Kamis, 12 Februari 2026

Sejarah Jakarta (126): Senayan, Gedung Parlemen dan Gelora Bung Karno; Apakah Nama Senayan Berasal dari Wangsanaya?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Senayan adalah kelurahan di kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Nama Senayan sendiri sering dirujuk untuk menyebut kawasan kelurahan Gelora, Senayan, dan Grogol Utara bagian timur (Patal Senayan). Sementara kelurahan Senayan sendiri sering dirujuk dengan nama Senayan yang mencakup SCBD, atau nama kawasan masyarakat setempat yaitu Tulodong. Asal mula nama Senayan berasal dari cerita letnan asal Bali yang hidup pada tahun 1680 di kawasan tersebut. Nama letnan tersebut adalah Wangsanayan. Namun, asal mula nama ini masih perlu dicari lebih dalam lagi (Wikipedia). Sejarah Bahasa Indonesia

 

Asal-usul nama Senayan diyakini berasal dari nama seorang tuan tanah yang pernah tinggal di kawasan tersebut pada abad ke-17. Nama Senayan merupakan bentuk singkat atau perubahan pelafalan dari nama Wangsanayan. Beliau adalah seorang letnan asal Bali yang menetap di kawasan tersebut sekitar tahun 1680. Dalam peta-peta lama (seperti peta tahun 1902), wilayah ini awalnya tertulis sebagai Wangsanayan atau Wangsanajan. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menyederhanakan penyebutannya menjadi "Senayan". Dahulunya, kawasan ini merupakan tanah partikelir atau perkebunan milik Wangsanayan sebelum akhirnya bertransformasi menjadi kampung Betawi, dan kemudian dikembangkan oleh Presiden Soekarno menjadi kompleks olahraga untuk Asian Games 1962 (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Senayan, Gedung Parlemen dan Gelora Bung Karno? Seperti disebut di atas, Gedung Parlemen dan Gelora Bung Karno berada di wilayah Senayan. Apakah dalam hal ini nama Senayan berasal dari (nama) Wangsana? Lalu bagaimana sejarah Senayan, Gedung Parlemen dan Gelora Bung Karno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Senayan, Gedung Parlemen dan Gelora Bung Karno; Apakah Nama Senayan Berasal dari Wangsanaya?

Nama Wangsa Naya sudah dicatat di dalam catatan Kasteel Batavia tahun 1661 (lihat Daghregister, 17-05-1661). Wangsanaya adalah pemimpin Bali (Hoofd der Baliërs di Oedoegoedoeg (lihat Daghregister, 15-09-1678). Wangsanaya tiba di Batavia tahun 1681 (lihat Daghregister 24-02-1681). Lantas apakah nama Wangsanaya yang menjadi asal-usul nama Senayan? 


Daghregister adalah catatan harian yang dilakukan di Kasteel Batavia yang dilakukan terhadap kejadian-kejadian harian yang diketahui di Batavia seperti kedatangan orang tertentu, ringkasan isi berita/surat yang diterima di Batavia dan sebagainya. Pencatatan harian di Kasteel Batavia ini dilakukan sejak tahun 1621 (hingga tahun 1805). Salah satu penulis Belanda yang menggunakan Daghregister tersebut adalah Francois Valentijn yang bukunya berjudul Oud en Nieuw Oost Indien yang diterbitkan tahun 1724. Pada tahun 1880 kepala arsip Pemerintah Hindia Belanda Mr CA van der Chijs mulai mendokumentasikan lembaran-lembaran daghregister tersebut untuk menghindari hilangnya data dan informasi karena kerusakan bahan atau hilang. Besar dugaan upaya keras CA van der Chijs tersebut yang menjadi database yang tersimpan di ANRI sekarang. Penulis lainnya yang telah menggunakan data tersebut adalah F de Haan (dan tentu saja saya sendiri).  

Wangsanaya adalah salah satu pemimpin Bali di Batavia dan sekitarnya. Pemimpin Bali lainnya adalah Tjakrajoeda, yang namanya pertama kali dicatat di Kasteel Batavia pada tahun 1678 sebagai penduduk Tjisero (lihat Daghregister, 23-10-1678). Tjakrajoeda turut membantu Bantammer dalam penaklukan Soemedang (lihat Daghregister, 21-12-1678). Sarantaka datang pada 24 Juni 1681 dengan sejumlah pengikut dari Krawang ke Batavia untuk menetap di Batavia secara permanen dan mereka ditempatkan di salah satu kampung Bali. 


Wangsanaja dan para pengikutnya di Sontar (lihat Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811 door F de Haan. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1910). Kapten Kuffeler ke Tandjoengpoera. Kapten Kuffeler (Postcommandant te Tandjoengpoera) menulis surat pada tanggal 14 April bahwa penduduk "lebih setia kepada Wangsanaija Bali daripada kepada Perusahaan (VOC)". Pada saat yang sama, Winkler, yang telah beroperasi di dataran tinggi Tangier dipanggil pada tanggal 15 April. Namun, sebelum Wanderpoel kembali ke Batavia, Wangsanaja terbunuh pada tanggal 7 Mei. Menurut surat 8 Juli 1687, terbunuhnya Wangsanaja karena perbuatan Aria Natamanggala di Tjiblagoen. 

Wangsanaya meninggal tahun 1687. Seperti disebut di atas, Wangsanaya tiba di Batavia tahun 1681. Dalam hal ini nama Wangsanaya terhubung dengan VOC di Batavia selama enam tahun. Lalu apakah nama Wangsanaya dari Bali yang menjadi asal-usul nama Senayan? 


Pada masa itu, banyak yang menggunakan nama Wangsa dan Naya (Naja atau Naija). Nama Wangsa (di depan nama) seperti Wangs Tanoe, Wangsa Tsiandra, Wangsadipa, Wangsa Kasoema, Wangsadipa, Wangsadiredja, Wangsadita, Wangsaita, Wangsajoeda, Wangsamanggala, Wangsamarta, Wangsanangga, Wangsanata, Wangsaniti, Wangsaradja, Wangsaraga, Wangsaredja, Wangsatanoe, Wangsatjandra. Nama Wangsa di belakang nama seperti Soeta Wangsa, Tjitrawangsa, Anggadiwangsa, Naijawangsa atau Najawangsa, Marta Wangsa, Poespa Wangsa. Bagaimana dengan nama Naja atau Naija? Ada nama Najamanggala, Naija Sara, Najadjiwa, Najagati, Najatroena, Najawangsa. Juga ada nama Najabangsa. Sebagai tambahan dalam hal ini adalah yang menggunakan nama seperti Tjakradiiaga, Tjakradjasa, Tjakrajoeda, Tjakrawadana, Tjampakapoetih, Tjandradjaja, Tjandramarta, Tjandrapatra, Tjandrasinga, Tjandrasoeta, Tjandrawangsa, Tjandrawatjana, Tjandrawisoeta, dan lainnya. Dan tentu saja ada pula nama Singaderpa, Singagati, Singajoeda, Singamanggala, Singanagara, Singanaja, Singaparna, Singapati, Singapura, Singaprabangsa, Singapradana, Singarana, Singaranoe, Singasoeta, Singatroena, Singawilodra. Nama-nama tersebut tampaknya adalah nama-nama gelar. 

Ada Wangsanaja dan juga ada Najawangsa dan Najabangsa. Nama-nama tersebut, seperti disebut di atas, tampaknya adalah nama-nama gelar (masa itu), atau nama yang diberikan setelah dewasa. Hal itulah mengapa ada nama Wangsanaja yang berasal dari Bali, berasal darei Jawa dan berasal dari Sunda. Lantas apakah nama Wangsanaya dari Bali yang menjadi asal-usul nama Senayan? 


Pada masa itu, hanya ada penggunaan nama Wangsa dan penggunaan nama Naja. Tidak ada yang dicatat sebagai Najan atau Najang. Bagaimana dengan nama Senajan/Senayan? Tidak pernah tercatat nama Senayan/Senajan. Namun pada masa itu ada yang menggunakan nama (Raden) Senapati, Senopati (Mataram), pendiri kerajaan Mataram, yang konon meninggal pada tahun 1601. Tidak tercatat nama Wang Sena atau Wangsasena. Sebagai tambahan juga ada nama (Cornelis) Senen. Tentu saja ada yang mengguakan nama Sela seperti Selabentar, Selaparang, Selarong, Selatjaoe, Selagombong, Selagadong atau Selagedang, Selahaoer, Selaganggeng dan sebagainya. Dan juga ada nama (tempat) Sala dan Solo di Jawa. 

Ada nama Wangsanaya dari Bali dan Wangsanaja dari Jawa dan dari Sunda. Lalu apakah nama Senayan/Senajan pada masa ini berasal dari nama Wangsanaya (dari Bali)? Fakta bahwa tidak ada yang dicatat sebagai Najan atau Najang. Yang ada adalah Senapati dan (Cornelis) Senen. Lalu bagaimana pada masa ini nama Senayan berasal dari Wangsanaya dari Bali? 


Pada masa itu, di Batavia dan sekitarnya ada banyak bangsa-bangsa seperti dari Jawa, Bali, Ambon/Maluku, Ternate, Bugis, Melayu, Tambora, Manggarai dan sebagainya. Tentu saja ada Sunda. Dalam konteks inilah pada ini hari ditemukan nama-nama kampong asal di Jakarta sebagai kampong Ambon, kampong Bali, kampong Makassar, kampong Bugis, kampong Banda(n), kampong Jawa, kampong Melayu, kampong Tambora, kampong Manggarai dan sebagainya. Tidak tercatat ada asal dari Atjeh, Batak, Minangkabau, Madura, Minahasa, Banjar dan lainnya. 

Secara etimologi nama Senayan jauh dari nama Wangsanaya. Memang ada penggalan “sanaya” dalam nama Wangsanaya, tetapi tidak pernah tercatat suku kata “nayan” atau “nayang”. Yang ada justru ditemukan penggalan kata dari nama “senapati” atau “senopati”. Seperti kita lihat nanti, nama kampong Petjandraan yang menjadi tetangga kampong Senayan lebih masuk akal secara etimologi berasal dari nama “Tjandra” seperti seperti yang disebut di atas seperti Tjandradjaja, Tjandramarta, Tjandrapatra, Tjandrasinga, Tjandrasoeta, Tjandrawangsa, Tjandrawatjana, Tjandrawisoeta, dan lainnya. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Apakah Nama Senayan Berasal dari Wangsanaya? Seperti Kata Ahli Sejarah Tempo Doeloe, Semuanya Ada Permulaan

Dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1867 dicatat nama-nama landerin di Batavia antara lain Kabaijoran, Petjandran, Padoerenan dan Karet. Dalam daftar ini tidak terdapat nama Senajan. Juga tidak terdapat nama Patoendoean. Mengapa? 


Landerin atau tanah partikelir (land) sudah dimulai pada era VOC seperti Land Bril (kini wilayah Weltevreden), land van Hoorn (kini wilayah Pasar Baroe), Land Kamajoran, dan land lainnya. Land Bril pernah dimiliki Cornelis Chastelein yang kemudian dimiliki oleh Yustinus Vink. Lalu kemudian muncul land-land baru di hulu sungai Tjiliwong seperti land Seringsing dan land Depok (yang dimiliki oleh Cornelis Chastelein yang mana sebelumnya sudah ada land Tjinere dan land Tjitajam yang dimiliki oleh St Martin dan land Bodjongmanggis yang dimiliki oleh Abraham van Riebeeck. Pada tahun 1809 Gubernur Jenderal Daendles mengakuisisi sejumlah land di berbagai tempat seperti land Bril untuk dijadikan ibu kota baru yang kemudian dikenal dengan nama Weltevreden. Pada era Pemerintah Hindia Belanda land-land baru banyak dibentuk termasuk land Kebajoran. 

Nama Patoendoean paling tidak sudah terinformasikan pada tahun 1842 (lihat Javasche courant, 22-01-1842). Disebutkan atas nama almarhum pribumi Rasioen; Bagian No. 4. 14/72 bagian dalam sebidang tanah kebun dan persemaian tertentu, yang terletak di Patoendoean, dengan pajak tanah No. 5.302. Dalam hal ini, tanah di Patoendoean statusnya belum landerin (tanah partikelir) tetapi hanya tanah dengan status hak milik biasa (penduduk).

 

Dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1867, dicatat land Petjandran dimiliki dan administrator adalah Hadji Mohamad Djin cs dengan komoditi padi, kacang dan kelapa. Dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1871 nama landnya dicatat sebagai Petjandran en Wang senaja dengan pemilik Abdoel Rachman Djafar cs yang mana administrator adalah Lim Tjiong Hie dengan komoditi padi, kacang dan kelapa. Dalam hal ini pemilik baru adalah Abdoel Rachman Djafar yang diduga kuat anak dari Hadji Mohamad Djin (lihat Het regt in Nederlandsch-Indië; regtskundig tijdschrift, 1877). Disebutkan almarhum Hadji Mohamad Djen Djafar dan ahli warisnya, melalui akta yang dibuat pada tanggal 11 April 1855, di hadapan notaris Sonsbeek, menyewa sebidang lahan kebun dan persemaian milik atasannya, bernama Wangsa Naijan atau Petjandran, untuk jangka waktu sepuluh tahun, dengan sewa tahunan sebesar 3.800 guilder, yang dibayarkan setiap tahun di muka. 

Pada tahun 1874 terinformasikan nama Senajan sebagai nama land (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1874). Disebutkan nama-nama land diantaranya land Senajan Petjandran of Wangsanaja yang dimiliki oleh JML Bohl yang juga berttindak sebagai administrator dengan luas 1.474 bau dengan populasi 1.214 jiwa dengan komoditi kelapa dan padi dengan pajak f36.000. Lantas mengapa kini namanya Senajan? Yang jelas land Petjandran berada di desa Senajan. Dalam hal ini nama Petjandran juga disebut land Wangsanaja. Land terdekat adalah land Patoendoean. Arah jalan adalah sebagai berikut: Tandjoeng, Selipi, Pakembagan, Pal Merah Djepang, Petoendoean dan Senajan sampai ke Goenoeng sampai ke ujung jalan menuju Mampang (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1914). 


Desa Senayan jarak 1 pal dari Koningsplein. Terdiri dari dua kampong dengan populasi tidak ada orang Eropa, 1.291 jiwa pribumi dengan dua orang Cina dan tidak ada orang Arab atau Timur asing lainnya (lihat Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1869 dan Nieuwe bijdragen tot de kennis der bevolkingsstatistiek van Java, 1870). Overeenkomsten met inlandsche vorsten in den Oost-Indischen Archipel diterbitkan Landsdrukkerij, 1881: ‘Lereng-lereng pegunungan yang disebutkan di atas, Apie atau Goembang, Bedoek, Resak, dan Seboeloe, sangat kaya akan air, dan beberapa anak sungai dan aliran air berasal dari sini. Sebagai contoh, anak sungai atau aliran air berikut mengalir di lereng barat pegunungan ini: Senayan, Meromo, Soepap, Daun, Liang, Pawau, Soekit, Kendit, dan Tapong, semuanya termasuk dalam cekungan Sambas. Sementara di lereng timur pegunungan yang sama, aliran air berikut termasuk dalam Sarawak: Sereken, Nawaän, Talok, Serago, Seboeloe, Sebahan, Serimau, Toebak, dan Pidah’. Nama-nama desa di district Kebajoran, afdeeling Meester Cornelis menurut Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1869: Assem, Pesing kampong bali, Kampong rawa, Sawa kemangisan, Kebon djeroek, Pedjompongan, Japan, Grogol, Soekaboemi, Penoembing, Oeloedjami, Soedimara, Tjiledoek, Djombang, Simplicitas, Pondok petoeng, Bendoengan, Kebayoran, Pondok pinang, Tjipeteh, Gandaria noord, Gandaria zuid, Pella petogogan, Senayan, Pekembangan dan Pondok laboe. Pada tahun 1880 sudah terinformasikan nama wijk Patoendoean (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-10-1880). Dalam hal ini nama-nama kampong di Patoendoean masuk wilayah nama-nama wijk di Onderdistrict Tanahabang, district Weltevredeb, afdeeling Stad en Voorsteden: Bali Tanahbang, Kebon Djaë, Petodjo oedik, Pasarbahroe karet, Passar baroe Tanahbang. Petamboeran (Djati). Kotta bamboe. Petodjosawah. Karet Padoerenan. Karet Bendoengan. Karet Passerbaroe. Bendoengan. Petoendoean. Djepang. Pekambangan. Slipi. Pemangisan. Glongbahroe (lihat Peta 1897). Sementara itu Senajan dan Petjandran tetap menjadi desa di district Kebajoran, afdeeling Meester Cornelis. Pada tahun 1888 Soetan Abdoel Azis, pejabat di kantor Asisten Residen Mandheling en Ankola di Padang Sidempoean diangkat menjadi Asisten Demang di District Kebajoran dan pada waktu yang bersamaan Asisten Demang di District Weltevreden adalah Maharadja Soetan (Kepala Koeria Batoenadoea Padang Sidempoean). 

Seperti biasanya suatu desa dibentuk dari beberapa kampong. Dalam hal ini di desa Senayan terdiri dari kampong Senayan dan kampong Petjandran (Wangsanaya). Nama desa mengikuti nama salah satu kampong. Jadi dalam hal ini, Senayan dan (Wangsanaya) adalah dua kampong yang berbeda (berdekatan). Lalu sejak kapan muncul nama Senajan? Tidak terinformasikan. 


Nama Senajan diduga kuat adalah nama Melayu, bukan nama yang diturunkan dari nama Wangsanaja. Bagaimana bisa? Nama Petoendoean berasal dari “toendoe”. Menurut buku botani ‘Nieuw plantkundig woordenboek voor Nederlandsch Indie’, 1909, “toendoe” artinya rijstaar padi atau beras; rijstveld adalah sawah. Disebutkan kata “toendoe” berasal dari bahasa Melajoe. Dalam hal ini, Petoendoean diduga kuat sebagai nama kampong persawahan. Nama kampong Sawah cukup banyak ditemukan di Jakarta  tempo doeloe (Batavia). Oleh karena nama kampong bukan Kampong Sawah, boleh jadi nama Kampong Petoendoean awalnya dihuni oleh orang-orang Melajoe (pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda). Kampong Senajan[g], tetangga kampong Patoendoean juga diduga kuat tempo doeloe adalah kampong orang-orang Melajoe. Sedangkan nama kampong Petjandran atau Wangsanaja boleh jadi nama yang berasal dari nama-nama orang pada masa lalu di wilayah Batavia. Dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1881 dicatan pemilik land Senajan Petjandran adalah Ny Francis dengan administrator A Cameron dengan komoditi kelapa dan padi. Peta 1904 

Nama Senayan dan nama Petjandran (Wangsanaja) adalah dua nama yang berbeda yang menunjukkan nama tempat atau nama kampong yang lokasinya berdekatan. Pada tahun 1901 di land Senayan Petjandran (Wangsanaja) didirikan perusahan bernama Maatschappij tot exploitatie van het land Wangsanaja of Petjandran. Nama ini juga dicatat dalam Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1904 yang dicatat luas lahan 1.474 bau yang pada 1 Januari 1903 memiliki populasi 2.439 jiwa dengan komoditi kelapa dan padi dengan verponding f36.000. 


Soerabaijasch handelsblad, 09-03-1901: ‘Persetujuan telah diberikan atas akta pendirian Perusahaan untuk eksploitasi lahan Wangsa Naija atau Petjandran, yang didirikan di Meester Cornelis (Batavia)’. 

Nama Senajan lambat laun semakin dikenal. Namun yang menjadi pertanyaan sejak kapan nama Senajan muncul? Bagaimana asal usul nama Senayan sendiri? Pada masa ini nama Senayan dihubungkan dengan nama tokoh pada era VOC bernama Wangsanaja. Lantas apakah nama Senayan diturunkan dari nama Wangsanaya? Yang jelas nama Wangsanaya yang berasal dari Bali sudah meninggal tahun 1687 dan masa hidupnya di Batavia dan sekitar hanya enam tahun. Apakah itu mungkin nama Wangsanaya tersebut yang menjadi asal usul nama Senayan? 


Lantas mengapa nama Wangsanaya tersebut yang hidup di abad ke-17 dihubungkan dengan nama Senayan? Untuk menjawab pertanyaan hal itu dihubungkan karena nama kampong Senayan dan nama kampong Petjandraan (atau Wangsanaya) yang terinformasikan baru pada abad ke-19 maka nama Senayan diasosiasikan dengan nama Wangsanaya (atau Petjandran). Asosiasi ini disebutkan pada masa ini karena nama Wangsanaya bergeser menjadi kebiasaan dalam mengucapkannya menjadi Senayan (Wang-sa-na-ya menjadi Sa-na-ya, lalu Se-na-yan). Apakah itu logis dan masuk akal? Tidak ada bukti untuk itu. 

Nama Senayan sebagai nama kampong belum lama terinformasikan. Baru terinformasikan pada tahun 1869. Kampong Senayan bertetangga dengan kampong Petjandran yang juga disebut kampong Wangsanaya. Dalam hal ini nama Senayan dan nama Wangsanaya sebagai nama tempat samna-sama eksis. Lalu apakah nama Senayan diturunkan dari nama Wangsanaya? Disinilah letak masalahnya, yang menimbulkan pertanyaan dari mana asal usul nama Senajan? 


Seperti disebut di atas, pada tahun 1881 terinformasikan nama Senayan sebagai nama sungai di Sambas, Kalimantan Barat. Nama Senayan juga terdapat di Afdeeling Lingga sebagai nama tempat/pelabuhan (lihat Voorstellen in verband met het voornemen tot inlijving van het Sultanaat Lingga-Riouw en Onderhoorigheden bij het rechtstreeksch bestuurd gebied van Nederlandsch-Indie, 1911). Disebutkan Gewestelijke Bestuur der Residentie Riouw en Onderhoorogheden (Pemerintah Daerah Residentie Riau dan sekitarnya), Tandjong Pinang, 24 Mei 1911. Lampiran-6, Rahasia: VI. a. Dengan dicabutnya Staatsblad 1828 No. 89, di wilayah Residentie Riouw dan Wilayah-wilayah yang Dikelola Langsung oleh Pemerintah Hindia Belanda, pelabuhan-pelabuhan berikut dibuka untuk perdagangan umum: 1. Tandjong Pinang, 18. Daik, 19. Dabo, 23. Senayan, 29. Terempah, dan 38. Pulau Kidjang. Nama Senayan juga ditemukan di Atjeh (lihat De Locomotoef, 05-01-1934). Disebutkan nama Padang Senayan di Atjeh tidak jauh dari Pangkalan Soesoe, Langkat. 

Lantas apakah nama Senayan di Batavia lebih sesuai dengan nama Senayan sebagai nama tempat di berbagai wilayah (Melayu)? Senayan di Tamiang, Atjeh; Senayan di Lingga, Riau; dan Senayan di Sambas, Kalimantan Barat adalah wilayah-wilayah berbahasa Melayu. Lalu apa artinya Senayan?

           

Dalam “Kamoes bahasa Minangkabau-bahasa Melajoe-Riau” karya Muzahar Thaib yang diterbitkan tahun 1935 kata “sinajan” diartikan sebagai nama hari Senin. Kata “sinajan” sebagai nama hari Senin juga ditemukan dalam kamus “Angkola- en Mandailing-Bataksch-Nederlandsch woordenboek” door HJ Eggink yang diterbitkan tahun 1936. Lantas apakah nama Senajan adalah nama hari Senin? Di wilayah Minangkabau ada sejumlah nama tempat yang disebut sebagai Pasar Sinajan atau Pakan Sinajan (lihat Sumatra-bode, 09-02-1905). Di wilayah Batavia tentu saja banyak pasar yang menggunakan nama hari seperti Pasar Minggoe, Pasar Djoem’at dan Pasar Rebo serta Pasar Senen. Peta; Batavia (1938) 

Nama tempat Senayan di wilayah Batavia juga adakalanya dicatat sebagai Sinajan. Rapport betreffende eene gehouden enquête naar de arbeidstoestanden in de batikkerijen op Java en Madoera, Deel I, 1930: ‘De inheemsche batikkerijen vinden we in de nabijheid van Kebajoran in de kampongs Simproek, Pela koeion, Togogan, Petjandran, Pondok pinang, Gandaria, Sinajan en Tjipoele en voorts nabij Paal Merah in de kampong Bendoengan en Toendoean. In de eene wijk vindt men de inheemsche batikkerijen bijna huis aan huis, zooals de Chine’ (Bengkel batik tradisional terletak di dekat Kebajoran di desa-desa Simproek, Pela koelon, Togogan, Petjandran, Pondok pinang, Gandaria, Sinajan, dan Tjipoele, serta di dekat Paal Merah di desa-desa Bendoengan dan Toendoean). 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-06-1920: ‘De thans overledene werd in Holland geboren, doch kwam reeds op 16 of 17-jarigen leeftijd naar Indië. Hij was hier te lande korten tfld werkzaam bfl de Firma Pitcairn Syame & Co., doch ging weldra over tot den aankoop van landen, en reeds op jeugdigen leeftijd was wijlen de Heer Bohl landheer van twee landen, te weten „Matraman" en „Sinajan", het laatste in de buurt van Paal Merah gelegen (Almarhum lahir di Belanda, tetapi datang ke Hindia pada usia 16 atau 17 tahun. Ia bekerja sebentar di sana untuk perusahaan Pitcairn Syame & Co., tetapi segera beralih ke pembelian tanah. Bahkan di usia muda, almarhum Bapak Bohl sudah menjadi pemilik dua perkebunan, yaitu "Matraman" dan "Sinajan," yang terakhir terletak di dekat Paal Merah). 

Jika asal usul nama Senayan berasal dari bahasa Melayu (Senajan atau Sinajan), lalu bagaimana dengan yang berpendapat bahwa asal usul nama Senajan berasal dari nama Wangsanaja? Nama Senajan diturunkan dari Wangsanaja sangat etimologis (fonologis) tidak tepat. Namun sebaliknya, secara etimologis nama Senajan dan Sinajan sesuai sistemn fonologis orang di Batavia yang notabene berbahasa Melayu. Nama Senajan adalam hal ini juga sudah dikenal sebagai nama tempat di wilayah Melayu. Dalam hal ini dapat ditambahkan tetangga kampong Senajan adalah kampong Patoendoean/Petoendoean yang dalam kamus bahasa Melayu kata ‘toendoe’ diartikan sebagai padi atau beras atau sawah. Di wilayah Batavia sendiri banyak nama kampong yang diasosiasikan dengan orang Melayu seperti kampong Melayu, kampong Bangka, kampong Doeri dan tentu saja dalam hal ini kampong Senajan dan kampong Patoendoean. 


Seperti disebut di atas, nama Wangsanaja muncul pada abad ke-17 yang juga muncul nama Tjandra, yang kemudian dihubungkan dengan nama kampong Senajan (Se-naja-n) dan kampong Petjandran (Pe-tjandra-n). Pada Peta 1938 diidentifikasi nama kampong Senajan, nama kampong Petjandran-1 dan nama kampong Patjandran-2. Sebelumnya di wilayah tersebut ada dua landerin yakni land Senajan dan land Petjandran/Wangsanaja. Besar dugaan pada Peta 1938 nama kampong Senajan adalah Senajan, nama kampong Petjandran-1 adalah Petjandran dan nama kampong Petjandran-2 adalah Wangsanaja. Boleh jadi di masa lalu di kampong Petjandran pernah tingggal seseorang tokoh yang memiliki nama gelar Wangsatjandra dan di kampong Wangsanaja pernah tinggal seseorang tokoh yang memiliki nama gelar Wangsanaja. Wangsanaja pada abad ke-17 digunakan sejumlah orang/tokoh termasuk pemimpin dari Bali. Demikian juga penggunaan nama Wangsatjandra cukup banyak. 

Lambat laun nama desa/keluruhan Senayan Petjandran mereduksi hingga hanya disebut desa/kelurahan Senayan (saja). Namun pada masa ini, tidak ada lagi nama desa/kelurahan Patoendoean di Jakarta. Mengapa? Yang jelas masih ada nama desa/keluruhan Bendoengan Ilir, desa/kelurahan Senayan, desa/kelurahan Simproek dan desa/kelurahan Goenoeng. Lantas apa yang menyebabkan nama wilayah desa/kelurahan Patoendoean menghilang? 


Seperti kita lihat nanti, seluruh wilayah desa/kelurahan Patoendoean diakuisisi pemerintah untuk membangunan fasilitas pemerintah, gedung parlemen dan gedung olahraga. Dalam pembangunan itu, juga sebagian wilayah desa/keluruhan Senayan terkena proyek. Hal itulah mengapa nama Senayan masih eksis tetapi tidak demikian dengan nama Patoendoean. Penduduk yang sebelumnya tinggal di wilayah proyek dipindahkan dengan membangun perumahan Tebet. Berbagai fasilitas yang terdapat di eks desa/kelurahan Patoendoean kemudian dibentuk kelurahan baru dengan nama keluruhan Gelora (bertetangga di tenggara dengan kelurahan Senayan). Sebelum dibentuk kelurahan baru itu (Gelora) semua fasilitas yang terdapat di kawasan parlemen dan olahraga kerap disebut dengan sebutan Gedung DPR di Senayan dan Gedung Olahraga (Gelora) Senayan dan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan. Dalam hal ini desa/kelurahan Patoendoean masuk wilayah district Tanah Abang di afdeeling Stad en Vorsteleden dan kini menjadi kelurahan Gelora masuk wilayah kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sementara desa/kelurahan Senajan (Petjandran) masuk wilayah district Kebajoran di afdeelinf Meester Cornelis dan kini kelurahan Senayan masuk wilayah kecamatan Kebajoran Baru, Jakarta Selatan.


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota DepokDisamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di IndonesiaGenerasi Pertama; Sejarah Pers di IndonesiaAwal Kebangkitan BangsaSejarah Sepak Bola di IndonesiaSejarah Pendidikan di IndonesiaPionir Willem IskanderSejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar