Jumat, 06 Mei 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (573): Pahlawan Indonesia dan Rupa Bumi Nusantara Zaman Kuno-Zaman Now; Sumatra Jawa Ramping

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Selama ini, saya kira hanya saya sendiri, sorangan yang menggunakan teori permukaan (rupa) bumi Nusantara dalam memahami sejarah Indenesia. Dengan teori rupa bumi ini saya telah menulis seratusan artikel dalam blog ini, termasuk penentuan posisi GPS kraton Madjapahit. Satu penemuan terpenting saya dengan menggunakan teori rupa bumi itu adalah berhasil membuktikan posisi GPS pulau Taprobana (peta 150 M) yang telah diperdebatkan sejak abad ke-16 hingga ini hari. Pulau Taprobana itu adalah pulau Kalimantan di Indonesia (lihat Sejarah Menjadi Indonesia (77): Taprobana adalah Borneo; Kapuas, Kahayan, Barito. Mahakam, Kayan, Sugut Pulau Kalimantan).

Indonesia, sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara berada di garis khatulistiwa (diantara benua Asia dan Australia, antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.). Sebagian besar wilayah Indonesia sangat tidak stabil, menjadi pertemuan dari beberapa lempeng tektonik, seperti Lempang Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia, terletak di Cincin Api Pasifik, banyak gunung berapi dan sering mengalami gempa bumi. Busur vulkanik mulai dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kepulauan Banda di Maluku hingga ke timur laut Sulawesi. Sekitar 400 gunung berapi, kurang lebih 130 di antaranya masih aktif. Wilayah terluas keempat negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas 1.904.569 km2, pulau terbanyak keenam di dunia, 17.504 pulau. Pulau-pulau besar Sumatra, Jawa, Kalimantan (berbagi dengan Malaysia dan Brunei Darussalam), Sulawesi, dan Papua (berbagi dengan Papua Nugini). Penduduk terbanyak keempat di dunia mencapai 270.203.917 jiwa tahun 2020, negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia lebih dari 230 juta jiwa. Sejarah dipengaruhi oleh bangsa-bangsa pendatang, wilayah perdagangan penting sejak abad ke-7, yaitu sejak berdirinya Kedatuan Sriwijaya, sebuah kemaharajaan Hindu–Buddha yang berpusat di Palembang. Terdiri dari suku bangsa, bahasa, dan agama. Kelompok etnik sekitar 1.340 suku. Banyak penduduk Indonesia yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, misalnya Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Madura. Memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, Sebagian besar bahasa daerah tersebut termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, dan di samping itu, ada lebih dari 270 bahasa Papua. Menurut jumlah penuturnya, bahasa daerah yang paling banyak digunakan sehari-hari secara berturut-turut adalah Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Batak, Minangkabau, Bugis, Betawi, dan Banjar. Ada enam agama resmi: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu: Saat ini, Indonesia terdiri 34 provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota, 7.024 daerah kecamatan, 81.626 desa/kelurahan.(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Rupa Bumi Nusantara Zaman Kuno? Seperti disebut di atas, ternyata yang mengusung teori rupa bumi dalam analisis sejarah tidak hanya saya sendiri, sorangan, Ada seorang peneliti yang terlebih dahulu menggunakan teori rupa bumi tersebut yakni V Obdeijn. Lalu bagaimana sejarah rupa bumi nusantara zaman kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan: Sumatra Jawa Ramping

Ada satu pendapat yang sama antara tulisan saya terdahulu dengan pendapat V Obdeijn yakni bahwa garis pantai timur (pulau) Sumatra telah bergeser ke arah timur karena terjadinya proses sedimentasi jangka panjang. Ada juga satu pendapat yang berbeda. V Obdeijn menyimpulkan bahwa awalnya Semenanjung Malaya bersatu dan menjadi satu daratan dengan pulau-pulau kecil di Riau yang sekarang hingga ke Bangka dan Belitung.

Pendapat V Obdeijn mengindikasikan bahwa pulau Sumatra yang ramping sejajar dengan semenanjung yang panjang hingga ke Bangka Beliting. Oleh karenanya jalur navigasi zaman kuno melalui selat Malakan tidak melalui wilayah Djohor yang sekarang (selat Singapoera) tetapi melalui pantai selatan Bangka Belitung dengan mengitaris ke arah timur yang kemudian berbalik ke arah utara hingga pantai timur Semenanjung, terus ke Tiongkok. Laut Jawa menurut V Obdeijn adalah laut arus kuat yang sulit dilayari oleh navigasi dengan tingkat teknologi pelayaran saat itu. Menurut V Obdeijn berdasarkan data yang ada, wilayah terjauh bumi hanya sampai di Sumatra bagian selatan yang menurut orang Tiongkok sebagai Chao-wa dan orang Arab Djawa. Dalam hal ini Jawa adalah bagian dari Sumatra bagian selatan dan sebaliknya Djawa adalah Djawa hingga Sumatra bagian selatan.

Dalam hal ini saya menolak pendapat V Obdeijn tentang teori daratan panjang Semenanjung. Saya berpendapat bahwa pulau-pulau di kepulauan Riau sudah eksis sejak lama seperti halnya Bangka dan Belitung serta pulau Karimata yang berada di tengah lautan antara Sumatra, Semenanjung, Jawa dan Kalimantan (Boeneo).

Saya berpendapat bahwa keadaan yang sebaliknya terjadi bahwa telah terjadi pendangkalan di antara sejumlah pulau terutama di sekitar Riau/Djohor yang menyebabkan selat yang berada diantara Semenanjung dan Singapura serta selat antara Singapoera dan Pulau Bintan semakin dangkal karena terjadi pengendapan material padat yang terbawa dari pedalaman Semenanjung melalui sungai Djohor.

Saya juga menolak pendapat V Obdeijn yang menyatakan bahwa nama Djawa mengindikasikan pulau Jawa dan Sumatra bagian selatan sebagai satu kawasan yang dianggap orang Tiongkok dan Arab tidak ada lagi daratan di timur dan tenggara Sumatra karena arus kuat Laut Jawa membatasi navigasi pelayaran. Saya berpendapat bahwa Jawa sudah eksis sejak lama, suatu daratan yang terpisah dengan Sumatra (di bagian selatan) dan karenanya dua nama pulau sama-sama eksis Sumatra (Suwarnadwipa) dan Jawa (Jawadwipa).

Tampaknya V Obdeijn tidak memperhitungkan situasi dan kondisi di pantai barat Sumatra dari Baroes hingga Lampong yang berbelok di selat Soenda. Pengenalan selat Soenda ini pada masa lampau menjadi pengetahuan pemisahan Sumatra/Jawa (V Obdeijn) sebagai dua pulau yang berbeda dan melalui selat Soenda dapat dilayari melalui pulau-pulau kecil di sekitar Krataua maupun pulau-pulau di utaranya dekat Merak yang sekarang hingga ke Jawa (pantai selatan dan pantai utara). Dalam hal ini pendapat saya bahwa pengaruh dari India (Hindoe) relatif bersamaan di Sumatra dan Jawa (sementara V Obdeijn berpendapat bahwa ada jarak waktu yang lama pengaruh Hindoe di Sumatra baru kemudian ke Jawa).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Rupa Bumi Nusantara Zaman Kuno: Teori Baru Sejarah Indonesia

Teori rupa bumi Nusantara yang dikembangkan oleh V Obdeijn merujuk pada perhatiannya pada posisi GPS kota Palembang sebagai pusat Sriwijaya dimana ditemukan prasasti Kedoekan Boekit yang beratarih 682 M. V Obdeijn berpendapat bahwa saat itu (tanah, lahan) kota Palembang belum terbentuk dan masih berupa perairan). Seperti halnya kota Fjambi yang sekarang, V Obdeijn berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di muara sungai yang berada jauh di hulu sungai Musi yang sekarang. Oleh karenanya V Obdeijnyakin bahwa kota Palembang yang sekarang secara imajiner masih berada di tengah lautan (antara daratan Sumatra dan pulau Bangka).

Teori V Obdeijn dan teori yang saya kembangkan ada persamaan dan perbedaan dalam menjelaskan dan memberikan bukti-bukti pendukung. Seperti disebut V Obdeijn pusat Sriwijaya tidak berada jauh di daratan sepertt sekarang melainkan di di garis pantai Sumatra pada zaman doeloe. Sejauh ini saya sependapat. V Obdeijn menyatakan pusat Sriwijaya di daratan Sumatra di muara sungai Musi yang berada di garis pantai. Yang berbeda dengan pendapat saya adalah bahawa pusat Sriwijaya berada di tengah perairan yang tidak berada di daratan Sumatra, tetapi di sebuah pulau di perairan yang dekat dengan pantai di depan muara sungai Musi. Dalam hal ini ada perbedaan yang kontras pendapat V Obdeijn dengan pendapat saya: antara daratan Sumatra di muara sungai versus di sebuah pulau di tengah perairan yang berada di depan muara sungai. Saya berpendapat bahwa keberadaan di pulau dibuktikan pada masa ini bahwa ditemukan prasasti Kedukan Bukit berada di suatu kawasan kota Palembang pada masa uni yang letaknya berada di ketinggian, suatu kawasan tertinggi dari atas permukaan laut (dpl) di wilayah kota Palembang. Peta-peta yang diterbitkan pada era VOC yang saya temukan mendukung bukti tersebut.  

V Obdeijn dalam teori rupa bumi hanya terbatas mengalisis nama-nama tempat yang berada di wolayan pantai timur Sumatra mulai dari Palembang hingga Tapanoeli (Padang Lawas). Analisis V Obdeijn fokus pada upaya menjelaskan keberadaan Sriwijaya diantara tempat-tempat yang sekarang di wilayah pantai timur Sumatra. Sementara teori rupa bumi saya sudah aplikasikan di berbagai wilayah (pulau) di Nusantara seperti di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua serta pantai timur Tiongkok dan pulau-pulau lainnya di Nusantara (lihat pada sejumlah artikel terdahulu di dalam blog ini).

Satu penemuan terpenting dalam analisis saya dengan menggunakan teori rupa bumi adalah mengidentifikasi dimana posisi GPS pulau Taprobana yang berasal dari peta abad ke-2 yang menjadi isu penelitian yang tidak pernah terjawab sejak abad ke-16. Seperti disebut di atas, saya berkeyakinan bahwa pulau Taprobana ini bukan di Sri Lanka sebagaimana pendapat sebagian besar peneliti dan bahkan ada juga yang berpendapat pulau Sumatra dan pulau Kalimantan. Hanya saja peneliti yang menduga Sumatra dan Kalimantan tidak begitu meyakinkan cara bagaimana dijelaskan. Sampai sejauh ini, selain saya sendiri yang menggunakan teori rupa bumi adalah V Obdeijn sendiri. Dengan teori rupa bumi secara khusus saya berhasil membuktikan bahwa pulau Taprobana adalah pulau Kalimantan. Dalam teori rupa bumi pulau Kalimantan, peta Taprobana adalah awal atau fase pertama dari terbentuknya pulau Kalimantan (sebagaima halnya pantai timur Sumatra). Wilayah Kalimantan Selatan dan wilayah Kalimantan Barat yang sekarang adalah perluasan daratan pulau Taprobana yang secara keseluruhan kini membentuk pulau Kalimantan. Seperti halnya sungai Musi, sungai Batang Hari, sungai Kampar, sungai Siak, sungai Rokan dan sungai Baroemoen di pantai timur Sumatra, maka sungai Barito, sungai Kahayan dan sungai Kapuas di Kaliamantan memberi pengaruh besar dalam proses pembentukan daratan baru melalui proses sedimentasi jangka panjang (dari tanah-tanah aluvial yang terbawa dari daratan tinggi/pegunungan apakah karena dampakdari aktivitas gunung api/gempa atau karena aktivitas manusia seperti pertambangan pembukaan lahan pertanian).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

2 komentar:

  1. Salam.. admin, saya sedang mencari dokumen berupa foto patih pertama Sukabumi. R. Rangga Wangsa Redja. Kiranya berkenan untuk menelusurinya 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang betul Wangsa Redja adalah patih Soekaboemi pertama sejak tahun 1871. Jika ketemu fotonya akan saya tambahkan di kolom komentar pada artikel Sejarah Sukabumi (1) Asal Usul Kota Sukabumi

      Hapus