Sabtu, 25 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (14): Sejarah Pers Bali, Sejak Kapan Bermula? Mengenal Muriel S Walker alias Ktoet Tantri, Sang Republiken


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Kota adalah tempat lahirnya pers. Ada dua kota besar di Bali tempo doeloe: Singaradja dan Denpasar. Lantas apakah di dua kota ini pernah terbit media seperti surat kabar atau majalah? Seperti kata Dja Endar Moeda (1898), pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama untuk mencerdaskan bangsa. Pertanyaan tentang sejarah pers di Bali, khususnya di Denpasar tentu sangat penting, karena pers juga adalah bidang pencerdasan bangsa.

Presiden Soekarno dan K'toet Tantri van Bali
Dja Endar Moeda lahir di kota Padang Sidempoean, Tapanoeli pada tahun 1861. Setamat sekolah dasar, Dja Endar Moeda melanjutkan pendidikan di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Salah satu gurunya yang terkenal adalah Charles Andriaan van Ophuijsen. Lulus tahun 1884, Dja Endar Moeda diangkat menjadi guru. Pensiun guru di Singkil dan kemudian berangkat haji ke Mekah. Sepulang dari haji, Dja Endar Moeda membuka sekolah swasta di kota Padang tahun 1895. Ketika, Dja Endar Moeda menawarkan novelnya ke penerbit tahun 1897, Dja Endar Moeda mendapat bonus ditawari untuk menjadi editor surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Barat. Dja Endar Moeda mengambil tawaran itu. Jadilah Dja Endar Moeda sebagai editor pribumi pertama. Sejak itulah Dja Endar Moeda kerap menyebut sekolah dan jurnalistik sama pentingnya. Lalu pada tahun 1902 penerbit surat kabar Sumatra post di Medan merekrut pribumi untuk dijadikan editor. Lalu pada tahun 1903 di Batavia. mantan editor Sumatra post, Karel Wijbran pemilik surat kabar berbahasa Melayu, Pembrita Betawi merekrut orang pribumi ketiga yakni Tirto Adhi Soerjo (kini lebih dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia).  

Satu nama penting yang dikaitkan dengan pers Bali adalah seorang perempuan Muriel Stuart Walker yang menyebut dirinya K’toet Tantri. Oleh karena dia merasa orang Bali, lalu dia menjadi seorang Republiken (pembela Republik Indonesia). Okelah itu satu hal. Lantas bagaimana dengan sejarah pers di Bali sendiri? Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 24 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (13): Sejarah Jembrana Ibu Kota Negara; Dari Untung Suropati (VOC) hingga Negara Republik Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini 

Sejarah Jembrana adalah sejarah lama. Ibu kota berada di Negara (kini Negara lebih dikenal sebagai ibu kota kabupaten Jembrana). Kabupaten ini berbatasan di sebelah timur dengan kabupaten Tabanan dan di sebelah utara kabupaten Buleleng. Kabupaten ini dengan pulau Jawa (Banyuwangi) dipisahkan oleh selat Bali. Satu nama yang kerap dikaitkan dengan wilayah Jembrana sejak awal (era VOC) adalah seorang pemuda tangguh yang dikenal sebagai Oentoeng Soeropati.

Menurut cerita, Oentoeng Soeropati adalah seorang pangeran yang lahir dari Poeger, bernama Sangadja, yang dipaksa pada usia enam tahun oleh pamannya, Soesoehoenan, untuk melarikan diri ke Blambangan, untuk mencari perlindungan dengan pangeran wilayah Blambangan. Namun pangeran Blambangan tidak berani menjaga pemuda belia itu bersamanya, lalu menyarankan Oentoeng Soeropati untuk menyeberang dengan pengasuhnya ke Djambrana di Bali. Disini mereka disambut dengan ramah oleh Shabandar, yang kemudian menerima pangeran kecil ini sebagai putranya dan memberinya panggilan (gelar) Bagoes Mataram. Setelah pemuda ini tumbuh menjadi seorang pemuda yang hebat (lihat Dr R van Eck dalam majalah Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1878).

Okelah, itu satu hal. Hal lain yang lain juga penting adalah bagaimana dengan sejarah Jembrana sendiri sebagai suatu wilayah penting di pulau Bali? Sudah barang tentu sudah ada yang menulisnya. Namun tentu itu tidak cukup. Untuk memenuhi kecukupan itu, dan untuk menambah pengetahuan serta untuk meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 23 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (12): Islam, Orang Arab dan Haji di Bali; Orang Bali Hindu Tidak Mau Diganggu dan Terganggu (Toleransi)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini
 

Dalam sejarah Bali, sesungguhnya jarang, jika tidak ingin dikatakan tidak pernah, pertikaian antar agama yang menyulut perang. Pertikaian yang intens terjadi justru antar kerajaan di Bali yang sama-sama penganut agama Hindu. Perang yang terjadi di masa lampau yang dilancarkan oleh orang Bali, baik antar sesama maupun dengan asing (Belanda) hanya karena atas dasar ekonomi. Aneksasi Karangasem (Hindoe) ke Lombok (Sasak Islam) juga hanya semata-mata motif ekonomi (bukan motif agama).

Agama Hindu Bali dapat dikatakan adalah sisa Hindoe di Jawa. Pulau Bali melestarikan ajaran Hindoe yang sebelumnya berkembang di Jawa. Sejumlah peneliti Bali di masa lampau menjelaskan bahwa orang-orang (dari pulau) Jawa yang membawa ajaran Hindoe ke pulau Bali (pasca jatuhnya Majapahit). Namun orang-orang Jawa yang beragama Hindoe tidak semua penduduk Bali menjadi Hindoe. Penduduk asli Bali ini tetap dengan kepercayaan lamanya (ada yang menyatakan sebagai Budha atau Bodha di Lombok). Mereka ini dikenal sebagai penduduk dari desa-desa Bali Aga yang di era kolonial Hindia Belanda masih banyak ditemukan. Dua yang lebih dikenal pada masa ini desa Tenganan dan desa Trunyan.

Desa-desa Bali Aga dengan desa-desa Bali umumnya (Hindoe) sama-sama eksis. Desa-desa Bali umumnya yang mayoritas dapat hidup berdampingan dengan desa-desa Bali Aga. Gambaran yang menyebabkan orang Bali Hindoe dapat menerima pendatang baru (Arab/Islam) dan orang-orang Cina. Orang Bali Hindu tidak mau diganggu dan terganggu. Mereka membiarkan Islam, orang Arab dan (ber)haji berkembang sendiri. Nah, bagaimana itu semua terbentuk? Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 22 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (11): Sejarawan Bali, Para Pionir Penulisan Sejarah Pulau Bali; Sejarah Seharusnya Memiliki Permulaan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Jangan bilang saya sejarawan. Saya hanyalah seorang ekonom peminat sejarah. Dalam sejarah Bali, haruslah ada orang yang memulainya. Mereka itu ternyata bukan kita, tetapi adalah orang-orang gila yang berani bertarung nyawa. Kita pada masa ini tidak ada apa-apanya. Kita hanya sekadar penyalin. Yang lebih buruk lagi ada diantara kita yang sengaja tidak sengaja menambah yang tidak pernah ada. Lalu kemudian muncul golongan yang aneh yang melebih-lebihkan satu hal dan juga mengerdilkan hal lainnya.

Menurut Wikipedia: Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia (artinya "mengusut, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian"); bahasa Arab: تاريخ, tārīkh; bahasa Jerman: geschichte) adalah kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Dalam bahasa Indonesia, sejarah, babad, hikayat, riwayat, tarikh, tawarik, tambo, atau histori dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Ini adalah istilah umum yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu serta penemuan, koleksi, organisasi, dan penyajian informasi mengenai peristiwa ini. Istilah ini mencakup kosmik, geologi, dan sejarah makhluk hidup, tetapi sering kali secara umum diartikan sebagai sejarah manusia. Para sarjana yang menulis tentang sejarah disebut ahli sejarah atau sejarawan. Peristiwa yang terjadi sebelum catatan tertulis disebut Prasejarah.

Sejarah adalah narasi fakta dan data. Suatu fakta dan data yang dinarasikan secara proporsional yang jauh dari maksud untuk mengelabui pembaca. Sejarah haruslah memberi edukasi pada generasi mendatang. Dalam membaca fakta dan data jelas diperlukan analisis yang cermat agar memberikan dampak pada narasi sejarah yang baik dan benar. Dalam hubungan ini, artikel ini dimaksudkan untuk merangkum siapa saja sejarawan awal pulau Bali, orang-orang yang telah memberi kontrinusi dalam penulisan sejarah masa kini. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 21 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (10): Masakan Khas Bali Tempo Dulu; Direkomendasikan Para Bule, Babi Guling Kuliner Terbaik (R v Eck 1878)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Setiap daerah di Indonesia memiliki masakan khas. Makanan khas tentu saja umumnya nasi. Namun untuk mendampingi nasi, berbagai lauk, beragam sayuran dan buah-buahan menyertainya. Diantara menu makanan itu ada yang khas. Masakan khas dalam hal ini adalah makanan spesial yang disajikan apakah untuk makanan harian atau acara tertentu (seperti jamuan makan). Diantara makanan khas yang enak-enak itu, tempo doeloe para bule di Bali merekomendasikan kepada orang Eropa-Belanda lainnya adalah bali yang dipanggang dengan cara diguling-guling (sebut saja babi guling).

Untuk urusan makan, orang Eropa-Belanda dan orang pribumi tidak ada bedanya.Sama-sama lahap untuk masakan yang membuatnya nikmat. Yang berbeda adalah jenis makanan dan cara memasaknya. Orang Eropa-Belanda jika ke daerah apakah untuk tujuan dinas atau melancong (wisata), dimana tidak ditemukan masakan Eropa, mereka sudah mengidentifikasi makanan yang akan dipesan (misalnya di pesanggrahan). Jika tidak bisa memesan seperti di perjamuan atau secara tidak terduga tuan rumah menyajikan makan siang, pejabat lokal sudah tahu apa yang disiapkan (karena jarang terjadi) yakni masakan khas yang akan digemari tamu bule. Di Bali, masakan khas itu salah satu diantaranya adalah babi panggang guling.

Apa saja daftar masakan khas penduduk Bali tempo doeloe? Nah, itu dia. Tampaknya belum ada yang menulisnya. Buku yang sudah ada hanya ditulis berdasarkan menu makanan yang berlaku pada beberapa dekade terakhir. Lantas bagaimana dengan daftar menu lebih dari satu abad yang lalu?Apakah masih ada yang sama dengan bebera dekade terakhir? Yang jelas bahwa babi guling dengan rempah-rempah sudah direkomendasikan para bule lebih dari satu abad yang lalu. Okelah, untuk menambah pegetahuan tentang masakan khas Bali tempo doeloe, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 20 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (9): Orang Bali, Bali Aga, Bali Moela, Buddha, Islam dan Hindu; Kirtya Liefrinck van der Tuuk di Singaraja


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Bali, tidak hanya tentang alam pulau Bali, tetapi juga tentang orang yang berada di pulau itu. Pulau Bali sendiri sejak awal adalah pulau yang terbuka, pulau dimana bermukim penduduk asli, penduduk yang paling asli (origin). Namun dalam rentang waktu sejarah pulau Bali yang sudah lama, sejak origin hingga ini hari, masih ditemukan sisa penduduk aseli pulau Bali. Penduduk paling aseli ini disebut orang Bali Aga. Orang-orang aseli ini masih melakukan praktek budaya lama (oesana Bali). Sejarah Bali juga termasuk orang-orang yang ahli di bidangnya tentang Bali.

Bagaimana cara mempelajari (sejarah) orang Bali, seorang peneliti bernama Lekkerkerker.dalam risalahnya yang dimuat pada majalah Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1933 menyatakan bahwa studi tentang masyarakat Bali seharusnya tidak dimulai dari ujung yang salah, tidak dengan masyarakat kasta dan lembaga-lembaga Hindoe, tetapi di desa-desa, dimana banyak kelompok populasi kuno masih dapat ditemukan. Salah satu desa kuno yang terkenal adalah desa Tenganan Pagringsingan. Hingga masa ini oesana Bali masih eksis di desa Tenganan Pagringsingan. Nama dua orang ahli yang terbilang sangat intens tentang sejarah orang Bali adalah FA Liefrinck dan N van der Tuuk. Oleh karena itu, jika terkait dengan urusan sejarah orang Bali, generasi ahli berikutnya mendirikan perpustakaan di Bali dengan nama Kirtya Liefrinck van der Tuuk.

Bagaimana sejarah orang Bali dan bagaimana sejarah orang-orang yang meneliti tentang (pulau) Bali menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penulisan sejarah Bali. Seperti orang Bali harus ada yang bermula (orang Bali yang paling awal), juga dalam penulisan sejarah Bali harus ada orang yang memulainya. Yang memulainya adalah orang-orang Eropa-Belanda. Kita, pada masa kini hanyalah sekadar melanjutkan. Okelah, untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.