Sabtu, 11 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (288): Pahlawan Indonesia Soetan Casajangan dan Indische Vereeniging; Sejarah PI, PPPI hingga PPKI

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Siapa Soetan Casajangan? Kurang terinformasikan? Nama Soetan Casajangan belum ada di laman Wikipedia. Mengapa? Ini bukan karena sejarah Soetan Casajangan tidak terinformasikan. Boleh jadi karena tidak ada yang bersedia menulisnya. Mengapa? Nah, itu dia. Okelah kalau begitu. Untuk mengisi kekosongan di Wikipedia dapat digunakan beberapa paragraf di dalam buku berjudul ‘Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950’ ditulis dalam bahasa Belanda oleh Harry A. Poeze, Cornelis Dijk dan Inge van der Meulen yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.

Harry A. Poeze dkk tampaknya gagal memahami sejarah Soetan Casajangan. Tentu saja bukan karena tidak tersedianya data. Satu hal dalam narasi Harry A. Poeze tidak menyinggung peran Soetan Casajangan sebagai penggagas dan presiden pertama organisasi mahasiswa di Belanda, Indische Vereeniging yang didirikan tahun 1908. Sebagaimana diketahui Indische Vereeniging ini yang namanya diubah Dr Soetomo dkk tahun 1921 menjadi Indonesisch Vereeniging dan kemudian Mohamad Hatta dkk tahun 1924 mengubahnya lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI) yang hingga ini hari masih eksis. Indische Vereeniging adalah awal pergerakan mahasiswa di negeri Belanda. Mengapa Harry A. Poeze dkk lupa hal itu. Apakah sengaja mengabaikannya? Tampaknya iya. Harry A. Poeze sengaja atau tidak sengaja mengutip perkataan Dr Abdoel Rivai yang sejatinya tidak pernah (tidak akan) dikatakan Dr Abdoel Rivai. Mengapa?

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia Soetan Casajangan? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan adalah penggagas dan presiden pertama Indische Vereeniging di Belanda yang didirikan pada tahun 1908. Organisasi ini menjadi garis continuum PI, PPPI (federasi organisasi pemuda dan pelajar) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sejatinya Soetan Casajangan adalah orang Indonesia kedua yang secara sadar melanjutkan pendidikan tinggi (perguruan tinggi) di luar negeri (Belanda). Yang pertama adalah Raden Kartono (abang RA Kartini). Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (287): Pahlawan Indonesia Dja Endar Moeda dan Medan Perdamaian; Sejarah PPPKI dan BPUPKI

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Siapa Dja Endar Moeda? Kurang terinformasikan? Nama Soetan Casajangan sudah ada di laman Wikipedia, namun sangat minim. Mengapa? Ini bukan karena sejarah Dja Endar Moeda tidak terinformasikan. Boleh jadi karena tidak ada yang bersedia menulis lebih lengkap. Mengapa? Nah, itu dia. Okeklah kalau begitu. Yang jelas Dja Endar Moeda berperan banyak bidang dalam awal kebangkitan bangsa: sebagai pendidiik sejati, sebagai jurnalis Indonesia pertama dan sebagai pemersatu bangsa (pendiri organisasi kebangsaan Indonesia pertama).

Dja Endar Moeda atau lengkapnya Dja Endar Moeda Harahap adalah perintis pers berbahasa Melayu kelahiran Padang Sidempuan, 1861. Dididik sebagai guru di sekolah pengajaran guru di Padang Sidempuan, kariernya di dunia pers dimulai sebagai redaktur untuk jurnal bulanan Soeloeh Pengadjar pada 1887. Sepulangnya dari naik haji tahun 1893 Dja Endar Moeda memutuskan untuk bermukim di Kota Padang. Di sana, selain mendirikan sekolah swasta ia menjadi redaktur Pertja Barat, yang didirikan oleh Lie Bian Goan. Pada tahun 1905, Dja Endar Moeda membeli Pertja Barat. Dja Endar Moeda juga mendirikan beberapa media cetak lain di Medan dan Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Pemberita Atjeh didirikan pada 1906. Dengan rekan-rekannya di Sjarikat Tapanuli dia menerbitkan Pewarta Deli, dengan dirinya sebagai pemimpin redaksi. Pada 1911, setelah keluar dari Pewarta Deli, Dja Endar Moeda menerbitkan Bintang Atjeh. (Wikipedia).:

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia Dja Endar Moeda? Seperti disebut di atas, Dja Endar Moeda adalah pendiri organisasi kebangsaan Indonesia pertama, Medan Perdamaian tahun 1900 (jauh sebelum terbentuknya Boedi Oetomo, 1908). Organisasi ini menjadi garis continuum PPPKI (federasi organisasi kebangsaan Indonesia) dan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sejatinya Dja Endar Moeda adalah orang Indonesia pertama yang secara sadar mengedepankan pentingnya pers seperti dikatakannya pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama mencerdeaskan bangsa. Dja Endar Moeda dapat dikatakan wartawan Indonesia pertama. Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 10 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (286): Pahlawan Indonesia Sugondo; Ketua Kongres Pemuda 1928, Dilarang ke Kampong Parada Harahap

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sugondo Djodjopuspito adalah Pahlawan Indonesia, Nama yang sudah dikenal luas, karena Sugondo Djodjopuspito adalah satu dari tiga pilar panitia inti Kongres Pemuda kedua tahun 1928 (bersama Mohamad Jamin sebagai sekretaris dan Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai bendahara). Mereka bertiga kebetulan sama-sama mahasiswa fakultas hukum Rechthoogeschool di Batavia. Dekan fakultas mereka adalah Mr Hoesein Djajadiningrat, Ph.D (salah satu pendiri Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908).

Sugondo Djodjopuspito (22 Februari 1905 – 23 April 1978) adalah tokoh pemuda tahun 1928 yang memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua dan menghasilkan Sumpah Pemuda, dengan motto: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa: Indonesia.
Sugondo Djodjopuspito lahir di Tuban, 22 Februari 1905. Pamannya menyekolahkan Soegondo dari HIS di Tuban hingga RH di Batavia, termasuk adik-adiknya. Peranan bapak Hadisewojo sangat besar dalam membimbing Soegondo sejak dari HIS di Tuban, menitipkan mondok di Cokroaminoto Surabaya, menitipkan mondok di Ki Hadjar Dewantara Yogyakarta, dan hingga mengarahkan masuk ke RH Batavia. Soegondo sendiri mengenyam pendidikan HIS tahun 1911-1918 di kota Tuban. Tahun 1919 setelah lulus HIS pindah ke Surabaya untuk meneruskan ke MULO tahun 1919 - 1922 di Surabaya, oleh pamanya ia dititipkan mondok di rumah HOS Cokroaminoto bersama Soekarno. Kemudian setelah lulus MULO, tahun 1922 melanjutkan sekolah ke AMS afdeling B di Yogyakarta tahun 1922-1925, dan oleh pamannya melalui HOS Cokroaminoto dititipkan mondok di rumah Ki Hadjardewantoro di Lempoejangan Stationweg 28 Jogjakarta. Setelah lulus AMS tahun 1925 melanjutkan kuliah atas biaya pamannya dan beasiswa di Rechtshoogeschool te Batavia. Ia mondok di rumah pegawai pos bersama beberapa pegawai pos Pasar Baru lainnya di Gang Rijksman (belakang Rijswijk), sehingga ia bisa membaca majalah Indonesia Merdeka asuhan Mohammad Hatta terbitan Perhimpunan Indonesia di Belanda yang dilarang masuk ke Indonesia. Selama mahasiswa hidup sulit hanya punya satu baju, yang harus dicuci dulu kalau mau kuliah. Kuliah di RHS hanya mencapai lulus tingkat Candidat Satu (C1), setelah Propadeus, karena beasiswanya dicabut akibat kegiatan politiknya dan juga pamannya meninggal dunia.

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia Sugondo Djodjopuspito? Seperti disebut di atas, Sugondo Djodjopuspito adalah ketua Kongres Pemuda tahun 1928. Hal itulah mengapa sejarah Sugondo Djodjopuspito perlu ditulis. Tentu saja barangkali sudah ada yang menulisnya. Namun sejarah Sugondo Djodjopuspito begitu penting karena itu perlu ditulis lagi. Satu hal yang perlu diketahui mengapa Soegondo dilarang masuk ke Afdeeling Padang Sidempoean (kampong halaman Parada Harahap). Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (285): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Organisasi Pemuda; Jong Java, Jong Sumatra dan Jong Batak

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Organisasi pemuda juga menjadi salah satu dimana pahlawan Indonesia lahir. Organisasi pemuda dibedakan dengan organisasi mahasiswa/pelajar. Organisasi pemuda pada awalnya, era Pemerintah Hindia Belanda, adalah onderbouw dari organisasi induk (senior). Seperti contoh Jong Java di dalam organisasi kebangsaan Boedi Oetomo, organisasi Jong Sumatranen Bond terkait dengan organisasi kebangsaan Sumatranen Bond, organisasi Jong Batak dengan organisasi kebangsaan Bataksche Bond, dan laiinnya. Secara individu ada yang menjadi organisasi mahasiswa dan organisasi pemuda.

Organisasi pemuda pada masa ini sangat banyak. Itu merupakan garis continuum sejak mulai dibentuknya organisasi pemuda Indonesia sejak era Pemerintah Hindia Belanda seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Batak, Jong Islamieten Bond. Organisasi mahasiswa pertama adalah Indische Vereeniging yang didirikan di Belanda pada tahun 1908 yang digagas oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Organisasi mahasiswa, baru kemudian terbentuk lagi pada era perang kemerdekaan yakni organisasi mahasiswa Himpoenan Mahasiswa Islam di Djogjakarta bulan Februari 1947 yang digagas oleh Lafran Pane dan organisasi mahasiswa Persatoean Mahasiswa Universita Indonesia (PMUI) bulan November 1947 di Dajakarta yang dugagas oleh Ida Nasution dan G Harahap. Organisasi pemuda berikutnya baru muncul pada era Republik Indonesia seperti KNPI dan sebagainya.:

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia yang bermula di organisasi kepemudaan? Seperti disebut di atas, organisasi kepemudaan terbentuk pertama pada era Pemerintah Hindia Belanda. Organisasi pemuda pertama yang terbentuk adalah Jong Java pada tahun 1915, suatu organisasi onderbouw Boedi Oetomo yang anggota tidak hanya pemuda tetapi juga para pelajar/mahasiswa. Lalu bagaimana semua itu terjadi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 09 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (284): Pahlawan Nasional Halim Perdanakusuma; Lapangan Terbang Cililitan Jadi Nama Bandara Halim

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, sebuah bandar udara di Jakarta, Bandar udara ini awalnya sebagai markas Komando Operasi Angkatan Udara I. Sejak tanggal 10 Januari 2014, bandar udara ini juga digunakan sebagai bandar udara komersial untuk wilayah Jakarta, Nama Halim Perdanakusuma merujuk pada nama Pahlawan Nassional  Indonesia. Halim Perdanakusuma. Nama-nama Pahlawan Nasional banyak yang digunakan untuk nama bandara, selain Halim Perdanakusuma, juga antara lain Iswahyudi (Magetan), Abdurahman Saleh (Malang); dan Adi Sucipto (Johjakarta). Bagaimana dengan di Bandung?

 

Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma (18 November 1922 – 14 Desember 1947) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia saat menjalankan tugas semasa perang Indonesia - Belanda di Sumatra, yaitu ketika ditugaskan membeli dan mengangkut perlengkapan senjata dengan pesawat terbang dari Thailand. Halim dilahirkan di Sampang, Madura. Setelah lulus dari SD dan SMP/SMA untuk pribumi Indonesia, ia bergabung dengan Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (sebuah sekolah untuk mendidik penduduk pribumi Indonesia untuk pemerintahan) di Magelang. Namun pada tahun kedua, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung Akademi Angkatan Laut di Surabaya untuk bergabung sebagai tentara Hindia Belanda. Setelah menamatkan pendidikan di akademi tersebut, ia sempat bergabung dengan tentara KNIL di bagian penerangan. Selama Perang Dunia 2 beliau pernah bertugas di Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force sebagai Navigator dengan pangkat Wing Commander dan bertugas di skadron pengebom pesawat Lancaster dan B-24 Liberator. Selama bertugas beliau telah menjalankan 44 misi pengeboman di seluruh Eropa. Setelah Perang Dunia 2 berakhir, beliau kembali ke Indonesia. Pada saat itu ia masih tergabung dengan Dinas Penerbangan Angkatan Laut Belanda, tetapi beliau lebih memilih bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat di Jawatan Penerbangan dan telah menjalankan beberapa misi sampai ia gugur dalam tugas. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Nasional Halim Perdanakusuma? Seperti disebut di atas, Halim Perdanakusuma adalah salah satu pilot Indonesia yang menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat di Jawatan Penerbangan dan telah menjalankan beberapa misi sampai ia gugur dalam tugas. Lalu bagaimana sejarah Halim Perdanakusuma? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (283): Pahlawan-Pahlawan Indonesia Penerbangan; Pesawat, Pilot, Lapangan Terbang dan Maskapai

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pahlawan-pahlawan Indonesia tidak hanya soal tokoh politik, militer dan sebagainya, tetapi juga ada yang berasal dari dunia penerbangan, dunia baru di Indonesia. Seperti halnya dunia pelayaran, dunia penerbangan juga terkait dengan berbagai fungsi seperti pesawat, para pilot, kebandaraan (lapangan terbang), pusat pelatihan dan maskapai. Namun sejauh ini pahlawan-pahlawan Indonesia dari dunia penerbangan hanya mereka yang menjadi pilot yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional..

Pahlawan-pahlawan Indonesia yang berasal dari dunia penerbangan yang telah ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional antara lain Marsda TNI. Anm. A. Halim Perdanakusum; Marsma TNI. Anm. R. Iswahyudi; Marsdfa TNI. Anm. Prof. DR. Abdurahman Saleh; dan Marsda TNI. Anm. Mas Agustinus Adisucipto. Sementara itu bandara yang ada di Indonesia merupakan kelanjutan bandara yang sudah dibangun sejak era Hindia Belanda seperti Tjililitan, Andir, Polonia dan sebagainya bauk yang digunakan untuk kepentingan militer maupun komersial (maskapai) termasuk lapangan terbang yang dikhususkan untuk pelatihan di Curug. Dalam hal ini seiring dengan perkembangan teknologi penerbangan khususnya jenis pesawat menyebabkan sistem kebandaraan juga berkembang seperti pengelolaan navigasi dan keselamatan penerbangan.:

Lantas bagaimana sejarah pahlawan Indonesia di dunia penerbangan? Seperti disebut di atas, pahlawan Indonesia dari dunia penerbangan yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional baru sebagian dari mereka yang berstatus pilot. Lalu apakah ada pilot-pilot lainnya yang layak mendapat status Pahlawan Nasional? Tentu saja dalam hal ini tidak hanya pilot tetapi mereka yang aktif di dalam kebandaraan dan kemaskapaian. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.