Sejarah Jakarta (14): Jalan Pos, Cikal Jalan Raya; Titik Nol Casteel Batavia. Pos Pertama di Bidara Tjina

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jalan pos (postweg) adalah jalan utama yang menghubungkan satu tempat utama (hoofdplaats) dengan tempat utama lain untuk keperluan pos. Jalan pos juga menjadi jalur moda transportasi darat untuk arus barang dan orang. Jalan pos dalam perkembangannya menjadi jalan raya utama pada masa kini. Jalan pos sudah ada sejak era VOC. Jalan pos kemudian dirancang ulang oleh Daendles dengan kebijakannya yang terkenal, yakni pembangunan jalan pos trans-Jawa dari Anyer-Panaroekan.

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810
Daendles membuat keputusan yang dimuat dalam surat kabar, Bataviasche koloniale courant edisi pertama (lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Di dalam keputusan ini (General Reglement) terdapat aturan umum (general reglement) yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Daendles (setelah dua tahun menjabat untuk) menetapkan beberapa nama tempat yang dijadikan sebagai patokan (check poin) jaringan jalan pos yang menghubungkan semua wilayah di Jawa (dimana orang-orang Eropa tinggal).

Satu hal yang menarik dalam pembagian wilayah (distrik) ini hanya disebutkan nama tempat Bantam, Batavia, Semarang dan Surabaya. Hal ini terkait dengan penarikan garis dari satu tempat ke tempat lain sebagai jalan pos. Ini berarti belum ada pembagian wilayah administrasi sebagaimana nanti Jawa dibagi tiga (lima) wilayah: West Java, Midden Java dan Oost Java (Djocjakarta dan Soerakarta). Sementara dalam General Reglement, 1810, rute antar tempat-tempat utama yang disebut tidak diperinci seperti rute Batavia-Buitenzorg.

Jalan Pos Batavia-Buitenzorg

Jalan pos Batavia-Buitenzorg adalah salah satu ruas jalan pos utama di Jawa. Jalan pos ini bermula ketika istana Buitenzorg dibangun sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal (dalam perkembangannya menjadi kantor Gubernur Jenderal). Jalan pos Batavia-Buitenzorg menjadi bagian dari jalan pos trans-Jawa (Daendles).

Sejak era VOC (Hindia Timur), titik nol Batavia adalah benteng (Casteel Batavia). Pada masa awal VOC jalan pos masih melalui sungai/kanal, kemudian berubah menjadi jalan darat (sungai makin dangkal dan tonase kapal/perahu makin berat). Jalan sungai awalnya melalui sungai Ciliwung yang berbelok-belok. Dalam perkembangannya di satu titik Ciliwung (sekarang Masjid Istiqlal) sungai disodet ke arah barat melalui Harmoni yang sekarang terus ke Glodok via Hayam Wuruk/Gajah Mada yang sekarang. Aliran air sungai Ciliwung yang disodet tersebut menjadi kanal (lalu lintas pelayaran baru menggantikan yang lama). Selanjutnya di sekitar masjid Istiqlal disodet kembali melalui Pasar Baroe dan Goenoeng Sahari menuju Antjol. Akibat dua sodetan ini sungai ciliwung yang asli antara Juanda dan Mangga Doea dihilangkan (lenyap). Di atas bekas sungai ini menjadi ruas jalan kereta api antara stasion Djuanda dan stasion Manggadoea. Sementara aliran kanal yang menuju Antjol dipecah, yang mana ke arah barat dibuat kana menuju Manggadoea dan bertemu kembali dengan sungai Ciliwung yang asli. Era ini adalah era yang masih menggunakan moda transportasi air (kanal).

Setelah berakhirnya era moda transportasi air (sungai/kanal) berkembang moda transportasi darat. Titik nol tetap berada di Casteel Batavia. Jalan pos dari casteel kemudian sisi kanal (jalan Hayam Wuruk/Gajah Mada terus ke Harmoni, lalu ke lapangan Banteng (belok di Pasar Baroe, kemudian Parapattan, Menteng dan Bidara Tjina. Di Bidara Tjina dibangun satu pos, sebagai pos pertama dari Batavia menuju Buitenzorg.

Jarak antara satu pos dengan pos lainnya yang disebut etappe didasarkan pada jarak tempuh perjalanan darat dengan mengendarai kuda. Di dalam pos ini terdapat satu bangunan utama untuk bongkar muat pos sambil kuda-kuda diberi waktu istirahat. Namun dari sudut jarak fisik antar pos ini tidak sama satu dengan yang lain. Itu tergantung dari mudah sulitnya ruas jalan yang dilalui. Dan juga karena factor lain.

Keutamaan Pos Tjimanggis

Dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1842 antara Batavia dengan Buitenzorg tedapat enam pos: Pos I: Bidara Tjina, Pos II Tandjoeng (15 paal dari Batavia), Pos III Tjimanggis, Pos IV Tjibinong (28 paal), Pos V Tjiloear (34 paal) dan Pos VI Buitenzorg (39 paal). Pos Tjimanggis terkenal karena posisinya strategis antara Batavia dan Buitenzorg.

Pos Tjimanggies adalah pos tradisional, sejak jaman Pakuan/Pajajaran. Suatu tempat, posisi tengah antara Pakuan dan Sunda Kelapa yang kerap dijadikan sebagai tempat menginap (maksudnya para kapilah pedati berkemah/bermalam. Hal ini ternyata berulang di era pendudukan Jepang, tetapi bukan bermalan tetapi bersiang. Dari Bogor pedati berangkat malam dan tiba pagi hari di Tjimanggis, lalu para crew pedati beristirahat/tidur dan kerbau berkesempatan untuk makan rumput. Malam berangkat lagi dan tiba pagi hari di Batavia (Jatinegara yang sekarang yang boleh jadi masih sering disebut sekarang sebagai jalan Bogor). Demikian sebaliknya.

Keutamaan lainnya Pos Tjimanggis karena di tempat ini mantan Gubernur Jenderal Petrus Albertus Van der Parra mendirikan rumah tinggal (huis). Di lokasi tempat tinggal van der Parra tersebut, pada saat ini masih ditemukan rumah tua yang disebut Rumah Tua Cimanggis. Tidak jauh dari huis ini dulunya muncul bazaar lalu berkembang  menjadi pasar (yang kini menjadi cikal bakal Pasar Cimanggis).

Sementara itu di ruas jalan pos Batavia-Buitenzorg ini terdapat sejumlah tanah-tanah partikelir (sejak era VOC). Menurut Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1842 tanah-tanah partikelir itu ditandai dengan adanya landhuis, seperti Lanhuis Tandjoeng West (kini Tandjong Barat; Tandjong Oost sendiri kini Pasar Rebo), Landhuis di Tjilodong, Landhuis di Tjiliboet, Landhuis di Tjiturrup (Tjitrap, kini Citeureup) dan Landhuis di Tjiomas. Di sisi barat sungai Ciliwung terdapat jalan (westerweg) melalui Bamboe Koenning.

Satu tempat di antara Batavia-Buitenzorg dekat Tjimanggis apa yang dari doeloe disebut Depok. Di tempat ini sudah ada Huis van den zendeling. Di sekitar Depok ini juga sudaj sejak lama berkembang tanah-tanah partikelir seperti Land Depok, Land Sawangan, Land Tjitajam, Land Tjinire dan sebagainya.

Buitenzorg-Tjiandjoer dan Soekaboemi

Jalan pos utama sejak awal (1810) adalah Batavia-Buitenzorg-Tjisaroer, Bandoeng, Sumadang dan Tjirebon. Jalan pos dari Buitenzorg ke Soekaboemi baru muncul belakangan. Jalan pos dari Buitenzorg hingga ke Tjoangjoer adalah Pos Wangoen (Ciawi?), Pos Gadok, Pos Tjiceroa, Pos Toegoe, Pos Tjanjawar, Pos Tjipannas, Pos Tjihehrang, Pos Tjiesietiel dan Pos Tjiandjor.

Jalan pos Buitenzorg melalui Tjitjoeroek terus ke Tjiandjor tidak mengikuti rute yang sekarang tetapi justru doeloe terbalik yang dimulai dari Tjiandjoer lalu ke Soekaboemi dan berujung ke Wangoen (Ciawi?). Pos-pos tersebut adalah Pos I Waroeng Kondang, Pos II Gekbron, Pos III Tjiroempoet, Pos IV Soekaboemi, Pos V Talaga dan Pos VI Tjihoelang lalu ke Wangoen. Antara Tjihoelang dan Wangoen terdapat tempat tetapi bukan pos yaitu: Nagrag, Tjitjoeroek dan Banjer Waroe.
    
Tentu saja perlu mengetahui pos-pos dari Tjiandjoer ke Bandong. Ada delapan pos, yaitu: Soekamantrie, Tjisokkan, Radjamandala, Tjipatat, Tjisitoe, Tjipadalarang, Tjimahi dan Bandong (negri baroe). Seperti disebutkan Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1842, Bandong yang domaksud adalah negeri baru. Artinya lebih tua dari Tjimahi dan Tjiandjor. Rute pos ini masih berlanjut ke Sumadang dan Garoet. Terdapat beberapa pos antara Bandong dengan kedua tempat ini (tidak disebutkan di sini).

Bagi komunitas sepeda motor yang melakukan touring, rute ini cukup menarik. Hal ini karena moda transportasi darat dari Batavia ke pedalaman adalah rute ini (sejak era Daendles). Beberapa tempat yang menarik perhatian orang pada era tersebut sebagaimana disebut Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1842 adalah sebagai berikut (selain pos pos yang ada): Pondok Gedeh antara Wangoen dan Gadok, Poentjak Megamendoeng, sungai Tjigoendoel, gidang kopi di Patjet (tampaknya Puncak Pas belum ada). Antara Tjoandjor dengan Bandoeng adalah Kali Tjiisokkan, Kali Tjitaroem, Pesanggrahan Radjamandala, kebun the Radjamandala serta Poentjak Massiegit (puncaj Masjid) antara  Tjisietoe dan Tjipadalarang.

Untuk sekadar diketahui asal mula kota Bandung adalah bukan Bandoeng (lama) tetapi Bandoeng (baru) di dekat Odjoeng Brong. Antara Bandoeng (baru) dengan Odjoeng Brong adalah 1 pal. Sedangkan Bandoeng (lama) dengan Bandoeng (baru) berjarak 3 pal. Kampong-kampong terdekat dengan Bandong (baru) ini adalah Bodjo Negara, Tjoemboeloeit dan Tjoroek jaraknya masing-masing tiga pal, sebagaimana Bandoeng (lama).

Hal ini juga sama dengan Batavia. Orang Belanda cenderung tidak pernah mengakuisisi kampong lama, selalu membuat kota di luar kampong asli tetapi dengan menggunakan nama kampong asli. Kota Batavia tidak di Sunda Kelapa atau di Iacatra (Jakarta). Sunda Kelapa dan Jakarta masih tetap eksis ketika Batavia berkembang. Demikian juga Medan, Padang Sidempuan dan sebagainya. Pertanyaan: Dimana titik origin kota Bandoeng (baru) itu? Dan dimana pula kampong Bandoeng (lama) itu? Jawabnya: kelak akan dibuat Sejarah Bandoeng tersendiri (untuk melengkapi Sejarah Sepakbola Bandung).   


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar