Jumat, 19 Juni 2020

Sejarah Lombok (12): Sejarah Bima di Pulau Sumbawa, Selatan Makassar; Jauh di Mata Dekat di Hati, Terkenal Sejak VOC


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Bima memiliki sejarah tersendiri. Meski memiliki kedekatan dengan sejarah Dompu, tetapi dalam perkembangannya sejarah Bima lebih dekat dengan Tambora. Dalam perkembangan berikutnya, sejarah Bima overlap dengan sejarah Makassar. Sebaliknya sejarah Lombok di satu sisi overlap dengan sejarah Bali dan di sisi lain sejarah Lombok overlap dengan sejarah Sumbawa. Namun seperti kata pepatah Bima jauh di mata Lombok dekat di hati. Oleh karena itulah, Lombok, Sumbawa, Dompu, Tambora dan Bima disatukan dalam satu wilayah tersendiri: Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Middelburgsche courant, 25-09-1762
Sejarah Bima tidak sedang berbicara tentang tokoh Bima dalam pewayangan (Mahabrata). Sejarah Bima juga tidak mengulas nama-nama Gurun [Lombok], Seran [ [Seram], TaƱjung Pura [Pontianak], Haru [Padang Lawas, Tapanoeli], Pahang [Semenanjung Malaja], Dompo [Dompu], Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik [Singapoera] yang terdapat dalam naskah Pararaton sehubungan dengan sumpah Gajah Mada dari Majapahit (tahun 1336). Sejarah Bima adalah sejarah yang terkait dengan kerajaan-kerajaan Dompu, Tambora dan Sumbawa yang di satu sisi terkait dengan Lombok dan di sisi lain terkait dengan Makassar pada kurun waktu era VOC/Belanda.

Di antara semua daerah-daerah di Nusa Tenggara Barat, meski Lombok lebih awal dikenal oleh orang Belanda, tetapi Bima kemudian menjadi yang lebih terkenal. Mengapa? Itulah sebabnya mengapa sejarah Bima begitu penting di Nusa Tenggara Barat. Hubungan yang intim antara kerajaan Bima dan kerajaan Makassar (di utara) menambah pentingnya Bima dalam keseluruhan sejarah kepulauan Sunda Kecil. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumbe-sumber tempo doeloe.

Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat (Now)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Bima

Nama Bima di pulau Sumbawa paling tidak sudah diberitakan pada tahun 1762 (lihat Middelburgsche courant, 25-09-1762). Disebutkan kapal dari Batavia menuju Banda melalui Bima Sumbawa. Banda dan Amboina dua diantara tempat yang menjadi tujuan akhir di timur Hindia. Ini mengindikasikan bahwa Bima tetap dianggap penting setelah hampir satu abad berlalu. Nama Bima dianggap penting sejak 1661.

Ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman telah mengunjungi Lombok (teluk Lombok di pantai timur Lombok) pada tahun 1597. Pada ekspedisi kedua Belanda juga telah mengunjungi teluk Lombok pada tahun 1599. Lalu kemudian jalur pantai-pantai utara Jawa, Madoera, Bali, Lombok, Soembawa, Flores dan Timor menjadi jalut utama pelayaran (VOC) Belanda dari Batavia ke Banda dan Amboina. Dalam catatan harian Kasteel Batavia (Daghregister) nama Bima kali pertama dicatat pada tanggal 31 Januari 1661, kapal de Haes dari Batavia menuju Bima. Itu berarti sejak 1661 hingga tahun 1762 selama satu abad adanya hubungan (komunikasi) antara Batavia dan Bima. Sementara itu dua tahun sebelumnya hubungan (komunikasi) antara Batavia dan Bali menurut Daghregister dicatat pada tangga 31 Januari 1659. Ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman juga telah mengunjungi Bali pada tahun 1597. Kapal de Haes kembali mengunjungi Bima sesuai catatan Daghregister pada tanggal 12 Februari 1661.

Hubungan timbal balik antara Batavia (VOC) dengan Bima yang dimulai pada tahun 1661 paling tidak muncul setelah adanya surat dari viceroy dari Bima (lihat Dagregister 12 September 1661). Viceroy dalam hal ini adalah gubernur VOC. Hasil pembicaraan antara Residen VOC dengan radja Bima (koning van Bima) dicatat dalam Daghregister pada tanggal 4 Oktober 1661. Dalam hal ini, Bima menjadi tempat terpenting kedua VOC di timur (selain Amboina). Di Bima adalah tempat gubernur dan residen VOC.

Sebelum itu, Abraham Verspreet ditugaskan sebagai gubernur (landvoogden) di Makassar tahun 1655. Namun belum lama bertugas Abraham Verspreet harus ditarik ke Batavia. Tidak diketahui mengapa penarikan gubernur ini dilakukan. Terjadi kekosongan gubernur (landvoogden) di Makassar sejak 1655. Fungsi gubernur di Makassar ini diduga telah ditempatkan di Bima,

Hubungan (komunikasi) timbal balik antara Batavia dan Makassar sudah lama ada. Ini dimulai pada era Gubernur Jenderal kesembilan, Anthony van Diemen mengangkat seorang pedagang (koopman) di Makassar N van Vliet sebagai gubernur (landvoogden). N van Vliet terbunuh pada tahun 1638 lalu digantikan oleh oleh kepala pedagang (opperkoopman) VOC di Makassar, Johan van Suijdewijk. Pengangkatan Johan van Suijdewijk sebagai gubernur hanya berlangsung hingga 1646. Setelah itu fungsi gubernur VOC di Makassar ditadakan, Namun pada tahun 1651 fungsi gubernur diaktifkan kembali dengan mengangkat Evert Jansz. Ruijs. Pada tahun 1655 Ruijs digantikan oleh Abraham Verspreet. Namun belum lama menjabat sebagai gubernur, Abraham Verspreet harus ditarik kembali ke Batavia.

Sejak gubernur VOC ditempatkan di Bima, situasi politik di Makassar semakin menghangat. Perseteruan antara Belanda (VOC) dengan kesultanan Gowa semakin terbuka. Ini bermula tahun 1666, Abraham Verspreet memimpin sebuah ekspedisi kedua di Sumatra’s Westkust. Abraham Verspreet bertindak sebagai Komisaris (civiel) merangkap komandan (militair) untuk menumpas pelawanan Paoeh di muara sungai Batang Araoe yang beberapa bulan sebelumnya telah memberi perlawanan kepada ekspedisi Belanda pertama dibawah pimpinan Jacob Grujs. Abraham Verspreet membawahi pasukan ‘multi nasional’ yang dibawa dari Batavia pada bulan Agustus 1666 yang terdiri dari 300 orang Belanda, 130 orang Bugis dibawah komando Aroe Palakka dan 100 orang Ambon dibawah komando Kapitein Jonker.

Pada bulan Desember 1660 Aroe Palakka melarikan diri ke Boethon karena dianggap Kerajaan Goa (Makassar) melakukan pemberontakan di Bone. Boethon yang berada di bawah perlindungan Ternate (yang telah bekerjasama dengan VOC) berseberangan dengan Makassar. Pasukan Bone atas nama Makassar mengejar Aroe Palakka hingga ke Boethon. Lalu Boethon meminta Aroe Patodjo (dan Aroe Palakka) ke Batavia. Sekitar satu bulan kemudian Aroe Palakka dengan keluarganya bergabung dengan warga Ambonsch yang bersekutu dengan orang-orang VOC. Aroe Palakka tinggal di Angke (bersama dengan orang-orang Bugis). Aroe Palakka menawarkan pasukannya 250 orang untuk bergabung dengan ekspedisi di bawah komando Poolman ke Sumatra’s Westkust tahun 1666 yang berjumlah 1.000 orang. Aroe Palakka telah melayani dengan baik ekspedisi dan kembali ke Batavia 3 November 1666 dengan banyak penghormatan. Persahabatan Poolman dan Aroe Palakka semakin intens dan menjadi sahabat.

Delapan belas hari setelah di Batavia, Aroe Palakka berangkat dengan salah satu kapal yang menuju Makassar untuk bergabung dengan Speelman yang akan mengeksekusi Goa-Tallo yang telah melanggar perjanjian (contract). Armada Speelman meninggalkan Batavia pada tanggal 24 September 1666 dan berlayar terlebih dahulu ke Makassar, sementara Speelman tiba pada tanggal 10 Desember. Sehari sebelumnya, Aroe Palakka telah menangkap beberapa orang Badjore, subyek Gowa, di pulau TanakƩkƩ, dan dengan demikian benar-benar memulai perang sebelum diumumkan.

Bukti yang ditunjukkan Aroe Palakka dengan pasukannya di Sumatra’s Westkust menjadi pasword untuk bergabung dengan pasukan Speelman yang akan menghukum Goa-Tallo. Cornelis Speelman memang membutuhkan sekutu baru untuk bisa mengalahkan kekuatan Goa-Tallo. Rekomendasi Poolman memperkuaat penerimaan Speelman terhadap Aroe Palakka.

Speelman tidak menyukai pangeran Makassar karena telah melakukan banyak pelanggaran teritorial (menyerang kapal-kapal VOC dan mengganggu pegawai-pegawai VOC) dan segera melakukan serangan dengan menaikkan bendera merah. Armada Speelman berlayar ke Boethon setelah mengetahui pasukan Makassar ingin menyerang Boethon karena telah membantu Aroe Palakka. Boeton tertolong karena armada Speelman berada tiba pada tepat waktu.  Pada tanggal 1 Januari 1667 dengan meningkatnya ekskalasi suhu perang, 5.000 BonĆ©erĆ©r, Soppengers dan Boeginer lainnya merapat kepada Aroe Palakka (yang datang dari Batavia). Pasukan lawan yang tersisa menyerah pada tanggal 3 Januari.

Setelah ‘pertempuran’ Speelman dan Gowa-Tallo di Boethon, Aroe Palakka ‘ngepos’ di Boethon. Sementara Speelman melanjutkan pelayaran ke Maluku untuk tujuan tertentu. Aroe Palakka mendapat pesan dari Spoelman untuk mengutus pasukan untuk membebaskan BonĆ©, Soppeng dan Adjatappareng melawan Gowa. Namun semua pasukan di Bone dihabisi oleh Makassar, tetapi Soppeng dan Adjatappareng terhindar karena pasukan Speelman yang sudah kembali mendekat. Speelman sendiri kembali ke Boeton pada bulan Juni 1667 yang didampingi oleh Soelthan Ternate, Mandarsjah, serta pasukan pembantu dari Ternate, Tidore dan Batjan. Setelah membuat kontrak dengan Boethon, Speelman pada bulan Juni itu ke Makassar yang diikuti semua pasukan yang berafiliasi dengan Speelman dari Maluku, pasukan Aroe Palakka dan ditambah 1.000 pasukan dari Boethon. Total, Speelman di Makassar membawahi 11.000 pasukan dan siap melawan Goa-Tallo (lihat Sejarah Bone pada surat kabar Soerabaijasch handelsblad, 16-08-1905). Akhirnya kerajaan Gowa berhasil ditaklukkan VOC. Benteng Somba Opu yang juga merupakan ibukota (Stad) Somba Opu pasca penaklukan telah dihancurkan. Hal ini didasarkan pada perjanjian Bongaya (16 November 1667). Perjanjian ini terdiri dari 30 pasal (artikel). 10. Pada Art.10 dinyatakan bahwa seluruh benteng di garis pantai Makassar harus dihancurkan (Barombong, Panekoke, Grise, Marisso, Borrebos). Hanya benteng Somboepo [Sombaopoe] yang tetap ada bagi Raja. Sedangkan Art.11 menyatakan bahwa benteng Udjoeng Pandang diserahkan kepada VOC dalam keadaan baik, bersama perkampungan dan lahan di sekitarnya.

Setelah kerajaan Gowa tiada, pemerintah VOC kembali memperkuat hubungan (komunikasi) dengan kerajaan/kesultanan Bima. Perjanjian (contract) baru antara pemerintah VOC dan kerajaan Bima diperbarui tangga 13 November 1669 sebagaimana dicatat dalam Daghregister.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar