Kamis, 09 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (283): Pahlawan-Pahlawan Indonesia Penerbangan; Pesawat, Pilot, Lapangan Terbang dan Maskapai

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pahlawan-pahlawan Indonesia tidak hanya soal tokoh politik, militer dan sebagainya, tetapi juga ada yang berasal dari dunia penerbangan, dunia baru di Indonesia. Seperti halnya dunia pelayaran, dunia penerbangan juga terkait dengan berbagai fungsi seperti pesawat, para pilot, kebandaraan (lapangan terbang), pusat pelatihan dan maskapai. Namun sejauh ini pahlawan-pahlawan Indonesia dari dunia penerbangan hanya mereka yang menjadi pilot yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional..

Pahlawan-pahlawan Indonesia yang berasal dari dunia penerbangan yang telah ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional antara lain Marsda TNI. Anm. A. Halim Perdanakusum; Marsma TNI. Anm. R. Iswahyudi; Marsdfa TNI. Anm. Prof. DR. Abdurahman Saleh; dan Marsda TNI. Anm. Mas Agustinus Adisucipto. Sementara itu bandara yang ada di Indonesia merupakan kelanjutan bandara yang sudah dibangun sejak era Hindia Belanda seperti Tjililitan, Andir, Polonia dan sebagainya bauk yang digunakan untuk kepentingan militer maupun komersial (maskapai) termasuk lapangan terbang yang dikhususkan untuk pelatihan di Curug. Dalam hal ini seiring dengan perkembangan teknologi penerbangan khususnya jenis pesawat menyebabkan sistem kebandaraan juga berkembang seperti pengelolaan navigasi dan keselamatan penerbangan.:

Lantas bagaimana sejarah pahlawan Indonesia di dunia penerbangan? Seperti disebut di atas, pahlawan Indonesia dari dunia penerbangan yang telah ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional baru sebagian dari mereka yang berstatus pilot. Lalu apakah ada pilot-pilot lainnya yang layak mendapat status Pahlawan Nasional? Tentu saja dalam hal ini tidak hanya pilot tetapi mereka yang aktif di dalam kebandaraan dan kemaskapaian. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan-Pahlawan Indonesia di Penerbangan; Pesawat, Pilot, Lapangan Terbang dan Maskapai

Sebelum terbetuknya maskapai, apakah pemerintah (penerbangan militer) dan swasta (penerbangan komersil), diawali suatu penemuan dan perkembangan teknologi transportasi (pesawat), kebutuhan dan rintisan jalur penerbangan (pendaratan) dan ketersedian atau kesiapan para pilot. Itulah awal sejarah penerbangan. Sejarah penerbangan di Indonesia dimulai pada era Hindia Belanda.

Perkembangan teknologi tansportasi udara (pesawat) di Eropa dan Amerika akhirnya meluber ke Hindia Belanda. Tentulah pesawat-pesawat yang ukurannya masih imut-imut itu didatangkan ke Hindia Belanda bukan untuk penerbangan sipil, tetapi hanya untuk kepentingan militer dalam kebutuhan eksplorasi. Belum membutuhkan pendaratan di darat (lapangan terbang) tetapi berbasis di kapal-kapal militer. Pesawat ini mengudara dari atas dak kapal dan mendarat di air yang lalu dikerek ke atas kapal. Pada tahap awal ini kapal dan pesawat bersifat komplemen. Pesawat-pesawat militer ini dioperasikan pertama di skuadron yang berbasis di Soerabaja. Jumlah pesawat-pesawat ini semakin banyak karena jumlah kapal-kapal militer meningkat dan daya jelajah semakin luas di seluruh wilayah Hindia Belanda.

Oleh karena markas-markas-markas militer tidak hanya di pelabuhan-pelabuhan tetapi juga ada di pedalaman seperti di Bandoeng dan Malang serta Solo, maka ketika diperlukan operasi yang bergerak cepat bagi para pemimpin antara satu markas dengan markas lainnya dibutuhkan lapangan terbang darurat untuk tujuan pendaratam Tentu saja pada tahap ini lapangan terbang masih seadanya run way yang masih pendek (pesawat berbadan kecil) dan lapangan terbang tersebut masif bersifat volatil (mudah dibangun dan ditinggalkan jika tidak diperlukan lagi). Namun dalam perkembangan yang cepat, lapangan terbang di Hindia Belanda mulai banyak dibangun oleh militer dengan standar dan pertimbangan tertentu (yang kemudian menjadi penting bagi jalur penerbangan Inggris (dari Singapoera ke Australia).

Lapangan terbang militer Hindia Belanda ini mulai dibangun di Tjililitan (Batavia), Soebang (Kalidjati), Semarang, Bandoeng dan Gresik (belum di Soerabaja). Dari Gresik diperluas ke Singaradja (Bali) dan kemudian ke Makassar dan Ambon serta Sorong. Sebelumnyya sudah diperluas ke barat di Bangka dan Medan (Polonia) yang dalam hal ini memanfaatkan lapangan terbang yang sudah terbentuk sejak lama di Singapoera (dan Penang). Pada saat inilah pihak Inggris yang selama ini rute penerbangan hanya terbatas di benua Australia mulai dilakukan koneksi antara Singapoera dan Sydney melalui lapangan-lapangan terbang di Hindia Belanda. Sehubungan dengan keberhasilan jalur penerbangan jarak jauh Inggris ini di Hindia Belanda, Portugis kemudian meminta izin kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk membuat koneksi penerbangan hingga bisa mencapai Dilli (Timor). Cara pandang melihat tempat yang jauh dengan menggunakan kapal mulai dianggap kuno dan tidak efisien, karena pesawat dapat meringkas perjalanan yang sangat-sangat penting (dan mahal) dalam tempo singkat.  

Pada tahun 1924 revolusi navigasi penerbangan di Hindia Belanda dimulai. Ini bermula dari suatu konsorsium penerbangan sipil di Belanda untuk merintis jalur penerbangan jarak jauh (long distance) antara Eropa/Belanda (Amsterdam) dan Hindia Belanda/Batavia (Tjililitan). Penerbangan percobaan ini berhasil.

Teknologi komunikasi jarak jauh mulai dioperasikan setelah stasion radio Malabar Bandoeng berhasil menghubungkan Belanda dan Hindia. Stasion radio Malabar ini diresmikan pada tanggal 5 Mei 1923. Setahun kemudian pesawat terbang pertama dari Belanda (Amsterdam) tiba di bandara Tjililitan (Batavia) pada hari Senin tanggal 24-11-1924. Tanggal ini begitu penting, baik di Belanda maupun di Hindia. Oleh karena itu disambut meriah dan antusias dimana-mana, tidak hanya Gubernur Jenderal Hindia Belanda juga oleh Ratu Belanda Wilhelmina. Dalam konteks inilah sejarah Cililitan menjadi penting. Pada hari Jumat tanggal 21 November 1924 pesawat Foker F-VII mendarat di lapangan terbang Polonia Medan. Itu berarti pesawat pertama Belanda yang berangkat dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober telah tiba di Hindia (menempuh 15.899 Km dalam 20 hari terbang; sisa hari untuk istirahat dan perbaikan). Panitia Penerbangan Hindia Belanda langsung mengirim telegram ke Ratu Wilhelmina dan sang Ratu langsung mengirim ucapan selamat. Ucapan selamat juga disampaikan kepada tiga penerbang dan langsung mendapat bintang (lihat De Zuid-Willemsvaart, 25-11-1924). Disebutkan para penerbang itu adalah Commandant van der Hoop, Luitenant van Woerden Poelman dan mekanik van den Broek. Hanya dua penerbang yang tiba di Hindia, Luitenant van Woerden Poelman ditinggal di India (Inggris) untuk diganttikan oleh penerbang Hindia Belanda yang lebih memahami wilayah Hindia Belanda. Pada hari Sabtu pesawat F-VII berangkat ke Singapura dan keesokan harinya ke Muntok (Bangka) dan hari Senin dilanjutkan menuju Batavia. Pada hari Senin pagi warga Batavia dan sekitar berduyung-duyung ke lapangan terbang Tjililitan. Ini setelah mendapat kabar positif melalui saluran telepon interlokal dari Muntok bahwa pesawat Fokker F-VII telah mengudara pada pukul 9 pagi. Sementara itu seluruh warga Batavia memasang bendara tricolor. Sekolah libur dan kantor bisnis tutup. Pluit kapal uap dibunyikan, sirene meraung-raung. Kemacetan lalu lintas yang tak ada habisnya dari mobil menuju ke area pendaratan Tjililitan. Satu rombongan pesawat militer dengan wartawan telah berangkat sekitar pukul 9 untuk menyongsong kedatangan pesawat Fokker F-VII. Di lapangan terbang sejumlah pesawat militer sudah dijauhkan untuk menampung ribuan pengunjung yang akan menyambut. Berkat cuaca kering dua hari terakhir jalan cukup kering ke Tjililitan. Sementara itu surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-11-1924 melaporkan rombongan ini telah berangkat pukul 10 dari lapangan terbang Tjililitan menyosong hingga Selat Soenda. Disebutkan dalam rombogan ini turut fotograaf dari agentschap Paramount Film Coy (Oost-Java Bioscoop), Pada pukul 1.20 siang pesawat Fokker F-VII benar-benar telah mendarat di lapangan terbang Tjililitan. Sorak-sorai ribuan pengunjung membuat sangat meriah penyambutan. Gubernur Jenderal berbicara kepada para pilot dan memberi tahu kepada mereka tentang penyambutan tersebut. Gubernur Jenderal lalu menempelkan tanda kehormatan kepada mereka di dada. Selanjutnya para penerbang dengan mobil yang telah dihiasi dengan bunga ke kota yang diikuti oleh kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Di dalam berita ini, juga disebutkan bahwa seluruh Jawa dan khususnya Batavia berada dalam suasana yang meriah. Karena ini adalah penerbangan pertama antara Belanda dan Hindia telah selesai. Selamat untuk para pilot dan panitia. Sementara itu juga penyambutan yang meriah dilakukan di Belanda khususnya di Amsterdam setelah mengetahui melalui telekomunikasi penerbangan tersebut berhasil mendarat di Hindia (lihat Haagsche courant, 25-11-1924). Ini menunjukkan bahwa prestasi ini disambut baik tidak hanya di Hindia tetapi juga di Belanda, Hal ini karena akan menguntungkan orang Belanda jika akan mengunjungi Hindia tidak perlu lagi berlama-lama di lautan dengan kapal uap yang membutuhkan waktu sekitar tiga minggu.

Tahun 1924 dapat dikatakan tonggak sejarah baru navigasi penerbangan, keandalan peswat, kemampuan pilot terbang long distance, kesiapan lapangan terbang dan sambutan pemerintah dan masyarakat luas. Lapangan terbang Tjililitan di Batavia menjadi saksi penerbangan long distance pertama di dunia.

Sejak peristiwa bersejarah ini lalu muncul gagasan penerbangan sipil di Hindia. Lalu didirikan Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) pada tanggal 16 Juli 1928. Layanan pertama cabang KLM ini dilakukan masih sebatas di Jawa. Rute pertama yang dikembangkan adalah untuk menghubungkan Batavia dan Bandoeng.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Penerbangan Indonesia Era Hindia Belanda hingga Era Republik Indonesia: Pahlawan Nasional

Sejarah penerbangan Indonesia, haruslah dilihat dari sisi orang Indonesia yang dihubungkan dengan keberadaan penerbangan di Hindia Belanda. Siapa orang Indonesia pertama yang terlibat dalam penerbangan pada era Hindia Belanda tidak diktehui secara jelas. Mereka ini paling tidak individu-individu yang terlibat dalam pengoperasian pesawat (pilot, copilot atau mekanik), pengelolaan lapangan terbang (landasan dan sistem aviasi) dan urusan maskapai. Dalam hal ini maskapai harus diartikan maskapai yang dikelola sendiri militer (KNIL) dan yang dikelola swasta/komersil. Sebab, bagaimana pun, mereka inilah mata rantai penghubung dalam sejarah penerbangan di Indonesia dari era Pemerintah Hindia Belanda ke era Pemerintah Republik Indonesia.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar