*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini
Presiden RI Prabowo
hadir dalam perayaan Hari Republik India pada hari ini tanggal 26 Januaru
2026. Dalam perayaan yang agung tersebut, selain Presiden Prabowo sebagai tamu utama,
kontingen Indonesia juga turut serta Kontingen Patriot Indonesia yang tergabung
dalam pasukan defile India yakni Drumband Taruna Akademi Militer Genderang
Suling Canka Lokananta dan pasukan defile prajurit TNI. Status sebagai tamu utama dalam hal ini, juga
pernah diberikan kepada Presiden Soekarno pada Hari Republik India pertama pada
tahun 1950.
Hari Konstitusi (Samvidhāna Divasa), juga dikenal sebagai Hari Hukum Nasional, dirayakan di India pada tanggal 26 November setiap tahun untuk memperingati penerapan Konstitusi India . Pada tanggal 26 November 1949, Majelis Konstituante India mengadopsi Konstitusi India, dan mulai berlaku pada tanggal 26 Januari 1950. Tanggal 26 November ditetapkan sebagai Hari Konstitusi oleh Pemerintah India pada tanggal 19 November 2015 melalui pengumuman resmi. Perdana Menteri India Narendra Modi membuat pernyataan tersebut pada tanggal 11 Oktober 2015 saat meletakkan batu pertama tugu peringatan Patung Kesetaraan BR Ambedkar di Mumbai. Hari Konstitusi bukanlah hari libur umum (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Kemerdekaan India diperingati di Djakarta, 26 Januari 1950? Seperti disebut di atas, Hari Proklamasi Kemerdekaan India dibedakan dengan Hari Konstitusi India. Dalam Hari Konstitusi ini, yang disebut India’s Republic Day di New Delhi juga dihadiri Presiden RI sebagai tamu utama. Lalu bagaimana sejarah Hari Kemerdekaan India diperingati di Djakarta, 26 Januari 1950? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Kemerdekaan India Diperingati di Djakarta, 26 Januari 1950; Kini, Presiden RI dan Republic Day di N ew Delhi
Ada persamaan, tetapi juga banyak perbedaan antara Indonesia dan India. Perbedaan yang ada juga termasuk sama-sama eks jajahan, dimana India dijajah Inggris dan Indonesia dijajah Belanda. Indonesia merebut kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 (dimana seperti India, Mesir dan Pakistan mengakuainya). Oleh karena itu akibat-akibat yang ditimbulkannya juga berbeda.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyatakan
takluk kepada Sekutu yang dipimpin Amerika. Dalam ‘kekosongan’ ini Indonesia
memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Saat Sekutu/Inggris melakukan tugas evakuasi militer Jepang dan pembebasan interniran Eropa/Belanda di Indonesia (dimulai tanggal 29 September 1945), pihak Belanda (NICA) juga turut memasuki wilayah Indonesia. Belanda sendiri dalam hal ini memiliki kepentingan sendiri, paling tidak dalam soal para interniran Eropa/Belanda. Sekutu/Inggris sendiri baru akan keluar dari Indonesia setelah merasa yakin Belanda dapat mengatasi perlawanan orang Indonesia. Dalam konteks inilah perang terjadi di Indonesia (melawan Inggris/Belanda).
Amsterdamsch dagblad, 09-10-1945: ‘Nehroe ingin ke
Jawa. Pandit Jawaharlal Nehru, mantan Presiden Kongres India hari ini
menyatakan bahwa ia siap mengunjungi Jawa sebagai tanggapan atas undangan Ir
Soekarno, yang kemarin mengundang "empat pemimpin kemerdekaan" untuk
datang dan secara pribadi menginformasikan situasi tersebut. "Jika saya
dapat mengabdikan diri untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan cara apa
pun, saya dengan senang hati akan berkunjung ke Jawa meskipun pekerjaan saya
mendesak dan penting di India. Dia berkata; "Saya percaya bahwa kemerdekaan
kita ada di India, di Jawa atau di mana pun saling terkait". Ia
menambahkan, kunjungannya bergantung pada fasilitas perjalanan’.
Perang yang tidak pernah berhenti, Inggris mencoba menengahi antara Indonesia dan Belanda. Lord Killearn dari India didatangkan untuk menengahi di dalam perundingan: kesediaan gencatan senjata, perundingan kesekatan di Linggarjati yang kemudian ditandatangani tanggal 15 November 1946 yang di pihak Indonesia diwakili PM Soetan Sjahrir.
Namun tidak semua pemimpin Indonesia sepakat,
akibatnya kabinet Sjahrir tertekan hingga mengundurkan diri tanggal 27 Juni
1947. Meski kabinet yang dipimpin Mr Amir Sjarifoeddin Harahap (sejak 3 Juli
1947) perang tidak kunjung mereda.
Dalam perkembangannya, Belanda tidak hanya telah melanggar perjanjian Linggajati, Belanda juga telah melancarkan agresi militer ke wilayah Republik (dimulai 21 Juli 1947). Orang Belanda hanya berdalih bahwa yang dilakukan adalah aksi polisional. Namun orang Inggris melihatnya berbeda: mengapa ada mengatakan aksi polisi tetapi faktanya memajukan militer dengan menggunakan tank dan pesawat tempur.
Provinciale
Noord-Brabantsche courant Het huisgezin, 23-07-1947: ‘Sjahrir dalam perjalanan
ke India. Singapura, 22 Juli (A.P-). Mantan Perdana Menteri Indonesia Soetan
Sjahrir hari ini mengumumkan di Singapura bahwa ia akan mengunjungi Amerika
Serikat, India, dan Australia dalam misi khusus dari Presiden Indonesia
Sukarno. Banyak bantuan yang diharapkan dari India. Sjahrir sedang dalam
perjalanan ke India dengan pesawat khusus untuk mengunjungi negara-negara yang
bersimpati kepada Republik. Ia menjelaskan bahwa Presiden Sukarno menginginkan
dia untuk mengukur reaksi di sana dan menyusun laporan yang menjadi dasar bagi
Republik untuk mengambil tindakan apa pun yang mungkin diperlukan di masa
mendatang. Sjahrir mengatakan bahwa di India ia bermaksud bertemu Pandit Nehru,
Mohammed Ali Jinnah dan Lord Killearn (Utusan Khusus Inggris untuk Selatan,
Asia Timur yang bertindak sebagai mediator pada Konferensi Linggarjati dan akan
segera berangkat ke India). “Kami sangat mengharapkan bantuan dari India, baik
materiil maupun moral,” kata Sjahrir. Sjahrir lebih lanjut menyatakan bahwa dia
telah meninggalkan Jogjakarta pada pukul 03.00 dini hari dalam kegelapan dengan
pesawat angkut Dakota, untuk menghindari pemboman musuh dan tanpa sepengetahuan
Belanda. Pada Senin sore lapangan terbang tersebut telah menjadi sasaran
serangan udara Belanda. Sjahrir mengatakan bahwa orang Indonesia, selama dua
bulan masyarakat percaya bahwa konflik bersenjata tidak dapat dihindari.
“Pengeboman yang dilakukan Belanda tentu saja mengejutkan kami,” katanya. “Kami
tidak pernah menduga Belanda akan menggunakan taktik seperti itu, karena mereka
tahu betul bahwa Indonesia tidak memiliki pesawat” Sjahrir lebih lanjut
mengatakan bahwa Belanda, melalui tindakan militernya, “telah sepenuhnya
membatalkan Perjanjian Linggarjati”. Tentara Republik, katanya, memiliki cukup
senjata dan amunisi untuk perang panjang. “Negosiasi tidak dapat dimulai
sekarang berdasarkan perjanjian lama,” lanjutnya, “semuanya harus dimulai lagi,
karena Belanda telah mengabaikan semua perjanjian tersebut”.
Di New Delhi, Soetan Sjahrir bertemu dengan Pandit Nehru (lihat Algemeen Handelsblad, 25-07-1947). Juga disebutkan hari ini Sjahrir akan mengadakan pertemuan dengan Jinnah, calon Gubernur Jenderal Pakistan. Tidak lama kemudian Pakistan dan India menerima kemerdekaan dari Inggris. Pakistan menerima kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 14 Agustus 1947 dan esok harinya kepada India (15 Agustus 1945).
Algemeen Handelsblad, 15-08-1947: ‘Negara baru Pakistan. Kemarin, kelahiran negara baru Pakistan dirayakan di Karachi, di hadapan Mountbatten, yang memperoleh gelar Earl. Inggris akan melakukan segalanya, demikian dilaporkan, untuk mengamankan tempat bagi Pakistan di semua badan dan komisi internasional di mana India sebelumnya diwakili, sehingga baik Hindustan maupun Pakistan akan memiliki suara. Banyak negara telah mengakui Pakistan, Presiden Truman menyambutnya dalam lingkaran negara-negara. Banyak modal Hindu yang memang mengalir keluar dari Pakistan, tetapi karena negara ini berpotensi kaya, masuknya modal Inggris dan Amerika diperkirakan akan terjadi. Pakistan memiliki 107 juta penduduk, India (Hindustan) 227 juta, negara-negara kerajaan secara keseluruhan kurang dari 100 juta. Akan tetapi, karena ribuan umat Islam meninggalkan Hindustan dan umat Hindu Pakistan — di Calcutta ribuan pejalan kaki miskin berdesakan di tengah hujan lebat — migrasi ini tentu akan mengubah situasi. Khususnya kaum Sikh, yang lebih menyukai Hindustan, terlibat dalam pertempuran sengit dengan kaum Muslim di Punjab, khususnya di Lahore dan Amritsarl. Penetapan batas-batas provinsi Punjab dan Bengal (di wilayah barat laut dan timur laut) untuk dibagi menimbulkan banyak pertanyaan. kesulitan dengannya. Pidato Nehru. Bahwa umat Hindu mencari demokrasi sosial dan politik serta kebebasan beragama telah meyakinkan sedikit umat Muslim. Dengan demikian, beberapa bayangan menyelimuti perayaan kemerdekaan, meskipun pakaian, makanan, lencana, dan ongkos kirim telah didistribusikan. dapat dimengerti, amnesti tersebut diterima dengan baik’. Peta (Groninger dagblad, 14-08-1947)
Pemberian kemerdekaan kepada kedua negara tersebut dalam
konteks dominion dimana di masing-masing kedua negara tersebut ditempatkan
seorang Gubernur Jenderal Inggris (perwakilan Inggris di India dan di Pakistan).
Lantas apakah negara India sudah merdeka? Sudah, tetapi negara belum sepenuhnya
bulat (masih ada pejabat tinggi Inggris dan konstitusi India masih bersifat
sementara).
Algemeen Handelsblad, 16-08-1947:
‘Dominion India telah lahir. Setelah Mountbatten, mantan Raja Muda India,
menghadiri pembentukan Dominion baru pada hari Kamis di Karachi, ia hadir
sebagai Gubernur Raja di New Delhi pada hari Jumat. tempat lahirnya kekuasaan
India (Hindustan). Seperti Pakistan, India disambut ke dalam lingkaran
negara-negara oleh banyak negara. Peristiwa tersebut juga dirayakan di London
dengan pengibaran bendera negara-negara jajahan dan pidato-pidato. Sementara
itu, kebakaran besar terjadi di Lahore akibat kerusuhan dan ada kekhawatiran
apakah Pakistan, tanpa bantuan pemberontak Sikh, akan mampu mempertahankan
perbatasan barat laut, sebuah "gerbang" lama. Di dalam negeri
diharapkan Burma, India, dan Pakistan akan bersama-sama menyelenggarakan
pertahanan mereka’.
Namun apa yang telah terjadi di India tidak sesuai cita-cita Mahatma Gandhi. Bagaimana dengan di Indonesia? Sementara di satu sisi para Republiken tengah berperang melawan di Jawa dan Sumatra, di sisi lain telah terbentuk Negara Indonesia Timur. Kini, pembentukan Negara Sumatra Timur sedang terjadi. Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 terbelah.
De Volkskrant, 16-08-1947:
‘Cita-cita Gandhi tidak terwujud. Tidak ada nyanyian di Lancaster House.
Pakistan belum memiliki lagu kebangsaan. Upacara di sana singkat, karena
Komisaris Tinggi hanya menggunakan gedung itu selama dua jam. Di ibu kotanya,
Karachi, tuannya, Jinnah, Gubernur Jenderal pertama, dapat mendirikan dengan mengusir
KLM dari gedungnya, sebagaimana dikatakan reporter Volkskrant. Di London,
seorang perwakilan Pakistan sedang mencari ruang kantor untuk dirinya dan
stafnya. "Lebih mudah menaklukkan suatu negara daripada memberinya
kebebasan," begitulah yang dikatakan di London setahun lalu. India
membenci Inggris, tetapi Muslim dan Hindu lebih saling membenci. Negosiasi
tanpa akhir gagal berulang kali. Kemudian sejak pagi ini Mountbatten, Viceroy,
apa yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun, ia berhasil. Nehru dan umat Hindu
menerima prinsip pemisahan. Umat Islam dapat memisahkan diri. India bebas.
Orang Inggris, yang tiga ratus tahun lalu sebagai seorang pengusaha datang,
lalu menaklukkan negara, meletakkan kekuasaannya dan menjadi pengusaha lagi. Negara-negara
merdeka harus mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan mereka yang sangat besar.
Dan yang aneh adalah bahwa Nehru—Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri negara
bagian terbesar di Hindustan, dengan 330 juta penduduk—telah meminta Mountbatten
yang sama, yang baru-baru ini ia sebut sebagai "seorang pria dengan pesona
yang berbahaya," untuk menjadi Gubernur Jenderal. Nehru, seorang sosialis,
yang berjuang sepanjang hidupnya untuk menyingkirkan Inggris, sekarang
menawarkan cucu Ratu Victoria jabatan terpenting di negaranya. Setelah orang
yang sama memaksanya untuk melakukannya, ia menyingkirkan cita-cita lama: Persatuan
India. Gandhi meneriakkan pengkhianatan. Orang tua itu, yang selalu menentang
kekerasan, tetapi sekarang melihat darah mengalir di sekelilingnya karena dia
tidak ingin melepaskan cita-citanya, telah kehilangan pukulannya. Jinnah,
kepala Negara Muslim Pakistan adalah pemenang dalam pertempuran ini. Pada tahun
1930, Jinnah menyadari bahwa tidak ada tempat bagi umat Islam di India yang
bersatu. Ia menjadi pemimpin Liga Mohammedan untuk membela hak-hak minoritas
ini. Dia berjuang sendirian selama bertahun-tahun dengan tingkat keberhasilan
sedemikian rupa sehingga Mountbatten mengerti bahwa hanya perpecahan yang dapat
menghasilkan solusi. Itu masalah yang berbahaya. Di London, perang saudara
dianggap tak terelakkan. Lima puluh ribu orang terbunuh di Kalkuta dalam
pertempuran antara umat Hindu dan Muslim, lima ribu di Pendjab, dan enam ribu
di Bihar. 'Lebih banyak orang tewas hari ini di Lahore dan daerah perbatasan
dan di London diperkirakan ribuan orang lagi akan kehilangan nyawa sebelum
ketenangan dipulihkan.' Namun perang saudara berskala penuh, setidaknya untuk
saat ini, gagal terwujud dan Jinnah, Jinnah yang berusia 71 tahun, pada
dasarnya adalah satu-satunya penguasa Pakistan yang memisahkan diri. Lebih dari
tujuh puluh juta Muslim dan minoritas Hindu yang kuat, diwakili oleh dua
menteri di kabinetnya’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kini, Presiden RI dan Republic Day di N ew Delhi: Mengapa Indonesia Menjadi Tamu Utama?
Kerajaan Belanda mengakuai kedaulatan Indonesia sebagai negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang akan diberlakukan pada tanggal 27 Desember 1949. Pengakuan ini ditetapkan setelah melakukan serangkaian proses perundingan antara Indonesia dengan Belanda (termasuk negara-negara federal yang dibentuk) di Den Haag dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 (dikenal sebagai Konferensi Meja Bundar-KMB).
Republik Indonesia Serikat (RIS) dalam perjanjian KMB adalah wilayah Indonesia yang meliputi sisa Republik Indonesia (di Jawa dan Sumatra) ditambah negara-negara federal yang dibentuk Belanda seperti Negara Indonesia Timur dan Negara Sumatra Timur). Wilayah Papua Barat disebutkan akan dirundingkan dalam satu tahun antara RIS dan Kerajaan Belanda. Sampai menunggu waktunya 27 Desember 1949, RIS melakukan sidang-sidang untuk menentukan Presiden dan Perdana Menteri (kabinetnya). Yang terpilih adalah Ir Soekarno sebagai Presiden dan Mohamad Hatta sebagai Perdana Menteri. Pada tanggal 27 Desember 1949 dilakukan serah terima di Amsterdam (Mohamad Hatta dan delegasi) dan juga di Djakarta (Menteri Pertahana Soetan Hamengkoeboewono IX). Tangal 28 Desember Presiden Soekarno berangkat dari Jogjakarta ke Djakarta untuk memulai sebagai Presiden RIS.
Dua hari setelah serah terima kedaulatan Indonesia, tanggal 29 Desember 1949, Presiden Soekarno di Istana melakukan resepsi makan malam yang dihadiri berbagai tamu, termasuk tamu asing seperti Duta Besar India untuk Indonesia Dr P Subbarayan dan istri (lihat De Telegraaf, 04-01-1950). Perdana Menteri Mohamad Hattta sendiri baru tiba kembali di tanah air pada tanggal 3 Januari 1950.
De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 09-01-1950: ‘India dan Indonesia. Djakarta,
8 Januari (Aneta). Perwakilan Indonesia di New Delhi, Dr Sudarsono, telah
meramalkan dalam sebuah wawancara bahwa kerja sama yang erat akan terjalin,
terutama di bidang ekonomi, antara India dan Indonesia. Menurut pernyataan dari
layanan informasi India di Jakarta, ia menyarankan agar India dan Indonesia
menggabungkan barang-barang yang dapat diekspor. Pemerintah Indonesia, katanya,
akan segera meninjau kebijakan ekspornya karena tahun lalu sebagian besar
ekspor Indonesia (yang jumlahnya mencapai $800 juta, katanya) ditujukan ke
negara-negara di luar Asia’.
Dalam sidang kabinet RIS yang diadakan tanggal 11 Januari menurut sumber yang dapat dipercaya, usulan disetujui pada sidang terakhir Kabinet, dimana Presiden Sukarno akan mengunjungi India dan Presiden akan berangkat pada minggu terakhir bulan Januari (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-01-1950). Sementara itu, Duta Besar India, Dr. P. Subbarayan, akan berangkat ke Kalkuta untuk beberapa waktu guna menghadiri upacara proklamasi India sebagai republik sebagai anggota Majelis Konstituante India (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-01-1950).
De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-01-1950: ‘Pidato
Presiden. Dalam pidatonya Presiden mengatakan: “Sudah lebih dari empat tahun
berlalu bagi saya dan bagi kalian semua. Empat tahun yang lalu saya berada di
sini untuk mengatur sesuatu yang berhubungan dengan pertempuran antara Inggris
dan Indonesia. Berkat doa dari masyarakat Surabaya khususnya dan masyarakat
Indonesia pada umumnya, saya sebagai Presiden bisa masuk ke Istana Gambir.
Terima kasih atas pengorbananmu. Tentang Irian Saya ingin mengatakan ini:
Teruskan perjuangan untuk kebebasan sampai Irian bersatu dengan Indonesia
karena ia adalah bagian dari Indonesia. Bersatulah maka kita akan kuat. Kita
harus terus menuntut agar Irian segera ditambahkan ke Indonesia. Saya tahu
betul bahwa masyarakat Jawa Timur telah berbulan-bulan menuntut penghapusan
Negara Djawa Tihiur. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa penghapusan tersebut
harus dilakukan melalui Konstitusi. Perubahan kedudukan Negara harus dilakukan
sesuai dengan undang-undang federal. Namun, saya dapat meyakinkan Anda bahwa
masalah ini akan diajukan di Parlemen pada awal Februari. Ya, saya bahkan dapat
meyakinkan Anda bahwa masalah pembubaran akan menjadi agenda pertama. Saya akan
segera pergi ke India untuk mengunjungi Perdana Menteri Nehru. Menteri itu
menulis kepada saya, "untuk Anda dan saya, untuk memerangi negara-negara,
tidak ada akhir dalam perjalanan". Dalam hal itu, dia sepenuhnya benar. Presiden
mengakhiri dengan jaminan berulang kali bahwa jika diputuskan di Parlemen bahwa
negara-negara federal harus dihapuskan, maka hal itu akan dilakukan. Terakhir,
lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh Presiden dan diikuti dengan seruan Merdeka
yang dipimpin oleh Presiden’.
Perjalanan Perjalanan Presiden Sukarno ke India akan dimulai pada 23 Januari akan dilakukan dengan pesawat khusus milik Garuda Indonesia Airways. DC 3 Convair PK-DPD, pesawat yang sama yang digunakan Presiden untuk melakukan perjalanan dari Djokja ke Jakarta. Pimpinan perusahaan penerbangan GIA, MS Rab, yang menerbangkan pesawat yang ditumpangi Presiden dalam kunjungannya ke Surabaya beberapa waktu lalu, juga akan menjadi pilot kali ini (lihat Trouw, 18-01-1950). Presiden Sukarno selanjutnya Senin, 23 Januari, ke India dan Pakistan, dan dalam perjalanan ke sana singgah satu jam di bandara Medan (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-01-1950).
Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-01-1950: ‘ Presiden.
Sukarno Senin di Medan, transit ke India. Presiden Sukarno Senin, 23 Januari,
meninggalkan Jakarta untuk kunjungannya ke India dan Pakistan, dan dalam
perjalanan ke sana akan singgah satu jam di bandara Medan, demikianlah pesan
dari Jakarta. Selain Ibu Sukarno, Menteri Penerangan, Mononutu, juga akan
mendampingi Presiden. Presiden Sukarno bermaksud menyampaikan pidato kepada
rakyat di Medan. Dinas informasi N.S.T. melaporkan bahwa Presiden Sukarno akan
menyaksikan parade militer di Medan dan akan memberikan pidato kepada rakyat.
Pesawat diperkirakan tiba di Medan pada Senin pagi pukul 10.45 dan akan
berangkat lagi satu jam kemudian’. Sementara itu, Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 20-01-1950 memberitakan
bahwa Hari Besar India tanggal 26 Januari yang mana masyarakat India di Djakarta
akan merayakan proklamasi Republik India pada 26 Januari. Pada hari tersebut dimulai
dengan upacara pengibaran bendera nasional India. Setelahnya akan ada pemutaran
film di Decapark dan pada malam harinya akan disiarkan pidato Duta Besar India
untuk Indonesia, Dr. P. Subbarayan, oleh Radio Indonesia. Pidato ini telah
direkam sebelumnya dan akan disiarkan pada pukul 17.45 pada gelombang 25,41,
49,61, 116 dan 134 meter. Selanjutnya, siaran upacara tersebut akan disiarkan
dari New Delhi antara pukul 21:31 dan 21:46. All India Radio akan menyediakan
siaran khusus dalam bahasa Indonesia, yang juga akan disiarkan oleh
stasiun-stasiun Indonesia dari 20:00 hingga 20:30, menurut pernyataan dari
Dinas Informasi India di Djakarta’.
Presiden Soekarno pada tanggal 23 berangkan ke India melalui lapangan terbang Kemajoran (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-01-1950). Sebelum bertolak, Presiden berpamitan kepada Drs. Moh. Hatta, Soeltan Hamengkoe Buwono, Menteri Dalam Negeri, Anak Agung Gde Agung, Sultan Hamid II, Prof. Supomo, Ir. Laoh, dan Presiden Indonesia Timur Sukawati serta sejumlah pejabat sipil dan militer, Di atas pesawat Garuda selain Presiden Soekarno turut Ibu Soekarno, Ibu Pringgodigdo, AK Pringgodigdo, Dokter Asikin, dokter pribadi Presiden, beberapa perwira tinggi TNI Angkatan Darat RIS yaitu Kolonel Abdoel Haris Nasution, Kolonel Sungkono, Kolonel M Simbolon dan Mayor Gandi, ajudan Presiden.
Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-01-1950: ‘ Presiden Sukarno di bandara Medan: “Kita ingin menjadi SATU bangsa, dengan SATU pemerintahan, dan SATU bendera!” dan “Selama Irian belum masuk RIS, kami tidak puas”. Selanjutnya Presiden menyatakan kita ingin menjadi satu negara — bukan dua, tiga atau empat. Karena negara Indonesia hanya ada satu, yang meliputi tujuh puluh juta jiwa. Apa cita-cita nasional kita? Bahwa bangsa ini dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka, bersatu dalam satu negara merdeka, di bawah satu pemerintahan yang merdeka, dan di bawah satu bendera". Presiden Sukarno menyampaikan pidatonya pagi ini di Bandara Internasional Medan di hadapan sekitar 70.000 orang yang menyambutnya dengan penuh semangat. Presiden dan Ibu Sukarno (yang juga menyampaikan pidato di hadapan rakyat) selama satu jam di Medan dalam perjalanan mereka menuju India. Lalu kemudian Letnan kolonel Kawilarang kemudian memperkenalkan jajaran pejabat militer yang ditempatkan di samping barisan kehormatan Presiden, setelah itu Dr. T. Mansoer memperkenalkan jajaran pejabat sipil, konsuler dan perwakilan UNCI. Setelah sambutan tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan ke bagian resmi yang disediakan, dikelilingi oleh banyak fotografer dan tak henti-hentinya disambut oleh sorak-sorai kegembiraan dari kerumunan yang menunggu. Teriakan kegembiraan berubah menjadi tepuk tangan meriah saat Presiden dan Ibu Sukarno naik ke podium tinggi. Butuh waktu beberapa menit sebelum Ir. Sukarno dapat berbicara dengan jelas melalui mikrofon, namun ketika kata-kata pertamanya terdengar di seluruh lapangan, keheningan melanda dan puluhan ribu orang mendengarkan setiap kata-katanya, siap setiap saat untuk mendengarnya. kata-kata dengan tepuk tangan yang antusias. segel. “Sudah puluhan tahun saya rindu bertemu dengan saudara-saudara di Medan. Dua puluh tahun yang lalu saya ingin pergi ke Medan. Saya waktu itu sedang di Bandung, tapi waktu saya umumkan niat saya mau ke Medan, pemerintah waktu itu tidak memberi izin. Pada tanggal 22 Desember 1948, saya melihat Medan untuk pertama kalinya — sebagai seorang tahanan. Hari ini saya datang ke sini bukan sebagai tahanan, tetapi sebagai presiden. Allah telah menetapkan bahwa saya harus bertemu dengan Anda pada hari ini sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat, oleh karena itu saya bersyukur kepada Allah karena telah diberi kesempatan pada hari ini. Saya sekarang dalam perjalanan ke India untuk melaksanakan tugas negara saya. Ketika sorak sorai yang mengikuti kata-kata tersebut mereda, Presiden melanjutkan: “Sekarang kita memiliki negara Republik Indonesia Serikat yang berdiri pada tanggal 27 Desember. Ini adalah republik muda, yang meliputi seluruh Indonesia, kecuali Irian. Ketika saya tiba di bandara tak lama kemudian, masyarakat menyambut saya dengan teriakan, “Irian, Bung! Irian, Bung!". Tentu saja: selama Irian tidak masuk dalam RIS, kita semua tidak puas. Itulah sebabnya kita semua harus berusaha agar Irian juga masuk dalam RIS". “Kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Keadaannya belum lengkap. Cita-cita kita belum sepenuhnya terpenuhi. Apa aspirasi nasional kita? Kita akan menjadi satu bangsa — bukan dua, tiga atau empat. Hanya ada satu bangsa Indonesia, yang terdiri dari 75 juta orang. Tidak ada bangsa Medan, tidak ada bangsa Minangkabau, tidak ada bangsa Bali, bangsa Lombok dari Sulawesi — semuanya bangsa Indonesia, semuanya adalah orang Indonesia. Mereka juga bukan bangsa Sumatera Timur. Kita semua adalah satu bangsa dengan satu nasib yang sama, dan satu bangsa ini memiliki cita-cita nasional. Apa cita-cita nasional kita? Bahwa bangsa ini akan hidup sebagai bangsa yang merdeka, bersatu menjadi satu Negara merdeka, di bawah satu Pemerintahan merdeka, dan dengan satu bendera merah putih merdeka, bukan dua, bukan tiga, tetapi satu bendera. Itulah aspirasi nasional kita. Kita sekarang memiliki R.I.S., tetapi Irian belum menjadi bagiannya. Kita harus terus berjuang agar Irian juga dimasukkan ke dalam R.I.S. Republik Indonesia Serikat ini didasarkan pada konstitusi sementara —sejauh ini mengikuti Presiden Sukarno. “Sebelum tahun ini berakhir, Majelis Konstituante akan bertemu untuk menentukan bentuk pemerintahan yang definitif. Pemilihan umum akan diadakan sebelumnya di seluruh wilayah Indonesia. Dan saya ingin mendorong Anda untuk memilih orang-orang yang benar-benar dipenuhi dengan aspirasi nasional kita. Pilihlah mereka yang memang berjuang untuk Indonesia Raja, bukan Indonesia Kantong Raja. Representasi rakyat yang sesungguhnya akan menentukan bentuk akhir pemerintahan Indonesia. Dan kalau Anda bertanya kepada saya: “Mengapa Bung Karno mengucapkan sumpah pada Undang-Undang Dasar Sementara?” Saya menjawab: “Karena Undang-Undang Dasar ini hanya bersifat sementara.” Presiden Sukarno kemudian mengutip Pasal 34 Undang-Undang Dasar Sementara yang berbunyi: “Kehendak rakyat merupakan dasar kekuasaan pemerintah; “Kehendak ini dinyatakan dalam pemilihan umum yang adil dan berkala, yang diselenggarakan menurut hak pilih yang paling umum dan sederajat yang mungkin dan dengan pemungutan suara yang rahasia atau menurut prosedur yang sama yang menjamin kebebasan memilih.” “Pasal ini,” kata Presiden, “berarti bahwa pemegang kekuasaan tertinggi kekuasaan berada di tangan rakyat (rakjat djelata). Kehendak rakyat adalah otoritas tertinggi. Itulah sebabnya saya dapat mengambil sumpah pada Konstitusi ini".
Presiden Soekarno tiba di India pada Selasa pagi (lihat Nieuwe courant, 25-01-1950). Disebutkan Presiden Soekarno dan rombongan diterima dengan hangat oleh Gubernur Jenderal India, Rajagopal Mahmoud dan Perdana Menteri Pandit Nehru. Presiden kemungkinan akan makan malam di kediaman Perdana Menteri Nehru pada Kamis malam.
Twentsch dagblad
Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 26-01-1950: ‘Republik
India Gandhi Diingat. Tak lama setelah pukul 10 pagi waktu setempat kemarin,
Gubernur Jenderal India, Rajagopalachari, memproklamasikan Republik India.
Upacara tersebut berlangsung di Durban Hall di New Delhi. Dokter Radjondra
Prasad segera mengambil sumpah sebagai Presiden pertama Republik India. Pandit
Nehru, Perdana Menteri India, menyatakan dalam sebuah pesan bahwa janji
kemerdekaan yang diambil 20 tahun lalu kini telah terpenuhi dan bahwa setiap
janji yang terpenuhi memberikan kepuasan dan kekuatan untuk aspirasi masa
depan. “Perjalanan dua puluh tahun ini kini telah selesai untuk memasuki
perjalanan baru, mungkin bahkan lebih sulit.” Perdana Menteri mengenang Mahatma
Gandhi, yang tidak sempat melihat hari ini, dan ia menyatakan: “Kemajuan bangsa
bergantung pada pada banyak faktor dan yang utama adalah faktor-faktor yang
ditekankan Gandhi sepanjang hidupnya — "Kesederhanaan karakter, semangat
dan tujuan, toleransi, kerjasama dan kerja keras." Nehru khususnya
menghimbau kepada rakyat India untuk mengerahkan diri dan bekerja keras untuk
kesejahteraan negara mereka. Ada rasa perayaan di semua kota di India. Sorak
sorai dari puluhan ribu orang terdengar saat bendera kepresidenan perlahan naik
dari atap gedung pemerintah di New Delhi. Sebelum resmi menjabat, Presiden
Prasad dan istrinya menghabiskan seperempat jam di tempat di mana "bapak
bangsa, Mahatma Gandhi, dikremasi. Mereka meletakkan karangan bunga dan tiga
pria berjalan mengelilingi tempat suci dengan tangan terlipat dalam keadaan
berdoa. Nama resmi republik pertama di Persemakmuran ini adalah Bharat. Ikatan
selama 92 tahun dengan Kerajaan Inggris telah putus. Untuk jangka waktu tidak
lebih dari 15 tahun, bahasa Inggris akan tetap menjadi bahasa resmi. Dia
kemudian digantikan oleh bahasa Hindustan. Dari Layanan Informasi India diberitakan Presiden
Sukarno berbicara dengan Nehru tak lama setelah kedatangannya di New Delhi,
Presiden Sukarno mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Nehru. Malam
harinya beliau menghadiri acara perpisahan Gubernur Jenderal C.
Radjagopalatjari. Hari ini Presiden akan mengunjungi beberapa menteri dan
menyampaikan pidato di depan anggota Parlemen di India. Pada hari Jumat Presiden
Soekarno akan menyampaikan pidato di hadapan mahasiswa Universitas New Delhi. Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-01-1950: ‘New
Delhi, Presiden Sukarno mengunjungi Perdana Menteri India Pandit Nehru, yang
sempat berbincang dengannya. Setelah makan siang di Government House, Presiden
mengunjungi Jamia Millia, salah satu lembaga pendidikan utama India, dan Qutab
Minar, monumen setinggi 120 meter yang dibangun pada abad ke-12. Rumah Gubernur
menawarkan makan malam perpisahan kepada C. Rajagopalachari, Gubernur India,
yang akan mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 Januari untuk
memberi jalan bagi Presiden Republik India yang baru terpilih. Pada hari Rabu,
Presiden Sukarno bertemu dengan Menteri Kesehatan, Industri, dan Makanan India,
sementara pada sore harinya ia menyampaikan pidato kepada anggota Parlemen
India. Malam harinya, Presiden dan Ibu Soekarno kembali menjadi tamu Perdana
Menteri yang dalam pidatonya di hadapan parlemen India mengatakan, antara lain,
bahwa perjuangan negaranya melawan Belanda tidak akan pernah berakhir selama
Nugini masih ada di tangan mereka dan dia meminta dukungan India dalam klaimnya
atas pulau ini. “Indonesia adalah negara yang suka berperang,” kata Presiden
Sukarno, “dan bagi negara yang suka berperang tidak ada “akhir perjalanan.”
Karena Nugini merupakan bagian dari negara kita, saya berharap India akan
mendukung kita dalam negosiasi untuk menambahkannya ke Indonesia."
Presiden Sukarno mengatakan bahwa ia yakin bahwa masalah Indonesia akan
terpecahkan pada tahun 1950. Pidato Presiden yang disampaikan dalam pertemuan
tersebut melalui seorang penerjemah, juga disertakan ucapan terima kasih kepada
Perdana Menteri India, Pandit Nehru, atas bantuannya dalam perjuangan
kemerdekaan Indonesia dan ucapan selamat atas terbentuknya Republik India’.
Setelah proklamasi Republik India tanggal 26 Januari, maka hubungan dengan Kerajaan Inggris 92 tahun, putus (lihat Trouw, 27-01-1950). Fungsi Gubernur Jenderal sebagai perwakilan Inggris di India telah digantikan oleh Presiden terpilih. Beberapa jam setelah proklamasi Republik India dan pelantikan Radjendra Prasad sebagai presiden pertamanya, kemarin ia mengibarkan bendera kuning-putih-hijau republik baru di Stadion Irwin di New Delhi. Presiden tiba dengan kereta kuda terbuka, dikawal oleh pengawal berkuda yang terdiri dari prajurit tombak dengan mantel merah tua dan sorban biru dan emas. Prosesi tersebut melewati lima belas gapura kemenangan.
Setelah pengibaran
bendera, Presiden menaiki jip untuk meninjau parade 300 prajurit dari angkatan
darat, laut, dan udara, sementara satu skuadron pesawat pengebom Liberator
bergemuruh di atas stadion. Segera setelah proklamasi republik baru, Dr.
Radjendra Prasad mengambil sumpah sebagai Presiden pertama Republik India, yang
dalam Persemakmuran Inggris secara resmi dikenal sebagai Bharat. Upacara di New
Delhi menandai ikatan 92 tahun dengan Inggris. Mahkota kerajaan Inggris pun
hancur dan masa pemerintahan Inggris di India selama 178 tahun akhirnya
berakhir. Selama masa transisi 15 tahun, bahasa resmi akan tetap bahasa
Inggris. Republik baru ini memiliki sekitar 30.000.000 penduduk dan terdiri
dari 28 negara bagian federal, serta gugusan pulau Andaman dan Kepulauan
Nicobar. Konstitusi mengatur sistem pemerintahan parlementer. Sampai Parlemen
dibentuk melalui pemilihan umum, Majelis Konstituante akan bertindak sebagai
Parlemen. Sekitar 500 pejabat pemerintah, diplomat, pangeran dan pejabat tinggi
menghadiri upacara di Durbar Square. Mereka duduk di kursi berlapis emas di
bawah lampu kristal raksasa. Di tempat yang sama pada tahun 1947, Lord Louis
Mountbatten, Raja Muda terakhir, menandatangani penyerahan kedaulatan. Gubernur
Jenderal dan Presiden baru duduk di satu sisi, di satu sisi kursi takhta lainnya
duduk Perdana Menteri Pandit Nehru dan Presiden Indonesia Soekarno.
Kehadiran Presiden Soekarno di India dalam Proklamasi Republik India adalah tamu utama India. Presiden Soekarno duduk disamping PM Nehru tepat berada di depan Presiden Prasad. Bagaimana bisa begitu? Mungkin jawabannya ditemukan dalam surat kabar Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-01-1950. Disebutkan setelah Presiden Sukarno, Perdana Menteri India, Nehru, berbicara, menggambarkan Presiden Indonesia sebagai salah satu orang yang membuat sejarah dan berpendapat bahwa Ir Sukarno bukan hanya seorang pemimpin di Asia, tetapi juga seseorang yang masa depannya sangat bergantung di Asia. Nehru lebih lanjut menunjukkan bahwa kemunculan sejumlah kata Sansekerta dalam Bahasa Indonesia menunjukkan ikatan budaya yang erat antara India dan Indonesia.
Het nieuwsblad voor
Sumatra, 30-01-1950: ‘Kunjungan Presiden Sukarno ke India. India bersukacita
atas kemerdekaan India. Presiden Soekarno dalam pidatonya di All India Radio
menyatakan bahwa sumbangan India bagi kemerdekaan Indonesia adalah tanda
persatuan Asia - persatuan yang mungkin terbukti menjadi salah satu faktor
terpenting dalam mencegah doktrin-doktrin yang saling bertentangan. di dunia
dari menuntun bangsa menuju kebodohan yang tragis. "Di seluruh Asia,
masyarakat sangat menyadari betapa pentingnya Proklamasi Republik India bagi
sejarah dunia, tetapi masyarakat Indonesia memiliki alasan khusus untuk
bersukacita atas keputusan ini". Selama berabad-abad, masyarakat India dan
Indonesia telah dipersatukan oleh ikatan sejarah kekerabatan budaya, kata
Presiden, tetapi dalam dekade terakhir, India telah mendapatkan rasa terima kasih
abadi dari masyarakat Indonesia melalui kontribusinya, yang berujung pada
kemerdekaan Indonesia.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar