Kamis, 26 Agustus 2021

Sejarah Makassar (44): Bone, Antara Luwu dan Gowa di Teluk Luwu; Kerajaan Bone Tempo Dulu, Riwayat Gorontalo dan Wajo

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini  

Bone memiliki sejarah yang panjang dan memiliki sejarah tersendiri. Bone kemudian menjadi kerajaan besar di pantai timur teluk Luwu (kini teluk Bone). Nama Bone pada masa ini dijadikan sebagai kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan dengan ibu kota Watampone (sebagaimana artikel sebelumnya kabupaten Soppeng ibu kota di Watanssoppeng). Lantas apakah ada kaitan sejarah Bone dengan sejarah Luwu di satu sisi dan adakah kaitan sejarah Bode dengan sejarah Soppeng di sisi lainnya? Konon, sejarah Bone juga dihubungkan dengan Gowa, Wajo dan Gorontalo.

Satu tokoh terkenal pada masa lampau (era VOC) dari Bone adalah Aru Palakka. Tokoh terkenal para era Hindia Belanda di Bone adalah Kolonel A van der Hart. Tentu saja banyak tokoh penting di Bone pada era Republik Indonesi, salah satu diantaranya adalah Haji PB Harahap yang berasal dari Angkola Mandailing yang pernah menjabat sebagai bupati pada periode 1976-1982. Satu tokoh lain yang beradarah Bone adalah Syahrul Yasin Limpo yang pernah menjadi Gubernur Sulawesi Selatan (2008-2018) yang kini menjadi Menteri Pertanian RI. Dr. Syahrul Yasin Limpo istrinya bermarga Harahap (Drg. Ayunsri Harahap).

Lantas bagaimana sejarah Bone? Seperti disebut di atas Bone memiliki sejarah yang panjang. Posisi strategis Bone di pantai timur teluk Luwu tempo doeloe menjadi faktor penting keberadaan penduduk yang kemudian wilayah Bone berbahasa Bugis (dialek Bone) tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan besar (Kerajaan Bone). Lalu bagaimana sejarah Bone sejak zaman kuno hingga era Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

 

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Bone di Pantai Timur Teluk Luwu: Gorontalo, Luwu, Wajo dan Gowa

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bone: Era Hindia Belanda

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar