Minggu, 01 Desember 2019

Sejarah Menjadi Indonesia (27): From Javaansche Rhapsody (1909) to Bohemian Rhapsody (1975); Fenomena Alip Ba Ta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Musik tradisi (seperti gamelan, degung, gondang) sudah sejak lama diidentifikasi oleh orang Eropa/Belanda. Pada tahun 1909 Paul Seelig memggabungkan musik tradisi (Jawa) dengan musik barat (Eropa) yang disebutnya Javaansche Rhapsody. Namun musik tradisi (Indonesia) baru mendapat tempat disiarkan di radio tahun 1930an. Seiring dengan mengudaranya musik tradisi yang dapat ‘ditangkap’ di seluruh antero dunia, para pegiat musik Eropa/Belanda di Hindia (baca: Indonesia) mendatangkan seorang peneliti musik terkenal berkebangsaan Austria Dr. Halusa, Ph.D untuk meneliti musik tradisi Indonesia. Sejak inilah boleh dikatakan musik tradisi Indonesia mulai mendapat perhatian dari para pemusik dunia.

Dr. Halusa, Ph.D) di Medan, 1936
Artikel ini merupakan kelanjutan artikel pertama berjudul Sejarah Menjadi Indonesia (24): Alip Ba Ta Gitaris Fingerstyle Mendunia; Ambassador dalam Penyusunan Sejarah Musik Indonesia. Dalam artikel tersebut mendeskripasikan dari awal bagaimana musik tradisi (Indonesia) ditemukan (dicatat oleh orang-orang Belanda). Dalam hal ini kehadiran Alip Ba Ta di channel Youtube, seorang gitaris fingerstyle menyadarkan kita, musik yang memiliki nada-nada Indonesia mulai dilirik oleh para pemusik dunia, sebagaima tahun 1937 Dr. Halusa, Ph.D menemukan nada-nada khas Indonesia. Oleh karena itu kita paham mengapa pada dasawarsa terakhir ini banyak orang Eropa/Amerika ingin melestarikan musik (tradisi) Indonesia. Sebut saja misalnya Hermann Delago. Pemusik Austria yang coba melestarikan dan mempopulerkan musik Batak di Eropa dan Prof. Andrew Weintraub dari Universitas Pittsburgh yang melestarikan dan mempopulerkan musik dangdut dan degung Sunda di Amerika Serikat. Tentu saja musik gamelan yang sudah dipelajari di berbagai universitas di luar negeri.  

Akhir-akhir ini, gitaris Alip Ba Ta, spesialis fingerstyle (one man band) telah mendapat perhatian para pemusik dunia. Musik aransemen Ali Ba Ta mulai banyak dikutip oleh para pemusik. Ini adalah satu momen penting bagi kita, untuk memperkenalkan sejarah musik kita di mata dunia. Untuk melanjutkan artikel kedua, mari kita telusuri lebih lanjut sumber-sumber tempo doeloe.

Musik Tradisi Mengudara di Radio, 1937

Kehadiran Dr. Karl Halusa di Indonesia (baca: Hindia Belanda) tahun 1936 adalah langkah baru dalam sejarah musik Indonesia. Tidak hanya orang Eropa/Belanda di Indonesia yang mengharapkan kehadirannya, tetapi juga Karl Halusa sangat tergoda dan antusias untuk datang membagi keahliannya dalam genre musik modern/Eropa sekaligus untuk melakukan penelitian musik di Indonesia. Keberadaan musik tradisi Indonesia sudah sejak lama diketahui di Eropa. Karl Halusa datang ke Indonesia tentu saja tidak buta tentang musik tradisi, karena itu, Dr. Karl Halusa sebagai seorang ahli musik (muskologi) membawa peralatannya sendiri untuk keperluan perekaman.  Dr. Halusa bukan PhD orang sembarangan. Halusa adalah seorang doktor (Ph.D) di bidang musik dari Universitas Vienna (Wina).

Pemusik-pemusik Eropa datang ke Indonesia, paling tidak sudah tercatat pada tahun 1870. Grup musik dari Eropa ioni umumnya dari Eropa Timur dan Italia. Mereka mengadakan konser musik di kota-kota besar di Jawa. Pemusik Eropa ini semakin intens datang. Satu konser yang mendapat perhatian adalah concert van Mm. Mendelssohn en Signor Orlandini dari Italia tahun 1878 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-04-1878).  Surat kabar di Hindia Belanda (baca: Indonesia) juga terus melansir berbagai analisis-analisis musik di Belanda. Sebagai contoh Bataviaasch handelsblad, 24-01-1879 mengulas konser-konser di Belanda seperti pemain biola JJ Koert yang melakukan konser musik klasik dibandingkan dengan pemusik klasik ternama dari Italia dan Jerman. Ini mengindikasikan bahwa surat kabar juga terus menambah pengetahuan musik para penikmat musik di klub-klub musik di Jawa. Untuk sekadar diketahui, penikmat-penikmat musik di Jawa cukup banyak dari kalangan orang kaya, para pengusaha dan pejabat-pejabat. Pengusaha-pengusaha di Jawa yang bermukim di Batavia, Semarang dan Soerabaya tidak kalah dengan kekayaan pengusaha-pengusaha di Eropa. Oleh karenanya pengusaha-pengusaha ini lewat klub musik di Sociteit tidak akan kesulitan mendatangkan pemusik dari Eropa. Dan tentu saja para pemusik-pemusik Eropa ini sangat antusias datang karena musik adalah musik, selagi peminatnya masih ada sekalipun jauh ke nagara-negara di timur. Ada tantangan bagi mereka yang datang jauh naik kapal layar ke negeri jauh. Kombinasi inilah, pemusik yang tertantang dan audiens yang kaya raya bertemu di gedung konser. Pertemuan ini semakin memperkaya apresiasi musik di kalangan peminat dan penikmat musik baik di Batavia, Semarang maupun Soerabaja. Pada tahun 1882 di Batavia terdapat maklumat di surat kabar bahwa musik sudah waktunya diintroduksi sebagai bagian dari kurikulum sekolah (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-02-1882). Sebaliknya musik tradisi untuk kali pertama tampil di Eropa pada tahun 1883. Dalam suatu festival di Belanda dihadirkan gamelan dari Parakan Salak (Soekaboemi). Pagelaran gamelan ini cukup menyita perhatian para pengunjung yang datang dari bebagai kota ke festival tersebut. Pada tahun 1885 kembali heboh di Hindia Belanda dengan kedatangan pemusik dari Italia, Remènyi Concert (lihat Bataviaasch handelsblad, 30-09-1885).

Agenda pertama  Dr. Karl Halusa di Indonesia  adalah memberikan presentasi (kuliah) di Medan. Ternyata peminat musik di Medan cukup banyak. Itu terlihat karena ruangan yang disediakan tidak mampu menampung semua peminat sehingga harus dikutip bayaran (beli tiket) yakni sebesar f2 untuk anggota dan f5 untuk non anggota per orang. Bagaimana isi materi kuliah Dr. Karl Halusa di gedung Societeit De Witte Medan diringkas oleh surat kabar De Sumatra post, 24-06-1936 sebagai berikut (hanya mengutip yang penting-penting saja):

Dr Halusa mulai presentasinya dengan menunjukkan bahwa niatnya tidak hanya untuk menyebutkan berbagai fenomena di musik, tetapi juga untuk menjelaskan dan menunjukkan perlunya keberadaannya. Oleh karena itu perlu bahwa ia memberikan gambaran dari berbagai bentuk seni pada umumnya, dilihat dalam konteks waktu. Dr Halusa menyebutkan bahwa 123tahun yang lalu, saat perang pembebasan Napoleon semua orang berharap untuk masa depan yang lebih baik, tapi segera berlawanan dan ternyata bahwa tirani itu lebih kuat daripada sebelumnya dan bahwa kebebasan pribadi bermusik semakin dihilangkan. Semua harapan itu hilang dan perihal musik di masa lalu telah hilang semuanya….Dalam musik tercermin dan dapat mencatat secara khusus. Satu hal  tidak hanya melihat deskripsi sederhana dari pengalaman jiwa, tetapi memahami lebih jauh….Betul kini telah muncul bentuk seni tertinggi dalam artistik. Namun tujuan dari musik bukan untuk pesona, tetapi ekspresi perasaan tertentu dari komposer. Kebanyakan datang untuk ini melalui lagu dan opera, setelah semua, kata-kata bisa menjelaskan apa yang dialami sang pencipta, musik bisa mendukung hal itu. Sebagian besar tokoh, seperti Richard Wagner, selain musisi juga seorang penyair, sehingga membuat satu kesatuan, karyanya menjadi sempurna lewat suara. Ke dalam barisan ini dapat disebut seperti van Mendelssohn, Lieder Ohne Worte dan van Fr. Liszt ‘Symphonische Gedichte’…Singkatnya, imajinasi pendengar harus mendorong ke arah tertentu, sehingga mereka harus menjadi lebih dekat dengan artis agar dapat menangkap pengalaman (nuansa) musik itu sendiri…Tapi cara kita pada masa ini adalah dengan merespon yakni yang secara teknis harus dapat mencapai secara luas dalam semua jenis musik (meskipun itu jauh ke Hindia atau bahkan ke wilayah pedalaman). Kita telah kehilangan musik pada satu era, kehadiran music masa lalu kita telah lenyap (tidak terekam). Kita harus mendapat perhatian lebih dan lebih agar musik (tradisi) tidak hilang disini (di Indonesia).

Dalam kuliah tersebut Dr. Karl Halusa tampaknya ingin menekankan bahwa jangan sampai terulang (kembali) suatu musik yang pernah hidup pada suatu masa, apakah karena ada suatu larangan (seperti di Eropa) atau karena kemalasan (tidak berminat) untuk melestarikannya. Setelah memberi presentasu di Medan, Dr. Karl Halusa dijadwalkan akan memberi kuliah musik di Bandoeng. Namun sangat disayangkan, Dr. Halusa terpaksa dibatalkan di Bandoeng karena kurangnya peminat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-09-1936). Sementara itu, di Malang, Halusa dilaporkan mendapat sambutan yang pantas ketika memberikan kuliah gratis (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-10-1936). Dari Malang, Halusa kembali ke Batavia dan dalam perkembangannya Dr. Halusa akan melakukan riset musik ke Tanah Batak.

Tentu saja Dr. Karl Halusa di Batavia akan menganalisisi hasil kunjungannya ke sejumlah kota di Jawa dan kota Medan. Dr. Karl Halusa menjadi semacam kurator musik di lembaga ilmu pengetahuan Batavia. Ternyata kemudian, Dr. Halusa sangat tertarik dan ingin kembali lagi ke Medan untuk memberikan kuliah pada bulan Oktober 1937. Uniknya Dr. Karl Halusa tidak hanya disponsori oleh lembaga ilmu pengetahuan di Batavia tetapi juga oleh Deutschen Gesellschaft für Natur-und Völkerkunde Ostasiens. Asosiasi ini didirikan di Tokyo pada tahun 1873. Sekitar dua tahun yang lalu asosiasi ini dibuka cabang di Batavia. Tujuannya asosiasi peminat musik negara Timur ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang penggunaan dan kebiasaan negara-negara asing. Presentasi Dr. Karl Halusa dilakukan di Grand Hotel Medan. Dalam presentasi ini, Dr Halusa membawa tema ‘Der Sinn der Vökerkunde’ (lihat De Sumatra post, 06-10-1937). Dalam kunjungan Dr. Karl Halusa ke Medan termasuk untuk melakukan riset musik di Tanah Batak selama 12-14 minggu.

Apa yang menarik bagi Karl Halusa dengan musik tradisi Batak? Ternyata Dr. Halusa sangat puas dan telah menemukan sedikitnya ada 40 jenis instrumen musik Batak, baik yang dimainkan laki-laki maupun perempuan. Temuan ini dilaporkan pada bulan Maret 1938 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-03-1938). Disebutkan telah mengunjungi Karolanden, Bataklanden dan Zuid Tapanoeli.

Yang cukup mengejutkan, Karl Halusa, PhD ahli musik dari Wina menduga musik Batak telah berkembang sejak lama mendahului yang lain. Yang membedakan musik tradisi Batak dengan yang lain menurut Halusa adalah drum atau gondang. Menurut Halusa musik tradisi Batak juga telah dipengaruhi oleh  musik Eropa dan juga musik dari Arab. Musik tradisi Batak memiliki banyak melodi bahkan mencapai 48 melodi yang berbeda di Karolanden (De Telegraaf, 14-01-1938). Banyaknya melodi di Karolanden diduga adanya tambahan pengaruh Arab yang dapat dijelaskan dengan kontak yang kuat dengan Atjeh, yakni bermain dengan cara drum bespeling yang telah diterapkan pada musik Batak. Sebelumnya Dr. Karl Halusa telah memberi statement bahwa perbedaan lainnya bahwa orchest Karolanden adalah yang terkecil dibanding yang lain dan di Zuid Tapanoeli cenderung lebih besar. Karolanden hanya memiliki dua trommen dan satu dezer trommen (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-12-1937). Hal lain juga yang tidak kalah penting, meski Tanah Batak masih digolongkan daerah primitive (saat itu), tetapi Dr. Halusa telah membuat rekaman yang sangat banyak, jumlahnya bahkan mencapai 175 buah (De Indische courant, 15-12-1937). Dalam surat kabar De Sumatra post, 18-12-1937 Dr Halusa juga menggarisbawahi bahwa secara umum harus dicatat, bagaimanapun, bahwa musik tradisi Batak juga dipengaruh oleh musik Eropa modern, jazz dan musik Hawaiian. Di daerah Kristen (Toba en Silinedoeng) untuk memainkan musik asli dilarang karena dianggap musik asli masih ada pengaruh pagan. Sementara dari sudut pandang musicological, kebaikan beberapa raja di Simaloengoen membuat upaya untuk mempertahankan musik asli terkesan lebih banyak dibanding daerah yang lain dan bahkan diajarkan di sekolah-sekolah rakyat. Musik di daerah ini sangat terhubung dengan religi. Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 29-07-1938 mengutip bahwa music tradisi Simaloengen terkesan lebih hidup dan paling menarik perhatian.

Bagaimana Dr. Halusa melakukan perekaman dan interaksinya dengan para pemain pada lokasi penelitian yang berbeda selama empat bulan. Mungkin ini soal remeh temeh tetapi perlu juga dicatat karena sangat mempengaruhi dalam teknik perekaman. Di Karolanden, Halusa harus bersusah payah, karena banyak diantara pemain yang ketakutan apalagi dengan penggunaan mikrofon. Alasan mereka: ‘Kami membuat musik, bukan karena kita bisa melakukannya sendiri tetapi karena kita diperintahkan oleh roh-roh’. Sebaliknya di Zuid Tapanoeli, kata Dr Halusa, bahwa penduduk tidak takut sedikit pun atau ragu-ragu mengenai kesediaan untuk bermain untuk mikrofon, malahan sangat bersemangat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-12-1937). Bagaimana hal itu berbeda di Zuid Tapanpoeli, karena para pemuda dan pemudi di waktu senggang terbiasa melakukan musik dan tari (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907).

Beberapa bulan sebelum Dr. Karl Halusa memulai risetnya di Tanah Batak, tercatat radio-radio telah menyiarkan muziek Batak, seperti Radio Pemerintah (NIROM) di Batavia, Bandoeng, Solo, Djogja, Semarang dan Surabaya. Boleh jadi ini karena faktor pengaruh Dr. Karl Halusa. Tidak diketahui secara jelas apakah radio swasta sudah menyiarkan musik tradisi.

Soerabaijasch handelsblad, 23-04-1934
Selama ini musik sudah direkam dalam bentuk pringan hitam yang jumlah pengguna masih terbatas. Radio adalah salah satu upaya untuk menyebarluaskan musik ke tengah khalayak (sehubungan dengan munculnya stasion radio dan diperjualbelikannya radio penerima. Radio sendiri di Hindia Belanda belumlah lama, Stasion radion pertama muncul di Batavia pada tahun 1925 yang dikelola oleh swasta. Lalu kemudian muncul di kota-kota besar lainnya. Pada tahun 1927 didirikan radio pemerintah (lihat Voorwaarts, 16-08-1927). Radio pemerintah merupakan kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan Jerman dan layanan telepon pemerintah yang disebut Nederlandsen-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM). Asosiasi radio penyiaran dibentuk pada tahun 1929 (lihat De Sumatra post, 09-04-1929). Jam siaran radio masih terbatas dari pukul 5 pagi hingga pukul 10 lalu berkembang menjadi pukul 10 malam. Sementara itu program/agenda radio dimuat di surat kabar baru muncul pada tahun 1930 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-09-1930). Dari  agenda radio inilah diketahui sejak kapan musik tradisi muncul kali pertama.   

Bagaimana musik Batak ini dipersiapkan untuk disiarkan tidak dijelaskan apakah disiarkan secara live atau hasil perekaman. Musik Batak ini diduga kuat dipersiapkan oleh para pemuda Batak yang tergabung dalam Jong Batak dengan nama Jong Batak orchest (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-08-1937). Kemudian musik Batak ini berkembang yang dimainkan oleh grup mandiri Batak Orchest, seperti yang dibawakan oleh grup Andalas (lihat De Indische courant, 28-01-1938. Nyanyian (liedren) dari Sipirok disiarkan oleh Bandoeng II, Batavia II dan PMH (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-09-1939).

Het nieuws van den dag voor N-Indie, 27-08-1937
Dalam hal ini musik Batak terbilang salah satu musik tradisi pertama yang disiarkan di radio (paling tidak di radio NIROM). Musik-musik yang disiarkan radio (NIROM) adalah musik-musik Eropa/Amerika. Langkanya musik tradisi di radio diduga karena faktor kesulitan dalam perekaman. Selain musik Batak, juga disiarkan musik dari Melajoe, Jawa dan Bali serta Soenda.

Setelah sukses di Tanah Batak, Dr. Halusa melanjutkan studi musik ke Bali (De Indische courant, 30-06-1938), lalu kemudian melakukan studi musik selama tiga bulan di Jawa (Soerabaijasch handelsblad, 19-10-1939). Studi Karl Halusa di Jawa dan Bali dibiayai oleh pemerintah, sedangkan studi Karl Halusi di Tanah Batak dibiayai oleh badan internasional yang bepusat di Tokyo.

Tunggu deskripsi lengkanya

Fenomena Alip Ba Ta: From Javaansche Rhapsody to Bohemian Rhapsody

Paul Seelig dan Karl Hanusa adalah dua orang yang ahli di bidangnya pada musik. Mereka berdua dapat dikatakan sebagai orang-orang pertama yang terlibat langsung dalam dunia musik di Indonesia. Karl Halusa telah mencatat lagu-lagu rakyat dan merekam di lapangan nyanyian dan musik yang dinyanyikan penduduk. Sejumlah lagu-lagu rakyat (NN/No Name) yang populer hingga sekarang termasuk dalam catatan Hanusa yang terus bertahan seperti Si Jali-jali (Betawi), Rek Ayo Rek (Jawa) dan Inang Sarge (Batak). Paul Seelig sendiri terkenal dengan hasil karyanya yang membuat komposisi baru dalam musik dengan menggabungkan musik tradisi (elemen gamelan) dengan musik barat (pop/klasik) yang disebutnya Javaansche Rhapsody.

Paul Seeling seorang praktisi musik, pemain musik dan membuat komposisi musik dan mementaskannya. Paul Seelig adalah pionir dalam komposisi musik tradisi (Jawa) yang digabung dengan musik barat (Eropa). Karyanya yang disebut Javaansche Rhapsody telah dipentaskannya pada tahun 1909 di berbagai kota di Indonesia. Paul Seebig sangat populer di berbagai tempat di Eropa dan Amerika Serikat. Karl Hanusa yang berasal dari Austria adalah seorang berdarah Jerman, dosen dan peneliti musik di Uniersitas Wina. Atas kemampuan akademiknya itulah orang-orang Belanda mengundangnya sebagai tenaga ahli di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Ketika Karl Halusa melakukan rekaman musik di Tanah Batak membawa alat perekaman sendiri. Suatu metode perekam pertama diterapkan di dunia (selama ini perekaman selalu dilakukan di dalam studio). Apakah alat perekam ini yang menjadi cikal bakal alat perekam portabel?

Kata rhapsody mangcu pada bahasa Jerman yang diserap dalam bahasa Inggris. Rhapsody diartikan sebagai suatu kegembiraan dalam karya seni termasuk komposisi sastra dan komposisi musik. Rhapsody juga diartikan sebagai suatu percampuran yang menghasilkan kesenangan dan kegembiraan. Paul Seelig dalam mengaransemen musik dengan memadukan elemen musik tradisi dan elemen musik barat diduga telah menghasilkan musik gembiara (riang). Terminologi rhapsody dalam musik diduga dipopulerkan oleh orang-orang yang berasal dari Jerman termasuk Paul Seeling yang menyebut komposisinya pada tahun 1909 sebagai Javaansche Rhapsody.

Gedung Bohemian runtuh (Het volk, 13-01-1934)
Ini mengindikasikan bahwa penggunaaan kata rhapsody dalam judul komposisi sudah dilakukan oleh Paul Seelig sebelum grup band Queen memberi nama salah satu komposisi mereka dengan nama Bohemian Rhapsody. Lagu karya Queen tersebut dipopulerkan pada tahun 1975. Lagu berjudul Bohemian Rhapsody dapat dibilang sebagai lagu legendaris yang terus mendapat perhatian hingga ini hari. Alip Ba Ta \menggubah lagu ini dengan musik one man band (fingerstyle) dengan sangat sempurna dan mendapat pujian dari berbagai kalangan termasuk pemusik maupun para penikmat musik. Bohemian sendiri adalah suatu gaya hidup baru di kota-kota dari kelompok masyarakat tertentu yang juga diantaranya mereka tertarik pada musik dan sastra. Oleh karenanya Bohemian Rhapsody adalah dua kata yang memiliki kimia yang senyawa yang dapat digabungkan dalam satu nama. Klub-klub para bohemian ini selain di Eropa juga terdapat di Amerika. Gedung para bohemian, Bohemian Clubhouse (Het Bohemian Clubhuis) di Los Angeles pernah diterjang banjir bandang tepat pada malam tahun baru 1934 (lihat Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 13-01-1934). Akibat terjangan banjir ini, gedung para bohemian ini runtuh dan banyak para pengunjung yang meninggal dan kemudian korban jiwa dimakamkan di tempat reruntuhan gedung mereka itu sendiri.  

Alip Ba Ta sangat banyak mencover lagu-lagu legendaris seperti Bohemian Rhapsody Lagu-lagu legendaris tersebut termasuk Bengawan Solo, My Heart Will Go On dan Hotel California. Lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang adalah lagu bergenre kroncong, suatu genre musik perpaduan elemen musik barat dan Jawa yang boleh jadi dalam hal ini musik kroncong adalah kata lain dari Javaansche Rhapsody? Lagu Bohemian Rhapsody yang dibawakan Alip Ba Ta dalam fingerstyle telah mendapat apresiasi dari Dr. Brian May (persenoel Queen). Lagu My Heart Will Go On dicover Alip Ba Ta dengan tambahan alat musik recorder. Lagu ini dipopulerkan oleh Celine Dion sebagai sound track film Titanic (lihat artikel dalam blog ini Sejarah Menjadi Indonesia (17): Kapal Titanic 1912 dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck 1936; Kapal Tampomas II, 1980).

Hotel California (Algemeen Handelsblad, 09-07-1925)
Seperti halnya Bohemian Rhapsody dari grup band Queen, lagu  Hotel California yang diciptakan grup musik The Eagles yang dicover Alip Ba Ta juga cukup diminati oleh berbagai kalangan terutama kalangan yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Lagu Hotel California yang mengisahkan terkait nama hotel tersebut dicover oleh Alip Ba Ta telah ditonton jutaan orang. Lagu Hotel California ini termasuk legendaris yang populer tahun 1977. Hotel California sendiri adalah nama suatu hotel legendaris tempo doeloe di Santa Barbara (Los Angeles, California). Hotel California telah runtuh pada tahun 1925 ketika terjadi gempa besar di California (lihat Algemeen Handelsblad, 09-07-1925). Hotel California di Santa Barbara dibangun kembali. Jaringan hotel Hotel California juga terdapat di Paris, Prancis (lihat De Indische courant, 31-12-1929). Jaringan hotel Amerika juga terdapat di Indonesia pada tahun 1922 di Bogor (Buitenzorg) dengan nama Hotel America (hotel ini kini dikenal sebagai Hotel Salak Bogor). Dalam perkembangannya  nama Hotel California muncul lagi di Santa Barbara, Los Angeles, Californio. Hotel California di Los Angeles ini diberitakan terbakar pada tahun 1981 (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 18-06-1981). Hotel California di California (Santa Barbara, Los Angeles) yang menjadi inspirasi bagi The Eagles tidak begitu jelas apakah dibangun lagi dengan nama yang sama. Namun yang jelas saya pernah menginap dua malam di hotel ini pada tahun 1997 ketika saya mengikuti inhouse training dalam bidang research selama sebulan di Rand Corporation, Santa Monica. Hotel ini memiliki desain arsitektur bergaya Maroko. Apakah Hotel California menjadi lost hotel di California yang menjadi inspirasi The Eagles telah hilang selamanya di Los Angeles?.   

Tunggu deskripsi lengkanya

Lagu Indonesia Raya Karya WR Supratman

Satu yang terpenting dari sejarah musik Indonesia adalah tentang lagu kebangsaan Indonesia yang diciptakan oleh WR Supratman yang diberi judul Indonesia Raya. Lagu ciptaan WR Supratman ini kali pertama diperdengarkan pada saat diadakan Kongres Pemuda pada tahun 1928. Lagu ini tentu saja akan abadi karena sudah diadopsi menjadi lagu kebangsaan (naional anthem) Indonesia. Lagu Indonesia Raya lahir di awal kebangkitan bangsa dalam melawan penjajahan.

Pada tahun 1927 Parada Harahap menggagas perluanya semua organisasi kebangsaan dipersatukan dalam suatu wadah yang kemudian disebut Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia disingkat PPPKI. Yang ditunjuk sebagai ketua adalah MH Thamrin dan Parada Harahap sebagai sekretaris. Parada Harahap adalah pendiri kantor berita pribumi Alpena (didirikan 1925), pemilik/editor harian Bintang Timoer di Batavia (didirikan 1926), sekretaris Sumatranen Bond (juga pernah menjadi ketua Bataksche Bond) dan ketua kamar dagang dan inudstri pribumi di Batavia (semacam Kadin pada masa ini). Program pertama PPPKI adalah membangun gedung dan menyelenggarakan Kongres PPPKI pada bulan September 1929. Sebagai kepala kantor PPPKI di gang  Kenari, Parada Harahap hanya memajang tiga potret: Diponegoro, Soekarno dan Mohamad Hatta. Surat kabar Bintang Timoer menjadi corong PPPKI. Kongres PPPKI yang akan diadakan diintegrasikan dengan Kongres Pemuda yang akan diadakan pada bulan berikutnya (Oktober). Ketua Panitia Kongres PPPKI ditunjuk Dr. Soetomo, sementara Panitia Kongres Pemuda terdiri dari: sebagai ketua adalah Soegondo (ketua PPPI, onderbouw PPPKI); sebagai sekretaris adalah Mohamad Jamin (dari Jong Sumatranen Bond); dan sebagai bendahara Amir Sjarifoeddin Harahap (dari Jong Bataksche Bond). Ketiga pemuda ini adalah mahasiswa Rechthoogeschool di Batavia. Sebelumnya pembentukan PPPKI diadakan di rumah Hoessein Djajadiningrat (yang menjabat sebagai dekan Rechthoogeschool). Jauh sebelumnya semasa mahasiswa di Belanda, Hoessein Djajadiningrat adalah sekretaris Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Indische Vereeniging) yang dibentuk di Leiden tahun 1908 yang mana sebagai ketua/penggagas adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Sebelum merantai ke Batavia, Parada Harahap mendirikan surat kabar Sinar Merdeka 1919 di Padang Sidempoean, Parada Harahap juga merangkap sebagai editor surat kabar Poestaha yang didirikan Soetan Casajangan pada tahun 1915. Saat pembentuan PPPKI di rumah Hoesein Djajadiningrat, Soetan Casajangan adalah direktur sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Dalam hubungan inilah keterkaitan Kongres PPPKI (senior) dan Kongres Pemuda (junior) terkait satu sama lain. Satu keputusan terpenting Kongres PPPKI adalah mengubah PPPKI menjadi organisasi politik dengan mengubah namanya menjadi Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Politik Indonesia yang juga disingkat PPPKI. Sementara itu hasil keputusan Kongres Pemuda yang terpenting adalah Putusan Kongres: Satu Niusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia. Dalam saat pembacaan Putusan Kongres inilah lagu Indonesia Raya karya WR Supratman diperdengarkan dengan iringan biola. WR Supratman adalah editor kantor berita Alpena (yang mana WR Supratman yang masih lajang tinggal di rumah Parada Harahap). Parada Harahap juga sangat dekat dengan Amir Sjarifoeddin Harahap (seorang pemain biola). Dua kongres ini disponsori oleh Kadin Batavia yang diketuai oleh Parada Harahap yang menyebabkan bendahara Panitia Kongres Pemuda diangkat Amir Sjarifoeddin Harahap. Tidak ada yang berdiri sendiri, semua terhubung satu sama lain.       

Pada era perjuangan pemuda tahun 1928, satu grup musik tradisi yang terkenal di Batavia adalah Jong Batak Orchest. Salah satu pemain band (orchest) Jong Batak ini adalah seorang mahasiswa keguruan benama Nahum Sitoemorang. Dalam lomba cipta lagu kebangsaan yang diketuai oleh Parada Harahap, Nahum Sitoemorang juga mengirimkan karyanya. Namun akhirnya yang terpilih adalah karya WR Supratman. Nahum Sitoemorang dikenal sebagai musisi dan komponis lagu-lagu Batak. Seperti disebutkan di atas, Jong Batak Orchest inilah yang membawakan lagu-lagu Batak yang kali pertama disiarkan di radio (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-08-1937).

Piringan lagu 'Indonesia Raya' oleh WR Supratma
Bataksche Bond didirikan oleh Dr. Abdul Rasjid Siregar tahun 1919 di Batavia. Jong Batak adalah organisasi pemuda dari Bataksche Bond. Sejak pendirian Jong Batak kemudian dibentuk Jong Batak Orchest, suatu grup musik pertama di Batavia. Lalu grup-grup musik lain bermunculan baik yang berbahasa Melayu (lingua franca) maupan berbahasa daerah seperti Batak dan Jawa. Salah satu grup musik terkenal lainnya adalah grup musik yang dibentuk ole Toko Populair. Toko ini juga melakukan kegiatan rekaman. Salah satu hasil rekaman toko/grup musik Populair ini yang dijual ke publik (dalam bentuk piringan hitam) adalah lagu berjudul Indonesia Raja karya WR Supratman. Besar dugaan lagu Indonesia Raja yang diproduksi Toko Populair ini yang diaransemen ulang dengan perubaan lirik oleh WR Supratman lalu dikirimkan pada lomba lagu kebangsaan.  

Tunggu deskripsi lengkanya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar