Rabu, 10 Juli 2019

Sejarah Bekasi (18): Hari Jadi Kota Bekasi; Nama Kabupaten Djatinegara Diubah Jadi Kabupaten Bekasi Tanggal 15 Agustus 1950


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Kapan hari jadi Kota Bekasi? Hari Senin tanggal 10 bulan Maret tahun 1997. Kapan hari jadi Kabupaten Bekasi? Hari Selasa tanggal 15 Agustus 1950. Ibukota Kabupaten Bekasi ditingkatkan statusnya menjadi Kota pada tanggal 10 Maret 1997. Nama Kabupaten Djatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi pada tanggal 15 Agustus 1950. Informasi ini enak dibaca, tidak menyesatkan dan cukup menyehatkan.

Meester Cornelis menjadi Djatinegara dan Java menjadi Djawa
Kapan hari jadi Indonesia? Hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Kapan hari jadi Provinsi Jawa Barat? 18 Agustus 1945. Penetapan hari jadi kabupaten/kota Bekasi sebangun seirama dengan penetapan hari jadi Negara Republik Indonesia dan Provinsi Jawa Barat. Lalu kapan hari jadi Kota Bandung? Tanggal 25 September 1810. Lantas kapan hari jadi Kota (Provinsi DKI) Jakarta? Tanggal 22 Juni 1527. Lalu, kapan hari jadi Kota Bogor? Tanggal 3 Juni 1482. Sangat membingungkan, bukan? Lantas mana yang paling tua? Kota Banda Aceh pada tanggal 22 April 1205. Lalu, kapan hari jadi Kota Barus? Jawabnya: sebelum Masehi. Makin tua makin membingungkan.

Artikel ini tidak dalam rangka berdebat tentang metodologi penentuan hari jadi wilayah administratif, tetapi untuk mendokumentasikan apa yang terjadi pada seputar tanggal 15 Agustus 1950 dan mendokumentasikan kembali hal apa yang terkait dengan nama Bekasi dan nama Jatinegara. Untuk itu mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Meester Cornelis en Bekasi: Djatinegara

Nama Djatinegara di Batavia belum terindentifikasi. Akan tetapi ada nama kampong Djati di dekat Tanah Abang (lihat Peta 1824). Nama Djatinegara baru teridentifikasi di Tegal (lihat Javasche courant, 31-10-1838). Pada awal pendudukan militer Jepang, nama Meester Cornelis diubah menjadi Djatinegara (lihat Keesings historisch archief : geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 31-08-1942). Disebutkan otoritas militer Jepang telah mengumumkan bahwa mulai sekarang di Java akan disebut Djawa karena ini lebih sesuai dengan bahasa Melayu. Itu juga bagaimana Meester Cornelis berubah menjadi Djatinegara.

Nama Djatinegara di Afdeeling Meester Cornelis kali pertama dapat dibaca dalam surat kabar tahun 1859 (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-08-1859), Namun dimana posisi GPSnya belum jelas tetapi tidak jauh dari Meester Cornelis. Posisi GPS kampong (land) Djatinegara ini semakin jelas pada tahun 1902 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-07-1902). Disebutkan dari paal 10 garis lurus ke persimpangan (di Klender) jalan dari Pondok Bamboe, Klender ke Tanah Kodja dengan memotong jalur kereta api dari Meester Cornelis ke Bekasi; ke arah timur jalan dari perempatan terakhir melewati Tanah Kodja, Djatinegara, Rawa Trate, Poeloe Gadoeng, Waroeng Djengkol, Petoekangan, Tjakoeng, Soekapoera, Tipar, Rengas, Koeroes Toegoe dan Kebantenan ke timur laut menuju landhuis Tjilintjing dan kemudian ke utara hingga pantai. Jadi kampong Djatinegara ini berada diantara kampong Tanah Kodja dan Rawa Trate.

Namun yang menjadi pertanyaan mengapa harus Djatinegara. Apa keutamaannya sehingga nama Djatinegara yang dipromosikan. Bukankah sejak doeloe lebih terkenal land Matraman, land Kampong Melajoe, land Klender, land Pondok Bamboe, land Tjipinang daripada land Djatinegara. Atau, mengapa bukan nama Kebajoran atau nama Bekasi.

Secara administratif sudah sejak lampau dilakukan pembagian wilayah berdasarkan afdeeling: Meester Cornelis, Tangerang, Buitenzorg dan Bekasi. Dalam perkembangannya terjadi penyesuaian struktur pemerintahan wilayah. Afdeeling Meester Cornelis dan afdeeling Bekasi digabung yang namanya disebut (hanya) Afdeeling Meester Cornelis atau adakalanya disebut Afdeeling Meester Cornelis en Bekasi yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Meester Cornelis. Afdeeling Meester Cornelis ini terdiri dari tiga onderafdeeling: Onderafdeeling Meester Cornelis, onder afdeeling (district) Kebajoran dan onderafdeeling (district) Bekasi.

Besar dugaan tidak mengadopsi nama Kebajoran dan nama Bekasi karena yang ingin digantikan adalah nama Meester Cornelis. Akan tetapi, sekali lagi mengapa harus Djatinegara? Apakah karena nama Djatinegara cukup keren? Semua itu tetap menjadi pertanyaan dan sejauh ini, penetapan nama Djatinegara sebagai pengganti nama Meester Cornelis tetap menjadi misteri. Hal ini berbeda dengan perubahan nama Batavia menjadi Djakarta dan Buitenzorg menjadi Bogor. Juga berbeda dengan perubahan nama Stad Batavia menjadi Kota dan Weltevreden menjadi Gambir. Nama Meester Cornelis menjadi Djatinegara adalah anomali.

Kabupaten Djatinegara Menjadi Kabupaten Bekasi

Mengapa nama Djatinegara menggantikan nama Meester Cornelis tidak dapat dijelaskan. Lantas bagaimana dengan perubahan nama Kabupaten Djatinegara menjadi Kabupaten Bekasi? Masih bisa dijelaskan. Sebab Djatinegara, yang menggantikan nama Meester Cornelis, setara dengan nama Bekasi. Ini soal proses politik semata, bukan soal geografis. Hanya sekadar mengubah haluan (politik).

Di era kolonial Belanda hal serupa ini sangat jamak. Misalnya Residentie Bengkoelen di satu sisi dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust (Provinsi Pantai Barat Sumatra) tetapi di sisi lain Residentie Tapanoeli digabungkan. Dalam perkembangannya Residentie Tapanoeli dipisahkan dan bersama Residentie Atjeh digabungkan membentuk (province() Noord Sumatra dan lalu kemudian Residentie Oost Sumatra digabungkan ke Noord Sumatra. Hal yang serupa terjadi di tingkat residentie di Batavia yang mana terjadi pemisahan dan penggabungan terhadap Meester Cornelis, Kebajoran dan Bekasi. Satu waktu Tangerang dan Kebajoran digabung, demikian juga Bekasi dipisahkan dari Meester Cornelis dan kemudian digabungkan dengan Poerwakarta (sebelumnya Krawang en Poerwakarta). Setelah itu Bekasi dipisahkan dan kembali digabungkan dengan Meester Cornelis. Contoh lain adalah nama Afdeeling Mandailing en Ankola yang beribukota di Panjaboengan (di onderafdeeling Mandailing) lalu berubah menjadi Afdeeling Angkola en Mandailing sehubungan ibukota dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempoean (di onder afdeeling Angkola). Prinsip penamaan wilayah tidak dilanggar secara geogtafis.      

Oleh karena itu perubahan nama Kabupaten Djatinegara menjadi Kabupaten Bekasi adalah normal. Yang menjadi tidak normal adalah perubahan nama Meester Cornelis menjadi Djatinegara. Sebab nama Djatinegara tidak memiliki argumentasi secara geografis untuk menggantikan nama Meester Cornelis (yang lebih pantas adalah Bekasi). Tuntutan untuk mengubah nama Kabupaten Djatinegara dengan Kabupaten Bekasi tidaklah berlebihan alias wajar tanpa syarat. Lantas mengapa terkesan begitu heboh? Itu juga karena proses (eskalasi) politik.

Pada era perang kemerdekaan perubahan-perubahan nama wilayah ini sangat dinamis. Pada akhir perang (saat gencatan senjata dalam proses konferensi KMB) Komando militer di (Residentie) Batavia, Gubernur Militer wilayah federal Djakarta dibagi menjadi tiga komando militer, yakni Komando Militer Kota Tandjoeng Priok, Komando Militer Kota Jakarta (Pusat Djakarta) dan Komando Militer Kota Djatinegara. Sementara wilayah sekitar (Ommelanden) dibagi menjadi dua area, yaitu Tangerang dan Bekasi. Wilayah teritorial Bekasi memiliki enam sub-area yakni: Bekasi, Kramat Djati, Tjibinong, Tjilintjing, Pulogadoeng dan Pasar Minggu, Sedangkan wilayah teritorial Tangerang memiliki tiga sub-area, yakni Tangerang-Udik, Tangerang-Ilir dan Kebajoran (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-12-1949).  

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dan era RIS (27 Desember 1949 hingga 18 Agustus 1950) pada penghujung dibubarkannya RIS dan kembali ke Negara Kesatuan RI (NKRI) terjadi lagi perubahan yang berarti (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-08-1950). Wilayah Tangerang dikembalikan oleh komando militer Tangerang kepada Bupati Kabupaten Tangerang. Demikian juga Wilayah Bekasi dikembalikan oleh komando militer Djatingara kepada Bupati Kabupaten Djatinegara, serta wilayah Tjibinong yang secara administratif masuk ke dalam Kebupaten Bogor, dikembalikan oleh komando militer Djatinegara kepada Bupati Kabupaten Bogor.

Dalam penyerahan militer ke sipil ini masih ada yang tersisa yakni soal nama Djatinegara itu sendiri. Dalam fase inilah terjadi proses politik untuk menggantikan nama Djatinegara dengan Bekasi. Ini memang tidak sepadan dengan yang terjadi di Tangerang, usulan perubahan Djatinegara menjadi Bekasi sejatinya tetap sebagai Djatinegara. Oleh karena Kabupaten Djatinegara termasuk wilayah Provinsi Djawa Barat (sebagaiman ajuga Kabupaten Tangeran dan Kabupaten Bogor), maka dari sudut pandang Jawa Barat, nama kabupaten lebih ideal menggunakan nama Bekasi (memang tidak menyalahi aturan geografis).

Untuk meratifikasi kembali pembagian wilayah dan penamaan wilayah pasca perang di wilayah Provinsi Jawa Barat disahkan undang-undang baru (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode,           04-11-1950). Di dalam undang-indang yang baru inilah nama (kabupaten) Djatinegara telah diubah menjadi (kabupaten) Bekasi. Kabupaten Bekasi sendiri dalam undang-undang baru ini terdiri dari Kewedanan Bekasi, Tambun, Tjikarang dan Serengseng (Soekatani). Ibukota kabupaten untuk sementara waktu berada di Djatinegara, tetapi itu akan dipindahkan ke Tamboen. Lho!

Jalannya Proses Politik: Mayor Madmuin Hasibuan

Secara definitif seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat telah ditetapkan melalui undang-undang, tidak hanya soal nama juga penetapan wilayah kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Bekasi. Selain perubahan nama kabupaten (ibukota kabupaten tidak berubah) juga yang berubah adalah pergeseran wilayah onderafdeeling (district) Tjobaroesa yang sejak lampau masuk Bogor (Buitenzorg) menjadi wilayah (kabupaten) Bekasi.

Pergeseran wilayah district Tjibaroesa masuk ke wilayh Afdeeling Bekasi, karena secara defacto lebih dekat ke ibukota Bekasi daripada ke ibukota Bogor (Buitenzorg). Secara politis di masa lampau Tjibaroesa lebih dekat atau memiliki tipologi land-land yang terdapat di Bekasi. Land Tjobaroesa terhubung dengan baik ke land Tjikarang (di Lemah Abang) dengan moda transportasi yang sangay baik jika dibandingkan dari Tjibatoesa ke Tjibinong. Ketika Tibaroesa dialihkan ke Bekasi tidak ada tuntutan dari Boigor, sementara penduduk Tjibaroesa welcom dan memang sejak dari doeloe sudah siap menjadi bagian dari wilayah Bekasi.

Dalam proses perubahan struktur wilayah di provinsi Jawa Barat ini tampak peran penting Ketua Dewan Kabupaten Djatinegara (Bekasi), yang kebetulan seorang pejuang Bekasi, Mayor Madmuin Hasibuan.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar