*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Dalam pengasingan, penyakit Dr Tjipto tidak kunjung sembuh. Pada tahun 1940 Dr Tjipto dibawa ke Makassar untuk pengobatannya. Seiring dengan pidato Ratu Juliana dari London tahun 1940 Dr Tjipto mengajak penduduk Indonesia untuk mendukungnya (sebagaimana juga Perhimpoenan Indonesia di Belanda). Besar dugaan atas dasar ini, Pemerintah Hindia Belanda, alih-alih mengembalikan kembali ke Banda sesudah sembuh, justru Dr Tjipto dipindahkan ke Jawa di Soekaboemi. Pada saat pendudukan militer Jepang, Dr Tjipto berada di Djakarta. Sejarah Sepak Bola di Indonesia
Parlindoengan Loebis adalah tokoh nasionalis, dokter, sekaligus Ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda periode 1936–1940. Ia tercatat dalam sejarah sebagai salah satu dari sedikit orang Indonesia yang berhasil selamat dari kamp konsentrasi Nazi Jerman selama Perang Dunia II. Parlindungan Lubis lahir pada 30 Juni 1910 di Batang Toru, Tapanuli Selatan. Parlindungan Lubis terpilih menjadi Ketua PI pada tahun 1936 hingga tahun 1940. Di bawah kepemimpinannya, arah pergerakan PI bergeser secara strategis akibat ketegangan geopolitik dunia. Ketika Nazi-Hitler mulai mengancam perdamaian Eropa, Parlindungan membawa PI bersekutu dengan kelompok sayap kiri dan gerakan perlawanan bawah tanah Belanda (verzet). PI menilai fasisme Jerman merupakan ancaman yang jauh lebih berbahaya bagi kemanusiaan dan masa depan kemerdekaan Indonesia dibanding kolonialisme Belanda itu sendiri. Jerman menduduki Belanda pada Mei 1940, posisi para aktivis PI menjadi sangat terancam. Pada 26 Juni 1941, Parlindungan Lubis ditangkap oleh intelijen Jerman (Gestapo) di Amsterdam. Setelah perang berakhir tahun 1945, Dr. Parlindungan Lubis kembali ke tanah air (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Parlindungan Lubis bersihkan unsur komunis di PI Belanda, Jepang di Indonesia? Seperti disebut di atas, sikap Jerman di Eropa menjadi ekspasionis dan bersifat fasis. Perhimpoenan Indonesia di Belanda dipimpin oleh Parlindoengan Loebis dimana kemudian Jerman menduduki Belanda. Sementara itu Jepang menduduki Indonesia. Dr Tjipto meninggal di Djakarta pada tahun 1943. Lalu bagaimana sejarah Parlindungan Lubis bersihkan unsur komunis di PI Belanda, Jepang di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Parlindungan
Lubis Bersihkan Unsur Komunis di PI Belanda, Jepang di Indonesia; Dr Tjipto
Meninggal di Djakarta 1943
Pada tahun 1938 Perhimpoenan Indonesia (PI) merayakan ulang tahunnya yang ketiga puluh. Buku 30 Tahun PI ditulis. Di dalam buku ini dapat dibaca, sejarah perjalanan PI sejak didirikan tahun 1908, juga di dalam buku ini dapat dibaca arah perjalanan PI ke depannya dan pendekatan/metode perjuangan apa yang akan diterapkan.
Hal serupa itu telah pernah dilakukan pada tahun 1923 dimana pengurus Indonesisch Vereeniging (nama PI pada saat itu) menerbitkan Buku Lima Belanda Tahun Indische Vereeniging/Indonesisch Vereeniging. Secara teknik buku tersebut diterbitkan/disebarluaskan pada tahun 1924. Dalam buku tidak disebutkan siapa saja yang menjadi editor buku. Namun yang sangat jelas di dalam buku ini disebutkan arah pejuangan Indonesisch Vereeniging adalah mencapai kemerdekaan Indonesia dengan pendekatan/metode non-cooperative.
Buku 30 tahun Perhimpoenan Indonesia yang diterbitkan tahun 1938 para pengurus inti Perhimpoenan Indonesia saat ini adalah Parlindoengan Loebis (ketua), Mohamad Ildrem Siregar (sekretaris) dan Sidartawan (bendahar). Dalam komite pembuatan Buku 30 tahun Perhimpoenan Indonesia para editornya tercatat secara jelas. Dalam buku ini arah Perhimpoenan Indonesia ke depan menggunakan pendekatan/metode anti-fasis dalam menuju kemerdekaan Indonesia.
Kekalahan Jerman dalam perang Eropa (1914-1918) telah menyebabkan Jerman bangkit kembali dan bersifat ekpansionis dan bersifat fasis. Jerman menduduki dan mencaplok wilayah Austria pada tanggal 12 Maret 1938. Suatu aksi rezim baru Jerman di bawah Hitler untuk penyatuan atau aneksasi ras Arya. Invasi ke Austria ini telah menimbulkan kekhawatiran orang Belanda di Eropa maupun di Indonesia yang hanya menunggu waktu Jerman menduduki wilayah Belanda. Di Asia Pasifik, Jepang menginvasi besar-besaran ke seluruh daratan Tiongkok sejak 7 Juli 1937. Jerman di Eropa adalah sumber ketakutan Belanda, Jepang di Asia Pasifik juga menjadi sumber ketakutan Belanda di Indonesia. Dalam konteks inilah pendekatan/metode perjuangan Perhimpoenan Indonesia di Belanda adalah anti fasis.
Dr Tjipto Meninggal di Djakarta 1943; Ir Darmawan dan Mr Soejitno Meneruskan Perjuangan Dr Tjipto
Kondisi kesehatan Dr Tjipto di Banda semakin memburuk. Akhirnya pemerintah memberi izin untuk Dr Tjipto berobat ke Makassar. Pada bulan Februari 1940, Dr Tjipto terinformasikan sudah berada di Makassar (lihat De Sumatra post, 12-02-1940). Disebutkan Dr Tjipto di Makassar. Batavia, 12 Feb. (Aneta). Dr Tjipto sedang berada di Makassar untuk perawatan medis. Segera setelah itu, beliau kembali ke tempat internirannya di Banda Neira. Namun tidak lama kemudian terinformasikan bahwa Jerman telah menduduki wilayah Belanda.
Jerman di Eropa, setelah invasi pertama ke Austria tahun 1938, lalu menduduki wilayah timur di Cekoslowakia dan Polandia. Lalu invasi Jerman diperluas ke Denmark dan Norwegia pada bulan April 1940. Sebulan kemudian, Jerman menerobos negara-negara netral Belanda, Belgia dan Luksemburg pada bulan Mei 1940 untuk membuka front dengan pertahanan Prancis.
Keluarga kerajaan Belanda melarikan diri ke Inggris. Wilayah Belanda menjadi berada di bawah pendudukan Jerman. Ratu Wilhelmina dari Belanda yang juga didampingi Putri Juliana dan Pangeran Bernhard tiba di London di stasiun pada tanggal 13 Mei 1940 (lihat antara Haarlem's dagblad, 14-05-1940). Berita ini juga cepat menyebar di Indonesia.
Haarlem's dagblad, 14-05-1940: ‘Ratu di London. London, 13 Mei (Reuters). Sebuah laporan pengadilan Inggris menyatakan bahwa Raja George pergi ke Stasiun Liverpool Street pada Senin malam untuk menyambut Yang Mulia Ratu Wilhelmina dari Belanda, yang tiba di London malam ini. Putri Juliana dan Pangeran Bernhard juga hadir di stasiun ketika Ratu turun dari kereta. Setelah penyambutan, Ratu berbincang singkat dengan Pasangan Pangeran dan Putri, setelah itu ia menoleh ke Raja dan berbincang panjang lebar dengannya dalam bahasa Prancis. Yang Mulia Ratu tiba di London dengan kereta tambahan. Panglima Tertinggi telah mengeluarkan proklamasi berikut kepada rakyat Belanda: Kepada Rakyat Belanda! Jalannya operasi militer di negara ini (Belanda) telah menyebabkan Yang Mulia Ratu dan para menterinya memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke tempat lain (Inggris). Keputusan ini telah diambil setelah pertimbangan matang dan atas dasar yang baik. Karena Kerajaan Belanda tidak hanya terdiri dari wilayah di Eropa; Yang tak kalah penting adalah wilayah seberang laut, yang selama berabad-abad menjadi sumber sebagian besar kedudukan penting negara kecil kita di antara bangsa-bangsa. Pemerintah memiliki kewajiban yang mulia untuk memastikan pengelolaan seluruh wilayah Kerajaan. Pemerintah tidak boleh mengambil risiko terputus oleh infiltrasi musuh di wilayah tersebut. Pemerintah juga dapat melayani kepentingan Tanah Air ketika dapat bertindak dan memutuskan di tempat lain dalam konsultasi erat dengan sekutu kita. Oleh karena itu, Belanda tetap berada di bawah pengelolaan pemerintahnya yang sah. Saya bertindak sebagai perwakilan tertinggi pemerintah di negara ini’.
Para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpoenan Indonesia yang sudah sejak lama anti fasis mulai melakukan perlawanan bawah tanah. Sementara itu, nun jauh di Indonesia, tidak ada awan tidak ada angin tiba-tiba Dr Tjipto di Makassar menggalang pawai kesetiaan dan pengabdian kepada Ratu Belanda.
Bataviaasch nieuwsblad, 16-05-1940: ‘Pagi ini, berita mengejutkan sampai kepada kami bahwa demonstrasi kesetiaan dan pengabdian kepada Ratu diadakan di Makassar atas inisiatif pemimpin pribumi yang ditahan, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Marilah kita berharap bahwa tanda-tanda ini tidak hanya dipahami, tetapi juga disadari oleh masyarakat bahwa tanda-tanda ini menyerukan respons. Pemerintah tidak boleh membiarkan momen ini berlalu begitu saja. Dalam diri Dr Idenburg, yang sekarang bertugas mengurus urusan publisitas sebagai kepala departemen "di atas bidang kepegawaian," pemerintah memiliki orang yang tepat untuk memulai kontak dan mengambil langkah pertama menuju ketahanan spiritual penduduk, untuk mengambil alih pengorganisasian front domestik’.
Lantas mengapa Dr Tjipto Mangoenkosoemo melakukan tindakan yang dapat dianggap tergesa-gesa bahkan sebelum orang Belanda sendiri di Indonesia menyadarinya? Satu yang jelas bahwa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo di Makassar statusnya adalah tahanan (pengasingan di Belanda) yang tengah berobat di Makassar.
Ketakutan invasi Jepang ke Indonesia yang sudah lama muncul menjadi semakin menakutkan orang-orang Belanda di Indonesia. Jepang sendiri, setelah Jerman menginvasi Belanda, masih wait en see. Namun yang jelas Jepang sudah mulai melihat secara terang benderang bahwa Belanda dengan sendirinya langsung melemah, Inggris akan sibuk merespon Jerman dan Amerika Serikat akan turut mendukung ke Eropa. Jepang jelas melihat pantai timur Asia dan Asia Tenggara akan segera terbuka lebar yang memungkinkan pasukan Jepang melakukan invasi bahkan hingga jauh ke selatan di Filipina (Amerika Serikat), Indo Cina (Prancis), Indonesia (Belanda) dan Australia (Inggris).
Apa yang sebelumnya pertanyaan banyak orang apa yang akan dikatakan Ratu mulai terinformasikan (lihat De Sumatra post, 24-05-1940). Disebutkan Ratu berpidato malam ini. London, 23 Mei. (Aneta-ANP): Yang Mulia Ratu Wilhelmina akan menyampaikan pidato radio hari ini, Jumat, pukul 12:00 Waktu Meridian Greenwich, 19:30 Waktu Jawa, khusus untuk Belanda di luar negeri. [Ulangi, pidato ini akan berlangsung pukul 17:00 Waktu Meridian Greenwich, 0:30 Waktu Jawa. (Pidato yang disampaikan oleh Ratu dapat didengar di Sumatera Utara malam ini pukul setengah tujuh Waktu Sumatera Utara).
Bataviaasch nieuwsblad, 25-05-1940: ‘Dalam pernyataan yang dikeluarkan tadi malam di Istana Buckingham, Ratu Wilhelmina membuat beberapa pengumuman mengenai rencana Jerman untuk menjadikan Beliau sandera guna melumpuhkan perlawanan Belanda, Aneta memberi sinyal dari London. “Saya memutuskan bahwa itu adalah tugas saya, seolah-olah, untuk menggagalkan upaya musuh untuk menangkap saya, ketika menjadi jelas bahwa upaya-upaya itu tidak dapat diakhiri secara permanen. Sejak awal permusuhan, musuh telah melakukan segala daya upaya untuk menjadikan saya tawanan. Rupanya ia menganggap saya sebagai sandera yang sangat menjanjikan, yang dengannya ia dapat melumpuhkan perlawanan penduduk di Belanda dan wilayah seberang laut. Dinasti saya telah memimpin setiap perjuangan untuk kebebasan Belanda dan, sebagai warisan tradisi kami, adalah tugas saya untuk pergi ke mana pun demi Belanda untuk melanjutkan perjuangan mereka untuk kebebasan. Di tangan musuh, saya akan tak berdaya. Di tangan penindas, saya tidak akan bisa menjadi titik di mana rakyat saya yang malang dapat berkumpul, dan saya juga tidak dapat ikut campur dengan rakyat saya. Tidak ada orang Belanda yang dapat menengadah ketika mereka menjadi tawanan musuh. Saya telah Saya menganggap sebagai tugas saya untuk memilih kepemimpinan aktif dari perjuangan berkelanjutan di pucuk pemerintahan saya. Perjuangan ini dilakukan oleh orang-orang Belanda yang telah melarikan diri dari wilayah yang saat ini diduduki, yang telah direkrut di luar negeri di pihak Sekutu. Perjuangan ini juga dilakukan oleh armada Belanda dengan tradisi yang membanggakan, yang telah berada di Amerika Selatan untuk bergabung dengan armada Sekutu hampir tanpa kerusakan. Tugas saya adalah memberikan kepemimpinan dan kepercayaan kepada angkatan bersenjata ini dan kepada orang-orang Belanda di wilayah seberang laut, yang bersedia dan ingin melakukan setiap pengorbanan untuk pembebasan tanah air. Tugas saya juga adalah untuk membebaskan hak konstitusional untuk terus memimpin perjuangan 6,5 juta penduduk asli Kerajaan kita, yang kesetiaannya kepada Mahkota telah ditunjukkan dengan cara yang begitu kuat di masa-masa sulit ini. Saya menganggap ini sebagai tugas besar yang harus saya penuhi sekarang. Didukung oleh tentara dan pemerintah saya, "Je maintiendra" adalah motto tradisi saya. Ini Tradisi, yang tidak dapat saya lanjutkan dengan cara yang layak dan efektif sebagai tawanan musuh, akan selalu saya junjung tinggi dan hargai’.
Isi pidato Ratu Wilhelmina adalah satu hal, sementara sikap Dr Tjipto yang terkesan buru-burn menyatakan sikap telah menjadi pembicaraan diantara orang Belanda di satu sisi dan diantara orang Indonesia di sisi lain. Dr Tjipto kemudian mengklarifikasi tentang apa yang telah dilakukannya di Makassar.
Bataviaasch nieuwsblad, 05-06-1940: ‘Posisi Dr Tjipto. Diingat bahwa Dr Tjipto Mangoenkoesomo, seorang nasionalis terkenal, mengorganisir demonstrasi kesetiaan kepada otoritas Belanda di Makassar segera setelah peristiwa-peristiwa di seluruh Belanda. Sebagai tanggapan atas laporan mengenai hal ini, surat kabar "Mata-Hari" menerima surat pos udara dari Dr. Tjipto, di mana ia menguraikan posisi atau pendiriannya. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo bertindak bukan untuk mencari popularitas, tetapi sesuai dengan keyakinannya. “Jika kita merenungkannya dengan tenang”, kata Dr. Tjipto, “perang yang terjadi di Eropa saat ini adalah perjuangan demokrasi melawan sistem totaliter. Hitlerisme ini ingin melakukan apa pun yang dianggapnya tepat; ia bertindak sewenang-wenang, sedangkan politik Belanda di sini didasarkan pada demokrasi. Seperti: Dewan Rakyat, Dewan Kota, dan Dewan Perwalian. Demokrasi akan lenyap seiring dengan penyebaran Hitlerisme, dan karena itu kita harus bekerja sama untuk melawannya. Anggota Reichstag di Berlin, yang hanya bisa meneriakkan ‘Heil Hitler,’ semuanya adalah Arya, tetapi anggota Dewan Rakyat memiliki warna kulit yang berbeda: cokelat, putih, dan kuning.” Lebih lanjut, Dr. Tjipto menyatakan bahwa sebagai seorang ksatrlja, seseorang tidak dapat mengadopsi sikap lain’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Tampaknya Dr Tjipto Mangoenkosoemo telah mendapat keuntungan langsung dari sikap dan tindakannya di Makassar. Bagi Pemerintah Hindia Belanda, dalam situasi kritis saat ini tidak menjadi penting lagi menganggap apakah Dr Tjipto tetap ditahan atau dibebaskan. Yang jelas dalam situasi itu telah membawah Dr Tjipto mendapatkan kebebasannya.
Soerabaijasch handelsblad, 02-12-1940: ‘Dr. Tjipto singgah. Pagi ini, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo tiba di sini (Soerabaja) dengan kapal uap KPM; perintah penahanannya telah dicabut oleh pemerintah. Malam ini ia akan melanjutkan perjalanan ke Batavia dengan kereta ekspres malam; kemudian kemungkinan besar ia akan menetap di Soekaboemi’. Soerabaijasch handelsblad, 03-12-1940: ‘Dr. Tjipto ke Sukabumi. Semalam, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, yang tiba di Soerabaja kemarin pagi dengan kapal KPM berangkat ke Jawa Barat dengan kereta ekspres malam bersama keluarganya. Rencana untuk terlebih dahulu tinggal bersama kerabat di Batavia telah dibatalkan. Dr. Tjipto akan langsung menetap di Soekaboemi’.
Lantas mengapa Dr Tjipto Mangoenkosoemo memilih tinggal di Soekaboemi? Yang jelas di Soekaboemi sejak beberapa tahun terakhir ini Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dkk telah membuka kantor hukum di Soekaboemi.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Invasi Jepang ke wilayah selatan akhirnya telah mencapai Indonesia pada bulan Desember 1941. Kota Tarempa di pulau Natuna tentara Jepang telah menjatuhkan bom pada tanggal 21 Desember 1941 (sebagai bagian dari serang Jepang ke wilayah kekuataan Inggris di Penang, Semenanjung Malaya dan Singapoera. Pada tanggal 11 Januari 1942 pesawat tempur Jepang telah menyerang Pontianak, Tarakan, Kakas, Ambon dan Fakfak. Lalu kemudian menyusul di Palembang. Posisi wilayah Jawa sudah mulai terkepung.
Pada tanggal 1 Februari 1942, Mohamad Hatta bersama Soetan Sjahrir dipindahkan Pemerintah Hindia Belanda dari tempat pengasingan di Banda Neira ke Soekabumi. Lagi-lagi, apa yang menyebabkan keduanya dipindahkan ke Soekaboemi, apakah atas dasar permintaan sendiri atau atas pilihan pemerintah? Yang jelas, pada waktu yang sama Ir Soekarno masih berada di Bengkoeloe sebagai tempat pengasingannnya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Akhirnya pesawat-pesawat tempur Jepang yang dipusatkan di selat Makassar (kapal-kapal induk) pada tanggal 6 Maret mulai melakukan serangan pertama ke Jawa di Gresik (pintu masuk ke Soerabaja), Soerabaja (ibu kota provinsi Jawa Timur), Malang (skuadron terkuat di Jawa bagian timur) dan Magetan (pusat pelatihan penerbangan). Pesawat tempur Jepang juga memborbardir jalur kereta api strategi sehingga lalu lintas kereta api dari ke Jawa Timur terputus.
Dengan semakin sempitnya wilayah kekuatan militer Belanda di Jawa, dengan sasaran utama ke Batavia/Djakarta, angkatan laut Jepang mulai beraksi dengan membuka ruang di Indramayu (Eretan). Kapal-kapal Jepang akan mengantarkan masuk para infantry untuk memasuki wilayah pertempuran darat. Saat kekuatan antara wilayah Jawa Tengah dan wilayah Jawa Barat telah disekat, angkatan udara Jepang mulai melancarkan serangan ke Semarang, Soerakarta, dan Tjilatjap.
Dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang sudah tidak menguntungkan lagi, lalu Pemerintah Hindia Belanda melalui Gubernur Jenderal menyatakan takluk kepada militer Jepang di Soebang pada tanggal 6 Maret 1942. Tamat sudah Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Pendudukan militer di Jawa dimulai. Akhirnya kota Batavia/Djakarta dapat dikuasai.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Setelah pendudukan
militer Jepang di Djakarta, sejumlah tokoh Indonesia, termasuk Dr Tjipto
Mangoenkosoemo satu per satu mulai memasuki Djakarta. Terakhir, Ir Soekarno
tiba di Djakarta pada bulan Juni 1942. Sejak inilah mulai dibentuk semacam
dewan diantara orang-orang Indonesia yang akan bekerjasama dengan pemimpin
militer Jepang di Djakarta.
Di Djakarta, kondisi kesehatan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mulai menurun lagi. Kabar duka telah meninggal Dr Tjipto diberitakan oleh surat kabar Asia Raja. Dr Tjipto Mangoenkosoemo meninggal dunia pada tanggal 8 Maret 1943 di Djakarta. Sebagaimana diketahui, ada dua saudara Dr Tjipto yakni Ir Darmawan Mangoenkoesoemo di Buitenzorg dan Mr Soejitno Mangoenkoesoemo di Djakarta. Dalam berita surat kabar Asia Raja edisi 9 Maret 1943 disebutkan bahwa jenazah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan dibawa ke Ambarawa, tempat pemakaman keluarga. Semua dokter dari keluarga Mangoenkoesomo telah tiada: Dr Sjamsoel Maarif meninggal tahun 1925; Dr Goenawan meninggal tahun 1929; Dr Boediardjo meninggal tahun 1938; dan kini Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Lantas bagaimana kondisi kesehatan ke depannya Ir Darmawan Mangoenkoesoemo dan Mr Soejitno Mangoenkoesoemo?
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar