Senin, 07 Oktober 2019

Sejarah Sukabumi (3): RA Eekhout Jr, Pengusaha Pertanian di Baros; Penggagas Jalur Kereta Api Sagaranten-Leuwiliang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Jika ada orang yang ingin merintis jalur pendek dan cepat antara Sukabumi bagian selatan dengan Bogor bagian barat, RA Eekhout Jr adalah orangnya. RA Eekhout Jr juga menggagas jalur kereta api rute kota Sukabumi dan Pelabuhan Ratu. Dengan adanya jalur kereta api yang menghubungkan berbagai tempat di wilayah Sukabumi bagian selatan, RA Eekhout Jr yakin akan bertumbuh dan berkembang lebih cepat. Pertumbuhan dan perkembangan wilayah selatan Sukabumi ini akan lebih optimal jika dihubungkan dengan wilayah-wilayah selatan gunung Salak di Bogor bagian barat. Visi konektivitas Sagaranten (Sukabumi bagian selatan) dan Leuwiliang (Bogor bagian barat) ini telah digagas dan diperjuangkan oleh RA Eekhout Jr lebih dari satu abad yang lalu.

Sagaranten, Cikembar, Parakan Salak dan Leuwiliang
Memang gagasan RA Eekhout Jr tidak terlaksana, karena banyak yang menentang dan menolak, padahal biaya pembangunan jalur kereta api Sagaranten-Leuwiliang berasal dari uangnya sendiri. Setali tiga uang, visi brilian RA Eekhout Jr di era modern sekarang juga dihadapi oleh para penggagas pemindahan ibukota Kabupaten Sukabumi ke kota Pelabuhan Ratu dan pemisahan wilayah bagian barat Kabupaten Bogor dengan pembentukan kabupaten baru Kabupaten Bogor Barat. Mengapa begitu berat memberi kesempatan wilayah selatan Sukabumi dan wilayah barat Bogor untuk berkembang? Itulah PR yang tidak pernah tuntas dikerjakan dari tempo doeloe hingga ini hari.   

Siapa sesungguhnya RA Eekhout Jr? Jika wilayah barat Bogor terdapat nama beken dari kelaurga van Motman, maka wilayah selatan Sukabumi, RA Eekhout Jr tiada duanya. RA Eekhout Jr adalah orang pertama yang sangat serius untuk mengembangkan wilayah selatan Sukabumi. RA Eekhout Jr memulainya di Baros. RA Eekhout Jr  sebelum ‘berlabuh’ di Baros adalah perwira muda angkatan laut yang mengundurkan diri dan tidak puas dengan pejabat yang korup. Sejak di Baros, RA Eekhout Jr terus mengkritisi pemerintah baik melalui tulisannya di media maupun di berbagai forum. RA Eekhout Jr  adalah ‘pahlawan’ dari Baros dalam memperjuangkan kemakmuran Sukabumi selatan. Untuk memahami RA Eekhout Jr lebih lanjut mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. 

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Keluarga Eekhout

Pada tanggal 28 Januari 1863, seorang wanita menulis berita dukacita yang dimuat dalam surat kabar di Haarlem, Belanda, Opregte Haarlemsche Courant edisi 02-02-1863. ‘Hari ini saya menyampaikan kabar duka yang menyedihkan bahwa putra saya yang terkasih, Reneke Adriaan Eekhout, yang semasih hidup sebagai anggota Lid van het Hoog Geregtshof van Neêrlandsch Indie, setelah penyakit yang diderita lama, dalam usia empat puluh tiga tahun meninggal di Batavia pada tanggal 1 Desember 1862, meninggalkan seorang janda yang sangat sedih dan empat anak yang masih kecil-kecil. Yang berduka: WAA de Marees van Swinderen, janda GW Eekhout. Groningen, 28 Januari 1863.

Saya belum pernah membaca siapa keluarga Eekhout khususnya RA Eekhout. Baru saat menulis serial Sejarah Sukabumi ini, saya menemukan petunjuk tentang keluarga Eekhout dan mencoba membacanya pada berbagai edisi surat kabar sejaman (1840-1900). Sangat menarik karena itu dibuat artikel tersendiri. Satu yang penting dari sosok anggota keluarga Eekhout adalah kiprah RA Eekhout Jr. Setelah menemukan cukup bahan, ketika menulis artikel ini saya teringat pengalaman saya pada tahun 1988 ketika masih kuliah di tingkat akhir. Dosen saya, yang juga saat itu saya menjadi asisten dosen untuk mata kuliah yang dia ampu, mengajak saya untuk berpartisipasi dalam penelitian yang ditugaskan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk memberikan rekomendasi untuk menetapkan satu dari dua kandidat yang dijadikan sebagai ibukota Kabupaten Sukabumi (Cibadak atau Pelabuhan Ratu). Kami ada empat orang yang menjadi asisten penelitian yang juga sang dosen turut aktif di lapangan, dan bekerja selama dua minggu yang dimulai di Kecamatan Cibadak dan kemudian di Kecamatan Pelabuhan Ratu dengan mengacu pada pedoman dan prosedur penelitian yang telah disusun sang dosen. Pendekatan yang dilakukan dalam studi bukan studi spasial tetapi lebih pada isinya: pendekatan sosio-ekonomi dan pendekatan ekologi manusia (sosio-budaya). Dua hari terakhir dalam penelitian lapangan ini dengan mengambil tempat di Hotel Pelabuhan Ratu hasil-hasil pengumpulan data dianalisis dan mengerucut pada satu kesimpulan awal: Pelabuhan Ratu lebih tepat menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi. Kesimpulan sementara ini terus diuji dalam rentang waktu selama dua bulan dalam berbagai diskusi dan forum di Kota Bogor (kampus) dan di Kota Sukabumi (pemda). Tentu saja saya masing ingat ketika melakukan studi mandiri di Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor pada tahun 1989. Hasil penelitian ini saya presentasikan sebagai skripsi dan lulus mendapat gelar sarjana. Seperti kita ketahui pada masa ini, ibukota Kabupaten Sukabumi telah dipindahkan secara dejure ke kota Pelabuhan Ratu sejak 1998 (sepuluh tahun sejak saya ikut berpartisipasi dalam penelitian tersebut). Kecamatan Cigudeg pada masa ini diadikan sebagai kandidat kabupaten baru Kabupaten Bogor Barat.    

Berita duka sang ibu tersebut sangat menyentuh. Berita yang diterima oleh sang ibu setelah hampir dua bulan sang anak meninggal. Hal ini karena jalur pelayaran dari Batavia ke Amsterdam masih melalui Afrika Selatan (terusan Suez baru dibuka tahun1869). Kesedihan sang ibu semakin menjadi-jadi, karena sang suami belum lama meninggal (Gerrit Willem Eekhout meninggal di Groningen pada tanggal 6 Meiy 1862). Sang anak yang meninggal sebagai pejabat di Hindia Belanda dalam posisi puncak sebagai ambtenaar kelas satu (setara eselon satu). Sementara sang cucu yang ditinggalkan masih kecil-kecil.

Reneke Adriaan Eekhout, seorang sarjana (Mr) lahir tahun 1819. Menikah dengan Sara Maria Louisa de Waal (lahir 21 Mei 1824) pada tanggal 3 Agustus 1850 di Groningen. Empat anak mereka dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Anak laki-laki yang tertua diberi nama sesuai nama sang ayah Gerrit Willem Eekhout (kakek) dan anak laki-laki kedua diberi nama sesuai dengan namanya: Reneke Adriaan Eekhout Jr. Pada saat Reneke Adriaan Eekhout meninggal (1862) usia Sara Maria Louisa de Waal sudah 38 tahun dan anak yang sulung (perempuan) diduga berumur 11 tahun.    

Sara Maria Louisa de Waal membawa anak-anaknya ke Belanda. Pada tahun 1872 Gerrit Willem Eekhout dinyatakan lulus Hoogere Burgeschool di di Leiden (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 07-08-1872). GW Eekhout kemudian diterima di sekolah teknik Polytechnische school te Delft. Tidak ada kesulitan, GW Eekhout berhasil lulus tepat waktu dengan mendapat gelar diploma voor technoloog (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 06-07-1876). Setelah mendapat gelar diploma teknolog, GW Eekhout (seorang Indo, lahir di Hindia Belanda) mendaftar untuk pemdidikan ambtenaar. GW Eekhout termasuk yang dinyatakan lulus pada tahun 1877 (lihat Algemeen Handelsblad, 17-07-1877). Dalam daftar yang lulus ini terdapat nama-nama van Heutsz, Poortman dan Rambonnet.

Pada tahun GW Eekhout lulus menjadi pejabat yang dikirim ke Hindia Belanda, adiknya, Reneke Adriaan Eekhout Jr dinyatakan lulus sebagai perwira tingkat satu di Akademi Angkatan Laut Koninklijk Instituut voor de Marine te Willemsoord (lihat Arnhemsche courant, 13-08-1877). RA Eekhout ditempatkan di kapal perang Zr. Ms. schroefstoomscliip Leeuwarden (lihat Nederlandsche staatscourant, 20-10-1877).   

GW Eekhout diangkat sebagai aspirant Controleur (wakil Controleur) yang ditempatkan di wilayaj Java en Madoera (lihat Algemeen Handelsblad, 20-12-1877). Sebagai aspirant Controleur, GW Eekhout tahun 1880 diangkat menjadi anggota komisi sekolah di Bezoeki (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-08-1880). Setelah beberapa tahun kemudian diketahui GW Eekhout dipromosikan menjadi Komisi tingkat dua di Algemeene Secretarie di Batavia (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 08-02-1881). Saat GW Eekhout dipromosikan ke Batavia, sang adik RA Eekhout justru mengundurkan diri dari angkatan laut.

Sementara itu, kapal RA Eekhout tidak diketahui dimana beroperasi apakah di Belanda, di Hindia Belanda, di Suriname atau di wilayah koloni lainnya. Tapi besar dugaaan RA Eekhout ditempatkan di tempat kelahirannya di Hindia Belanda. Pada tahun 1879 RA Eekhout mendapat kenaikan pangkat menjadi perwira kelas dua (lihat Algemeen Handelsblad, 06-11-1879). Setahun setelah kenaikan pangkat RA Eekhout berangkat ke Belanda (lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 09-11-1880). Beberapa bulan setelah RA Eekhout di Belanda diberitakan telah meminta dan dikabulkan mengundurkan diri dengan hromat dari angkatan laut (lihat Algemeen Handelsblad, 14-03-1881).

Sara Maria Louisa de Waal dikabarkan meninggal dunia di Den Haag tahun 1882 (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 02-06-1882). RA Eekhout setelah mengundurkan diri dari angkatan laut, sejak Juli 1881 diketahui sudah berada di Hindia Belanda. Tampaknya RA Eekhout dan GW Eekhout tidak berada di Den Haag ketika ibu mereka meninggal. Hanya surat dan berita duka di surat kabar yang mengabarkan kematian sang  ibu (setelah satu setengah bulan kemudian, lamanya jarak tempuh pelayaran via terusan Zuez).

RA Eekhout dan GW Eekhout di Hindia Belanda menulis kabar duka atas meninggalnya ibu mereka di Den Haag (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-06-1882). Berita duka ini diumumkan agar kerabat dan teman Sara Maria Louisa de Waal mengetahuinya.   

RA Eekhout di Baros dan GW Eekhout di Njalindoeng, Soekaboemi

Keberadaan RA Eekhout di Baros, Soekaboemi paling tidak pada tahun 1882 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-08-1882). Sebuah lahan di Baros telah disewa dari pemerintah oleh seorang Eropa/Belanda untuk pertanian. RA Eekhout di Baros bertindak sendiri sebagai Administrateur. Apakah ketertarikan RA Eekhout bekerja sebagai swasta menjadi alasan dirinya mengundurkan diri dari angkatan laut? Tampaknya tidak, tetapi lebih pada rasa cinta tanah air (sebagai Indo yang lahir di Hindia Belanda).

RA Eekhout adalah seorang yang cerdas. RA Eekhout kerap mengirim tulisan ke surat kabar mengkritisi para pejabat pemerintah. RA Eekhout sangat mengkhawatirkan perilaku pejabat pemerintah yang dapat membahayakan negara (eksistensi negara bagian Hindia Belanda). RA Eekhout, yang seorang Indo (lahir di Hindia) rasa nasionalisnya mulai muncul. RA Eekhout tampaknya ingin berpatisipasi aktif dalam pembangunan. RA Eekhout sangat sinis terhadap perilaku korup dari para pejabat (yang cenderung kurang memperhatikan penduduk) dan hanya mementingkan sendiri (menumpuk kekayaan). RA Eekhout bersama dengan teman-temannya di bidang pertanian mulai menkritisi peraturan perundang-undangan yang berlaku terutama yang terkait dengan pengabaian hak-hak para planter (lihat De locomotief, 17-09-1883).    

Dalam perkembangannya, RA Eekhout telah menguasai lahan pertanian di Baros. Juga diketahui GW Eekhout telah mengundurkan diri sebagai pejabat pemerintah. GW Eekhout kemudian diketahui telah membuka lahan di Djampang Tengah. GW Eekhout bertindak sebagai administrateur perusahaan kini (kinaonderneming) di Pasir Telagar Waarna (Njalindoeng).

Mengapa GW Eekhout mengundurkan diri sebagai pejabat? Kasusnya sama dengan adiknya RA Eekhout yang mengundurkan diri dari angkatan laut. GW Eekhout tidak puas dengan kebijakan dan para pejabat pemerintah yang cenderung korup.

RA Eekhout sendiri di Baros telah mengembangkan pertanian buah-buahan dan sayur-sayuran khas Eropa di Baros (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-12-1883). Usaha pertanian di Baros ini dikenal dengan nama Onderneming Soeka Brenti dengan mengkhusukan produk Eropa (specialiteit van Europeesche groenten).

Produk sayuran antara lain Salade met dragon, pimpernel en prei, wortelen met peterselie,tainboonen, peuleu en doperwten met boonenkruid. Selain sayur-sayuran juga memproduksi tanaman lain seperti strowberry. Pemesanan berlangganan dapat dilakukan ke Onderneming Soeka Brenti di Baros dalam berbagai partai. Kebutuhan hotel dan societeit mendapatkan harga khusus. Pemetikan dilakukan pada hari pengiriman melalui kereta api hari Selasa ke Batavia dan Buitenzorg. Untuk pemesan di luar langganan dikenakan biaya pengiriman. Produk sayuran dari Baros ini sangat berkualitas. Ini dapat dilihat dari prestasi kebun milik RA Eekhout dalam suatu kompetisi (nasional) di Buitenzorg mendapat mendali perak dan medali perunggu (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-09-1883). Untuk medali emas dimenangkan oleh perusahaan pertanian di land Tjiomas (administrateur van Sturler).

Pada tahun 1884 RA Eekhout di Baros diberitakan telah menyewa lahan kosong di District Djampang Tengah (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad,   07-03-1884). Disebutkan luas lahan yang disewa ini seluas 150 bau terletak  di distrivt Djampang Tengah, Soekaboemi, Residentie Preanger Regenschappen. Jumlah sewa tahunan adalah f 2 per bau dan f1.5 jika belum digunakan. Setiap pembayaran harus dibuktikan dengan pernyataan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah setempat.

RA Eekshout juga berinisiatif untuk membangun kabel koneksi telepon dari perusahaannya di Baros terhubungan dengan rumah sakit militer yang tengah dibangun di Soekaboemi (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-03-1884). Permohonan RA Eekhout ini telah disetujui oleh Direktur Pekerjaan Umum Sipil, tetapi dengan syarat hanya dapat digunakan untuk penggunaan pribadi. Informasi ini menjelaskan untuk kali pertama jaringan telepon dihubungkan ke Soekaboemi. Layanan koneksi yang sudah ada selama ini adalah telegraf.

Pada tahun 1887 muncul satu petisi dari 726 landeigenaars, administrateurs, fabrikanten, handelaars en particulieren yang menginginkan pemisahan tanah air (moederland) dan koloni dan membentuk pemerintahan sendiri dengan dasar yang kira-kira sama dengan yang menjadi dasar organisasi negara Inggris-India (lihat Algemeen Handelsblad, 30-06-1887).

Dalam daftar orang yang menandatangani petisi ini termasuk GW Eekhout dan RA Eekhout. Dalam daftar ini juga termasuk Dr. L Weissm dokter swasta di Soekaboemi. Boleh jadi karena kaitan tersebut dua bersaudara ini kerap menyampaikan kritik melalui media.

Pada tahun 1888 GW Eekhout dikabarkan meninggal dunia (lihat Bataviaasch handelsblad, 20-11-1888). Berita dukacita ini dibuat oleh RA Eekhout. GW Eekhout meninggal di Soekaboemi pada tanggal 4 November, 1888. Dua tulisan berupa inmemorium  tentang GW Eekhout ini dimuat dalam De ingenieur; Orgaan der Vereeniging van Burgerlijke Ingenieurs jrg 3, 1888, no 46, 17-11-1888. Ini mengindikasikan bahwa GW Eekhout adalah seorang yang sangat populer dan memiliki banyak prestasi.

Satu diantara dua tulisan tersebut ditulis oleh di Deventer, 10 November 1888 oleh RA van Sandick. Sebagaimana diketahui van Sandick adalah seorang arsitek terkenal dan dosen di Universitas Teknik di Delft. RA van Sandick menyebut WG Eekhout adalah mahasiswa cerdas dan lulus dengan predikat cum laude, Pada tahun terakhir GW Eekhout adalaj ketua dewan mahasiswa. RA van Sandick juga menyebut bahwa GW Eekhout dalam satu tahun pendidikan pejabat Hindia Belanda mendapat prestasi rangking pertama. Setelah mengundurkan diri dari pejabat, van Sandick juga menyebut GW Eekhout membuka usaha pertanian di Pasir Telaga Warna sangat mengagumkan. Dia harus menghadapi banyak kesulitan. Perusahaan itu terletak di daerah berpenduduk sedikit, sehingga harus berjuang dengan kekurangan orang yang bekerja; Pekerja Jawa didatangkan dari Jawa Tengah dengan pembayaran uang muka yang tinggi. Kemudian usaha Eekhout ditingkatkan menjadi sebuah perseroan terbatas (naamlooze vennootschap, NV) di bawah manajemen Eekhout sendiri. Usaha ini tidak hanya kina, tetapi juga teh dan kopi ditanam agar tidak bergantung pada satu budidaya. Van Sandick juga mengutip salah satu kalimat dari tulisan GW Eekhout: ‘Angin sepoi-sepoi bertiup di Hindia saat ini, orang-orang harus mengetahui kekuatan mereka dengan lebih baik, Saya memiliki keyakinan di masa depan’. Eekhout yang berkali-kali di Hindia menggunakan pena untuk melawan penyalahgunaan. Artikel-artikelnya di "Lokomotif" dan majalah Hindia lainnya, prestasinya yang luar biasa sebagai Sekretaris Asosiasi Administrator Perusahaan Pertanian di Sukabumi, yang laporan tahunannya juga secara umum menarik perhatian di Belanda; kontribusinya pada Jurnal Industri dan Pertanian Hindia; mereka semua sangat banyak menyaksikan bakat dan tenaga kerjanya. Orang-orang seperti dia, yang tulus ikhlas dan mau menerima tantangan, marah karena ketidakadilan yang dilakukan pemerintah, pendapat yang jarang terjadi dalam masyarakat Hindia yang sinis. GW Eekhout menganggap tempat ia dilahirkan dan yang ia cintai sebagai negara asalnya dan dia memandang perlu untuk membuat pemerintahan yang baru di Hindia (baca: pemisahan dengan Kerajaan Belanda). Dia memiliki pengaruh dan akan diperhitungkan di dalam sejarah dan namanya akan tetap abadi. Eekhout telah menyerahkan dirinya sepenuhnya ke Hindia, demikian RA van Sandick mengakhiri tulisan memorinya.

Gagasan Brilian RA Eekhout: Bapak Pembangunan Sukabumi Selatan

Ada keluarga van Motman di Bogor Barat, ada keluarga Eekhout di Sukabumi Selatan. Di Preanger tidak hanya nama keluarga Holle tetapi juga ada nama keluarga. Adalah RA Eekhout yang membuka usaha pertanian di Baros pada tahun 1882. Boleh jadi ini Baros dipilih karena harga lahan yang masih rendah dan juga sehubungan dengan dibukanya jalur kereta api Buitenzorg-Soekaboemi pada tahun 1882. RA Eekhout memulai usaha dengan mengusahakan tanaman sayur-sayuran khas Eropa.

Dalam tempo singkat, pada tahun 1883 hasil-hasil usaha pertanian RA Eekhout diiukutkan dalam kompetisi hasil pertanian secara nasional di yang diadakan di Buitenzorg. Produk RA Eekhout mendapat dua medali (perak dan perunggu). Nama RA Eekhout dan juga nama Baros segera menjadi perhatian para planter khususnya planter Preanger. Dengan label produk pemenang kompetisi medali perak dan medali perunggu RA Eekhout segera mendapat respon pembeli di Batavia. Pembelinya sudah tentu orang Eropa/Belanda, tetapi tidak sedikit produknya yang dipasok ke hotel-hotel dan societeit di berbagai kota. Saya pernah ke Baros sekali pada tahun 1883, saat itu, paling tidak, suasananya di Baros tenang. Artikel ini menjadi memori saya ketika ikut mengantarkan almarhum paman saya ke pemakaman di tempat pekuburan umum di jalan Baros pada tahun 1992.

Ibarat musik, RA Eekhout telah memainkan intro yang langsung menarik perhatian, merdu dan menyenangkan. Keputusannya yang mengundurkan diri sebagai perwira muda angkatan laut tahun 1881 tampaknya telah langsung berbalas dengan adanya tanda-tanda mulai terbentuknya prospek. RA Eekhout yang seorang Indo (lahir di Hindia) mulai merasakan bagaimana rasanya bertanah air (suatu perasaan yang berbeda ketika menjadi perwira angkatan laut Kerajaan Belanda). RA Eekhout sangat merasakan Hindia (Belanda) adalah tanah airnya, tempat dimana ia dilahirkan, tempat dimana ayahnya dimakamkan. Patriotisme bernegara RA Eekhout mulai merasuki jiwanya di Baros.

Di landhuisnya di Baros di pinggir sungai Tjimandiri bebas berenang kapan saja setelah seharian bekerja di lahannya bersama para pekerjanya. Pada malam hari RA Eekhout tetap tekun membaca, tidak hanya membaca buku-buku budidaya pertanian tetapi juga buku-buku lainya tentang politik. Jauh dari Batavia di tempat sunyi yang dianggap nya sorga di Baros mulai mengirim tulisan-tulisannya di berbagai media baik yang terbit di Hindia maupun di Belanda. Tulisannya sangat kritis dan kerap mengkritisi pejabat pemerintah yang korup dan cenderung tidak adilnya isi aturan perundang-undangan yang berlaku di Hindia.

Dua tahun setelah RA Eekhout membuka lahan di Baros, pada tahun 1884 sanga abang GW Eekhout membuka lahan baru di Djampang Tengah (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-03-1884). Seakan mengikuti langkah adiknya, insinyur teknik sipil alumni Delft, GW Eekhout juga ‘mencampakkan’ posisinya sebagai pejabat muda cermerlang di Batavia dan mulai ikut terjun bertanah air. GW Eekhout membangun landhuis di dekat danau Telaga Warna di Njalindoeng. Seperti adiknya di Baros, GW Eekhout juga aktif menulis di media dan aktif mengikuti berbagai forum. GW Eekhout juga mengkritiasi birokrasi yang korup.

Masih pada tahun yang sama, pada tahun 1884 Ir. GW Eekhout mempelopori dan mengajak para planter tergabung dalam asosisasi planter Soekaboemi dimana GW Eekhout duduk sebagai sekretaris. Asosiasi inilah yang kemudian menjadi penggerak societeit yang didirikan di Soekaboemi yang diberi nama Societeit Soekamanah. Namanya berbau pribumi, yang dalam bahasa Sunda diartikan sebagai jiwa/hati yang gembira. Penamaan societeit berbau pribumi tidak lazim, dan umumnya berbau Belanda seperti Harmonie, Concordia dan sebagainya. Societeit adalah klub sosial tempat berkumpul tempat dimana diadakan hiburan, pertemuan-pertemuan yang tentu saja pertemuan para anggota asosiasi-asosiasi (olahraga, seni, pertanian dan sebagainya) untuk membicarakan banyak hal termasuk membicarakan politik. 

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

2 komentar:

  1. Interesting story! I had been looking for information on R.A. van Eeekhout, to find out who was the owner of the Wijnkoopsbaai Exploratie Maatschappij.

    BalasHapus
  2. wah sangat menarik, dan ditunggu tulisan berikutnya

    saya tinggal di sukabumi dan dekat ke baros, sekitar 1 km dari pemakaman belanda, dan sedang mencari data tentang wilayah sekitar.

    artikel yang bagus berdasarkan catatan yang dapat dipertanggungjawabkan

    BalasHapus