Senin, 20 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (304): Siapa Saja Pahlawan Nasional Sebenarnya? Apakah Prosedur, Syarat dan Kriteria Sudah Tepat?

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Gelar pahlawan pada masa ini, apalagi gelar Pahlawan Nasional menjadi suatu kebanggaan. Namun nilai kebanggaan itu menjadi hambar ketika ada pihak yang menggugatnya. Syarat dan kriteria seharusnya sangat jelas untuk menghindari kemungkinan adanya gugatan. Dalam hal ini munculnya gugatan karena sejumlah butir persyaratan dan kriteria tidak jelas (abu-abu)..

Persyaratan pertama adalah ‘WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI’. Kata ‘atau’ mengindikasikan sebelum dan sesuah ada Negara Indonesia (1945). Kata WNI berarti setelah terbentuk negara Indonesia. Sedangkan sebelum terbentuk negara RI, adalah seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI yang dapat diartikal di pulau Sumatra, pulau Jawa, Kalimantan (minis Borneo Utara), pulau Sulawesi dan wilayah lainnya. Jika syarat ini yang dipakai maka orang Eropa/Belanda juga dapat dimasukkan, asal mereka berjuang di wilayah NKRI yang sekarang. Mengapa? Karena orang Eropa/Beland juga ada yang memenuhi syarat kedua (memiliki integritas moral dan keteladanan). Persyaratan ketiga (berjasa terhadap bangsa dan negara) membuat tidak jelas persyaratan pertama. Kata ‘dan’ dalam syarat ketiga ini harus berjasa terhadap negara, padahal sebelum 1945 belum ada negara. Persoalan juga ditemukan pada prosedur. Dalam prosedur, tahap pertama dinyatakan: ‘masyarakat mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan kepada Bupati/Walikota setempat. Bupati/Walikota mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan kepada Gubernur, melalui instansi Sosial Provinsi setempat’ lalu diikuti tahap berikunya: ‘Instansi Sosial Provinsi menyerahkan usulan Calon Pahlawan Nasional yang bersangkutan tersebut kepada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk diadakan penelitian dan pengkajian (melalui Proses seminar, Diskusi maupun Sarasehan). Dalam hal ini siapa yang dimaksud ‘masyarakat yang mengajukan’? Apakah individu, keluarga, organisasi dan sebagainya? Pertanyaan yang muncul adalah apakah ‘masyarakat’ itu mengetahuinya semua rekam jejak orang yang diusulkan? Usulan ini bisa lolos pada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) tetapi tersandung pada Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Dalam hal ini yang diteliti, dikaji dan dibahas TP2GP adalah yang diusulkan oleh ‘masyarakat’. Artinya TP2GP fungsinya hanya sebagai penjaga gawang. Oleh karena itu Pahlawan Nasional kita hanya tergantung pada usulan masyarakat. Apakah diperlukan lembaga baru yang tugasnya mendaftar, menyelidiki, dan mempersiapkan usulan calon Pahlawan Nasional?

Lantas bagaimana negara (pemerintah) seharusnya mandaftarkan dan meneliti lebih baik daftar Pahlawan Indonesia yang diusulkan dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional? Seperti disebut di atas, prosedur, syarat dan kriteria masih terkesan tidak mencerminkan arti ketepatan dan ketelitian siapa yang seharunya menjadi Pahlawan Nasional. Lantas mengapa pendaftaran dan penelitian calon Pahlawan Nasional dipertanyakan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 19 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (274): Pahlawan Indonesia Mangaradja Soangkoepon; Macan Volksraad Bela Orang Madura di Belanda

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Siapa Mangaradja Soangkoepon? Mungkin banyak yang tidak mengetahui. Sebab di Wikipedia tidak ada laman nama Mangaradja Soangkoepon. Padahal pada era Pemerintah Hindia Belanda namanya sangat dikenal. Nama kecilnya adalah Abdoel Firman, anggota Volksraad terlama, berasal dari dapil province Oost Sumatra selama empat periode berturut-turut (1924-1942). Mangaradja Soangkoepon sejatinya adalah ‘macan’ Pedjambon, anggota Volksraad paling vokal. Sejarah Abdul Firman sendiri dimulai di Medan. Setelah lulus ELS Medan pada tahun 1910, Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon melanjutkan studi ke Belanda.

Abdul Firman tiba-tiba menjadi terkenal di Negeri Belanda karena namanya diberitakan di koran-koran yang terbit sekitar Maret 1912. Apa pasal? Dua imigran dari Madura terlibat perkelahian dengan sesama imigran dari Jawa (Oost Java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung, karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda. Untuk mencari penerjemah sekaligus untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata tidak mudah. Dari sejumlah mahasiswa yang ada hanya Abdul Firman yang bersedia dan sukarela (tanpa paksaan). Dari namanya memang pantas tetapi ternyata juga Abdul Firman adalah orang yang alim. Karenanya masyarakat Belanda menganggap Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon adalah pemimpin (imam) Islam dari para imigran dari Indonesia (Hindia Belanda). Abdul Firman tidak keberatan. Di dalam pengadian tersebut Abdul Firman membela terdakwa untuk dikurangi tuntutan djaksa. Dan, memang berhasil.

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia Mangaradja Soangkoepon? Seperti disebut di atas, nama Mangaradja Soangkoepon tidak disebut di Wikipedia, maka untuk perlu ditulis sejarah Mangaradja Soangkoepon. Sebab sejarah adalah sejarah. Sejarah adalah narasi fakta dan data. Di dalam Wikipedia banyak narasi sejarah tidak berdasarkan fakta dan data. Lalu bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia Mangaradja Soangkoepon? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (303): Pahlawan Nasional Dr Sam Ratulangi Asal Minahasa; Indische Vereeniging dan Nama Indonesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Nama Sam Ratulangi sangat terkenal, khususnya di Sulawesi Utara. Tidak hanya nama jalan, juga nama universitas dan bandara. Sam Ratulangi adalah pahlawan Indonesia yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional, Tentulah sejarah Sam Ratulangi telah ditulis, namun tentu saja masih perlu dilengkapi.

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi (5 November 1890 – 30 Juni 1949) atau Sam Ratulangi adalah seorang Pahlawan Nasional. Ratulangi termasuk anggota PPKI dan menjadi Gubernur Sulawesi pertama. Sam Ratulangi lahir di Tondano, putra Jozias Ratulangi, seorang guru di Hoofden School di Tondano, menerima pelatihan guru di Haarlem, Belanda tahun 1880. Setelah lulus ELS melanjutkannya di Hoofden School, Pada tahun 1904 melanjutkan studi di sekolah teknik KWS Batavia, lulus tahun 1908 dan bekerja pada konstruksi rel kereta api di Priangan selatan. Pada tahun 1911, Ratulangi kembali ke Minahasa, karena ibunya sakit parah. Ibunya meninggal pada tanggal 19 November 1911. Ayahnya sudah meninggal waktu ia berada di Jawa. Ratulangi kemudian melanjutkan pendidikan di Belanda dan tiba di Amsterdam tahun 1912. Pada tahun 1913 mendapat akta mengajar matematika (Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek). Ratulangi melanjutkan studinya di universitas Amsterdam selama dua tahun lagi. Namun tidak dapat menyelesaikan studinya. Karena aturan universitas mengharuskan lulus sekolah HBS atau AMS. Ratulangi mendaftarkan di Universitas Zurich. Pada tahun 1919 memperoleh gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam. Ratulangi juga aktif di dalam organisasi Indische Vereeniging dan terpilih sebagai ketua tahun 1914. Di Swiss, aktif di Asosiasi Mahasiswa Asia (Associations d'étudiants asiatiques). Ratulangi juga aktif menulis. Salah satu artikel berjudul Sarekat Islam diterbitkan di Onze Kolonien (1913), isinya tentang pertumbuhan koperasi pedagang lokal Sarekat Islam dan juga memuji gerakan Boedi Oetomo. Kembali ke tanah air tahun 1919 dan mengajar matematika dan sains di sekolah teknik Prinses Juliana School di Yogjakarta. Setelah tiga tahun pindah ke Bandung dan memulai perusahaan asuransi Assurantie Maatschappij Indonesia dengan Roland Tumbelaka, seorang dokter. Ini adalah contoh pertama yang diketahui dari kata ‘Indonesia’ yang digunakan dalam dokumen resmi. (Wikipedia).:

Lantas bagaimana sejarah Sam Ratulangi? Seperti disebut di atas, Sam Ratulangi adalah salah satu pahlawan Indonesia yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional. Lalu bagaimana sejarah Sam Ratulangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 18 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (302): Pahlawan Indonesia AE Kawilarang dari Minahasa; KNIL dan Republik Maluku Selatan (RMS)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

AE Kawilarang adalah pahlawan Indonesia. Mengapa disebut begitu? AE Kawilarang ikut aktif berjuang selama perang kemerdekaan Indonesia. Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda kedua (1948) Major Jenderal Abdoel Haris Nasution, komandan Divisi Siliwangi (Jawa Barat) meminta teman lamanya Kolonel AE Kawilarang (komandan Bogor) untuk mendukung TNI di kampong halamannya di Tapanuli Selatan. Kolonel AE Kawilarang mengajak Major Ibrahim Adji (komandan Depok). Keduanya memiliki karir yang bagus di wilayah pertahanan (Divisi II/ BB Sumatra Utara).

Kolonel Alexander Evert Kawilarang (23 Februari 1920 – 6 Juni 2000) adalah seorang perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) masa Revolusi Nasional Indonesia dan mantan anggota KNIL. Pada tahun 1958 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai atase militer di Amerika Serikat untuk bergabung dengan pemberontakan Permesta. Keterlibatannya dalam Permesta menghentikan karier militernya dengan TNI, tetapi ia tetap populer dan aktif dalam komunitas angkatan bersenjata sampai masa tuanya. Kawilarang lahir di Meester Cornelis (Jatinegara) tanggal 23 Februari 1920. Ia lahir dari sebuah keluarga militer. Ayahnya, Alexander Herman Hermanus Kawilarang, adalah seorang mayor KNIL. Ibunya adalah Nelly Betsy Mogot. Kedua orang tuanya berasal dari Remboken, Minahasa di Sulawesi Utara. Dia juga merupakan sepupu dari Daan Mogot, direktur Akademi Militer Tangerang. Kawilarang mengikuti pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Tjandi, Semarang dan Tjimahi dan melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS Bandung. Kawilarang mengikuti pendidikan militer, di Korps Pendidikan Perwira Cadangan KNIL (Corps Opleiding Reserve Officeren, CORO) pada tahun 1940, yang dilanjutkannya ke Akademi Militer Kerajaan (Koninklijk Militaire Academie) darurat di Bandung dan Garut 1940 sampai 1942. Teman-teman sekelasnya termasuk AH Nasution dan TB Simatupang. Setelah lulus, Kawilarang ditempatkan di Magelang sebagai komandan peleton dan kemudian ditugaskan kembali ke Bandung sebagai instruktur (Wikipedia).:

Lantas bagaimana sejarah AE Kawilarang? Seperti disebut di atas, AE Kawilarang pernah bersama dengan Abdoel Haris Nasution dan TB Simatoepang di Akademi Militer di Bandeng semasa Pemerintah Hindia Belanda? Lalu mengapa mengundurkan diri dari TNI? Apakah karena Permesta? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.