Jumat, 08 Maret 2019

Sejarah Yogyakarta (20): Sejarah Kadipaten Pakualaman, Pemekaran Daerah Ala Tempo Dulu Era Inggris; Colonel Gillespie, 1812


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Yogyakarta dalam blog ini Klik Disini

Kadipaten Pakualaman, kini lebih dikenal sebagai Kecamatan Pakualaman di Kota Jogjakarta. Namun di masa lampau, kecamatan ini adalah sebuah kerajaan yang persis benar-benar berada di tengah-tengah wilayah Kesultanan Jogjakarta. Di Hindia (baca: Indonesia) ‘kerajaan di dalam kerajaan’ itu tidak lazim. Tetapi, faktanya di wilayah Jogjakarta benar adanya.

Pakoe Alaman (Peta 1903)
Pendudukan Inggris sangat singkat dan tidak lama, hanya beberapa tahun (1811-1815). Akan tetapi bagi Kraton Jogjakarta, pendudukan adalah hal yang menyakitkan untuk selamanya. Wilayah Jogjakarta terbelah dengan terbentuknya Kadipaten Pakualaman. Ibarat masa kini: kabupaten induk dimekarkan dengan terbentuknya kabupaten baru. Kadipaten Pakualaman menjadi semacam negara merdeka yang bebas dari induknya, Jogjakarta. Dan, bebas pula mengambil keputusan untuk bekerjasama dengan siapa. Praktis Kerajaan Mataram tempo doeloe terbagi menjadi empat kerajaan: Soeracarta, Jogjacarta, Mangkoenagaran dan Pakoealaman. Peta 1903

Wilayah Pakualaman tidak hanya Kadipaten Pakualaman di Kota Jogjakarta tetapi juga wilayah Adikarto yang berada di wilayah pantai selatan Jawa. Namun yang tetap menarik untuk diketahui adalah bagaimana Kadipaten Pakualaman melepaskan diri dari Jogjakarta dan bagaimana peran Colonel Gillespie, Komandan Inggris dalam hal ini. Mari kita telusuri.  

Colonel Gillespie vs Daendels: Proklamasi, 31 Januari 1812

Setelah terjadi penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda kepada Pemerintah Inggris (India Timur), Letnan Gubernur Raffles mulai menjalankan pemerintahan yang ditandai suatu proklamasi yang dilakukan di Molenviel, Batavia pada tangga 21 Januari 1812 (lihat Java government gazette, 29-02-1812). Dalam proklamasi ini Dewan Kehakiman dan Polisi disahkan. Proklamasi ini menggunakan dua bahasa, Inggris dan Belanda. Tiga tokoh utama yang hadir dalam proklamasi ini adalah Lieutenant Governor, Mr. Muntinghe (ketua dewan) dan Colonel Gillespie. Proklamasi ini dihadiri oleh banyak penduduk pribumi.

Java government gazette, 29-02-1812
Java government gazette adalah surat kabar berbahasa Inggris yang telah menggantikan surat kabar berbahasa Belanda sebelumnya. Edisi pertama surat kabar Java government gazette adalah tanggal 29-02-1812 yang di dalamnya diberitakan proklamasi pemerintahan Inggris di Hindia dimulai. Surat kabar ini adalah satu-satunya dan terbit dua kali sepekan. Surat kabar inilah yang memberitakan hari demi hari tentang persitiwa yang terjadi yang kini menjadi sumber sejarah Indonesia selama pendudukan Inggris.    

Sebelum semuanya datang, Colonel Gillespie adalah pemimpin tertinggi di Batavia. Colonel Robert Rollo Gillespie adalah pemimpin perang saat penaklukan Belanda di Batavia yang berpusat di Meester Cornelis (Java government gazette, 28-03-1812). Saat itu Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda adalah Daendels. Di kalangan orang-orang Eropa/Inggris, Colonel Gillespie disebut sebagai Pahlawan Meester Cornelis. Pada saat ini boleh dikatakan Colonel Gillespie adalah panglima tertinggi di Jawa.

Robert Rollo Gillespie sejatinya sudah dinaikkan pangkatnya dari Colonel menjadi Majoor Generaal sejak tanggal 1 Januari 1812. Ini sesuai keputusan dari kantor War Office tanggal 31 Desember 1911. Dalam keputusan sebanyak 23 Lieutenant Generaal menjadi Generaal; 16 Majoor Generaal menjadi Lieutenant Generaal; 30 Colonel menjadi Majoor Generaal, termasuk Robert Rollo Gillespie; 36 Lieutenant Colonel menjadi Colonel; 82 Majoor menjadi Lieutenant Colonel; dan 30 Captain menjadi Majoor (lihat Java government gazette, 22-08-1812).

Atasannya adalah Sir George Nugent, Panglima Tertinggi seluruh India termasuk India Timur (baca: Indonesia) yang mendampingi Lord Minto di Calcutta. Atasan Colonel Gillespie di (pulau) Jawa adalah Sir Samuel Auchmuty yang dijuluki sebagai Pahlawan Sang Penakluk Jawa, Sir George Nugent berpangkat Lieutenat Generaal.

Setelah proklamasi (pemerintahan pendudukan Inggris) militer Inggris yang (masih) terfokus di Jawa, langkah pertama yang dilakukan oleh Colonel Gillespie adalah membereskan batu sandungan (kraton) Djocjocarta. Sebab, wilayah-wilayah lain di Jawa di luar Docjpcarta relatif tidak ada penentangan, bahkan terkesan dari seluruh wilayah mendukung Inggris (yang dianggap relatif lebih adil jika dibandingkan VOC/Pemerintah Hindia Belanda), kecuali (kraton) Djocjocarta yang tidak senang dengan kehadiran Inggris. Sejarah Soeltan Agong seakan kembali di era pendudukan Inggris. Sultan Hamengkoeboewono II terinspirasi dari kakek buyutnya Soeltan Agoeng yang dulu berani melawan VOC/Belanda.    

Colonel Gillespie langsung memimpin ekspedisi ke Palembang (lihat Java government gazette, 18-04-1812). Disebutkan pasukan di bawah Colonel Gillespie sangat bersemangat dalam perjalanan menuju ke Palembang ini. Selama minggu terakhir kinerja yang sangat memuaskan telah diterima tentang kemajuan expediton yang belakangan berlayar dari Batavia, di bawah Colonel Gillespie. Pasukan dengan semangat tinggi dan diharapkan untuk mencapai tujuan mereka’.

Salah satu wujud kemeriahan terbentuknya pemerintahan di Jawa, pada tanggal 4 Juni diadakan pesta peringatan ulang tahun Raja ke-74 di Batavia (Java government gazette, 06-06-1812). Perayaan ini diadakan di lapangan Goenoeng Sahari. Pasukan Weltevreden di bawah komando Colonel Eales melakukan parade militer. Perayaan ini dipimpin oleh Muntinghe dan Gillespie yang dihadiri sekitar 300 orang. Muntinghe membacakan semacam pujian untuk raja dan kerajaan dan lalu kemudian diikuti Robert Rollo Gillespie memberi ucapan selamat satu per satu kepada: 1. Radja,..5. Lord Wellington, 6. Lord Minto. 7. Sir George Nugent, 8. Colonel Gillespie, 9. Sir Samuel Auchmuty, 10. Mr. Raffles, 11. Mr. Muntinghe. Dari daftar urutan ini mengindikasikan bahwa Colonel Gillespie memiliki kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Mr. Raffles dan Mr. Muntinghe.

Lieutenant Governor pada tranggal 6 Juni 1812 mengirim surat dari Gouvernment House di Semarang kepada Colonel Gillespie untuk ucapan terimakasih berkat sukses yang telah diraih di Palembang (Java government gazette, 13-06-1812). Surat ini ucapan terimakasih ini dikirimkan setelah Lieutenant Governor Raffles membaca laporan Colonel Gillespie. Lieutenant Governor Raffles berkedudukan di Semarang diduga terkait dengan negosiasi pemerintah (Inggris) dengan (kraton) Sultan Djocjocarta.

Colonel Gillespie dan pasukan berangkat ke Palembang setelah mendapat laporan bahwa Residen Palembang (orang Belanda) dan beberapa orang Eropa telah dibunuh oleh Pangeran Ratoe di Palembang. Sultan Palembang tidak kuasa menahan anaknya Pangeran Ratoe melakukan pembantaian terhadap otoritas Belanda di Palembang. Colonel Gillespie berhasil mengendalikan situasi. Catatan: Pangeran Ratoe kelak dikenal sebagai Soeltan Mahmoed Badaroeddin II (lihat serial artikel sejarah Kota Palembang dalam blog ini).

Colonel Gillespie kembali ke medan perang sehubungan dengan semakin meningkatnya eskalasi politik anatar Inggris dan (kraton) Sultan Djocjocarta. Colonel Gillespie berhasil menaklukkan kraton Djocjocarta pada tanggal 20 Juni 1812. Kembali Lieutenant Governor Raffles dari Semarang mengirim surat ucapan terimakasih kepada Colonel Gillespie dan pasukannya (lihat Java government gazette, 04-07-1812). Dalam surat bertanggal 28 Juni 1812 tersebut pujian kepada Colonel Gillespie. Surat ini merupakan respon terhadap laporan yang dibuat oleh Colonel Gillespie.

Java government gazette, 04-07-1812
Colonel Gillespie dalam laporan yang bertanggal 25 Juni 1812 diawali situasi dimana Sultan menolak perjanjian yang ditawarkan oleh Lieutenant Governor. Sultan sebaliknya membentengi dan memperkuat pasukan dengan menghimpun kekuatan. Kraton yang berkeliling tiga mil telah dipgari dengan parit-parit basah yang di tiap sudut terdapat bastion-bastion besar. Lalu dalam laporan dirinci kekuatan pasukan yang ada dan kemudian bagaimana mengatur strategi dalam operasi. Dalam operasi ini Colonel Gillespie dibantu pasukan Lieutenant Colonel Macleod dan Lieutenant Colonel Watson dan Lieut. Colenel Dewar dengan pasukan Bengal plus satu detasemen dengan 50 dragoon. Operasi ini difasilitasi oleh Residen Crawford. Perwira-perwira yang disebut antara lain Majoo Butler. Majoor Dalton, Majoor Grant, Captain Young, Captain Leys. Laporan Colonel Gillespie juga disertai laporan yang dibuat oleh Majoor R. Butler bertanggal 21 Juni 1812. Dalam laporan Butler ini juga disertai daftar korban terbunuh 23 orang; luka sebanyak 76 orang. Juga laporan ini disertai kerugian kuda yang mati dan luka serta rincian senjata dan amunisi. Dalam edisi ini juga dipublikasikan kembali proklamasi yang dibuat Lieut. Governor Raffles yang sebelumnya ditolak oleh Sultan. Dengan menyerahnya (kraton) Sultan maka proklamasi ini diberlakukan. Juga dalam edisi ini disebutkan Pangeran Adipati naik menjadi Sultan dengan gelar Hamengkoeboewono III yang ditulis oleh Eckford, Act. Sec. To Govt di Semarang 28 Juni 1812.      

Bagaimana pangkal perkara munculnya perang tidak diketahui secara jelas. Yang jelas adalah bahwa tanggal 18 Juni 1812 pemerintahan pendudukan Inggris membuat proklamasi. Isi proklamasi itu ditolak oleh Sultan karena dirinya harus digantikan oleh anaknya Pangeran Adipati. Dalam hal ini, bagaiman munculnya proklamasi ini tidak diketahui secara jelas. Namun permasalahannya dapat diduga sebagai berikut:

Pasca proklamasi pemerintahan Inggris di Batavia tanggal 21 Januari 1812, Lieutenan Governor Raffles mengangkat residen untuk 16 residentie yang ditetapkan. Residen untuk Residentie Djocjocarta adalah Crawford. Langkah pertama yang dilakukan oleh Residen atau Controleur (sebagaimana halnya pada era Belanda) adalah melakukan kontak kerjasama (diplomasi) dengan pemimpin lokal yang dalam hal ini Sultan Djocjocarta (Sultan Hamengkoeboewona II). Namun dalam diplomasi ini terjadi buntu. Residen dan stafnya mulai menyusun strategi yang dituangkan dalam proklamasi yang disampaikan kepada Sultan (pada tanggal 18 Juni 1812). Sultan menolak. Tentu saja Sultan menolak. Pemerintahan pendudukan Inggris merasa memiliki legitimasi setelah penyerahan kekuasaan dari Belanda. Sebab selama ini Belanda menganggap Kesultanan Djocjocarta berada di bawah kekuasaannya. Klaim inilah yang dimajukan Inggris ke Sultan. Sebaliknya Sultan merasa memiliki otoritas dan kekuasaan terhadap kerajaannya. Setelah penolakan proklamasi yang disodorkang Inggris, Sultan mulai memperkuat pertahanan kraton dan menunjukkan perlawanan. Sikap dan tantangan dari Sultan ini diduga yang menjadi pangkal perkara perang.  
   
Pangeran Natakoesoema vs Sultan Hamengkoeboewono II: Babad Pakoe Alam

Setelah Sultan Hamengkoeboewono II ditangkap dan Pengeran Adipati naik tahta menjadi sultan untuk menggantkan ayahnya. Pangeran Adipati diberi gelar sultan sebagai Hamengkoeboewono III. Dalam situasi dan kondisi ini kemudian Pangeran Natakoesoema mengambil keuntungan dengan mengajukan pembebasan dari Kraton Djocjocarta sebagai negeri yang merdeka dengan bersedia memberikan dukungan terhadap Inggris. Sultan baru yakni Sultan Hamengkoeboewono III tak berdaya. Kesepakatan dengan Pangeran Natakoesoema dilihat Inggris sebagai hal yang menguntungkan. Inilah pangkal perkara munculnya perjanjian (plakat) suatu bentuk perjanjian yang didalamnya termasuk legalitas formil dengan mengangkat Pangeran Natakoesoema sebagai raja (adipati) dengan penetapan wilayah tertentu dengan gelar Pakoe Alam. Wilayah kerajaan baru ini kemudian disebut Kadipaten Pakoealaman pada tanggal 29 Juni 1813 (setahun setelah kejatuhan Sultan Hamengkoeboewono III).  

Peta 1833
Pangeran Natakoesoema sejatinya adalah adik dari Sultan Hamengkoeboewono I. Pada saat kedatangan Inggris beda pendapat antara Pangeran Natakoesoema dengan Sultan Hamengkoeboewono II (keponakan Pangeran Natakoesoema) mencuat ke permukaan yang berujung bahwa Sultan Hamengkoeboewono II menolak bekerjasama dengan Inggris, sementara Pangeran Natakoesoema mendukung Inggris. Ini seakan proses berulang ketika doeloe Soenan Pakoeboewono III, Radja Mataram membagi kerajaaan menjadi dua bagian (Kesunanan Soeracarta dan Kesultanan Djogjakarta). Soeracarta yang dipimpin Soenan Pakoeboewono III bekerjasama dengan VOC/Belanda sementara Djogjocarta yang dipimpin Pangeran Mengkoeboemi (Sultan Hamengkoeboewono I) menentang Belanda.

Babad Pakoe Alam (1812)
Dengan adanya legitimasi sebagai raja bergelar Pakoe Alam, Pangeran Natakoesoema mulai membangun kraton yang disebut Kraton Pakoealaman yang tidak jauh dari rumah tinggal Pangeran Natakoesoema (lihat Peta 1833). Dengan demikian, Kerajaan Mataram tempo doeloe telah terbagi ke dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil: Kasoenanan Soeracarta dan Kesultanan Djocjocarta. Dalam perkembangannya Kasoenanan Soeracarta dibagi lagi dengan munculnya Mangkoenegaraan. Kini, giliran Kesultanan Djocjocarta dibagi lagi dengan munculnya Pakoealaman.

Pakoe Alam II (Foto 1870)
Pakoe Alam I kemudian digantikan oleh anaknya Sastraningrat dengan memangku gelar sebagai Pakoe Alam II pada tahun 1833 (pasca perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro dari Kraton Djocjocarta. Pakoe Alam I meninggal tahun 1858. Sejatinya Pangeran Sastraningrat adalah anak ke-3 Pakoe Alam I. Anak yang pertama Pengeran Nataningrat meninggal dunia sementara anak keduanya Pangeran Soerjaningrat tidak memenuhi syarat karena sakit

Satu peninggalan (warisan) yang penting dari Pakoe Alam I (Pangeran Natakoesoema) adalah Babad Pakoe Alam yang dibuat pada tahun 1812. Babad ini berkisah tentang banyak hal. Babad ini dibuar pasca jatuhnya Sultan Hamengkoeboewono II dan sebelum pengangkatan dan pelantikan Pangeran Natakoesoema sebagai Pakoe Alam I.  


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar