Kamis, 20 Agustus 2026

Sejarah Dr Tjipto (20): Soejitno Meninggal pada Perang Kemerdekaan, 1947; "The Last Mochican" Keluarga "Mangoenkoesoemo"


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Mr Sujitno Mangoenkoesoemo adalah adik bungsu Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang intelektual, tokoh pergerakan nasional, dan ahli hukum. Mr Sujitno tidak sepopuler saudara-saudaranya seperti Dr Tjipto, Dr Goenawan, Dr Boediardjo, Dr Sjamsoel dan Ir Darmawan. Mr Sujitno Mangoenkoesoemo juga tidak berumur panjang, meninggal tahun 1947. Ir Darmawan Mangoenkoesoemo hanya satu-satunya yang masih hidup dan berumur panjang dari keluarga Mangoenkoesoemo. Sejarah Mahasiswa di Indonesia


Ir Darmawan Mangunkusumo lahir 25 Mei 1901 adalah seorang ekonom, insinyur, dan tokoh pergerakan nasional yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuran Indonesia antara tahun 1945 dan 1946. Beliau merupakan adik kandung dari pahlawan nasional Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan dr. Gunawan Mangunkusumo. Studi di Belanda bidang teknik di Technische Hoogeschool Delft (sekarang TU Delft). Selama berkuliah, ia aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui organisasi mahasiswa Perhimpoenan Indonesia. Setelah lulus dan menyandang gelar Insinyur (Ir.), ia bekerja sebagai pejabat urusan ekonomi untuk pemerintah kolonial. Masa Pendudukan Jepang tetap mempertahankan posisi strategisnya di bidang ekonomi pemerintahan. Pada masa Pemerintahan Indonesia dipercaya menjadi Menteri Kemakmuran (kini mencakup sektor perdagangan, industri, dan pertanian) dalam Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II periode 1945-1946 (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Soejitno meninggal pada perang pempertahankan kemerdekaan? Seperti disebut di atas, Soejitno adalah adik bungsi Dr Tjipto. Setelah Mr Soejitno meninggal 1947, hanya  Ir Darmawan Mangoenkoesoemo yang masih hidup dan berumur panjang (The Last Mochican dari keluarga guru Mangoenkoesoemo). Lalu bagaimana sejarah Soejitno meninggal pada perang pempertahankan kemerdekaan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Model Bisnis Era Teknologi Informasi

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Soejitno Meninggal pada Perang Mempertahankan Kemerdekaan; The Last Mochican Keluarga Guru Mangoenkoesoemo

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah meninggal dunia pada bulan Maret 1943 (lihat Asia Raya, 9 Maret 1943). Anak-anak guru Mangoenkoesoemo yang terdiri enam sarjana, hanya tersisa Ir Darmawan Mangoenkoesoemo dan Mr Soejitno Mangoenkoesoemo. Dalam hal ini, Soejitno Mangoenkoesoemo yang menjadi anak/adik bungsu baru lulus sarjana (hukum) pada tahun 1939 (lihat De koerier, 30-11-1939). Disebutkan di Rechthoogeschool. Lulus ujian sarjana hukum bagian ketiga, Soejitno Mangoenkoesoemo. Mr Soejitno Mangoenkoesoemo memulai karir di pemerintahan. Mengapa? Yang jelas sebagai pegawai pemerintah, Mr Soejitno Mangoenkoesoemo juga menjadi salah satu editor majalah baru De Fakkel.


De Indische courant, 29-11-1940: ‘Majalah. "De Fakkel". Edisi pertama "De Fakkel" telah terbit, menampilkan catatan pengantar singkat dari Gubernur Jenderal, di mana majalah bulanan baru ini digambarkan sebagai "majalah yang memberi kesempatan bagi kehidupan intelektual Hindia Belanda, dalam arti luas, untuk mengekspresikan dirinya". Dalam artikel pengantar editorial, dinyatakan: "Tujuan kami agar majalah bulanan ini mewakili kehidupan budaya dan intelektual Belanda dengan cara yang bermartabat dan sesuai dengan tradisi terbaik dari semangat Belanda", dengan penekanan khusus pada rasa kebebasan dan toleransi sebagai ciri khas semangat tersebut. Lebih lanjut, tujuannya adalah untuk mengikuti contoh majalah Belanda seperti "De Gids". Dewan redaksi terdiri dari tidak kurang dari dua belas orang, serta seorang sekretaris (Dr J Th. Vermeulen, Oud-Gondangdia 6, Batavia-O). Kelompok yang terdiri dari dua belas orang ini memang beragam, namun untungnya, tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat dianggap sebagai kaum ikonoklas. Majalah baru ini lebih memiliki format dan eksekusi seperti "De Vrouw en haar Huis", yang, kebetulan, bukanlah hal buruk untuk dikatakan tentang keseluruhan majalah tersebut. Tokoh-tokoh sastra sejati, orang-orang yang prestasinya di bidang sastra murni telah terlihat, tidak ditemukan di antara anggota dewan redaksi. Anggota redaksi antara lain: C Binnerts, Brugmans, Koets, Berlage Jr., dan F Kramer, Mansvelt, Ritman, Prof JMJ Schepper, Soetan Goenoeng Moelia, dan Pringgodigdo. Anggota dewan redaksi Tionghoa, Kwa TJoan Sioe. Satu-satunya anggota redaksi yang berkontribusi pada edisi ini adalah Ir W Zwart, Isi edisi ini, antara lain tulisan Beb Vuyk, Willem Brandt, Dr LF Jansen. Dari Daftar Isi edisi ini, kami selanjutnya menyebutkan "Konf "Intersepsi dengan Rembrandt" oleh PD Martin, "Wat geeft het Westen ons?” (Apa yang diberikan Barat kepada kita?) oleh Mr Soejitno Mangoenkoesoemo, ditulis sebagai tanggapan terhadap polemik yang muncul seputar artikel oleh Dr. Kraemer, di mana dinyatakan bahwa 'orang Indonesia hanya mencari penampilan luar dari semangat Barat, dan dengan demikian hanya berupaya untuk hal-hal eksternal'. Mr Mangoenkoesoemo menunjukkan bagaimana orang Indonesia, sebagai individu, sepenuhnya terserap dalam kolektivitas masyarakatnya, sedemikian rupa sehingga ia menemukan haknya untuk eksis semata-mata di dalam dan melalui kolektivitas tersebut. Lebih lanjut, ia mengaitkan pembentukan kepribadian bebas sebagai hasil dari budaya Barat, yang ekstremismenya telah sangat besar, lebih dari yang pernah ditunjukkan dalam budaya lain mana pun. Dengan demikian, memang berada di perbatasan dua budaya dan membiarkan pertanyaan besar tentang apakah kebahagiaan orang Indonesia, yang begitu terhanyut dalam kolektivitasnya sehingga ia bahkan harus memperoleh haknya untuk hidup darinya, tidak terjawab, dapat benar-benar ditingkatkan dengan mengadopsi cara berpikir dan wawasan hidup Barat? Kontribusinya, terlebih lagi, sangat bersifat mendamaikan, dan lebih dari sekali ia menyelaraskan dirinya dengan wawasan Dr Kraemer. Sebuah pernyataan yang sangat baik adalah mengenai teknologi Barat, yang "telah berhasil menghindari kendali pertimbangan manusia dan bahkan mampu menundukkan umat manusia pada dirinya sendiri". Barat pun bergerak—jika tidak dicegah!—ke arah "kolektivitas" dan kehancuran individu yang berpikir dan bertindak secara independen. Dari situ, pada gilirannya, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Timur sebenarnya siap untuk "diambil alih" oleh kolektivisme tersebut, dan bahwa seorang diktator hanya perlu mengubah sedikit hal dalam masyarakat tersebut untuk mengarahkannya sepenuhnya sesuai kehendaknya. Gagasan ini mengerikan, karena tampaknya didukung oleh kenyataan’. 

Mr Soejitno Mangoenkoesoemo masuk ke dalam pemerintahan (Pemerintah Hindia Belanda) tampanya mengikuti perubahan yang drastis, setelah terbentuknya GAPI (wadah perjuangan untuk membentuk Parlemen Indonesia), banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang diberi jalan masuk di dalam pemerintahan, termasuk Mr Amir Sjarifoeddin Harahap (tokoh terkenal di Partai Gerindo). Pada bulan Maret 1941, Mr Soejitno Mangoenkoesoemo diangkat sebagai pegawai di Dinas Publisitas Pemerintah. 


Bataviaasch nieuwsblad, 05-03-1941: ‘Perubahan di RPD (Regeringspublicatiedienst = Dinas Publikasi Pemerintah). Kami memahami bahwa M Tabrani telah diberhentikan dari jabatannya sebagai jurnalis di Dinas Publisitas Pemerintah dan ditugaskan ke kantor administrasi murni di dalam dinas tersebut. Tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan oleh Tabrani telah sementara dialihkan kepada Soejitno Mangoenkoesoemo, yang saat ini sudah bekerja di Dinas Publisitas Pemerintah’. 

Seperti disebut sebelumnya, Ir Darmawan Mangoenkoesoemo, saudara  Mr Soejitno Mangoenkoesoemo, sudah sejak lama bekerja di pemerintah, bahkan tidak lama sepulang Ir Darmawan Mangoenkoesoemo studi dari Belanda yang ditempatkan sebagai konsulen di departemen industri, pertanian dan perdagangan (Dep N, H en L) di Buitenzorg. Hingga tahun 1941 ini. Ir Darmawan Mangoenkoesoemo masih bekerja sebagai kepala konsulen di Dep N, H en L ditempatkan di Soerabaja (hoofd van het consultatiebureau voor de nijverheid te Soerabaja) (lihat De Indische courant, 04-04-1941). 


Bataviaasch nieuwsblad, 15-07-1941: ‘Badan Pers "ANTARA". Peresmian gedung baru kantor berita Indonesia "Antara" di Batavia berlangsung pagi ini di tengah antusiasme yang besar. Di antara yang hadir, kami mencatat, antara lain, perwakilan dari R.P.D., yaitu De Vries dan Soejitno Mangoenkoesoemo, perwakilan dari P.P.R.K., selanjutnya Abikoesno atas nama sekretariat GAPI dan badan eksekutif PSII, Maria Ulfah Santoso atas nama dewan utama 'Isteri Indonesia', Dr AK Gani, Mr Hindromartono, H A Salimi perwakilan pers. Adam Malik, anggota dewan redaksi 'Antara', menyampaikan pidato sambutan, setelah itu beliau memaparkan beberapa poin dari sejarah 'Antara', yang mana kantor berita tersebut didirikan pada Desember 1937. Selanjutnya, hadirin menyampaikan ucapan selamat dalam persatuan’. 

Tunggu deskripsi lengkapnya 

Dalam hubungannya dengan invasi militer Jepang, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mendukung Pemerintah Hindia Belanda, dan hampir tidak mungkin tiba-tiba berbalik ke arah Jepang. Hal itu dapat diketahui pernyataan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo ketika sudah berada di Soekaboemi. 


Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden, 12-03-1942: ‘Tokoh nasionalis Hindia Belanda yang terkenal, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, telah menerbitkan surat berikut di salah satu surat kabar lokal. Terjemahannya berbunyi sebagai berikut: Kepada saudara-saudaraku keturunan Tionghoa dan Indonesia, Saya bukan seorang pemimpin dan terlalu tua untuk mengambil alih kepemimpinan. Tetapi di masa-masa tegang ini, tetap acuh tak acuh terhadap peristiwa-peristiwa tersebut tidak kurang dari sebuah kejahatan. Saudara-saudara! Negara kita sedang berperang. Ini berarti bahwa kita sekarang harus membela masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita, yang telah dibesarkan dalam arah Barat dan karena itu hampir tidak mungkin tiba-tiba berbalik ke arah Jepang. Kedudukan kita di belakang Gubernur Jenderal adalah tanpa syarat. Tugas umum orang kulit putih, kuning, dan cokelat adalah negatif: untuk membebani orang-orang yang bertanggung jawab sesedikit mungkin, sehingga mereka dapat mencurahkan perhatian penuh mereka pada masalah-masalah tersebut. En nu met God de oorlog… Tjipto Mangoenkoesoemo. Soekaboemi, 8 Desember 1941. 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tampaknya hanya melihat ke Barat, dan mungkin tidak pernah memperhatikan serius adanya gerakan ke arah timur dari orang-orang Indonesia sejak lama. Invasi militer Jepang yang sudah memasuki wilayah Indonesia pada awal tahun 1942 ini adalah ujung dari dari gerakan ke timur itu sendiri. 


Salah satu tokoh mahasiswa Indonesia di Belanda yang tergabung dengan Perimpoenan Indonesia, mahasiswa doktoral di Ned Handelshoogeschool di Rotterdam, Sjamsi Widagda telah menulis disertasi tentang perdagangan Jepang (lulus tahun 1925). Pada tahun 1933 Drs Mohamad Hatta tidak lama sepulang studi dari Belanda, berangkat ke Jepang. Pada bulan November 1933 Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner Indonesia ke Jepang. Sejak 1933 ini sudah ada perhimpunan orang Indonesia di Jepang. Dosen-dosen bahasa Melayu di Universitas di Jepang adalah orang-orang Indonesia seperti WJS Poerwadarminta dan Soejono. Delegasi Indonesia ke Jepang terus mengalir. Orang-orang Jepang sendiri di Indonesia sudah lama bekerjasama dengan para pemimpin Indonesia termasuk dalam penerbitan surat kabar di Soerakarta. 

Kehadiran sipil dan kini diikuti militer Jepang ke wilayah Indonesia bukanlah tangan kosong dan tanpa bekal pengetahuan. Pemerintah Jepang dan militer Jepang sudah mengetahui semua seluk beluk yang terjadi di Indonesia, baik secara geografis maupun dari segi kepemimpinan di satu sisi kepemimpinan orang Belanda dan di sisi lain kepemimpinan orang Indonesia. Singkatnya, orang Jepang melakukan invasi ke Indonesia sudah dibelakali persiapan matang. Sebaliknya, orang Indonesia, terutama para pemimpinan Indonesia yang sejak lama memiliki kecenderungan ke arah timur hanya tinggal wait en see. 


Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tampaknya telah berhasil menarik manfaat bagi dirinya sendiri tetapi lupa memperhatikan situasi dan kondisi makro yang ada selama ini. Sebagaimana diketahui Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda pada akhir tahun 1927 dan baru pada tahun 1940 dibebaskan dan kembali ke Jawa (di Soekaboemi). 

Lantas apakah himbauan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dapat diterima umum oleh orang Indonesia? Yang jelas Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah mendapatkan kebebasannya, tetapi sebagian besar Indonesia menginginkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Lalu bagaimana dengan kehadiran Jepang? Orang Indonesia sudah mengetahui bahwa orang Jepang hanya ingin bekerjasama dengan orang Indonesia di Indonesia. Orang Jepang ingin mengentaskan orang Belanda di Indonesia. Paham win-win solution inilah yang ditunggu-tunggu banyak orang Indonesia (wait en see). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

The Last Mochican Keluarga Guru Mangoenkoesoemo; Ir Darmawan Mangoenkoesoemo

Pada era pendudukan Jepang tidak ada lagi surat kabar/majalah berbahasa Belanda. Memang tidak dilarang, tetapi tidak relevan lagi. Surat kabar yang tetap eksis adalah surat kabar/majalah berbahasa Bahasa Indonesia. Mengapa? Orang Jepang menggandeng orang Indonesia untuk menjalankan pemerintah di wilayah Indonesia. 


Surat kabar berbahasa Belanda yang berhenti terbit terakhir adalah surat kabar Soerabaijasch handelsblad yang terbit di Soerabaja. Mengapa? Tampaknya pemimpin pendudukan Jepang bersama para pemimpin Indonesia di Soerabaja untuk tetap terbit untuk memenuhi kebutuhan informaso di tengah masyarakat (pada masa transisi Pemerintah Hindia Belanda ke masa Pemerintah Pendudukan Militer Jepang). Sebagaimana diketahui, Pemerintah Hindia Belanda menyatakan takluk dan menyerah sepenuhnya pada tanggal 8 Maret 1942. Soerabaijasch handelsblad baru berhenti terbit pada bulan Juni 1942. Foto: Asia Raya, 22-12-1943. 

Surat kabar berbahasa Bahasa Indonesia yang banyak jumlahnya dan tersebar di seluruh Indonesia kemudian dikonsolidasikan dengan penyertaan modal Jepang untuk membentuk beberapa surat kabar yang kuat di kota-kota tertentu. Para jurnalis Indonesia disertakan dalam terbentuknya berbagai surat-kabar tersebut. 


Sejumlah nama surat kabar baru yang terbentuk antara lain adalah Asia Raya (Djakarta); Nicork Expres (Bandoeng); Kaoem Moeda (Bandoeng); Hong Po (Djakarta); Borneo Baroe (Bandjarmasin); Majalah Nan Sin; Majalah Soeara Moeslimin (Djakarta); Kalimantan Raya (Bandjarmasin); Borneo Shinbun (Bandjarmasin); Majalah Pandji Poestaka (Djakarta); Borneo Barat Shinbun; Kita Sumatora Sinbun (Medan); Borneo Simboen Daerah Timoer; Majalah Djawa Baroe; Majalah Minami; Borneo Simboen Daerah Timoer (Balikpapan); Atjeh Sinbun (Kota Radja); Indonesia Merdeka; Bali Sinbun; Setelah Merdeka (1945): Berita Gunseikanbu; Berita Repoeblik Indonesia (pemerintah; Djakarta). Foto: Nicork Expres, 26-3-1942. 

Seperti disebut sebelumnya, pada bulan Maret 1943 Dr Tjipto Mangoenkoesoemo meninggal dunia di Djakarta. Kini, hanya Mr Soejitno Mangoenkoesoemo dan Ir Darmawan Mangoenkoesoemo yang tersisa dari anak-anak keluarga guru Mangoenkoesoemo yang sarjana (empat orang sudah meninggal dunia). 


Satu hal yang terpenting sejak awal pendudukan militer Jepang, Bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar utama (bahasa resmi) di seluruh Indonesia (menggantikan bahasa Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang juga memperkenalkan bahasa Jepang untuk dipelajari (sebagai bahasa kedua). Tidak hanya diperkenalkan melalui surat kabar, juga bahasa Jepang telah ditulis oleh orang Indonesia sendiri seperti buku pelajaran bahasa Jepang karya Parada Harahap. Dalam fase diakuinya Bahasa Indonesia, bermunculan secara sporadis pegiat-pegiat muda dalam bahasa baik sebagai penyair maupun sebagai kritikus. Salah satu penyair muda yang mulai menonjol adalah Chairil Anwar dan salah satu kritikus adalah Ida Nasoetion. 

Mr Soejitno Mangoenkoesoemo yang sebelum pendudukan militer Jepang bekerja di Dinas Publisitas Pemerintah juga sudah terinformasikan sebagai penulis muda Indonesia. Salah satu artikelnya yang kerap diperhatikan adalah "Wat geeft het Westen ons?” yang dimuat di majalah edisi pertama De Fakkel (1940). Dalam perkembangannya diketahui Soejitno Mangoenkoesoemo sebagai seorang penulis yang kritis (lihat Knickerbocker weekly. "Free Netherlands". (The Netherlands magazine), jrg 4, 1944, no. 29, 11-09-1944). Disebutkan. “terakhir, saya menyebutkan beberapa kritikus dan penulis esai muda, di antaranya Mr Soejitno Mangoenkosomo, yang berafiliasi dengan dinas publisitas pemerintah di Batavia”. Mr Soejitno Mangoenkoesoemo selama pendudukan Jepang, seperti penulis-penulis muda terus berkembang hingga Jepang menyatakan takluk kepada Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat dan pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan. 


Jepang menyatakan takluk kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Dalam kevakuman ini, para pemuda revoluisioner Indinesia seperti Adam Malik dkk memaksa para pemimpin Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 membacakan isi teks proklamasi kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia. Jadi dalam hal ini, proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan inisiatif sendiri pada saat situasi dan kondisi yang tepat (lihat Berita Repoeblik Indonesia, 01-10-1945). 

Seiring dengan kembalinya Belanda di Indonesia, perang mempertahankan kemerdekaan dilakukan oleh segenap anak bangsa di berbagai bidang, termasuk para penulis (penyair dan esais/kritikus). Dalam hal ini, dalam jajaran sastrawan Indonesia termasuk Soejitno Mangoenkoesoemo, Ida Nasoetion dan Chairil Anwar. Sementara dalam jajaran pers terdapat nama-nama Mochtar Lubis, Adam Malik dan Rosihan Anwar. Tentu saja para pemuda banyak yang terlibat aktif dalam dinamika politik dan mengangkat senjata. 


Setelah Sekutu/Inggris berunding dengan para pemimpin Indonesia, dimungkinkan pasukan Inggris (AFNEI) bisa memasuki wilayah Indonesia untuk tujuan pelucutan senjata dan evakuasi militer Jepang serta pembebasan para interniran Eropa/Belanda (di penjara dan kamp). Pada tanggal 8 September 1945 tiba kedatang perintis, lalu kemudian rombongan perwakilan awal tiba di Djakarta pada tanggal 16 September 1945, hingga pendaratan pasukan utama dalam jumlah besar pada 29 September 1945 di Tanjung Priok di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. Namun dalam perkembangannya, di belakang Sekutu/Inggris muncul orang-orang Belanda dan jumlah pasukan Belanda yang semakin banyak memasuki wilayah Indonesia. Saat kehadiran Belanda inilah proklamasi perang diumumkan oleh orang-orang Indonesia. Pasukan Sekutu/Inggris dan pasukan Belanda lambat laun menguasai wilayah sejumlah kota yang dari waktu ke waktu semakin luas. Sebagian para interniran yang telah dibebaskan kembali ke Belanda dan sebagian yang lain bergabung dengan pemerintahan Belanda (NICA). Sumber pemberitaan sejauh ini hanya berdasarkan surat kabar lokal Indonesia dan surat kabar dan kantor berita internasional, plus dari surat kabar yangt terbit di Belanda dan di Amerika. Surat kabar berbahasa Belanda pertama yang muncul di Indonesia adalah “Het Daghblad” yang diterbitkan di Djakarta/Batavia. Surat kabar berbahasa Belanda ini terbit sejak tanggal 23-10-1945. Seperti halnya surat kabar Indonesia seperti “Merdeka”, surat kabar “Het Daghblad” ini juga sangat intens memberitakan berbagai kejadian. Surat kabar Het Daghblad ini kantor aministrasi di Jalan Koningsplein West 9 (kini area RRI) dan kantor redaksi di jalan Patjenongan 72. 


Wilayah Djakarta/Batavia lambat laun menjadi semakin genting. Satu kota menjadi tempat para pemimpin Indonesia dan para pemimpin Belanda (plus perwakilan asing). Gangguan dan perang terjadi di pinggir kota. Akhirnya para Pemerintah Republik Indonesia hijrah ke Jogjakarta awal bulan Januari 1946 dan pada akhirnya hanya perwakilan RI yang tetap dipertahankan berada di Djakarta.


Ir Darmawan Mangoenkoesoemo berada di dalam pemerintahan. Pada Kabinet Sjahrir pertama, yang dimulai pada tanggal 14 November 1945 Ir Darmawan Mangoenkoesoemo sebagai Menteri Kemakmuran. Pada Kabinet Sjahrir kedua yang dimulai tanggal 12 Maret 1946 Ir Darmawan Mangoenkoesoemo masih di posisinya. Dalam hal ini, Ir Darmawan Mangoenkoesoemo berada di dalam pemerintaha, sementara Mr Soejitno Mangoenkoesoemo di luar pemerintahan sebagai penulis. 

Setelah ibu kota Pemerintah Republik Indonesia dipindahkan ke Jogjakarta, dan semakin berkuasanya kembali Belanda semakin banyak pula surat kabar berbahasa Belanda yang diterbitkan baru dan surat kabar yang dterbitkan kembali di berbagai kota. Surat kabar berbahasa Belanda yang baru yang diterbitkan di Soerabaja Nieuwe courant mulai mengungkit sikap Dr Tjipto pada awal perang Mei 1940 (segera setelah Jerman menduduki wilayah Belanda). 


Nieuwe courant, 19-06-1946: ‘Tjipto Mangoenkoesoemo pada tahun 1940. Jarang sekali kata-kata yang diucapkan di masa lalu terbukti lebih akurat daripada kutipan di atas, yang diambil dari "Nationale Commentaren." Nasionalis sejati ini menulis kata-kata ini pada tahun pertama perang; ia meninggal selama pendudukan dan tidak pernah berkolaborasi dengan Jepang. Nasionalis ini merasa bertanggung jawab terhadap hati nuraninya sendiri, bertanggung jawab terhadap rakyat dan negaranya. Sekarang kita berada di tahun 1946. Selangkah demi selangkah, hari demi hari, jaring kamuflase yang ditebarkan di Jawa oleh dinas informasi "republikan" sedang dihancurkan oleh fakta-fakta. Fakta-fakta Bandung, Tangierang, dan tempat lain, yang setiap hari ditambah dengan tindakan teror, pembunuhan, dan pelanggaran hukum yang baru. Dari panji merah-putih "merdeka," warna putih mulai menghilang, hanya menyisakan warna merah terang. Para penguasa daerah dan pemimpin geng yang tidak bermoral, tanpa rasa tanggung jawab sosial, menghasut kaum muda yang terdemoralisasi oleh propaganda Jepang untuk melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang tidak berdaya dan lemah. Otoritas "republik" tampaknya telah berakhir, jika memang pernah ada; "merdeka" merosot menjadi slogan kosong dan terbukti menjadi kedok untuk melakukan kejahatan paling keji, dan otoritas "republik" tidak mampu bertindak melawan hal ini. Di Bantam, ratusan warga negara Tiongkok dibunuh; "republik" menawarkan alasan yang lemah, dan pembunuhan terus berlanjut. "Republik" ini mengakui bahwa ia tidak dapat bertanggung jawab atas tindakan dan ucapan pemimpin ppmbrontak Soetomo, bahwa ia tidak dapat mematuhi perjanjian dengan otoritas Sekutu mengenai pengiriman beras ke wilayah pendudukan, karena Soedinman, Panglima Tertinggi TRI, mendesak penegakan ketat blokade pangan melalui radio (yang tampaknya juga tidak berada di bawah kendali "otoritas republik"); dan dengan demikian "republik" ini, melalui presidennya, mengajukan beberapa keinginan imperialis: ia "menuntut" pengakuan de facto atas otoritasnya atas Sumatra. Apakah republik ini menyadari bahwa, jika suatu negara ingin mendapatkan pengakuan internasional atas kemerdekaannya, negara tersebut harus mampu menjamin pemenuhan berbagai syarat, termasuk perlindungan minoritas nasional, dan bahwa berfungsinya otoritas yang stabil dan mampu menjaga ketertiban dan keamanan memang merupakan hal yang terpenting? Apakah beberapa pemimpin "republik" ini kurang memiliki rasa tanggung jawab dan kritik diri yang menjadi ciri khas Tjipto Mangoenkoesumo? Apakah para pemimpin "republik" ini cukup menyadari bahwa dunia sekarang bertanya-tanya apakah pengakuan tersebut sebenarnya berarti meninggalkan Hindia dan penduduknya pada teror, pembunuhan, kelaparan, dan anarki? Dunia memandang perkembangan situasi di Jawa dengan semakin meningkatnya kebencian, dan mulai bertanya-tanya langkah apa yang harus diambil, bukan untuk menghancurkan aspirasi kemerdekaan Indonesia, tetapi untuk menciptakan kondisi bagi berfungsinya supremasi hukum di negara ini. Surat kabar “Sydney Morning Herald” menulis: “Di Timur Raya, aktivitas yang riang gembira terlihat. Pria dan wanita telah mulai bekerja meskipun kekurangan segala sesuatu. Saat beristirahat, mereka tidak bergandengan tangan. Mereka—sedang bekerja. Pedesaan kembali bersinar. Saya bertanya-tanya apa yang membedakan pemandangan ini dari kesuraman dan keputusasaan yang terlihat melalui jaring pagar tinggi yang coba disembunyikan Republik di Jawa dari mata kita. Penduduk Timur Kepulauan, berbeda dengan orang Jawa, adalah realis dan, tanpa kecuali, praktis. Mereka secara naluriah memahami bahwa tidak ada negara, demokratis atau sebaliknya, yang dapat tumbuh kecuali di atas akar kehidupan ekonomi yang sehat dan kuat. Mereka tidak mengartikulasikan hal ini. Mereka bertindak sesuai dengan itu. Di atas fondasi sederhana ini—mari kita terlebih dahulu menggerakkan kehidupan ekonomi negara, dan kemudian kita dapat berbicara satu sama lain tentang masa depan politik—Belanda dan Indonesia segera mencari dan menemukan satu sama lain dengan hasil yang nyata”. Sebagai kontras yang mencolok, kita melihat citra penjajah Jepang yang dikandung dalam kemerosotan moral oleh gerakan nasional yang gagal. Refleksi dari Tjipto Mangoenkoesumo hanya dapat membawa keselamatan dari kekacauan dan mengembalikan ketenangan kepada orang-orang yang gelisah, yang merupakan syarat utama untuk pemulihan sosial jika hal itu meluas’. 


Apa yang menjadi sikap Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (semasih hidup) adalah satu hal. Apa yang menjadi sikap adik-adiknya Ir Darmawan Mangoenkoesoemo dan Mr Soejitno Mangoenkoesoemo adalah hal lain. Mengapa? Yang jelas pada bulan Juli 1946, Ir Darmawan Mangoenkoesoemo harus membuat klarifikasi karena ada rumor bahwa ada nama Donald Vogel yang dihubungkan dengan alm Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Memang pada tahun 1920an pada saat masih eksis Sarikat Hindia (yang dipimpin oleh Ernest Douwes Dekker) terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menikah dengan ny Vogel. Lantas, dalam hal ini apakah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo memiliki anak dari perkawinannya dengan ny Vogel?


Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 24-07-1946: ‘Pengumuman. Yang bertanda tangan di bawah ini, Ir D Mangoenkoesoemo dan Ny. M Ranti Mangoenkoesoemo, menyatakan bahwa: Donald, selanjutnya dikenal sebagai Donald Vogel (lihat pengumuman tanggal 22/7-46), bukanlah putra dari almarhum Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Tertanda, Ir D Mangoenkoesoemo dan Ny M Ranti Mangoenkoesoemo’. 

Kabinet Sjahrir kedua berakhir pada tanggal 2 Oktober 1946. Sementara itu, situasi dan kondisi politik dan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia terus berlangsung. Tampaknya para penulis Indonesia mulai menjadi perhatian intel-intel Belanda. Mengapa? Tulisan para sastrwan dan esais Indonesia banyak dibaca dan dianggap sangat berpengaruh pada sentimen Belanda semangat perlawanan bangsa Indonesia. Ir Darmawan Mangoenkoesoemo meski tidak lagi duduk di cabinet, tetapi namanya tetap kuat di lingkar pemerintahan. 


Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 26-03-1947: ‘Penandatanganan Perjanjian. Tanda tangan dilakukan pada pukul 17:49. Semalam, upacara bersejarah penandatanganan Perjanjian Lingga Djati berlangsung di Istana Rijswijk. Pada pukul 17:49, tanda tangan anggota delegasi Belanda dan Indonesia ditempatkan di bawah dokumen tersebut. Dari pihak Belanda, penandatanganan dilakukan oleh Prof W Schermerhom, Dr HJ van Mook, dan NJM van Poll; untuk delegasi Indonesia, oleh Soetan Sjahrir, Mr Moh. Roem, Soesanto, dan Dr AK Gani. Setelah itu, pidato disampaikan oleh Ketua Komisi Jenderal Prof Schermerhom, Perdana Menteri Republik Soetan Sjahrir, dan Letnan Gubernur Jenderal Dr van Mook. Di antara para tamu, kami mencatat, antara lain, Dr. P. J. A. Idenburg, Direktur Jenderal Urusan Umum, Dr. P.J. Koets, Direktur Kabinet, K.F.J. Verboeket, Sekretaris Jenderal, dan para penasihat Letnan Gubernur Jenderal Dr. I. Boon, Enthoven, dan Abdoelkadir Widjojoadmodjo, De Villeneuve, dan Tjio Thiam Tjong, Letnan Jenderal S.H. Spoor, Panglima Angkatan Laut, Laksamana Madya A.S. Pinke, serta hampir semua direktur departemen. Negara Indonesia Timur diwakili pada upacara ini oleh Menteri Dengah, Katoppo, dan Tahya, yang saat ini berada di Batavia, serta oleh Tadjoedin Noor, Ketua Parlemen. Lebih lanjut, kami melihat banyak perwakilan diplomatik dari negara-negara asing, Ketua Mahkamah Agung Bapak DJ Geursen, Jaksa Agung H.W. Felderhof, Perwakilan Tinggi Umum Jawa dan Madura Mr. C. Abbenhuis, Mgr. Willekens, Vikaris Apostolik Batavia, dan tokoh gerejawi lainnya, serta perwakilan komunitas Arab dan India di Batavia. Tamu Indonesia tersebut diantaranya adalah Dr. Soedarsono, Dr. Leimena, Prof. Mr. Ali Boediardjo, dan Mayor Harjono; selanjutnya dari Komisi Gabungan Bidang Perdata Ir. Soerachman, A.K. Pringgodigo, Ir. Darmawan Mangoenkoesoemo, Dr. Soetan Goenoeng Moelia, dan Dr. Soebandrio. Menteri Indonesia Darmasatiawan, Soewandi, dan Achmad juga hadir pada upacara tersebut, dan kami juga menyebutkan Walikota Indonesia Raden Soewirjo di antara mereka yang hadir’. Foto daftar ini (lihat Criterium; letterkundig maandblad, 1947, Deel: Deel II, no. 8-9, 1947)

Majalah sastra Belanda “Criterium; letterkundig maandblad” yang diterbitkan di Belanda merasa perlu untuk mengumpulkan tulisan-tulisan dari para penulis Indonesia yang dianggap berpengaruh. Kumpulan tulisan ini diterbitkan satu edisi khusus pada bulan September 1947. Nama-nama penulis Indonesia di dalam edisi ini antara lain Ida Nasoetion, Chairil Anwar dan   Soejitno Mangoenkoesoemo. 


“Criterium; letterkundig maandblad” adalah majalah sastra Belanda yang terbit di Amsterdam, pertama kali terbit pada Maret 1940. Namun pada bulan Mei terjadi invasi Jerman ke wilayah Belanda pada bulan Mei. Pada bulan Mei 1942 majalah ini berhenti terbit. Lalu dalam perkembangannya, pada bulan Oktober 1945 majalah sastra ini dihidupkan kembali setelah pembebasan Belanda. Sehubungan dengan kembalinya Belanda di Indonesia, majalah ini tampaknya merasa perlu untuk menggali sudah sejauh mana perkembangan sastra di Indonesia (setelah pendudukan Jepang dan masa awal perang Indonesia mempertahankan kemerdekaan.   

Pada bulan November 1947 terinformasikan bahwa Mr Soejitno Mangoenkoesoemo telah meninggal dunia (lihat Het nieuws: algemeen dagblad, 04-11-1947), Disebutkan Soejitno Mangoenkoesoemo baru saja meninggal dunia. Kapan tepatnya Mr Soejitno Mangoenkoesoemo meninggal tidak terinformasikan. 


Het nieuws: algemeen dagblad, 04-11-1947: ‘Bahasa Belanda sebagai mata pelajaran pengajaran. "Jika Republik tidak memutuskan untuk memperkenalkan kembali bahasa Belanda di sekolah-sekolah, bukankah pengaruh Belanda akan perlahan menghilang?" Sjahrir tersenyum. "Saya tidak percaya," katanya. "Apa yang telah dibangun selama berabad-abad tidak akan hancur dalam setahun. Karena tokoh-tokoh terkemuka masih berlatar belakang Belanda, pengaruhnya terus beroperasi. Ketika konflik politik telah mereda dan gairah yang paling hebat telah sedikit mereda, isu pengenalan kembali bahasa Belanda sebagai mata pelajaran pengajaran pasti akan muncul kembali. Indonesia tidak boleh mundur ke dalam isolasi yang sempit. Kontak budaya dengan seluruh dunia diperlukan untuk pembangunan nasionalnya. Dunia itu terbagi menjadi tiga bagian: Amerika, Rusia, dan Eropa Barat. Sekarang, daya tarik budaya Amerika tidak besar bagi kita, dan Rusia praktis merupakan wilayah tertutup karena bahasa dan politik. Untuk kebutuhan budayanya, Indonesia tetap bergantung pada Eropa Barat." Dari semua negara Eropa Barat, Belanda tentu saja memiliki peluang terbaik, baik sebagai penyedia budayanya sendiri maupun sebagai perantara bagi seluruh budaya Barat. Anda akan menemukan pendapat yang sama di antara para penulis dan penyair terbaik kami. Saya menyebut Chairil 'Anwar, yang saya anggap sebagai penyair terpenting saat ini dan yang sangat dipengaruhi oleh Slauerhoff; Soejitno Mangoenkoesoemo yang baru saja meninggal dunia juga berpikiran sama; lebih jauh lagi Mohammed Akbar Djoehana dan Soewarsih Djojopoespito, penulis "Buiten het Gareel" (Di Luar Garter), yang juga dikenal di Belanda. Apa yang sekarang dapat dilakukan dari pihak Belanda untuk merangsang kerja sama budaya ini? Mengenai hal ini, kita tidak perlu menggunakan fiksi nyaman yang begitu mudah digunakan dalam politik’. 

Kabar tentang meninggalnya Mr Soejitno Mangoenkoesoemo sudah barang tentu sangat mengagetkan diantara teman-temannya. Bagi keluarga, terutama Ir Darmawan Mangoenkoesoemo sangat kehilangan adik bungsunya tersebut. Mangapa? Yang jelas, kini, dari keluarga guru Mangoenkoesoemo hanya tersisa Ir Darmawan Mangoenkoesoemo saja. Besar dugaan Soejitno Mangoenkoesoemo kuliah di sekolah tinggi hukum (rechthoogeschool) di Batavia pada tahun 1930 termasuk peran besar Ir Darmawan Mangoenkoesoemo (baik dalam pembimbingan terhadap adik maupun pembiayaan). 


Soejitno Mangoenkoesoemo lulus sekolah menengah (HBS) di Semarang pada bulan Mei 1930. Setahun sebelumnya tahunj 1929 saudaranya Dr Goenowan Mengaoenkoesoemo meninggal di Semarang. Sebelum Soejitno Mangoenkoesoemo masuk kuliah di Rechthoogeschool di Batavia pada tahun 1930, sang ayah, guru Mangoenkoesoemo meninggal dunia di Ambarawa. Saat ini saudaranya yang masih hidup adalah Dr Boediardjo Mangoenkoesoemo (di Wonosobo) dan Ir Darmawan Mangoenkoesoemo di Buitenzorg (Bogor). Saudaranya yang lainnya Dr Sjamsoel Maarif Mangoenkoesoemo meninggal tahun 1925 di Lawang, sementara Dr Tjipto Mangoenkoesoemo sejak 1927 berada di pengasingan di Banda. Pada tahun 1938 Dr Boediardjo Mangoenkoesoemo meninggal di Semarang. Pada tahun 1940 Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dibebaskan dan pindah dari Makassar ke Soekaboemi. Pada tahun 1943 Dr Tjipto Mangoenkoesoemo meninggal dunia di Djakarta. 

Mr Soejitno Mangoenkoesoemo telah tiada. Dalam hal ini Ir Darmawan Mangoenkoesoemo dapat dikatakan hanya sebatang kara. Hanya satu-satunya anak guru Mangoenkoesoemo yang masih hidup. Sementara itu alm Mr Soejitno Mangoenkoesoemo adalah termasuk penulis Indonesia yang dikenal luas dan memiliki pengaruh dalam kesusastraan Indonesia. Namun masih dekat dalam ingatan semua pihak atas meninggalnya Soejitno Mangoenkoesoemo, muncul kabar satu penulis Indonesia lainnya Indonesia (yang juga ketua organisasi mahasiswa Universitas Indonesia-Perhimpoenan Mahasiswa Universitas Indonesia) diberitakan menghilang. Lantas apa gerangan yang sedang terjadi? Yang jelas perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia masih terus berlangsung. 


Ida Nasoetion yang baru masuk kuliah satu tahun di Universiteit van Indonesia, tiba-tiba situasi dan kondisi di Indonesia berubah. Pada akhir Desember 1941 pasukan Jepang telah melakukan pemboman di Tarempa, Kepulauan Natuna dan kemudian Pemerintah Belanda menyatakan takluk kepada militer Jepang tanggal 8 Maret 1942. Setelah suasana menjadi tenang, pemerintahan militer Jepang memberikan izin untuk pendidikan tinggi  dibuka kembali. Pada tanggal 29 April 1943 Fakultas Sastra dan Filsafat melakukan aktivitas kembali. Namun karena dosen-dosen sebelumnya adalah orang Belanda, kini mereka pulang ke Negeri Belanda dan juga ada yang diinternir dan berada di kamp penampungan, maka aktivitas perkuliahan tidak berjalan semestinya. Lagi pula jumlah mahasiswa yang ada hanya dapat dihitung dengan jari. Mahasiswa yang beberapa orang ini, salah satunya Ida Nasoetion lebih banyak belajar mandiri dan melakukan aktivitas sastra di luar kampus. Ida Nasoetion, meski kuliah terkesan vakum, tetapi masih banyak berinteraksi dengan sastrawan-sastrawan angkatan Poejangga Baroe (nama majalah menggantikan Balai Poestaka), seperti Soetan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Sedangkan angkatan Balai Poestaka antara lain Merari Siregar dan Sanusi Pane plus Muhammad Kasim dan Soeman Hs. Semua nama-nama yang disebut tersebut adalah seniornya berasal dari kampong halaman di Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli. Dengan demikian, Ida Nasoetion tidak kekurangan mentor. Selama pendudukan militer Jepang, Armijn Pane (adik Sanoesi Pane) diangkat sebagai Kepala Bidang Budaya (termasuk seni dan kesusastraan). Untuk kepala bidang informasi diangkat Parada Harahap (yang melipiti pers cetak, kantor berita dan radio). Untuk presidium yang disebut PUTERA diketuai oleh Ir Soekarno dan wakilnya Drs Mohamad Hatta. Sejak perang (1942) banyak sastrawan-sastrawan muda bermunculan bagaikan jamur di musim hujan. Ini berbeda dengan era Hindia Belanda. Pada era pemerintah pendudukan militer Jepang, para pemuda lebih menggebu untuk meraih kemerdekaan. Semangat ini terasa di dalam jiwa raga para sastrawan muda. Sementara itu, karena Jepang memberikan kebebasan penggunaan Bahasa Indonesia), yang di satu sisi para pemuda yang berminat sastra tidak perlu membuang waktu untuk belajar bahasa asing untuk menjadi penyair, penulis prosa dan penulis esai dan sebagainya. Di sisi lain dirasakan adanya rasa bebas dan sedikit chauvinism. Empat diantara para pemuda yang menonjol mewakili entitas sastrawan muda Indonesia adalah Chairil Anwar (penyair), Ida Nasoetion (esai) dan Soejitno Mangoenkoesoemo. Keutamaan Ida Nasoetion dalam masa ini karena Ida Nasoetion merupakan satu-satunya sastrawan (muda) yang berlabel mahasiswa. Meski kuliah sastra tidak menentu, bukan hanya senin-kemis tapi cukup lama, Ida Nasoetion tetaplah terdaftar sebagai mahasiswa yang ingin menjadi sarjana sastra. Singkatnya, dengan kehadiran Belanda kembali, Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universiteit van Indonesie dibuka kembali, Ida Nasoetion kuliah kembali (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 12-11-1946). Dengan dimulainya otonomi kampus, Ida Nasoetion (jurusan sastra) bersama G. Harahap dari jurusan jurnalistik melihat celah perjuangan dari dalam kampus dengan menggagas dan mendirikan perhimpunan mahasiswa. Dengan kawan-kawan yang lain, Ida Nasoetion meresmikan organisasi mereka dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat PMUI pada tanggal 20 November 1947. Seperti disebut di atas, pada bulan November 1947 ini terinformasikan meninggalnya salah satu penulis Indonesia Mr Soejitno Mangoenkoesoemo. Foto: Ida Nasoetion. 

Pada awal organisasi mahasiswa PMUI (Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia) yang dipimpin Ida Naseotion, jumlah anggotanya baru sebanyak 30 mahasiswa. Lalu lambat laun sebelum ulang tahun yang pertama anggotanya sudah menjadi 100 mahasiswa (hanya memperhitungkan yang di Batavia saja). Ida Nasoetion adalah presiden pertama perhimpunan mahasiswa Indonesia. Gelagat Ida Nasoetion dibalik memersatukan mahasiswa di dalam kampur (yang dikuasai Belanda/NICA) tercium juga oleh intelijen Belanda. Belum genap satu semester Ida Nasoetion menjabat persiden PMUI, kabar buruk telah datang menimpanya. Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-04-1948 melaporkan Ida Nasoetion hilang. Dalam berita itu dinyatakan sebagai berikut: ‘seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasution hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil. Mereka (Ida dan kawan-kawannya) berangkat pada tanggal 23 Maret di pagi hari dengan kereta api ke Buitenzorg, di mana mereka menghabiskan hari di sekitar Masing, Tjiawi’. 


Sementara itu, koran Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948 memberitakan sebagai berikut: ‘Sejak 23 Maret, seorang mahasiswa Indonesia Ida Nasution menghilang. Pada tanggal itu mereka ke Tjigombong untuk menghabiskan beberapa waktu di danau Tjigombong (kini, danau Lido). Namun, Ida Nasoetion yang akan kembali pada hari yang sama, tetapi hilang entah dimana. Apakah diculik?’ 

Ida Nasution diduga kuat telah meninggal (pada bulan Maret 1948). Kembali Indonesia kehilangan para penulisnya setelah sebelumnya terinformasik Mr Soejitno Mangoenkoesoemo meninggal sekitar bulan Oktober dan November 1947. Artikel Mr Soejitno Mangoenkoesoemo yang berjudul “Wat geeft het Westen ons?” (Apa yang diberikan Barat kepada Kami) yang dimuat di majalah edisi pertama De Fakkel (1940) hingga kini masih sering dikutip. 


Ida Nasoetion adalah anggota dewan redaksi majalah “Het Inzicht” dan Ida Nasoetion juga menjadi anggota staf redaksi majalah “Opbouw” yang ketuanya seorang guru besar Belanda, Prof. dr. R.F. Beerling (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia 09-05-1947). Dalam tulisan-tulisan Ida Nasoetion lebih fokus pada pengembangan kritik dan esai dan artikel-artikelnya dimuat di koran dan terutama majalah baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Belanda, seperti Het Inzicht, Siasat, Sadar, Pembaroean, Opbouw. Ida Nasoetion juga menerjemahkan beberapa buku bahasa Perancis (Malraux). Di dalam tulisan-tulisan Ida Nasoetion seperti pada ‘Indonesie Culturaal’ kata-kata ‘merdeka’ kerap ditemukan. 

Lagi-lagi, genap setahun setelah meninggalnya Ida Nasoetion, kembali terinformasikan penulis Indonesia meninggal dunia. Penyair Chairil Anwar meninggal dunia di Djakarta. Ini menjadi kabar buruk lagi dalam dunia sastra Indonesia. Tiga penulis Indonesia yang dikenal luas telah tiada: Soejitno Mangoenkoesoemo meninggal Oktober-November 1947; Ida Nasoetion meninggal Maret 1948; dan kini April 1949 Chairil Anwar. 


De vrije pers : ochtendbulletin, 30-04-1949: ‘Chairil Anwar Meninggal Dunia. Menurut "Nieuwsgier", penyair dan penulis Indonesia Chairil Anwar meninggal dunia pada Kamis sore di Rumah Sakit Pusat di Batavia (kini RSCM). Ini adalah kehilangan besar ketiga yang diderita kaum intelektual Indonesia dalam waktu singkat: wafatnya Sujitno Mangoenkusumo pada tahun 1947 diikuti oleh wafatnya Ida Nasution pada tahun 1948, dan sekarang wafatnya Chairil Anwar, yang meskipun masih muda (lahir pada 26 Juli 1922 di Medan), menonjol sebagai penyair di atas semua rekan senegaranya dan karyanya kemudian diterbitkan oleh hampir semua majalah Indonesia ternama. Puisi-puisinya akan segera diterbitkan dalam sebuah kumpulan dengan judul "Deru Tjamour Debu". 

Di bidang sastra bangsa Indonesia telah kehilangan putra-putri terbaiknya selama perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tentu saja lebih banyak lagi yang meninggal di garis depan pertempuran di medan perang. Lantas bagaimana dengan Ir Darmawan Mangoenkoesoemo? Tampaknya Ir Darmawan Mangoenkoesoemo mulai lelah berjuang dan mengalami sakit (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-10-1949). Disebutkan berangkat bersama kapal Willem Ruys dan terhalang untuk melakukan kunjungan perpisahan karena sakit. Ir Darmawan Mangoenkoesoemo dan keluarga. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar