Sabtu, 07 Januari 2017

Sejarah Bogor (2): Kopi Buitenzorg, Lebih Tua dari Kopi Preanger; Sentra Produksi di Megamendung dan Cibungbulang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Pada tahun 1725 belum ada kopi di Jawa bahkan pada tahun 1836 belum ada teh di Jawa (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-07-1867). Abraham van Riebeek adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi di Hindia Timur pada era VOC (lihat Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871).

Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871
Pada tahun 1703 van Riebeek memimpin ekspedisi ke Pakuan-Pajajaran. Rute yang dilalui tim ekspedisi Riebeek ini adalah Casteel, Tjilititan, Tandjong, Seringsing, Pondong Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjong Manggies (dekat Bojonggede), Kedoenghalang dan Paroengangsana (Tanah Baru). Abraham van Riebeek menjadi Gubernur Jenderal VOC di Hindia Timur tahun 1709 dan membangun jalan besar ke pantai selatan Jawa (melanjutkan pembangunan yang telah dimulai sejak tahun 1698). Selama menjadi Gubernur Jenderal, van Riebeek berhasil meredakan pemberontakan di pantai Malabar (India). Abraham van Riebeek meninggal tahun 1713 (semasih menjadi Gubernur Jenderal VOC).

Abraham van Riebeek besar kemungkinan sangat mengenal daerah Malabar (di India) dan daerah (sekitar hulu) Batavia. Penanaan kopi pertama dilakukan di sekitar Batavia (Eerste koffij aan planting in de omstreken van Batavia) pada tahun 1710 diduga karena peran dari Abraham van Riebeek (lihat Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871).

Dalam perkembangan lebih lanjut, kopi yang diintroduksi di Jawa sudah menghasilkan dan produksinya terus meningkat dari waktu ke waktu. Selanjutnya kopi juga diintroduksi di Sumatra terutama pantai barat Sumatra (1820) termasuk Tapanoeli (1840). Kopi-kopi dari Hindia Belanda yang bermutu tinggi di ekspor ke Eropa dan yang bermutu rendah di perdagangkan secara domestik untuk diolah. Pengolahan kopi terbesar dibangun di Buitenzorg pada tahun 1866.

Komoditi Kopi

Courante uyt Italien, Duytslandt, &c., 16-07-1633
Ketika VOC membuka pos perdagangan utama di Batavia (1619) dan didirikannya casteel Batavia (selanjutnya disebut Batavia) dan pada decade-dekade awal VOC belum ada kopi dalam daftar perdagangan ekspor dari Batavia. Komoditi utama yang terdaftar dalam manifest kapal (sebagaimana dilaporkan di surat kabar) antara lain, hanya  lada, pala, puli, dammar, kemenyan, kamper, rotan, jahe dan lainnya. Produk-produk saat itu masih produk tahan lama dan popular di Eropa. Produk ini merupakan gabungan dari hasil perdagangan kecil (antar pulau) di Hindia Timur yang berasal dari Maluku, Sulawesi, Sumatra. Produk melalui Batavia ke Belanda juga ada yang didatangkan dari Siam, Tiongkok (porselin) dan produk tembaga dari Jepang (lihat antara lain surat kabar Courante uyt Italien, Duytslandt, &c., 16-07-1633).
 
Dalam perkembangan lebih lanjut. komodi gula dikemmbangkan di Jawa dan diekspor. Tebu juga didatangkan dari Jawa Tengah dan pabrik gula dipusatkan di Batavia. Di Batavia dan sekitarnya pada tahun 1710 terdapat sebanyak 130 pabrik gula. Gula dari Hindia Timur ini untuk mendapingi pasar kopi dan teh yang sudah ada di Eropa.  Dalam perkembangan lebih lanjut pada nantinya didirikan dua pabrik gula aren di Buitenzorg.

Gula dan kopi kemudian menjadi produk ekspor utama dari Jawa. Ini mengindikasikan produk primer (seperti lada, dammar, kamper) telah bergeser ke produk sekunder seperti gula dan kopi. Dari hasil-hasil hutan menjadi usaha-usaha pertanian (budidaya).

Komoditi-komoditi ini sudah dikembangkan sejak awal (era VOC). Komoditi kopi ini terus berkembang hingga dibentuknya pemerintah Hindia Belanda (sejak 1800). Pengembangan komoditi kopi di Sumatra (pantai barat) baru terlaksana di era pemerintahan Hindia Belanda (1920an). Usaha-usaha gula dan kopi di Jawa didukung oleh adanya perbudakan. ‘Pentingnya perdagangan budak di Nusantara, oleh karena itu, berbicara cukup fakta bahwa bahkan pada awal abad ini (abad ke-18), di Java terdapat sebanyak 27.142 budak yang mana sebanyak 18.972 berada di Batavia dan sekitarnya, sebanyak 4.488 buda di afdeeling Samarang dan 3.682 di afdeeling Soerabaja’ (lihat…..). Ini mengindikasikan bahwa budidaya dan pengolahan gula dan kopi di Jawa merupakan ‘jalan pintas’ untuk meningkatkan produksi ekonomi yang lebih cepat pada fase-fase awal perkembangan VOC yang sebelumnya sangat mengandalkan pada pengumpulan hasil-hasil hutan (dammar, kamper, kemenyan, pala, kulit manis) dan budidaya terbatas (lada) yang dilakukanb oleh penduduk pribumi. Budak yang digunakan untuk produksi didatangkan dari Tiongkok dan budak belian dari pulau-pulau di luar Java. Peristiwa pembataain Cina di Batavia tahun 1740 yang menelan korban 10.000 orang Cina diduga ekses dari perbudakan yang dipraktekkan. Disebutkan pemicunya karena adanya pemberontakan (lihat Oprechte Haerlemsche courant edisi 15-07-1741 dan edisi 18-07-1741).

Kopi di West Java

Pada masa VOC pendekatan penguasaan wilayah belum berdasarkan pembagian wilayah administratif secara gografis melainkan dengan pendekatan penguasaan daearah secara tradisional. Pimpinan VOC melakukan kerjasama-kerjasama dengan raja-raja atau sultan-sultan. Pembagian wilayah mengacu pada tempat-tempat utama, seperti Bantan, Batavia, Cheribon, Pakalangan, Samarang, Jokjakarta, Soerakarta, Soerabaja dan lainnya. Di tempat-tempat utama tersebut umumnya penguasa lokal sudah lama eksis.

Tunggu deskripsi lebih lanjut

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar