Senin, 07 Februari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (403): Pahlawan Indonesia dan Drs Yap Tjwan Bing, Studi ke Belanda; Anggota PPKI Republiken Sejati

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) semua (suku) bangsa terwakili. Orang Batak diwakili oleh Mr Abdoel Abbas Siregar, Orang Ambon oleh Mr J Latuharhari, Orang Bugis-Makassae oleh Andi Pangeran, Orang Minahasa-Manado oleh Dr Ratulangi. Demikian seterusnya. Orang Tionghoa (Cina) diwakili oleh Drs Yap Tjwan Bing. Posisi semua anggota penting di PPPKI, karena di tangan panitia ini UUD dirumuskan yang menjadi dasar (statuta) berbangsa: Bangsa Indonesia.

Drs. Yap Tjwan Bing (31 Oktober 1910-26 Januari 1988) adalah seorang politikus keturunan Tionghoa aktif masa kemerdekaan Indonesia dan menjadi anggota PPKI dan anggota legislatif hingga 1954. Yap lahir di Surakarta. Ia menempuh pendidikan Sarjana Farmasi di Municipal University of Amsterdam pada 1932. Setelah lulus, pulang ke tanah air mendirikan apotek di Bandung. Ia merupakan satu-satunya keturunan Tionghoa dalam PPKI. Ia menghadiri Sidang 18 Agustus 1945, sidang merumuskan Undang-Undang Dasar 1945 serta mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden. Setelah PPKI dibubarkan, Yap menjadi anggota KNIP. Apoteknya di Bandung dibakar, Yap pindah ke Yogyakarta, mendirikan Chung Hwa Chung Hwee sebagai bagian upaya mempersatukan Tionghoa dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Tahun 1948 ia membubarkan CHCH dan meleburnya ke Persatoean Tionghoa dan kemudian Yap kembali lagi ke Bandung setelah Agresi Militer Belanda II, Namanya sempat diasosiasikan dengan Negara Pasundan ditawarkan menjabat sebagai Menteri Luar Negeri namun Yap menolak dan lebih untuk mendukung Republik Indonesia dan bergabung dengan PNI. Saat KNIP berubah menjadi DPR-RIS Yap menjadi anggota DPR-RIS. Pasca RIS, Yap sebagai anggota DPR Sementara PNI hingga 1954 dan digantikan oleh Tony Wen. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Drs Yap Tjwan Bing? Seperti disebut di atas, Yap Tjwan Bing termasuk salah satu anggota PPKI yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Belanda. Lalu bagaimana sejarah Yap Tjwan Bing? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (402): Pahlawan Indonesia - Minoru Tanaka Anggota Jepang BPUPK; Orang Jepang Era Hindia Belanda

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Siapa Minoru Tanaka? Tidak ada yang peduli? Namun yang jelas nama Minoru Tanaka terdapat sebagai salah satu anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Besar dugaan narasi Minoru Tanaka tidak ditemukan karena terbatasnya data yang ada. Akan tetapi sejarah tetaplah sejarah. Nama Minoru Tanaka terdapat dalam daftar anggota BPUPKI.

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan balatentara Jepang. Pemerintahan militer Jepang yang diwakili komando AD Ke-16 dan Ke-25 menyetujui pembentukan Badan Penyelidikan Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 1 Maret 1945. Karena kedua komando ini berwenang atas daerah Jawa (termasuk Madura) dan Sumatra. BPUPK hanya dibentuk untuk kedua wilayah tersebut, sedangkan di wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur yang dikuasai komando AL Jepang tidak dibentuk badan serupa. Pendirian badan ini sudah diumumkan oleh Kumakichi Harada pada tanggal 1 Maret 1945, tetapi badan ini baru benar-benar diresmikan pada tanggal 29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito. Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia. BPUPK beranggotakan 67 orang yang diketuai oleh Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso. Di luar anggota BPUPK, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Pandji Soeroso dengan wakil Mr. Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda Toyohiko (orang Jepang). Tugas dari BPUPK sendiri adalah mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek politik, ekonomi, tata pemerintahan, dan hal-hal yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka. Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membubarkan BPUPK dan kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Minoru Tanaka? Seperti disebut di atas, narasi sejarah Minoru Tanaka tidak terinformasikan meski namanya terdapat dalam daftar Anggota BPUPKI. Lalu bagaimana sejarah Minoru Tanaka? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 06 Februari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (401): Pahlawan Indonesia-Djenal Asikin Widjaja Koesoema; Studi Kedokteran di Batavia dan Leiden

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Djenal Asikin Widjaja Koesoema adalah termasuk generasi pertama dokter asal Priangan. Namanya cukup dikenal pada era Hindia Belanda. Namanya juga bahkan hingga ini hari masih di kenal di wilayah Jawa Barat. Namun sejarahnya kurang terinformasikan . pada lama Wikipedian narasi sejarah Dr Djenal Asikin hanya seadanya. Padahal Dr Djenal Asikin adalah tokoh sejarah yang penting.

Prof. Dr. Raden Djenal Asikin Widjaja Koesoema alias R.D. Asikin Wijayakusumah atau dibaca Jenal Asikin Wijaya Kusumah (lahir di Manonjaya, Tasikmalaya 07 Juni 1891 meninggal tahun 1963) adalah salah satu Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia juga dikenal sebagai dokter sekaligus guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Asikin lulus dari STOVIA pada tahun 1914 dan meraih gelar kedokteran di Universitas Amsterdam pada tahun 1925. Dia terlibat dengan beberapa laboratorium kedokteran di Eropa sebelum kembali ke Indonesia. Ia menulis tentang berbagai metode analisa sampel darah dan kegunaannya dalam hasil diagnosa. Asikin menjadi asisten pengajar di Batavia Medical School dan wakil kepala divisi penyakit dalam di rumah sakit yang bersebelahan dengan sekolah tersebut (sekarang adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Ia ditetapkan sebagai profesor di FKUI pada 1950. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Dr Djenal Asikin Widjaja Koesoema? Seperti disebut di atas, narasi sejarah Dr Djenal Asikin hanya ditulis seadanya saja. Padahal Dr Djenal Asikin adalah salah tokoh Indonesia yang penting yang berasal dari Priangan, Jawa Barat. Lalu bagaimana sejarah Dr Djenal Asikin? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (400): Pahlawan Indonesia dan Dr Hasan Sadikin, Kini Nama Rumah Sakit;Sejarah Rumah Sakit Bandung

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Di laman Wikipedia hanya ada emtri Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hasan Sadikin. Tidak ada entri nama Dr Hasan Sadikin. Lantas siapa Dr Hasan Sadikin? Tentulah pertanyaan ini yang menyebabkan sejarah Dr Hasan Sadikin kurang terinformasikan. Padahal nama Dr Hasan Sadikin di Bandung sangat dikenal luas sebagai nama rumah sakit. Mungkin orang hanya balik bertanya: ‘Apalah arti sebuah nama?’ Tapi pertanyaannya, nama itu melekat pada rumah sakit besar di Bandung.

RS Hasan Sadikin dibangun sejak tahun 1920, baru diresmikan 15 Oktober 1923. Namanya disebut Het Algemeene Bandoengche Ziekenhuis, kemudian diubah tahun 1927 menjadi Gemeente Ziekenhuis Juliana dengan kapasitas 300 tempat tidur. Pada era Jepang, RS ini berubah fungsi menjadi RS Militer Jepang dengan nama Rigukun Byoin. RS ini kembali dikuasai Belanda/NICA sampai tahun 1948 sebagai RS Militer Belanda. Baru pada tahun 1948, RS Rancabadak kembali untuk umum. Lalu di bawah naungan Kota Praja Bandung pimpinannya WJ van Thiel yang menjabat sampai 1949. Setelah pengakuan kedaulaytan dipimpin oleh Dr HR Paryono Suriodipuro, sebagai direktur pertama dari Indonesia. Tahun 1954, menteri kesehatan menetapkan RS ini menjadi RS Provinsi dengan status langsung di bawah Departemen Kesehatan. Tahun 1956 ditetapkan menjadi RS Umum Pusat berkapasitas 600 tempat tidur. Nama Hasan Sadikin, mulai dipakai tahun 1967, salah satu mantan direkturnya, Dr. Hasan Sadikin. Ketika ia sedang menjabat menjadi direktur tersebut, menteri kesehatan pada saat itu memintanya untuk mengubah nama rumah sakit yang dipimpinnya. Tetapi permintaan tersebut tidak sempat dipenuhinya karena dalam usia relatif masih muda ia meninggal dunia tanggal 16 Juli 1967 akibat penyakit yang dideritanya. Untuk mengenang jasa-jasanya sebagai dokter yang penuh dedikasi dan telah turut berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan RI, pemerintah pada tanggal 8 Oktober 1967 menetapkan namanya sebagai nama baru rumah sakit ini. Sehingga mulai saat itu sampai sekarang, nama rumah sakit ini menjadi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, disingkat RSHS (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Dr Hasan Sadikin? Seperti disebut di atas, narasi sejarah Dr Hasan Sadikin kurang terinformasikan meski namanya sudah ditabalkan sebagai nama rumah sakit besar di Bandung. Lalu bagaimana sejarah Dr Hasan Sadikin? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 05 Februari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (399): Pahlawan Indonesia - Sekolah Kedokteran dari Masa ke Masa; Docter Djawa School hingga GHS

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Banyak pahlawan Indonesia bergelar dokter. Mereka adalah lulusan sekolah kedokteran di Batavia dan Soerabaja. Sekolah kedokteran pertama adalah Docter Djawa School di Batavia yang kemudian pada tahun 1902 ditingkatkan dengan nama yang baru STOVIA. Pada tahun 1913 sekolah kedokteran yang baru dibuka di Soerabaja (NIAS). Lalu kemudian pada tahun 1927 sekolah kedokteran yang baru dibuka lagi di Batavia dengan nama GHS.

Pada era Pemerintah Hindia Belanda gelar dokter dibedakan tiga jenis. Lulusan Docter Daja School atau STOVIA disebut Inlandsch Arts. Sementara lulusan sekolah kedokteran NIAS di Soerabaja disebut Indisch Arts. Sedangkan gelar dokter lulusan GHS adalah (hanya) disebut Arts. Apakah ada beda? Tentu saja. Perbedaan didasarkan pada tujuan programnya yang meliputi syarat masuk, lama studi, kurikulum dan sebagainya. Dari sekolah-sekolah kedokteran di Hindia Belanda (Indonesia) para lulusan dapat meningkatkan pendidikannya ke Belanda baik untuk mendapatkan gelar sarjana meupun gelar doktor. Pribumi pertama yang meraih gelar doktor di Belanda adalaj Dokter Sarwono pada tahun 1919. Sedangkan perempuan pribumi pertama yang meraih gelar doktor adalah Ida Loemongga pada tahun 1931.

Lantas bagaimana sejarah sekolah kedokteran di Hindia Belanda (baca: Indonesia) dari masa ke masa? Seperti disebut di atas, sekolah kedokteran ada tiga jenis (lulusan STOVIA, NIAS dan GHS). Sekolah kedokteran pertama didirikan tahun 1851 di Batavia yang menjadi cikal bakal Docter Djawa School. Lalu bagaimana sejarah sekolah kedokteran di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.