Selasa, 15 Oktober 2019

Sejarah Sukabumi (9): Sejarah Selabintana dan Selabatu; Dari Sanatorium di Tjikole Menjadi Hotel dan Air Terjun Tjibeureum


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Asal muasal terbentuknya hotel di Selabintana bermula di Selabatoe, kampong Tjikole. Pada masa lampau kampong Tjikole adalah ‘downtown’ Soekaboemi. Hal ini bermula dimana planter membangun homebase, lalu menjadi munculnya perkampongan orang-orang Tionghoa. Sebagai ‘pusat kota’ lalu Militaire Department membangun rumah sakit militer yang dipimpin oleh Dr. L Weiss. Namun dalam perkembangannya persoalan muncul.

Selabatoe tempo doeloe (Peta 1899); Selabintana masa kini
Sehubungan dengan dibukanya jalur kereta api Buitenzorg-Bandoeng dan beroperasinya ruas Buitenzorg-Soekaboemi pada tahun 1882 kota Soekaboemi yang berpusat di kampong Tjikole tumbuh berkembang secara pesat. Setelah adanya persoalan antara militer dengan penduduk tahun 1890, dalam perkembangannya rumah sakit itu berubah status kepemilikan yang kemudian disewa oleh E Lenne dan menjadikannya sanatorium dan kemudian diintegrasikan dengan hotel: ‘Sanatorium en Hotel Selabatoe’.

E Lenne kemudian melakuan ekspansi usaha dengan membangun baru hotel yang lebih baik di Selabintana. Hotel Selabinta yang mengintegrasikan dengan keindahan alam yang eksotik dimana terdapat air terjun menjadi pesaing utama dalam usaha akomodasi dengan dua hotel terdahulu: Hotel Ploem dan Hotel Voctoria. Itulah sekilas sejarah awal kehadiran Hotel Selabinta yang tidak terpisahkan dari Sanatorium Selabatoe. Tapi tentu itu tidak cukup. Untuk itu mari kita telusuri lembih lanjut sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (8): Sejarah Hotel di Sukabumi; Ploem dan Victoria, Sebelumnya Hotel Tak Dikenal Jadi Hotel yang Dicari


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Tempo doeloe, Sukabumi adalah surga. Tidak hanya untuk orang sehat, tetapi juga surga buat orang sakit. Oleh karena itulah, seorang dokter merekomendasikan untuk membangun hotel di Sukabumi. Lalu muncul hotel Ploem dan hotel Victoria. Dua hotel yang terbilang terawal di Sukabumi. Dua hotel ini pada awalnya tidak dikenal, tetapi kemudian menjadi hotel-hotel yang sangat dicari. Mengapa?

Hotel Ploem (1882) dan Hotel Victoria (1883)
Pada masa ini nama hotel Ploem dan hotel Victoria tentu saja tidak ditemukan lagi, Namun situs dua hotel ini masih ada. Gedung Juang Sukabumi yang sekarang adalah hotel Victoria pada masa lampau. Dimana posisi GPS hotel Ploem? Yang jelas dalam perkembangannya muncul nama-nama hotel baru: hotel Selabatoe dan hotel Selabintana.

Dari semua hotel tempo doeloe ini hanya hotel Selabintana yang tetap eksis hingga ini hari. Alasan dibangunnya hotel Selabintana juga karena alasan yang sama: hotel yang dicari. Apakah pembangunan hotel di Sukabumi pada masa ini karena pertimbangan seperti masa lalu? Tentu tidak. Semua tielah berubah. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doelloe.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Sejarah Sukabumi (7): Situ Gunung, Danau Kecil Tapi Indah di Lereng Gunung Gede Pangrango; Dikenal Sedari Doeloe (1888)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Banyak situ (danau) di Sukabumi, tetapi danau Situ Gunung disitu Gunung Gede Pangrango menawarkan suatu alam yang berbeda (eksotik). Situs ini pernah saya kunjungi tahun 1984 mengikuti rombongan wisata Imatapsel Bogor ketika saya masih kuliah di tahun kedua. Ketua rombongan kami adalah mahasiswa yang tahun sebelumnya pernah KKN di desa dimana situ berada. Wisata alam ini kami adakan hari Sabtu-Minggu dengan membawa tenda besar dipinjam dari Zeni-Bogor (semacam persamilah). Sejak itu, baru ketika menulis artikel ini saya merecall kembali memori tentang alam indah Situ Gunung.

Situ Gunung dan jembatan gantung (Peta 1899)
Danau Situ Gunung berada di desa Gede Pangrango, kecamatan Kadudampit, kabupaten Sukabumi. Nama desa Gede Pangrango adalah baru, seingat saya dulu bukan itu nama desa dimana situ berada (tetapi masuk desa Sukamantri, coba cek Pak Camat Cisaat). Nama kecamatan Kadudampit juga baru, saat itu situ masih termasuk kecamatan Cisaat. Menurut versi Eropa/Belanda sebelum saya ke Situ Gunung, satu abad di masa lampau (1888) danau (meer) Sitoe Goenoeng berada di district Tjimahi. Disebutkan bahwa kampong terdekat dari situ ini pada saat itu adalah kampong Tjibonar (baca: Cibunar).

Namun bukan kunjungan kami itu yang ingin ditulis tetapi adalah kesan para wisatawan Eropa yang mengunjungi Sitoe Goenoeng pada tahun 1888. Boleh dikatakan dari situlah (sejak 1888) sejarah Situ Gunung dimulai. Pada masa ini, berdasarkan informasi di internet, Situ Gunung kini sudah sangat heboh. Bahkan di kampong Pasanggrahan di dekat situ terdapat situs modern yakni jembatan gantung yang tidak kalah eksotiknya dengan situ. Jembatan suspensi Situ Gunung ini panjangnya 250 meter di atas ketinggian 150 meter dari dasar ngarai. Situs wisata ini berada di bawah Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Mari kita kunjungi! Akan tetapi sebelum ke sana mari kita tinjau lebih dahulu sejarahnya berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Sukabumi (6): Sejarah Parung Kuda di District Tjitjoeroek; Jan Pieter van der Hucht dan Onderneming Parakan Salak


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Ibarat roda kereta kuda, kota Parung Kuda adalah poros (as atau sumbu) di District Tjitjoereok pada masa lampau. Lokasi wilayah Parung Kuda yang berada di tengah (strategis) menyebabkan Parung Kuda memiliki dinamikanya sendiri. Dinamika tersebut yang mana kota Parung Kuda berkembang seiring dengan perkembangan perkebunan (onderneming) di Parakan Salak. Oleh karena itu sejarah Parung Kuda tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Parakan Salak. Sejarah Parung Kuda dan sejarah Parakan Salak ibarat roda kereta kuda antara yang kiri dan yang kanan (jika beroda dua); atau ibarat roda belakang dan roda depan (jika beroda empat).

Parakan Salak dan Paroeng Koeda (Peta 1899)
Keutamaan sejarah Parung Kuda tidak hanya karena terhubung dengan perkebunan (onderneming) Parakan Salak, tetapi juga menjadi faktor penting dalam pembangunan jalur kereta api antara Buitenzorg (Bogor) dan Soekaboemi tahun 1881. Pada era perang kemerdekaan (1945-1949) Parung Kuda terkenal karena pertempuran di Bodjong Kokosan. Pada masa ini, adanya halte/stasion kereta api di Parung Kuda juga menjadi faktor penting pengembangan wisata alam di Parakan Salak.
  
Lantas seperti apa awal mula sejarah Parung Kuda? Itu harus kita mulai dari Parakan Salak. Banyak tokoh penting muncul dari Parakan Salak. Yang pertama adalah sang pionier Jan Pieter van der Hucht yang membuka laha Parakan Salak pada tahun 1844. Lalu muncul AW Holle dan G Mundt. Paralel dengan sejarah Parakan Salah dan para tokoh-tokoh tersebut, sejarah Parung Kuda berlangsung. Untuk memahami lebih lanjut mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 10 Oktober 2019

Sejarah Sukabumi (5): Sejarah Pelabuhan Ratu, Ibu Kota Baru Kabupaten Sukabumi; Wijnkoopsbaai, Scipio, de Wilde, Eekhout


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Pada tahun 1890 RA Eekhout memiliki konsesi untuk membangun jalur rel kereta api (listrik atau uap) dari Cibadak ke Pelabuhan Ratoe. Pemerintah pusat telah membuat kebijakan baru menutup pelabuhan Wijnkoopsbaai dari segala aktivitas perdagangan pemerintah dan perdagangan luar negeri. Ini sehubungan dengan beroperasinya jalur kereta api ruas Buitenzorg-Bandoeng via Soekabomi dan Tjiandjoer. RA Eekhout ingin menyelamatkan Wijnkoopsbaai (Palaboehan Ratoe) dan terus mengembangkannya.

Pelabuhan Ratu (Wijnkoopsbaai) kali pertama dikunjungi oleh orang Eropa/Belanda tahun 1687 ketika dilakukan ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Scipio yang diawali dari muara sungai Tjimandiri (rivier van Gekrok) menuju pedalaman hingga ke gunung Guruh (Sukabumi) dan kembali melalui punggung gunung Salak-Pangrango hingga ke titik singgung terdekat sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane dengan membangun benteng (fort) yang disebut benteng Padjadjaran. Dari benteng tim ekspedisi kembali ke Batavia melalui sisi timur sungai Tjiliwong. Kelak de Wilde (di era pendudukan Inggris (1811-1816) membuka usaha pertanian di sekitar gunung Guruh (yang menjadi cikal bakal Kota Sukabumi).    

Kini, ibu kota Kabupaten Sukabumi telah dipindahkan dari Kota Sukabumi ke kota Pelabuhan Ratu. Jika Kota Sukabumi diawali oleh de Wilde maka Pelabuhan Ratoe ingin direvitalisasi oleh RA Eekhout. Namun gagasan Eekhout ditolak banyak pihak. Lantas apakah berhasil pemindahan ibu kota kabupaten Sukabumi ke Pelabuhan Ratu akan cepat berkembang Sukabumi bagian selatan? Belajar sejarah Pelabuhan Ratu ada bainya karena dapat memberi perspektif dalam arah perjalanan sejarah kota ke masa depan. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 08 Oktober 2019

Sejarah Sukabumi (4): Sejarah Benteng dan Warudoyong, Area Pemukiman Pribumi; Mengapa Ada Bunker di Dalam Kota?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Pertanyaan penting pada masa ini mengapa ada terowongan bawah tanah di dalam Kota Sukabumi. Besar dugaan terowongan itu bukan dibangun di era pendudukan Jepang. Cikal bakal terowongan tersebut diduga dibuat pada era VOC/Belanda. Terowongan tersebut menjadi semacam bunker, tempat persembunyian (escape) jika benteng tidak mampu menahan serangan dari musuh. Keberadaan benteng inilah diduga kemudian muncul nama kampong Benteng.

Benteng Goenoeng Poejoeh dan Kopeng (Peta 1899)
Tidak jauh dari kampong Benteng muncul nama kampong Warudoyong. Suatu perkampungan baru yang terbentuk kemudian. Nama kampong Warudoyong bukanlah nama asli seperti nama kampong asli Cikole, Gunung Puyuh, Gunung Parang dan Cimahi. Nama kampong Warudoyong diduga perkampungan yang terbentuk oleh eks para pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang tidak kembali ke daerahnya. Meski para pasukan militer VOC/Belanda ini berasal dari tempat yang berbeda-beda tetapi dalam berbahasa resmi kedua digunakan bahasa Melayu. Nama kampong Kopeng, kampong Baros dan bahkan nama kampong Soekaboemi dan kampong Soekaradja diduga kuat juga bukan nama asli. Kata ‘goenoeng’ padanannya adalah pasir (gunung) dan Pasir Poejoeh dan Pasir Parang diduga telah bergeser menjadi Goenoeng Poejoeh dan Goenoeng Parang. Nama Benteng juga diduga bukan asli tetapi terminologi yang dipertukarkan dengan fort (benteng). Idem dito dengan nama Gudang.

Dimana posisi GPS benteng VOC/Belanda tersebut tempo doeloe diduga berada di jalan Sriwijaya yang sekarang. Sementara yang disebut bunker tersebut berada di jalan Kopeng, terusan jalan Sriwijaya (melalui jalan Bhayangkara). Lantas bagaimana asal-usul dibangunnya benteng tersebut? Inilah awal pemicu mengapa terbentuk kota Sukabumi. Untuk memahami itu semua, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.