Senin, 03 Agustus 2020

Sejarah Pulau Bali (24): Sejarah Pelabuhan di Pulau Bali; Boeleleng hingga Koeta dan Laboehan Amok hingga Gili Manok


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Pelabuhan adalah entry point bagi orang asing (Eropa, Cina dan pribumi) untuk berinteraksi dengan orang Bali di pulau Bali. Seperti banyak penulis tempo doeloe mengidentifikasi orang Bali bukanlah pelaut. Oleh karena itu, untuk terjadinya transaksi perdagangan, sejumlah titik pantai di pulau Bali dibuka untuk orang asing. Pelabuhan-pelabuhan yang dibuka hanya sekadar untuk fungsi pabean (orang asing dihalangi masuk ke pedalaman). Orang-orang asing hanya diizinkan berdiam di pantai-pantai.

Tidak diketahui pelabuhan mana yang sudah ada (terbentuk) di pulau Bali sebelum kedatangan orang Belanda. Satu-satunya keterangan yang ditemukan adalah pada ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman berlabuh di suatu teluk di pantai timur Bali (1597). Di pelabuhan ini Cornelis de Houtman dan telah bertemu dengan rombongan Radja Bali. Pelabuhan ini kelak diketahui sebagai pelabuhan Laboehan Amok, sedangkan teluk dimana berada pelabuhan tersebut disebut (dicatat) orang-orang Belanda berikutnya sebagai Baai van Padang atau Padang Baai. Dalam bahasa Belanda, baai diartikan sebagai teluk. Nama Padang Bai pada masa ini diduga berasal dari penamaan oleh orang Belanda.

Pelabuhan Laboehan Amok boleh dikatakan adalah pelabuhan pertama orang Bali di pulau Bali (pantai timur Bali). Boleh jadi di bagian lain pulau Bali (pada waktu yang sama) sudah terbentuk pelabuhan lain yang dimana orang asing menetap (anggap saja di pantai utara dan di pantai barat Bali). Orang asing tersebut antara lain Portugis, Melajoe, Jawa, Bugis dan lainnya. Lantas apa pentingnya pelabuhan-pelabuhan tersebut? Yang jelas pelabuhan adalah pintu masuk ke suatu pulau dan pelabuhan adalah tempat transaksi yang menjadi cikal bakal terbentuknya pelabuhan-pelabuhan masa kini. Itulah sebab mengapa pelabuhan adalah bagian dari sejarah. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Laboehan Amok dan Baai van Padang

Keberhasilan pelaut-pelaut Belanda mencapai Hindia Timur 1596-1597 menjadi sangat heboh di Belanda. Ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de tidak hanya mencapai Hindia Timur tetapi juga telah kembali ke Belanda (1597). Satu yang penting pasca kepulangan Cornelis de Houtman adalah diterbitkannnya laporan perjalanan mereka yang dipublikasikan tahun 1598 dengan judul ‘Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent,...’. Jurnal ini sepenuhnya berisi catatan hari demi hari tentang ekspedisi yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman yang dimulai pada tanggal 2 April 1595 dengan total 249 orang. Peta-peta di dalam jurnal ini (termasuk peta pulau Bali) kemudian direproduksi oleh Barent Langenes tahun 1598.

Di dalam jurnal ini juga berisi beberapa peta termasuk peta pulau Sumatra, peta pulau Jawa dan peta pulau Bali. Peta-peta dalamm jurnal ini telah memperbarui peta-peta laa yang dibuat oleh Portugis. Pada tahun terbut jurnal tersebut, seorang pelukis di Belanda memproduksi ulang peta-peta tersebut dan menerbitkannya sebagai peta saku (berwarna). Pelukis dan penerbit tersebut adalah Barent Langenes. Dari naanya dia bukan orang asli Belanda tetapi diduga berasal dari Portugis. Peta-peta yang diterbitkannya itu beredar tahun 1598 dengan judul yang telah diterjemahkan [(The Description of a Voyage Made by Certaine Ships of Holland Into the East Indies Vvith Their Aduentures and Successe: Together with the Description ... Townes, and Inhabitantes of the Same (1598)].

Dalam peta reproduksi Barent Langenes (1598) diidentifikasi dua pelabuhan penting di pulau Bali. Barent Langenes coba membuat ilustrasi dengan menggambar tiga kapal berlabuh di pantai timur dan satu kapal di pantai barat. Namun jumlah kapal itu dalam ilustrasi itu salah. Karena saat ekspedis Cornelis de Houtman merapat ke pelabuhan pantai timur Bali kapal hanya tersisa dua buah (satu kapal yang rusak telah dibakar dan ditenggelamkan di perairan Lombok). Dalam pelayaran, tiga kapal dan kemudian enjadi dua kapal tidak pernah terpisah. Dalam illustrasi peta seakan hanya satu kapal yang merapat di pelabuhan pantai barat.

Ilustrasi peta buatan Barent Langenes ini haruslah diartikan untuk mengidentifikasi kapal-kapal Cornelis de Houtman telah merapat di pantai timur dan sebelum pulang ke Belanda merapat di suatu pelabuhan di pantai barat. Pelabuhan di pantai timur ini kemudian dikenal sebagai pelabuhan Laboehan Amok (Karangasem), sementara pelabuhan di pantai barat kemudian dikenal sebagai pelabuhan Loloan (Djembrana). Dua pelabuhan inilah yang dapat dikatakan sebagai pelabuhan terawal di pulau Bali, suatu pelabuha yang diidentifikasi sejak awal.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perkembangan Pelabuhan di Bali dari Masa ke Masa

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar