*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Mangoenkoesoemo hanyalah seorang guru dengan banyak anak.Namun begitu guru Mangoenkoesoemo masih mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Untuk bergelar dokter ada empat anak. Yang tertua adalah Dr Tjipto. Tiga yang lainnya adalah Dr Boediardjo, Dr Goenawan dan Dr Samsoel. Tentu saja ada juga anak guru Mangoenkoesoemo yang bergelar insinyur dan sarjana hukum. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia
Dr Syamsul Maarif Mangoenkoesoemo lahir tahun 1897 sebagai anak kelima dari keluarga Mangunkusumo. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Melayu dan kepala sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Semarang. Hampir seluruh dari 11 bersaudara Mangunkusumo sukses meraih gelar sarjana dan doktor. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (Lahir 1886); Dr. Budiardjo (Lahir 1887) Dokter lulusan Belanda; Dr Gunawan Mangunkusumo (Lahir 1889) Dokter dan salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo.Badariyah (Lahir 1895); Dr Syamsul Maarif (Lahir 1897); Murtinah (Lahir 1899); Ir Darmawan (Lahir 1901) Insinyur kimia industri lulusan Universitas Delft; Kartinah (Lahir 1905); Kartono (Lahir 1907); Kartini (Lahir 1908); Mr Suyitno (Lahir 1909) Sarjana Hukum ekonomi/politik. Mengikuti jejak kakak tertuanya, Tjipto dan Gunawan, Syamsul Maarif masuk ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia. Setelah lulus dan resmi menyandang gelar dokter (Inlands Arts) Dr Syamsul Maarif mengabdikan dirinya dalam dunia kesehatan masyarakat (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah anak-anak guru Mangoenkoesoemo, tidak berumur panjang? Seperti disebut di atas, ada empat anak Mangoenkoesoemo yang bergelar dokter, tetapi tidak berumur panjang. Mereka itu adalah Goenawan, Samsoel, Boediardjo dan Tjipto. Lalu bagaimana sejarah keluarga dokter Mangoenkoesoemo, mengapa tidak berumur panjang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Pengantar Studi Kelayakan Bisnis
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Anak-Anak
Guru Mangoenkoesoemo, Tidak Berumur Panjang;
Goenawan, Samsoel, Boediardjo, Tjipto
Pada tahun 1908 diadakan Kongres Boedi Oetomo pertama pada akhir bulan September di Jogjakarta. Dalam Kongres Boedi Oetomo ini turut hadir Mas Mangoenkosoemo, guru di Semarang (lihat De Preanger-bode, 06-10-1908). Disebutkan dalam sesi pemilihan ketua, cabang-cabang Batavia, Buitenzorg, Bandung, Magelang, Yogyakarta I dan II, Probolingo, dan Surabaya telah mencalonkan kandidat di antaranya: RM Atmodirono, arsitek di Semarang; Mas Wahidin Soedirokoesodho; Mas Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter di Demak; Bupati Magelang; Bupati Karanganjer; Mas Mangoenkoesoemo, guru di Semarang; Mas Boediardjo (yang, bagaimanapun, menyatakan dengan rasa terima kasih bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk bertugas di pengurus utama); Mas Dwidjosewojo, guru di Yogyakarta; R Kamil, inspektur pendidikan pribumi; Pangeran Notodirodjo, Bupati Probolingo, Bupati Sitoebondo, dan Bupati Serang.
Setelah pemungutan suara, Bupati Karanganjar terpilih sebagai presiden; dan untuk wakil presiden adalah Wahidin. Delapan anggota dewan berikut kemudian terpilih, yang akan membagi berbagai fungsi di antara mereka: Mas Ngabei Dwidjosewojo, guru bahasa Jawa di sekolah keguruan di Djocja; Mas Sasrosoeganda, guru bahasa Melayu di Djocja; Mas Tjipto Mangoenkoesoema, dokter di Demak; Mas Wahidin Soedirokoesodho, pensiunan dokter Jawa di Djokja, Raden Mas Soenadiepoetra, kepala djaksa Bondowoso, Raden Adipati Danoekoesoema, bupati Magelang, RM Pandi Gonda Atmadja, wedana Pakoe Alaman RM Pandi Gonda Soemaria, kepala djaksa Soerakarta, kepala djaksa Bondowoso adalah orang Madura, sedangkan yang lainnya adalah orang Jawa. Pengumuman nama-nama orang yang terpilih disampaikan kepada public disambut dengan tepuk tangan meriah. Dalam pertemuan lanjutan, menurut laporan di "Java-Bode", rencana kerja dipresentasikan. Sebelumnya, Goenawan, seorang mahasiswa sekolah kedokteran, menyampaikan pidato yang bagus: ia berpendapat bahwa pekerjaan asosiasi sebenarnya terletak di desa untuk menggantikan konsep-konsep usang di sana dan memperkenalkan konsep-konsep modern mengenai pertanian, peternakan, dan kebersihan kepada masyarakat umum; Hanya dengan begitu seorang pejabat pribumi yang terampil akan mampu memastikan keberhasilan pelaksanaan semua rencana administrasi baru oleh penduduk. Pidato ini memicu banyak diskusi. Rencana kerja asosiasi ini sangat luas dan terutama bertujuan untuk meningkatkan dan memperluas pendidikan taman kanak-kanak, termasuk untuk anak perempuan; pengajuan permohonan lotere tunai besar untuk pendirian sebuah badan dengan kantor pusat di Djokja; perolehan modal yang diperlukan sebesar lima ribu gulden melalui penerbitan obligasi sebanyak lima ratus lembar saham dengan biaya berlangganan tiga gulden per tahun; publikasi akan dilakukan dua kali sebulan; seorang editor diminta melalui iklan; ia tidak boleh seorang pegawai negeri dan harus merupakan orang yang independen. Karena Bupati Magelang kemudian tampak keberatan untuk menduduki kursi di dewan eksekutif, Djaksa dari Garoet terpilih menggantikannya. Dari presentasi yang disampaikan, yang paling menonjol tentu saja adalah presentasi dari dokter istana Solo, Mangoen Hoesodo, yang menyampaikan permohonan dalam bahasa Jawa Tinggi untuk pelestarian bahasa dan peradaban Jawa, yang tidak menolak bahasa Belanda tetapi hanya ingin menggunakannya sejauh yang diperlukan untuk mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi, dan yang, di atas segalanya, menginginkan agar orang Jawa tetap menjadi orang Jawa. Pandangan yang memicu penentangan tajam dari mayoritas kongres. Bupati Temanggoeng juga mengajukan pertanyaan mengapa hanya Jawa dan Madura, dan bukan seluruh Insulinde, yang harus dimasukkan oleh asosiasi tersebut. Dewan menjawab bahwa tugas mereka akan menjadi terlalu komprehensif, sedangkan, terlebih lagi, rencana sudah ada di wilayah-wilayah terpencil untuk pembentukan asosiasi serupa; keduanya dapat saling mendukung di kemudian hari, tetapi dewan tidak menganggap asosiasi tunggal untuk seluruh kepulauan itu bijaksana. Seksi-seksi akan memutuskan kemudian apakah kontribusi minimum akan berjumlah 25 atau 10 sen per bulan. Pada kongres tersebut, digunakan bahasa Belanda, Melayu Tinggi, Melayu Rendah, dan Jawa.
Dalam Kongres Beodi Oetomo yang disebut di atas, terinformasikan tiga nama: Mas Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter di Demak; Mas Mangoenkoesoemo, guru di Semarang dan Goenawan, seorang mahasiswa sekolah kedokteran. Dalam hal ini, Mas Mangoenkoesoemo, guru di Semarang adalah ayah dari Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Goenawan adalah adiknya yang tengah kuliah di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia. Dalam pengurusan Boedi Oetomo yang pertama, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai salah anggota pengurus pusat (di Jogjakarta).
Mas Mangoenkoesoemo, guru di Semarang adalah guru senior. Putranya yang pertama (Tjipto) lulus sekolah kedokteran Docter Djawa School/STOVIA di Batavia pada tahun 1905. Setelah ditempatkan di Kandangan, Zuid Borneo, kini sebagai dokter bertugas di Demak. Juga masih ada putranya yang kuliah di di STOVIA. Mas Mangoenkoesoemo diduga adalah lulusan sekolah guru di Magelang. Hingga tahun 1884 hanya ada tiga sekolah keguruan di Jawa (Megelang, Bandoeng dan Probolinggo). Salah satu guru di sekolah guru Magelang adalah Raden Soejoed (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 04-01-1884). Raden Soejoed lulus sekolah guru dengan guru bantu (hulpacte) di Belanda. Guru lainnya yang juga lulusan Belanda adalah Raden Kamil yang diangkat kembali di Magelang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-02-1884). Namun karena ada reorganisasi pendidikan dan penghematan anggaran pada tahun 1884 sekolah guru di Megelang dan di Tondano akan ditutup (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 16-12-1884). Dalam perkembangannya terinformasikan diberhentikan dengan hormat: di sekolah guru di Magelang guru bahasa Melayu Mas Sasra Brata, guru seni dan menggambar Raden Mangkoe Dihardjo dan guru mengajar senam D Schoondermark (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1885). Sekolah guru terbaik di Hindia Belanda adalah sekolah guru di Probolinggo dan sekolah guru di Padang Sidempoeam (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-07-1885). Sekolah guru yang ada di Hindia Belanda terdapat di Padang Sidempoean (Residentie Tapanoeli); Fort de Kock (Res. Padangsche Bovenlanden); Bandoeng (Res. Preanger); Magelang (Res Kedoe); Probolinggi (Res Probolinggo); Bandjarmasing (Res Zuid Borneo); Tondano (Res Manado); dan Amboina (Res Amboina). Salah satu guru terkenal di sekolah guru Padang Sidempoean adalah Charles Adrian van Oppuijsen (sejak 1881). Besar dugaan bahwa Mas Mengoenkoesoemo adalah salah satu alumni terakhir dari sekolah guru di Magelang (Jawa bagian tengah). De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-07-1885: ‘Dalam ujian akhir yang diadakan pada bulan April lalu di sekolah pelatihan guru pribumi yang sekarang sudah tidak ada lagi di Tondano dan pada bulan Mei dan Juni lalu di sekolah pelatihan di Bandjermasin (divisi selatan dan timur Kalimantan), masing-masing diikuti oleh 6 dan 7 peserta pelatihan dari kelas tertinggi, yang semuanya memenuhi persyaratan”. Dalam hal ini sekolah guru di Tondano sudah ditutup.
Guru-guru pribumi sudah sejak awal, tidak hanya mengajar di sekolah, juga turut membangun bangsa melalui persatuan di dalam organisasi. Hal itu karena sejak awal hanya ada dua sekolah tertinggi untuk pribumi: sekolah kedokteran (Docter Djawa School) dibuka di Batavia tahun 1851 dan kemudian di susul dengan pembukaan sekolah guri di Soerakarta tahun 1852. Lalu tahun 1856 didirikan sekolah guru di For de Kock (1856) dan di Tanobato (1962). Sekolah guru Tanobato dipimpin oleh pribumi sendiri Sati Nasoetion alias Willem Iskander lulusan sekolah guru di Belanda (lulus 1860). Sekolah guru di Padang Sidempoean adalah sukses sekolah guru di Tanobato. Lulusan sekolah guru Padang Sidempoean setelah pension banyak yang terjun ke dunia jurnalistik, seperti Haji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, pemimpin surat kabar Pertja Barat di Padang mendirikan organisasi kebangsaan pribumi pertama tahun 1900 yang diberi nhama Medan Perdamaian. Adik kelasnya Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan melanjutkan studi ke Belanda tahun 1904 dan pada tahun 1908 ini mendirikan organisasi mahasiswa di Belanda yang diberi nama Indische Vereeniging. Demikianlah guru berjuang dengan caranya sendiri seperti halnya Mas Mangoenkoesoemo yang menjadi ketua Boedi Oetomo cabang Semarang.
Bataviaasch nieuwsblad, 17-12-1908: ‘Boedi Oetomo. Pada hari Minggu, sebuah pertemuan diadakan di aula Kebun Kota Semarang untuk mendirikan cabang Boedi Oetomo Semarang. Minat yang ditunjukkan oleh masyarakat Jawa lebih besar dari yang diharapkan; tidak kurang dari seribu orang, termasuk banyak peziarah dan jamaah haji, tetapi sebagian besar masih di bawah umur, memadati aula—yang, kebetulan, sama sekali tidak cocok untuk pertemuan seperti itu—jauh sebelum waktu pembukaan tiba. Di antara yang hadir tercatat Bupati Semarang, empat inspektur, Wakil Inspektur Pendidikan Pribumi di Seksi 2, dan berbagai pejabat Kehakiman Pribumi, sementara telegram ucapan selamat telah tiba dari Ketua Boedi Oetomo, Bupati Karanganjar. Mas Hangoenkoesomo, kepala paduan suara pribumi kelas 1 di Semarang, membuka pertemuan dengan salam sambutan dan kemudian menyampaikan pidato dalam bahasa Melayu. Markas Besar menekankan manfaat sebuah perkumpulan secara umum. Dewan Direksi membayangkan untuk mempersiapkan para anggota menghadapi perjuangan hidup, yang semakin sulit dari hari ke hari. Cara utama untuk mencapai tujuan ini, antara lain, adalah pengembangan spiritual dan meninggalkan kebiasaan yang menghambat kemajuan fisik dan material. Jalan kita adalah untuk mendapatkan bagian yang layak dalam keuntungan perdagangan dan industri. Hal ini tentu saja harus disertai dengan praktik kebajikan, termasuk hemat, tekun, terampil, dan semangat kewirausahaan. Melalui ini, kita dapat membentuk modal yang membuat kita kuat secara ekonomi. Para pemilik tanah dan pedagang besar, yang melakukan perdagangan luas, seperti di Eropa dan Amerika, tidak memiliki kepemilikan apa pun di antara suku Jann. Seluruh perdagangan berada di tangan orang Eropa dan Tiongkok. Beberapa penyebab berkontribusi pada hal ini, antara lain bahwa pedagang pribumi biasanya tidak dianggap sebagai bawahan; oleh karena itu mereka dianggap sebagai bawahan, dan orang-orang yang ingin memegang posisi tidak berpikir untuk mencari nafkah melalui perdagangan. Ini tidak boleh terjadi lagi di zaman sekarang; kelas pedagang harus dihapuskan. Para pedagang pun harus dimasukkan dalam jajaran pejabat, seperti halnya di kalangan orang Eropa. Mengenai praktik kebajikan, pendidikan anak-anak harus dipertimbangkan terlebih dahulu dan terutama. Mereka harus dibiasakan sejak usia muda dengan cara hidup yang sederhana dan hemat. Sudah pasti bahwa perkembangan suatu bangsa tidak mungkin terjadi jika pendidikan tidak dikenal. Dengan demikian, pendidikan populer adalah fondasi pembangunan suatu bangsa. Kami senang mencatat bahwa masalah sekolah lokal saat ini sedang dibahas oleh pemerintah. Oleh karena itu, kami berharap dengan sepenuh hati agar pemerintah mencapai apa yang diinginkannya, yang sangat penting bagi bangsa kita. Pendidikan pribumi di kalangan masyarakat Jawa berada di jalur yang benar; saat ini, kita sedang berurusan dengan pendidikan Eropa. Di sekolah-sekolah pribumi kelas satu, pengajaran saat ini juga diberikan dalam bahasa Belanda dari kelas tiga hingga kelas enam. Dengan menyesal, kami harus menyimpulkan bahwa, menurut pendapat kami yang rendah hati, ini tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Bahasa pengantar tentu saja bahasa Belanda atau — bukan bahasa lisan — karena bahasa Belanda tidak akan digunakan, karena para murid tidak memahaminya, demikian pula bahasa Jawa atau Melayu, karena tidak dapat diasumsikan bahwa seorang guru Eropa dapat menggunakan bahasa-bahasa tersebut dengan baik. Oleh karena itu, pendidikan berada dalam keadaan yang dapat dikatakan secara apriori tidak akan membuahkan hasil yang baik. Akan lebih baik jika pengajaran dalam bahasa Belanda juga diberikan sejak kelas satu; para murid kemudian akan mempelajari bahasa tersebut selama enam tahun dan hasilnya akan lebih sesuai dengan harapan. Daripada yang terjadi saat ini, atau lebih tepatnya, pendidikan dalam bahasa Belanda di sekolah-sekolah dasar pribumi kelas satu harus dihapuskan dan sekolah-sekolah untuk masyarakat pribumi dengan pendidikan dasar Eropa, selaras dengan sekolah-sekolah untuk dokter dan perwira pribumi, KWS, BAS, sekolah menengah atas, dll. Cabang Semarang dari BO saat ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan dalam pendidikan Eropa, antara lain dengan mendirikan Fröbelschool. Pidato tersebut, yang disampaikan dengan ocehan yang terlalu lemah, didengarkan dengan penuh persetujuan dan sesekali disela oleh sorak sorai tepuk tangan. Mengenai debat menarik selanjutnya, di mana cara penyampaian yang lancar menarik perhatian, sangat disayangkan bahwa hampir tidak ada pembicara yang menoleh ke publik, tetapi menganggap dewan secara eksklusif sebagai audiens. Sementara itu, tidak banyak hal penting yang dibahas. Apa yang meyakinkan dalam pertemuan ini, menurut Loc, adalah: bahwa Gerakan dari Yogyakarta memiliki pengaruh yang kuat, bahwa para ulama tidak menarik diri darinya, bahwa gerakan tersebut terutama bermanifestasi di kalangan masyarakat pribumi dan bahwa untuk saat ini berfokus pada kepentingan sosial dan mengesampingkan semua politik. Kesan yang diperoleh dalam hal ini sangat menentukan. Selama pertemuan, sekitar 325 anggota hadir, sementara diumumkan bahwa masyarakat pribumi, dengan 160 anggota, akan bubar secara keseluruhan ke dalam divisi tersebut. Pengurus terdiri dari para pria: M Mangoenkoesoemo, kepala sekolah pribumi, presiden; M Abdoel Moestam, guru sekolah pribumi, wakil presiden; R Soedjono, partikelir, sekretaris; R Tirtoredjo, petugas kadaster, bendahara. Anggota (komisaris): R Koesoemoprodjo, wakil. Kepala djaksa, R Sastrokoesoemo, asisten wedana Wetan, Tasan bin Tasripin, pedagang, Kasidjan alias Karsidin, pandai besi, Artosoedarmo, alias Andjilin, partikelir dan R Pramoe, partikelir, semuanya di Semarang. Anggota (penasihat): RMA Ario Poerbo Hadiningrat, bupati, R Kamil, adj. inspektur, Aboekasan Admodirono, arsitek, RM Soenarjo, sub-kolektor dan hadji Mohamad Tajib, kepala pengoeloe. Pertemuan ini telah menjadi keberhasilan besar bagi gerakan Pemuda Jawa’.
Pada tahun 1909 Samsoel Maarif dalam ujian transisi di STOVIA lulus naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat De Preanger-bode, 16-09-1909). Satu kelas dengan Samsoel Maarif adalah Abdoel Madjid (saudara seayah dengan RA Kartini). Di atas mereka satu tahun antara lain Amir Hamzah dan Satiman. Setahun diatasnya lagi Radjamin Nasoetion, R Sardjito dan Sjahboedin. Di tingkat medik yang naik dari kelas satu ke kelas dua antara lain Abdoel Rasjid Siregar; setahun di atasnya antara lain Mohamad Sjaaf dan Soesilo; diatasnya lagi antara lain R Anka, Boediardjo dan JB Sitanala. Untuk yang naik dari kelas empat ke kelas lima antara lain PL Augustin, AB Andu, R Soetomo, R Slamet, M Soeleiman. Di kelas tertinggi yan naik dari kelas lima ke kelas enam antara lain Soewarno dan JA Warouw. Lantas mengapa tidak ada nama Goenawan di dalam daftar yang diberitakan? Boleh jadi masih ujuan her, atau sedang menunda kuliah.
Pada tahun 1911 Samsoel Maarif lulus ujian transisi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Ini mengindikasikan bahwa Samsoel Maarif lancar dalam studi. Di kelas-kelas tertinggi naik dari kelas tiga ke kelas empat antara lain Abdoel Rasjid Siregar; dari kelas empat ke kelas lima antara lain Mohamad Sjaaf, R Soesilo; dari kelas lima ke kelas enam antara lain: Angka, Sitanala dan Soeradji. Lalu mengapa tidak ada nama R Boediardjo dalam daftar? Boleh jadi masih ujuan her, atau sedang menunda kuliah. Catatan: R Soesilo adalah adik dari R Soetomo (ketua pendiri Boedi Oetomo). Bagaimana dengan Boediardjo?
Untuk kelas tertinggi diadakan ujian terpisah untuk mendapat gelar dokter Indisch Arts. Yang lulus ujian akhir dengan pada tahun 1911 adalah Raden Soetomo, Mas Goenawan, J Latumeten, Raden Slamet, Mas Mohamad Saleh, A Andu, Raden Mas Goembrek dan Mas Ramelan (lihat De Preanger-bode, 16-09-1909). Raden Soetomo, Mas Goenawan, Mas Mohamad Saleh dan Raden Mas Goembrek adalah pendiri Boedi Oetomo pada bulan Mei 1908 di Batavia.
Mas Goenawan sudah lulus dokter tahun 1911. Itu berarti sudah ada dua anak dari guru Mangoenkoesoemo yang telah menjadi dokter. Anak yang pertama adalah Dr Tjipto yang lulus tahun 1905. Lalu bagaimana dengan Mas Boediarjo? Yang jelas Mas Samsoel Maarif baru lulus ujian transisi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik. Mas Boediarjo pada tahun 1912 sudah lulus ujian akhir (bagian-1). Tinggal satu kali ujian lagi.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-04-1912: ‘Stovia. Sekolah untuk pelatihan dokter Pribumi. Ujian akhir (bagian 1). Lulus: Augka; Aripin; Agoesdjam; Boediardjo; A Lumanauw; Mohammad Stamboel; Roetap: JB Sitanala; Soeradji; F Tumbelaka’.
Akhirnya Mas Boediardjo lulus ujian akhir di STOVIA dan mendapat gelar dokter (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-08-1912). Disebutkan diangkat sebagai dokter pribumi di Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (Pelayanan Kesehatan Sipil). Raden Angka, Mohamad Roetap Zakir galar Soetan Palembang, Mas Boediardjo, JB Sitanala, Raden Mohamad Stamboel, Aripin, JF Tumbelaka dan A Lumanauw.
Bataviaasch nieuwsblad, 28-07-1913 Mas Samsoel Maarif naik dari kelas dua ke kelas tiga. Mas Samsoel Maarif tampaknya lancar studi. Pada tahun 1917 naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat De Preanger-bode, 07-07-1915).
Dr Goenawan setelah berdinas beberapa tahun mengajukan diri cuti untuk melnajutkan studi ke Belanda. Dr Goenawan berangkat bulan Desember ke Belanda (lihat Sumatra-bode, 30-12-1916). Disebutkan kapal ss Sindoro berangkat dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana dalam manifes kapal terdapat nama Goenawan Mangoenkoesoemo bersama istri. Di Belanda, Goenawan mengikuti studi kedokteran di Universiteit Amsterdam.
Pada tahun 1917 Samsoel Maarif lulus ujian akhir dengan mendapat gelar dokter (lihat De locomotief, 15-06-1917). Disebutkan lulusan Stovia. Lulus bagian pertama ujian akhir di STOVIA: Joediono dan Oemar. Lulus bagian kedua: Samsoel Maarif dari Semarang, Satiman dari Solo, Soejoet dari Poerworedjo, Soemadiono dari Blora.
Empat anak guru Mas Mangoenkoesoemo telah menjadi dokter. Suatu prestasi yang mungkin tidak ada tandingannya. Yang satu keluarga memiliki dua lulusan dokter antara lain adalah keluarga Dr Soetomo yang mana adiknya juga Raden Soesilo telah lulus dokter. Keluarga Dr Haroen Al Rasjid Nasoetion juga ada dua yang telah lulus dokter dan satu lagi masih kuliah kedokteran.
Abdoel Azis Nasoetion seorang lulusan sekolah guru di Tanobato. Pada tahun 1902 anak guru Abdoel Azis Nasoetion bernama Haroen Alrasjid lulus dokter. Lalu kemudian anaknya Abdoel Hakim lulus dokter tahun 1905 (bersama dengan kelulusan Dr Tjipto). Masih ada anaknya Maamoer Alrasjid yang kuliah bernama Maamoer Alrasjid. Pada tahun 1919 Maamoer Alrasjid lulus (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-05-1919). Disebutkan ujian Indisch Arts: Amlr Hamzhk, Soeraardjo, Ardjienatin, Noerdin, Mobamad Rasjid, Maamoer Rasjid, Akman, Abdoel Hakim dan Makaliwe.
Di Belanda, pada tahun 1918 dalam pertemuan Indische Vereeniging yang ke-10 Goenawan Mangoenkosoemo terpilih menjadi ketua Indische Vereeniging (lihat Het vaderland, 26-11-1918). Goenawan Mangoenkosoemo menggantikan RM Notodiningrat yang kuliah di bidang teknik sipil di Delft.
Pada tahun 1919 anaknya guru Mas Mangoenkoesoemo bernama Darmawan lulus sekolah menengah HBS di Semarang (lihat De locomotief, 07-06-1919). Disebutkan ujian akhir di HBS Semarang, yang lulus antara lain Darmawan. Tidak seperti saudara-saudaranya setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS), Darmawan melanjutkan ke sekolah HBS di Semarang. Lantas apakah Darmawan akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi? Masih pada tahun 1919 ini terinformasikan Goenawan Mangoenkoesoemo lulus ujiak akhir di Amsterdam dan mendapat gelar dokter (lihat De Maasbode, 08-10-1919). Goenawan disebutkan lahir di Patjangaan, afd. Jepara. Goenawan akan bersiap-siap untuk pulang ke tanah iar. Sementara itu tugas Goenawan di Indische Vereeniging telah berakhir dan digantikan oleh Dahlan Abdoellah.
Pada bulan April 1920 Goenawan kembali ke tanah air (lihat De avondpost, 02-04-1920). Disebutkan kapal ss Prinses Juliana pada tanggal 3 April berangkat dari Amsterdam dengan tujuan akhir Batavia dimana terdapat nama Goenawan dengan istri. Dari keterangan ini selama empat tahun (1916-1920) di Belanda, Goenawan dan istri belum memiliki anak.
Tidak lama kemudian rekan Goenawan di Belanda, Sorip Tagor, lulus dari Rijksveeartsenijschool, Utrecht dan mendapat gelar dokter hewan (Dr) pada tahun 1920 (lihat De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 02-07-1920). Sorip Tagor Harahap adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar dokter hewan. Sementara itu pada tahun 1920 di Rijksveeartsenijschool JA Kaligis diterima. JA Kaligis berangkat studi kedokteran hewan ke Belanda awal tahun 1920 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-01-1920). Disebutkan kapal Grotius akan berangkat tanggal 31 Januari dari Batavia dengan tujuan akhir Amsterdam. Setelah mendapat gelar dokter hewan, Sorip Tagor pulang ke tanah air. Pada tahun 1920 ini juga terinformasikan Raden Soeratmo dan Raden Singgih berangkat ke Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-08-1920). Disebutkan kapal ss Prins der Nederlanden berangkat dari Batavia tanggal 26 Agustus dengan tujuan Amterdam dimana di dalam manifest tercatat Raden Singgih dan Raden Soeratmo. Nam yang juga tercatat adalah Raden Gondokoesoemo dan Raden Moehiman dan Raden Sosromoegono serta Mas Soemardi. Catatan: Raden Singgih dan Raden Gondokoesoemo lulusan sekolah hokum (rechtschool) di Batavia. Raden Soeratmo lulus dari sekolah kedokteran hewan (veeartsenschool) di Buitenzorg tahun 1918 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-06-1918). Raden Soeratmo adalah adik dari Dr Soetomo (yang juga sedang kuliah di Belanda).
Pada tahun 1921 Darmawan terinformasikan sudah kuliah di Delft (lihat De avondpost, 16-06-1921). Disebutkan di Technische Hoogeschool te Delft. Lulus ujian propa, bidang teknik kimia antara lain Mas Darmawan. Disebutkan Darmawan Mangoenkoesoemo lahir di Poerwadadi (sama dengan Dr Tjipto).
Lantas kapan Darmawan berangkat ke Belanda? Tidak terinformasikan. Namun diduga segera setelah lulus HBS di Semarang pada tahun 1919. Di fakultas ini yang mengambil teknik kimia sudah ada terlebih dahulu yakni Raden Soerachman. M Soerachman Tjokrodisoerjo lulus ujian di Technische Hoogeschool te Delft gelar insinyur teknik kimia tahun 1920 (lihat De Maasbode, 18-06-1920). Ir Soerachman pulang ke tanah air tahun 1921 (lihat Het nieuws van den dag, 23-05-1921).
Sementara itu, Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo pada tahun 1922 Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo berangkat ke Belanda (lihat De Preanger-bode, 08-08-1922). Kapal ss Rembrant tiba di Amsterdam tanggal 10 September di dalamnya tercatat nama Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo dan Soebiarto (lihat Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage, 07-09-1922). Dengan demikian, Mas Darmawan kembali didampingi oleh saudaranya di Belanda. Apakah Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo akan mengikuti jejak saudaranya Goenawan Mangoenkosoemo?
Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo tampaknya tidak lama di Belanda. Pada bulan Februari terinformasikan Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo kembali ke tanah air (lihat De avondpost, 26-02-1923). Disebutkan kapal ss Tjerimai berangkat dari Rotterdam dengan tujuan akhir Batavia dimana di dalam manifest kapal tercatat nama Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo.
Pada bulan Juli 1924 Darmawan Mangoenkoesoemo diberitakan lulus ujian akhir dan mendapat gelar insionyur teknik kimia (lihat Delftsche courant, 02-07-1924). Ir Darmawan Mangoenkoesoemo kembali ke tanah air.
De courant Het nieuws van den dag, 11-07-1925): ‘Seorang insinyur pribumi yang baru saja tiba dari Belanda tidak bisa mendapatkan pekerjaan di Pemerintah, yang ia telah ditugaskan dari Belanda. Ini menyangkut insinyur kimia muda Darmawan Mangoenkusoemo, saudara dari pemimpin rakyat yang terkenal Tjipto Mangoenkoesoemo. Selama studinya, ia tampaknya telah terlibat oleh tindakan anti-Belanda yang keras, dan sekarang harus hidup sebagai guru di sekolah nasionalis di Djokja dengan gaji f30 per bulan’.
Goenawan, Samsoel, Boediardjo, Tjipto; Empat Dokter, Masing-Masing Satu Insinyur dan Sarjana Hukum
Anak bungsu guru Mangoenkoesoemo bernama Soejitono baru lulus ujian akhir sekolah menengah HBS di Semarang (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 11-05-1929). Guru Mangoenkoesoemo saat ini sudah menua. Bisa dibayangkan, anaknya yang pertama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah kedokteran tahun 1905. Tjipto sendiri masuk sekolah kedokteran tahun 1898. Itu berarti guru Mangoenkoesoemo hampir tidak henti membiayai anak-anaknya untuk tetap melanjutkan studi. Lantas, apakah guru Mangoenkoesoemo masih mampu membiaya studi anak bungsunya Soejitno?
Guru Mangoenkoesoemo tentu saja khawatir jika anak bungsunya tidak bida melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Sebab guru Mangoenkoesoemo sudah lama pension dari semua aktivitasnya. Bisa jadi masih ada tabungan yang tersisa. Bagaimana dengan Soejitno sendiri? Apakah Soejitno akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Soejiton muda berada diantara baying-bayang orang tua yang sudah menua dengan bayang-bayang saudaranya apakah akan membantunya jika ingin melanjutkan studi? Tentu saja, Soejitno mengetahui bahwa saudara sulungnya Dr Tjipto masih berada di pengasingan di Banda. Bagi kita yang berada di luar keluarga mereka, kekhawatiran guru Mangoenkoesoemo dan kekhawatiran Soejitno muda tidak beralasan. Masih ada Dr Goenoewan, Dr Boediardjo dan Ir Darmawan yang sudah tentu tidak akan menyia-nyiakan cita-cita adik bungsu mereka jika ke perguruan tinggi. Bagaimana dengan Dr Samsoel Maarif? Sudah sejak akhir tahun 1925 tidak pernah terinformasikan. Terakhir terinformasikan sebagai dokter di rumah sakit Lawang, Residentie Malang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-09-1925). Saat ini tengah berkecamuk wabah kolora. Dr Tjipto juga yang sebelumnya buku praktek dokter swasta Soerakarta dilibatkan pemerintah untuk turut menangani wah di Kapandjen (Malang selatang). Lalu, apakah Dr Samsoel Maarif telah tiada?
Lalu, apakah Soejitno muda akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi? Belum terinformasikan. Yang terinformasikan adalah Dr M Goenawan Mangoenkoesoemo dikabarkan meninggal dunia. Goenawan Mangoenkoesoemo meninggal dunia pada usia 39 tahun. Dr M Goenawan Mangoenkoesoemo dimakamkan ke Ambarawa di makam keluarga. Pemberangkatan dari rumah orang tua almarhum di Peterongan (Semarang). Dr M Goenawan Mangoenkoesoemo bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Sipil Pusat di Semarang.
De locomotief, 27-05-1929: ‘Dr M. Goenawan Mangoenkoesoemo Meninggal. Dengan sedih, komunitas medis Semarang mengetahui pagi ini tentang wafatnya Dr M Goenawan Mangoenkoesoemo secara mendadak, dokter pemerintah kelas satu, yang berafiliasi dengan C.B.Z., di Semarang. Hanya sedikit yang mengetahui hal ini; bahwa kondisi kesehatan Dr. Goenawan sudah tidak seperti seharusnya selama beberapa waktu, dan mereka yang mengetahuinya tidak dapat memperkirakan bahwa akhir hayat akan datang begitu tiba-tiba bagi dokter yang masih relatif muda ini. Ketika bantuan dua dokter dipanggil tadi malam, mereka menemukan kolega mereka sedang sekarat. Kematian terjadi pada pukul setengah tiga. Seorang dokter terhormat dan dokter yang sangat dihargai oleh rekan-rekannya telah meninggal dunia bersama Dr Goenawan. Ia baru bekerja di C.B.Z. Semarang relatif baru-baru ini. Ia tiba di sini pada bulan September 1928, setelah baru saja kembali dari Eropa, tempat ia tinggal untuk menyelesaikan tugas studi. Dr. Goenawan, yang menerima pelatihan medis awalnya di Stovia di Weltevreden, yang kemudian bekerja di Daerah Luar Jawa untuk waktu yang cukup lama, lalu bekerja sebagai asisten guru di Stovia sebelum berangkat ke Belanda untuk mendapatkan gelar kedokteran Eropa, sangat tertarik pada penyakit menular yang telah lama merenggut banyak korban di negara-negara Eropa dan mengenai kemunculannya di Hindia, data yang mengkhawatirkan secara bertahap muncul. Oleh karena itu, tugas studi di Eropa mengharuskan, sebisa mungkin, untuk membiasakan diri dengan keadaan ilmu pengetahuan di bidang ini di pusat-pusat penelitian tuberkulosis. Ketika kembali ke Hindia, direktur Biro Pusat Statistik Semarang berhasil mengatur agar Dr. Goenawan ditempatkan di lembaganya secara khusus dengan tujuan untuk mendirikan di kota kita sebuah unit untuk mempersiapkan pengendalian tuberkulosis dan mungkin untuk mempertimbangkannya di kemudian hari. Perawatan akhir departemen tersebut di Rumah Sakit Pusat tempat pasien tuberkulosis dirawat dipercayakan kepada almarhum dokter; lebih lanjut, tugasnya terdiri dari mengumpulkan data dan materi statistik yang akan memungkinkan layanan tersebut untuk memberikan wawasan yang lebih jelas tentang sejauh mana ancaman yang ditimbulkan tuberkulosis, menurut banyak orang, juga akan ditimbulkan bagi Hindiat. Dr. Goenawan, yang memiliki dasar, beliau mengerjakan tugasnya dengan penuh dedikasi dan energi. Beliau mengumpulkan data penting dari berbagai sumber, antara lain studi tentang prevalensi tuberkulosis di kalangan anak sekolah dan pasien rawat jalan di Rumah Sakit Pusat dan Mardi Waloejo. Kecenderungan ilmiahnya membawanya pada studi mendalam tentang sampel darah dari pasien tuberkulosis, sebuah studi yang sangat diharapkan olehnya dan juga oleh banyak koleganya. Kematian yang tak kenal ampun telah mengakhiri hidupnya dan mencegah penyelesaian pekerjaannya. Goenawan Mangoenkoesoemo meninggal dunia pada usia 39 tahun. Almarhum adalah saudara dari Dr. Tjipto dan Mas Boediardjo Mangoenkoesoemo, seorang dokter pemerintah yang sangat dihormati di Hindia Belanda di Wonosobo. Pemakaman jenazah akan dilaksanakan besok di Ambarawa di makam keluarga. Pemberangkatan dari rumah orang tua almarhum di Peterongan besok pagi pukul delapan’.
Guru Mangoenkoesoemo dan Soejitno muda boleh jadi yang sangat terpukul dengan meninggalnya secara mendadak Dr M Goenawan Mangoenkoesoemo. Saat ini Soejitno masih tinggal dengan orangtuanya di Semarang. Seperti disebut di atas, saudara sulung Dr Tjipto diasingkan di Banda; Ir Darmawan tinggal di Buitenzorg (sebagai tenaga ahli industri di Dinas Pertanian); Dr Boediardjo ditempatkan sebagai dokter di Wonosobo.
De locomotief, 31-05-1930: ‘M. Mangoenkoesoemo Meninggal. Kemarin, Bapak M Mangoenkoesoemo, seorang pensiunan guru pribumi, meninggal dunia di kota ini (Semarang) pada usia 60 tahun. Bapak Mangoenkoesoemo adalah tokoh yang dihormati di kalangan pendidikan pribumi. Beliau juga pernah menjabat di dewan kota (gemeenteraad) Semarang. Empat putranya, di antaranya Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang terkenal sebagai putra tertua, menjadi dokter; dua di antaranya telah meninggal dunia. Putra kelima bekerja sebagai insinyur di Dinas Pertanian di Buitenzorg’.
Soejitno muda semakin berat tingkat kesedihannya setelah kini sang ayah meninggal dunia. Dua saudaranya Dr Goenawan dan Dr Samsoel Maarif juga telah meninggal dunia. Saudara sulung Dr Tjipto sejak 1927 berada di pengasingan di Banda. Namun begitu, masih ada saudaranya Dr Boediardjo di Wonosobo dan Ir Darmawan di Buitenzorg. Tentu saja Dr Tjipto di pengasingan juga sangat sedih karena tidak bisa menghadiri pemakaman sang ayah di Ambarawa.
De koerier, 17-09-1930: ‘Akhirnya, kami menerima surat keempat: TJIPTO MANGOENKOESOEMO, Dokter Hindia: ‘Anakku sayang, aku telah mendengar sesuatu tentang bank P.P.P.K.I. Konon mereka telah mengumpulkan 1 juta guilder untuk itu. Tak perlu dikatakan, aku sangat gembira mendengar berita itu. Meskipun aku tidak tahu hubungan antara gerakan P.P.P.K.I. dan bank tersebut, aku rasa aku tidak terlalu berani ketika berasumsi bahwa orang-orang kapitalis juga nasionalis. Roedjito adalah sepupuku. Dia juga saudara iparku. Sebagai seorang ahli keuangan, dia cukup cakap. Jika bank tersebut berada di bawah kepemimpinannya secara langsung, maka aku tahu persis ke mana harus menginvestasikan seratus ribu guilderku. Dia aktivis dan berhati-hati. Biarkan dia maju. Berita itu telah menjadi penghiburan bagiku selama masa-masa sulit ini. Terutama penghiburan, karena Salim memang telah mengecewakanku dengan tulisannya yang gegabah. Sekarang aku percaya bahwa dia akhirnya akan mengalah. Jika dia tidak mau, maka saudaranya Tjokro pasti akan memaksanya. Tjokro adalah seorang oportunis. Dan sebagai seorang oportunis, dia akan sangat yakin bahwa perseteruan dengan PNI akan sangat merugikan PSI. Tetapi semua ini tidak membebaskan Anda dari kewajiban untuk mempersenjatai diri melawan Salim di masa depan. Oleh karena itu, saya akan melanjutkan pengaduan saya terhadap Salim ke Dewan Kehormatan PPPKI. Saya telah memberikan beberapa argumen kepada Anda dalam surat saya sebelumnya. Konsultasikan sumber mana pun yang Anda inginkan, dan jika ada pembicaraan tentang Islam sebagai kekuatan, Anda juga akan menemukan pembicaraan tentang despotisme berturban. Salim belum tersedak kebohongan pertamanya. Namun, saya mungkin berbicara secara membabi buta tentang warna. Saya tidak tahu faktor-faktor apa yang harus menentukan apakah Anda harus mengambil tindakan terhadap Salim atau tidak. Suara saya mungkin hanya berfungsi sebagai pendapat penasihat bagi Anda. Anda harus benar-benar merancang dan melaksanakan tindakan Anda secara independen. Saya mendengar sesuatu dari kolega Anda Darinawan tentang masalah Soebrata. Mereka mengatakan bahwa pria ini akan mengundurkan diri. Maka kursinya akan diberikan kepada saya. Tidak, kata Darmawan, karena mereka pasti akan menemukan satu trik atau lainnya untuk menyingkirkan saya dari Dewan Rakyat. Anda tahu bahwa saya bukan seorang non-kooperator. Dan Anda juga tahu bahwa saya telah bungkam tentang masalah ini selama tidak perlu berbicara. Saya merasa sangat dekat dengan para non-kooperator, tanpa yakin bahwa prinsip mereka benar. Tetapi jika pemerintah memang mengabaikan saya untuk memuaskan rasa balas dendamnya, maka saya pikir Anda mungkin akan memanfaatkan kesalahan politik ini. Saya sendiri akan tetap diam dalam tujuh bahasa. Apa pun tidak masalah bagi saya: kursi kehormatan di Taman Duke sama baiknya dengan pantai di Neira. Tetapi Anda, sebagai pemimpin kelompok oposisi, tidak boleh pasrah pada kenyataan bahwa — untuk kesekian kalinya ini? — hukum dijadikan alat untuk membalas dendam pemerintah yang sedang berkuasa. Saya menjawab Darmawan bahwa Soebrata tidak akan mengundurkan diri. Bapak itu adalah seorang pegawai negeri. Pemerintah selalu tahu bagaimana berurusan dengan orang-orang seperti itu. Begitu Hillen berhasil membawanya ke depan pintu, Anda akan melihat betapa sedikitnya keberatan yang akan dia ajukan untuk melanjutkan keanggotaannya di Dewan Rakyat. Saran saya kepada Anda di atas tidak menyiratkan penolakan terhadap prinsip-prinsip non-kooperasi Anda. Anda dapat memperjelas bahwa ini bukan tentang kasus khusus ini, tetapi tentang betapa kecilnya nilai yang diberikan pemerintah sendiri terhadap peraturan-peraturannya. Salam T---- Tolong jangan membaca di sisi baliknya sebuah permintaan dari saya kepada Anda untuk meninggalkan prinsip-prinsip non-kooperasi Anda. Yang saya sarankan hanyalah untuk mungkin memanfaatkan kebodohan menginjak-injak hukum sendiri. Tanyakan saja kepada mereka bagaimana Anda dapat melakukan ini. Secara revolusioner, itu menjanjikan panen yang sangat melimpah. Ngomong-ngomong, bagi gerakan ini, saat ini "bintang terang" (istilah yang merujuk pada situasi yang berkembang). Chiang Kai Sek tentu telah memajukan gerakan kita setidaknya selama 18 tahun. Bagi Anda pribadi, situasinya sangat buruk. Ketika saatnya tiba, mintalah saya untuk menunjuk Neira untuk Anda. Saya masih memiliki dua kamar kosong. Ukurannya sangat besar, dan Anda tidak perlu membayar sepeser pun untuk itu’.
Dalam perkembangannya diketahui bahwa Soejitno muda telah diterima di sekolah tinggi hukum (Rechthoogeschool) di Batavia. Seperti disebut di atas, saudaranya Ir Darmawan tinggal di Buitenzorg. Ir Darmawan adalah lulusan dari Belanda dan pernah terinformasikan telah terlibat oleh tindakan anti-Belanda yang radikal. Lantas apakah kini Ir Darmawan sudah lebih cooperative (seperti saudaranya Dr Tjipto) atau sebaliknya tidak diketahui secara pasti. Lalu, apakah Soejitno muda akan tampil dengan metode perjuangan yang berbeda?
De courant Het nieuws van den dag, 11-07-1925): ‘Seorang insinyur pribumi yang baru saja tiba dari Belanda tidak bisa mendapatkan pekerjaan di Pemerintah, yang ia telah ditugaskan dari Belanda. Ini menyangkut insinyur kimia muda Darmawan Mangoenkusoemo, saudara dari pemimpin rakyat yang terkenal Tjipto Mangoenkoesoemo. Selama studinya, ia tampaknya telah terlibat oleh tindakan anti-Belanda yang keras, dan sekarang harus hidup sebagai guru di sekolah nasionalis di Djokja dengan gaji f30 per bulan’.
Sebagaimana diketahui Rechthoogeschool di Batavia sudah lama menjadi tempat mahasiswa Indonesia dalam berbagai gerakan. Dua mahasiswa Rechthoogeschool yang menjadi panitia inti Kongres Pemoeda 1928 (Mohamad Jamin, sekretaris dan Amir Sjarifoeddin Harahap) kini menjadi anggota dewan pusat Partai Indonsia (Partindo). Mohamad Jamin diterima di Mohamad Jamin tahun 1926 dan Amir Sjarifoeddin Harahap. Tahun 1930 ini Soejitno Mangoenkoesoemo diterima sebagai mahasiswa di Rechthoogeschool.
Amir
Sjarifoeddin Harahap setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga tahun
1921, pada bulan Juli Amir Sjarifoeddin Harahap berangkat ke Belanda. Pada
bulan Agustus 1921 Mohamad Hatta (lulus HBS di PHS Batavia) juga berangkat ke
Belanda. Amir Sjarifoeddin Harahap di Belanda melanjutkan sekolah menengah (HBS),
sementara Mohamad Hatta diterima di sekolah tinggi ekonomu (Handelshoogeschool)
di Rotterdam. Pada tahun 1927 Amir Sjarifoeddin Harahap lulus HBS di Haarlem.
Namun karena ada masalah keluarga, Amir Sjarifoeddin Harahap tidak melanjutkan
studi di Belanda, tetapi kembali ke tanah air. Amir Sjarifoeddin Harahap tidak
kembali ke Belanda, lalu melanjutkan studi di Rechthoogeschool di Batavia. Soejitno
Mangoenkoesoemo di Semarang tahun 1927 lulus ujian transisi HBS naik dari kelas
tiga ke kelas empat (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 02-05-1927).
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar