Rabu, 04 November 2020

Sejarah Kalimantan (58): Sejarah Kanal di Pulau Kalimantan Dimulai di Banjarmasin; Sungai, Banjir, Sedimentasi, Gambut, Kanal

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Selatan di blog ini Klik Disini

Ada perbedaan antara Kota Banjarmasin dengan kota-kota lain soal pembangunan kanal. Kota Banjarmasin dan Kota Jakarta termasuk kota pemilik kanal terbanyak. Namun antara Kota Jakarta dan Kota Banjarmasin terdapat perbedaan karakteristik. Perbedaan itulah yang menyebabkan sejarah kanal di Kota Jakarta dan di Kota Banjarmasin sangat menarik. Pembangunan kanal di Kota Banjarmasin baru dimulai pada era Pemerintah Hindia Belanda. Sesungguhnya Kota Banjarmasin bukanlah Kota Seribu Sungai tetapi Kota Seribu Kanal.

Orang Belanda sangat piawai membangun kanal. Itu karena karakteristik negara (kerajaan) Belanda di Eropa membutuhkan pembangunan kanal. Orang Belanda mampu melakukannya. Pengalaman itulah yang dipraktekkan di Hindia. Kanal yang pertama dibangun adalah kanal yang mengelilingi Kasteel Batavia dengan teknik sodetan (dari sungai Tjiliwong). Tidak hanya membangun kanal, orang-orang Belanda di era VOC (setelah Kasteel Batavia) juga memoles sungai seakan terbentuk kanal besar. Dalam hal ini pembuatan kanal tidak hanya berfungsi untuk pertahanan  (barrier), jalan tol air dan pelabuhan, tetapi juga untuk fungsi drainase dan pengairan (irigasi).

Lantas bagaimana sejarah kanal di pulau Kalimantan khususnya di Banjarmasin? Itu bermula karena sungai Barito dan sungai Martapura meluap yang menyebabkan Banjarmasin mengalami banjir. Pembangunan kanal awalnya adalah solusi pembangunan tata kota, lalu diperluas untuk solusi membentuk lahan-lahan produktif untuk pertanian. Bagaimana proses kanalisisi tersebut berlangsung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kanalisiasi: Dr CM Schwaner

Pada masa ini, Kota Banjarasin tidak hanya kota sungai, tetapi pada dasarnya adalah kota kanal. Pembangunan kanal (canaal) pertama diduga telah dimulai pada era VOC. Kanal pertama tersebut adalah menghubungkan sungai Doesoen (kelak disebut sungai Barito) dengan muara sungai Tatas atau sungai Kayutangi (kelak disebut sungai Martapoera).

Pembangunan kanal dimaksudkan untuk fungsi navigasi dan fungsi pertahanan dimana orang-orang Eropa (Belanda) bermukim di muara sungai Tatas. Sebagai fungsi navigasi pelayaran pada kanal itu dibentuk pelabuhan yang menghubungkan arus barang dan orang ke Martapoera (melalui sungai Tatas) dan ke Marabahan (melalui sungai Doesoen). Pelabuhan ini menjadi semacam pelabuhan buatan (kapal bisa bersandar langsung ke darat ke gudang-gudang orang Eropa). Sebagai fungsi pertahanan, sungai Tatas dihilir arus orang dan barang langsung ke sungai Doeseon melalui kanal. Dengan kata lain area yang kemudian disebut Schans van Thuijll menjadi lebih terkendali (aman).

Dalam perkembangannya pola yang diterapkan di Schan van Thuijl ini diperluas dalam rangka mebangun kota yang lebih luas. Sungai yang dulu disebut Kayutangi dan namanya menjadi Martapura dibangun lagi kanal baru dari sungai Martapura ke sungai Barito (sebelumnya disebut sungai Doesoen atau sungai Bandjarmasin). Muara kanal baru ini di sungai Bandjarmasin disebut Kween. Area antara sungai Martapura dan sungai Banjarmasin menjadi area orang Eropa dan area di seberangnya menjadi area pribumi dimana terbentuk perkampongan Melayu, kampong Boegis. Area antara kanal dengan sungai Alalak menjadi area pengembangan lebih lanjut (untuk Eropa). Secara teknis inilah awal dari kota Banjarmasin yang sekarang (ketika kanal yang kedua dibuat).

Pada masa ini Kota Bandjarmasin dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai, sesungguhnya kurang tepat, tetapi Kota Seribu Kanal. Faktanya di Kota Banjarmasin yang sekarang hanya tiga sungai yang benar-benar sungai besar: sungai Barito (sungai Bandjarmasin), sungai Kayutangin (sungai Martapura) dan sungai Alalak. Setelah dua kanal pertama di Banjarmasin lalu dibangun kanal-kanal lain yang pada dasarnya dibangun untuk fungsi drainase pada area rawa-rawa sehubungan dengan pengembangan dalam kota (jalan dan pemukiman). Pada era Republik Indonesia kanal baru yang panjang yang dibangun dengan menghubungkan sungai Martapura dan sungai Alalak. Hal serupa di Bandjarmasin sudah lebih dahulu diterapkan di Batavia (sejak era VOC) yang juga terkesan Kota Seribu Sungai, yang faktanya adalah Kota Seribu Kanal. Kota Batavia bermula, seperti Banjarmasin, hanya tiga sungai yakni sungai Tjiliwong, sungai Kroekoet dan sungai Tjideng. Lalu untuk fungsi drainase dibangun banyak kanal.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Gambut dan Kanalisasi

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar