Senin, 16 Februari 2026

Sejarah Jepang (14): Angkatan Laut Jepang, Alih Teknologi dan Jadi Industri Perkapalan: Jepang Tempo Doeloe, Indonesia Masa Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Kapal induk Indonesia tengah menuju Indonesia dari Italia (namanya Garibaldi akan diubah menjadi KRI Gadjah Mada). Kapal fregat Indonesia yang tercanggih juga dari Italia (KRI Brawijaya). Kapal perang Indonesia lainya juga tengah menuju Indonesia dari Italia (KRI Prabu Siliwangi). Tentu saja kini Indonesia sudah bisa secara defacto membuat kapal fregat, yang pertama adalah KRI Balaputradewa. Jepang sendiri sudah sejak 1921 sudah memiliki kapal induk (Hoso). Kapal fregat Jepang pertama sendiri dibuat di Belanda, diluncurkan pada tahun 1866 untuk menuju Jepang. Pengantar Metode Riset Bisnis


Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) resmi didirikan pada tahun 1869 sebagai bagian dari modernisasi Restorasi Meiji untuk mencegah dominasi Barat. Modernisasi awalnya dibantu oleh teknologi dan pelatihan dari Belanda (seperti penggunaan kapal uap Kankō Maru) dan kemudian mengadopsi model dari Inggris. Restorasi Meiji menjadikan pembuatan kapal sebagai pilar utama pertahanan dan industri. Galangan kapal modern seperti Kawasaki Hyogo Shipyard (1878) dan Ishikawajima mulai beroperasi. Perang Rusia-Jepang (1904-1905): Kemenangan Jepang dalam perang ini menjadi titik balik penting yang menunjukkan kekuatan Asia atas kekuatan Eropa. Pada 1910, Jepang memiliki armada laut terbesar ketiga di dunia, dan pada 1914, industri domestiknya mampu memproduksi hampir semua jenis kapal. Armada Kapal Induk (Kidobutai) menjadi kunci serangan terhadap Pearl Harbor pada tahun 1941. Membangun kapal tempur kelas Yamato (kapal tempur terberat yang pernah dibuat) dan kapal induk IJN Shinano. Mengalami titik balik setelah kalah dalam Pertempuran Midway (1942) dan akhirnya dibubarkan pada tahun 1945 setelah Jepang menyerah. Setelah pembubaran IJN, Jepang membentuk Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) pada tahun 1954 di bawah konstitusi pasca-perang bertugas untuk pertahanan wilayah maritim Jepang dan menjaga keamanan jalur laut (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Angkatan Laut Jepang, alih teknologi dan industri perkapalan? Seperti disebut di atas, dimulai pada Restorasi Meiji yang kemudian menjadi angkatan laut kuat, tetapi harus dikekang pasca perang Asia Pasifik. Dalam hal ini Jepang tempo doeloe dan Indonesia masa kini. Lalu bagaimana sejarah Angkatan Laut Jepang, alih teknologi dan industri perkapalan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Angkatan Laut Jepang, Alih Teknologi dan Industri Perkapalan: Jepang Tempo Doeloe, Indonesia Masa Kini

Jepang awalnya wilayah (kerajaan) terbuka. Pelaut-pelaut Portugis (dari Hindia Timur yang berpusat di Malaka) mulai mengunjungi Jepang tahun 1535 yang kemudian disusul para misonaris Katolik Portugis. Orang-orang Portugis menjadi lalu lalang berdagang ke Jepang. Pedagang dan misonaris Spanyol (dari Filipina) menyusul ke Jepang. Dalam hal inilah orang Portugis mengajari orang Jepang menggunakan senjata api dan kemudian menjadi pasar senjata yang potensial (untuk ditukar dengan emas, kerajinan perak Jepang dan sebagainya). Kemampuan Jepang dalam menggunakan senjata kuno pedang ditambah dengan senjata modern yang menggunakan mesiu membuat orang Jepang lebih berani berlayar lebih jauh ke selatan bahkan hingga pulau Luzon di Filipina. 


Pelaut-pelaut Belanda yang memiliki pos perdagangan VOC di Amboina sejak 1605 (setelah menaklukkan Portugis) mulai ada yang mencapai Jepang. Pada tahun 1613 VOC mengusir Portugis dari Solor dan Koepang, Timor. Sejak pos utama VOC direlokasi dari Amboina ke Batavia tahun 1619, pelaut-pelaut Belanda semakin intens ke Jepang. Hubungan orang Belanda dan Jepang makin akrab karena kepala pos perdagangan VOC di Firanda Jepang menikah dengan gadis Jepang. Dalam perkembangannya, orang Portugis mulai menerima resistensi dari Jepang yang dimulai dari para misionaris mendorong orang Jepang yang sudah Bergama Katolik melakukan pemberontakan. Pemerintah (kerajaan) Jepang di bawah kesogunan pada tahun 1639 mengusir orang Portugis dari Jepang. Entah ada konspirasi antara Belanda dan Jepang, VOC di Batavia pada tahun 1641 menaklukkan Portugis di Malaka dan di Kamboja. Tamat sudah Portugis dan hanya menyisakan komunitas kecil di pulau Timor (kini Timor Leste) dan din Macao pantai timur Tiongkok. Pada tahun 1641 ini pula pemerintah (kerajaan) Jepang melarang semua orang asing dan hanya pedagangan Belanda ytang diberikan izin menetap di Jepang (dengan memindahkan dari Firanda ke pulau kecil Desima di teluk Nagasaki. 

Sementara itu, setelah orang Inggris terusir dari Amerika, orang Amerika menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1774. Sejak itu Amerika Serikat berkembang pesat tidak hanya dalam industry juga dalam teknologi kapal perang. Sejak Amerika mengakuisi wilayah California dari Spanyol pada tahun 1846, 


Amerika mulai memperluas perdagangannya dari pantai barat Amerika ke pantai timur Asia (melalui Pasifik). Kebijakan isolasi Jepang (sejak 1641 yang hanya satu-satunya Belanda yang diberikan akses dalam perdagangan di Jepang) membuat Amerika melakukan tekanan ke Jepang dengan mengirim ekspedisi militer ke Jepang pada tahun 1854. Ekspedisi yang dipimpin Admiral Perry tersebut berhasil yang kemudian pemerintah (kerajaan Jepang) membuka diri kepada semua perdagangan asing. Namun sebagian pihak di dalam rezim kesogunakan tidak menerima kebijakan baru tersebut dan mulai melakukan perlawanan di dalam negeri. Pada fase inilah eskalasi politik internal Jepang dengan adanya gerakan reformasi berakhir dimana pemerintah rezim kesogunakan mengembalikan mandat kepada Kaisar Jepang yang dengan sendirinya Kaisar menjadi terlibat dalam pemerintahan. Gerakan reformasi ini menjadi awal mula Restorasi Meiji. 

Seiring dengan kebijakan terbuka di Jepang (sebagai dampak tekanan militer Amerika), pemerintahan (kerajaan) di bawah kendali Kaisar Jepang mulai membangun militernya untuk memiliki kemampuan dalam pertahanan. Salah satu yang mendapat prioritas adalah matra angkatan laut. Pada tahun 1862 pemerintah (kerajaan) Jepang mengirim sebanyak 16 orang Jepang ke Belanda untuk studi. 


Mereka itu terdiri dari orang-orang pilihan dengan keahlian dasar tertentu yang akan studi di Belanda dalam berbagai bidang seperti bahasa, matematika, hukum, politik, ekonomi, kedokteran, teknologi perkapalan dan sebagainya. Para pemuda Jepang yang berada di Belanda ini bervariasi dalam umur, antara lain Nishi Amane, Kitaro Okawa, Tsuda Mamichi, Hiroyuki Kato, Enomoto Takeaki. Mereka berangkat dengan kapal Belanda dari Nagasaki melalui Batavia (lihat Rotterdamsche courant, 28-10-1862). 

Tidak lama setelah pengiriman mahasiswa ke Jepang, termasuk para perwira militer muda untuk studi teknologi perkapalan dan strategi perang, satu delegasi Jepang diutus ke Belanda. Pada saat utusan Jepang di Belanda termasuk penandatanganan kontrak pembuatan kapal perang (jenis fregat) untuk angkatan laut Jepang. Kapal pertama dari pesanan tersebut selesai tahun 1866 yang kemudian dibawa ke Jepangh oleh salah satu mahasiswa yang dikirim ke Belanda yang berpangkat Majoor yakni Enomoto Takeaki. Kapal inilah yang menjadi kapal perang pertama Jepang. Setelah kapal lainnya menyusul ke Jepang, pada tahun 1868 pemerintahan (kerajaan Kaisar) Jepang secara resmi diberlakukan Restorasi Meiji (kebijakan membangun di dalam untuk memperkuat di luar). 


Jepang mengorder kapal perang pertama dari Belanda, tentu saja ada alasannya. Hubungan antara Belanda dan Jepang yang lama (1641-hingga era  Meiji) menyebabkan orang Belanda secara personal dekat dengan orang Jepang (atau sebaliknya). Tentu saja sudah sangat banyak orang Jepang yang bisa berbahasa Belanda. Bahkan sekolah kedokteran di Jepang didirikan atau dikembangkan oleh orang Belanda. Dalam hal teknologi perkapalan, orang Jepang sudah lama pula mengenal teknologi kapal Belanda (karena hampir selama dua abad hanya orang Belanda yang diizinkan berdagang di Jepang), karena itu kapal-kapal pertama Jepang berteknologi Eropa adalah eks kapal-kapal Belanda. Lalu era baru Jepang dimulai dengan kebijakan luar negeri yang lebih terbuka (restorasi Meiji) yang mana bahasa Inggris dijadikan sebagai satu-satunya bahasa yang digunakan dalam kontrak-kontrak baru Jepang dengan pihak asing. Ini mengindikasikan orang Jepang selain sangat banyak yang bisa berbahasa Belanda juga sudah muncul banyajk orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris. Dalam konteks inilah kemudian pemerintah (kerajaan) Jepang juga mengorder kapal (perang) di Inggris. Seperti kita lihat nanti, juga mengoder kapal (perang) dari Jerman. 

Sejak makin banyaknya kapal-kapal perang Jepang yang dibuat di Eropa, tentu saja terjadi alih teknologi yang diserap oleh para insinyur-insinyur Jepang. Di Jepang sendiri sudah didirikan universitas di Tokyo (Imperial Tokyo University) yang dalam hal ini juga mempekerjakan berbagai dosen dan guru besar asal Eropa (Belanda, Prancis, Jerman dan Inggris). Dalam konteks inilah di Jepang mulai banyak dibangun akademi-akademi yang salah satunya adalah akademi yang menjadi unggulan di Jepang adalah Akademi Angkatan Laut. Dua lulusan akademi ini adalah Kato Tomosaburo dan Yamamoto Gonnohyoe lulus akademi tahun 1877. Saat ini laksamana Jepang yang sangat terkenal adalah Enomoto Takeaki (akademisi Jepang studi di Belanda 1862-1866).


Yamamoto Gonnohyoe menjadi kadet di atas kapal penjelajah "Tsukuba" selama ekspedisi ke Formosa. Yamamoto Gonnohyoe kemudian dipromosikan menjadi letnan muda, dan melakukan pelayaran keliling dunia di atas kapal perang Jerman. Ia adalah salah satu komisaris yang dikirim ke Inggris untuk membawa kapal penjelajah "Naniwa," yang dibangun di Inggris pada tahun 1885. Dalam rombongan Laksamana Rabayama, ia dikirim ke Eropa dan Amerika pada tahun 1887. Seperti kita lihat nanti Yamamoto Gonnohyoe ditempatkan di Markas Besar Kekaisaran di Hiroshima sebagai ajudan Menteri Angkatan Laut selama Perang Sino-Jepang tahun 1894-1895. Pada tahun 1895, ia menjadi laksamana, pada tahun 1896 menjadi direktur Biro Urusan Angkatan Laut, dan, selain itu, anggota Dewan Laksamana, Wakil Menteri Angkatan Laut, dan Laksamana Madya. Dari tahun 1898 hingga 1899, ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1904, ia menjadi laksamana, dan pada tahun 1907, ia termasuk dalam rombongan Pangeran Fushimi dan pergi ke Inggris dan Amerika. Ia dianugerahi penghargaan oleh Raja Edward. Ia diangkat menjadi bangsawan dan dianugerahi Orde Matahari Terbit Pertama dan Naga Emas (Dianugerahi atas jasanya selama Perang Rusia-Jepang). Pada Februari 1913, ia membentuk kabinet Yamamoto, tetapi Yamamoto Gonnohyoe mengundurkan diri pada April 1914. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Jepang Tempo Doeloe, Indonesia Masa Kini: Apakah Angkatan Laut Jepang Akan Menjadi Ofensif Lagi

Dalam dunia perkapalan perang, skalanya dimulai dari jenis corvet. Skala yang lebih tinggi adalah jenis fregat dan kemudian jenis destroyer. Diantara jenis-jenis kapal tersebut masih ada variannya. Dua jenis kapal yang lainnya yang berbeda dalam struktur dan fungsi dan yang lebih heboh adalah kapal induk dan kapal selam. Kapal perang pertama Jepang yang dibuat di Belanda dan melaut pada tahun 1866 disebut jenis fregat. Jepang sendiri disebut memiliki kapal induk (Hoso) mulai 1921. 


Pada masa ini, seperti disebut di atas, Indonesia tengah memperkenalkan kapal induk yang merupakan hibah dari Italia (namanya Garibaldi) yang namanya tengah dipersiapkan dengan nama KRI Gadjah Mada. Sementara diantara kapal-kapal perang Indonesia yang terbilang tercanggih adalah kapal perang buatan Italia (KRI Brawijaya) yang akan disusul dengan kedatangan kapal perang baru Indonesia dari Italia (KRI Prabu Siliwangi). Tentu saja kini Indonesia sudah bisa membuat kapal fregat, yang pertama adalah KRI Balaputradewa (kerjasama Babcock, Inggris). KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi termasuk jenis kapal fregat (frigate) tipe Multi-Purpose Combat Ship (MPCS). Kapal selam Indonesia tercanggih adalah KRI Alugoro-405. Kapal ini merupakan kapal selam pertama yang dirakit secara lokal oleh putra-putri bangsa di fasilitas PT PAL Indonesia, Surabaya. Indonesia saat telah memesan dua unit kapal selam Scorpène Evolved dari Naval Group (Prancis) yang akan menjadi kapal selam paling mutakhir di masa depan. 


Dalam dunia perang, sejarah nama kapal fregat tentunya sudah lama ada. Asal-usul istilah "fregat" (dari bahasa Italia fregata) pertama kali muncul di wilayah Mediterania pada akhir abad ke-15 untuk merujuk pada kapal perang tipe galai yang ringan, bertenaga dayung dan layar, serta dipersenjatai ringan untuk mengejar kecepatan. Pada abad ke-16, Spanyol menggunakan fregat sebagai kapal dayung kecil. Bajak laut Dunkirk mengembangkan fregat menjadi kapal layar kecil yang sangat cepat untuk menyerang kapal dagang pada abad ke-17. Inggris membangun fregat pertamanya, Constant Warwick, pada tahun 1642 setelah terinspirasi oleh desain Prancis. 


Courante uyt Italien, Duytslandt, &c, 06-06-1626” ‘Pada tanggal 15, Seseorang memberitakan Raja Spanyol menyatakamn perang terbuka terhadap Inggris… Raja juga melarang penggunaan kekuatan senjata terhadap kapal-kapal Belanda yang malang. Kapal fregat diperintahkan untuk ditempatkan di bawah komando Belanda. Teluk Diderick, Helfdingen, dan Belanda terpaksa meninggalkan kapal fregat tersebut. 

Pada saat surat kabar berbahasa Belanda Courante uyt Italien, Duytslandt, &c, 06-06-1626 yang diterbitkan di Amsterdam, wilayah Belanda di dalam penguasaan Spanyol sejak 1556. Spanyol saat ni sudah memiliki kapal fregat. Bagaimana dengan Belanda? Tentu saja belum memiliki fregat. Orang Belanda justru sedang berjuang untuk membebaskan diri dari Spanyol. Pada fase inilah orang Belanda mulai membangun kapal-kapal jenis fregat ringan (yang membawa sejumlah meriam) Kapal fregat Belanda pertama dibangun awal abad ke-17 ini di Hoorn. 


Dalam perlawanan/perang Belanda (dimulai tahun 1568, rakyat Belanda mulai memberontak melawan kekuasaan Spanyol karena masalah pajak yang tinggi, sentralisasi kekuasaan, dan penganiayaan terhadap penganut Protestan. Pada tahun 1581 tujuh provinsi di bagian utara menyatakan kemerdekaan mereka dari Spanyol (Plakkaat van Verlatinghe), membentuk Republik Batavia. Pada saat inilah kapal-kapal dari wilayah Republik Batavia pada tahun 1595 mulai mengarungi lautan dan mencapai Hindia Timur pada tahun 1596. Keberhasilan ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini (1595-1597) membuat ekspedisi-ekspedisi Belanda ke Hindia Timur semakin intens. Pada tahun 1605 ekspedisi Belanda yang dipimpin admiral van Hagen berhasil menaklukkan Portugis di Amboina. Lalu kemudian salah satu kapal Belanda yang berada di Maluku kemudian terbawa badai besar hingga mencapai Jepang. Pada tahun 1612 pwelaut-pelaut Belanda mengusir Portugis dari Solor dan Koepang di Timor. Pada tahun 1619 pos perdagangan VOC/Belanda direlokasi dari Amboina ke muara sungai Tjiliwong yang disebut Port Batavia. Setelah berhasil menahan serangan Mataram di Batavia tahun 1628/1629, dan Jepang mengusir Portugis di Jepang tahun 1639, VOC/Belanda di Batavia menyerang Portugis di Malaka dan Kamboja tahun 1641. Tamat sudah Portugis di Hindia Timur dan hanya menyisakan koloni kecil di Timor (kini Timor Leste) dan di Macau. Pada tahun 1641 ini pula hanya Belanda yang diizinkan berdagang di Jepang, bahkan Spanyol yang berada di Filipina tidak berdaya. Lantas mengapa VOC/Belanda di Hindia Timur dan Jepang tidak menyerang Spanyol di Filipina? Tentu saja Spanyol sudah sangat kuat di Filipina, lebih-lebih wilayah selatan Belanda di Eropa masih dikuasai Spanyol. Portofolio Belanda (VOC) yang sudah sangat tinggi di Hindia Timur dan Jepang menyebabkan Spanyol akhirnya mengakui kedaulatan Republik Batavia secara internasional melalui Perjanjian Münster (bagian dari Perdamaian Westphalia) tahun 1648. Sejak inilah Belanda di Eropa muncul ke permukaan yang sudah mendapatkan posisinya menjadi setara dengan Spanyol, Portugal, Prancis dan Inggris serta Jerman. 

Portofolio Belanda di Eropa dengan perusahaan dagang raksasa (VOC) yang berbasis di Hindia Timur (sejak 1648), (kerajaan) Belanda mulai intensif mengembangan kapal-kapal perang (sebagai alat untuk mempertahankan diri di Eropa maupun di luar negeri seperti di Hindia Timur dan Jepang. 


Europische : ... courant, 13-10-1644: ‘Dari Antwerp pada tanggal 9. Sebuah fregat dari pantai Portugal telah mencapai Ostend; empat fregat lainnya menyusul dan mengatakan bahwa sebuah barque dengan 200 peti gula, dua kapal dengan gandum, dan seorang penjarah Turki telah ditangkap. Konvoi Inggris dari Doevres juga telah tiba di Ostend. Dari Ypres mereka menulis bahwa Jenderal Prancis Gassion, dari Watene (yang bentengnya masih diperkuat setiap hari) telah maju dengan 10.000 orang, merebut semua benteng di sekitar St. Omer, seperti Back, Roche-Fort, Ruyssen dan Kastil Monpeer, yang menyebabkan St. Omer diblokade, kemudian melanjutkan ke Ebblegem di mana ia memerintahkan penghancuran tanggul Flandria baru antara Aire dan St. Omer, sehingga Flandria sekarang sepenuhnya terbuka bagi musuh, yang juga pergi ke Steenvoorden, di mana ia membunuh lebih dari 1.000 petani bersenjata (yang ketakutan) dan kemudian membakar tempat itu. Dari sini ia mencapai Belle, Honschooten, dan Poperingen (di mana beberapa petani bersenjata juga terbunuh), dan menjarah, sehingga Flanders Barat berada dalam keadaan yang menyedihkan. Musuh kini telah lebih terbiasa dengan hal itu, tetapi ia masih belum menyadarinya. Jika tidak, ia akan mempertahankan disiplin yang baik di atas Tanah Kontribusi, yang akan mendorong Flanders Barat, bahkan sampai ke Ypres, untuk tunduk pada kontribusi Prancis. Pasukan Belanda mulai berkemas di Sas untuk kembali ke Huys. 

Singkatnya kapal-kapal fregat Belanda juga sudah diberdayakan dalam pelayaran ulang-alik antara Eropa dan Hindia Timur. Dalam konteks inilah, kemampuan Belanda dalam membuat kapal-kapal perang (menggunakan layar) sudah bersaing di Eropa. Singkatnya pula pada era teknologi kapal uap, pada tahun 1862 utusan Jepang sudah tiba di Belanda untuk memulai penandatangan kontrak pembuatan kapal perang jenis fregat di Belanda yang akan dikirim ke Jepang. 


Oprechte Haerlemsche courant, 02-10-1691: ‘Dilaporkan bahwa empat kapal Belanda berada di Tanjung Harapan pada tanggal 30 Mei, tetapi tanpa informasi tentang nama-nama mereka, atau apakah mereka berasal dari Ceylon atau Batavia. Rumor yang beredar luas, bahwa sebuah fregat kehabisan amunisi di atas dua kapal perang kita yang tersisa, semoga tidak terkonfirmasi. Kapal-kapal perang Belanda tidak mengalami kerusakan dalam badai terakhir; yang diyakini sebagian disebabkan oleh pengalaman mereka yang baik. Skuadron Musim Dingin akan terdiri dari 48 orang dari kita, serta kapal-kapal perang Belanda’. 

Pendidikan angakatan laut di Jepang adalah satu hal, dan pengembangan teknologi kapal perang di Jepang adalah hal lain. Yang jelas pada tahun 1877 akademi angkatan laut Jepang melakukan wisuda pertama. Satu decade kemudian salah satu kemajuan teknologi Jepang adalah pada tahun 1886 terinformasikan kapal yang dibuat di Jepang telah diluncurkan pada tangga 18 Agustus. Kapal tersebut sepenuhnya dibuat oleh orang Jepang. Semua itu dimulai pengiriman mahasiswa Jepang studi ke Eropa dan kemudian dibentuknya Universitas Tokyo yang menjadi kawah candradimuka bagi para akademisi Jepang yang dalam hal praktis sudah mulai terlihat hasilnya seperti kemampuan membuat kapal perang yang menggunakan ilmu dan teknologi Eropa. 


De zee; tijdschrift gewijd aan de belangen der Nederlandsche stoom- en zeilvaart, jrg 9, 1887, 01-01-1887: ‘Pembuatan kapal besi di Jepang. Kapten JM James dari Angkatan Laut Jepang, telah memberikan rincian berikut: mengenai kapal perang besi pertama yang dibangun di Jepang. Kapal ini, "Maya-Kan" berhasil diluncurkan pada tanggal 18 Agustus di "Galangan Kapal Ono-hama" di Kobe (galangan kapal Angkatan Laut Kekaisaran) di hadapan Laksamana Muda TY Ito dan beberapa pejabat lainnya. Pembangunan kapal ini dimulai pada tanggal 29 September 1885, sehingga pada saat selesai, hanya membutuhkan waktu kurang dari 11 bulan. Rencana untuk kapal, mesin, dll., diserahkan ke Admiralty di Tokyo, sementara kapal itu sendiri dibangun sepenuhnya oleh pekerja Jepang di bawah pengawasan kepala insinyur, "Yamagata". "Maya Kan" memiliki panjang 154 kaki dan lebar 26 kaki; bobotnya 614 ton, sedangkan mesinnya (mesin compound horizontal) memiliki daya keluaran 700 hp. Ini adalah kapal perang pertama dari sepuluh kapal perang yang direncanakan pemerintah Jepang untuk dibangun jika, setelah pengujian, terbukti memenuhi standar yang dibutuhkan. Kapal ini dipersenjatai dengan meriam 24 cm di bagian depan dan meriam 15 cm di bagian belakang (keduanya buatan Krupp), serta dua meriam Nordenfeldt berkecepatan tinggi. Dalam kondisi yang menguntungkan, jangkauan kapal diperkirakan mencapai 12 mil. Bahan bangunan kapal dipasok dari Inggris. Tidak diragukan lagi akan memakan waktu beberapa tahun sebelum besi dan baja yang dibutuhkan untuk proyek semacam ini dapat diproduksi di Jepang. Namun, pemerintah Jepang patut diberi selamat atas hasil yang menguntungkan dari upaya pertamanya di bidang pembuatan kapal besi. Kita juga perlu menyebutkan bahwa kapal torpedo, yang baru-baru ini tiba dalam keadaan terpisah-pisah dari Inggris, sekarang sedang dirakit di galangan kapal di Yokosuka. Rencananya adalah untuk meningkatkan jumlah kapal torpedo secara signifikan tahun depan. 

Dalam hal teknologi kelautan, jika Eropa dan Amerika membutuhkan waktu satu abad, Jepang tampaknya lebih singkat, bahkan belum sampai tiga decade sudah mampu bersaing dengan galangan-galangan kapal di Eropa, paling tidak di Belanda. Teknologi kapal Jerman telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembangunan galangan kapal di Jepang. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar