(Bestuurs-) en Adatrechtelijk Indeeling van Nederlandsch-Indie. Deel I: Java en Madoera. Door W. F. Schoel. Landsdrukkerij, Batavia, 1931. Data administrative ini didasarkan hasil Sensus tahun 1930. Seluruh Jawa dan Madoera dibagi lima daerah (gewest), yaitu: Djocjakarta, Midden-Java, Oost-Java, Soerakarta dan West-Java. Di West Java sendiri terdapat delapan afdeeling (Residentie), yaitu: Bantam, Batavia, Buitenzorg, Priangan Midden, Cheribon, Priangan Oost, Priangan West, Indramajoe. Afdeeling Batavia terdiri dari dua regentschappen (kabupaten): Batavia dan Meester Cornelis. Sementara Afdeling Buitenzorg terdiri dari hanya satu regentschappen (kabupaten) yakni Buitenzorg. Di dalam regenschappen ini terdapat district (kewedanaan) Buitenzorg, onderdistrict (kecamatan) Buitenzorg.

Regentschappen (kabupaten) Buitenzorg terdiri dari district: Buitenzorg, Djasinga, Leuwiliang, Paroeng, Tjiawi, Tjibaroesa, Tjibinong. District Buitenzorg terdiri dari empat onderdistrict: Buitenzorg, Kedoenghalang, Semplak dan Tjiomas. Sedangkan district Paroeng terdiri dari dua onderdistrict: Paroeng dan Depok.

Kecamatan (onderdistrict) Buitenzorg yang merupakan pusat dari Kota Buitenzorg terdapat 11 desa, yaitu: Babakan-pasar, Bantardjati, Batoetoelis, Bondongan, Goedang, Pabaton, Panaragan, Pledang, Tadjoer, Tegallega dan Tjipakoe. Desa-desa ini jika diperhatikan merupakan desa-desa yang dapat digolongkan ke dalam kelompok desa. Pertama, desa-desa yang dulunya menjadi area Kerajaan Pakuan Pajajaran (Batoetoelis, Bondongan, Goedang, Babakan-pasar, Panaragan, Tadjoer dan Tjipakoe). Desa-desa ini pada masa kini dibatasi oleh pintu gerbang di Pasar Bogor yang di atas gapura tertulis Lawang Suryakencana.

Sedangkan empat desa lainnya merupakan area di luar Pakuan Pajajaran yakni Bantardjati, Tegallega, Pabaton dan Pledang. Dari empat desa ini, tempat utama orang-orang Eropa sejak awal berada di Istana Buitenzorg dan area yang masuk desa Pledang dan desa Pabaton.

Ibukota Buitenzorg dan Orang Eropa/Belanda

Kawasan pecinan di Buitenzorg
Orang Eropa/Belanda umumnya berada di Depok, Bloeboer, Pasar dan perkebunan swasta (Pondok Gede, Dermaga, Tjiomas, Tjikoppo, Tjiseroa, Tjitjoeroek dan Tjiawi). Jumlah populasi orang Eropa/Belanda terbanyak berdasarkan statistic 1861 terdapat di Land Depok dan Land Bloeboer. Jumlah orang Eropa/Belanda di Land Depok sebanyak 303 orang dan di Land Bloeboer sebanyak 250 orang.

Land Bloeboer adalah ibukota Buitenzorg dimana juga terdapat banyak Tionghoa. Di ibukota ini juga jumlah Tionghoa terbanyak yakni sebanyak 2.188 jiwa (jumlah kedua terbanyak di Tjilengsie sebanyak 1.008 jiwa). Wilayah perkotaan di Bloeboer yang umumnya dihuni oleh orang-orang Tionghoa disebut wijk (yang dibedakan dengan kampong). Meski orang-orang Tionghoa tersebar di seluruh Regenschappen Buitenzorg, namun di setiap land lainnya jumlahnya tidak lebih dari 500 jiwa. Sebagai tambahan, tidak ditemukan orang Arab namun di Bloeboer terdapat 45 orang timur asing lainnya.

Berdasarkan Peta 1900 ibukota (hoofdplaats) Buitenzorg terdiri dari tiga desa, yaitu: desa Paledang, desa Babakan Pasar dan desa Bondongan. Desa-desa ini terdiri dari subdivisi (nama kampong lama dan nama pemukiman baru).

Desa Paledang terdiri dari kampong dan area: Kebon Djahe, Djambatan Merah, Mantarena. Kampong Kramat, Gardoe, Tjiwaringin, Gedong Sawah, Pondok Asem dan Istal Gedong Besar. Desa Babakan Pasar: Tjingtjauw, Tengah, Rawa sedek, Poelau pasar, Jalan Roda dan Bong. Desa Bandongan: Kaoem Hilir, Empang, Kaoem Oedik, Kebon Gede, Sindang Rasmi, Kampung Apoe dan Lajong Sari.

Land Bloeboer yang merupakan tempat dimana ibukota Buitenzorg berada diduga telah berubah nama menjadi Onderdistrict Buitenzorg (1930). Ini dikaitkan dengan didirikannya kantor/rumah Asisten Residentie Buitenzorg. Kantor asisten residen ini mengacu pada lokasi Istana Buitenzorg (yang sudah lama dibangun).  Kantor Asisten Resident ini berhadapan dengan Istana Buitenzorg.  Ruang antara Istana Buitenzorg dan kantor Asisten Residen kemudian dibuat menjadi aloen-aloen kota.

Istana Buitenzorg sejak dibangun tahun 1744 telah mengalami renovasi pada tahun 1809 oleh Daendles dan kemudian direnovasi lagi pada tahun 1819 oleh Baron van der Capellen. Sementara itu kebun raya Buitenzorg dibangun oleh Baron Van der Capellen pada tahun 1817. Seluruh taman menawarkan berbagai macam lansekap yang indah, cukup jalan kaki, rumput, kolam (kelak di dalam kebon raya ditemukan makam fisikawan Heinrich Kuhlen Johan Coenraad van Hasselt). Oleh karena gempa tanggal 10 Oktober 1834 menyebabkan istana runtuh, lalu kemudian Istana ini dibangun kembali.

Garnisun di depan Istana Buitenzorg (foto 1870)
Sebelum ada kantor Asisten Residen sudah ada pos militer yang menjaga Istana Buitenzorg (kemudian di dekatnya dibangun rumah sakit militer) yang sekarang adalah POM seberang Regina Pacis). Dalam perkembanganya dibangun garnizun (militair kampement) dengan mengambil tempat yang lebih luas (di tempat Zeni yang sekarang). Kemudian dibangun Hotel pemerintah di sekitar alun-alun kota ini (kelak disebut Hotel Salak). Pengelola Kebun Raya sebelumnya telah membangun gereja Protestan yang mengampil tempat tidak jauh dari Kantor Pos (Kantor Pos ini dulu disebut Pos Buitenzorg).

Alun-alun kota pada waktu itu jika diperhatikan dari sudut pandang yang sekarang adalah lahan yang berada antara jalan Kapten Muslihat, Jalan Juanda depan Istana, Jalan Salak (samping Hotel Salak dan jalan Pasar Anyar. Sementara itu, jalan pos (sebelum dibangun Kebun Raya) adalah Jalan Sudirman yang sekarang menuju halaman Istana Buitenzorg, berbelok ke kanan sedikit lalu lurus melewati tengah kebun raya dan Jalan Suryakencana yang sekarang.

Kantor Asisten Residen Buitenzorg (foto 1870)
Sejumlah bangunan pemerintah dibangun seperti barak garnisun. Sekitar tahun 1848 berdiri beberapa bangunan pemerintah seperti pengadilan (di jalan Pengadilan sekarang), gedung dewan, penjara (di lokasi yang sekarang di Paledang), laboratorium kimia (kini menjadi AKA) dan rumah hujan (kini Museum Zoologi Bogor). Bangunan lainnya selain gereja Protestan (di lahan Kebun Raya) dibangun gereja Katolik Roma (jalan Kapten Muslihat sekarang) dan gedung lainnya (jalan Dewi Sartika sekarang) di sisi alun-alun kota). Hotel Bellevue (di Pasar Ramayana sekarang) yang disampingnya Kantor secretariat pemerintah (kini kantor Perbendahaaraan Negara). Kantor As Residen 1870

Masjid di Empang (foto 1880)
Sementara pembangunan kota terus berjalan, pasar lama lambat laun menjadi pasar yang sangat besar ketika orang-orang Tionghoa mengambil lokasi di dua sisi jalan yang kini  jalan Surya Kencana. Bazaar Bogor adalah pasar tua di Buitenzorg yang telah menggantikan Bazaar Tjiloear. Seperti disebutkan di ibukota Buitenzorg ini jumlah Tionghoa pada tahun 1861 terdapat sebanyak 2.188 jiwa. Lingkungan komunitas Tionghoa ini disebut wijk (semacam kelurahan pada masa ini). Wijk ini berada diantara desa Babakan Pasar dan desa Bondongan (sepanjang pangkal Jalan Surya Kencana yang sekarang). Pada Sensus 1930 nama Wijk ini dihilangkan dan dimasukkan ke desa Babakan Pasar dan desa Goedang. Desa Bondongan sendiri merupkan komunitas pribumi yang terus berkembang dengan pusat pertumbuhan di sekitar Masjid Empang. Foto Masjid 1880

Perkembangan lebih lanjut terdapat situs-situs baru seperti rumah sakit militer (lampu merah Istana) yang kini dibawahnya terletak Lebak Kantin (berasal dari kantin militer). Rumah sakit ini merupakan lokasi garnisun lama yang telah dipindahkan ke lokasi baru (di Zeni AD dekat air mancur yang sekarang).

Alun-alun kota Buitenzorg semakin sempit
Ibukota Buitenzorg lalu terdiri dari tiga desa. Masing-masing desa meliputi kampong/area dengan. Tiga desa tersebut adalah Paledang (dominan komunitas Eropa/Belanda), Babakan Pasar (dominan komunitas Tionghoa) dan Bondongan (dominan komunitas pribumi). Oleh karena desa Paledang terus berkembang dengan semakin banyaknya bangunan pemerintah dan swasta (para planter) alun-alun lambat laun tergerogoti. Yang pertama adalah pembangunan hotel pemerintah (depan istana dan asisten residen yang kelak disebut Hotel Salak). Lalu kantor telegraaf (Kantor Telkom yang sekarang) menghadap ke jalan sisi selatan (gereja Katolik Roma), kemudian gedung klub social (Societeit), klub sosial orang-orang Eropa/Belanda disamping kantor telegraf (sudut jalan). Perkebangan area orang Eropa/Belanda ini kelak bergeser ke seberang sungai dengan membuka akses jalan/jembatan (Sempur dan Babakan). Jalan Babakan (yang kini jalan Pajajaran) mulai dari Warung Jambu melalui Baranangsiang, Bantar Kemang hingga Katulampa dan berbelok ke Tadjoer.

Sementara itu sudah dibangun gedung Sekretariat (Algemene Secretariat) kemudian disampingnya dibangun gedung Landraad (kini Kantor Perbendaharaan Negara) lalu disampingnya direnovasi Hotel Bellevue (panorama ke Gunung Salak yang kini menjadi Pasar Ramayana).

Setelah itu muncul hotel di stasion yang disebut Stasion Hotel atau juga disebut Railway Hotel tidak lama setelah pembangunan stasion Buitenzorg pada tahun 1873. Hotel ini berada di supermarket Matahari/Kantor Polisi yang sekarang. Juga dibangun library dengan museum. Libarary ini kini menjadi SMA N 1 Bogor / SMP N 1 Bogor. Kemudian dibangun Museum (depan Kantor Pos sekarang), Zoological Museum (dekat AKA) dan Depart. Agriculture (di seberangnya). Race, tempat pacuan kuda di stadion Pajajaran yang sekarang. Sekolah rakyat (lokasi sekolah dasar Polisi yang sekarang) dan sekolah Eropa (jalan Paledang).

Gedung-gedung lainnya selain stasion kereta api (sekarang Taman Topi) juga terdapat Post dan Telegraaf (Mesjid yang sekarang) dan City Cinema (bangunan Pasar Anyar yang sekarang). Bioskop lainnya di belakang stasion dekat Jembatan Merah. Juga sekolah HIS/MULO di seberang Cinema (yang kini menjadi komplek sekolah dasar Pengadilan).

Jalan Baru dan Kali Baru

Jalan menuju Buitenzorg dari Batavia adalah melalui sisi timur sungai Ciliwung. Jalan ini adalah jalan yang dirintis setelah adanya Belanda (berdasarkan rute jalan lama). Jalan rintisan ini kemudian semasa Daendles ditetapkan sebagai jalan pos. Jalan pos itu dari Batavia melalui Bidara Tjina, Tandjong (kini pasar Rebo), Tjimanggis, Tjibinong dan Tjiloear.

Bidara Tjina dan Tjiloear adalah dua pusat perdagangan yang diduga setelah era Fatahillah (Iacatra). Bidara Tjina adalah tempat utama yang menjadi bazaar yang didominasi oleh Tionghoa. Sedangkan Tjiloear adalah tempat utama yang menjadi bazaar yang didominasi oleh penduduk pribumi.

Tugu Prapatan Butenzorg, 1870 (kini Simpang Air Mancur)
Setelah masuknya Belanda (VOC) dan pembangunan istana Buitenzorg (1744) militer merintis jembatan dari ‘jalan utama’ (Bidara Tjina-Tjiloear) untuk menyeberang sungai. Lokasi yang tepat berada di Kedoeng Halang (kini di Warung Jambu). Pilihan penyebarangan ini karena alasan lebar sungai Ciliwung yang lebih sempit sehingga militer lebih mudah membangun jembatan kayu beratap. Dari jembatan ini terus mengikuti jalan Ahmad Yani yang sekarang lalu melalui Zeni di Air Mancur. Ke timur terus ke depan Istana Buitenzorg.

Sebelum adanya jalan sisi timur Ciliwung ini sudah ada jalan sisi barat sungai Ciliwung (Westerweg). Jalan ini dari Air Mancur melalui Gedong Badak, Tjiliboet, Depok, Pasar Minggu terus ke Sunda Kelapa. Jalan ini diduga jalan kuno sejak era Pakuan Padjajaran. Di era VOC di Depok bercabang ke Tjiniri lalu ke Tangerang.

Lokasi Air Mancur ini merupakan persimpangan menuju ke empat arah. Jalan lama sebelum adanya istana ini adalah jalan utama menuju timur ke Tadjoer dan Tjiawi dan menuju ke barat menuju Tiliboet. Dengan kata lain istana dibangun di sisi jalan utama ini. Sementara dari air Mancur ini menuju ke utara (Kedoeng Halang) dan menuju ke selatan ke Tjiomas (melalui Jalan Pabaton/RE Martandiata yang sekarang).

Pada saat sekarang dengan posisi istana Bogor ke timur menuju jalan Suryakencana, Jalan ini awalnya persis lokasi istana dan ketika istana dibangun bergeser seakan mengitari istana lalu dari belakang istana ke Surya Kencana. Sejak kebun Raya dibangun untuk melengkapi istana, jalan ini bergeser lagi (seperti yang sekarang). Dengan kata lain di  tengah kebun raya merupakan jalan mmenuju Tadjoer dan Tjiawi melalui jalan Surya Kencana. Sementara dari istana ke barat melalui jalan Sudirman, Air Mancur, Good Year (Stadion Pajajaran), Kebon Pedes, terus ke Tjiliboet dan seterusnya.

Dalam perkembanganya ketika afdeeling Buitenzorg dibentuk ditempatkan Asisten Residen dengan ibukota Buitenzorg. Ibukota ini berada di depan istana dengan didirikannya bangunan kantor/rumah asisten residen (replikanya masih tampak hingga sekarang di samping Hotel Salak yang sekarang). Antara istana Buitenzorg dan gedong asisten residen dibuat jalan (sesuai dengan perkembangan kebun raya), yaitu jalan Juanda yang sekarang.

Alun-alun kota dibuat mengikuti arah pandangan dari istana Buitenzorg dan gedong asisten Residen. Alun-alun ini pada saat sekarang adalah area diantara jalan Juanda (sisi timur), jalan Gedong Sawah (sisi utara), jalan Dewi Sartika (sisi barat) dan jalan Kapten Muslihat (sisi selatan). Pada sisi selatan alun-alun dibuat jalan menuju Jembatan Merah (Panaragan) (kelak dibangun jembatan menuju ke Goenoeng Batoe, Dermaga dan seterusnya ke Djasinga. Sementara itu di Jembatan Merah menuju ke JTjiwaringin (bertemu jalan dari Pabaton/Air Mancur) ke Tjilendek, Semplak dan terus ke Paroeng. Satu lagi di Semplak ke arah barat menuju Leuwiliang.

Jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda membentuk asisten residen di Buitenzorg, VOC melakukan kerjasama dengan pemimpin di Bogor, dibuat kali baru (River New) atau Slokkan. Pekerjaan kali baru ini dimulai tahun 1739 oleh Martidiwangsa dan kemudian diteruskan dan diselesaikan pada tahun 1753 oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff.

Kali baru ini terdiri dari dua yakni kali baru barat dan kali baru timur. Kali baru barat airnya bersumber dari pembuatan bendungan di Empang (sungai Cisadane) yang airnya diteruskan ke sungai Cipakancilan dan alirannya diteruskan untuk mengairi sawah dan kebutuhan perkebunan Land Gedong Badak, Land Tjiliboet dan Land Bodjong Gede (lalu Tjitajam, Depok, Pondok Tjina Sringsing terus ke Batavia). Hal yang sama juga dengan membuat bendungan (di Katulampa) untuk pengairan sawah dan kebutuhan perkebunan di Tjikao dan Tjitrap melelaui Ningewer yang kemudian dibuang ke kali  kecil Tjipamangies, dekat desa Brengkok di Land Tjipamangies.

Ketika lahan-lahan antara Batavia dan Buitenzorg terus berkembang, kebutuhan tenaga kerja semakin intensif. Tenaga kerja lokal tidak cukup memadai. Sejumlah kuli Cina didatangkan dari Tiongkok (yang kira-kira bersamaan waktunya dengan kedatangan kuli Cina di Deli). Jumlah tenaga kerja itu sebelumnya hanya mengandalkan budak-budak belian yang diperdagangkan di Batavia. Penggunaan tenaga budak secara massif ditemukan di Land Tjiawi, Land Pondok Gede,  Tjidjeroek, Tjiomas, Dermaga dan Sindang Barang, Kampong Baru, Bloeboer, Tjiseroa dan Tjikoppo. Perbudakan ini kelak dihapuskan pada tahun 1885 berdasarkan Keputusan Umum Gouvernor tanggal 22 November 1855 (Staatsblad No. 75).

Kuli-kuli Tjina ini setelah kontrak mereka habis banyak yang tidak pulang (tidak kembali) melainkan menetap dengan usaha budidaya di sekitar Buitenzorg. Kuli-kuli Cina ini dengan sendirinya memperbesar komunitas Tionghoa yang sebelumnya terpencar-pencar dan menyebar sejak terjadinya pembantaian Cina di Batavia (1740) mengumpul dan terbentuk komunitas Cina di jalan Surya Kencana yang sekarang. Komunitas Cina ini ada yang pedagang, petani dan kuli di perkebunan-perkebunan sekitar Buitenzorg.

Batas Wilayah Ibukota Buitenzorg dan Akuisisi Tanah Partikelir

Sebagaimana diketahui VOC Hindia Timur digantikan Pemerintah Hindian Belanda 1799 dimana pemerintah membeli tanah-tanah VOC untuk tempat pemerintahan seperti di Batavia dan Buitenzorg. Pada tahun 1800, Land Bloebor dibeli oleh pemerintah dimana land tersebut dijadikan pusat pemerintahan. Sejak itu Land Bloeboer  dianggap wilayah kekuasaan pemerintah dan nama Bloeboer berganti nama menjadi Buitenzorg. Dalam pembelian ini tanah tersebut, Daendles memiliki sepersepuluh secara pribadi dalam 54 persil tanah yang terletak di sejumlah tempat. Persoalan kemudian muncul karena kepemilikan pemerintah terhadap ibukota Buitenzorg tidak utuh alias compang-camping serta batas-batas Negara (pemerintah) tidak menentu. Gugatan kemudian diajukan terhadap tanah kepemilikan di dalam kota yang dulu menjadi milik Daendles (lihat Nederlandsche staatscourant, 02-11-1866). Gugatan dilakukan oleh Kejaksaan Agung mewakili pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1864 gugatan diajukan ke pengadilan di Batavia. Tanah-tanah swasta (partikelir) harus dibebaskan dari dalam kota dan akan dibeli oleh pemerintah. Pada tahun 1866 sebagaimana dilaporkan surat kabar Nederlandsche staatscourant, 02-11-1866 pengadilan meloloaskan gugatan pemerintah dan dapat membebaskan tanah pertikelir dengan memberikan ganti rugi kepada para pemilik. Dengan demikian deklarasi baru dibuat atas tanah pemerintah di Buitenzorg alias Bloeboer. Disebutkan tanah pemerintah di Buitenzorg dengan struktur baru adalah sebagai berikut:

Nederlandsche staatscourant, 02-11-1866
Di sisi utara berbatasan dengan Land Kedoeng Badak: mulai dari sungai Tjiliwong, jembatan sepanjang sungai Pekantjilan oleh tujuh tiang, bersama dan melalui desa Paledang, tepi kiri sungai Pekantjilan di kompleks Tjiwaringin; di tepi kanan dari Tjikoman, di Paboearan, kampung Tjilandak, untuk tepi kanan sungai Tjidani yang lima belas tiang semuanya disemen. Di sisi selatan, mulai dari sungai Tjiliwong di mulut sungai Tjiboedik, ke arah barat 42 derajat selatan ke sungai Tjiawi, dan bersama mereka ke utara ke mulut sungai Tollok Pinang; lingkup barat 9 derajat selatan, ke sungai Tjiretek, sampai sungai Tjidani, pemisahan dari Land Tjoetak Tjawi. Di sisi timur dikelilingi oleh jalannya sungai Tjiliwong, membuat pemisahan Land Kampong Baru. Di sisi barat ditentukan sungai Tjidani, membuat pemisahan antara Land Tjoetak, Tjireroek, Tjiomas dan Sendang-Barang serta Dermaga.

Dengan demikian ibukota Buitenzorg baru tahun 1866 sepenuhnya dikuasai oleh Negara yang dalam hal ini pemerintah di Buitenzorg (Asisten Residen). Implikasinya atas tanah-tanah yang dugunakan di seluruh ibukota pemerintah dapat menetapkan (pemungutan) pajak dan memiliki hak penuh terhadap pengaturannya. Persil-persil tanah yang diakuisisi oleh pemerintah tersebut diantaranya terdapat di Bandar Petee, Tjotok Bloeboer, Kampong Bodjoeng Neros, Kampong Babakan, Kampung Babakan Paledang.

Perkembangan Lebih Lanjut Buitenzorg: Kesehatan dan Pendidikan

Pengembangan kesehatan dan pendidikan di Butenzorg adalah dua aspek social terpenting yang muncul sejak awal. Perihal kesehatan adalah pokok sejak 1850 karena ekonomi (pertanian) Buitenzorg tengah tumbuh pesat. Pembangunan garnisun untuk pengamanan, mendatangkan budak, kuli dari Tiongkok dan kuli dari Jawa, kerjasama dengan para pemimpin adat (pribumi). Para penduduk pribumi diberdayakan untuk menghasilkan pangan (beras, sayur, buah-buahan, rempah-rempah  dan sebagainya) untuk mendampingi ekonomi perkebunan (kopi, teh, gula dan sebagainya). Eksesnya muncul berbagai (epidemic) penyakit yang perlu penanganan agar tetap mampu menjaga produktivitas semua golongan warga (Eropa, Tionghoa dan pribumi).

Yang pertama dibangun adalah rumah sakit militer (kini menjadi RS Salak) yang tujuan utama untuk anggota pasukan (terutama jika mengalami luka dalam bertugas). Rumah sakit itu juga fungsinya untuk melayani epidemic dan berbagai kalangan (terutama kalangan atas Eropa, Tionghoa dan pribumi). Tenaga dokter utama didatangkan dari Belanda yang kemudian dibantu oleh asisten dokter pribumi dari alumni Docter Djawa School di Batavia (di tempat RSPAD yang sekarang).

Docter Djawa School dibuka tahun1851 (satu angkatan hanya 8-10 siswa). Dua siswa (Si Asta dan Si Angan dari Mandailing dan Angkola tahun 1854 diterima di sekolah dokter ini (kedua siswa ini adalah siswa pertama yang berasal dari luar Jawa). Dr, Asta ditempatkan di Mandailing dan Dr. Angan ditempatkan di Angkola. Namun dua siswa berikutnya (Si Napang dan Si Doeri) yang masuk tahun 1856 setelah lulus tidak pulang kampong, tetapi Dr. Dorie ditempatkan di Padangsch dan Dr, Napang di rumah sakit militer di Buitenzorg. Demikian seterusnya secara berkala (setiap dua atau empat tahun dua siswa direkrut dari Mandailing dan Angkola untuk dilatih dokter dan ditempatkan di berbagai tempat di Hindia Belanda. Ada yang satu kelas dengan Dr. Wahidin dan juga dengan Dr. Tjipto,

Dalam perkembangannya rumah sakit beri-beri dibangun di Buitenzorg (apakah karena banyak pribumi kurang gizi?). Rumah sakit ini berada di hilir Jembatan Merah. Setelah rumah sakit beri-beri ini dianggap tidak efektif lagi lalu ditutup dengan membangun rumah sakit umum di lokasi yang tidak jauh dari tempat pemukiman baru (elit) yang dibangun pada tahun 1920an di onderdstrict Kedoeng Halang (kini sekitar Babakan Gunung Gede). Jalan dan jembatan di atas sungai Ciluwung dibuka menuju ke lokasi baru ini (kini jalan Harupat). Dengan demikian kota Buitenzorg terhubung antara dua sisi sungai Ciliwung (selama ini hanya terhubung di Warung Jambu yang sekarang). Pemukiman baru ini meniru gaya perumahan Menteng di Batavia (awal 1900an). Rumah sakit umum yang dimaksud kini dikenal sebagai RS PMI.

Perubahan luas Kebun Raya Bogor
Pada tahun 1867 Istana Buitenzorg dan Kebun Raya ditata ulang. Pada saat penataan ini terlihat dalam Master Plan bahwa Kebun Raya Buitenzorg hanya sebatas sungai Ciliwung. Luas kebun Raya ini masih tetap hingga tahun 1880 (Peta Buitenzorg 1880). Pada Peta tahun 1901 kebun raya di perluas hingga melewati sungai Ciliwung dengan membangun jembatan penghubung. Luasnya baru sampai pada anak sungai Ciliwung (semua pulau sudah menjadi bagian kebun raya. Pada tahun 1927 kebun raya diperluas lagi hingga menyentuh sisi jalan baru (kini jalan Pajajaran). Jalan ini pada dasarnya jalan lama dan diperlebar setelah adanya pembangunan pemukiman baru yang berpusat di Taman Kencana yang sekarang.

Pemukiman baru ini dengan poros di Taman Kencana yang sekarang. Pemukiman baru bersamaan dengan pendirian Veterinary School (sebagai kelanjutan sekolah kedokteran hewan/pelatihan veteriner yang awalnya didirikan di Pabaton tidak jauh dari Jl. RE Martadinata (kini menjadi Balai Besar Veteriner). Tidak lama kemudian di bangun sekolah pertanian (Landbouwschhol) yang awalnya berlokasi di Pantjasan dan kemudian ke Cimanggu. (kedua istitusi pendidikan ini kelak menjadi Universiteit van Indonesia di Buitenzorg (cikal bakal IPB yang sekarang).

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota
Sekolah Dokter Hewan (Inlandschen Veeartsen School) di Buitenzorg secara resmi dibuka 1907 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-06-1928). Salah satu alumni pertama adalah Sorip Tagor (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-08-1912). Sorip Tagor semasih masiswa diangkat menjadi asisten dosen dan diangkat menjadi dosen. Sorip diterima sebagai kandidat dokter hewan di Rijksveeartsenijschool, Utrecht (lihat Algemeen Handelsblad, 19-06-1916). Pada tahun 1917, Sorip Tagor Harahap mendirikan Sumatranen Bond di Belanda. Sorip Tagor berdinas cukup lama di West Java dan kelak dikenal sebagai kakek Risty/Inez Tagor dan pendiri Radio Kauman Bogor. Ada puluhan siswa-siswa dari Mandailing dan Angkola yang studi di sekolah dokter hewan ini sejak dibuka hingga tahun 1939, termasuk Anwar Nasoetion yang datang dari Padang Sidempuan tahun 1922 dan lulus tahun 1930. Dr, Anwar Nasoetion adalah ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB 1978-1987). Dua tahun setelah SoripTagor lulus Sekolah Dokter Hewan (Veeartsen School) Bogor (1912), satu lagi anak Afd. Padang Sidempuan lulus di Bogor (1914). Namun bukan sekolah dokter, tetapi sekolah pertanian (landbouwschool). Namanya, Abdoel Azis  gelar Soetan Kenaikan. Sekolah yang lama kuliahnya tiga tahun ini, pada tahun 1913, namannya diubah menjadi Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool). Dengan begitu, Abdoel Azis Nasoetion adalah salah satu alumni perdana  Middelbare Landbouwschool di Buitenzorg. Abdoel Azis berkarir di Padangsch dan pada tahun 1930 mendirikan sekolah pertanian swasta pertama di Lubuk Sikaping (sekolah pertanian pertama pribumi di Hindia Belanda). Alumni sekolah ini banyak yang berasal dari Padang Sidempuan dan berkarir di berbagai tempat di Hindia, termasuk Djohan Nasution, ayah dari Prof. Dr. Ir. Lutfi Ibrahim Nasution (pernah menjadi Ketua Lembaga Penelitian IPB, sejak 1989, sebelum menjadi Kepala BPPN).

Pada tahun 1914 datang di Bogor seorang alumni sekolah guru di Belanda bernama Soetan Casajangan untuk mengajar di sekolah Eropa di Buitenzorg (pribumi pertama mengajar di sekolah Eropa). Sekolah Eropa di Bitenzorg sudah ada sejak 1885 yang beralamat di jalan Paledang (Peta 1900). Soetan Casajangan adalah alumni sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan 1887 (murid Charles Adriaan van Ophuijsen). Soetan Casajangan adalah mahasiswa kedua yang kuliah ke Belanda (1905). Pada tahun 1908 Soetan Casajangan menggagas Perhimpunan Perlajar Pribumi (Indisch Vereeninging) dimana Soetan Casajangan sebagai Presiden dan sekretaris Hussein Jayadiningrat. Soetan Casajangan tahun 1927 Direktur Nomaal School di Meester Cornelis sedangkan Hussein Jayadiningrat (menjadi dosen di Rechtschool di Batavia).

Hussein Jayadiningrat adalah pribumi pertama bergelar doctor (Ph.D) tahun 1913. Tiga dari tujuh pribumi pertama bergelar doctor berasal dari Padang Sidempuan. Yang ketiga adalah Radja Enda Boemi meraih gelar Ph.D bidang hukum di Leiden tahun 1925. Pada tahun 1927 Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi emnajdi ketua pengadilan (Landraad) di Buitenzorg yang kantornya berada di Kantor Perbendaharaan Negara yang sekarang. Gelar doktor keenam adalah Dt. Ida Loemongga Nasution, Ph.D yang meraih gelar Ph.D di Leiden di bidang kedokteran tahun 1930 (perempuan pertama bergelar Ph.D). Ibu dari Ida Loemongga adalah perempuan pribumi pertama yang memiliki pendidikan sekolah Eropa (Europeech School). Gelar doktor ketujuh adalah Soetan Goenoeng Moelia meraih Ph.D tahun 1933 di bidang Filsafat. Pernah menjadi guru di Buitenzorg dan di awal kemerdekaan RI, menjadi Menteri Pendidikan yang kedua (setelah Ki Hajar Dewantara). Mereka yang studi ke Eropa/Belanda di awal pengembangan pribumi umumnya lulusan sekolah Eropa seperti yang di jalan Paledang.

Di Buitenzorg kemudian juga didirikan sekolah pribumi (Inlandsch School). Sekolah Inlandsch ini berada di Bantam weg (Peta 1900). Kira-kira letaknya di seberang pangkal jalan Dewi Sartika yang sekarang. Di Buitenzorg (kota) hanya satu Sekolah Inlandsch.

Di afdeeling Mandailing dan Angkola tahun 1870 ada delapan sekolah Inlandsch dan pada tahun 1892 jumlahnya menjadi 12 dimana tiga diantaranya berada di kota Padang Sidempuan (ibukota afd. Mandailing dan Angkola). Sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan dibuka tahun 1879 dengan gurunya yang terkenal Charles Adrian van Ophuijsen. Charles adalah penerus guru Willem Iskander yang pada tahun 1862 mendirikan Kweekschool di Tanobato (setelah pulang studi dari negeri Belanda). Sati Nasoetion alias Willem Iskander adalah pribumi pertama studi di Belanda (berangkat tahun 1857). Kweekschool Padang Sidempuan adalah pengganti Kweekschool Tanobato. Sekolah guru (kweekschool) di Jawa dan Madoera hanya tiga: Soerakarta, Probolinggo dan Bandoeng.

Dalam perkembangan selanjutnya di Buitenzorg didirikan HIS dan MULO sebagaimana di tempat lain seperti Padang Sidempuan (1914-1930) untuk memperluas pendidikan Eropa bagi pribumi (selain ELS yang sudah ada sejak lama). Sekolah HIS/MULO ini di Buitenzorg beralamat di Hospital weg (yang kini menjadi lingkungan sekolah-sekolah dasar di Jalan Pengadilan yang sekarang). Pada pasca kedautalan RI (1950) sekolah HIS/MULO dilikuidasi dan sebagai penggantinya dididirkan SMA N/SMPN N Bogor (eks gedung library di era colonial). Gedung HIS/MULO menjadi sekolah dasar negeri (kini SD N Pengadilan 1-5?).

Sekolah lainnya di Buitenzorg adalag Police School. Yang lokasinya di Panaragan weg (gedung kantor Bupati Bogor). Sekolah Polisi ini diduga digabung dengan pendirian sekolah polisi di Lido (Tjidjeroek). Pos Polisi sendiri berada di Bondongan (dekat dengan Pecinan sekitar jalan Surya Kencana yang sekarang). Pos Polisi Bondongan ini kemudian dipindahkan ke tempat yang sekarang di jalan Kapten Muslihat yang dulunya bekas Stasion Hotel.

Semasih era colonial Belanda (sebelum kemerdekaan RI) di Buitenzorg pusat-pusat yang terkait dengan pertanian cukup banyak. Agriculture School (pertemuan jalan Merdeka dan jalan Merdeka sekarang), Veterinary College (jalan RE Martadinata dan Taman Kencana), Experimental Rubber Station (jalan Merdeka), Esperimental Nursery (Cimanggu), Fisheries laboratory di Tjikaret, Forest Reseach Institute (Simpang Goenoeng Batoe). Juga terdapat Library and Museum (di kawasan Istana dekat pangkal jalan Kantor Batu), Bonanical Museum (jalan Kantor Batoe) dan Library di seberangnya (yang kini menjadi lokasi SMA/SMP), Zoological Museum (di dalam Kebun Raya), Departmen of Agriculture (seberang Zoological Museum) pasar Bogor.

Lingkungan tempat tinggal penduduk pribumi juga semakin berkembang dan terjadi urbanisasi. Buitenzorg menjadi tujuan migrant local dari pedesaan. Perkampungan asli di Buitenzorg semakin dipadati oleh para pendatang. Area marginal juga menjadi pilihan tempat tinggal, seperti di Lebak Kantin ( di bawah lingkungan Eropa/Belanda). Juga di sekitar desa Babakan Pasar (di lembah Pecinan di Surya Kencana) berkembang pemukiman bahkan hingga ke Pulau Pasar (kini disebut Pulau Geulis).

Universiteit van Indonesie

Universiteit van Indonesie awalnya digagas tahun 1941 dan telah memulai perkuliahan. Namun tiba-tiba terjadi pendudukan Jepang. Pada tahun 1946 universitas ini (setelah Belanda datang kembali) direalisasikan dimana di Buitenzorg akan ditempatkan Faculteit der Landbouwwetenschap yang merupakan sekolah tinggi veteriner (Nederlandsch Indiche Veeartsenschool) di Babakan (Taman Kentjan) dan sekolah menengah pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Pantjasan. Faculteit der Landbouwwetenschap ini akan dipusatkan di dua kampus lama di Taman Kentjana (veteriner) dan Baranangsiang (landbouw). Kelak dua fakultas ini menjadi cikal bakal pendirian Institut Pertanian Bogor tahun 1963.

Algemeen Indisch dagblad, 26-07-1947
Universiteit van Indonesie merupakan universitas yang terdapat di beberapa tempat dengan enam fakultas. Fakultas kedokteran (ex. Geneeskundige Hogeschool); Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte; Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial (ex. Rechtshogeschool) di Batavia (Jakarta); Fakultas teknik (ex. Technische Hogeschool) dan Fakultas eksak di Bandoeng, serta Fakultas Faculteit van Landbouwwetenschap di Buitenzorg (Bogor). Mahasiswa Indonesia yang mulai aktif kuliah lalu ikut berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia. Ida Nasoetion (departemen sastra) dan G. Harahap (dari departemen jurnalistik) menggagas didirikannnya persatuan mahasiswa Universiteit van Indonesie yang diresmikan tanggal 20 November 1947 dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia (PMUI). Setelah empat bulan menjadi presiden (ketua) PMUI, Ida Nasoetion dilaporkan koran Nieusgier diculik tanggal 23 Maret 1948 di Buitenzorg. Ida Nasoetion hilang selamanya dan diduga kuat dibunuh oleh intelijen dan tentara Belanda. Pendirian PMUI ini terkait erat dengan pendirian HMI di Jokjakarta pada bulan Februari 1947 oleh Lafran Pane. Radjioeun Harahap gelar Soetan Casajangan (1908) pendiri Indisch Vereeniging (cikal bakal PPI), Lafran Pane (Februari 1947) pendiri HMI dan Ida Nasution dan G. Harahap (November 1947) pendiri PMUI adalah empat pionir organisasi mahasiswa yang semuanya (tentu saja tidak kebetulan) berasal dari kampong yang sama di Padang Sidempuan.

Het dagblad:..Dagbladpers te Batavia, 16-12-1947
Pada bulan Desember 1947 ada wacana untuk memindahkan Universiteit van Indonesie dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor). Alasannya lebih banyak kesempatan perumahan daripada di ibukota yang penuh sesak. Akan tetapi, pertanyaan besarnya adalah dimana universitas itu ditempatkan. Lalu dibentuk suatu komite untuk melakukan studi kelayakan. Hasilnya tidak ada keberatan dari pemerintah (Belanda) untuk menggunakan Istana Buitenzorg sebagai kandidat universitas. Sejumlah professor dari Belanda sudah dikontak untuk bergabung. Pemindahan pertama akan dilakukan bagi Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan (landbouwkundige en de veterinaire faculteit) yang kebetulan ada di Buitenzorg (Bogor). Namun tidak bisa direalisasi segera karena militer masih menjadikannya sebagai garnisum (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 16-12-1947). Situasi dan kondisi masih perang antara militer Belanda dengan militer/laskar Indonesia). Dalam perkembangannya, komite untuk persiapan Universiteit van Indoensie di Butenzorg (yang salah satu anggotanya Prof. Husein Djajanegara) membatalkan niat untuk pemusatan semua fakultas di Istana Buitenzorg karena terlalu sempit (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-04-1948).

Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan sudah memulai aktivitas namun secara seremonial baru diresmikan pada tahun tanggal 20 November 1948. Peresmian Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan (faculteiten van landbouwwetenschap en van diergeneeskunde) ini berlangsung di gedung Umum Balai Penelitian Pertanian yang dihadiri senat Universiteit Indonesie di Buitenzorg (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 13-11-1948). Namun perkuliahan belum efektif karena masih terjadi perang di sekitar Buitenzorg (De nieuwsgier, 22-11-1948).

De locomotief, 26-01-1949
Untuk menyukseskan Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan di Buitenzorg pemerintah menggaanggap perlu melakukan rekonstruksi gedung. Departemen PU (departement van Waterstaat en Wederopbouw) telah membuat kompetisi desain. Juri telah menentukan pemenang. Pemenang pertama dengan judul ‘A 365’ dari  Ingenieursbureau Ingeneger en Vrijburg di Bandoeng dan pemenang ketiga adalah dengan judul ‘Studie’ oleh Friedrich Silaban, directeur Gemeentewerken te Buitenzorg. Desain akan dipamerkan pada minggu pertama bulan Februari di Landbouw Hogeschool di Buitenzorg (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-01-1949).

Hingga berakhirnya Belanda di Buitenzorg (sebelum pengakuan kedaulatan RI) kebun-kebun dari perusahaan perkebunan yang tersisa hanya tinggal di beberapa tempat. Kebun karet di belakang pabrik ban Good Year, kebun teh di sisi utara lapangan pacuan kuda (kini stadion) yang berbatasan langsung dengan jalan Ahmad Yani yang sekarang. Kemudian, kebun karet terdapat di Tjiomas dan Pasir Kuda dan di Sidang Barang. Sementara itu ditemukan perkebunan kopi di sebelah barat Sindang Barang (area perumahan Yasmin yang sekarang).

Buitenzorg Menjadi Bogor

Selama pendudukan Jepang, Kota Bogor adalah salah satu tempat terpenting militer Jepang. Suasana yang berbeda terjadi jika dibandingkan era Belanda, semua menjadi terpusat dengan ‘mesin pengaman’ Kempetai. Namun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 situasi dan kondisi, mulai terjadi pergolakan sehubungan dengan NICA yang disusul Belanda sudah merangsek hingga ke Kota Bogor.

Perang Kemerdekaan di Kota Bogor dan sekitarnya dipimpin oleh (Kapten) Moeslihat. Di Depok dan sekitarnya dilakukan oleh Margonda. tanpa lelah akhirnya berakhir dengan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda Desember 1949.

De vrije pers: ochtendbulletin, 21-01-1950
Satu hal yang penting pasca pengakuan Kedaulatan RI adalah nama Buitenzorg diubah secara resmi menjadi Bogor. Pengumuman nama resmi ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan, A. Mononutu dalam konferensi pers (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 21-01-1950). Dengan demikian nama Buitenzorg yang secara resmi diumumkan pada tahun 1810 telah diubah secara resmi menjadi Bogor pada tahun 1950. Penggunaan nama Buitenzorg secara resmi berlangsung selama 140 tahun.

Setelah nama resmi Kota Bogor, lalu nama-nama jalan juga diubah. Namun nama-nama jalan yang diubah hanya yang berbau Belanda, sedangkan nama yang berbau pribumi tetap dipertahankan. Nama-nama jalan yang diubah adalah: Handel straat menjadi jalan Surya Kencana; Hospital weg menjadi jalan Pengadilan; Treub weg menjadi jalan Otto Iskandardinata, Lingburgstirum weg menjadi jalan Harupat, Groote weg (sekarang jalan Djuanda); Bataviasch weg (sekarang jalan A. Yani); Park weg menjadi jalan Dewi Sartika, Station weg (jalan Nyi Raja Permas), Bioscop weg (jalan Mayor Oking), Gang Vander Wyk (jalan Pabaton), Museum weg (jalan Kantor Batoe), Koepel weg (jalan Lawang Gintung), Bantam mbr weg (sekarang jalan Kapten Muslihat), Landbouw weg (jalan Cimanggu), Gasebriek weg (jalan MA Salamun).

Tampaknya hanya ada satu ‘pahlawan’ Belanda di Buiutenzorg yang perlu diabadikan namanya yakni Prof. Dr. Melchior Treub. Anehnya, tidak ada nama-nama yang berbau keluarga kerjaan Belanda atau nama-nama pahlawan Belanda di Hindia Belanda. Nama-nama jalan di Buitenzorg hampir semuanya menggunakan nama-nama situs. Treub adalah mantan Direktur Kebun Raya. Pada saat ini Direktur Kebun Raya periode 2009-2014 dijabat oleh Mustaid Siregar (alumni Padang Sidempuan).

Sedangkan nama-nama local yang ada sebelumnya adalah Gang Kebon Djahe, Tjiwaringin weg, Tjikeumeh weg (jalan Merdeka), Boeboelak weg (jalan RE Martadinata), Paledang weg, Panaragan weg, Pantjasan weg, Lolongok weg, Sadang weg, Lajongsari weg, Bondongan weg (jalan Pahlawan), Batoetoelis weg, Soekasari weg (jalan Siliwangi), Tjiliboet weg (Kebon Pedes), Tjimanggoe weg, Tjilendek weg. Jalan Pajajaran belum ada (ruas jalan baru sepanjang Lampu Merah Gunung Gede dan Tugu Kujang yang sekarang).

Tentu saja nama-nama situs seperti gedung, taman dan sebagainya diubah atau namanya disesuaikan dengan bahasa Indonesia: Goevernor Generals Palace (Istana Bogor), Botanical Garden (Kebun Raya), Mil. Hospital (RS Salak), Mil. Kamp, (Pusat Zeni AD), Dibbets Hotel (jalan Salak), Hotel Belleveu (menjadi pasar Ramayana/bioskop), Post Office (Kantor Pos).

Buitenzorg dan Bogor: Melihat Prospek Masa Datang

Kota Bogor yang sekarang adalah secara kronologis, Pakuan Pajajaran kemudian dibangun istana Buitenzorg (1744) dan nama resmi Buitenzorg (1810) yang parallel dengan nama Bogor (yang juga sudah ada sebelumnya setelag era Pakuan). Nama Resmi Kota Bogor sejak 1950 berarti usianya baru berlangsung selama 66 tahun (hingga pada tahun 2016).

Sehubungan dengan itu, Pemerintah Kota Bogor telah membangun pintu gerbang kota Bogor dengan Sembilan pilar (salapan lawang) yang bertuliskan ‘Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’. Kemudian di pangkal jalan Surjakencana sudah dibangun gapura bertuliskan ‘Lawang Suryakancana’, suatu lawang (pintu gerbang) menuju Pakuan Pajajaran. Pemerintah Kota Bogor menerjemahkan sembolayan ini di dalam rencana strategis Kota Bogor sebagai ‘Preserving The Heritage, Serving The People, Facing The Future’

Masa lampau adalah nilai masa lalu yang masih hadir pada masa kini seperti lansekap Pakuan Pajajaran, Istana Buitenzorg, Kebun Raya. Bangunan-bangunan lainnya seperti Empang, Masjid, Gereja, Garnisun, Pengadilan, Penjara, Pasar, Stasion, Hotel, Balai Kota, Kantor Residen masih berada di tempat masing-masing. Semua itu adalah heritage yang dimiliki Kota Bogor.

Kota Bogor adalah salah satu destinasi wisata di Indonesia. Heritage yang hadir semasa era Belanda dan yang hadir semasa era Pakuan Pajajaran perlu dijaga agar bisa member nilai komersil bagi wisatawan yang datang. Memasarkan wisata Kota Bogor adalah juga menggali dan melestarikan nilai-nilai masa lampau yang ada di Kota Bogor.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.



Regentschappen Buitenzorg (1861)

District
Nama Landerien
Jumlah Kampong
Jumlah Penduduk
Buitenzorg
Тjiseroea
13
7.054

Кlein Pondok Gedeh
16
-

Тjicoppo
7.789

Роndok Gedeh (huis)
49
-

Тjawie
14.264

Тjidjeroek en Srogol
39
10.786

Вloeboer
23
10.831

Soekasarie
1
394

Тjomas
72
15.474

Каmpong baroe
30
5.643

Dermaga
18
6.352

Кlein Pondok Gedeh
1
20



Paroeng
Тjampea
29
32.053

Тjiboenboelan

Sadeng of Pandjoewangan
12
9.282

Кedong Badak
6
6.399

Тjileboet
16
4.926

Вodjong Gedeh
27
5.493

Роndok Terrong
11
2.071

Ratoe Djaija

Depok
7
1.442

Роndok Тjina
7
1.309

Мampang
2
465

Тапа Аgong
4
2.196

Тjinere

Sawangan
23
6.228

Роndok Тjabé Оedik
5
432

Роndok Тjabé Нier
2
431



Рamoelang Pondok Веnda
23
4.683

Коeripan. (of Zorgvliet
57
10.984

Goenoeng Sindoer
31
4.626

Тjibodas
10
6.147

Roemping
5
3.216

Janlapa Parong
10
1.991

Тemangoengan
13
3.332

Тjikolean
9
1.744

Тrogong
4
723



Jassinga
Тjoeroek Вitoeng
14
4.889

Sadeng Jamboe
8
3.660

Вollang
31
13.862

Jassinga
29
10.216

Тjicopро Маijak
2
690

Janlappa
19
4.877

Раrong Pandiang
20
6.959

Тjikadoe
8
3.580
Tjibaroessa
Тjibaroessa
45
7.483

Таmа baroe of Nambo
-
-

Tjipanningkies of Tjimapak
69
29.790

Tjilengsie
55
20.329

Klappa Noengal
15
9.009


1 komentar:

  1. Friend,
    infonya cukup lengkap ini. Kalau ada peta persebaran kebun kopi, kebun karet dll bisa melengkapi sejarah kota bogor.
    terima kasih

    BalasHapus