Jumat, 16 Oktober 2026

Sejarah Amir Sjarifoeddin (1): Sejarah Amir Sjarifoeddin Bersifat Kontroversi? Mari Kita Telusuri Sejarah Sejak Awal Dengan Data


*Lihat juga Youtube Channel disini: Poestaha Depok

**Untuk melihat semua artikel Sejarah Amir Sjarifoeddin di blog ini Klik Disini

Dalam narasi sejarah masa kini, Amir Sjarifoeddin Harahap dipersepsikan sebagai tokoh yang bersifat kontroversi. Apakah itu benar? Kenyataannya, apa yang dinarasikan tentang Amir Sjarifoeddin Harahap pada masa ini berbeda dengan dengan data sejarah (dokumen dan arsip) sezaman. Mengapa bisa begitu? Singkatnya: Dalam hal inilah mengapa sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap perlu ditulis kembali. Mari kita mulai dari artikel pertama. Deepublish

 

Amir Sjarifoeddin Harahap lahir 27 April 1907 adalah seorang politikus dan wartawan Indonesia yang menjabat sebagai Perdana Menteri kedua Indonesia dari tahun 1947 hingga 1948. Amir lahir dalam keluarga bangsawan Sumatra dan menempuh pendidikan di Universitas Leiden. Di Leiden, ia menjadi anggota dewan asosiasi mahasiswa Gimnasium di Haarlem dan terlibat dalam organisasi mahasiswa Batak Jong Batak. Ia kembali ke Indonesia karena masalah keluarga tetapi melanjutkan pendidikannya di Rechts Hogeschool di Batavia. Kakeknya, Sutan Gunung Tua, adalah seorang jaksa di Padang Sidempuan. Ayahnya, Baginda Soripada Harahap, juga adalah seorang jaksa di Medan. Selama bersekolah di Belanda, Amir mempelajari filsafat Timur dan Barat di bawah pengawasan Theosophical Society. Amir menikmati pendidikan di ELS atau sekolah dasar Belanda di Medan pada tahun 1914 hingga selesai Agustus 1921. Atas undangan saudara sepupunya, T.S.G. Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad dan belajar di kota Leiden sejak 1921 (Wikipedia)  

Lantas bagaimana sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap bersifat kontroversi dalam narasi sejarah masa kini? Seperti disebut di atas, Amir Sjarifoeddin Harahap bukan orang biasa, tetapi memiliki banyak peran penting dalam perjalanan bangsa hingga mencapai kemerdekaan. Akan tetap sejarahnya banyak yang tidak terinformasikan, dari narasi yang ada saat ini terkesan simpan siur. Lalu bagaimana sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap bersifat kontroversi dalam narasi sejarah masa kini? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Apakah Sejarah Amir Sjarifoeddin Bersifat Kontroversi? Mari Kita Telusuri Sejarahnya Sejak Awal 

Amir Sjarifoeddin lahir di Medan, 27 Mei 1907 (lihat buku “Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa”, Gunseikanbu, 1944). Meski lahir di Medan, Amir Sjarifoeddin menyelesaikan sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1921). Disebutkan ujian masuk kelas 1 PHS di Batavia, yang dinilai oleh Prins Hendrik School, telah lulus di Sibolga diantaranya Amir Sjarifoeddin. 


Ayah Amir Sjarifoeddin adalah Djamin gelar Baginda Soripada seorang mantri-politie di Medan yang pada bulan Mei 1914, diangkat sebagai Adj-hoofddjaksa di Tanjoeng Poera (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-05-1914). Lalu kemudian pada tahun 1915 Djamin Baginda Soripada dipindahkan ke Sibolga sebagai Hoofddjaksa. Tidak lama kemudian, Djamin dipindahkan lagi ke Sabang. Dalam manifest kapal ss de Weert yang berangkat tanggal 16 Januari 1916, Djamin berangkat dengan istri dan empat orang anak. Kemudian, setelah dari Aceh, Djamin dipindahkan lagi ke Sibolga sebagai kepala djaksa. 

Namun dalam perkembangan yang sangat singkat, Amir Sjarifoeddin tidak meneruskan pendidikan menengah (HBS di PHS Batavia) tetapi berangkat ke Belanda dengan kapal Pieters Zooncoon (lihat De Preanger-bode, 12-07-1921). Disebutkan kapal ss Jan Pieterzoon Coen berangkat dari Batavia tanggal 13 Juli dengan tujuan akhir Amsterdam dimana dalam manifest tercatat nama A. Sjarifoedin. 


Sementara itu pada bulan Mei tahun 1921, di Prins Hendrik School (PHS) Batavia Mohamad Hatta lulus ujian akhir. Pada bulan Agustus Mohamad Hatta berangkat ke Belanda dengan kapal ss Tambora (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-08-1921). Disebutkan kapal ss Tambora berangkat dari Tandjoeng Priok tanggal 3 Agustus 1921 dengan tujuan akhir Rotterdam dimana di dalam manifest kapal tercatat nama Moh. Hatta. Besar kemungkinan Mohamad Hatta naik kapal di Padang, karena ada sejumlah penumpang yang turun di Padang. 

Amir Sjarifoeddin akan melanjutkan studi sekolah menengah (HBS) di Belanda, sedangkan Mohamad Hatta akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi (universitas). Pada saat ini, untuk berangkat melanjutkan studi ke Belanda tidak sesulit masa lampau lagi. Satu yang jelas lalu lintas pelayaran dengan kapal uap (ss) sudah sangat intens antara Batavia dan Belanda (Amsterdam dan Rotterdam) dan sebaliknya. Sementara itu, di Belanda sudah ada organisasi mahasiswa pribumi/Indonesia (Indisch Vereeniging) yang didirikan oleh Radjioun Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun 1908. Para mahasiswa yang tergabung di Indisch Vereeniging yang akan menyambut siswa baru datang dari Indonesia di Belanda. Bagi siswa yang masih tergolong sangat belia seperti Amir Sjarifoeddin (masih berumur 14 tahun lulusan sekolah dasar) memiliki tantangan tersendiri. 


Pada tahun 1917 di Belanda diadakan Kongres Hindia yang meliputi semua mahasiswa asal Hindia (pribumi, Cina dan Belanda). Ketua kongres adalah HJ van Mook, mahasiswa Indologi (di Leiden). Dalam persiapan kongres tersebut, mahasiswa pribumi yang tergabung dalam Indisch Vereeniging yang dipimpin RM Notodiningrat (mahasiswa teknik di Delft) menunjuk Dahlan Abdoellah sebagai pembawa makalah yang didalamnya diamanatkan untuk mengusulkan pengadopsian nama Indonesia menggantikan nama Hindia Belanda. Dalam Kongres Hindia yang diadakan bulan November 1917 diputuskan mengadopsi nama Indonesia. Sejak ini nama Indonesia secara legitimasi telah diakui nama Indonesia. Pada Kongres Hindia tahun 1918, nama kongres sudah diubah namanya menjadi Kongres Indonesia. 

Lantas bagaimana selanjutnya Amir Sjarifoeddin di Belanda? Pada tahun 1921, terinformasikan bahwa Amir Sjarifoeddin menumpang (kost) di kediaman keluarga Dirk Smink di kota Katwijk, jalan Thorbeckestraat No 16. kota Katwijk di dekat kota Leiden. Dirk Smink adalah seorang guru di sekolah guru di Leiden. 


Bagi siswa asal Hindia/Indonesia yang masih berumur belia biasanya dititipkan di bawah bimbingan/pengawasan seorang guru di Belanda. Yang lulusan sekolah menengah biasanya sudah dapat mandiri dengan menyewa tempat kost. Hal seperti itu yang dilakukan  Soetan Casajangan pada tahun 1911 saat kedatangan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia di Belanda, dititipkan pada seorang guru awalnya. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga berangkat ke Belanda tahun 1911. Soetan Casajangan sendiri saat itu belum lama lulus sekolah guru. Soetan Casajangan studi di sekolah guru di Haarlem (lihat Het 75-jarig bestaan van de Haarlemse Rijkskweekschool 1861-1936). Dalam buku ini dicatat Soetan Casajangan masuk tahun 1906 dan lulus tahun 1910 dengan gelar akta guru MO. Pada tahun 1912 saat kedatangan Sjamsi Sastra Widagda, guru muda berusia belia yang didukung beasiswa Boedi Oetomo dititipkan di bawah pengawasan guru Soetan Casajangan (guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan di Rotterdam dan Haarlem). Idem dito dengan Amir Sjarifoeddin yang tiba di Belanda pada usia belia dititipkan kepada guru Dirk Smink di kota Katwijk. Dirk Smink adalah seorang guru di sekolah guru (lihat Nederlandsche staatsalmanak voor iedereen; handboek betreffende zaken en personen in betrekking tot Nederland en koloniën, jrg 14, 1913). Dirk Smink adalah guru musik dan menyanyi di sekolah guru (lihat buku D. Smink berjudul “Maat en Toen” (Ukuran dan Nada). Kursus untuk pengajaran menyanyi di sekolah guru, sekolah normal, dan sekolah menyanyi. Bagian I. Edisi ke-5. Tiel, D. Mijs. (8 dan 127). Ongkos kirim 8o. ƒ1,95 (lihat Brinkman's alphabetische lijst van boeken, landkaarten en verder in den boekhandel voorkomende artikelen die in ... in het Koninkrijk der Nederlanden uitgegeven of herdrukt zijn, benevens opgave van den uitgever, den prijs en eenige aantekeningen, voorts een lijst der overgegane fondsartikelen alsmede een wetenschappelijk register, jrg 78, 1923). Foto: Amir Sjarifoeddin dengan dua putri Dirk Smink di kota Katwijk, 1921. 

Selama Amir Sjarifoeddin tinggal bersama keluarga Dirk Smink di kota Katwijk tidak terinformasikan dimana bersekolah. Yang terinformasikan adalah pada tahun 1925 Amir Sjarifoeddin sudah pindah sekolah ke Haarlem di Gymnasium Haarlem. Saat ini Amir Sjarifoeddin sudah berumur 18 tahun (sudah mandiri). 


Amir Sjarifoeddin masuk di sekolah umum Gymnasium Haarlem tahun 1925 di kelas lima. Dalam daftar kelulusan ujian transisi di Gymnasium Haarlem tidak pernah tercatat nama Amir Sjarifoeddin. Ini mengindikasikan bahwa Amir Sjarifoeddin masuk ke sekolah Gymnasium Haarlem merupakan transfer dari sekolah lain. Sebagaimana biasanya, lulusan sekolah menengah pertama (MULO) diterima di sekolah menengah atas (HBS/AMS) di kelas empat. Namun, seperti disebut di atas, dimana Amir Sjarifoeddin bersekolah sebelumnya tidak terinformasikan. Perlu ditambahkan disini bahwa lama studi di HBS selama lima tahun, tetapi di sekolah AMS atau Gymnasium lama studi enam tahun. Foto: Amir Sjarifoeddin menjadi salah satu pemain sepak bola di di Gymnasium Haarlem, 1925 (Amir Sjarifoeddin berdiri di tengah). 

Pada tahun 1926 Amir Sjarifoeddin lulus ujian transisi di Gymnasium Gemeente Haarlem naik dari kelas 5 ke kelas 6 (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 12-07-1926). Ini mengindikasikan bahwa Amir Sjarifoeddin akan berada di kelas tertinggi di Gymnasium Gemeente Haarlem, dan jika lancer studi akan lulus ujian akhir (yang kemudian dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi). 


Tampaknya Amir Sjarifoeddin adalah siswa yang mudah bergaul dan diterima di antara teman-teman sekolahnya. Pada tahun 1925 Amir Sjarifoeddin sudah menjadi bagian dari tim sepak bola sekolah Gymnasium Gemeente Haarlem. Amir Sjarifoeddin juga kemudian menjadi pengurus asosiasi sekolah menengah Amicitia Juncti di Gimnasium Kota Haarlem untuk periode 1926-1927. Amicitia Juncti di Gimnasium Kota Haarlem terbilang terkenal dan bersejarah karena didirikan pada tahun 1886. Amicitia Juncti dalam hal ini dapat dikatakan sebagai klub persaudaraan di sekolah Gymnasium Kota Haarlem. Sementara itu, organisasi mahasiswa Hindia/Indonesia Indische Vereeniging telah diubah namanya menjadi Indonesisch Vereeniging pada tahun 1922 oleh Dr Soetomo dkk. Lalu pada tahun 1925 namanya diubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI). Pengurus baru PI pada awal tahun 1926 dipimpin oleh Mohamad Hatta (mahasiswa Nederlandsch Handelshoogeschool di Rotterdam). Foto: Amir Sjarifoeddin (depan kanan), pada tahun ajaran 1926-1927 bersama pengurus asosiasi sekolah menengah Amicitia Juncti di Gimnasium Kota Haarlem. 

Pada tahun 1927 Amir Sjarifoeddin lulus ujian akhir di Gymnasium Haarlem (lihat De Masbode, 10-07-1927). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Mari Kita Telusuri Sejarah Amir Sjarifoeddin Sejak Awal: Lahir di Medan, 1907, Lulus Sekolah Dasar Eropa ELS di Sibolga dan Langsung Melanjutkan Studi ke Belanda 1921

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; Forthcoming “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar