Kamis, 06 Agustus 2020

Sejarah Pulau Bali (28): Sejarah Sepak Bola di Bali, Sejak Kapan? Pertandingan Sabung Ayam hingga Permainan Sepak Bola Indah


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada sejarah sepak bola di pulau Bali? Tentu saja ada, tetapi tidak terinformasikan. Jika di pulau Lombok sepak bola sudah dikenal sejak 1910, lantas sejak kapan sepak bola mulai dimainkan di pulau Bali? Mungkin pertanyaan ini tidak penting-penting amat, karena sepak bola di Bali pada masa ini sangat bersemangat dengan bendera Bali United dan kemegahan stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar.

 

Persatuan Sepak bola Indonesia Denpasar (PERSEDEN) kini menjadi sebuah klub sepak bola Indonesia yang bermarkas di Kota Denpasar, Klub ini awalnya adalah suatu perserikatan sepak bola (Voerbalbond), suatu perserikatan yang dibentuk tahun 1991. Tentu saja Perseden tidak setua perserikatan di kota-kota besar seperti Persija (Jakarta), Persib (Bandung), Persebaya (Surabaya), PSM (Makassar) dan PSMS (Medan). Perseden sendiri didahului oleh pendirian klub sepak bola yang berkompetisi pada era sepak bola Galatama. Klub tersebut yang didirikan pada tahun 1989 diberi nama Gelora Dewata. Namun klub semi-pro ini harus berakhir dengan berganti nama menjadi klub Deltras Sidoarjo. Pada tahun 1911 terjadi kisruh PSSI sehingga muncul dualise sepak bola Indonesia dengan munculnya competitor PSSI yang diberi naa KPSI.  Federasi baru KPSI ini menyelenggarakan liga sendiri yang disebut Liga Prima Indonesia (LPI) sebagai alternatif dari liga sebelumnya (Liga Sepak Bola Indonesia-LSI). Pada liga LPI ini kemudian berdiri klub sepak bola di Bali dengan nama Bali Devata United (kemudian menjadi Bali Devata FC). Namun itu tidak lama hingga relokasinya klub sepak bola dari Samarinda (Pusam) ke Bali. Klub inilah yang kemudian berganti nama dengan nama baru Bali United FC (yang bermarkas di stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Klub sepak bola Bali United adalah satu hal. Namun sebelum perserikatan sepak bola Perseden terbentuk tempo dulu, ada satu masa di masa sebelumnya yang mana sepak bola mulai dikenal di pulau Bali. Lantas sejak kapan sepak bola kali pertama muncul di pulau Bali dan bagaimana sejarahnya hingga tumbuh dan berkembang hingga ini hari. Yang jelas, sebelum ada Perseden, tempo doeloe di bali sudah terbentuk Persibal (Persatoean Sepakbola Bali). Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Persibal: Persatoean Sepakbola Bali

Pasca pengakuaan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949) gairah sepak bola orang-orang Indonesia semakin intens dan semakin meluas. Kegairahan itu meningkat tidak hanya karena sepak bola dipertandingkan dala PON (Pekan Olah Raga Nasional) tetapi juga karena PSSI memiliki program sendiri, memasyarakatkan sepak bola dan menyelenggarakan kejuaraan nasional. Pada tahun 1953 Indonesia Timur dijadikan PSSI sebagai satu zona sepak bola dimana Bali termasuk di dalamnya.

De vrije pers : ochtendbulletin, 14-03-1953: ‘Persatoean sepak bola di Djawa Barat meminta PSSI untuk meninjau kembali pembagian zona sepak bola Indonesia sehubungan dengan penyelenggarakan kejuaraan PSSI 1953/1954. Djawa Barat menginginkan zona yang baru sebagai berikut: zona A-I: seluruh Sumatra; zona A-II: Djakarta Raya dan Pontianak; zona B: Jawa Barat; zona C: Jawa Tengah; zona D: Jawa Timur dengan Bandjarmasin; zona E: Bali, Balikpapan, Samarinda. Makassar, Menado, Ambón dll’. Keterangan ini mengindikasikan bahwa di Bali sudah eksis sepak bola.

Juara zona Indonesia Timur adalah PSM Makassar yang mewakili ke kejuaraan nasional. Dalam kejuaraan nasional 1953/1954 yang menjadi champion adalah Persidja dan sebagai runner-up adalah PSMS Medan. Kejuaraan nasional ini diadakan di beberapa kota di Jawa. Sementara itu, di Indonesia Timur, tampaknya ayam jantan dari tiur PSM Makassar terlalu tangguh, relatif terhadap daerah-daerah lainnya yang satu zona. Bali sendiri tidak berpartisipasi.

Sejarah sepak bola di Makassar sudah lama. Sepak bola di Makassar sudah dikenal sejak 1909. Pada tahun 1915 di Makassar dibentuk perserikatan dengan nama Makassar Voetbalbon (MVB). Perserikatan inilah yang kemudian bermetamorfosis menjadi perserikatan PSM Makassar. Dalam kejuaraan PSSI yang pertama dimulai pada tahun 1951 PSM Makassar ikut berpartisipasi. PSMS Medan dan Perseban (Bandjarmasin) mengundurkan diri. Yang menjadi juara pada tahun 1950 adalah Persibaja (Soerabaja) dan sebagai runner-up adalah PSM. Bali sendiri berbeda zona dengan PSM. Bali pada prakualifikasi 1951 berada di zona yang sama dengan daerah Jawa Timur yakni rayon bagian timur Jawa Timur seperti Banjoewangi, Djember, Loemadjang dan lainnya.

Bali kalah start dibanding daerah-daerah lain. Tidak berpartisipasinya Persibal Bali dalam kejuaraan PSSI 1953/1954 boleh jadi membuat PSSI harus terjun langsung untuk mendorong Bali agar terus meningkatkan kinerjanya. Untuk menghadapi kejuaraan sepak bola nasional PSSI tahun 1955, PSSI mengirim pelatih tim nasional ke Bali (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-05-1955). Pelatih tersebut adalah Tony Pogacnik.

Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-05-1955: ‘Melatih tim Bali. Menurut Persibal, Persatoean Sepakbola Bali melaporkan, pelatih Jugoslavia dari PSSI, Tony Pogacnik, akan melatih tim-tim Bali. Pada tanggal 30 April, Pogacnik akan tiba di Denpasar, dimana ia akan memulai keesokan harinya dengan programnya, yang terlihat seperti ini: 1-7 Mei di Denpasar; 8-14 Mei di Tabanan; dan 15-21 Mei di Singaradja. Dari tanggal 22 Mei hingga 24 Mei, turnamen segitiga akan diselenggarakan antara tim-tim yang disebutkan di atas’.

Namun Persibal Bali tampaknya tidak kuasa. Dalam kejuaraan sepakbola nasional PSSI 1955 (yang berakhir 1957) kembali Bali tidak berpartisipasi. Yang menjadi champion adalah PSM Makassar. PSMS Medan kembali sebagai runner-up. Pada kejuaraan sepakbola nasional PSSI 1957 Bali berpartisipasi. Ini menunjukkan bahwa sepak bola Bali bangkit. Program PSSI mengirim Tony Pogacnik ke Bali telah membuahkan hasil.

Persibal Bali sebagai representasi sepak bola di pulau Bali. Dalam prakualifikasi di zona Kalimantran dan Nusatenggara, Persibal Bali yang mewakili ke babak selanjutnya. Dalam babak penyisihan Persibal Bali satu grup dengan Persik Kediri dan PSA Ambon. Persibal Bali menjadi juara grup yang bersama dengan juara grup lain (PSIS Semarang) untuk melakukan playoff dengan dua tim lainnya (Persebaja Soerabaja dan Persema Malang). Persibal Bali tidak kuasa dan hanya berada di peringkat keempat yang mana dua tim teratas (PSIS dan Persibaja) berhak maju ke babak final bersama-sama dengan PSM, Persib Bandung, Persidja, PSP Padang dan PSMS. Yang menjadi juara adalah PSM dengan runner-up Persib. Sementara PSMS berada di peringkat paling bawah dari tujuh tim.

Setelah kejuaraan nasional 1957 lantas apakah sepak bola Bali (Persibal) sudah tamat? Dan apakah sepak bola Medan (PSMS) sudah loyo? Tidak. Setelah wakil Bali di dalam kejuaraan nasional PSSI tidak pernah muncul lagi, pada kejuaraan nasional PSSI tahun 1973 muncul lagi wakil Bali, bukan Persibal, tetapi Perseden (Denpasar). Persibal tapaknya sudah dilikuidasi dan terbentuk perserikatan-perserikatan baru di Bali, seperti Perseden di Denpasar. Dalam kejuaran 1973 ini Perseden masuk dalam 18 Besar PSSI yang dibagi empat grup. Celakanya, Perseden dan PSMS satu grup bersama Persipura Jayapura dan PSB Bogor. Perseden berada di peringkat ketiga, sedangkan juara grup (PSMS Medan) dan runner-up maju ke babak 8 Besar. Pada partai puncak (final) tidak ada yang kalah: PSMS dan Persija berbagi juara (juara bersama).

Kejuaraan sepak bola nasional PSSI tahun 1973 (yang berakhir tahun 1975) menjadi yang ketiga bagi PSMS sebagai juara. PSMS menjadi juara kali pertaa pada kejuaraan tahun 1966/1967 dan kejuaraan tahun 1969/1971.

Pada kejuaraan sepak bola nasional PSSI tahun 1975 Perseden dan PSMS kembali berpartisipasi pada babak 18 Besar dan kedua tim berada dalam satu grup. Perseden hanya menempati peringkat ketiga, sedangkan PSMS bersama runner-up ke babak 8 Besar. Di partai Semi final PSMS kalah adu pinalti dengan Persija. PSMS berakhir pada peringkat ketiga setelah mengalahkan PSM di partai tempat ketiga.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bali United FC Membuat Sejarah Sepak Bola Bali

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

1 komentar: