Selasa, 22 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (62): Kerajaan Tarumanagara; Awal Terbentuknya Kerajaan Galuh hingga Kerajaan Sunda di Pajajaran

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Kerajaan tertua di Hindia Timur (baca: nusantara) adalah Aru dan Taruma (T-aru-ma). Aru dalam bahasa India selatan (Ceylon) adalah air atau sungai. Kerajaan Aru dan Kerajaan Taruma adalah kerajaan-kerajaan perairan (luat dan sungai) yang berbeda dengan di India (umumnya berada di daratan). Pedagang-pedagang India akhirnya menemukan jalan ke Sumatra dan Jawa. Dalam hubungan inilah terbentuk arus navigasi pelayaran perdagangan yang intens, yang mana sebagai lingua franca adalah bahasa Sanskerta dan penggunaan aksara Pallawa. Pada dua pulau di nusantara itu terbentuk Kerajaan Aru (bagian utara Sumatra) dan Kerajaan Tarumanagara (bagian barat Jawa).

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-5 hingga abad ke-7. Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu. Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa Barat yaitu Ci Tarum. Pada muara Ci Tarum ditemukan percandian yang luas yaitu percandian Batujaya dan percandian Cibuaya yang diduga merupakan peradaban peninggalan Kerajaan Taruma. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara dapat dilihat pada sejumlah prasasti terutaa yang berasal dari abad ke-5 yakni prasasti Ciaruteun, prasasti Pasir Koleangkak, prasasti Kebonkopi, prasasti Tugu, prasasti Pasir Awi, prasasti Muara Cianten, dan prasasti Cidanghiang. Prasasti menyebutkan nama raja yang berkuasa adalah Purnawarman (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Kerajaan Tarumanaga? Nah, itu dia. Kerajaan Taruma yang berada di suatu pulau di sekitar muara sungai Tjitaroem. Lho, koq di suatu pulau? Itu juga perlu dideskripsikan. Seperti Kerajaan Aru di bagian utara Sumatra, nama Kerajaan Taruma juga merujuk pada perairan dan sungai (aru). Lalu apakah ada relasi Kerajaan Aru yang memiliki pelabuhan di pantai barat Sumatra (muara sungai B-aru-s) dan di pantai timur Sumatra (muara sungai B-aru-mun)? Itu juga perlu dideskripsikan. Okelah, darimana kita mulai memahami sejarah Kerajaan Taruma? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Barus, Taruma dan Aru: Prasasti Vo Cahn dan Prasasti Muara Kaman

Jangan bayangkan dulu India dan Indonesia. Sumber kerajaan kuno di Hindia bagian Timur (baca: Nusantara) adalah dua prasasti tertua yakni prasasti Vo Cahn di Vietnam abad ke-3 dan prasasti Muara Kaman, Kutai abad ke-4. Kedua prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Dengan demikian dapat disimpulan bahwa asal pengaruh budaya pada dua prasasti berasal dari barat (India selatan). Dalam hal ini pengaruh budaya awal haruslah bermula di pantai barat Sumatra bagian utara dan pantai bagian barat Jawa. Sangat sulit membayangkan pengaruh budaya India (bahasa dan aksara) di wilayah terpencil (jauh dari arah barat).

Ptolomeus (90-168 M) seorang penulis geografis mencatat wilayah Sumatra bagian utara sebagai sentra kamper dan kemenyan. Literatur Eropa pada abad ke-5 menyebut kamper diekspor melalui pelabuhan yang disebut Barus. Pada interval waktu Eropa inilah ditemukan dua prasasti tertua di Nusantara, prasasti Vo Cahn, Vietnam abad ke-3 dan parasati Muara Kaman, Kalimantan Timur abad ke-4. Pada era ini diduga kuat pengaruh (budaya) Tiongkok belum menyeberang ke pulau-pulau di Hindia Timur. Penabalan nama Hindia (baca: India) pada pulau di bagian timur mengindikasikan begitu kuatnya pengaruh budaya yang berasal dari barat (India).

Pada prasasti Vo Cahn (abad ke-3) menceritakan bahwa seorang raja yang masyhur mendoakan raja yang sudah meninggal dan juga mendoakan raja yang baru naik tahta agar keluarga putri kerajaan menyenangkan. Hal itulah mengapa dibuat prasasti. Raja yang meninggal adalah raja di Vietnam (Champa) sedangkan yang menggantikan adalah putranya yang telah menikah dengan putri dari raja yang masyhur tersebut. Siapa raja yang masyhur ini tentulah berasal dari kerajaan besar dan kaya (sehingga mampu membuat prasasti). Dengan demikian, prasasti dibuat di Vietnam tetapi yang berinisiatif dan membiayai prasasti dari kerajaan di barat (diduga kerajaan di bagian utara Sumatra; asumsikanlah Kerajaan Aru dengan pelabuhannya di Barus).

Lalu bagaimana dengan prasasti di Muara Kaman (Kalimantan Timur)? Yang jelas sejak tanggal prasasti Muara Kaman (abad ke-4) tidak ada dinamika yang penting di daerah aliran sungai Mahakam dan baru muncul abad ke-16. Sementara di wilayah bagian utara Sumatra dan bagian barat Jawa sejak awal milenium pertama ini hingga abad ke-16 begitu intens dinamikanya. Mengapa tidak terpikirkan bahwa prasasti Muara Kaman awalnya berada di bagian barat Jawa (asumsikanlah Kerajaan Taruma). Seperti keberadaan prasasti Vo Cahn, tentulah adalah faktor penyebab prasasti yang awalnya dibuat dan berada di Kerajaan Taruma (di Jawa) dipindahan ke Muara Kaman (di Kalimantan bagian timur). Apa yang faktor penyebabnya? Yang jelas bahwa nama-nama yang disebut pada prasasti Muara Kaman mirip dengan nama-nama yang disebut pada prasasti-prasasti yang ditemukan di Jawa bagian barat (Kerajaan Tarumanagara) seperti Mulawarman dan Purnawarman). Satu lagi persamaannya adalah satuan ukuran ekonomi yakni jumlah ekor sapi (bandingkan prasasti Muara Kaman dan prasasti Tugu abad ke-5 (di Cilincing) yang mencatat adanya satuan jumlah ekor sapi.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya: Terbentuknya Kerajaan Galuh hingga Kerajaan Sunda Pajajaran

Tunggu deskripsi lengkanya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar