*Untuk melihat semua artikel Sejarah Voli Indonesia di blog ini Klik Disini
Olahraga voli lahir di Amerika Serikat (1895). Pada awalnya tidak terinformasikan, bahkan di Eropa permainan voli sendiri tidak dikenal. Lalu bagaimana olahraga voli “made in America” ini menyebar dan kini telah meliputi seluruh dunia? Yang jelas Amerika adalah tujuan orang Eropa sejak dulu, akibatnya semua cabang olahraga di Eropa menyebar ke Eropa. Hal itulah, mengapa, alih-alih voli diperkenalkan pertama di Eropa, tetapi yang muncul lebih awal justru di Asia Tenggara (Filipina). Akan tetapi orang Filipina sendiri tampaknya tidak akurat dengan sejarah volinya. Deepublish
Sejarah voli di Filipina mengacu pada sejarah voli di Filipina sebagai rekreasi dan sebagai olahraga. Sejarah voli Filipina dimulai pada tahun 1910 ketika Filipina masih merupakan wilayah Amerika Serikat (1898–1935). Permainan voli diperkenalkan kepada orang Filipina oleh seorang Amerika bernama Elwood S Brown, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Fisik Young Men's Christian Association (YMCA). Voli menjadi permainan populer yang dimainkan di halaman belakang rumah dan di pantai-pantai di kepulauan tersebut. Pada awalnya, orang Filipina menciptakan aturan permainan mereka sendiri. Tentara AS yang ditugaskan di berbagai pulau di Filipina selama periode tersebut juga membantu penyebaran voli secara luas di kalangan orang Filipina. Para prajurit Amerika ini mendorong orang Filipina untuk bergabung dengan mereka bermain voli selama waktu luang mereka dari tugas militer (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah voli awalnya tidak dikenal di Eropa? Seperti disebut di atas, Amerika adalah tujuan orang Eropa sejak dulu, akibatnya semua cabang olahraga di Eropa menyebar ke Eropa. Voli asal Amerika Serikat tersebut populer di Asia Timur? Lalu bagaimana sejarah voli awalnya tidak dikenal di Eropa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Voli Awalnya Tidak Dikenal di Eropa; Voli Asal Amerika Serikat Mengapa Lebih Dulu Populer di Asia Timur?
Permainan olahraga dapat muncul dan mulai dikembangkan dimana saja. Cabang-cabang olahraga yang sudah dipertandingkan kemudian menyebar ke berbagai tempat karena kehadiran asing (jarang yang terjadi sebaliknya). Awalnya di tempat baru, permainan olahraga itu dimainkan oleh orang asing untuk kalangan sendiri, lalu kemudian diadopsi oleh penduduk setempat. Semakin intens dipertandingkan, semakin cepat pula proses difusi (penyebaran) permainan ini diantara penduduk setempat.
Sepak bola di Italia dan sepak bola di Indonesia diperkenalkan pada masa yang kurang lebih sama. Orang-orang Inggris di kota meltingpot Genoa bermain sepak bola, yang kemudian awal mula sepak bola menyebar ke pedalaman Italia seperti di Turin dan Milan. Hal itu pula yang terjadi di Penang dan Medan dimana orang-orang Eropa bermain sepak bola. Pada tahun 1893 tim kesebelasan Penang (Inggris) melakukan kunjungan ke Medan untuk melawan tim kesebelasan Medan (Belanda). Sepak bola yang diintroduksi orang-orang Belanda yang menjadi pemicu penduduk di Medan dan sekitarnya mengadopsi permainan sepak bola. Hal serupa ini juga terjadi di Batavia, Semarang, Soerabaja dan Bandoeng. Bagaimana dengan di Amerika Serikat? Para imigran Eropa juga membawa permainan olahraga, juga termasuk sepak bola ke Amerika.
Di tengah terjadinya penyebaran berbagai cabang olahraga (sejak zaman kuno hingga era modern) sebenarnya juga terjadi pertukaran cabang olahraga. Seperti orang Jepang menerima olahraga sepak bola (dari Eropa), juga memiliki cabang olahraga tradisi sendiri seperti judo dan karate. Demikian juga Indonesia yang menerima sepak bola juga memiliki cabang olahraga tradisi sendiri silat. Bagaimana dengan Amerika yang telah menerima (dibawa para imigran Eropa) berbagai cabang olahraga dari Eropa?
Penduduk asli Amerika Serikat (Indian) tentu saja memiliki cabang olahraga tradisi sendiri. Namun dominasi imigran Eropa di Amerika (kekuasaan dan jumlah populasi) alih-alih mengangkat olahraga tradisi penduduk asli, yang terjadi adalah para migran sendiri selain membawa olahraga sendiri dari Eropa, juga para migran Eropa ini mengkreasi/membentuk permainan olahraga sendiri. Lahirlah cabang olah raga seperti American Football, basketball dan volleyball. Oleh karena cabang olahraga yang muncul di Amerika Serikat terbentuk atas inisiatif seseorang/kelompok tertentu, perkenalannya dimulai dari komunitas-komunitas kecil terlebih dahulu seperti sekolah, pusat pelatihan dan sebagainya di kesatuan militer.
Amerika secara historis terus dipenuhi para imigran Eropa yang kemudian dikooptasi negara-negara kerajaan di Eropa seperti Inggris, Belanda, Spanyol dan Prancis. Hal seperti ini juga yang terjadi Asia seperti di Indonesia (Belanda) dan Filipina (Spanyol). Intensitas pengaruh kerajaan induk para migran ini pada akhirnya di Amerika Serikat kekuasaan kerajaan Inggris yang menonjol di Amerika Serikat. Warga Amerika, yang notabene para imigran Eropa (yang merasa terjajah), mengangkat senjata dan berperang dengan (penjajah) Inggris, yang kemudian di bawah nama Amerika Serikat menyatakan kemerdekaannya pada tangal 4 Juli 1776. Lalu secara perlahan dan makin cepat Amerika Serikat menjadi muncul sebagai negara adikuasa baru.
Amerika Serikat yang telah menjadi suatu negara (republik) tetap menjadi tujuan migrasi orang-orang Eropa. Para migran Eropa terus mengalir bahkan dalam jumlah yang lebih besar, termasuk penduduk yang terbuang di Eropa atau penduduk yang menjadi korban perang dan kemiskinan untuk mengadu nasib di negara baru di Amerika. Pada saat terjadi perang di Italia, banyak gelombang migran dari Italia selatan yang menuju Amerika Serikat. Sementara Amerika Serikat sendiri secara ekonomi dan teknologi dengan cepat tumbuh dan berkembang menyebabkan Amerika Serikat menjadi kekuatan adidaya baru. Ini tampak dimulai pada tahun 1852 skuadron Amerika Serikat di bawah Amiral Matthew Calbraith Perry memaksa (kerajaan) Jepang membuka pintu perdagangan untuk semua negara (tidak hanya di bawah satu pintu saja: Belanda). Sejak ini juga para misionaris Amerika Serikat mulai memasuki wilayah Jepang. Sebagaimana diketahui misionaris Amerika (suami istri) pertama kali di Asia di Burma tahun 1813 dan terbilang sukses. Lalu kemudian misionaris Amerika Serikat memasuki wilayah Cina di Canton pada tahun 1829. Namun gagal di Indonesia, dimana dua misionaris Amerika Serikat pertama Samuel Munson dan Henry Lyman memasuki Tanah Batak tahun 1834. Keduanya terbunuh oleh penduduk setempat. Sejak itu, para misionaris Amerika Serikat tidak berani lagi memasuki wilayah Indonesia. Pada tahun 1853 sebagian wilayah Mexico dibeli yang keudian diasukkan ke Arizona. Pada tahun 1867 Amerika Serikat kembali membeli Alaska dari Rusia. Lengkap sudah Amerika Serikat memiliki daratan yang menyatu dari pantai timur hingga pantai barat. Kota-kota di pantai barat seperti San Franscisco, San Diego dan Los Angeles cepat berkembang dan menjadi pelabuhan-pelabuhan utama di pantai barat Amerika Serikat. Setelah Jepang, misionaris Amerika Serikat mulai memasuki wilayah Korea pada tahun 1884 dan terbilang berhasil.
Amerika Serikat yang sudah menjadi negara adikuasa baru (yang sudah setara negara-negara besar di Eropa: Inggris, Prancis dan Jerman) mulai melakukan invasi. Korban pertama adalah (negara) Kerajaan Spanyol yang sudah mulai melemah, dimana koloni Spanyol di Laut Karibia (Cuba) dianeksasi Amerika Serikat. Wilayah (pulau) Cuba sendiri tepat berada di depan halaman Amerika Serikat dengan Florida.
Bersamaan dengan akusisi Filpina pada tahun 1898 Amerika Serikat juga menganeksasi Republik Hawaii. Tercapai sudah upaya Amerika Serikat dengan mendekatkan diri ke Hindia (Belanda).
Namun
kehadiran Amerika Serikat di Filipina seakan bersifat insidentil. Tidak ada
keterangan sebelumnya bahkan sejak era VOC kapal-kapal Amerika Serikat sudah
mengunjungi Filipina seperti Manila. Kapal-kapal Amerika Serikat hanya diketahui
pernah mengunjungi Makao, dan secara intens mengunjungi Batavia dan pernah
beberapa kota di Hindia Belanda seperti di Manado dan Ternate, plus
pelaut-pelaut yang tengah memburu ikan paus di pantai utara Papua.
Pada tahun kehadiran angkatan laut Amerika Serikat di Filipina, angkatan laut Amerika Serikat juga menyasar beberapa pulau di selatan yang masuk wilayah Hindia Belanda. Pulau-pulau yang disasar itu adalah pulau Mapia, namun angkatan laut Amerika Serikat segera mundur karena di pulau Mapia sudah berkibar bendera Hindia Belanda. Hal yang sama juga terjadi di pulau Miangas, pulau yang begitu dekat dengan pantai selatan Mindanao. Anehnya, angkatan laut Amerika Serikat ngotot memaksakan bendera Amerika Serikat dikibarkan penduduk, tetapi tidak lama kemudian bendera itu diturunkan angkatan laut Hindia Belanda yang tengah berpatroli di sekitar. Alasan Amerika Serikat bahwa peta yang mereka miliki (bersumber dari Spanyol) dua pulau itu masuk wilayah Spanyol. Pulau Miangas menjadi sengketa, dalam perkembangan lebih lanjut diketahui pulau Mapia dihapus dari peta Amerika Serikat.
Lantas
apa yang menyebabkan militer Amerika Serikat di Filipina diduga kuat karena
soal perluasan wilayah dan menganeksasi Filipina (dari pengaruh Spanyol), atau
boleh jadi karena proses politik antara pemerintah Amerika Serikat dengan
pemerintah kerajaan Spanyol tentang masa depan Filipina di Pasifik.
Seperti disebut di atas, sejak kehadiran angkatan laut Amerikan Serikat di Filipina tahun 1898, Amerika Serikat mengangkat presiden Emilio Aguinaldo sejak 23 Januari 1899 tetapi tidak lama kemudian berakhir pada tanggal 1 April 1901. Hal ini karena dalam perkembangannya Amerika Serikat membentuk pemerintahan yang bersifat teritorial (sipil) pada tahun 1901. Namun kasus pulau Miangas terus bergulir yang pada akhirnya pengadilan memutuskan pulau Miangas adalah milik Hindia Timur pada tahun 1915 (hingga Indonesia sekarang).
Memang
tidak ada kapal-kapal Amerika Serikat yang dilaporkan mengunjungi Filipina.
Namun itu bukan tidak ada. Pada tahun1862 diketahui harga cerutu di Manila
sangat tinggi karena danya blokade di Amerika Utara (lihat Java-bode: nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-01-1862). Dalam hal ini
karena terjadi perang antara Prancis dan Inggris di Amerika Utara, yang mana pada
saat itu Amerika Serikat memiliki kerjasama dengan Prancis. Besar dugaan bahwa
angkatan laut Inggris telah memblokade kawasan sehingga kapal-kapal Amerika
Serikat yang berlayar ke Hindia Belanda atau Filipina tidak sampai. Cerutu
Amerika Serikat tentu saja didatangkan dari Cuba.
Sampai sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehadiran Amerika Serikat di Filipina, apakah dalam hubungan perdagangan mapun hubungan politik antara Amerika Serikat dengan Spanyol. Mungkin ada pembaca yang bisa menambahkan atau menunjukkan sumber-sumber yang bisa dikutip untuk memperkaya artikel ini.
Pada bulan April 1898 diketahui dari berita bahwa terjadi ketegangan antara Amerika Serikat dan Spanyol (lihat De Peel- en Kempenbode, 20-04-1898). Disebutkan bahwa dalam ketegangan antara dua negara disebutkan bahwa Cuba sedangkan mempersiapkan pertahanan jika terjadi pecah perang antara kedua negara tersebut. Latar belakang ketegangan ini muncul karena ada perselisihan antara Spanyol dan Cuba yang mana para pemimpin Cuba melakukan perlawanan kepada Spanyol, yang dalam hal ini para pemimpin Cuba didukung Amerika Serikat yang mengakui terbentuknya Republik Cuba.
Pada berita lain disebutkan ada kekhawatiran di Filipina bahwa kapal-kapal Amerika Serikat mengebom dan beberapa pemimpin telah melarikan diri dari pulau-pulau di Filipina. Kapal-kapal dagang Spanyol turut membawa mereka ke Singapoera. Sementara itu di Filipina pemberontakan semakin meluas terhadap kehadiran Amerika Serikat dari Pasifik di kawasan Filipina.
Apa yang menyebabkan terjadinya perselisihan antara Amerika Serikat dan Spanyol muncul karena faktor internal di wilayah koloni-koloni Spanyol seperti di Cuba dan Filipina. Para pemberontak terhadap Spanyol di Cuba coba membentuk republik dan juga pemberontakan di Filipina melawan Spanyol yang juga tampaknya disokong oleh Amerika Serikat.
Militer Spanyol akhirnya melancarkan operasi militer di Cuba (lihat De grondwet, 31-05-1898). Dalam berita ini juga disebutkan bahwa armada Amerika Serikat di kawasan Pasifik dekat Filipina tengah menunggu bantuan untuk melakukan pendudukan di Manila. Militer Amerikan Serikat turut memberi bantua kepada para pemberontak Cuba.
Pada masa ini sesungguhnya kerajaan Spanyol sedang melemah, sementara Amerika Serikat semakin menguat. Jelas dalam hal ini persoalan Spanyol dengan koloni-koloninya seperti Cuba dan Filipina memiliki banyak salah, yang di sisi lain Amerika Serikat, boleh jadi atas nama HAM dan demokrasi memanfaatkan situasi dan kondisi untuk menanamkan pengaruhnya ke wilayah yang lebih luas di selatan Amerika lautan Atlantik maupun ke barat Amerika di Pasifik. Akhirnya perundingan antara Amerika Serikat dan Spanyol diadakan di Gedung Putih di Washington (lihat De Peel- en Kempenbode, 17-08-1898).
Hasil perundingan ini disebutkan pada poin-1 bahwa Spanyol harus menyerahkan Cuba. Sementara pada poin-3 bahwa Amerika Serikat akan menduduki kota, teluk dan pelabuhan Manila selama pembahasan perjanjian damai yang akan menentukan masalah otoritas dan administrasi atas Filipina. Dalam protokol yang akan diterapkan selanjutnya disebutkan bahwa Panglima Tertinggi Spanyol di Manila untuk pelaksanaan ketentuan Protokol yang berkaitan dengan pendudukan Manila. Dalam perjanjian ini Amerika Serikat tersirat Presiden Mac Kinley tidak mengklaim Filipina untuk Amerika, dan juga juga tidak menyatakan untuk meninggalkannya dan pada kenyataannya, melalui pendudukan ibu kota, Amerika Serikat mendapatkan kekuatan untuk memutuskan nasib pulau-pulau itu, atau setidaknya Amerika akan melakukannya. memiliki keuntungan yang signifikan atas kekuatan lain, jika Amerika Serikat masih menganggap perlu untuk menguasai semua atau sebagian dari pulau-pulau itu. Perjanjian damai akan dilakukan di Paris pada bulan September.
Singkat cerita seperti yang bisa dibaca pada masa kini bahwa penandatangan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Spanyol diadakan di Paris pada tanggal 10 Desember 1898 yang lebih mengukuhkan Spanyol menyerahkan Filipina kepada Amerika Serikat. Lantas bagaimana di dalam negeri Filipina?
Tentu saja itu tidak mudah bagi Amerika Serikat, sebab ada pihak yang sudah mengakar sejak lama dengan Spanyol yang anti Amerika Serikat. Pendudukan militer ini akhirnya sejak tahun 1901, pemerintahan militer digantikan oleh pemeritahan sipil yakni pemerintahan sipil dengan William Howard Taft menjabat sebagai Gubernur Jenderal yang pertama. Charles Henry Brent adalah misionaris Amerika Serikat pertama di Filipina dengan memimpin pendirian Gereja Episkopal di Filipina pada tahun 1901. Brent kemudian pada tahun 1902 menjabat sebagai uskup residen Protestan pertama di Filipina.
Amerika Serikat di Filipina, tampaknya tidak ingin benar-benar mendirikan koloni seperti Inggris damn Belanda di masa lalu. Amerika Serikat memasuki wilayah Filipina, wilayah yang sudah sejak lama di bawah koloni Spanyol, dapat dikatakan Filipina secara defecto sudah menampakkan wujud suatu Negara (seperti halnya Indonesia di bawah koloni Belanda). Hal itu menyebabkan tugas dan fungsi Amerika Serikat hanya sekadar melanjutkan dan membuatnya lebih berkembang. Namun itu adalah tujuan sekunder. Tujuan primer Amerika Serikat di Filipina adalah untuk menjadikannya sebagai pijakan diantara kekuatan-kekuatan yang terbentuk di Asia-Pasifik.
Jepang secara tradisi dan secara historis yang sudah terhubung dengan (orang-orang) Eropa memiliki kekuatan sendiri, berdikari. Pengaruh Inggris di Tiongkok, pengaruh Rusia di Korea, pengaruh Prancis di Indo-China dan pengaruh Inggris di The India, Burma, Straitsettlement dan Australia, pengaruh Jerman di Papua Nugini, dan tentu saja pengaruh Belanda di Indonesia. Sebagai adikuasa baru, Amerika Serikat sejatinya tidak sedang berhadapan dengan penduduk asli Filipina, tetapi berhadapan dengan kekuatan-kekuatan asing Asia Pasifik, khususnya dalam hal ini terhadap Jepang. Praktis Amerika Serikat pada tahun 1898 telah memiliki pijakan yang kuat di Asia-Pasifik (Hawaai, Guam dan Filipina).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Voli
Buatan Amerika Itu Mengapa Lebih Dulu Dikenal Luas di Asia Timur? Sepak Bola
Asal Eropa Mengapa Lebih Dulu Populer di Indonesia?
Di Eropa berbagai cabang olahraga, meski masih intens sebagai bagian kurukulum pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, khususnya cabang sepak bola sudah popular sebagai pertandingan profesional yang juga dipertandingan berskala internasional (antar negara) pada basis klub atau asosiasi. Sementara cabang olahraga buatan Amerika dapat dikatakan masih terbatas di sekolah-sekolah, pusat pelatihan, kampus-kampus perguruan tinggi dan lingkungan kesatuan militer. Kehadiran Amerika di Filipina menjadi awal dikenalnya permainan/olahraga yang berasal dari Amerika.
“Melalui Amerikaansch Young Men Christian Association (YMCA), Amerika juga telah memperkenalkan gerakan lapangan olahraga di Asia Timur dan Selatan, terutama di koloninya sendiri, Filipina, dan di sana dengan kesuksesan yang gemilang. Pada tahun 1906, terdapat 2.000 lapangan olahraga di Filipina (sebanyak 30 di Manila saja), dengan 1.500 lapangan bisbol, 2.600 lapangan bisbol dalam ruangan (bisbol untuk perempuan), 172 lapangan tenis, fasilitas 1.000 untuk bola voli (dan bola tangan), 600 untuk korfball (basket), dan 400 lintasan balap (atletik). Lebih dari setengahnya dimiliki oleh pemerintah kota; 600 dimiliki oleh asosiasi atau individu swasta, 40 disediakan oleh gereja, dan 30 dibiayai oleh Departemen Pendidikan. Hasil dari sistem tersebut—olahraga yang dikelola dengan baik dan terorganisir secara ilmiah—yaitu rekreasi dan aktivitas fisik yang terorganisir sangat besar (lihat De Sumatra post, 14-04-1919).
Wilayah Indonesia yang berada di (berdekatan) Asia-Pasifik menyebabkan pers (berbahasa) Belanda di Indonesia kerap memberitakan dan menulis artikel tentang kejadian-kejadian di negara negara termasuk Filipina.
Bataviaasch nieuwsblad, 24-03-1917: ‘Diliputi oleh kobaran api global ini, konflik baru membara di Pasifik, yang belum dapat diprediksi apakah akan meningkat menjadi perang baru atau dipadamkan dalam keinginan untuk perdamaian: konflik antara dua negara tetangga, Amerika dan Jepang, yang berupaya saling merebut wilayah, berupaya membatasi pengaruh satu sama lain. Sebagai antagonis bukan hanya karena lokasi geografisnya, tetapi juga berbeda dalam karakteristik ras dan karakter nasional, pandangan tentang negara dan konsep moralitas, konflik hanya logis jika kepentingan ekonomi dipertaruhkan. Jepang berupaya membuka wilayah subtropis Amerika Barat untuk menampung kelebihan penduduknya; Amerika berupaya menyebarkan ide-ide—dan produk-produknya—ke Asia Timur dan, dalam melakukannya, lebih dari sekadar semangat perdagangan, didorong oleh idealisme yang kuat, semangat besar untuk konversi. Hal ini paling jelas terlihat di bidang pendidikan. Pada tahun 1912, di samping 1 juta anak sekolah di sekolah negeri, Tiongkok memiliki lebih dari seperempat juta murid di sekolah-sekolah misi. Meskipun sebagian besar di antaranya memang berada di bawah naungan Misi Katolik Prancis yang lebih tua, sebagian besar dari 105.000 murid Protestan berada di bawah kepemimpinan Amerika. Universitas-universitas Amerika adalah yang pertama di Tiongkok yang bergerak ke arah Barat; orang Amerika adalah penyelenggara sistem baru tersebut. Di Korea, pengaruh Amerika bahkan lebih besar. Dalam "pengadilan konspirasi terhadap Terauchi" yang terkenal, besarnya pengaruh Asosiasi Pemuda Kristen Amerika, dan perjuangan pemerintah Jepang melawan pekerjaan misionaris, terutama ada satu perlawanan terhadap pengaruh Amerika. Jepang telah menyelenggarakan pendidikannya sendiri di Amerika, yang berarti sesuatu di bidang pendidikan. Tetapi akankah Jepang mencapai ketinggiannya saat ini sesuai dengan garis Barat jika Komodor Periy tidak mengetuk pintunya? Filipina, setelah 16 tahun berada di bawah pemerintahan Amerika, sedang sibuk menjadi Amerika. Generasi muda sebagian besar telah menjadi Amerika dalam tindakan dan pemikiran. Dan ketika Raja Siam meninggalkan Manila dua tahun lalu setelah kunjungan ke Filipina, ia memutuskan untuk mengatur pendidikan di negaranya sesuai dengan sistem Amerika. Dalam dua hal, sistem pendidikan di Timur Jauh menunjukkan karakter Amerika yang kuat. Pertama, semuanya berasal dari "kurikulum seimbang" rencana pembelajaran yang harmonis…Amerika telah memengaruhi pendidikan di Timur: Amerika sedang dalam proses menyebarkan sistem pendidikan jasmaninya ke seluruh Asia Timur dan Selatan. Ketika, pada tahun-tahun pertama setelah pendudukan Filipina, tentara Amerika memperkenalkan permainan mereka di antara para pemuda pribumi yang dengan malas menonton, beberapa klub bisbol dan bola jaring memang muncul, tetapi olahraga yang sesungguhnya masih kurang. Olahraga itu tetap terbatas pada beberapa asosiasi lokal yang bermain tanpa semangat kompetitif yang tinggi. Semangat ini baru bangkit ketika para guru di mana-mana turun tangan, dan terutama ketika persaingan antar-kota dan antar-provinsi muncul. Gubernur Jenderal Forbes berhasil membangkitkan minat umum dengan memberikan hadiah secara pribadi. Pada tahun 1905, ia menjanjikan perlengkapan bisbol lengkap di setiap provinsi untuk sekolah yang memiliki lapangan bermain terbaik. Dan ketika ia mengulangi hal ini setiap tahun, untuk kompetisi perolehan poin terbanyak dalam berbagai kategori. Pada tahun 1910, 483 tim sudah berpartisipasi dalam pertandingan’.
Kehadiran Amerika Serikat telah dengan cepat mengubah situasi dan kondisi di Filipinan. Di bidang pendidikan jasmani introroduksi permainan/cabang olahraga asal (buatan) Amerika menjadi salah satu yang menghubungkan Amerika Serikat dengan negara-negara Asia Pasifik khususnya di Filipina. Seperti disebut di atas, melalui Amerikaansch Young Men Christian Association (YMCA), sudah terealisasi pada tahun 1906 saja sebanyak 1.000 fasilitas untuk bola voli (dan bola tangan) dan 600 fasiltas untuk korfball (basket). Bagaimana dengan di Eropa, khusunya di Belanda? Ada yang disebut permaian korfball.
Algemeen Handelsblad, 01-10-1902: ‘Permainan Korfball. Kepada Editor. Artikel-artikel yang dikirimkan minggu lalu memberi saya alasan untuk memberi tahu Anda bahwa buku panduan untuk permainan baru yang dimaksud, korfball, yang diedit oleh N Broekhuijsen, akan segera diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Jasmani dengan harga yang wajar. 30 September 1902. Hormat saya, JCG GRASé, sekretaris BLO’. Algemeen Handelsblad, 08-04-1903: ‘Asal Usul Korfball. Sekarang, karena kaum muda perlahan mulai menyukai permainan yang menyenangkan ini, ada baiknya untuk secara singkat berbagi asal usulnya. "Korfball" diberi nama oleh James Naismith, Instruktur di Sekolah Pelatihan YMCA Internasional, Springfield, Massachusetts, dengan nama Basket-Bal, dan dimainkan di Amerika Utara, khususnya di Massachusetts, tetapi terutama di Boston, di sekolah-sekolah untuk anak laki-laki dan perempuan, dan juga kadang-kadang oleh pria dan wanita. Permainan ini tentu saja merupakan pengganti yang sangat baik untuk sepak bola bagi kaum wanita, karena permainan yang terakhir ini tidak pernah dimainkan oleh wanita dan anak perempuan. Prof Dr Koch mengatakan tentang permainan ini: "Dengan cara yang mirip dengan permainan sepak bola, hubungan baru terus berkembang dalam permainan yang sangat dinamis ini, di mana setiap pemain memiliki kesempatan untuk menunjukkan kecerdasan, ketenangan pikiran, kehati-hatian, dan rasa kebersamaan. Permainan ini lincah dan melelahkan, membutuhkan pengamatan cepat dan pengambilan keputusan yang cepat. Dalam sekejap, seorang pemain harus melompat atau berlari untuk meraih bola, dengan cepat memutuskan kepada pemain mana di timnya ia akan melempar bola, dan dalam semua ini harus berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan. Ini adalah permainan menangkap yang sangat baik yang layak mendapat tempat pertama di antara permainan menangkap". Nilai gimnastiknya yang tinggi segera diperhatikan oleh E Hermann dari Jerman, direktur senam di Rumah Sakit Massachusetts untuk Bantuan Medis, yang ayahnya, A Hermann, setelah mengenalnya, menggambarkannya secara sangat luas dan memasukkannya sejak tahun 1897 di antara "permainan yang diajarkan setiap tahun di kursus bermain Jerman". Bahwa orang Swedia itu tahu bagaimana memanfaatkan hal ini, yang, mengikuti contoh Jerman, telah mengadakan kursus drama di Naas pada musim panas tahun 1895, misalnya, terbukti dari kenyataan bahwa mereka juga dengan tepat mengadopsi korfball dan, pada kenyataannya, semua permainan batas dan bisbol, sebagai materi yang sesuai. Ini menjelaskan pendapat bahwa permainan ini berasal dari Swedia. Tentu saja, asal-usulnya tidak mengurangi signifikansi besar permainan ini, seperti yang baru-baru ini disampaikan oleh rekan senegara kita, Broekhuysen. De nieuwe vorstenlanden, 04-05-1903: ‘Para wanita bermain bola. Sebuah surat dari SW de Clereq, yang ditulis untuk Algemeen Handelsblad dan mengenai pertandingan bola basket antara dua asosiasi mahasiswa perempuan di Kentucky, memberikan gambaran yang bagus tentang kebiasaan Amerika. Surat itu dimulai sebagai berikut: Setelah kami dibuat penasaran selama beberapa hari oleh artikel surat kabar, poster, dan percakapan, hari besar akhirnya tiba di mana pertandingan antara mahasiswi Kentucky State College dan Kentucky University akan berlangsung. Galeri gimnasium (disebut gimnasium di sini) State College secara bertahap dipenuhi oleh kerumunan penonton yang ramai dan bersemangat, mengobrol dengan keras. Semuanya terwakili: wanita tua dan gadis muda, pria tua dan pria muda, dan sulit untuk mengatakan siapa yang paling cemas tentang hasil pertandingan. Banyak, terutama para gadis, tetapi bahkan para profesor, mengenakan dasi, dasi kupu-kupu, atau pita dengan warna salah satu sekolah. Tempat itu semakin penuh sesak, hingga tak ada satu pun tempat yang kosong, bahkan balok-balok di atas galeri pun dipenuhi penonton. Keramaian pun semakin meningkat; di sini orang-orang sibuk menghitung peluang, di sana beberapa gadis dengan bersemangat melambaikan bendera dan saputangan kepada rekan-rekan mereka di arena di bawah dan berusaha sekuat tenaga agar suara mereka terdengar di tengah kebisingan, sementara di sana beberapa mahasiswa, melihat kesempatan mereka di tengah keributan umum, merencanakan rayuan dengan ibu mereka di belakang punggung ibu mereka. Sementara itu, para mahasiswa laki-laki dari kedua perguruan tinggi tersebut menghibur diri dan orang lain dengan menyanyikan lagu-lagu mereka dan meneriakkan "teriakan" atau seruan mereka: terkadang dengan nada monoton, terkadang dengan gaya percakapan. Teriakan khas perguruan tinggi (di Kentucky State College CS. C. Ky.) misalnya: S. C. Ky, Ky, Ky, S: C. Ky, Ky, Ky, Hip! Hip! Hip! Hip! Aku berteriak, aku berteriak S. C. Ky. dan teriakan sepak bola adalah: Hip py-ty Huss I Hip-py-ty Huss! Apa-apaan sih kita ini? Tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa; Kita adalah anak-anak yang bermain sepak bola! Beberapa universitas meneriakkan teriakan perang Indian; jika aku tidak salah, di antaranya adalah Ra ra ra dari mahasiswa Harvard yang berasal dari sana. Oleh karena itu, teriakan-teriakan itu tidak memiliki makna yang mendalam, dan seseorang membutuhkan antusiasme mahasiswa yang tinggi untuk dapat menahan teriakan itu selama beberapa jam atau mendengarkannya tanpa merasa jengkel. Tetapi teriakan itu membawa kehidupan dan dengan demikian menjaga antusiasme tetap hidup di antara para pemain dan penonton, dan itulah yang terpenting. Kemudian, mereka meneriakkan berbagai macam komentar kebencian yang cukup polos satu sama lain secara serempak, yang dijawab dengan tawa mengejek atau siulan panjang, mengeong, dan mendesis. Tetapi semua penantian akan berakhir, dan sorak-sorai yang menggelegar, lambaian tangan dan gerakan dengan sapu tangan dan topi menyambut sinyal wasit untuk memulai. Di sepanjang, di atas, dan di antara topi-topi barisan wanita di depan saya, saya berhasil mengamati sebagian arena. Tetapi mereka tidak pernah diam; mereka terus menari dan melompat-lompat dengan gembira atau tiba-tiba berbalik untuk "mengatakan sesuatu" kepada mereka yang berdiri di belakang mereka. Sementara itu, beberapa wanita telah naik ke kursi di sebelah saya, di mana mereka terus saling berpegangan agar tidak kehilangan keseimbangan. Ketika pertandingan menegangkan, mereka berdiri diam, tetapi di saat berikutnya, dalam kegembiraan mereka, mereka melakukan gerakan-gerakan berbahaya sehingga saya sempat dipegang bahunya dengan gerakan kejang untuk memberikan dukungan. Setiap tim terdiri dari 5 pemain, dan tujuannya adalah melempar bola ke dalam keranjang kecil beberapa meter di atas tanah. Bola tersebut berukuran sama dengan bola yang digunakan dalam sepak bola, tetapi tidak boleh ditendang, hanya dilempar dari satu ke yang lain. Saling berpegangan dilarang; pemain hanya boleh saling menahan. Meskipun demikian, ini bukanlah permainan yang terlalu kasar dan tampaknya sangat populer terutama di kalangan perempuan, namun menurut saya permainan ini lebih cocok untuk laki-laki. Jika suatu permainan cocok untuk perempuan, pertama-tama mereka harus bisa memainkannya. Hal ini tidak berlaku untuk sepak bola dan kriket, misalnya, tetapi berlaku di sini. Kedua, permainan tersebut harus bisa dimainkan dengan anggun, dan dalam bola basket, jika ingin dimainkan dengan baik, hal ini tidak terjadi. Merah karena kelelahan atau pucat karena terlalu banyak berusaha, lelah dan terengah-engah dengan rambut acak-acakan, mereka terkadang jatuh dua atau tiga orang sekaligus dalam upaya mereka untuk merebut bola. Terkadang salah satu pemain jatuh sehingga ia tidak dapat lagi berpartisipasi dan salah satu pemain pengganti yang siap harus menggantikannya. Mungkin tinggal lebih lama di negara ini akan menghasilkan perubahan sikap dalam hal ini, tetapi siapa pun yang melihat permainan ini untuk pertama kalinya tidak menganggapnya sebagai olahraga yang sangat feminin. Tiga rusWaktu telah berakhir, dan saat akhir semakin dekat, ketegangan pun meningkat. Setiap gol tercipta, diikuti oleh ledakan antusiasme baru, sementara para pendukung setia bernyanyi, berteriak, dan bersorak tanpa lelah, meskipun suara mereka semakin serak. Setelah pertandingan yang sangat sengit, yang berakhir dengan sebuah gol, saya melihat seorang profesor melambaikan topinya seperti orang gila dan berteriak bravo, sementara para wanita di kursi sebelah saya berjabat tangan dengan gembira. "Tapi sebenarnya Anda mendukung siapa?" tanya salah satu dari mereka segera setelah itu, dengan sangat naif. Tak lama sebelum pertandingan berakhir, salah satu gadis jatuh tersungkur ke tanah, tetapi setelah dokter yang merawatnya menjahit lukanya, ia muncul kembali di arena di tengah sorak-sorai bravo* yang meriah, dan pertandingan berlanjut. Beberapa saat kemudian—peluit panjang dari wasit—dan State College menang. Kemudian diikuti oleh beberapa pidato yang penuh semangat dari para profesor dan mahasiswa, kapten tim pemenang yang terdiri dari lima orang menerima buket besar bunga anyelir, dan kerumunan perlahan bubar untuk berbicara panjang lebar tentang kemenangan besar tersebut. Menjelang senja, para mahasiswi State College menembakkan beberapa tembakan meriam untuk mengumumkan kemenangan rekan-rekan perempuan mereka kepada masyarakat. Dan surat kabar sore mendedikasikan kolom untuk kontes tersebut dan dengan suara bulat menyatakan bahwa para pemenang telah meraih kejayaan. Bagi orang non-Amerika, tentu ada sesuatu yang aneh dalam kegembiraan dan antusiasme umum tersebut, dan banyak pembaca akan berkata dalam hati: “Saya selalu berpikir orang Amerika itu aneh”. Tetapi di mana begitu banyak waktu dihabiskan untuk semua jenis latihan fisik, dan bahkan guru dan pendidik sangat terlibat dalam permainan anak-anak muda, suatu bangsa memperoleh ketangguhan dan ketekunan—‘keberanian’, seperti yang disebut di sini—seolah-olah ditanamkan sejak usia sangat muda. Dan bukankah ini bisa menjadi salah satu penyebab kemakmuran Anglo-Saxon?’.
Permainan voli buatan Amwerika belum terinformasikan di Eropa. Yang sudah terinformasikan di Belanda adalah permainan korfbal yang mirip dengan permainan (buatan Amerika) basket. Sementara itu, voli sudah diperkenalkan di sekolah-sekolah di Filipina. Seperti disebut di atas, pada tahun 1906, di Filipinan sudah terdapat sebanyak 1.000 fasilitas untuk bola voli (dan bola tangan) dan 600 fasilitas untuk basket.
Korfbal sendiri diciptakan di Belanda pada tahun 1902 oleh seorang guru sekolah bernama Nico Broekhuysen.. Secara harfiah kata "korf" berarti keranjang dan "bal" berarti bola. Pemain harus melempar bola ke keranjang setinggi 3,5 meter tanpa papan pantul. Setiap tim terdiri dari 8 pemain: 4 putra dan 4 putri. Bola tidak boleh dipantulkan atau didribel. Pemain harus mengoper bola ke rekan setim dan dilarang membawa bola sambil berlari. Lapangan dibagi menjadi zona serang dan zona bertahan.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar