Kamis, 02 Juli 2026

Sejarah Casajangan (6): Perjuangan dan Ide Studiefond; Kembali ke Tanah Air 1913 Jadi Direktur Sekolah Guru di Fort de Kock


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Studiefond (dana studi/beasiswa) dan Soetan Casajangan Soripada adalah dua elemen penting yang saling terkait erat dalam sejarah gerakan pendidikan dan nasionalisme awal Indonesia di era kolonial Hindia Belanda. Meskipun Soetan Casajangan paling dikenal sebagai pendiri dan ketua pertama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) di Belanda pada tahun 1908, Soetan Casajangan memiliki peran besar dalam gagasan pendanaan studi (studiefonds) bagi anak-anak pribumi. Metode Riset Bisnis


Sekolah guru Kweekschool Fort de Kock adalah sekolah pendidikan guru pertama di Sumatra yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1856 di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Sekolah ini didirikan atas saran penasihat pendidikan kolonial, Pendeta SA Buddingh, untuk menghasilkan guru dan pegawai kolonial. Sejak sekolah guru di Tanobato, onderafdeeling Mandailing, afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli 1865 dinegerikan pada tahun 1865, sekolah guru di Fort de Kock bahasa yang digunakan di dua sekolah guru tersebut adalah bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Sekolah guru Fort de Kock ini juga pernah dijadikan sebagai Sekolah Radja (semacam OSVIA/MOSVIA). Sekolah guru Fort de Kock  juga melahirkan tokoh Indonesia seperti Tan Malaka dan AH Nasution. Kompleks bangunan bersejarah Kweekschool Fort de Kock ini sekarang masih aktif digunakan sebagai gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah perjuangan Soetan Casajangan dan studiefond untuk pendidikan pribumi? Seperti disebut di atas, perjuangan Soetan Casajangan tidak hanya mempersatukan anak bangsa, juga memperjuangan pendidikan pribumi di hadapan orang Belanda. Lalu bagaimana sejarah perjuangan Soetan Casajangan dan studiefond untuk pendidikan pribumi? Lalu bagaimana sejarah bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Perjuangan Soetan Casajangan dan Studiefond untuk Pendidikan Pribumi; Kembali ke Tanah Air Menjadi Direktur Sekolah Guru di Fort de Kock 

Segera setelah lulus ujian akta MO pada bulan Agustus 1910, Soetan Casajangan, yang telah memegang jabatan sebagai ketua Indische Vereeniging selama dua tahun, melepaskannya untuk diteruskan kepada pengurus baru. Soetan Casajangan yang sudah menjadi guru bahasa Melayu di Sekolah Perdagangan (Handelschool) di Haarlem mulai merintis pembentukan studiefond (dana pendidikan bagi mahasiswa pribumi). 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 12, 1912, no. 19, 09-05-1912: ‘Tentang "Indische Vereeniging" di Den Haag. Para editor Pertja-Timor, dalam surat kabar mereka tanggal 15 Februari 1912, no. 14, mengeluarkan seruan kepada orang tua asli di Hindia Belanda yang bermaksud menyekolahkan anak-anak mereka di Belanda, mendesak mereka untuk menjadi anggota Indische Vereeniging di Den Haag, dan menyatakan, antara lain: Asosiasi ini didirikan empat tahun yang lalu oleh beberapa pemuda asli dari berbagai kelas sosial yang tinggal di Belanda, yang melanjutkan studi dan menyelesaikan pendidikan mereka di sana. Profesi yang mereka kuasai adalah guru, dokter, doktor sastra, pegawai negeri sipil di bidang peradilan, ahli pertanian, insinyur, dll. Tujuan mereka adalah untuk mencoba mengamankan kehidupan sosial yang layak bagi diri mereka sendiri setelah kembali ke Hindia Belanda dan juga untuk memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh untuk kepentingan penduduk asli. "Indische Vereeniging" (Asosiasi Hindia Belanda) berupaya, antara lain, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di Hindia Belanda, memberikan informasi kepada orang tua yang ingin mengirim anak atau anak asuh mereka ke Belanda, memberikan akomodasi yang baik dan layak, menunjukkan kepada mereka cara memperoleh pakaian dan makanan dengan cara yang paling ekonomis, dan selanjutnya untuk membina dan memelihara persahabatan yang baik. Awalnya, Bapak Soetan Casajangan Soripada, yang sebelumnya berasal dari Angkola MandhĂ©ling (pemerintahan Tapanoeli di Pantai Barat Sumatra), bertindak sebagai pendiri dan ketua asosiasi; saat ini beliau bekerja sebagai guru bahasa Melayu di sekolah-sekolah komersial di Rotterdam dan Haarlem1, dan tinggal di Den Haag. Di bawah kepemimpinannya, asosiasi tersebut berkembang pesat, sementara, sebagai hasil dari upaya bijaksananya, beberapa penduduk Kepulauan Belanda yang tertarik dan berpengaruh juga menunjukkan minat pada kepentingan asosiasi tersebut. Setelah menjabat sebagai ketua selama dua tahun, Dr. Ph Laoh menggantikannya. Laoh, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Mohamad Saleh dari Soeliki (Dataran Tinggi Padang) dan Raden Brenthel, keduanya pada saat itu sedang belajar kedokteran di Universitas Amsterdam. Dr Laoh berangkat ke Hindia Belanda pada tahun 1911, ditempatkan sebagai dokter di Perusahaan Batoe Panggal (pertambangan batubara) di Samarinda (Koetei - Pantai Timur Kalimantan), dan kemudian digantikan di Belanda sebagai ketua asosiasi oleh Raden Hoesein Djajadiningrat, yang melanjutkan studi Sastra di Leiden dan sekarang telah memperoleh gelar doktor. Raden Mas Gondowinoto bertindak sebagai sekretaris-bendahara, dan Raden Mas Noto Soeroto, keduanya berasal dari Djocjacarta, dan juga belajar di Leiden. Yang terakhir berulang kali menulis artikel di surat kabar Belanda tentang subjek-subjek penting yang menjadi kepentingan kolonial. Karena para mahasiswa Hindia tinggal ddi Belanda tersebar luas, termasuk di kota-kota Amsterdam, Haarlem, Leiden, Den Haag, Delft, Deventer, dan Wageningen, demi kepentingan anggota asosiasi, pertemuan biasanya diadakan di Den Haag, karena letaknya kurang lebih di tengah-tengah tempat-tempat tersebut, dan kadang-kadang di Amsterdam atau Leiden. Anggota asosiasi menerima pemberitahuan 7 hari sebelumnya, dengan undangan untuk tidak hadir hanya dalam keadaan darurat. Dalam pertemuan tersebut, para anggota memberikan kuliah tentang subjek kolonial, yang sering kali juga dihadiri oleh para donatur wanita dan pria, sementara ketua, secara bersamaan menggunakan pertemuan-pertemuan ini untuk menarik perhatian pada kepentingan para mahasiswanya. Bahwa "Indische Vereeniging" menikmati minat dari asosiasi-asosiasi Belanda terbukti dari fakta bahwa mereka berulang kali mengundang dewan pengurus untuk hadir dalam acara kuliah mereka. Mengingat kepergian RM Hoesein Djajadiningrat ke Hindia Belanda, kekosongan jabatan ketua harus diisi kembali, dan pilihan jatuh pada RM Noto Soeroto, sementara RM Notodiningrat (sang adik), sekretaris-bendahara, dan RM Soerjodinoto (juga adik) bertindak sebagai anggota dewan komisaris. Dewan juga ditambah dengan lima anggota. Semua pemuda asli Hindia Belanda yang belajar di Belanda, tanpa memandang kewarganegaraan mereka, diterima sebagai anggota asosiasi. Jika semua bergabung dengan asosiasi, kekuatan tertentu pasti akan muncul darinya. Mungkin orang tua asli di Hindia Belanda akan menemukan alasan untuk bergabung sebagai anggota dan dengan demikian mendukung dewan dalam tugasnya. Semoga dewan dapat berkembang dengan kekuatan penuh. Demikianlah anjuran Pertja-Timor’. Catatan: Surat kabar Pertja Timor diterbitkan sejak 1901. Pada tahun 1902 pemimpin redaksinya adalah Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe, adik kelas Soetan Casajangan di sekolah guru Padang Sidempoean. Mangaradja Salamboewe meninggal tahun 1908 dan digantikan oleh anak didiknya Moesa (hingga 1912 ini). 

Soetan Casajangan sudah selesai dengan dirinya, tetapi Soetan Casajangan masih sangat tidak puas apa yang dihadapi dan diterima oleh bangsanya (di Hindia). Soetan Casajangan di Belanda sudah berhasil mempersatukan bangsanya dalam satu wadah tunggal Indische Vereeniging. Soetan Casajangan meski bukan mahasiswa lagi, sebagai guru di Beloanda, Soetan Casajangan terus memperjuangkan peningkatan pendidikan bagi bangsanya. Di berbagai forum (seperti Moderland en Kolonien dan Oost en West) Soetan Casajangan bebicara tentang pendidikan bangsanya, Soetan Casajangan menulis di berbagai surat kabar dan majalah tetap dengan topik pendidikan pribumi. Itulah Soetan Casajangan, guru tetaplah guru. Tindakan nyata dari pemikiran jangka panjang adalah merealisasikan pembentukan studiefond (dana pendidikan) yang tahap pertama dalam skala kecil untuk kepentingan mahasiswa pribumin di Belanda. 


Pada tahun 1911 ini Soetan Casajangan mendirikan studiefond di Belanda. Studiefond ini sudah menjadi umum di Hindia. Boedi Oetomo dengan studiefondnya telah mengirim guru muda Sjamsi Widagda melanjutkan studi keguruan di Belanda (yang kebetulan di bawah pengasuhan Soetan Casajangan di Belanda). Demikian juga studiefond yang didirikan di Kota Gadang (Padangsche Bovenlanden) telah mengirim dua guru muda studi keguruan ke Belanda (yang juga di bawah asuhan Soetan Casajangan). Namun di Belanda sendiri, dengan semakin banyaknya mahasiswa Indonesia, untuk mengatasi kesulitan keuangan mahasiswa belum ada studiefond yang menjaga kesinambungan studi mahasiswa di Belanda. Sebab banyak mahasiswa Indonesia di Belanda yang datang dengan biaya sendiri (keluarga) tanpa dukungan pendanaan dari siapapun (termasuk Pemerintah Hindia Belanda). Pada tahun 1911 salah satu lulusan ELS di Medan, Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon tiba di Belanda yang kemudian Soetan Casajangan mengajaknya untuk membantu dalam pendirian studiefond. 

Tujuan umum studiefond yang didirikan Soetan Casajangan dan Mangaradja Soangkoepon tersebut adalah untuk menggalang dana (fundraising) untuk membantu siswa yang kesulitan keuangan yang ingin melanjutkan studi ke Belanda dan juga mahasiswa pribumi di Belanda yang bermasalahan dalam soal keuangan. Sumber pembiayaan lebih ditujukan kepada para donator di Belanda yang tidak mengingat, khususnya para donator yang sudah pernah di Hindia seperti gurunya CA van Ophuijsen di sekolah guru Padang Sidempoean yang kini menjadi guru besar di Universiteit te Leiden. Studiefond ini terbilang berhasil karena banyak pihak yang memberi kontribusi. Soetan Casajangan juga menyurati Ratu Juliana. 


Kerajaan Belanda menganggap Hindia adalah provinsinya. Sebaliknya, Hindia Belanda menganggap Kerajaan Belanda di Eropa adalah pelindungnya. Namun diantara orang-orang di Hindia, baik Eropa/Belanda, Asia/Cina dan asli/pribumi memiliki pandangan-pandangan yang berbeda. Sebagian orang Eropa/Belanda telah lama menyuarakan pemisahan antara Kerajaan Belanda dengan Hindia Belanda sebagai suatu negara yang terpisah (tetapi terhubung dalam persemakmuran). Dorongan pemisahan ini terutama datang dari orang-orang Indo (orang Belanda yang lahir di Hindia dan orang Indo-Eropa yang karena perkawinan telah bercampur dengan penduduk Cina dan pribumi. Dorongan itu sudah mulai terjadi pada tahun 1882. Lalu pada tahun 1898 di Hindia didirikan organisasi Indisch Bond. Namun Indische Bond ini mendapat tekanan dari pemerintah yang kemudian muncul organisasi baru yang disebut Insulinde (dimana orang pribumi mulai terlibat). Salah satu pendukung Insulinde ini adalah Dja Endar Moeda di Padang. Namun dorongan itu terkesan lambat, mulai muncul gerakan yang lebih radikal dengan terbentuknya Indisch Partij yang didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandoeng dengan tujuan menuntut kemerdekaan dari penjajahan. Tiga tokoh pelopornya dikenal sebagai Tiga Serangkai: Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat. 

Bersamaan dengan munculnya gerakan radikal di Hindia, Soetan Casajangan kembali ke tanah air setelah 10 tahun di Belanda. Sebelum keberangkatan Soetan Casajangan ke tanah air, dalam suatu pertemuan Indische Vereeniging yang dipimpin oleh Noto Soeroto, Soetan Casajangan menitipkan Studiefond yang telah dibentuknya untk diintegrasikan ke Indische Vereeniging. Satu permintaan Soetan Casajangan, karena dia berhak sebab dia yang mendirikan, agar alokasi dana dalam studiefond itu proporsinya lebih banyak untuk siswa yang mengambil keguruan dibandingkan siswa lainnya. 


Tentu saja itu sangat mulia, tentu saja itu bukan karena Soetan Casajangan seorang guru yang telah berhasil melanjutukan studi keguruan di Belanda, tetapi faktanya pendidikan pribumi masih sangat rendah kualitasnya di tanah air. Namun tiba-tiba Noto Soeroto mnyela dan tidak setuju. Lalu timbnl perdebatan diantara keduanya. RM Noto Soeroto yang lebih menginginkan untuk bantuan siswa-siswa prubumi yang melanjutkan studi ke universitas di Belanda. Namun tidak terinformasikan hasil dari perdebatan itu. Yang jelas RM Noto Soeroto anak dari Pangeran Ario Notodirodjo, ketua Boedi Oetomo yang menggantikan ketua Raden Adipati Ario Tirtokoesoemo, orang yang sangat sadar mengirim calon guru Sjamsi Widagda untuk melanjutkan studi keguruan di Belanda. Lalu apakah serba kebetulan relasi antara Tirtokoesoemo dan Sjamsi Widagda di satu sisi dan antara Notodirojo dan Noto Soeroto di sisi lain? Tampaknya apa yang dipikirkan oleh Soetan Casajangan telah dikacaukan oleh adanya faksi yang berbeda di dalam Boedi Oetomo dan faksi yang berbeda di Indische Vereeniging. Boleh jadi pendapat keduanya berbeda, karena keduanya datang dari arah yang berbeda. Soetan Casajangan adalah seorang guru lulusan sekolah guru pribumi yang berangkat studi keguruan ke Belanda, sedangkan Noto Soeroto lulusan sekolah Eropa (HBS) yang melanjutkan studi ke universitas (non keguruan). Soetan Casajangan ingin lebih banyak guru pribumi yang berkualitas, sedangakan Noto Soeroto ingin lebih banyak insinyur, dokter, advocaat dan sebagainya. Dalam hal ini keduanya benar. Namun yang mana yang menjadi prioritas. Itulah yang menjadi persoalannya. 

Akhirnya Soetan Casajangan kembali ke tanah air dengan kapal ss Koningin der Nederlanden pada tanggal 1 Februari 1913 (lihat Algemeen Handelsblad, 31-01-1913). Kapal yang berangkat dari pelabuhan Amsterdam telah tiba di pelabuhan Tandjoeng Priok, Batavia sekitar tanggal 26 Februari (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 26-02-1913). 


Sebelum kembali ke tanah air, Soetan Casajangan menulis buku yang diberi judul “Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' (Hindia Belanda dilihat oleh penduduk pribumi). Buku ini adalah sebuah monograf (kajian ilmiah) setebal 48 halaman yang mendeskripsikan dan membahas tentang perihal ekonomi, sosial, sejarah budaya Asia Tenggara (nusantara) dan pertanian di Indonesia. Buku ini berangkat dari pemikiran bahwa sudah sejak lama penduduk pribumi merasakan adanya dorongan untuk penyatuan yang lebih besar yang kemudian dengan munculnya berbagai sarikat, antara lain Indisch Vereeniging (digagas oleh Soetan Casajangan), Boedi Oetomo (digagas oleh Wahidin) dan Sarikat Dagang Islam. Buku ini sangat mengejutkan berbagai pihak di kalangan orang Belanda baik di Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda. Dalam buku ini terang-terangan Soetan Casajangan menyinggung Undang-Undang di Hindia Belanda yang  membatasi konsesi untuk warga pribumi yang mana menurut Soetan Casajangan hanya orang Eropa hak konsesi dapat diberikan sementara penduduk pribumi asli haknya justru dirampas. Lebih lanjut, Soetan Casajangan mengutarakan tuntutan yang sangat mendasar bahwa persamaan di hadapan hukum bagi orang pribumi dan orang Belanda harus dengan segera diwujudkan. Menurut Soetan Casajangan di Belanda sendiri tidak semua orang sifat, tabiat dan kebajikannya sama tapi toh diperlakukan sama di hadapan hukum. Di Hindia Belanda mengapa tidak? Untuk itu, menurut Soetan Casajangan pemerintah Belanda juga harus menyelenggarakannya di bidang pendidikan termasuk pengadaan beasiswa. Dalam buku ini, Soetan Casajangan juga menuntut kepada pihak pemerintah Belanda hal yang sama di bidang penerangan pertanian dan penggalakan perdagangan. Dengan kesamaan hukum tersebut pribumi akan mendapat kemajuan yang sama dengan orang-orang Belanda baik di bidang pendidikan, pertanian maupun perdagangan. Tulisan Soetan Casajangan ini juga mengkritik disparitas harga kopi dimana harga jual kopi lokal hanya dihargai sebesar f40 per pikul sementara harga jual kopi di pasar Eropa berkisar f70-f90 (rata-rata dua kali lipat per pikul). Buku ini di Barn oleh percetakan Hollandia-Drukkerij (1913). 

Sebelum tiba di tanah air, salah satu artikelnya yang dikirim dari Belanda telah diterbitkan di surat kabar di Batavia pada edisi 11 Februari 1913. Selama di Batavia, sambil menunggu penempatannya sebagai direktur sekolah guru di Fort de Kock, Soetan Casajangan mengirim artikel ke surat kabar di Belanda Het vaderland yang kemudian dimuat pada edisi 12 Maret 1913. Dalam artikel ini, Soetan Casajangan terkesan sudah memberi “warning” kepada orang Belanda. Namun karena Soetan Casajangan sebagai guru yang berjuang untuk pendidikan pribumi, hanya fokus pada upayanya agar studiefond yang didirikannya dan telah diiintegrasikan ke Indisch Vereniging lebih banyak dana pendidikan yang terkumpul. Demikianlah seorang guru berjuang dengan caranya guru sendiri.


Het vaderland, 12-03-1913: ‘Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia! Di sana terdapat keinginan untuk pembangunan yang lebih besar, untuk pendidikan yang lebih baik oleh ribuan penduduk pribumi, di Insulinde kita, selama berabad-abad telah bekerja sama untuk memberi manfaat bagi Belanda dan orang Belanda secara materi. Tidak ada yang seperti ini yang dapat diamati di negara kolonial lain. Disini, yang ditaklukkan menuntut pengetahuan tentang bahasa para penakluk; disini yang dikalahkan menginginkan pembangunan dan pendidikan dari para pemenang, dan sebagai pemenang mereka. Betapa indahnya perspektif yang terbuka bagi Belanda kecil untuk mempertahankan Insulinde yang agung dan untuk melestarikan warisan leluhur yang paling berharga dan tak ternilai harganya terhadap tetangga yang iri. Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai teman, kepemilikan Insulinde dijamin untuk Belanda; Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai lawan yang acuh tak acuh atau, lebih buruk lagi, sebagai lawan yang tidak puas, pada akhirnya akan terbukti mustahil bagi Belanda kecil untuk mempertahankan kepemilikannya terhadap musuh asing atau domestik yang kuat. Memanfaatkan arus tersebut di antara penduduk pribumi pada waktu yang tepat dan memberikan arahan, saat ini, merupakan tugas besar dan benar-benar bersejarah yang diemban oleh Belanda. ATN Engelenberg, yang sedang cuti, berbicara dengan tepat, dengan kata-kata berikut: “Hendaknya Belanda memperhatikan, “bahwa pengorbanan demi Hindia ini juga merupakan “investasi yang baik, karena “dengan itu tangan antara Belanda “dan Hindia dapat diperkuat... “Semoga Kekaisaran menjadi satu rumah sejati bagi “semua bangsa dan semua agama yang dicakupnya, sehingga pada saat cobaan “semua berdiri bahu-membahu untuk “menangkal bahaya”.  D Soesman menulis dalam surat kepada editor: “Apa lagi pertahanan terbaik bagi wilayah kita yang indah?” “Pendidikan umum dan pengasuhan yang baik dan bijaksana bagi warga Hindia. Biarlah warga Belanda yang berpendidikan tinggi dan berpikiran baik menunjukkan bahwa mereka sangat memahami apa yang menjadi kepentingan negara mereka dan apa yang perlu dilakukan untuk kerajaan-kerajaan tersebut”. Dan sebagai orang Batak pribumi, saya dengan senang hati akan mendukung kata-kata orang Eropa yang berwibawa ini, para ahli tentang Hindia dan kondisi disana, dengan keyakinan dan pengalaman saya yang diperoleh selama bertahun-tahun tinggal di antara penduduk pribumi, bahwa penduduk pribumi saat ini mengharapkan peningkatan moral dari Belanda, yang akan memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan di mana pun, yang akan memberi mereka kemakmuran praktis yang lebih besar dan, dalam arti ideal, membuat mereka "lebih manusiawi". Minat dan perhatian tanpa disengaja dari penduduk pribumi adalah faktor terbaik yang dapat dibayangkan untuk mengamankan Hindia bagi kita. Lagipula, di sekolah kita mengamati bahwa hasil pendidikan sangat bagus ketika minat dan perhatian tanpa disengaja dari para siswa hadir. Dengan demikian, kita hanya perlu memastikan bahwa metode dan bahan pengajaran itu baik. Oleh karena itu, kita hanya perlu memastikan bahwa minat dan perhatian itu harus dimanfaatkan. Lebih lanjut: Jika ia memiliki perkembangan itu, ia akan mempertimbangkan sendiri agama apa yang akan dianutnya dan bangsanya. Betapa tugas yang "besar" bagi "Bangsa yang kecil!". “Biarlah Belanda sekarang menunjukkan kebesarannya, “dalam segala hal yang dapat dilakukan oleh negara kecil!” Jumlah penduduk pribumi yang, dengan mengatasi berbagai rintangan, datang untuk menyelesaikan pendidikan mereka di Belanda di sekolah-sekolah Belanda semakin meningkat; dan ini tentu akan menjadi jauh lebih besar jika pengorbanan finansial yang besar tidak sering menjadi penghalang. Keinginan penduduk pribumi untuk lebih banyak sekolah, untuk pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, semakin tumbuh setiap hari. Jika sekolah dasar pertama-tama diorganisir dengan benar dan didasarkan pada sekolah-sekolah Eropa, maka lembaga pendidikan menengah dan tinggi akan muncul dengan sendirinya. Tidakkah rakyat Belanda benar-benar ingin menjangkau penduduk pribumi? Biarlah tahun 1913, Tahun Yubileum yang akan datang, juga menjadi Tahun Yubileum bagi warga Belanda keturunan cokelat di Hindia Belanda, di mana warga tersebut dapat menjadi saksi atas dukungan yang diberikan dari Belanda untuk mengangkat mereka melalui pendidikan tinggi ke keadaan "kebebasan" spiritual. Pendirian dan pembukaan berbagai lembaga pendidikan di Hindia Belanda hanya dapat dilakukan selama bertahun-tahun; Namun, Belanda memiliki banyak sekolah yang bagus, di mana terdapat banyak kesempatan bagi para pemimpin di bidang pendidikan, pertanian, dan perdagangan untuk menerima pendidikan yang lengkap di bidang tersebut. Baiklah, warga Belanda! Di antara penduduk pribumi terdapat kebutuhan dan keinginan besar akan pendidikan yang lebih tinggi, terutama bahasa Belanda, pengetahuan tentang pertanian dan peternakan, serta pengetahuan komersial. Teguhlah, warga Belanda! Sekarang, melalui bantuan keuangan, penduduk pribumi dapat memperoleh pengetahuan dan pengembangan tersebut di Belanda! Kita hanya perlu berpikir bahwa, jika setiap orang bersedia membayar sebagian kecil dari pajak yang harus dibayar di negara ini, dengan mempertimbangkannya sebagai kontribusi sukarela untuk peningkatan kesejahteraan kita... Saudara-saudara di Hindia, melalui pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, juga sebagai tanda kemurahan hati Belanda yang terkenal luas, atau mungkin oleh sebagian orang sebagai pengakuan atas kehormatan yang lebih terkenal, kita dapat memiliki fondasi yang kuat untuk pendirian: "LEMBAGA ABADI UNTUK PERSATUAN DAN KEMAJUAN" (yang akan diberikan sebagai uang muka tanpa bunga kepada para siswa dengan jaminan asuransi jiwa), kemudian penduduk pribumi tersebut, setelah kembali ke Hindia, akan menyebarkan pengetahuan yang diperoleh di antara penduduk, dan imbalannya juga akan dipetik seratus kali lipat oleh kalian, para pemuda Belanda, melalui penghargaan, rasa hormat, rasa syukur, dan pengabdian yang tulus dari penduduk pribumi terhadap Kekaisaran Belanda, yang akan disebut "sesungguhnya": "BELANDA YANG LUAR BIASA" dan terdiri dari provinsi-provinsi di Eropa dan di Hindia, hanya satu Kekaisaran yang ada. Di mana, baik di sini maupun di tempat lain, perkembangan yang lebih besar dan kemakmuran yang lebih besar memerlukan kebutuhan yang lebih besar dan daya beli yang lebih besar, bimbingan itu juga secara tidak langsung akan menguntungkan Belanda dan perusahaan-perusahaan Belanda. Investasi dalam pendidikan menghasilkan bunga yang tak ternilai. Di surat kabar Hindia Belanda, saya telah menerbitkan artikel dengan maksud yang sama pada tanggal 11 Februari yang meminta dukungan dari Hindia Belanda untuk hal ini. Sekarang saya memohon kesediaan Anda, bangsa Belanda, untuk berkorban. Anda, warga negara Belanda dan asosiasi yang memiliki badan hukum, tentu siap untuk mengumpulkan dana untuk tujuan: "Memungkinkan penduduk pribumi di Belanda untuk memperoleh perkembangan dalam hal-hal yang paling penting: pendidikan, perdagangan, dan pembangunan", dalam dana yang disebutkan di atas, yang darinya biaya dapat ditutupi untuk memberikan pendidikan tingkat yang lebih tinggi kepada beberapa penduduk pribumi di Belanda setiap tahun, dan yang juga berfungsi untuk peningkatan dan perluasan sekolah di Hindia Belanda. Dengan dukungan dari para pembawa seperti: C Th van Deventer, JH Abendanon, Dr HPN Muller, Prof Dr C Snouck Hurgronje, Prof Ch A van Ophuijsen, KHH van Bennekom, HE Prins, E van Assen, JH Dijkman, D Vooren, Dr CW Janssen, Prof Ley, J Schaap, Dr Schemer, Dr Visser Smidt, JA Gratama, H van Kol, PJ Koorenian, JE de Meijier, JW Tamson, Ny JA Hilgers dan banyak wanita dan pria lainnya, yang telah saya kenal sebagai teman-teman pengembangan pribumi, saya berani mengandalkan mereka terlebih dahulu, terutama mengenai masalah teknis pengelolaan dana tersebut. Kita, rakyat Belanda, merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda tahun ini; semoga tahun 1913 yang sama menjadi awal kebebasan spiritual dan kebangkitan spiritual bakat-bakat yang tertidur dari ribuan warga Belanda di Hindia Belanda. Siapa pun di antara pembaca artikel ini, yang diterbitkan di surat kabar Belanda yang paling banyak dibaca, yang merasa simpati terhadap upaya ini, hendaknya mereka mempertimbangkan: "Setiap orang Belanda memiliki kepentingan di Belanda dan bahwa hegemoni Belanda terletak di Hindia, hendaknya mereka menunjukkan hal ini dengan mengirimkan kartu nama mereka kepada R Soetan Casajangan Sp, Copemicusstraat 131, Den Haag, sehingga pertemuan pertama untuk pembentukan komite dan dewan dapat diadakan sesegera mungkin". Catatan: Artikel tersebut juga dilansir (secara ringkas) di majalah Vox studiosorum; studenten weekblad, jrg 49, 1913, No. 11, 17-04-1913 dan secara lengkap dilansir majalah L'union fraternelle; weekblad voor vrijmetselaars, jrg 23, 1913, No. 19, 10-05-1913. Sementara Soetan Casajangan sudah di Hindia, siapa yang tinggal di Jalan Copemicusstraat 131, Den Haag yang menjadi alamat tujuan surat yang ditujukan kepada R Soetan Casajangan Sp. Apakah alamat Indische Vereeniging atau alamat Mangaradja Soangkoepon?

 

Soetan Casajangan berjuang untuk bangsanya tetap konsisten dari waktu ke waktu. Bahkan saat Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda pada tahun 1903 pembangunan pendidikan pribumi menjadi topic yang selalu digaungkannya. Pembangunan pendidikan bangsa tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Hal itulah yang menjadi alas an kuat Soetan Casajangan menginisiasi adanya persatuan diantara anak bangsa melalui pendirian Indisch Vereeniging. Lalu kini studiefond. Perhatikan isi pidato Soetan Casajangan ketika diundang untuk berbicara di forum Vereeniging Moederland en Kolonien (wadah bagi orang-orang Belanda pencinta Hindia di Belanda). Dalam kesempatan yang diadakan pada tanggal 28 Maret 1911, Soetan Casajangan membawakan makalah berjudul 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya: 


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen). 


‘...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya...saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi)’. Catatan: Saat ini Soetan Casajangan tidak lagi ketua Indisch Vereeniging, sudah lulus dan sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam dan tengah merintis studiefond (dana pendidikan pribumi). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Kembali ke Tanah Air Menjadi Direktur Sekolah Guru di Fort de Kock; Perjuangan Soetan Casajangan Semakin Terbuka

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar