Minggu, 18 Januari 2026

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini

Orang Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang mencapai Jepang, mendahului Belanda sekitar lebih dari setengah abad. Orang Portugis pertama kali tiba di Jepang pada tahun 1543 ketika sebuah kapal yang membawa pedagang (termasuk António Mota dan Francisco Zeimoto) terhempas badai dan terdampar di Pulau Tanegashima. 


Sejarah Portugis di Jepang dimulai pada tahun 1543, ketika para penjelajah Portugis menjadi orang Eropa pertama yang tiba di sana. Kedatangan mereka membawa pengaruh signifikan dalam perdagangan, persenjataan, dan agama Kristen, meskipun interaksi ini akhirnya berakhir dengan pengusiran mereka dari negara tersebut. Para penjelajah Portugis mendarat di pulau selatan Jepang, Tanegashima, secara tidak sengaja setelah kapal jung mereka terdampar. Pedagang dan saudagar Portugis segera menyadari peluang perdagangan yang menguntungkan di Jepang dan mulai menjalin hubungan. Sejak tahun 1571, Portugis mendirikan pos dagang permanen di Nagasaki dan menikmati monopoli perdagangan tanpa saingan selama sekitar 68 tahun. Dampak terbesar awal adalah pengenalan senjata api (senapan lontak) ke dalam peperangan Jepang, yang secara signifikan mengubah taktik militer di era Sengoku (periode perang sipil). Misionaris Spanyol Fransiskus Xaverius, yang terkait dengan upaya Portugis, tiba di Jepang pada tahun 1550 dan mulai menyebarkan agama Katolik, yang didukung oleh beberapa penguasa daerah untuk keuntungan politik dan ekonomi (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang? Seperti disebut du atas, orang Eropa pertama mencapai (wilayah) Jepang adalah orang Portugis. Itu semua bermula dengan Orang Portugis di Indonesia, Hindia Timur. Lalu bagaimana sejarah Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Mula Orang Portugis di Indonesia, Hindia Timur

Tunggu deskripsi lengkapnya

Awal Mula Orang Portugis di Indonesia, Hindia Timur: Awal Mula Orang Spanyol di Hindia Timur dan Kehadiran Orang Belanda

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar