Selasa, 20 November 2018

Sejarah Kota Medan (78): Pulau Sicanang. Teluk Belawan Hilang Akibat Sedimentasi; Dari ‘Kota Tjina’ hingga Rumah Sakit Kusta


*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada Pulau Sicanang? Pada masa ini pulau tersebut tidak begitu jelas bentuk (rupa dan ukuran). Akan tetapi pada masa lalu Pulau Sicanang benar-benar ada dan dapat diidentifikasi secara jelas berada di tengah Teluk Belawan. Pertanyaan yang sama: Apakah ada Pulau Brayan? Belum jelas apakah benar-benar ada, tetapi tentu masih menarik untuk dibuktikan apakah ada atau tidak. Lantas apa keutamaan Pulau Sicanang? Pulau yang dulu berukuran kecil ini telah bertambah luas yang kemudian menutupi seluruh pemukaan air di Teluk Belawan. Keutamaan lainnya Pulau Sicanang adalah lokasi pertama dimana terdapat rumah sakit kusta.  

Teluk Belawan (Peta 1695)
Persoalan Pulau Sicanang dan Teluk Belawan belumlah terbilang kuno. Jauh sebelumnya di masa lampau sudah ada persoalan di Teluk Belawan. Persoalan tersebut adalah eksistensi Kerajaan Deli di hulu sungai Deli dan persoalan apakah benar-benar ada ‘Kota Cina’. Semua persoalan tersebut menjadi terkesan rumit dari sudut pandang masa kini. Karenanya ada yang berpendapat bahwa Kerajaan Deli adalah suksesi Kerajaan Aru. Padahal Kerajaan Deli adalah satu hal dan Kerajaan Aru adalah hal lain.  

Untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, artikel ini mendeskripsikan sejarah awal di Deli. Sejarah tersebut dimulai ketika berpisahnya Sungai Deli dan Sungai Belawan yang kemudian terbentuknya Teluk Belawan. Pada daerah aliran sungai (DAS) Belawan inilah lokasi dimana ditemukan ‘Kota Tjina’. Pada perkembangan selanjutnya di hulu Sungai Deli inilah kemudian terbentuk Kerajaan Deli (kini di Deli Tua). Lambat laun di Teluk Belawan terjadi sedimentasi sehingga terbentuk Pulau Sicanang. Pulau kecil yang terdapat di tengah teluk kemudian meluas sehingga dua sisi pulau yang menghadap ke pantai terbentuk dua muara baru sungai: muara baru Sungai Belawan dan muara baru Sungai Deli. Mari kita eksplorasi!

Kerajan Aru dan Kerajaan Deli (Peta 1724)
Dalam penulisan sejarah (sekuen waktu), sanad itu sangat penting. Tulisan dan lukisan yang memiliki tarikh lebih baik dari lisan yang tidak jelas sumber dan kapan itu terjadi. Jarak waktu yang lebih pendek antara yang tertulis dan terlukis dengan kejadian semakin valid. Juga hal yang penting diperhatikan adalah memperlebar/memperluas konteks. Kejadian di satu titik tidak berdiri sendiri, karena itu analisis yang komprhensif adalah menemukan relasi dengan kejadian yang terjadi di tempat lain pada waktu yang sama atau kurun waktu yang relatif sama. Dalam menguji relasi ini diperlukan data-data yang konsisten dan data semakin banyak akan semakin baik. Dengan kata lain, semakin jauh ke masa lampau maka konteksnya semakin luas. Ibarat melihat gedung besar tak mungkin melihat bentuknya dari dekat (apalagi terlibat), tetapi harus mengambil jarak yang lebih jauh agar dimungkinkan bersifat netral. Oleh karena itu pendekatan induktif akan lebih baik jika dibandingkan dengan pendekatan deduktif. Dalam hal ini (analisis sejarah) tidak cukup lagi melihatnya dengan data-data dalam garis satu dimensi, tetapi seharusnya dalam cara berpikir ruang tiga dimensi. Singkatnya: digunakan semua ruang waktu dan tempat plus digunakan semua metode (ilmu) dari berbagai bidang pengetahuan (holistik). Jika pendekatan tersebut konsisten dilakukan, kekosongan data (data bolong) dimungkinkan melakukan teknik interpolasi, prospektif (maju) atau retrospektif (mundur).

Kerajaan Aru dan Kerajaan Deli

Kerajaan Aru (Peta 1600 Prancis)
Pada peta-peta sebelum pada abad ke-16, belum ditemukan kerajaan di sungai Deli. Bahkan pada peta yang dibuat oleh Johannes Vingboons (1665-1668) belum ada teridentifikasi kerajaan di sungai Deli. Kerajaan-kerajaan yang teridentifikasi adalah kerajaan Pacem, Ambara (di wilayah utara sungai Deli) dan d’Aru (Daru) di sungai Baroemoen. Pada peta yang lebih awal buatan Prancis, Kerajaan Aru (Regmo de Auru) bertetangga dengan Indragiri (Andragida) dan Siak (Ciaqua) serta Tikoe (Tiquos) dan Minangkabau (Manicabo). Ibukota Aru terlihat jauh di pedalaman, baik dari pantai barat maupun pantai timur, yang diakses dari sungai di pantai barat (Loemoet?) sebagai mana dapat dilihat pada Peta 1600. Suatu kerajaan di hulu sungai Dely baru teridentifikasi pada Peta 1687. Pada Peta 1724 Kerajaan Aru di hilir sungai Baroemoen dan Kerajaan Deli di hulu sungai Deli telah diidentifikasi sama penting.

Dua kerajaan ini masih teridentifikasi lebih dari satu abad kemudian (lihat Peta 1818). Ini dengan sendirinya menjawab adanya perbedaan penafsiran bahwa Kerajaan Deli adalah suksesi Kerajaan Aru. Dalam hal ini, Kerajaan Aru adalah satu hal, dan Kerajaan Deli adalah hal lain.

Pada era tersebut, berdasarkan peta-peta yang bersumber dari Portugis, Inggris, Prancis dan Belanda, di hilir sungai Deli (Dely, Dilli) terdapat teluk (Teluk Belawan) dimana di tengah teluk terdapat sebuah pulau kecil (Pulau Belawan). Teluk ini menjadi muara Sungai Deli dan muara Sungai Belawan. Nama lain Sungai Belawan juga disebut Sungai Boeloe Tjina, kini lebih dikenal sebagai Sungai Hamparan Perak.

Pulai di muara sungai terdapat di berbagai tempat. Di muara sungai Baroemoen terdapat sebuah pulau, di muara Sungai Siak juga ditemukan pulau (Gontong), Dalam hal ini Pulau Belawan terdapat di muara Sungai Deli dan muara sungai Belawan. Pulau di muara sungai Baroemen dan di muara sungai Siak hingga kini masih teridentifikasi. Sementara Pulau Belawan di muara sungai Deli dan muara sungai Belawan sudah lama sulit diidentifikasi (menghilang).

Sungai Belawan dan Sungai Deli: Terbentuknya Teluk Belawan

Jika Teluk Belawan menjadi muara sungai Belawan dan muara sungai Deli, kondisi tersebut haruslah dipahami, bahwa sungai Belawan dan sungai Deli awalnya bersatu sebelum menuju laut. Titik pertemuan sungai Belawan dan sungai Deli berada di tempat dimana Teluk Belawan terbentuk, lalu secara bersama-sama menuju laut. Ini ibarat sungai Babura dan sungai Deli bertemu dan bersatu kemudian menuju Teluk Belawan. Hal serupa ini juga terjadi antara sungai Bila dan sungai Baroemoen. Singkatnya: pertemuan dua sungai adalah hal yang umum.

Secara teoritis, debit air yang berasal dari sungai Belawan dan yang berasal dari sungai Deli tidak berhasil mengarus secara deras ke laut. Hal ini disebabkan permukaan tanah di sekitar pertemuan sungai bersifat datar. Adanya sedimentasi yang terus meningkat di hilir pertemuan sungai menyebabkan arus air menjadi pelan dan bahkan berbalik (jika terjadi rob). Lumpur yang membentuk sedimen di hilir pertemuan dua sungai diduga kuat terbawa arus dari hulu sebagai dampak terjadinya hujan debu akibat aktivitas vulkanik, yang besar kemungkinan terjadi sebelumnya pada gunung Sibayak, gunung Sinabung dan gunung-gunung lainnya pada masa lampau.

Dinamika yang hebat (proses sedimentasi) telah terjadi di pertemuan sungai Deli dan sungai Belawan, suatu dinamika yang tidak terjadi di pertemuan sungai Bila dan sungai Baroemoen. Proses sedimentasi yang hebat di sekitar pertemuan sungai Belawan dan sungai Deli menyebakan air terangkat ke atas. Permukaan tanah yang rendah, akibat terangkatnya air arus sungai plus rob (air laut) menyebabkan wilayah sekitar pertemuan dua sungai membentuk genangan yang luas.

Genangan yang luas ini juga pernah terjadi di masa lampau di Mandailing yang dikenal masyarakat sebagai rodang (danau besar). Rodang ini terbentuk karena proses sedimentasi yang hebat yang diduga kuat disebabkan oleh aktivitas vulkanik gunung Lubuk Raya di Angkola dan gunung Sorik Marapi di Mandailing.   

Situs bandar 'Kota Tjina' (Peta 1915 Belanda)
Genangan air telah menyebab sungai Belawan dan sungai Deli berpisah. Genangan air juga secara perlahan telah memperlunak tanah permukaan. Akibat proses sedimentasi melambat atau berhenti (tidak adanya aktvitas gunung api dalam jangka waktu yang lama), proses penggerusan oleh arus dua sungai terhadap sedimen dan permukaan tanah yang terus melunak di bawah air, genangan air yang luas tersebut secara perlahan membentuk Teluk Belawan (permukaan tanah di bawah air semakin dalam). Dampak pertemuan (percampuran) arus air dua sungai (air tawar) dan air laut (rob) Teluk Belawan dari waktu ke waktu semakin luas. Pada situasi dan kondisi inilah di masa lampau diduga kuat muncul bandar (pelabuhan dagang) di dekat muara Sungai Belawan. Bandar inilah yang diduga kuat menjadi lokasi situs ‘Kota Cina’ yang sekarang. Situs bandar 'Kota Tjina' (Peta 1915)  

Teluk Belawan dan Munculnya Pulau Belawan: Bandar Sam Pei  dan Situs ‘Kota Cina’

Situs ‘Kota Cina’ diduga adalah eks Kesyahbandaran, bukan eks Kerajaan. Situs ‘Kota Cina’ adalah eks kota pelabuhan perdagangan, pusat perdagangan dari kapal-kapal layar dari berbagai tempat dan kano-kano yang berasal dari pedalaman di hulu sungai Belawan dan hulu sungai Deli. Era tersebut terjadi pada era komoditi kuno.

Kapal-kapal layar membawa komoditi industri seperti besi, keramik, kain, garam dan mungkin opium. Kano-kano dari pedalaman Tanah Batak membawa komoditi kuno seperti kemenyan, kamper, damar, emas dan gading. Komoditi kuno ini sudah dikenal sejak sebelum adanya agama Kristen dan agama Islam.

Bandar-bandar yang menjadi simpul perdagangan komoditi kuno dari pedalaman di Tanah Batak yang disebut awal dan sangat terkenal adalah Baros yang terletak di pantai barat Sumatra. Bandar baru kemudian muncul di pedalaman Tanah Batak dari sisi pantai timur Sumatra melalui sungai Baroemoen yang berada di situs Padang Lawas (situs percandian Budha/Hindu). Bandar-bandar di hulu sungai Baroemoen ini diduga eksis pada era Kerajaan Cola di India (Selatan). Nama-nama situs berbau India (Budha/Hindu) pada masa ini masih ditemukan di Tapanuli Bagian Selatan seperti Angkola (Ankola), Baroemoen (dari kata aroe), Portibi (ibukota dunia), Siunggam, Pitjar Koling, Saroematinggi, Siaboe (candi Hindu di Simangambat) dan (gunung) Malea (dari Himalaja).

Dalam perkembangannya, bandar-bandar di hulu sungai Baroemoen. Bandar-bandar ini terdistribusi di sejumlah sungai yang bermuara di hulu sungai Baroemoen. Bandar-bandar  (yang teridentifikasi sebagai eks situ candi) ini terintegrasi dan munculnya Kerajaan Aru. Bandar Baros tetap sebagai bandar penting, tetapi bandar-bandar di hulu sungai Baroemoen telah bertransformasi menjadi suatu kerajaan yang disebut Kerajaan Aroe (dalam bahasa Ceylon yang menganut agama Budha, aroe adalah sungai; kerajaan Aroe mengindikasikan kerajaan sungai-sungai di hulu sungai Baroemoen). Sejak munculnya Kerajaan Aroe ini terjadi interaksi dengan Jawa (sebagaimana disebut dalam kitab Pararaton) dan Tiongkok (era Cheng Ho).

Bandar-bandar baru terus bermunculan, bandar-bandar yang terkoneksi dengan sumber-sumber komoditi kuno di pedalaman di Tanah Batak. Selain bandar Baros dan bandar-bandar yang menjadi Kerajaan Aroe, dalam perkembangannya kemudian muncul bandar Batahan (di Mandailing), bandar Singkel (Pakpak, Gajo dan Alas), bandar Sing Kwang (Singkuang) di Angkola, bandar Cassang (sungai Asahan) yang terkoneksi dengan Toba, serta bandar Sam Pei (eks ‘Kota Cina’?) di Teluk Belawan yang terkoneksi dengan Garo (kini Karo).

Bandar-bandar kuno ini secara perlahan-lahan menjadi feeder bagi bandar-bandar baru yang muncul kemudian di bagian paling utara pulau Sumatra, seperti Pedir, Pacem, Ambara, Aelabo. Bandar-bandar ini eksis jauh sebelum  munculnya Kerajaan/Kesultanan Atjeh. Pada era bandar kuno yang terkoneksi langsung dengan sumber komoditi kuno di Tanah Batak dan bandar-bandar baru di bagian ujung Sumatra, di semenanjung bermunculan bandar-bandar yang kemudian menjadi kerajaan seperti Quedah, Malaccaa, Djohore.

Pada era perkembangan bandar-bandar baru inilah diduga terjadi aktivitas gunung api yang dahsyat di hulu sungai Belawan dan sungai Deli. Hujan debu seperti dari gunung Sibajak dan Sinabung terbawa arus dan mengendap di Teluk Belawan. Akibat proses sedimentasi muncul ke permukaan pulau kecil di tengah Teluk Belawan yang disebut Pulau Belawan (lihat peta-peta abad ke-16, abad ke-17 dan abad ke-18). Proses sedimentasi di Teluk Belawan dipengaruhi oleh dua kekuatan arus besar yakni arus/debit air yang berasal dari sungai Belawan dan sungai Deli dan arus/debit air laut yang masuk akibat adanya pasang (rob). Proses sedimentasi yang dipengaruhi dua arus yang berlawanan ini yang kemudian membentuk daratan (pulau) persis berada di tengah-tengah Teluk Belawan.

Kerajaan Aru (Peta Portugis 1500-an)
Pulau Belawan ini lambat laun semakin meluas akibat proses sedimentasi yang terus berlangsung.  Proses yang sama juga terjadi di pantai-pantai di Teluk Belawan yang mengakibatkan bandar Sam Pei (situs ‘Kota Cina’ semakin mendangkal dan akhirnya bandar tidak berfungsi.  Bandar Sam Pei kemudian relokasi ke sisi timur sungai Belawan dekat dengan muara di Teluk Belawan. Bandar Sam Pei terjebak dalam proses sedimentasi di Teluk Belawan (yang kemudian diidentifikasi di masa datang sebagai situs ‘Kota Cina’. Danau Siombak sendiri yang masih terlihat hingga sekarang adalah permukaan air Teluk Belawan yang juga terjebak dalam proses sedimentasi tersebut. Jarak danau Siombak dan lokasi situs ‘Kota Cina’ (eks bandar Sam Pei) tidak berjauhan.

Pada periode inilah muncul Kerajaan Deli di hulu sungai Deli. Adanya kerajaan di hulu sungai Deli pertama kali teridentifikasi pada Peta 1695. Sementara Kerajaan Aru di hulu sungai Baroemoen sudah teridentifikasi dalam peta-peta Portugis (1500an). Kerajaan Deli di hulu sungai Deli lambat laun semakin populer dan bahkan telah sama populernya dengan Kerajaan Aru di sungai Baroemoen.

Kerajaan Deli (Peta Prancis, 1706)
Bandar Sam Pei yang hilang (yang kelak menjadi situs ‘Kota Cina’ diduga kuat adalah bandar yang muncul sejak era Kerajaan Aru di sungai Baroemoen yang banyak banyak dihuni oleh pedagang-pedagang dari Tiongkok. Sebagaimana diketahui Kerajaan Aru di sungai Baroemoen di era Cheng Ho memiliki hubungan dagang yang baik. Boleh jadi bandar Sam Pei adalah feeder (vassal) dari Kerajaan Aru di sungai Baroemoen. Lalu dalam perkembangannya, semakin menguatnya kerajaan-kerajaan di ujung utara pulau Sumatra seperti Kerajaan/Kesultanan Atjeh lalu muncul Kerajaan Deli di hulu sungai Deli. Bandar Sam Pei yang berada di sisi timur sungai Belawan diduga telah menjadi vassal Kerajaan Deli. Pada Peta 1818 Kerajaan Deli ( di hulu sungai Deli) dan Kerajaan Aru (di sungai Baroemoen) masih sama-sama teridentifikasi. Namun setelah peta 1818 nama Kerajaan Deli tidak muncul lagi. Sementara bandar Sam Pei pada tahun 1869 VJ Veth masih mengidentifikasi keberadaannya di sisi timur sungai Belawan (sungai Hamparan Perak). 

Singkat kata: pada era Pemerintahan Belanda, John Anderson pernah berkunjung ke berbagai tempat di sungai Belawan dan sungai Deli. Peneliti-peneliti Belanda sebelumnya telah mengidentifikasi sejumlah tempat di sungai Belawan termasuk pelabuhan kecil di sisi timur sungai Belawan yang disebut Sampei atau Sam Pei (lihat VJ Veth, 1869). Kota pelabuhan (kecil) ini dipimpin oleh syahbandar yang mana terdapat sebanyak sekitar lima puluh rumah. Syahbandar kota Sampei ini adalah seorang Tionghoa. Kota Sampei ini tidak jauh dari suatu situs yang ditemukan pada tahun 1875 oleh orang Belanda yang kini disebut situs ‘Kota Cina’. Lantas muncul pertanyaan: apakah kota Sampei atau Sam Pei merupakan kota yang terbentuk kemudian dari warga bandar situs ;Kota Cina’ yang relokasi? Bandar situs ‘Kota Cina’ diduga telah terjadi pendangkalan sehingga kapal layar yang semakin besar dari waktu ke waktu dengan tonase yang semakin meningkat tidak lagi memadai memasuki bandar situs ‘Kota Cina’.

Pulau Belawan Menjadi Pulau Sicanang: Situs ‘Kota Cina’ dan Rumah Sakit Kusta

Saat bandar Sam Pei secara perlahan menghilang (dan relokasi ke sisi timur sungai Belawan) proses sedimentasi terus berlangsung. Proses sedimentasi tidak hanya bertambahnya daratan dan semakin meluasnya Pulau Belawan, juga proses sedimentasi Pulau Belawan yang mengarah ke laut juga terjadi. Dalam proses sedimentasi lanjutan ini, Sungai Belawan dan Sungai Deli tidak lagi membawa debu/lumpur asal vulkanik tetapi membawa lumpur dari hulu sungai karena terjadinya proses penggundulan hutan, baik oleh penduduk Karo yang memperluas areal pertanian maupun oleh para planter yang membuka hutan untuk perkebunan yang semakin meluas ke hulu sungai Belawan dan sungai Deli.

Proses sedimentasi berikutnya akibat ulah manusia (petani dan planter) semakin mematangkan Pulau Belawan sehingga bentuk rupa Pulau Belawan yang dulu jelas terlihat semakin samar.

Pulau Belawan yang semakin meluas dan mulai menyatu dengan daratan (di berbagai titik) inilah kemudian muncul nama baru menjadi Pulau Sicanang. Pelabuhan Belawan yang sekarang, sejatinya bukanlah daratan yang muncul dari proses sedimentasi di Teluk Belawan, melainkan proses terbentuknya daratan akibat sedimentasi yang berada di laut (di luar Teluk Belawan).

Proses sedimentasi yang muncul sejak jaman kuno masih terlihat terus berlangsung dari era Belanda hingga kini. Sungai Belawan atau Sungai Hamparan Perak dan Sungai Deli masih membawa materi lumpur dari hulu yang menyebabkan Pelabuhan Belawan secara situasional harus dilakukan kegiatan pengerukan sejak era Belanda hingga era merdeka pada masa kini.

Pemerintah Hindia Belanda melakukan invasi pantai timur Sumatra (Sumatra;s Oostkut) pada tahun 1863. Kapal militer Belanda membuang jangkar di muara Sungai Deli, di hilir kota Laboehan Deli (pelabuhan Deli). Pemerintah Belanda menempatkan seorang Controleur di Laboehan Deli (dan berkolaborasi dengan Sultan Deli). Sejak itu sejumlah afdeeling dibentuk, yakni Afdeeling Deli, Afdeeling Boeloe Tjina, Afdeeling Langkat dan Afdeeling Serdang. Sungai Deli adalah batas antara Afdeeling Deli dan Afdeeling Boeloe Tjina. Ketika munculnya Perang Soenggal yang dimulai tahun 1872, secara perlahan Afdeeling Boeloe Tjina diakuisisi oleh Sultan Deli dan membentuk satu kesatuan Afdeeling Deli.

Pada saat perluasan perkebunan dari Afdeeling Deli ke eks Afdeeling Boeloe Tjina ditemukan kali pertama yang diduga eks bandar yang kemudian, sesuai penyebutan masyarakat disebut situs ‘Kota Cina’. Meski ada penyilidikan tetapi dalam perkembangannya tidak berlanjut (dan baru muncul penyelidikan satu abad kemudian pada tahun 1970an).

Pada tahun 1875 Afdeeling Deli (gabungan eks Afdeeling Boeloe Tjina dan Afdeeling Deli) dipecah menjadi dua onderafdeeling yakni Onderafdeeling Laboehani dan Onderafdeeling Medan. Status controleur di Laboehan ditingkatkan menjadi Asisten Residen, dan di Medan ditempatkan seorang Controleur. Pada tahun 1879 terjadi tukar guling, status Asisten Residen Laboehan diturunkan menjadi setingkat Controleur dan status Controleur Medan ditingkatkan menjadi Asisten Residen.

Pada tahun 1887 status Asisten Residen Medan ditingkatkan menjadi ibukota Residentie Sumatra’s Oostkust. Ibukota Sumatra’s Oostkust yang sebelumnya di Bengkali dipindahkan ke Medan. Status Bengkalis diturunkan dari ibukota Residen menjadi setingkat Asisten Residen yang kemudian dimasukkan ke Residentie Siak. Sementara Controleur di Asahan ditingkatkan menjadi Asisten Residen dan controleur di Laboehan ditingkatkan lagi menjadi Asisten Residen.

Dalam perkembangannya Kota Medan terus tumbuh dan berkembang. Sejak 1887 saat Medan menjadi ibukota Residentie Oostkust van Sumatra, Sultan Deli di Laboehan mengalami relokasi ke Medan. Kraton Suiltan Deli di Labohan atas bantuan organisasi para planter dipindahkan ke Medan dengan membangun baru kraton yang disebut Istana Maimun.

Laboehan Deli menjadi masa lalu bagi Sultan Deli. Laboehan Deli secara perlahan ditinggalkan. Selain karena kerap banjir juga karena lingkungannya tidak sehat. Status Asisten Residen di Labiehan diturunkan lagi menjadi setingkat Controleur. Status Controelur di Tandjong Poera ditingkatkan menjadi Asisten Residen.

Pada tahun 1909 Medan dibentuk menjadi Gemeente (kota). Kedudukan Controleur di Laboehan dihapus. Laboehan menjadi tertinggal. Pelabuhan di Laboehan Deli juga sudah lama direlokasi ke (pulau) Belawan. Pada tahun 1910 di Pulau Sicanang dibangun rumah sakit khusus yang diperuntukkan bagi orang yang berpenyakit kusta. Orang yang berpenyakit kusta di Medan dicari dari jalanan maupun rumah-rumah dan kemudian mereka itu dievakuasi ke Pulau Sicanang. Inisiatif pendirian rumah sakit khusus lepra/kusta ini adalah Dr. Mohamad Daulaj (alumni dokter Djawa School tahun 1905).

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar