Selasa, 15 November 2022

Sejarah Bengkulu (15): Lais dan Talang (Kampong Kecil) di Bengkulu; Jagobayo, Lubuk Lesung, Taba Baru dan Talang Rasau


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini  

Lais diduga adalah nama yang telah di kenal luas dari zaman kuno. Nama Lais yang singkat tipikal nama-nama kuno. Nama Lais ditemukan di Tanah Arab dan India. Nama Lais di Hindia Timur tidak hanya di wilayah Bengkulu. Talang atau Tolang juga adalah nama kuno yang berasal dari era Hindoe Beodha. Tolang dalam bahasa Batak Angkola Mandailing adalah kampong kecil. Nama Talang atau Tolang juga ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Apakah nama Talang Rasau di Lais awalnya kampong (kecil) Rasau.


Lais (bahasa Rejang sebagai Lai) kini salah satu dari 19 kecamatan di kabupaten Bengkulu Utara. Kecamatan ini mewarisi nama dan sebagian wilayah salah satu marga Rejang di kawasan pesisir, (marga Lais). Kata Lais merupakan nama Melayu yang berakar dari nama asli dalam bahasa Rejang (Lai). Lai secara bahasa bermakna besar atau agung. Menurut Austronesian Comparative Dictionary, kata lai berakar dari kata Raya dalam Proto-Austronesia (PAN), dan berbagi asal-usul yang sama dengan kata seperti gazo dalam Kadazan-Dusun atau raya dalam bahasa Melayu. Diduga Lai awalnya dipakai oleh orang Rejang bukan untuk menyebut nama permukiman, melainkan nama sungai yang cukup besar di daerah itu. Sungai Lais atau penduduk setempat menyebutnya Bioa Lai, secara harafiah bermakna "sungai besar", sungai berhulu di Tebo Lai, kawasan Ulau Bioa (Bukit Barisan). Sungai bermuara pantai barat Sumatra dan permukiman Rejang mula-mula di Talang Rasau di daerah aliran sungai. The History of Sumatra karya William Marsden mencatat daerah Lais serta Rejang Country. Marsden menulis kawasan Rejang Pesisir memiliki tiga sungai utama, yaitu Laye (Lais), Pally (Palik/Paliak) dan Soongeylamo (Sungai Lemau). Disebutkan pula bahwa EIC memiliki kantor dagang atau factories di ketiga muara sungai, dengan seorang residen kepala yang berkedudukan di Lais (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah nama Lais dan Talang (kampong kecil) di Bengkulu? Seperti disebut di atas, nama Lais kini di Bengkulu (Utara) hanya tinggal nama kecamatan dimana terdapat kampong/desa Talang Rasau. Desa lainnya antara lain Jagobayo, Lubuk Gedang, Lubuk Lesung dan Taba Baru. Lalu bagaimana sejarah nama Lais dan Talang (kampong kecil) di Bengkulu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Lais dan Talang (Kampong Kecil) di Bengkulu; Jagobayo, Lubuk Lesung, Taba Baru dan Talang Rasau

Nama-nama yang dikenal sejak lama di pantai barat Sumatra antara lain Benculo, Sillebar, Manna di selatan dan Ipoeh (lihat Peta 1665). Sekitar satu abad kemudian (Peta 1749) diidentifikasi nama Mochomoche (Muko-Muko), Bantal, Cattoun (Ketahoen). Dalam Peta 1753 diidentifikasi nama Songi Lamo dan Pali serta Panarikan. Sebagai kota utama dalam peta ini Benculo, Mocomoco, Panarikan dan Sillebar. Dalam Peta 1759 muncul nama baru Sallona (Seloema antara Manna dan Sillebar).


Gambaran tersebut mengindikasikan di pantai barat Sumatra di wilayah Bengkoeloe yang sekarang terbilang ramai, Di satu sisi menggambarkan tempat-tempat perdagangan yang penting dan di sisi lain nama-nama wilayah yang mana di belakang pantai hingga pegunungan terdapat kelompok populasi penduduk. Hingga sejauh ini belum diidentifikasi nama Lais. Pada Peta 1880 nama Lais sudah diidentifikasi. Kota-kota dimana bendera Pemerintah Hindia Belanda ditandai di Kroei, Mannad, Bengkoelen, Lais dan Moko-Moko. Ini mengindikasikasikan nama Lais termasuk yang penting,

Pasca Traktat London 1824, pada permulaan pembentukan cabang Pemerintah Hindia Belanda di (wilayah) Benkoelen berdasarkan Alamank 1927 sudah ditempatkan residen di Benkoelen yang dibantu seorang sekretatis dan seorang Kommies. Selanjutnya berdasarkan Almanak 1831 wilayah Benkoelen dimasukkan ke wilayah Residentie Padangsche Benelanden yang beribukota di Padang, setingkat Asisten Residen di Benkoelen.


Asisten Residen besama seorang Kommies dan seorang Onbanger haven en pakhuismeester didukung empat pemimpin local, satu kepala distrik di Bengkoelen dan tiga bupati di Soengi Lemou (Sungai Lama), di Songe Itam dan di Moko-Moko. Di luar itu masing-masing seorang pejabat Belanda sebagai opxiener di Pamatang Balam, Aroungang dan Boekit Sie Alang. Pejabat Belanda yang lain juga ada di Benckoelen untuk urusan perdagangan dan vendumeester.

Pada tahun 1838 (pasca Perang Padri) Residentie Sumatra’s Westkust menjadi provinsi dimana wilayah Bengkoelen dipisahkan menjadi satu residentie tersendiri (yang mana sebagai gantinya dibentuk Residentie Air Bangis). Meski satu residentie mandiri, tetapi pimpinan tertinggi tetap setingkat asisten residen yang tetap berkedudukan di Benkoelen. Untuk urusan luas (ommelanden) Asisten Residen dibantu seorang asisten. Dalam fase ini nama Lais diidentifikasi yang dicatat sebagai Laije.


Di sejumlah kota ditempatkan pejabat Belanda setingkat gezaghebber (sdetingkat Controleur) di Moko-Moko, Kroei dan Kaoer. Untuk pemimpin local di Bengkoeloe ditambahkan seorang kapiten China dan luitenan China. Para pemimipin local lainnya diangkat, selain di Soengi Lemou (Sungai Lama), di Songe Itam, juga di Laije (Lais). Pemimpin local di Moko-Moko dilikuidasi seiring dengan penempatan gezaghebber. Ini mengindikasikan bahwa Lais menjadi penting dalam struktur pemerintahan local di Residentie Benkoelen.

Nama Laije sebelumnya sudah diidentifikasi tidak sebagai nama tempat tetapi nama gunung pada era Inggris tahun 1821 (lihat Javasche courant, 25-11-1828). Sementara penetapan Laije sebagai suatu district dinyatakan dalam beslit No. 69 tanggal 24 November 1826. Dalam beslit ini, di luar Benkoelen, district Laije adalah salah satu district dari enam di (residentie) Bengkoelen.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Jagobayo, Lubuk Lesung, Taba Baru dan Talang Rasau: Lais Era Pemerintah Hindia Belanda

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar