Rabu, 01 Juli 2026

Sejarah Casajangan (5): Sarjana Pendidikan Pertama Indonesia; Boedi Oetomo Mengirim Sjamsi Widagda Diasuh Soetan Casajangan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Dalam narasi sejarah masa kini disebutkan sarjana pertama Indonesia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Fakta yang benar adalah dokter Asmaoen asal Malang yang meraih gelar dokter di Amsterdam pada tahun 1907. Lalu siapa sarjana pendidikan Indonesia pertama? Tidak ada yang pernah menulisnya. Siapa doktor ekonomi Indonesia pertama juga tidak ada yang pernah menulisnya. Sejarah Bahasa Indonesia


Dr Samsi Sastrawidagda (lahir: Solo, 13 Maret 1894-wafat 1963) adalah Menteri Keuangan Pertama Indonesia. Ia menempuh pendidikan ekonomi dan hukum negara di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) di Rotterdam. Gelar akademik terakhir yang didapat tahun 1925 adalah gelar Doktor dengan disertasi De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan. Selama di Rotterdam, ia dikenal sebagai pemukul gong dalam perkumpulan gamelan pribumi. Perjalanan karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kedua (19 Agustus 1945). PPKI menunjuk Samsi Sastrawidagda, Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak di Surabaya pada masa pendudukan Jepang, sebagai Menteri Keuangan pada kabinet RI pertama (Kabinet Bucho/presidensial). Sebagai Menteri Keuangan, Samsi tidak pernah memimpin Kementerian Keuangan secara langsung. Bahkan belum sempat menyusun perencanaan. Kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan menjadikan ia lebih memilih tinggal di Surabaya. Pada tanggal 26 September 1945 ia mengundurkan diri menjadi Menteri Keuangan kemudian A.A. Maramis yang sebelumnya Menteri Negara dilantik menjadi Menteri Keuangan (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah sarjana pendidikan pertama Indonesia? Seperti disebut di atas, banyak sarjana pertama Indonesia keliru dalam narasi sejarah Indonesia. Satu yang jelas mahasiswa keguruan (jurusan pendidikan) pertama Indonesia adalah Soetan Casajangan. Karena hal itu, Boedi Oetomo mengirim guru muda Sjamsi Widagda studi keguruan ke Belanda yang kemudian dititipkan kepada Soetan Casajangan. Setelah mendapat akta guru, Sjamsi Widagda melanjutkan studi di bidang ekonomi. Lalu bagaimana sejarah sarjana pendidikan pertama Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Catur di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Sarjana Pendidikan Pertama Indonesia; Boedi Oetomo Mengirim Sjamsi Widagda Studi Keguruan ke Belanda Dibimbing Soetan Casajangan

Rijksweekschool di Haarlem adalah perguruan tinggi satu-satunya sekolah keguruan tertinggi di Belanda (yang didirikan tahun 1862). Lulusannya adalah guru dengan akta guru tertinggi Hoofdakte (sertifikat guru utama). Ibarat pada masa ini lulusannya adalah setara lulusan IKIP dengan gelar sarjana pendidikan. Soetan Casajangan adalah orang Indonesia pertama yang studi di Rijkskweekschool di Haarlem ini. Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan diterima pada tahun 1906. Soetan Casajangan lulus ujian akta guru sekolah dasar (LO) di Haarlem tanggal 22 Mei (lihat Algemeen Handelsblad, 23-05-1907). Disebutkan Soetan Casajangan berasal dari Batoe Na Doewa, residentie Tapanoeli. Dengan akta LO ini dapat dilanjutkan ke tingkat pendidikan guru yang lebih tinggi. 


Lama studi di Rijksweekschool selama empat tahun: Satu setengah tahun untuk pendidikan dasar (akta LO) dan dua setengah tahun teori dan praktek (akta MO). Siswa yang diterima adalah lulusan sekolah guru (kweekschool). Sebelum Soetan Casajangan diterima di Rijksweekschool di Haarlem, jauh di masa lampau Sati Nasoetion alias Wilem Iskander melanjutkan studi keguruan ke Belanda pada tahun 1857. Dalam hal ini Willem Iskander adalah pribumi pertama studi ke Belanda. Willem Iskander sukses menjalani studinya di sekolah guru (kweekschool) Haarlem pada tahun 1860 (akta hulpacte). Sekembalinya ke tanah air, Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, onderafdeeling Mandailing, afdeeling Angkola Mandailing, residentie Tapanoeli. Salah satu siswa yang diterima di Kweekschool Tanobato adalah Maharadja Soetan (ayah dari Soetan Casajangan). Singkatnya: seperti disebut di atas Rijskweekschool di Haarlem didirikan tahun 1862. Catatan: Kweekschool swasta Haarlem didirikan tahun 1795. Keterlibatan Pemerintah dalam pendidikan dimulai tahun 1806 dan kemudian dinegerikan tahun 1816 atas pengaruh asosiasi guru, dorongan pertama menuju pendidikan yang lebih. Pada tahun 1857 berdasarkan Pasal 12 Undang-Undang tentang Pendidikan Dasar tanggal 13 Agustus 1857 menetapkan bahwa setidaknya harus ada dua Sekolah Tinggi Keguruan Negeri. Dewan Kota Haarlem meminta melalui surat tertanggal 23 April 1858 kepada Komisaris Raja untuk mempromosikan, melalui kerja sama yang besar, agar Kota ini ditetapkan sebagai salah satu tempat di mana Sekolah Tinggi Keguruan Negeri akan didirikan. Sekolah guru Willem Iskander inilah yang kemudian diubah menjadi gedung Rijksweekschool. Berdasarkan dekrit Raja tanggal 5 Februari 1860 untuk membubarkan Sekolah Tinggi Pelatihan Guru Negeri di Haarlem, yang masih ada pada akhir bulan Juli. Rijksweekschool di Haarlem dibuka pada tanggal 6 Januari 1862 dan Kweekschool Haarlem dibubarkan, setelah telah ada selama kurang lebih 50 tahun. 

Kelulusan Soetan Casajangan telah menjadi perhatian besar di Belanda. Boleh jadi karena inilah untuk kali pertama siswa non-Belanda di Rijksweekschool, Haarlem lulus ujian akta guru LO. 


Provinciale Drentsche en Asser courant, 27-05-1907: ‘Soetan Casajangan Soripada. Di antara mereka yang berhasil lulus ujian pendidikan dasar (LO) kemarin lusa di Haarlem, nama Hindia asli guru di residentie Tapanoeli di Surnatra. Kami pernah mengunjunginya di rumah J de Weeger, di Duvenvoordestraat, tempat tinggalnya. Kecil dan ramping, dengan wajah Hindia yang halus, dimana dia menggunan lorgnette emas dengan sopan santun, Soripada membuat kesan yang menyenangkan. Bagaimana dia bisa mengikuti ujian guru di Belanda? Soripada adalah kepala sekolah pribumi, tetapi kehilangan kesempatan untuk menjadi mahir berbahasa Belanda. Sejak tahun 1884, bahasa Belanda tidak lagi diajarkan di kweekschool di Hindia. Maka ia memutuskan untuk pergi ke Belanda. meskipun ada keberatan dari keluarganya, yang berpikir bahwa sebagai penduduk asli dia tidak akan mendapatkan pekerjaan yang biasanya diperuntukkan bagi orang Eropa. Namun Soripada tetap bertahan, berharap setelah memperoleh akta tersebut ia diangkat menjadi asisten guru di kweekschool. Dia menghabiskan tiga tahun di Belanda, satu setengah tahun di Haarlem, dan dia berbicara dengan rasa terima kasih kepada direktur dan guru di Rijksweekschool, yang melatihnya untuk ujian. Dia sekarang menunggu perintah dari Menteri Koloni, yang mengetahui keinginannya dan menyetujuinya, dan kemudian, mungkin dalam dua atau tiga bulan, berangkat lagi ke Hindia, dimana dia harus meninggalkan istri dan dua anaknya, sehingga dia ingin bertemu dengan mereka lagi. Soripada yang berumur 31 tahun tergolong bangsawan pribumi dan nama Soetan adalah gelarnya. Dia berbicara dengan pujian tentang pendidikan pribumi, tetapi sangat disayangkan bahwa jumlah guru masih terlalu sedikit. Dan kemudian kami meninggalkan pemuda ini, yang pasti merupakan tindakan keberanian dan kekuatan pikiran, tanah tempat dia dilahirkan, bertentangan dengan nasihat keluarganya dan meninggalkan keluarganya, untuk membuka pintu ke karir yang lebih baik di negara asing. Dapat diharapkan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan energi ini tidak dihargai. Selain itu, perubahan hidup tidak merugikannya. Dia tertawa, dalam bahasa Belandanya, diucapkan dengan sangat tepat, bahwa dia telah menjadi gemuk di negara kita, dan bahkan telah bebas sama sekali dari demam, yang sangat dideritanya dimasa lalu di Batoe Na Doea’.

Berita kelulusan Soetan Casajangan menjadi viral di Belanda. Boleh jadi karena pendidikan Hindia menjadi perhatian orang Belanda di Belanda. Soetan Casajangan tidak ingin segera pulang ke tanah air. Meski dengan akta tersebut sudah bisa menjadi asisten guru di sekolah Kweekschool, tapi tampaknya Soetan Casajangan ingin mendapatkan akta kepala untuk bisa menjadi direktur sekolah Kweekschool. Surat kabar besar di Belanda kemudian mengunjungi dan mewawancarainya (lihat De Telegraaf, 03-06-1907).

 

Berita itu juga dengan cepat menyebar dan menjadi heboh di Hindia (lihat antara lain De Sumatra post, 17-06-1907; Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907; De nieuwe vorstenlanden, 05-07-1907). Pencapaian ada yang mengaitkan dengan pencapaian Willem Iskander (1874-1876) namun meninggal di Belanda sebelum berangkat ke tanah air (lihat De Sumatra post, 17-06-1907). 

Soetan Casajangan tidak segera kembali ke tanah air, merlainkan berketetapan hati untuk melanjutkan studinya di R Rijksweekschool untuk mendapatkan akta guru MO. Lalu seperti disebutkan sebelumnya, pada tahun 1908 Soetan Casajangan menginisiasi pendirian organisasi mahasiswa Indisch Vereeniging.

.

Algemeen Handelsblad, 01-04-1909: ‘Organ Politik Melayu-Belanda. Dilaporkan bahwa dewan redaksi Organ Politik Melayu-Belanda yang terbit di negara ini untuk Pemuda Hindia dan Pemuda Cina yang setia di Koloni kita kini telah lengkap dan tersusun sebagai berikut: Pemimpin redaksi adalah Clockener-Brousaon, pensiunan letnan infanteri, sedangkan editornya adalah R Soetan Casajangan Soripada, guru Batak yang terkenal, RM Noto Soeroto, mahasiswa hukum, putra Pangeran Noto di Redjo dari keluarga Pakoe Alam, seorang Jawa dari kalangan bangsawan, dan Amaroellah gelar Soetan Mangkoeto, seorang Melayu dari Pantai Barat Sumatra, yang sebelumnya merupakan asisten guru di Hindia Belanda. Clockener Brousson bermaksud, pada akhir tahun 1909 atau awal tahun 1910, untuk berangkat ke Hindia lagi untuk melakukan tur propaganda dan studi di Jawa dan Wilayah Luar Jawa selama enam bulan. Ia ingin mengadakan diskusi pribadi di sana dengan para penguasa Belanda, para pangeran pribumi, pejabat tinggi, dan para pemimpin gerakan Pemuda Hindia dan Pemuda Cina’. 

Soetan Casajangan di Belanda menjadi multi peran. Soetan Casajangan tidak hanya bertanggungjawab untuk kesuksesan studinya di Rijksweekschool, juga menjadi pemimpin di organisasi mahasiswa Indonesia. Di luar itu, sebagai akademisi Soetan Casajangan juga menjadi salah satu editor majalah. Sebagai pemimpin organisasi Soetan Casajangan menjadi penghubung antara orang pribumi dan orang Belanda yang mencintai Indonesia di Belanda (yang tergabung dalam Vereeniging Oost en West). Soetan Casajangan yang notabene adalah seorang guru juga menjadi penghubung antara pendidikan yang lebih baik di Belanda dan pendidikan bagi pribumi di Hindia yang harus ditingkatkan. 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 9, 1909, No. 44, 04-11-1909: ‘Anak-anak Indonesia di Belanda oleh R Soetan Casajangan Sp. Banyak orang tua di Hindia Belanda terpaksa mengirim anak-anak mereka ke Eropa untuk menyelesaikan pendidikan mereka, sebagian karena terlalu sedikit tempat di negara tersebut yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik, terutama jika anak laki-laki atau perempuan tersebut nantinya akan melanjutkan pendidikan universitas. Meskipun memang ada tiga sekolah HBS. di Jawa, jumlah tersebut masih jauh dari memenuhi kebutuhan. Di Belanda, sebaliknya, ada kesempatan di setiap tempat yang penting untuk mendapatkan pelatihan untuk berbagai lembaga pendidikan tinggi. Sementara sebelumnya sebagian besar hanya orang tua Eropa di Hindia Belanda yang mengirim anak-anak mereka ke tanah air, saat ini terkadang juga terjadi bahwa penduduk asli menginginkan pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik untuk anak-anak mereka, dan ingin memanfaatkan lembaga-lembaga yang ditunjuk untuk tujuan ini di Belanda. Sayangnya, masih sangat sedikit yang mengindahkan anjuran baik ini. Semakin banyak anak-anak asli Indonesia yang berbakat datang ke Belanda, semakin besar pula manfaatnya bagi kepentingan umum Hindia Belanda dan semakin kuat ikatan persahabatan antara tanah air dan koloni. Anak asli dari keluarga baik harus memperoleh pengetahuan; ia sama mampunya dengan orang Eropa dan tidak perlu lebih rendah dari mereka dalam bidang apa pun. Tentu saja, anak-anak asli pada awalnya akan mengalami kesulitan besar dalam mempelajari bahasa Belanda dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Hal ini juga sangat dapat dimengerti, karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk berbicara bahasa-bahasa tersebut, atau menikmati bahan bacaan yang cukup. Dalam mata pelajaran matematika, mereka umumnya akan lebih unggul. Seandainya lebih banyak orang tua Indonesia yang yakin akan nilai pendidikan yang baik, lebih banyak lagi anak muda dari Hindia Belanda yang sudah belajar di sini. Baru-baru ini, pemerintah telah berupaya meningkatkan pendidikan bagi penduduk desa dengan mendirikan sekolah dasar pribumi sebanyak mungkin; namun, bagi mereka yang ingin melanjutkan studi, kesempatan untuk melakukannya hampir sepenuhnya tidak ada. Warga asli terdidik yang telah lama tinggal di Belanda dan telah menyadari pentingnya pendidikan yang baik bagi diri mereka sendiri dan juga bagi sesama warga negara mereka, terus-menerus mendesak kerabat dan kenalan mereka di Hindia Belanda untuk mengirim anak-anak mereka ke sini. Meskipun orang tua asli secara alami akan lebih mempercayai niat baik sesama warga negara mereka daripada bimbingan orang Belanda dalam hal ini, masih terlalu sedikit yang mengindahkan seruan kami. Tampaknya mereka takut, padahal tidak ada alasan untuk itu sama sekali. Anak-anak mereka dapat berprestasi dengan baik di sini dalam segala hal. Sebagian besar keluarga Belanda tidak merasa tidak nyaman bergaul dengan penduduk asli, dan akibatnya, mereka diterima dengan sangat baik di banyak kalangan yang baik. Oleh karena itu, penilaian semua warga asli Hindia Belanda yang telah lama tinggal di sini pasti akan bulat: “Orang tua yang mampu mengirim anak-anak mereka ke sini dan gagal melakukannya karena prasangka tertentu melakukan kesalahan besar dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan kepada mereka.” Salah satu keberatan yang diajukan adalah: “Di mana anak-anak saya akan berakhir!” Jika mereka yang mengajukan pertanyaan ini bersedia mempercayai informasi yang diberikan oleh rekan senegaranya, mereka hanya perlu mengikuti saran yang diberikan kepada mereka, dan masalah ini akan terselesaikan. Asosiasi dan Komite Pengawas telah dibentuk di negara ini, yang mengurus kepentingan para siswa Hindia muda yang belajar di sini dan terutama akan memastikan bahwa mereka menerima tempat tinggal yang baik. Demikian pula, untuk calon siswa Hindia di sekolah HBS di Belanda, informasi selalu dapat diminta dari Asosiasi Hindia, yang ketuanya adalah Bapak R. Soetan Casajangan Sp. dari tanah Batak (saat ini tinggal di Den Haag, Van Bylandstr. 127), dan sekretarisnya adalah Bapak Soemitro, seorang mahasiswa Indologi di Leiden; yang terakhir dengan senang hati akan berkonsultasi mengenai masalah ini dengan dewan Asosiasi "Oost en West." Bagaimanapun, lebih baik bagi orang tua pribumi untuk mencari nasihat dan bantuan dari asosiasi yang disebutkan di atas daripada mencari informasi di Hindia atau dari guru atau pejabat lain, yang pada dasarnya tidak mungkin memiliki informasi lengkap tentang segala hal seperti mereka yang tinggal di sini, dan oleh karena itu informasi mereka kemungkinan besar akan lebih dapat diandalkan. Kami ingin menyampaikan beberapa saran praktis di sini: Sangat tidak disarankan, seperti yang telah terjadi beberapa kali, untuk membiarkan seorang anak laki-laki yang bersekolah tinggal di apa yang disebut "kamar". Terlepas dari semua pengawasan, dan bangga akan kebebasannya, ia akan ingin menikmatinya sebanyak mungkin. Ia menyerah pada panggung, dan pada akhirnya tidak ada hasil apa pun. Seorang pemuda pribumi yang tiba di sini tentu harus berada di bawah pengawasan yang bijaksana dan teratur; dalam keluarga yang beradab dan terdidik. untuk diasuh sebagai anak. Satu-satunya pertanyaan adalah: dengan siapa? Untuk ini, Asosiasi yang disebutkan di atas selalu dengan senang hati memberikan jawaban yang pasti jika diminta. Secara umum, menurut pendapat kami, dapat dinyatakan dengan aman—tanpa meremehkan yang baik—bahwa menempatkan anak-anak Pribumi dengan individu swasta yang sepenuhnya berada di luar sistem pendidikan tidak disarankan. Mereka biasanya tidak cukup familiar dengan metode pengajaran terbaru, maupun dengan persyaratan yang ditetapkan untuk ujian transisi dan ujian akhir, dan oleh karena itu, dalam kebanyakan kasus, tidak dapat membantu siswa secara memadai dalam studi mereka. Menurut pandangan kami, kepentingan terbaik anak Pribumi adalah menempatkan mereka dengan seseorang yang terlibat erat dalam pendidikan, misalnya, seorang guru atau instruktur. Dan manakah dari kedua ahli ini yang lebih diutamakan? Menurut pendapat kami yang rendah hati, seorang guru mungkin kompeten dalam mata pelajaran yang diajarkannya; justru karena alasan inilah ia biasanya berpendidikan satu sisi dan tidak dapat berpengetahuan luas tentang mata pelajaran lain. Akibatnya, ia seringkali tidak cukup mendukung siswa yang lemah, yang membutuhkan bantuan dari waktu ke waktu. Menurut pendapat saya, orang tua Indonesia yang paling bijaksana adalah mereka yang menitipkan anak-anak mereka kepada guru yang berbudaya, yang tidak hanya memiliki sertifikat mengajar tetapi juga istri yang baik; merekalah orang-orang yang menurut kami paling tepat untuk membimbing studi dan perkembangan karakter anak Indonesia. Idealnya, jika mereka, atau setidaknya salah satu dari mereka, mengenal dan mencintai Indonesia, dan dengan demikian dapat memahami pikiran dan perasaan anak asli. Demikianlah, Soetan Mahmoed Latief, dari Pariaman, sekarang tinggal bersama keluarga guru J. de Weeger, Haarlem, Zijlweg 37, di mana ia hidup berkecukupan dalam segala hal. Lalu, kota mana yang paling cocok? Kota akademis mungkin memiliki banyak daya tarik bagi mahasiswa, tetapi bagi kaum muda asli, kami menganggap lebih baik mereka tidak mengenal hiburan yang ada di sana terlalu dini. Biasanya, tinggal di kota besar tidak seberbahaya bagi anak laki-laki Belanda dibandingkan dengan anak laki-laki dari Hindia Belanda, karena anak laki-laki Belanda kemungkinan besar memiliki banyak teman dan kenalan yang dapat diajak tinggal bersama, sehingga dia tidak perlu mencari hiburan lain di luar rumah. Hal ini sangat berbeda bagi anak muda dari luar negeri. Mereka diperkenalkan di sana ke dunia yang mereka anggap asing dan—terpesona oleh semua hal baru—mereka menikmati apa yang ditawarkan kepada mereka dan sering mengabaikan studi mereka. Hanya mereka yang memiliki moral yang sangat tinggi yang tidak dalam bahaya. Oleh karena itu, menurut pendapat kami, lebih baik anak muda Hindia Belanda terlebih dahulu bersekolah di lembaga pendidikan di kota kecil, sehingga dari sana, pada usia yang lebih matang dan dengan lebih banyak pengalaman hidup, mereka dapat melanjutkan ke universitas, di mana mereka lebih mandiri. Pertanyaan yang masih harus kita jawab adalah: “Pada usia berapa anak Indonesia sebaiknya datang ke sini?” Menurut pendapat kami, mereka biasanya datang ke sini pada usia yang terlalu terlambat, seringkali ketika mereka sudah berusia 15 atau 16 tahun. Mereka kemudian mendapati diri mereka duduk di sebelah anak laki-laki berusia 12 atau 13 tahun di HBS dan tidak merasa nyaman. Kedatangan terlambat juga tidak disarankan untuk mempelajari bahasa Belanda, kecuali jika seseorang telah memperoleh pendidikan menengah di Hindia Belanda. Dalam hal ini, usia yang lebih lanjut memiliki keuntungan untuk mencegah kemungkinan keterasingan dari negara dan bangsanya sendiri. Fenomena yang luar biasa, dapat dimengerti, tetapi tentu saja tidak dapat dibenarkan di kalangan pemuda Indonesia yang belajar di sini adalah mereka terlalu sering berkumpul dalam kelompok kecil, sehingga mereka tidak cukup berinteraksi dengan orang Belanda. Singkatnya, kami sampai pada saran berikut untuk rekan senegara kami, yang kami anggap sebagai semua penduduk asli Hindia Belanda: a. Kirim anak-anak Anda ke Belanda sedini mungkin. b. Kirim anak-anak Anda sebaiknya ke guru yang baik. c. Jangan langsung mengirim anak-anak Anda ke kota akademis. d. Dapatkan informasi di Belanda, bukan di Hindia Belanda. Penulis dengan senang hati akan memberikan informasi lebih lanjut yang diinginkan’. 

Soetan Casajangan tidak hanya mencintai negaranya, Soetan Casajangan juga sangat menghormati guru-gurunya. Demikianlah seharusnya guru menghormati gurunya agar murid menjadi hormat terhadap guru. Salah satu gurunya yang terkenal sewaktu murid di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean adalah Charles Adrian van Ophuijsen, yang kini menjadi guru besar di Leiden. 


Het vaderland, 11-03-1910: ‘Pendidikan Tinggi. Pada hari Minggu, 6 Maret, sebuah kenang-kenangan diberikan di Leiden kepada Profesor Ch. A. Van Ophuijsen, atas nama mahasiswa dan mantan mahasiswanya dari kalangan penduduk asli dan Belanda, dalam rangka kesembuhannya. Tanda terima kasih ini, berupa tongkat dengan tulisan Batak, diberikan kepada Prof van Ophuijsen oleh R Soetan Casajangan Soripada. Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Melayu, Soetan Casajangan menguraikan banyak hal baik yang telah dilakukan oleh Prof. van Ophuijsen dan istrinya di Hindia Belanda, khususnya untuk tanah Batak. Setelah itu, pidato disampaikan oleh L van der Hoek atas nama mahasiswa Belanda. Dengan kata-kata yang tulus, Prof. Van Ophuijsen menyampaikan rasa terima kasihnya dalam bahasa Melayu dan Belanda atas pemberian tersebut, yang sangat ia hargai’. 

Kesusksesan Soetan Casajangan meraig akta guru LO di Belanda dan Soetan Casajangan melanjutkan studi perguruan tinggi yang sama untuk mendapatkan akta MO, tampaknya telah diketahui umum di Hindia yang menimbulkan minat bagi masyarakat khususnya para guru untuk melanjutkan studi ke Belanda. Di Padang, alih-alih menunggu guru Baginda Djamaloedin sukses studi keguruan di Belanda, dua guru muda di Padangsche Bovenlanden berangkat dari Padang untuk melanjutkan studi keguruan ke Belanda. Sudah barang tentu himbauan Soetan Casajangan agar guru-guru muda melanjutkan studi ke Belanda seperti yang ditulisnya di Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 9, 1909, No. 44, 04-11-1909.


De locomotief, 01-07-1910: ‘Ke Belanda, Pada tanggal 25 Juni, dua orang Melayu lulusan sekolah guru, Roestam dan Kahar Mashhoer, berangkat dari Padang, yang baru saja lulus sekolah guru di Fort de Koek. Mereka diharapkan akan mendapatkan akta guru hoofdacte di Belanda dan kemudian diproyeksikan sebagai guru di sekolah Eropa di Kota Gadang. Studi mereka dibiayai oleh 'studiefond' dari asosiasi Malayu di Kota Gadang. Mereka melakukan perjalanan di bawah bimbingan Asisten Residen Westenenk, yang telah diberikan cuti enam bulan ke Eropa’. 

Sudah barang tentu dua guru muda Kota Gadang, Padangsche Bovenlanden akan menemui Soetan Casajangan di Den Haag. Sementara itu, tidak lama dua guru muda tersebut tiba di Belanda, terinformasikan Soetan Casajangan sudah menyelesaikan studinya tepat waktu di Rijkskweekschool Haarlem dengan mendapat akta guru MO. Soetan Casajangan juga telah ditunjuk menjadi guru bahasa Melayu di Handelschool (Sekolah Perdagangan) Haarlem. 


De nieuwe courant, 18-08-1910: ‘Walikota dan Anggota Dewan Kota Haarlem menominasikan kandidat berikut untuk guru sementara di HBS (Sekolah Menengah Atas) dengan kompensasi 3 tahun dan di Handelschool (Sekolah Perdagangan) dengan kompensasi 2 tahun: Bahasa Spanyol: 1. BM Franco, Rotterdam, 2. Nona SC Land, Haarlem. 1. Bahasa Melayu:  Soetan Casajangan Saripada, Den Haag, 2. E Rijke, Leiden. Stenografi: 1. AE d'Oliveira, Amsterdam, 2. B Klooster, Den Haag’. Berita ini juga dilansir surat kabar yang terbit di Soerakarta De nieuwe vorstenlanden, 21-09-1910. 

Tentu saja di Belanda, Kahar Masjhoer dan Roestam dengan sendirinya dibimbing oleh Soetan Casajangan. Hal ini karena Soetan Casajangan adalah satu-satunya mahasiswa yang mengambil bidang studi keguruan. Lagi pula Soetan Casajangan adalah ketua organisasi mahasiswa Indische Vereeniging di Belanda. 


Pribumi pertama yang berhasil meraih akta guru LO di Belanda adalah JH Wattimena pada tahun 1884. Sedangkan pribumi pertama yang meraih akta guru di Belanda adalah Sati Nasoetion alias Willem Iskander tahun 1860. Pada tahun 1862 Willem Iskander, dengan akta guru bantu mendirikan sekolah guru ketiga di Tanobato (afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli). Sekolah guru yang sudah ada adalah di Soeracarta dibuka 1851 dan di Fort de Kock dibuka tahun 1856. Suksesi Kweekschool Tanobato adalah Kweekschool Padang Sidempoean yang dibuka tahun 1879 (dan kemudian ditutup tahun 1892). Soetan Casajangan adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean. 

Lantas apakah Soetan Casajangan segera kembali ke tanah air setelah lulus dengan akta MO? Tampaknya tidak. Seperti disebut di atas, ada tawaran dari pemerintah kota Haarlem untuk mempekerjakan Soetan Casajangan sebagai guru bahasa Melayu di Handelschool (Sekolah Perdagangan) Haarlem. Soetan Casajangan kemudian terinformasikan mendapat undangan untuk berbicara di depan forum organisasi Moederland en Koloniën. Soetan Casajangan membawakan makalah berjudul “Het inlandsch onderwijs in Nederlandsch-Indie” (Pendidikan Pribumi di Hindia Belanda). 


De Nederlander, 21-03-1911: “Moederland en Koloniën” akan mengadakan pertemuan informal pada hari Selasa, 28 Maret, pukul 20.00, di aula atas Oranje-Societeit, yang mengundang para anggota—beserta istri mereka—untuk memperingati hari jadi kesepuluh. Setelah pidato peringatan oleh Ketua Kehormatan, PH van der Kemp, dan presentasi oleh R Soetan Casajangan Soripada tentang “Pendidikan Pribumi di Hindia Belanda” (Het inlandsch onderwijs in Nederlandsch-Indie) dan oleh Nona Fenna de Meyier tentang “Di Tanah Waringin” beberapa pria, anggota Asosiasi Indolog, telah berjanji untuk memberikan kontribusi di bidang sastra dan musik’. 

Sementara HJ Abendanon telah mengumpulkan surat-surat RA Kartini. Abendanon juga melakukan pengumpulan data dari Raden Kartono di Belanda untuk mendapatkan gambaran umum dan latar belakang keluarga dan adiknya RA Kartini. Akhirnya buku tersebut sebanyak 583 halaman berhasil diselesaikan oleh HJ Abendanon yang diberi judul: “Door Duisternis tot Licht: gedachten over en voor het Javaansche volk”. Buku tersebut pada tahun 1911 ini diterbitkan di Belanda oleh penerbit GCT van Dorp & Co, Den Haag. 


Pada tahun 1911 terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Yang diangkat sebagai pengganti Soetan Casajangan adalah Raden Noto Soeroto (tiba di Belanda tahun 1907). Setelah Soetan Casajangan Soetan Casajangan mentrasfer kepengurusan Indische Vereeniging, untuk mendukung sumberdaya calon dan atau pelajar/mahasiswa di Belanda, Soetan Casajangan bersama dengan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon membentuk studiefond. Tujuan pembentukan StudiFond ini adalah untuk menggalang dana bagi pelajar/mahasiswa di Belanda yang membutuhkan keuangan ketika mengalami kesulitan. Lagi-lagi Soetan Casajangan membuat terobosan baru diantara pelajar/mahasiswa asal Hindia di Belanda. Dalam hal ini, Soetan Casajangan kembali menginisiasi sesuatu yang tidak terpikirkan oleh mahasiswa lainnya, Soetan Casajangan menjadi ketua Studiefond dengan sekretaris/bendahara Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon mahasiswa baru (seperti halnya dulu RM Soemitro dalam pembentukan Indische Vereeniging). 

Di Belanda sendiri pada tahun 1912 sudah cukup banyak orang Indonesia. Yang berasal dari Padang Sidempoean, selain Soetan Casajangan adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenong Moelia (tiba 1910) dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (tiba 1911). Juga di Belanda sudah banyak para pekerja Indonesia yang bekerja di perusahan-perusahaan Belanda yang bergerak dalam perdagangan dan pelayaran. 


Algemeen Handelsblad, 13-03-1912: ‘Dua imigran terlibat perkelahian dari Madura dengan sesama imigran dari Jawa (Oost Java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung, karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda. Untuk mencari penerjemah dan juga untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata tidak mudah meski sudah ada Indische Vereeniging (perhimpunan Hindia). Diantara mahasiswa yang ada hanya Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkoepon yang masih sekolah menengah yang bersedia dan sukarela (tanpa paksaan). Dari namanya memang pantas (Abdoel + Firman), dan memang ternyata Abdoel Firman pemuda Tapanuli adalah orang yang alim. Dalam masyarakat Belanda menganggap Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon dianggap sebagai pemimpin (imam) Islam dari para imigran dari Hindia. Abdoel Firman tidak keberatan. Di dalam pengadian tersebut Abdoel Firman tidak hanya menjadi penerjemah dan pemandu sumpah (secara agama Islam), Abdoel Firman juga memberi pebelaan terhadap terdakwa untuk dikurangi tuntutan djaksa. Dan, berhasil’. 

Kahar Masjhoer dan Roestam yang mengikuti jejak guru Soetan Casajangan pada awalnya lancar dalam studi. Akan tetapi menjelang ujian, Roestam mengalami sakit sehingga tidak berhasil untuk mengikuti ujian akta guru LO. Sementara Kahar Masjhoer berhasil lulus ujian akta LO pada tahun 1912 (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 21-05-1912). Disebutkan, di Zwolle 21 Mei dilakukan ujian delapan kandidat dimana empat lulus diantaranya Kahar Masjhoer. Mereka berdua Kahar Masjhoer dan Roestam kembali ke tanah air pada bulan Juli (1912).

 

Sumatra-bode, 25-05-1912: ‘Pendidikan pribumi di Belanda. Pada bulan Juni 1910, dua pemuda pribumi yang berbakat, Kahar Masjhoer dan Roestam, dari Kota Gedang dekat Fort de Koek, berangkat bersama Westenenk dari sini ke Nedeiland. Sebuah pesan telegraf sekarang telah diterima bahwa yang pertama telah lulus ujian untuk pendidikan dasar (LO). Sayangnya, Roestam jatuh sakit parah, sehingga tidak bisa mengikuti ujian. Keduanya kembali pada bulan Juli. kembali kesini. Kedua anak muda itu mendapat sambutan hangat di Belanda di (kota) Deventer yang dititipkan pada keluarga Schuilling, semoga warga Kota-Gedang berterima kasih kepada pasangan bangsawan ini atas banyak dan perhatian baik yang diberikan kepada mereka berdua disana’.

Sebelum kepulangan dua guru asal Padangsche Bovenlanden, seorang guru muda dikirim oleh Boedi Oetomo untuk melanjutkan studi keguruan telah berada di Belanda. Di Belanda sendiri sudah cukup banyak mahasiswa asal Jawa, namun tidak ada yang studi di bidang keguruan. Satu guru pribumi yang terkenal di Belanda adalah Soetan Casajangan. Dalam hal ini di Belanda, Sjamsi Widagda dibimbing dan diawasi oleh Soetan Casajangan. Saat ini Soetan Casajangan telah menjadi guru bahasa Melayu di Handelschool di Rotterdam dan Haarlem.

 

De expres, 04-06-1912: ‘Asosiasi untuk Promosi Pendidikan Netral telah mengambil alih banyak aktivitas manajemen pusat Boedi Oetomo. Tidak dapat diragukan lagi bahwa asosiasi di bawah Boedi Oetomo ini akan berbuat banyak untuk kepentingan pendidikan, dilihat dari aktivitas dan kualitas para pengelola. Calon guru Mas Samsi, yang telah dikirim ke Belanda oleh Boedi Oetomo yang sedang melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi swasta di Den Haag, langsung diterima di kelas 3 disana. Meski baru tiga bulan di kelas ini, ada peluang baginya untuk naik kelas ke kelas yang lebih tinggi di bulan ini, sehingga ia berharap bisa siap pada tahun 1913. Di Belanda, M. Samsi dititipkan sepenuhnya pada Soetan Gasajangan, seorang mantan guru pribumi dari negeri Batak, yang telah lulus ujian guru Belanda 1.5 tahun yang lalu dan saat ini menjabat sebagai guru di Handelschool di Haarlem’. 

Samsi Sastrawidagda lahir di Soerakarta 13 Maret 1894. Setelah menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Melayu-Belanda (HIS), Samsi Widagda melanjutkan studi ke sekolah guru (kweekschool) di Jogjakarta. Sekolah guru Kweekschool Jogjakarta adalah suksesi Kweekschool Magelang. Sebelumnya Kweekschool Magelang adalah sukses Kweekschool Soerakarta.

 

Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 09-10-1912: ‘Guru pribumi dengan akta Belanda, Kahar Masjhoér, yang berangkat ke Belanda pada bulan Juni 1910 atas nama dana studi studiefond "Kota Gedang", telah memperoleh akta Belanda LO. dan baru saja kembali ke Hindia Belanda. Rajioen Soetan Casajangan, termasuk guru lulus di Belanda, ia datang ke Belanda selama sekitar delapan tahun lalu, ia memperoleh akta guru utama MO, pada tahun 1910 sementara ia juga telah memperoleh sertifikat bahasa Melayu dan etnologi di Leiden, dan dalam beberapa tahun terakhir ia bekerja sebagai guru untuk bahasa Melayu di sekolah-sekolah perdagangan di Rotterdam dan Haarlem’ 

Sjamsi Widagda lulus ujian akta guru LO pada Juni 1913 (lihat Het vaderland, 02-06-1913). Disebutkan di Den Haag tanggal 2 Juni lulus ujian akta LO dari delapan kandidiat lulus enam orang diantaranya Sjamsi Widagda. Lantas apakah Sjamsi Widagda segera kembali ke tanah air seperti Kahar Masjhoér. 


Soetan Casajangan mulai bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Soetan Casajangan sudah selama 10 tahun di Belanda. Soetan Casajangan sudah mendapat beslit dari Menteri Koloni untuk menjadi direktur sekolah guru di Fort de Kock. Tentu saja Soetan Casajangan akan kembali betermu dengan anak asuhnya guru Kahar Masjhoér. 

Pada bulan Agustus 1913 Sjamsi Widagda diangkat untuk tahun ajaran 1913/14 sebagai guru sementara pada kursus bahasa Melayu di Handelschool (lihat De Maasbode, 04-08-1913). Tampaknya posisi ini untuk menggantikan Soetan Casajangan. Sjamsi Widagda kemudian melanjutkan studi, keguruan untuk mendapat akta MO seperti Soetan Casajangan. Hal ini sesuai dengan rapat umum Boedi Oetomo di Solo (lihat Het vaderland, 23-09-1913). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Boedi Oetomo Mengirim Sjamsi Widagda Studi Keguruan ke Belanda Dibimbing Soetan Casajangan: Seorang Guru Menjadi Doktor Ekonomi

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar