*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini
Pada tahun 1862, Keshogunan Tokugawa mengirimkan kelompok pelajar pertama ke Belanda untuk mempelajari teknologi Barat sebagai respon terhadap meningkatnya pengaruh asing setelah kedatangan Komodor Perry (Amerika Serikat) pada 1853. Tujuannya pengiriman adalah mempelajari ilmu navigasi, teknologi angkatan laut, hukum, kedokteran, dan ilmu sosial demi memodernisasi militer dan pemerintahan Jepang.
Hiroyuki Kato (加藤 弘之 atau Baron Katō Hiroyuki (1836–1916) seorang akademisi dan negarawan Jepang terkemuka pada periode Meiji. Hiroyuki Kato adalah seorang sarjana studi Barat dan menjabat sebagai presiden pertama Universitas Kekaisaran Tokyo (sekarang Universitas Tokyo) Philipp Franz Balthasar von Siebold (1796-1866) adalah seorang dokter, ahli botani, dan penjelajah Jerman yang menjadi orang Eropa pertama yang mengajarkan kedokteran Barat di Jepang. Ia sangat dihargai karena studi ekstensifnya tentang flora dan fauna Jepang dan karena mengumpulkan sejumlah besar informasi tentang alam dan budaya negara itu selama periode isolasinya. Orang asing umumnya dilarang meninggalkan Dejima, tetapi reputasi Siebold sebagai dokter yang terampil memberinya izin khusus untuk merawat pasien Jepang di daratan utama, memberinya akses unik ke negara dan penduduknya.Sepanjang waktunya di Jepang, ia mengumpulkan koleksi benda-benda etnografi, zoologi, dan botani yang luas, yang sekarang disimpan di museum, terutama Siebold Huis di Leiden, Belanda. Siebold menikah dengan wanita Jepang, Kusumoto Taki. Putri mereka, Kusumoto Ine menjadi dokter wanita Jepang pertama yang dididik dalam pengobatan Barat (AI Wikipedia)..
Lantas bagaimana sejarah orang Jepang studi ke Belanda 1862 dan Enomoto Takeaki? Seperti disebut di atas; pada tahun 1862, Keshogunan Tokugawa mengirimkan kelompok pelajar pertama ke Belanda untuk mempelajari teknologi Barat. Dalam hal ini di latar belakang ada nama Ph von Siebold, orang Jerman dokter di Jepang. Lalu bagaimana sejarah orang Jepang studi ke Belanda 1862 dan Enomoto Takeaki? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Orang Jepang
Studi ke Belanda 1862 dan Enomoto Takeaki; Ph von Siebold, Orang Jerman Dokter di
Jepang
Pada tahun 1860 di Belanda dibuka museum Rijks Museum von Siebold, Suatu museum koleksi (etnografi) Jepang milik Dr Ph von Siebold (lihat Nederlandsche staatscourant, 09-05-1860). Museum Siebold ini berada di salah satu ruangan yang menjadi bagian dari Museum van Oudheden te Leiden. Koleksi-koleksi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk waktu yang lama, Dr Ph von Siebold telah menyerahkan pengelolaanya kepada Kementerian Dalam Negeri. Hal itulah diduga mengapa koleksi yang banyak milik Dr Ph von Siebold sekarag telah ditempatkan di gedung pemerintah.
Pada tahun 1860 ini Willem Iskander lulus sekolah keguruan di Asmterdam dengan akta guru bantu atau hulpacte (lihat majalah Nieuwe bijdragen ter bevordering van het onderwijs en de opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in het Koningrijk der Nederlanden, voor den jare 1860, Volume 30, D du Mortier en zoon). Disebutkan Iskander, Willem, lahir di Pidoli, Mandailing tahun 1841, lulus ujian di Noordholland, kweekeling te Amsterdam. Si Sati (Nasoetion) alias Willem Iskander dengan biaya sendiri berangkat ke Belanda pada bulan Maret tahun 1857 seiring dengan cuti dua tahun Asisten Residen Angkola Mandailing AP Godon yang cuti ke Belanda (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 04-09-1857). AP Godon meminta Prof Millies sebagai advisor Sati Nasoetion selama di Belanda. Dalam hal ini Willem Iskander adalah pribumi pertama yang studi ke Belanda (kelak dikenal sebagai kakek buyut Prof Dr Ir Andi Hakim Nasoetion, PhD, Rektor IPB 1978-1987). Sementara itu Dja Ogot berangkat dari Batavia ke Belanda tahun 1860 yang ditemani dua janda misionaris Jerman dan seorang pembantu perempuan Dayak. Kapal Wilhelmina Clara yang mereka tumpangi tiba di Belanda yang diberitakan surat kabar tanggal 29 Juni 1860. Yang mengirim Dja Agot adalah misionaris G van Asset di Sipirok untuk diasuh guru A Meijer di Amsterdam. Willem Iskander kemudian kembali ke tanah air tahun 1861. Pada tahun 1862 Willem Iskander membuka sekolah guru di Tana Bato, onderafdeeling Mandailing, afdeeling Angkola Mandailing, residentie Tapanoeli. Sementara itu bagaimana Dja Ogot di Belanda tidak terinformasikan. Dja Ogot kemudian diberitakan meninggal pada bulan Maret 1862 (lihat Rotterdamsche courant, 04-03-1862). Selain Si Sati dan Dja Ogot, di di Belanda, ada satu lagi orang Indonesia (baca: pribumi) di Belanda, namanya Kadjo, seorang anak perwira rendah kavelari Soesoehoenan di Soerakara (lihat Kadjo Wirjo Kromo, te Brussel di dalam Handelingen en geschriften van het Indisch Genootschap te 's-Gravenhage, onder de zinspreuk: Onderzoek leidt tot waarheid. 1859). Kadjo mengikuti pendidikan perbengkelan yang satu tahun kemudian lanjut ke pendidikan ketrampilan membuat arloji dan mengikuti sekolah seni menggambar. Bagaimana kisah Kadjo ini selanjutnya tidak terinformasikan. Yang jelas pada tahun 1859 Kadjo masih di Brussel.
Seperti halnya di Indonesia (baca: Hindia Belanda), sekolah menengah (sekolah kedpokteran dan sekolah keguruan) dipimpin oleh orang Belanda, di Jepang juga ada sekolah kedokteran yang dipimpin oleh orang Belanda. Sekolah tersebut adalah sekolah kedokteran di Nagasaki. Sebagaimana diketahui, pusat Belanda di Jepang berada di suatu pulau buatan (Dejima) di Nagasaki.
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 19-01-1860: ‘Selama lebih dari dua tahun, seorang warga Belanda, pejabat Kelas Dua, Jhr JLC Pompe van Meerdervoort, telah memimpin sekolah kedokteran Jepang di Nagasaki. Kami meminjam detail penting berikut tentang sekolah ini dari Ned. Tijdschrift voor Geneeskunde: Sekolah Kedokteran Kekaisaran Jepang di Nagasaki saat ini dihadiri oleh 32 mahasiswa yang sebelumnya telah memperoleh pengetahuan yang diperlukan tentang bahasa Belanda. Sebagian besar mahasiswa ini, kebanyakan berusia sekitar 25 tahun, tinggal di gedung sekolah di bawah arahan domestik dan disiplin khusus dari pejabat kesehatan kekaisaran pertama, Mata Motto Lijoo Zun, yang telah sangat menonjol dalam pengembangan ilmiah dan tampaknya ditakdirkan untuk kemudian, setelah studi yang ekstensif, mengambil alih administrasi tertinggi urusan medis di Jepang. Sebagian besar mahasiswa ini bekerja dengan tekun dan karena itu membuat kemajuan yang baik; Mereka bersaing dengan pemerintah Jepang untuk memastikan upaya mentor mereka membuahkan hasil. Pemerintah tampaknya bermaksud untuk mengembangkan spesialis untuk berbagai bidang dari mahasiswa terbaik dan paling maju, sehingga mereka, pada gilirannya, dapat bertugas sebagai instruktur di sekolah-sekolah yang akan didirikan di tempat lain, seperti, misalnya, sekolah kedokteran utama akan didirikan di Jedo, dan lain sebagainya. Selain langkah-langkah untuk meningkatkan pendidikan kedokteran ini, pemerintah Jepang, di bawah bimbingan dan saran dokter Belanda kita, memperkenalkan banyak perbaikan bermanfaat lainnya. Vaksinasi cacar sapi, misalnya, tidak lagi mendapat penolakan di kalangan masyarakat dan sekarang diterapkan dalam skala yang semakin besar: lebih dari 1.200 vaksinasi telah diberikan oleh Pompe sendiri, dan ribuan lainnya telah berhasil diberikan oleh murid-muridnya. Di Sanga, ibu kota wilayah To-sen, terdapat perluasan rumah sakit yang dilengkapi untuk 150 pasien. Ini sekarang hampir selesai, dan rencana serta gambar yang diperlukan telah disediakan oleh Pompe. Namun, beliau sendiri belum dapat menilai pelaksanaan pekerjaan ini, karena kesulitan untuk mengizinkannya melakukan perjalanan di wilayah tersebut. Beliau juga berharap untuk segera melihat fasilitas pelatihan klinis didirikan di Nagasaki. Selama epidemi kolera yang melanda Nagasaki tahun ini pada bulan Juli dan Agustus, seperti pada tahun 1858, kepemimpinan dalam tindakan umum untuk menekan penyakit tersebut sepenuhnya dipercayakan kepada Pompe, dkk. Namun, kendala utama tetap ada dalam kepercayaan agama Jepang, yang melarang pembukaan dan pembedahan mayat, sehingga mengecualikan alat penting, bahkan sangat diperlukan, dalam pendidikan kedokteran. Pompe berulang kali menekankan pentingnya aspek pendidikan ini, tetapi sia-sia. Namun akhirnya, kesulitan yang terkait dengan studi mereka juga diakui dan dihargai oleh para siswa sendiri, dan, dengan bantuan ini, akhirnya pada tanggal 3 September, Gubernur Nagasaki mengeluarkan dekrit yang mengizinkan penyerahan jenazah seorang penjahat, yang akan dipenggal kepalanya pada hari yang sama, untuk pembedahan. Pemenggalan kepala tidak dilakukan di depan umum, tetapi di halaman penjara, terutama untuk menghindari kerumunan dan untuk memfasilitasi pemindahan jenazah secara tenang ke tempat pembedahan. Di luar kota, di tebing dekat pantai, sebuah lokasi telah ditentukan untuk pembangunan ruang pembedahan. Di bawah arahan Pompe, ruangan ini dilengkapi sebaik mungkin, sesuai dengan waktu yang tersedia, dan akses ke ruangan tersebut dapat dijamin secara efektif karena lokasinya yang dirancang dengan baik. Pembedahan mayat tersebut dihadiri oleh 21 mahasiswa Sekolah Kedokteran Kekaisaran Jepang dan 24 dokter Jepang dari Nagasaki dan sekitarnya: jumlah yang dapat menjadi bukti pentingnya hal ini. Setelah pembukaan rongga-rongga utama, posisi relatif usus dan selaput di sekitarnya didemonstrasikan, struktur internal organ-organ utama diilustrasikan semaksimal mungkin dalam penampang melintang, dan kemudian pembedahan dan demonstrasi bagian-bagian penting, seperti kanal inguinal, pinggul, dll., dimulai. Setelah itu, anggota tubuh bagian atas dan batang tubuh dibedah sesuai dengan lempeng Weber besar oleh beberapa mahasiswa di bawah bimbingan instruktur mereka, dan hampir semua menunjukkan bakat dan kemampuan yang cukup baik untuk hal ini. Kegelapan malam akhirnya memaksa pisau bedah untuk disingkirkan, setelah 12 jam berturut-turut (kecuali seperempat jam) digunakan dengan tekun tanpa lelah. (Mayat itu dihabiskan untuk mengamati dan bekerja, hingga akhirnya dilakukan dengan tergesa-gesa) kemudian diminta untuk menyimpan mayat itu setidaknya satu hari lagi, agar ia juga dapat menggunakannya untuk latihan bedah. Namun, hal ini membutuhkan usaha yang cukup besar, karena menurut hukum Jepang, mayat yang dipenggal kepalanya harus dilepaskan pada hari eksekusi. Namun, para siswa telah belajar menghargai nilai hari pertama dan akhirnya berhasil mendapatkan pemenuhan permintaan mereka dari gubernur Nagasaki. Pada hari kedua, sebanyak mungkin prosedur bedah dilakukan pada mayat tersebut, dengan para siswa bergantian bertindak sebagai asisten dan operator. Beberapa organ yang sangat penting ditempatkan dan ditahan di atas cairan serebrospinal untuk demonstrasi yang lebih tepat. Dengan cara ini, satu mayat memiliki tujuan yang signifikan, dan para siswa juga yakin akan perlunya latihan praktis. Laporan-laporan di atas mungkin menunjukkan bahwa pemerintah Jepang sangat berkomitmen terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak takut untuk mentolerir apa yang, di negara kita juga, penuh dengan keberatan pada masa awal ilmu kedokteran, dan yang bahkan sekarang masih ditentang secara aktif oleh beberapa sekte agama dan individu yang berprasangka. Kami ingin mengakui fakta ini, dan juga minat yang ditimbulkan oleh cara-cara ini di antara banyak orang di bidang tersebut, melalui laporan ini, dengan harapan bahwa laporan yang lebih rinci akan diberikan oleh Pompe sendiri, setelah pekerjaannya di Jepang berakhir, dan akan memberikan gambaran yang jelas tentang kekhasan bangsa Jepang yang masih kurang dikenal’. Rotterdamsche courant, 22-07-1862: ‘Kami mendapat informasi dari sumber terpercaya bahwa Perwira Medis Kelas 1, Dr Bauduin, seorang dosen di Rijks kweekschool voor militaire geneeskundigen, telah meminta untuk dibebakan selama tiga tahun agar dapat menggantikan Perwira Medis Kelas 1, Pompe van Meerdervoort, dalam pendidikan kedokteran dan kesehatan di Jepang. Kami juga mendapat informasi bahwa permintaan ini telah ditolak dengan alasan Dr Bauduin sangat dibutuhkan untuk pengajaran di sekolah tinggi pelatihan tersebut. Sekarang dikatakan bahwa Bauduin akan meminta pembebasan tugas dengan hormat agar dapat menemani Duta Besar Jepang dalam perjalanannya’. Catatan: Jhr JLC Pompe van Meerdervoort adalah anggota Koninklijke Natuurkunde Vereeniging in Nederlandsch-Indië, sejak 14 April 1859 (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1865).
Dua diantara mereka adalah perwira tinggi, dan beberapa lainnya adalah bintara. Enomoto Takeaki usia 26 tahun adalah seorang perwira Jepang, memulai studi di pusat pelatihan Angkatan Laut Jepang di Nagasaki dan di pusat pelatihan Angkatan Laut di Tsukiji, Jedo (kemudian menjadi Tokyo). Enomoto Takeaki dkk dibimbing oleh Profesor Simon Vissering. Seperti Dja Ogot yang disebut di atas, Kitaro Okawa yang mengikuti pendidikan bidang teknik (perbengkelan) meninggal di Belanda.
.Middelburgsche courant, 19-06-1862: ‘Orang Jepang adalah dan tetap menjadi topik semua pembicaraan. Kemarin mereka (orang-orang Jepang) mengunjungi Menteri Luar Negeri dan kemudian pergi ke pemandian umum. Hari ini mereka mengunjungi Mauritshuis, tetapi kami belum tahu bagaimana pendapat mereka tentang koleksi Jepang di sana (museum Rijks Museum von Siebold); diasumsikan mereka akan memberikan beberapa komentar kecil. Seperti yang saya duga, perilaku masyarakat terhadap kehadiran orang Jepang masih jauh dari memuaskan’.
Orang Indonesia ke Belanda dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Si Sati alias Willem Iskander anak seorang kuria (kepala distrik) di Mandailing yang sebelumnya menjadi juru tulis dari AP Godon. Kadjo Wirjo Kromo hanya seorang anak perwira rendah kavelari Soesoehoenan di Soerakara. Dja Ogot adalah seorang anak yatim piatu yang ‘dibeli” oleh misionaris G van Asselt.
Leydse courant, 19-01-1863: ‘Amsterdam, 16 Januari. Pada hari Senin, 11 Januari, bagian sastra dan pendidikan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan mengadakan pertemuan biasa, yang dihadiri oleh Opzoomer, Koenen, G de Vries, Brill, Delprat, Leemans, Bake, van Lennep, Millies, Schollen, Janssen, Beets, Kuenen, Vissering, Boot, Goudsmit, Karslen, van den Berg, Linielo de Geer, M. de Vries, dan Six. Leemans memberikan informasi tentang papirus Mesir dengan teks dalam aksara hieratik, yang ditemukan di berbagai komunitas atau dimiliki oleh individu. Teks-teks yang berkaitan dengan ritual pemakaman tidak dibahas, pembicara sendiri membatasinya pada dokumen-dokumen yang ditujukan untuk penggunaan orang yang masih hidup. Pertama-tama, disebutkan dan dijelaskan secara singkat papirus-papirus di Museum Kerajaan Purbakala Mesir di Turin: 1. papirus dengan daftar kronologis raja-raja Mesir dari zaman paling awal hingga dinasti ke-19; 2. register penerimaan dan pengeluaran, dan 3". Sebuah rencana atau peta wilayah daratan dengan tambang emas di Mesir Hulu, sebelah timur Sungai Nil dan tidak jauh dari Laut Merah, yang dieksplorasi dan dikelola selama pemerintahan Seti I (Selhos) IV pada abad ke-115 sebelum Masehi’.
Sementara itu, para pemuda Jepang datang secara resmi atas program (biaya penuh) pemerintah Jepang. Sebagaimana diketahui antara Jepang dan Belanda belum lama melakukan perjanjian (lihat Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 06-04-1859).
Algemeen Handelsblad, 08-06-1863: ‘Sementara hingga saat ini bahasa Belanda telah menjadi panduan setia yang menemani orang Jepang yang ingin tahu di jalan ilmu pengetahuan Eropa, kini, dengan masuknya orang Jepang, teman lama kita, ke dalam hubungan internasional, adalah kepentingan kita untuk mendorong dan mendukung orang-orang yang berprestasi di bidang itu melalui bahasa kita’. Nieuw dagblad van 's Gravenhage, 04-08-1863: ‘Heusden, 2 Agustus. Pagi ini pukul satu, Yang Mulia Menteri Angkatan Laut Jepang tiba di sini, didampingi oleh seorang perwira angkatan laut Jepang. Kedua pria itu mengamati keunikan kota, gereja, balai kota, dan barang-barang antik yang menjadi ciri khas gapura St. George, dengan penuh minat. Seluruh penduduk berdiri untuk melihat orang Jepang’.
Pada tahun 1863 Menteri Angkatan Laut Jepang berkunjung ke Belanda. Selama di Jepang, sang menteri ditemani perwira Enomoto Takeaki. Tentu saja juga akan bertindak sebagai penerjemah.
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 11-06-1863: ‘Kami memahami bahwa Asosiasi Inggris untuk Kemajuan Sains, yang akan mengadakan pertemuan tahun ini di Newcastle-on-Tyne selama bulan Agustus, telah mengundang, antara lain, para tokoh berikut dari Belanda untuk hadir: untuk Departemen Matematika dan Fisika: Prof F Kaiser di Leiden, Prof R van Rees dan Prof. Buijs Ballot di Utrecht, dan Dr Th van Doesburgh di Amsterdam. Untuk Departemen Kimia: Prof G J. Mulder di Utrecht. Untuk Departemen Geologi: Dr WAJ van Geuns di Utrecht. Untuk Departemen Fisika: Prof F Donders dan Dr PQ Brondgeest di Utrecht. Untuk departemen zoologi dan botani, Prof J van der Hoeven dan Prof H Schlegel di Leiden, Prof P Harting dan Prof FAW Miquel di Utrecht dan Dr NWP RauwenhofF di Rotterdam. Untuk departemen ekonomi dan statistik, Prof S Vissering dan IT Buijs di Leiden: untuk departemen mekanika, FW Conrad di Den Haag’.
Orang Jepang yang studi di Belanda hanya sembilan orang yang akan tinggal lebih lama, termasuk Enomoto Takeaki di bawah bimbingan Profesor Hoffnann dan Hoffnann, juga fokus pada studi Belanda dan, di bawah bimbingan Profesor Vissering sebagaimana dilaporkan surat kabar yang terbit di Soerabaja.
De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 13-11-1863: ‘Amsterdam, 23 September. Diberitahu bahwa dari lima belas warga Jepang yang sementara tinggal di negara kita, sembilan di antaranya kini telah menetap secara permanen di Leiden; dua di antaranya adalah perwira tinggi, dan yang lainnya adalah bintara. Para perwira ini sangat sibuk mempelajari berbagai keahlian, sementara kedua perwira tinggi tersebut, dengan bantuan Profesor Hoffnann, juga fokus pada studi Belanda dan, di bawah bimbingan Profesor Vissering, pada bidang ekonomi politik. Kebetulan, mereka sepenuhnya merangkul gaya hidup Eropa dan telah pindah ke penginapan. Enam orang Jepang yang paling terkemuka telah berangkat ke Den Haag, di mana mereka berusaha untuk memperoleh pengetahuan tentang urusan maritim; mereka mungkin juga akan mengunjungi De Helder untuk sementara waktu untuk tujuan tersebut. Kami memahami bahwa koleksi Jepang milik Dr von Siebold, yang telah dipamerkan di sini selama beberapa waktu, akan segera dipindahkan ke Würzburg di Bavaria, kota kelahirannya. Beberapa ruangan telah ditawarkan kepadanya di gedung baru yang megah dari Sekolah Politeknik Kerajaan Maximilian, dan prospek juga telah diangkat bahwa koleksinya, yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan, seni, dan industri, akan menjadi milik negara dan tetap berada di kota kelahirannya. Diketahui bahwa von Siebold, yang bermaksud untuk mengangkat koleksi Jepang von Siebold yang kaya di Leiden menjadi museum paling terkemuka di Eropa, menawarkannya kepada pemerintah pada pembukaan pameran. Namun, tawaran ini tidak diterima. Dalam kata pengantar "Handleiding bij het werkenligen der Japansche collectie" (Panduan untuk Cara Kerja Koleksi Jepang), von Siebold memberikan penghargaan atas upaya yang umumnya bermanfaat dari Asosiasi Industri Publik, yang memungkinkannya untuk mencapai kontribusinya pada pameran ini dengan cara yang paling efektif. Namun, tujuan utamanya adalah untuk mempresentasikan hasil penelitian ilmiahnya selama perjalanan keduanya ke Jepang, secara umum dan lebih khusus lagi mengenai seni, industri, dan produk-produk negara yang luar biasa itu, yang cocok untuk diekspor, terutama untuk mendorong perdagangan kita yang telah berusia berabad-abad di wilayah tersebut, dan untuk memamerkannya kepada para praktisi ilmu pengetahuan dan seni di ibu kota Belanda. Semoga upaya von Siebold diakui oleh minat umum masyarakat, dan semoga kecintaannya pada ibu kota Belanda tetap terabadikan dalam ingatan sesama warga negara kita’.
Prof Millies dan Prof Vissering adalah dua guru besar yang cukup dikenal di Belanda. Sebelumnya, Prof Millies telah memperjuangkan Willem Iskander untuk dibiayai oleh pemerintah dalam bentuk beasiswa (dan berhasil). Prof Vissering adalah salah satu anggota Koninklijke Akademie van Wetenschappen te Amsterdam.
Staatsalmanak voor het Koningrijk der Nederlanden, 1862: ‘Kunsten en Wetenschappen. Koninklijke Akademie van Wetenschappen te Amsterdam. Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan di Amsterdam, menurut peraturan yang dilampirkan pada Keputusan Kerajaan tanggal 23 Februari 1855, adalah badan penasihat pemerintah di bidang ilmu pengetahuan; pusat kerja sama bagi para sarjana di Belanda dan wilayah jajahannya; ikatan persaudaraan antara para sarjana Belanda dan negara lain; lembaga untuk mempromosikan ilmu pengetahuan tersebut. Afdeeling voor de wis- en natuwrlcundige wetenschappen dengan bestuur: G Simons (voorzitter); Afdeding voor de taal-, letter-, geschiedkundige en wijsgeerige wetenschappen dengan bestuur: CW Opzoomer (voorzitter), yang mana para anggota antara lain S Vissering (sejak 7 mei 1861). Verslag van den staat der hooge-, middelbare en lagere scholen in het Koningrijk der Nederlanden over …, 1862: ‘Faculteit der regtsgeleerdheid: Prof S Vissering memberikan kuliah tentang ekonomi politik, statistik nasional, dan sejarah diplomasi Eropa, yang dihadiri oleh 42 mahasiswa baru dan 3 atau 4 mahasiswa dari tahun sebelumnya’.
Di Indonesia (baca: Hindia Timur) lembaga ilmu pengetahuan (Kunsten en Wetenschappen) dengan nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen didirikan oleh Mr Radermacher dkk pada tahun 1778. Lembaga ini pada era Pemerintah Hindia Belanda diakuisisi oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama baru menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang kemudian menjadi bagian (cabang) dari Koninklijke Akademie van Wetenschappen te Amsterdam. Pada tahun 1864 Wilem Iskander, kepala sekolah guru di Tanobato menjadi anggota Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen di Batavia. Pribu lainnya yang menjadi anggota adalah pelukis terkenal Raden Saleh.
Rotterdamsche courant, 15-04-1864: ‘Surat pos darat membawa laporan dari Hong Kong pada tanggal 1 Maret. Duta Jepang telah tiba di sana pada hari-hari pertama bulan Februari. Kedutaan terdiri dari tiga menteri, enam perwira pertama, sepuluh perwira junior, dan enam belas pelayan. Tujuan utusan Jepang adalah untuk mengunjungi berbagai ibu kota kekaisaran Eropa yang telah menjalin perjanjian perdagangan dengan pemerintah Jepang, dan juga untuk mencoba mencapai kesepakatan mengenai warga asing yang harus meninggalkan Yokohama. Biaya akan ditanggung oleh Pemerintah Jepang. Nama-nama anggota utusan adalah sebagai berikut: Duta: Esikougo-no-kami, Kawadzouidzou-no-Kami, Kawada Sagami-no-kami. Wakil Gubernur: Eanabe Eaitchi. Perwira Pertama: Eanaka Lentaro, Nishi Kichidjiro, Saïto Djirotaro, Sto Eokichiro, Suoda Saboro. Perwira ke-2: Horije Rokougoro, Yatsou Kansiro, Masouda Enkanoské, Yoko-yama Kéichi, Sougioura Aidzo, Matsnami Gormodjio, Yama-outchi Rokousabora, Yano-djirobé, Séke Simpatchi, Harada Goïtchi. Hasil: Kdooisoumi Yasouëmou, Oseki Hanoské, Kanagami Sasouki, Iwamatsoutaro, Bessio-sadjiro, Eakahasi Eomisaboro, Tamaki Sauja, Souganami Hisasi’.
Bataviaasch handelsblad, 03-10-1860: ‘Batavia. Pada pagi hari Minggu, 30 September, fregat uap Niagara (Amerika Seruikat) tiba di sini, membawa Kedutaan Besar Jepang dari Amerika. Kami mengambil detail berikut dari surat salah satu teman kami: Kemarin pagi saya pergi ke fregat uap Niagara. Pukul 18.15 saya naik ke kapal, dan saya harus pergi sedikit lebih lambat karena mereka masih membersihkannya. Ini adalah kapal yang luar biasa, yang terbesar di dunia setelah Great Western, berukuran 5.000 ton, dan model kapal layar yang luar biasa. Kapal ini memiliki, antara lain, dua belas meriam 120 pon di dalamnya, masing-masing dengan dudukan meriam seberat 2.500 pon; kapal ini memiliki jangkauan 8.000 mil. Panjang kapal ini luar biasa: kapal ini dalam (dengan 1 dek; 70 kaki), dan secara proporsional lebar. Meskipun sama sekali tidak dikenal, kami disambut dengan sangat ramah dan diperlihatkan ke mana-mana; Ruang tamu yang indah (2 ruang tamu yang tertata rapi), gudang senjata yang mewah, dan kamar ganda, yang dibangun sesuai dengan konstruksi yang benar-benar baru, tentu layak untuk dilihat. Hati kami sebagai orang Belanda merasa senang melihat kebersihan dan keteraturan yang hampir berlebihan, dipadukan dengan kesederhanaan dan disiplin yang ketat. Tidak ada sedikit pun kekacauan meskipun 500 awak kapal berdesakan, dan itu—serta pemandangan kapal raksasa seperti itu—akan memberi kami kenangan indah tentang perjalanan kami untuk waktu yang lama. Kapal Niagara mampu menempuh jarak 11 mil dengan uap dan layar, dan 12 mil per jam hanya dengan uap. Jarak dari Amerika ke sini (Batavia) adalah sekitar 91 hari dengan angin haluan yang konstan (melalui Afrika Selatan); tetapi seberapa cepat kapal ini berlayar dapat dilihat dari fakta bahwa fregat Inggris Agamunton, yang dikenal sebagai kapal yang sangat cepat, berlayar melewatinya, kemudian—setelah meletakkan kenangan tentang kabel telegraf Anglo-Amerika—kembali ke Inggris. Keberangkatan dijadwalkan pada hari Minggu atau Senin ini. Dikatakan bahwa kapal tersebut singgah di Batavia atas permintaan Jepang. Kedutaan (Jepang) terdiri dari [sesuatu] Pangeran dan 77 penerjemah dan pengikut, sebagian besar berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik, dan beberapa orang Belanda. Kemarin (Senin), enam orang Jepang turun di Hotel des Indes dan sangat gembira ketika mendengar bahwa sampanye tersedia (bendahara Niagara baru saja menerima 150 lusin sampanye asli (rjveuve Clicguot) lagi untuk mereka). Mereka makan siang dengan lahap, dan kembali ke kapal sekitar pukul 23.00. Besok (Rabu) para Pangeran (duta besar) dan rombongan mereka akan turun ke darat untuk diterima dengan upacara khidmat oleh Yang Mulia Gubernur Jenderal (Hindia Belanda), dan kemudian makan siang di Cressonnier's, sambil diiringi musik staf. Tentu saja, mereka tidak sepopuler di sini seperti di New York, karena mereka persis seperti orang Tiongkok, kecuali bahwa mereka semua memiliki wajah seperti perempuan, mengenakan gaun sutra panjang dengan lengan yang sangat lebar, dan dipersenjatai, sesuai dengan pangkat mereka, dengan satu atau dua pedang, yang ketajamannya telah dirasakan oleh Kapten de Vos dan Dekker. Rambut mereka disisir ke belakang dan diikat di belakang kepala; mereka tidak mengenakan kuncir kuda. Pagi ini para duta besar disambut oleh Konsul Amerika, ajudan Gubernur Jenderal, Komandan Angkatan Laut (Belanda di) Jawa, dan Asisten Residen. Mereka dikawal oleh Komandan dan para perwira Niagara, dan disambut dengan salvo 11 tembakan meriam saat mereka melewati baterai penyambutan. Pada saat dentuman salvo, mereka diterima oleh Residen, Kolonel Boers, komandan angkatan darat (yang terakhir mengenakan pakaian sipil), dan detasemen infanteri ke-5. Sementara Batalyon ke-10 memainkan lonceng upacara, mereka menaiki kereta yang telah ditentukan dan, diiringi oleh pengawal kavaleri, melanjutkan perjalanan ke Weltevreden’.
Kerjasama dengan berbagai Negara yang diperjanjikan di Jepang dan pengiriman misi Jepang ke luar negeri (duta/utusan) termasuk mahasiswa ke Belanda, telah membuat kesapakatan-kesepakatan lanjutan bagia Jepang. Pemerintah Jepang mulai investasi di dalam negeri dengan membeli berbagai fasilitas di luar negeri, termasuk pembangunan kapal Jepang di Eropa.
Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 10-05-1866: ‘Pagi ini seorang anak laki-laki jatuh ke air di Zalmhaven, tetapi diselamatkan oleh seseorang yang melompat mengejarnya. Kecelakaan berikut terjadi di Dordrecht kemarin sore: seorang pria sedang bekerja di sisi kapal perang Jepang Kaijo, yang sedang dibangun di sana, di atas perancah yang ditopang oleh rakit. Saat rakit ditarik sedikit ke depan, rakit itu terbalik dan terguling sepenuhnya oleh arus yang kuat, menyebabkan hampir semua orang di dalamnya jatuh ke air. Semua diselamatkan kecuali satu orang, putra komandan angkatan laut, yang terbawa arus dan segera menghilang ke kedalaman. Jenazahnya belum ditemukan’.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Ph von Siebold, Orang Jerman Dokter di Jepang: Orang-Orang Jerman yang Bekerja dengan Orang Belanda
Philipp Franz von Siebold meninggal dunia dalam usia 70 tahun pada tanggal 18 Oktober 1866 di München (Munich), Jerman. Seperti disebut di atas, koleksi tentang etnografi Jepang telah dipamerkan di Museum von Siebold Belanda (yang dibuka tahun 1860). Dr Ph von Siebold adalah orang penting yang memperkenalkan Jepang di Eropa, dan Dr Ph von Siebold adalah orang Eropa pertama yang mengetahui “jantuing” Jepang. Dalam hal ini, Dr Ph von Siebold menjadi jembatan budaya antara Jepang dan Eropa.
Orang-orang yang studi di Belanda sebagian sudah kembali dan sebagian yang lain setelah selesai studi kembali ke Jepang. Enomoto Takeaki menyelesaikan studinya di Belanda pada tahun 1866 pada usia 30 tahun. Mahasiswa-mahasisw Jepang di Belanda yang telah menyelesaikan studinya adalah Hiroyuki Kato dan Nishi Amane dalam bidang bahasa, filsafat; Tsuda Mamichi dalam bidang hukum dan politik; Mimura Shunsuke dalam bidang kedokteran.
Pada tahun 1866 adalah tahun yang krisis di Jepang. Sementara itu, seorang yang begitu dekat dengan orang Jepang, von Siebold meninggal di negaranya di Jerman, Tokugawa Iemochi, Shogun ke-14, gugur pada Agustus 1866 saat sedang memimpin ekspedisi militer untuk menghukum wilayah Choshu. Kaisar Komei, yang sangat anti-asing, wafat pada akhir Desember 1866, yang kemudian membuka jalan bagi putranya, Mutsuhito (menjadi Kaisar Meiji), untuk naik takhta. Satu yang penting, kapal pertama Jepang (Kaijo) yang dibuat di Belanda sudah memasuki tahap pengiriman ke Jepang. Sudah barang tentu perwira Jepang yang telah menyelesaikan studinya di Belanda akan ikut dalam kapal Kaijo tersebut.
Pada bulan Maret 1866 terbentuk Aliansi Satchō, suatu aliansi rahasia antara dua wilayah (daimyo) yang sebelumnya bermusuhan, yaitu Satsuma dan Choshu. Aliansi ini diprakarsai oleh tokoh-tokoh seperti Saigo Takamori dan Kido Takayoshi dengan perantaraan Sakamoto Ryoma untuk bersatu menumbangkan kekuasaan shogun. Keshogunan Tokugawa mencoba melancarkan serangan militer besar-besaran untuk menundukkan wilayah Choshu yang membangkang. Namun, pasukan keshogunan mengalami kekalahan memalukan karena pasukan Choshu menggunakan taktik dan senjata modern yang dibantu oleh aliansi mereka. Pada 3 Februari 1867, Pangeran Mutsuhito yang berusia 14 tahun naik takhta menggantikan ayahnya, Kaisar Kōmei, yang wafat. Ia kemudian dikenal sebagai Kaisar Meiji. Tokugawa Yoshinobu, shogun ke-15 dan terakhir dari Keshogunan Tokugawa, secara resmi mengundurkan diri pada akhir tahun 1867. Ia menyerahkan otoritas politik kembali kepada Kaisar untuk menyatukan negara menghadapi ancaman asing. Pengunduran diri tersebut secara resmi mengakhiri kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang telah memerintah Jepang selama lebih dari 260 tahun sejak 1603. Seperti dilihat nanti, Restorasi Meiji menjadi suatu revolusi politik dan sosial yang mengubah Jepang dari sistem feodal menjadi kekuatan industri modern. Pada tahun 1868, terjadi perang saudara antara pasukan pro-Kekaisaran dan pendukung setia Keshogunan. Pada Januari 1868, pecah Perang Boshin (Perang Tahun Naga) yang diawali dengan Pertempuran Toba-Fushimi. Kaisar Mutsuhito memindahkan ibu kota dari Kyoto ke Jedo, yang kemudian berganti nama menjadi Tokyo. Pada April 1868, pemerintah baru mengeluarkan lima butir sumpah yang menetapkan modernisasi Jepang, termasuk pembentukan dewan musyawarah dan pencarian ilmu pengetahuan ke seluruh dunia..
Satu hal yang kurang terinformasikan dalam sejarah mahasiswa Jepang adalah nama Kusumoto Ine, sebagai dokter wanita pertama di Jepang yang dilatih dalam ilmu kedokteran Barat, meskipun ia juga menempuh pendidikannya di Jepang. Kusumoto Ine sendiri adalah putri dari Philipp Franz von Siebold. Dalam hal ini, Ph von Siebold berangkat dari Batavia ke Jepang pada tahun 1823.
Philipp Franz Balthasar von Siebold lahir di Würzburg, Jerman 17 Februari 1796. Studi kedokteran di Universitas Würzburg, 1815. Ph von Siebold meraih gelar dokter tahun 1820 dan kemudian merantau ke Belanda. Di Belanda von Sibold direkrut sebagai dokter militer (lihat Bataviasche courant, 22-03-1823). Disebutkan di resimen artileri No 5, Mayor bedah PF von Siebold. Ph von Siebold kemudian ditempatkan di bawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Setiba di Batavia, Ph von Siebold dikirim ke Jepang. Sebagaimana diketahui Gubernur Jenderal Hindia Belanda juga membawahi wilayah-wilayah (koloni Belanda) di timur jauh seperti di Formosa dan Jepang. Pada bulan Juni 1823 Ph von Siebold berangkat ke Jepang (lihat Bataviasche courant, 05-07-1823). Disebutkan dua kapal De Onderneming dan De Drie Gezusters berangkat ke Jepang tanggal 28 Juni. Kapal De Drie Gezusters dinakhodai M Azon Jacometti dengan penumpang de Sturler, chirurgijn major Siebold, Muijskes dan van Outeren. Dalam laporan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tanggal 7 Oktober 1823 yang berada di gedung Genootschap di Risjwijk, Batavia dalam kepengurusan yang baru disebut sebagai anggota korespondesi di Jepang nama-nama Kolonel JW de Sturler dan Majoor bedah Ph von Siebold (Bataviasche courant, 01-11-1823). Dalam publikasi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen No 27 terdapat 13 ringkasan laporan yang mana pada nomor 11 adalah laporan von Siebold: ‘Jawaban atas beberapa pertanyaan tentang kebidanan Jepang, oleh mahasiswa saya Mimazunzo, seorang dokter di Nangazaki, dengan beberapa komentar, kepada Bataviaasch Genootschap, oleh Dokter von Siebold, anggota korespondensinya (lihat Bataviasche courant, 08-11-1826).
Ph von Siebold yang masih muda menemukan
jodohnya di Jepang (Kusumoto Taki). Putri mereka lahir tahun 1827 yang diberi
nama Kusumoto Oine. Ph von Siebold memanggil istrinya dengan nama Otakusa"
(O-Taki-san).
Javasche courant, 29-04-1828: ‘Perlu dicatat di sini bahwa kemajuan upaya berbagai komite pertanian sangat tertunda sejauh menyangkut objek budidaya baru, karena sebagian besar benih dan tanaman untuk tujuan ini belum dibawa kepada kami sampai baru-baru ini. Namun, kini kami memiliki banyak benih dan tanaman penting Jepang, yang terakhir, dan mungkin juga yang pertama, yang berkat perawatan Dokter von Siebold, telah tiba dalam kondisi sangat baik; banyak di antaranya, terutama biji pohon lilin (yang sarat buah di Buitenzorg), sebagian besar telah berkecambah’. Javasche courant, 23-09-1828: ‘Kami nantikan dengan senang hati dalam volume ke-12. Karya kedua dalam koleksi ini tidak kalah berharga; ini adalah tinjauan singkat tentang bahasa Jepang, yang disusun dalam bahasa Latin oleh Dr Von Siebold, dari pulau Ozima dekat Nangazaki, dan dikirim dari sana, bersama dengan tabel xylogiafik yang diukir di kayu, atas arahan penulis ke kota Ossaka di Jepang. Karena koresponden yang rajin dari Perhimpunan ini masih belum dapat menambahkan bagian kedua, kami senang bahwa publikasi kontribusi ini untuk pengetahuan linguistik tidak tertunda. Bagian pertama ini membahas huruf atau karakter, pengucapan, dan etimologi. Setelah beberapa catatan pendahuluan, di mana penulis tampak sebagai seorang sarjana sederhana yang tidak ingin memamerkan pengetahuannya tetapi ingin segera bermanfaat, berikut adalah daftar penulis dan tulisan tentang bahasa dan hal-hal terkait Jepang, yang terdiri dari sekitar dua puluh karya, sebagian besar di antaranya belum terjangkau oleh Von Siebold. Di bawah ini, bahasa Belanda atau kunci untuk diri Anda sendiri diambil dari kata-kata Halma oleh seorang ahli bahasa Jepang, dan yang memiliki dua edisi, satu diterbitkan di Jepang di M’jako. Sekarang saya membagi bagian pertama dari ringkasan singkat ini menjadi dua bagian, yang pertama membahas dua bab utama tentang huruf atau karakter dan pengucapan, dalam bahasa Eropa dengan tujuh bab tentang bagian-bagian ucapan; sementara diikuti oleh penjelasan tabel, uraian berbagai alfabet yang digunakan di Jepang, yang, menurut editor, sama otentiknya dengan yang belum pernah terungkap sebelumnya. Kami berharap ini dapat menemukan kesempatan untuk menyelesaikan karya ini dan dengan demikian buku-buku Jepang yang ada dalam koleksi Belanda tidak akan lagi menjadi harta karun yang dijaga ketat seperti yang dialami sebagian besar dari mereka’.
Ph von Siebold, tidak hanya menemukan jodohnya wanita Jepang, Ph von Siebold juga telah membuka pembicaraan para ahli bahasa di Inggris dan Prancis yang sudah lama buntu (lihat Leydse courant, 15-12-1828). Para ahli bahasa tersebut mendasarkan kajian pada berbagai manuskrip bahasa Jepang yang ditulis orang Inggris.
Leydse courant, 15-12-1828: ‘Beberapa orang terpelajar yang mampu melakukan tugas tersebut akan menulis tata bahasa Jepang yang independen dan orisinal. Keinginan ini sekarang telah dipenuhi dua tahun yang lalu oleh Ph Fr von Siebold yang sangat terpelajar, Dokter kedokteran, yang telah menyusun Epitome Linguae Japonicae cum Tabulis IX Xylographicis, ir. ipsa Japonia incisis, dan yang terdapat dalam Volume Kesebelas Bataviaasch Genootschap, dicetak di Batavia ter Lands - edisi 1826, dan di sana pada halaman 63 hingga 136. Ringkasan singkat bahasa Jepang ini, yang disusun di negara itu sendiri (Jepang), menunjukkan bukti yang paling jelas tentang keinginan yang tak kenal lelah untuk melakukan penelitian; baik pengetahuan linguistik maupun penilaian. Di sini kita menemukan daftar penulis dan tulisan yang telah membahas bahasa dan urusan Jepang; Ph von Siebold telah mencatat untuk setiap penulis yang disebutkannya apakah dan sejauh mana ia dapat berkonsultasi dengan mereka dalam karyanya’.
Ph von Siebold tidak hanya menjadi penting dan dikenal di Jepang, nama Ph von Siebold di Eropa terutama diu Belanda juga semakin dikenal. Namun apa yang telah didedikasinnya telah menyebabkan dirinya masuk penjara di Jepang (lihat Dagblad van 's Gravenhage, 25-09-1829). Disebutkan museum sejarah alam yang kaya dan megah di Leyden sekali lagi telah melakukan akuisisi penting. Enam puluh dua peti berisi berbagai benda yang berkaitan dengan sejarah alam Jepang telah tiba dan dibongkar. Peti-peti ini dikirim oleh Ph von Siebold, seorang bekerja untuk pemerintah Belanda di sana; namun, sangat disayangkan, pria tersebut juga berhasil memperoleh peta Jepang, tetapi hal ini ditemukan sesaat sebelum diekspor. Peta tersebut disita, dan Ph von Siebold tersebut ditempatkan dalam tahanan, dilaporkan tidak akan pernah dibebaskan. Lantas mengapa von Siebold ditahan?
Nederlandsche staatscourant, 22-10-1829: ‘Baru-baru ini, surat-surat diterima dari dokter dan naturalis terkenal Siebold dari Jepang, tertanggal 26 Februari 1829, yang menunjukkan bahwa cendekiawan ini tiba-tiba mengalami hambatan yang tidak menyenangkan dalam niatnya untuk kembali ke Eropa. Kaisar Jepang telah mengetahui bahwa Siebold telah menerima salinan peta Kekaisaran yang disimpan di sana dari Pengawas Koleksi Pelampung Kekaisaran di Jeddo, dan bahwa ia bermaksud untuk mengangkutnya ke Europa. Karena, seperti diketahui, hal seperti itu tidak diizinkan di Jepang, penyelidikan ketat atas masalah ini segera diperintahkan. Beberapa orang Jepang, yang telah membantu Siebold dalam penelitian ilmiahnya yang tak kenal lelah, telah ditahan, dan ia sendiri telah menerima perintah untuk tidak meninggalkan rumahnya di pulau Djima sampai penyelidikan atas masalah ini selesai. Sejak saat itu, ia menerima kunjungan harian dari Komandan Aanga Saki, yang terus berusaha mengumpulkan detail baru tentang insiden tersebut, tetapi sebaliknya memperlakukannya dengan sangat sopan dan penuh perhatian. Tidak ada kekhawatiran sama sekali bahwa insiden ini akan memiliki konsekuensi yang lebih buruk bagi von Siebold, terutama karena pada saat itu ia berada dalam hubungan yang sangat baik dengan Pemerintah Jepang’.
Singkatnya, Ph von Siebold kembali ke Eropa
melalui Batavia tahun 1830. Pada tahun 1858, pemerintah Jepang mencabut cekal von
Siebold. Sebagaimana putri dan istrinya di Jepang, Ph von Siebold kembali ke
Jepang pada tahun 1859 sebagai penasihat bagi Agen Perusahaan Perdagangan
Belanda (Nederlandsche Handel-Maatschappij) di Nagasaki. Pada tahun 1861, von
Siebold mengatur pengangkatannya sebagai penasihat pemerintah Jepang dan pergi
ke Jedo untuk menjalankan tugas tersebut. Di sana, ia mencoba mendapatkan
posisi di antara perwakilan asing dan pemerintah Jepang. Namun kemudian Konsul
Jenderal Belanda di Jepang, JK de Wit, diperintahkan untuk meminta pemecatan
von Siebold dan diperintahkan untuk kembali ke Batavia. Seperti disebut di
atas, Philipp Franz von Siebold meninggal dunia dalam usia 70 tahun pada
tanggal 18 Oktober 1866 di München (Munich).
Nieuwsblad voor den boekhandel jrg 35, 1868, No 19: ‘Athenaeum melaporkan bahwa dewan British Museum sedang bernegosiasi untuk pembelian perpustakaan Jepang yang luas milik mendiang Dr von Siebold. Perpustakaan tersebut terdiri dari beberapa ribu jilid, yang ditulis sepenuhnya dalam bahasa Jepang, mencakup subjek sastra, ilmiah, dan sejarah. Katalog berbahasa Prancis dan Inggris dari koleksi ini sedang disusun oleh Profesor Fotheringham, dibantu oleh seorang sarjana Jepang yang datang ke Eropa bersama Alexander von Siebold Jr. Diharapkan katalog ini akan memberikan pandangan yang lebih mendalam tentang sastra Jepang daripada yang mungkin dilakukan hingga saat ini. Pada saat yang sama, surat kabar Jerman melaporkan bahwa keluarga von Siebold memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kontrak penjualan yang ditandatangani pada tahun 1864 antara pemerintah Bavaria dan mendiang Dr Ph von Siebold. Penutupan perpustakaan etnografi yang dikumpulkan oleh beliau berlaku selama kunjungan keduanya ke Jepang dan dipamerkan di Wurzburg’.
Pada 3 Januari 1869, Kaisar Jepang mengeluarkan deklarasi formal tentang pengembalian kekuasaan ke tangannya: Namun tentara yang setia kepada kekaisaran mengakhiri upaya mereka dalam Pertempuran Hakodate di Hokkaido, Mei 1869. Kekalahan tentara mantan keshogunan yang dipimpin oleh Enomoto Takeaki dan Hijikata Toshizō menandai tamatnya Keshogunan Tokugawa dan pemulihan sepenuhnya kekuasaan di tangan Kaisar.
Seperti disebut, Enomoto Takeaki adalah alumni Belanda. Pada tahun 1868, setelah pemerintah Keshogunan Tokugawa ditumbangkan oleh pasukan yang loyal kepada Aliansi Satchō dalam Perang Boshin, Enomoto menolak untuk menyerahkan kapal-kapalnya, dan melarikan diri ke Hakodate di Hokkaido bersama sisa-sisa Angkatan Laut Tokugawa dan sejumlah penasihat militer Prancis yang dipimpin Jules Brunet. Pada waktu itu, armada yang dipimpinnya terkuat di Jepang, terdiri dari delapan kapal perang bertenaga uap. Cita-cita Enomoto adalah mendirikan negara merdeka di bawah kekuasaan keluarga Tokugawa di Hokkaido, namun Pemerintah Meiji menolak separatisme di Jepang. Pada 25 Desember 1868, pengikut setia Keshogunan Tokugawa memproklamasikan berdirinya Republik Ezo, dan Enomoto terpilih sebagai presiden. Tahun berikutnya, Hokkaido diinvasi pasukan Pemerintah Meiji. Armada Enomoto dikalahkan dalam Pertempuran Laut Hakodate. Republik Ezo dibubarkan pada 18 Mei 1869. Hokkaido kembali di bawah kekuasaan pemerintah pusat di bawah pimpinan Kaisar Meiji. Setelah menyerah kepada Pemerintah Meiji, Enomoto ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan pengkhianatan. Namun, pemimpin Pemerintah Meiji (terutama berkat desakan Kuroda Kiyotaka) akhirnya mengampuni Enomoto pada tahun 1872. Pemerintah Meiji yang baru dibentuk menyadari Enomoto memiliki berbagai bakat dan pengetahuan yang berharga. Ia termasuk salah satu dari mantan pendukung Keshogunan Tokugawa yang beralih sebagai birokrat di pemerintah baru. Pada waktu itu Pemerintah Meiji didominasi oleh politikus asal Domain Chōshū dan Domain Satsuma yang curiga terhadap pihak luar dan mantan loyalis Tokugawa. Meskipun demikian, Enomoto menjadi sebuah perkecualian, namanya naik dengan cepat di klik penguasa baru, dan mencapai status lebih tinggi dibandingan mantan birokrat dari Keshogunan Tokugawa. Pada tahun 1874, Enomoto diberi pangkat laksamana madya di Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang baru dibentuk.
Lantas apakah masih ada pengiriman mahasiswa Jepang ke Belanda setelah generasi Enomoto Takeaki (1862-1866)? Bagaimana dengan orang Indonesia? Setelah Willem Iskander kembali ke tanah air tahun 1861 dan Dja Ogot meninggal di Belanda tahun 1862 serta kabar berita Kadjo tidak terinformasikan lagi, pada tahun 1864 cucu Sultan Jogja, Ismangoen Danoe Winoto berangkat studi ke Belanda dengan Residen Soerakarta (FN Nieuwenhuijzen).
Ada perbedaan yang sangat lebar antara orang Jepang dengan orang Indonesia. Sejak kehadiran Belanda di Indonesia tahun 1596, para pemimpin pribumi dari waktu ke waktu semakin melemah. Singkatnya, sejak 1800 dibentuk Pemerintah Hindia Belanda yang menjadi awal penjajahan di Indonesia. Jepang, sejak terbentuk Kesogunan Jepang tahun 1603 (mulai terbentuknya persatuan nasional) dan kehadiran Belanda tahun 1609, praktis Jepang tidak pernah di bawah penjajahan Belanda (maupun bangsa lainnya). Seperti disebut di atas, keretakan di Jepang terjadi pada tahun 1866 yang kemudian terjadi perang saudara. Dalam konteks inilah alumni Belanda Enomoto Takeaki terlibat perang.
Pada tahun 1874 Willem Iskander berangkat ke Belanda atas biaya pemerintah (beasiswa) dengan membawa tiga guru muda: Raden Soerono dari Soerakarta, Raden Sasmita dari Bandoeng dan Barnas Lubis dari Tapanoeli. Willem Iskander akan melanjutkan studi keguruannya, sedangkan tiga guru muda berada di bawah bimbingan Willem Iskander. Sementara itu, Ismangoen Danoe Winoto sudah menyelesaikan sekolah menengah (HBS) dan diterima di perguruan tinggi.
Pada tahun 1874, Enomoto diberi pangkat laksamana madya di Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang baru dibentuk. Pada tahun 1875 Enomoto Takeaki dikirim ke Eropa sebagai utusan (duta) Jepang. Enomoto Takeaki kemudian ditempatkan di St Petersburg.
Pada tahun 1876 Ismangoen Danoe Winoto lulus akademi pemerintahan (semacam IPDN pada masa ini). Willem Iskander juga sudah lulus studinya. Sementara tiga guru muda hanya Raden Sasmita yang tinggal (dua yang lainnya sudah meninggal). Pada tahun 1876 ini (hanya beda satu hari) Ismangoen Danoe Winoto dan Willem Iskander menikah di Belanda. Pada bulan Maret 1876 Ismangoen Danoe Winoto dengan istri kembali ke tanah air. Namun, pada bulan Mei 1876 Willem Iskander diberitakan meninggal di Amsterdam. Raden Sasmita menjadi sorangan di Belanda. Namun tidak lama kemudian sejumlah guru muda kembali dikirim pemerintah ke Belanda. Enomoto Takeaki terinformasikan berada di Belanda pada tahun 1878.
Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 08-07-1878: ‘Museum di Mauritshuis dan Pameran Lukisan hari ini mendapat kehormatan menerima kunjungan dua tokoh Tiongkok terkemuka, yang berjalan-jalan dengan ramah mengenakan pakaian nasional mereka bersama seorang pejabat tinggi Jepang, yang juga mengenakan pakaian tradisional. Tadi malam, kedua pria ini turun di Hotel de Bellevue, datang dari Brussels, dan akan kembali sore ini dengan kereta api Belanda, yang memakan waktu 5 jam 58 menit. Tokoh Tiongkok terkemuka tersebut adalah Kuo-ta-jen, duta besar Tiongkok untuk London dan Paris, dan sekretarisnya, Uheng Rutong. Pejabat Jepang tersebut berpangkat Laksamana Madya Armada Jepang, bernama Takeaki-Enomoto, dan sejak tahun 1974 memegang jabatan Utusan Luar Biasa dan Menteri Yang Mulia Kaisar Jepang di Istana St Petersburg. Beliau adalah salah satu orang Jepang yang menyelesaikan pendidikannya di sini (Belanda) pada waktu itu. Bahwa ketiga tokoh Oriental terkemuka itu adalah orang-orang yang berbudaya tinggi dan maju terbukti terutama dari posisi penting yang mereka pegang, tetapi juga dari kunjungan mereka ke museum Belanda, di mana mereka menghabiskan sebagian besar waktu singkat mereka untuk meneliti karya-karya seniman kuno dan modern kita’. Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 12-07-1878: ‘11 Juli. Berikut ini adalah para pria yang tiba di Ilótel de Bellevue tadi malam: Shiogoï Naonobou Sameshima, Menteri; F.Marshall, Sekretaris Kehormatan Legasi; dan Nakamura Iliroyasu, Konsul Kaisar Jepang, yang pertama di Paris dan yang kedua di Marseille. Wakil Laksamana Takéaki Enomoto, utusan Jepang di St. Petersburg, berangkat dari sini hari ini’.
PH von Siebiold sudah lama tiada (meninggal di Jerman tahun 1866). Namun Enomoto Takeaki masih bisa melihat karya Jepang di Belanda di museum (koleksi PH von Siebiold). Lalu apakah masih ada orang Jepang yang studi di Jepang? Yang Jelas orang Indonesia masih terus ada yang studi di Belanda.
Pemerintah Hindia Belanda mengirim guru muda: Pada tahun 1877 Hamzah dan Raden Kamil; pada tahun 1878 Jozias Ratulangi dan Elias Kandou serta Soejoed; pada tahun 1881 ME Anakotta dan JH Wattimena. Pada tahun 1884 JH Wattimena dikabarkan lulus sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad, 07-04-1884). JH Wattimena adalah guru terakhir yang studi di Belanda. Era guru berakhir yang bersamaan dengan era perguruan tinggi. Dua yang pertama studi di perguruan tinggi Belanda adalah Oei Jan Lie (1881) dan Tan Tjioen Liang (1883). Setelah Oei Jan Lie dan Tan Tjioen (keduanya teknik di Delft) baru muncul kembali orang Indonesia studi ke Belanda. Pada tahun 1896 Raden Kartono lulusan HBS Semarang berangkat ke Belanda untuk studi teknik di Delft. Raden Kartono adalah abang dari RA Kartini.
Sejak Restorasi Meiji (1868), bahasa Inggris telah digunakan di Jepang dalam perjanjian dengan orang asing. Mengapa? Kebijakan luar negeri Jepang yang baru terbuka kepada semua Negara asing. Saat itu, bahasa Inggris sudah menjadi sangat popular, tidak hanya oleh orang Inggris yang berkoloni di Hongkong dan daratan Tiongkok, juga bahasa orang Amerika Serikat adalah bahasa Inggris. Fakta bahwa sangat banyak orang Belanda dan orang Jerman yang bisa berbahasa Inggris (tidak sebaliknya). Dalam hal ini, meski orang Jepang sudah berabad-abad di Jepang, tetapi bahasa Belanda tidak mampu dalam memfasilitas dunia baru di Jepang.
Pada tahun 1868 didirikan sekolah Kaisei-kö. Pada tahun berikutnya, beberapa orang Inggris dan orang Prancis dipekerjakan sebagai profesor di lembaga tersebut, di mana mereka mengajar matematika Eropa. Kaisei-kö kemudian berganti nama menjadi Daigaku Nanko yang digabungkan dengan lembaga-lembaga lain menjadi Tokyo Imperial University (Universitas Kekaisaran Tokyo) dimana bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Secara resmi ditetapkan pada tahun 1872 bahwa hanya matematika Eropa atau Yözan yang boleh diajarkan di sekolah dasar, sekolah menengah, universitas, dan sebagainya. Matematika Jepang atau Wasan tidak pernah dipelajari lagi (punah).
Dalam konteks dunia ilmu pengetahuan Barat di Jepang dan dalam hubungannya dunia ilmu pengetahuan Jepang di dunia Barat ada dua nama yang perlu disebut, yakni: Dr Ph von Siebold (sejak 1823) dan Dr Jhr JLC Pompe van Meerdervoort (1859-1862). Mereka adalah dua dokter berbeda generasi yang memberi kontribusi penting dalam dunia akademik di Jepang. Dr Ph von Siebold juga telah memperkenalkan ilmu pengetahuan Jepang di Eropa (Belanda) tahun 1830 dan Dr Jhr JLC Pompe van Meerdervoort yang membawa sejumlah mahasiswa Jepang untuk studi ke Eropa (Belanda) tahun 1862. Dua yang terpenting dari mahasiswa Jepang pertama ke Eropa (Belanda) tersebut adalah Takéaki Enomoto (yang kelak menjadi Laksamana Angkatan Laut Jepang) dan Hiroyuki Kato (kelak menjadi Rektor Tokyo Imperial University).
Dokter Jepang pertama yang menempuh pendidikan kedokteran di Belanda adalah Yuichi Ito (Ito Genpaku). Yuichi Ito salah satu yang dikirim Keshogunan Tokugawa ke Belanda untuk studi pada tahun 1862. Yuichi Ito studi kedokteran di Universiteit te Leiden dan lulus sebagai dokter. Dalam hubungan ini, Kusumoto Ine (putri dari Dr Ph von Siebold) dikenal sebagai dokter perempuan pertama yang mempraktikkan kedokteran Barat di Jepang, meskipun ia tidak pernah belajar di Belanda. Catatan: orang Indonesia pertama meraih gelar dokter di Belanda pada tahun 1908 adalah Dr Asmaoen (Malang), Dr Abdoel Rivai (Bengkoeloe) dan Dr F Laoh (Tondano). Pada tahun 1909 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (pendiri organisasi pelajar/mahasiswa Indonesia Indische Vereeniging di Belanda, didirikan 1908) meraih gelar sarjana pendidikan.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar