Senin, 03 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (332): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Duo Abdoel Moeis di Samarinda; Republik Indonesia Serikat

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Di Samarinda tempo doeloe ada dua tokoh yang sama-sama menggunakan nama Abdoel Moeis yakni Inche Abdoel Moeis dan Abdoel Moeis Hassan. Namun untuk urusan politik dan perjuangan keduanya memiliki sikap yang berbeda. Inche Abdoel Moeis cenderung pro negara federal (Belanda/NICA) sementara Abdoel Moeis Hassan cenderung pro Republik (NKRI). Yang jelas keduanya sama-sama memperjuangkan kepentingan masyarakat Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda.

Inche Abdoel Moeis disingkat IA Moeis (lahir di Samarinda, 2 Agustus 1920-meninggal di Jakarta, 1978) adalah Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Timur, yang menjabat selama kurang dari tiga bulan pada 3 Maret s.d. 27 Mei 1959. IA Moeis bukan gubernur karena pada saat bersamaan ada posisi gubernur yang dijabat oleh APT Pranoto. Tahun 1943-1945 mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Jepang.    Tahun 1946-1948 menjadi pengurus Ikatan Nasional Indonesia Cabang Samarinda.    Tahun 1947 ditunjuk sebagai Ketua Front Nasional tapi tidak lama kemudian diberhentikan karena sikapnya yang mendukung pembentukan Negara Federal Kalimantan oleh Van Mook. Kedudukan Ketua Front Nasional kemudian digantikan oleh pejuang Republiken Samarinda Abdoel Moeis Hassan. Abdoel Moeis Hassan (2 Juni 1924-21 November 2005) adalah seorang tokoh pemuda pergerakan kebangsaan di Samarinda pada masa 1940–1945 dan pemimpin perjuangan diplomasi politik untuk kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Kalimantan Timur pada masa 1945–1949. Pada tahun 1940, ia mendirikan Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) dan menjadi ketuanya. Bersama AM Sangadji, ia mendirikan lembaga pendidikan bernama Balai Pengadjaran dan Pendidikan Ra'jat pada tahun 1942. Ia bergabung dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI) untuk mewujudkan Proklamasi Negara Indonesia di Samarinda tahun 1945 dan mendirikan Ikatan Nasional Indonesia (INI) Cabang Samarinda yang bertujuan menentang pendudukan Belanda di Samarinda setahun setelahnya. Tahun 1947 ia menjadi ketua Front Nasional sebagai koalisi organisasi yang mendukung RI dan menentang federasi yang dibentuk Belanda.

Lantas bagaimana sejarah Inche Abdoel Moeis dan Abdoel Moeis Hassan di Samarinda? Seperti disebut di atas, keduanya memiliki sikap politik yang berbeda untuk memperjuangkan masyarakat Kalimantan Timur. Lalu bagamaina sejarah Ince Abdoel Moeis dan bagaimana pula sejarah Abdoel Moeis Hassan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 02 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (331): Pahlawan-Pahlawan Indonesia Sylvanus Bersaudara di Jantung Borneo (Dayak); Doris dan Reinout

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Orang Dayak, khususnya di Kalimantan Tengah hanya mengenal sejarah Ir Reinout Sylvanus. Orang Kalimantan Tengah mungkin tidak mengenal sejarah Dr Doris Sylvanus. Okelah. Hal itu tidak akan mengubah fakta. Dr Doris Sylvanus mungkin dikenal sebagai nama rumah sakit di Palangka Raya. Siapa Dr Doris Sylvanus? Dokter Dorus Sylvanus adalah serjana pertama orang Dayak, berasal dari Jantung Borneo di Kalimantan Tengah.

Reinout Sylvanus (17 April 1928-25 Februari 2019) adalah Gubernur kedua provinsi Kalimantan Tengah menggantikan Tjilik Riwut. Pada tahun 1946, ia telah meninggalkan bangku sekolahnya demi mempertahankan wilayah Republik Indonesia. Namun akhirnya pada tahun 1957 ia mampu menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik kimia Institut Teknologi Bandung. Ia mengawali karier sebagai asisten ahli/dosen ITB Bandung pada tahun 1956-1958. Pada tahun 1958-1961 ia menjabat sebagai wakil direktur pabrik kina Bandung (Bhineka Kina Farma). Pada tahun 1961-1967, Ia menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Tengah dan pada tahun 1967-1978 sebagai Gubernur Kalimantan Tengah. Pada Tahun 1978-1982 sebagai Pejabat Kantor Pusat Departemen Dalam Negeri dan pada tahun 1963-1967 terpilih sebagai Wakil Ketua Presidium Universitas Palangka Raya. Pada tahun 1967-1978 sebagai Ketua Presidium Universitas Palangka Raya. Tahun 1978 Sebagai Anggota Dewan Penyantun Universitas Palangka Raya. Pada tahun 1982 ia diangkat sebagai Anggota DPR/MPR RI. Ia berasal dari Suku Dayak Ngaju-Ot Danum dan merupakan keturunan dari Damang Batu tokoh yang mempersatukan seluruh suku Dayak di Kalimantan dalam rapat besar Tumbang Anoi  (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Dr Doris Syvanus dan Ir Reinout Sylvanus? Seperti disebut di atas, Dr Doris Sylvanus adalah sarjana pertana orang Dayak dan Ir Reinout Sylvanus sarjana dari jantung Borneo yang menjadu gubernur Kalimantan Tengah. Dari nama belakang (marga) kedua sarjana bersaudara. Lalu bagimana sejarah dua sarjana pertama orang Dayak? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (330): Pahlawan Nasional Tjilik Riwut di Jantung Borneo; Tentara Indonesia Jadi Gubernur Kalimantan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Tjilik Riwut adalah pahlawan Indonesia yang telah ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional. Tjilik Riwut dapat dikatakan salah satu tokoh orang Dayak terpenting. Sebagai seorang tentara, Tjilik Riwut sebagai putra daerah aktif berjuang untuk wilayah Dayak Besar (Kalimantan Tengah). Tjilik Riwut adalah orang Dayak pertama menjadi gubernur (Gubernur Kalimantan Tengah). Namanya telah ditabalkan sebagai nama bandara di Palangka Raya (ibu kota provinsi Kalimantan Tengah).

Anakletus Tjilik Riwut (2 Februari 1918-17 Agustus 1987) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia dan Gubernur Kalimantan Tengah kedua. Tjilik Riwut dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai ‘orang hutan’ karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah seorang pencinta alam yang juga menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia, ia tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki serta menaiki perahu dan rakit. Dia menamatkan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Selanjutnya dia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Perawat di Purwakarta dan Bandung. Tjilik Riwut adalah salah satu putra Dayak dari Suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP. Setelah selesai menuntut ilmu di Jawa, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan oleh Pangeran Muhammad Noor, Gubernur Borneo saat itu sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk. Rombongan-rombongan ekspedisi ke Kalimantan dari Jawa kemudian membentuk barisan perjuangan di daerah yang sangat luas. Mereka menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan persepsi rakyat yang selama ini hidup di bawah penjajahan sehingga bersama-sama dapat menggalang persatuan dan kesatuan. Selain itu, Tjilik Riwut berjasa memimpin pasukan MN 1001 yang berhasil melaksanakan operasi penerjunan pasukan payung pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947, yang seterusnya ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU. Waktu itu, pemerintah RI masih berada di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI.  (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Nasional Tjilik Riwut? Seperti disebut di atas, Tjilik Riwut  adalah seorang tentara, namun memiliki banyak kemampuan hingga mengantarkannya menjadi Gubenur orang Dayak pertama di Kaliamantan (Kalimantan Tengah). Lalu bagaiman sejarah Tjilik Riwut? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.