Selasa, 08 Oktober 2019

Sejarah Sukabumi (4): Sejarah Benteng dan Warudoyong, Area Pemukiman Pribumi; Mengapa Ada Bunker di Dalam Kota?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Pertanyaan penting pada masa ini mengapa ada terowongan bawah tanah di dalam Kota Sukabumi. Besar dugaan terowongan itu bukan dibangun di era pendudukan Jepang. Cikal bakal terowongan tersebut diduga dibuat pada era VOC/Belanda. Terowongan tersebut menjadi semacam bunker, tempat persembunyian (escape) jika benteng tidak mampu menahan serangan dari musuh. Keberadaan benteng inilah diduga kemudian muncul nama kampong Benteng.

Benteng Goenoeng Poejoeh dan Kopeng (Peta 1899)
Tidak jauh dari kampong Benteng muncul nama kampong Warudoyong. Suatu perkampungan baru yang terbentuk kemudian. Nama kampong Warudoyong bukanlah nama asli seperti nama kampong asli Cikole, Gunung Puyuh, Gunung Parang dan Cimahi. Nama kampong Warudoyong diduga perkampungan yang terbentuk oleh eks para pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang tidak kembali ke daerahnya. Meski para pasukan militer VOC/Belanda ini berasal dari tempat yang berbeda-beda tetapi dalam berbahasa resmi kedua digunakan bahasa Melayu. Nama kampong Kopeng, kampong Baros dan bahkan nama kampong Soekaboemi dan kampong Soekaradja diduga kuat juga bukan nama asli. Kata ‘goenoeng’ padanannya adalah pasir (gunung) dan Pasir Poejoeh dan Pasir Parang diduga telah bergeser menjadi Goenoeng Poejoeh dan Goenoeng Parang. Nama Benteng juga diduga bukan asli tetapi terminologi yang dipertukarkan dengan fort (benteng). Idem dito dengan nama Gudang.

Dimana posisi GPS benteng VOC/Belanda tersebut tempo doeloe diduga berada di jalan Sriwijaya yang sekarang. Sementara yang disebut bunker tersebut berada di jalan Kopeng, terusan jalan Sriwijaya (melalui jalan Bhayangkara). Lantas bagaimana asal-usul dibangunnya benteng tersebut? Inilah awal pemicu mengapa terbentuk kota Sukabumi. Untuk memahami itu semua, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.    

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Benteng Goenoeng Poejoeh

Nama kampong Benteng kali pertama diberitakan pada tahun 1863 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-11-1863). Disebutkan ‘pada tanggal pada tanggal 29 Oktober, di tempat dimana pasukan berada di Karang Tengah, Kabandoengan, Tjibatoe dan Benteng, district Goenoeng Parang, Afdeeling Soekabumi, Regentschap Tjiandjoer...’, Informasi ini menunjukkan garis pertahanan militer Belanda dari origin ibu kota Tjiandjoer. Informasi ini juga menunjukkan adanya (kampong) Benteng.

Benteng-benteng VOC/Belanda di seputar Residentie Batavia
Di berbagai tempat, nama kampong Benteng berada tidak jauh dari suatu benteng (fort) seperti di Tangerang, Ciampea, Karawang dan Sukabumi. Di Tangerang terdapat benteng Tangerang, di Ciampea terdapat benteng Tjianten, di Karawang terdapat benteng Tandjoeng Poera dan di Soekaboemi terdapat benteng Goenoeng Poejoeh. Benteng (fort) dibangun pada era VOC/Belanda. Nama kampong Benteng mengadopsi dari keberadaan benteng. Pada era Pemerintah Hindia Belanda fungsi benteng telah digantikan oleh garnisun/pos militer seperti di Karang Tengah, Kabandoengan, Tjibatoe dan Benteng. Sehubungan dengan rencana pembangunan jalur kereta api ruas Buitenzorg-Bandoeng via Soekaboemi dan Tjiandjoer, pasukan-pasukan itu dipusatkan jalan ke Pelabuhan (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-09-1880). Pusat militer (garnisun) di jalan ke Pelabuhan tersebut adalah Tjikembar.

Kapan kampong Benteng di district Goenoeng Parang, Afdeeling Soekaboemi terbentuk? Sudah barang tentu terbentuk setelah adanya benteng. Benteng sendiri diduga dibangun pada era VOC/Belanda sekitar tahun 1750an. Itu terjadi setelah serangan dari (kesultanan) Banten pada tahun 1752. Serangan ini juga telah menghancurkan villa/istana Buitenzorg.

Ketika tanah-tanah partikelir (land) sudah meluas hingga hulu sungai Tjiliwong, Guburnur Jenderal van Imhoff pada tahun 1745 membangun villa/istana di dekat benteng (fort) Padjadjaran. Posisi benteng ini tepat berada di titik singgung terdekat antara sungai Tjisadane dan sungai Tjiliwong. Area villa/benteng ini kemudian disebut Buitenzorg. Posisi GPS villa/benteng tersebut pada masa kini tepat berada di area Istana Bogor yang sekarang.

Pasca serangan (kesulatanan) Banten ke wilayah VOC/Belanda pada tahun 1752, pemerintah VOC/Belanda memperkuat benteng-benteng yang ada seperti benteng Tangerang, benteng Serpong, benteng Tjiampea (hulu sungai Tjisadane) dan benteng Padjadjaran (hulu sungai Tjiliwong). Untuk memperkuat benteng-benteng tersebut dibangun benteng sekunder di Djasinga (di hulu sungai Tjidoerian) dan di Goenoeng Poejoeh (hulu sungai Tjimandiri). Benteng Panjawoengan (pertemuan sungai Tjikaniki/sungai Tjianten) dilikuidasi dan digantikan dengan benteng baru di Djasinga. Benteng Goenoeng Poejoeh dan benteng Djasinga adalah benteng terluar pertahanan VOC/Belanda.

Setelah adanya benteng Goenoeng Poejoeh, pemerintah VOC mulai merintis jalan (via Tjisaroea) ke Priangan untuk membuat kontrak-kontrak untuk penanam kopi dengan para pemimpin-pemimpin lokal seperti bupati Tjiandjoer dan bupati Bandoeng. Itulah mengapa wilayah Cianjur menjadi wilayah ekonomi pertama dan wilayah Sukabumi menjadi wilayah pertahanan. Benteng Goenoeng Poejoeh dan benteng Tandjoeng Poera (Karawang) saling memperkuat untuk mengamankan kegiatan budidaya kopi di Priangan (dari ancaman Banten dan Mataram).

Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, Kerajaan Belanda mengakuisisi dan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Hanya sejumlah benteng tertentu yang tetap dipertahankan. Benteng di Sukabumi mulai ditinggalkan. Di seputar Batavia dan Buitenzorg mulai dibangun garnisun-garnisun militer. Dalam peta yang dibuat oleh J van der Burgh (1808-1811) benteng/garnisun militer telah dibangun di Tjiandjoer. Ini sehubungan dengan penetapan dan pembangunan jalur pos (post-weg) dari Batavia ke Buitenzorg terus ke Tjiandjoer dan Soemedang. Tidak lama kemudian terhadi pendudukan militer Inggris. Gubernur Jenderal Belanda Daerndels digantikan oleh Letnan Gubernur Jenderal Inggris Raffles (1811-1816).

Letnan Gubernur Jenderal Raffles menjual sejumlah lahan kepada swasta dan membentuk tanah-tanah partikelir (land) yang baru. Land-land baru tersebut diantaranya land yang kemudian dikenal sebagai land Soekaboemi, land Tjipoetri. Land Bajabang (Radjamandala) dan land Oedjoengbroeng. Hal inilah yang menyebabkan mengapa benteng Goenoeng Poejoeh di district Goenoeng Parang tetap dipertahankan.

Pemerintah Hindia Belanda kembali berkuasa pada tahun 1816. Pada awal penataan pemerintahan Hindia Belanda ini land yang dibentuk Rafless di Residentie Preanger (nama Priangan sejak era VOC) diakusisi kembali oleh pemerintah. Ketika pemerintah Hindia Belanda belum selesai menata kembali pemerintahan wilayah (pasca pendudukan Inggris) di sejumlah wilayah para pemimpin lokal menentang kehadiran Belanda. Satu yang penting pada fase ini adalah terjadinya Perang Djawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (1825-1830). Perang ini sangat berlarut-larut sehingga terjadi akumulasi militer Belanda. Jumlah militer Belanda (yang terus didatangkan dari Belanda) lambat laun semakin banyak (semakin kuat).

Pasca Perang Djawa ini, apakah terkait dengan kekuatan militer Belanda, Gubernur Jenderal van den Bosch (1830-1833) menerapkan kebijakan baru dari koffiekultuur menjadi koffiestelsel. Pemerintah Hindia Belanda juga tidak memfungsikan benteng tetapi lebih memperbanyak garnisun-garnisun militer di berbagai tempat dimana koffiestelsel diterapkan. Benteng Goenoeng Poejoeh tamat. Demikian juga benteng Tomo di Karang Sambong tamat. Dalam perkembangannya jalur militer Buitenzorg-Tjiandjoer via Tjiseroea (Puncak) digeser ke selatan pada tahun 1850an via Tjitjoeroek dan Soekaboemi. Garnisun-garnisun dalam perkembangannya semakin dilengkapi dengan menambah berbagai fungsi seperti penjara dan rumah sakit. Garnisun di Soekaboemi memiliki rumah sakit (lihat  De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-12-1884). Rumah sakit militer ini dibangun pada tahun 1882.

Kampong Benteng dan Kampong Waroedojong: Area Pemukiman Pribumi

Kampong Benteng di masa lampau adalah kampung besar yang awalnya satu dusun berkembang menjadi beberapa dusun (lembur). Dusun-dusun kampong Benteng ini tersebar di semua penjuru angin dari situs benteng (fort). Jauh sebelum terbentuk perkampongan Benteng, nama-nama yang sudah eksis dan terbilang besar, antara lain: Tjikole, Goenoeng Poejoeh, Waroedojong dan Tjitamiang. Nama-nama kampong kecil antara lain: Kopeng, Karamat, Kabandoengan, Koeta, Tjipoho, Njomplong, Nama-nama kampong ini berada di District Goenoneg Parang.

Pada permulaan pemerintahan tahun 1826 (setelah tahun 1823 land Soekaboemi diakuisisi pemerintah), Regentschap Tjiandjoer terbagi dua afdeeling, yakni: Afdeeling Tjiandjoer dan Afdeeling Soekaboemi. Sementara itu Afdeeling Soekaboemi terdiri dari dua onderafdeeling, yakni: Onderafdeeling Soekaboemi dan Onderfadeeling Tjitjoeroek. Sebelumnya semua wilayah ini disebut hanya District Goenoeng Parang. Dalam pembentukan pemerintahan tahun 1826 wilayah District Goenoeng Parang diadministrasikan dalam satu afdeeling yang disebut Afdeeling Soekaboemi (mengambil nama land yang sudah ada). Untuk memimpin Afdeeling baru ini ditempatkan Controelur yang berkedudukan di (kampong) Tjikole.

Rumah/kantor Controleur dibangun di sisi utra jalan yang baru dibangun. Jalan baru originnya di kota Tjiandjoer. Seperti biasanya sebelum Controleur baru datang ke tempat yang baru para militer (pasukan zeni) sudah mempersiapkan terlebih dahulu segalanya seperti jalan dan jembatan, perumahan dan sebagainya. Dalam mempersiapkan area pemerintahan (Controleur) ini sudah dipetimbangkan lanskap area (semacam planologi awal). Rumah/kontrol ini dibangun tepat di sisi timur jalan akses menuju tempat tinggal para planter (Selabatoe) di kampong Tjikole. Seperti biasa pemukiman orang-orang Tionghoa tidak jauh dari rumah para planter (landheer). Pada tahun 1821 pemukiman orang Tionghoa berada di kampong Tjikole (lihat Bataviasche courant,     29-12-1821). Dengan demikian lokasi rumah/kantor Controleur Soekaboemi agak terpisah di selatan dari pusat Eropa/Belanda dan Tionghoa yang berada di utara. Lalu kemudian sejak adanya Controleur Soekaboemi jalan rintisan baru dibuka dari Soekaboemi ke Wijnkoopsbaai tempat dimana sudah ada garnisun militer. Nama pengganti Wijnkoopsbaai sebagai Palaboehan Ratoe kali pertama ditemukan pada tahun 1837 (lihat Utrechtsche courant,      25-12-1837). Bersamaan dengan rintisan jalan ke Wijnkoopsbaai juga dilakukan peningkatan jalan dari Soekaboemi ke Tjitjoeroek melalui Tjimahi (Karang Tengah) dan Tjiheulang (Nagrak).  

Setelah sekian lama, status Controleur Soekaboemi ditingkatkan menjadi Asisten Residen Soekaboemi. Dalam hubungan ini, Afdeeling Soekaboemi dibagi menjadi beberapa onderfadeeling. Controelur baru ditempatkan yang satu diantaranya di (kampong) Tjitjoeroek (onderfadeeling Tjitjoeroek). Onderafdeeling Soekaboemi sendiri terdiri dari dua district, yakni District  Goenoeng Parang dan District Tjimahi (Karang Tengah yang sekarang). District Goenoeng Parang adalah wilayah Kota Sukabumi yang sekarang. Dalam hal ini District Goenoeng Parang pada dasarnya adalah origin dari Kabupaten/Kota Sukabumi yang sekarang dan lebih tepatnya kampong Tjikole di District Goenoeng Parang.
   
Benteng di Goenoeng Poejoeh di District Goenoeng Parang dibangun setelah tahun 1750an. Pada era Pemerintahan Hindia Belana, khususnya pasca pendudukan Inggris (1811-1816) fungsi benteng ini mulai ditinggalkan sehubungan dengan pembentukan sejumlah garnisun militer di berbagai tempat yang akan dijadikan pemerintah sebagai pusat perekonomian dan pusat pemerintahan.

Pada fase inilah diduga kuat muncul nama kampong Benteng. Munculnya perkampongan di sekitar benteng sehubungan dengan tidak difungsikannya lagi benteng. Di daerah sekitar benteng inilah terbentuk perkampungan yang secara keseluruhan tempat-tampat pemukiman (lembur) itu disebut kampong Benteng. Sebelum terbentuknya kampong Benteng, kampong sudah ada (agak jauh dari benteng) adalah kampong Goenoeng Poejoeh, kampong Karamat, kampong Kopeng, kampong Kabandoengan dan Kampong Warodojong. Sejaman dengan munculnya kampong Benteng adalah munculnya kampong Tjitamiang. Pada fase berikutnya muncul kampong Tipar, kampong Paboearan, kampong Njomplong dan kampong Tjipoho.  

Seiring dengan peningkatan status Soekaboemi dari Controleur (semacam Camat) menjadi Asisten Residen (semacam Bupati) pada tahun 1871, kota Soekaboemi semakin tumbuh dan berkembang. Tata kota mulai dilakukan, pemisahan dan pengelompokkan warga kota juga mulai diterapkan (Eropa/Belanda, Tionghoa dan pribumi). Dalam fase ini proses urbanisasi semakin cepat terjadi (di dalam kota) dan munculnya kampong-kampong baru di wilayah sekirar.

Nama-nama kampong (lembur) yang baru di sekitar kota Soekaboemi umumnya mengikuti nama-nama asli atau mengadopsi nama-nama kampong yang sudah ada di di wilayah Banten dan Priangan seperti penggunaan kata depan Tji, nama Babakan, Paboearan, Pasir, Bodjong dan sebagainya. Namun nama-nama kampong yang lama di sekitar benteng kurang dikenal seperti Waroedojong, Kopeng dan Koeta. Seperti nama kampong Benteng sendiri mengikuti keberadaan benteng (fort), besar dugaan nama-nama kampong Waroedojong, Kopeng dan Koeta diduga berasosiasi dengan pasukan pribumi pendukung militer VOC/Pemerintah Hindia Belanda. Secara praktis, pasukan pribumi ini ditempatkan di wilayah lain yang jauh dari kampong halamannya, misalnya pasukan Ambon, Sulawesi dan Bali ke Jawa, pasukan Jawa ke Sumatra dan Kalimantan dan pasukan Melayu ke Jawa. Seperti di wilayah lainnya, di Batavia muncul nama kampong Bugis, kampong Tambora, kampong Makassar, kampong Melayu dan kampong Bali, dan di Sumatra kampong Jawa. Satu hal lagi nama perkampongan yang muncul kemudian di kota Soekaboemi adalah (kampong) Kaoeman, suatu pemukiman yang diasosiasikan dengan keberadaan orang-orang Arab.    

Pada tahun 1836 pemerintah pusat mengidentifikasi dan menetapkan jalan menurut kelas. Ruas jalan antara Buitenzorg hingga ke Tjiandjoer melalui Soekaboemi dan Tjitjoeroek ditetapkan sebagai jalan kelas tiga. Jalan kelas satu adalah jalan pos (Groote-postweg) dari Batavia ke Buitenzorg terus ke Tjiandjoer melalui Tjisaroea terus ke Bandoeng. Jalan kelas dua antara lain ruas jalan dari Buitenzorg ke Djasinga terus ke Banten. Jalan kelas tiga adalah jalan tahap rintisan yang akan terus dikembangkan (kereta belum bisa dan baru bisa dilalui oleh pedati atau kuda).

Rumah/kantor Controleur Soekaboemi berada di jalan pos (kini jalan Ahmad Yani), tepatnya di hook antara jalan Ahmad Yani dengan jalan Perintis Kemerdekaan. Di sebelah utara rumah/kantor Controleur adalah garnisun militer (kota menjadi Polres Kota Sukabumi). Di sebelah barat rumah/kantor Controleur dijadikan sebagai taman/alun-alun kota. Layout kota ini semasa era Controleur mirip layout kota Bandoeng. Di seberang taman/alun-alun dibangun kantor/pos dan pesanggrahan. Di selatan alun-alun berada kantor/rumah kepala district (kelak menjadi area rumah/kantor Asisten Residen). Dalam era Controleur ini dibangun pasar (di hook antara jalan pos dengan jalan ke arah pelabuhan). Untuk mengawal kota, pos militer ditempatkan di sejumlah titik . Pada tahun 1863 pos militer di district Goenoneg Parang terdapat di Karang Tengah, Kabandoengan, Tjibatoe dan Benteng (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-11-1863).    

Satu yang terpenting dalam perubahan tata kota ini adalah pembangunan rumah/kantor Asisten Residen. Celakanya, rumah/kantor kepala district harus dikorbankan dan diganti dengan bangunan baru sebagai rumah/kantor Asisten Residen. Rumah/kantor kepala district direlokasi dengan membangun baru di kampong Waroedojong (ke arah Pelabuhan dekat dengan pasar).

Dalam fase era baru kota Suoekaboemi ini tidak hanya merelokasi kantor kepala district (pribumi) juga terjadi relokasi garnisun militer ke pinggir kota (di sebelah timur pasar di jalan pos ke arah Tjiandjoer. Relokasi juga dilakukan terhadap kantor pos yang dipindahkan ke arah pasar.

Sebagaimana di kota-kota lain, setelah tata kota Sukabumi dilakukan, tampak pemusatan (area) orang Eropa/Belanda di sekitar alun-alun ke arah lokasi yang lebih tinggi (Selabatoe). Area orang Tionghoa berada di dekat area orang Eropa/Belanda ke arah dekat pasar. Sementara area orang pribumi salah satu titik berada di kampong Waroedojong, tempat dimana kepala district (demang) berada. Sedangkan pemukiman orang-orang Arab yang mulai berdatangan bermukim di sekitar masjid (yang kelak disebut Kaoeman).

Mengapa Ada Bunker di Dalam Kota?

Kota Sukabumi pada masa ini terdiri dari tujuh kecamatan, yakni: Cikole, Gunung Puyuh, Warudoyong dan Citamiang. Tiga kecamatan yang lain adalah Baros, Cibeureum dan Lebursitu. Pada masa lampau wilayah tujuh kecamatan ini berada dalam satu distrik yang disebut District Goenoeng Parang. Namun  kini, nama Gunung Parang hanya ditabalkan sebatas nama kelurahan di kecamatan Cikole.

District Goenoeng Parang (Peta 1823-1829)
Ketika saya sering berkunjung ke Sukabumi (1983-1992) Kota Sukabumi hanya terdiri dari empat kecamatan, yakni: Kecamatan Sukabumi Utara, Kecamatan Sukabumi Timur, Kecamatan Sukabumi Selatan dan Kecamatan Sukabumi Barat. Dalam perkembangannya (sesuai PP No. 3 Tahun 1995) Kota Sukabumi diperluas dengan memasukkan Kecamatan Baros dan nama kecamatan lama diganti. Kecamatan Sukabumi Utara menjadi Cikole, kecamatan Sukabumi Timur menjadi Citamiang, kecamatan Sukabumi Selatan menjadi Warudoyong dan kecamatan Sukabumi Barat menjadi Gunung Puyuh. Perubahan nama ini boleh jadi untuk menghilangkan kesan redundancy (kesan ganda) karena ada nama kecamatan Sukabumi di Kabupaten Sukabumi (yang berbatasan langsung dengan keamatan Sukabumi Utara, Kota Sukabumi). Nama yang diadopsi untuk nama baru kecamatan di Kota Sukabumi ini seakan menabalkan kembali nama-nama yang muncul pertama pada masa lampau di kota Sukabumi, yakni: kampong Tjikole, kampong Tjitamiang, kampong Waroedojong dan kampong Goenoeng Poejoeh (tempat dimana benteng berada). Saya cukup kenal wilayah kelurahan Warudoyong dan kelurahan Citamiang.

District Goenoeng Parang tempo doeloe cukup luas, selain wilayah tujuh kecamatan yang kini menjadi bagian dari Kota Sukabumi, juga termasuk kecamatan Sukabumi dan kecamatan Sukaraja (yang menjadi bagian dari Kabupaten Sukabumi), Sepertin tampak pada Peta 1823-1829, District Goenoeng Parang mulai dari sungai Tjimandiri di selatan hingga gunung Gede di sebelah utara.

Kota Bogor (118,5 Km²); Kota Sukabumi (48,42 Km²)
Nama-nama kampong lainnya tempo doeloe di kota Sukabumi seperti kampong Benteng, kampong Njomplong dan kampong Dajeuhloehoer kini menjadi nama-nama kelurahan di kecamatan Warudoyong; kampong Karamat (kecamatan Gunung Puyuh), kampong Tipas (kecamatan Citamiang), kampong Tjisaroea dan kampong Sela Batoe (kecamatan Cikole). Nama-nama kampong tempo doeloe yang kini tetap sebagai nama kampong seperti kampong Kopeng dan Tjipoho.  Dalam perkembangannya sesuai Perda Nomor 15 Tahun 2000, Kecamatan Baros dimekarkan dengan membentuk Kecamatan Lembursitu dan Kecamatan Cibeureum. Nama kampong tua di Kecamatan Cibeureum adalah kampong Babakan dan kampong Limoesnoenggal. Nama Baros adalah nama kampong yang sangat terkenal tempo doeloe, suatu kompong yang berada di sisi utara sungai besar Tjimandiri yang menjadi batas District Goenoeng Parang di sebelah selatan (di sebelah utara District Goenoeng Parang berbatasan langsung dengan gunung Gede). Sebagaimana seorang pengusaha pertanian memiliki mansion di Selabatoe (E Lenne), di Baros juga terdapat mansion (rumah mewah) dari RA Eekhout , seorang pengusaha pertanian yang mengusahakan tanaman buah-buahan dan sayuran khas Eropa (untuk dijual ke Batavia).  

Pada era VOC/Belanda, District Goenoeng Parang adalah salah satu district di Regentschap (kabupaten) Tjiandjoer. Bupati (regent) berada di (kampong/kota) Tjiandjoer. Dalam perkembangannya, pada era Pemerintah Hindia Belanda (1829), District Goenoeng Parang bersama enam distrik yang lainnya (Tjimahi, Tjiheulang, Tjitjoeroek, Palaboehan Ratoe, Djampang Koelon dan Djampang Wetan) disatukan menjadi Onderafdeeling Soekaboemi dimana Controelur berkedudukan di Soekaboemi (wilayah kampong Tjikole). Onderafdeeling ini kemudian ditingkatkan menjadi Afdeeling pada tahun 1871 dengan meningkatkan status Controelur menjadi Asisten Residen plus menempatkan dua Controleur di Tjitjoeroek (District Tjitjoeroek) dan Njalindoeng (District Djampang Wetan, kemudian namanya menjadi Djampang Tengah).

Soekaboemi (1899), Sukabumi (NOW)
Pada tahun 1914 sebagian wilayah District Goenoeng Parang dibentuk menjadi Gemeente (Kota) yang dipimpin rangkap oleh Asisten Residen. Baru pada tahun 1926 Kota (Gemeente) Soekaboemi memiliki Wali Kota (Burgemeester). Wilayah Gemeente inilah yang kemudian di era Republik Indonesia menjadi empat kecamatan di Kota Sukabumi, yakni Kecamatan Sukabumi Utara, Kecamatan Sukabumi Timur, Kecamatan Sukabumi Selatan dan Kecamatan Sukabumi Barat.

Kota Sukabumi terus berkembang. Dalam usianya yang sudah mulai menua di era milenial yang sekarang, muncul penemuan suatu terowongan bawah tanah yang diduga semacam bunker pada masa lampau. Bunker ini ditemukan di kampong Kopeng, kelurahan Karamat, kecamatan Gunung Puyuh. Lantas bagaimana itu bunker ada? Untuk menjawab ini kita tentu harus kembali ke masa lampau, bahkan ketika nama Sukabumi belum ada (masih berada di Batavia).

Jalan Kopeng/Jalan Karamat (NOW)
Nama-nama kampong Kopeng, kampong Karamat dan kampong Gunung Puyuh adalah nama-nama kampong yang sudah terbilang kono di Kota Sukabumi yang seakarang. Di dekat kampong Pasir (Goenoeng) Poejoeh di era VOC/Belanda didirikan benteng (fort). Tidak jauh dari benteng ini kemudian muncul nama-nama kampong seperti kampong Karamat dan kampong Kopeng. Tiga nama kampong ini kini menjadi satu garis lurus penemuan sebuah bunker: Kampong Kopeng, Kelurahan Karamat dan Kecamatan Gunung Puyuh. Nama-nama kampong yang sejaman dengan tiga nama kompong tempo doeloe tersebut adalah kampong Benteng dan kampong Waroedojong. Nama kompong Benteng mengacu pada keberadaan benteng. Dengan demikian, keberadaan bunker ini dapat dihubungkan dengan nama-nama yang muncul pada masa lampau: Benteng, Goenoeng Poejoeh, Karamat, Kopeng dan Waroedojong.  

Anda ingin meneliti mengapa ada bunker di tengah Kota Sukabumi? Jangan lupa nama-nama kampoeng tempo doeloe: Benteng, Waroedojong, Goenoeng Poejoeh, Karamat dan Kopeng. Selamat meneliti.


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

4 komentar:

  1. Wah, kalo boleh tau ada peta Sukabumi tempo dulu ga ?

    BalasHapus
  2. Kalo boleh tau, dimana yaa saya bisa lihat peta Sukabumi tempo dulu,soalnyassoalnya penasaran sama tata kota Sukabumi yang dibuat sama Belanda. Terimakasih

    BalasHapus
  3. data konkret sebagai pertanyaan bunker Jepang yang selama ini jadi bahan kajian teman-teman di Sukabumi, melalui data ini mulai terbuka tabir misteri tentang terowongan bawah tanah yang bisa dimasuki truk Militer

    Lanjut terus bang catatan sejarah Sukabumi nya

    BalasHapus