*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini
Awal mula ilmu dan teknologi Jepang modern berakar dari Restorasi Meiji (1868), ketika Jepang membuka diri dari isolasi dan mengadopsi sains serta teknologi Barat secara masif melalui studi di luar negeri dan impor, didukung oleh penguasaan ilmu dari studi Belanda (Rangaku) pada periode sebelumnya.
Kronologi sains dan teknologi Jepang dimulai dari pengaruh Barat pada abad ke-16 (senjata api), adopsi masif ilmu Barat di Era Meiji (akhir abad ke-19), kebangkitan pasca-PD II dengan fokus industri dan elektronik, hingga menjadi pemimpin global dalam robotika, AI, dan teknologi digital saat ini, didorong oleh sistem pendidikan STEM kuat dan budaya inovasi: (1) Tahap Awal (Sebelum Abad ke-19: (a) Periode Kuno (Jomon, Yayoi): Penemuan tembikar, teknologi pertanian padi dan alat logam dari Asia (b) Pengaruh China: Adopsi aksara, Buddha, dan sistem pemerintahan.(c) Periode Edo (Isolasi): Studi terbatas Belanda (Rangaku) memperkenalkan kedokteran Barat, dengan pionir seperti Sugita Genpaku. (2) Kebangkitan Modern (Akhir Abad ke-19–Awal Abad ke-20. (a) Era Meiji (1868-1912): Jepang membuka diri, mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi Barat secara besar-besaran untuk modernisasi dan industrialisasi.(b) Fokus pada Pendidikan: Pembentukan sistem pendidikan modern dan penghormatan terhadap insinyur/ilmuwan (3) Pascaperang Dunia II & Keajaiban Ekonomi (1945–1980-an. (a) Revolusi Industri: Pengembangan teknologi otomotif (Toyota, Honda), elektronik (Sony, Panasonic), dan manufaktur presisi.(b) Inovasi Kunci: Munculnya produk elektronik rumah tangga massal, televisi, kamera, dan vending machines (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah ilmu dan teknologi Jepang bermula? Seperti disebut di atas, Jepang awalnya terisolasi yang kemudian terjadi interaksi dengan orang-orang Belanda. Hubungan Jepang dengan sistem pendidikan STEM Eropa (Belanda, Inggris, Jerman) semakin massif setelah Restorasi Meiji. Lalu bagaimana sejarah ilmu dan teknologi Jepang bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Ilmu dan
Teknologi Jepang, Bagaimana Bermula? Belanda, Inggris, Jerman dan Sistem
Pendidikan STEM
Sejatinya orang Eropa yang telah sejak lama berinteraksi dengan (orang) Jepang adalah orang Belanda. Sejak Restorasi Meiji tahun 1868 hingga awal abad ke-20, dunia luar masih menganggap Jepang masih misteri. Seorang penulis Belanda A Bertrand menulis buku berjudul “De geheimzinnige Japanees” (Orang Jepang yang Misterius) yang diterbitkan tahun 1904. Boleh jadi karena itu, seorang ahli matematika Dr PH Schoute, Profesor Universitas Groningen, Belanda menemukan kontak dengan seorang dosen Matematika di Tokyo Koto Shihan Gakkö di Jepang, Tsuruichi Hayashi.
Pada tahun 1905 Tsuruichi Hayashi menulis artikel berjudul “A Brief History of the Japanese Mathematics” yang kemudian diterbitkan di Nieuw archief voor wiskunde, 1905, Deel: Tweede reeks. Deel VI, 1905 (Uitgever Weytingh & Brave, Amsterdam). Dr PH Schoute sendiri belum lama menulis artikel berjudul “Mehrdimensionale Geometrie” (Geometri Multidimensi) yang dimuat dalam Erster Teil. Die linearen Raume. Sammlung Schubert XXXV, Leipzig, GJ Göschen’sche Verlagshandlung, 1902).
Lambat laun para akademi mulai banyak yang melakukan studi-studi tentang Jepang. Boleh jadi itu, karena (orang) Jepang sudah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam segala bidang. Hal itu juga telah mendorong para mahasiswa di Belanda untuk memilih topih tentang Jepang, termasuk mahasiswa Indonesia.
Sejumlah disertasi yang diterbitkan di Bekanda, diantaranya adalah J Feenstra Kuiper dalam bidang bahasa dan sastra Belanda dengan judul disertasi “Japan en de buitenwereld in de achttiende eeuw” (Jepang dan dunia luar pada abad kedelapan belas) di Universtas Leiden, 11 Maret 1921; Samsi Sastrawidagda dalam bidang ekonomi (perdagangan) dengan judul disertasi berjudul “De Ontwikkeling der handeks-politiek van Japan (Perkembangan kebijakan perdagangan Jepang) di Universitas Rotterdam, 17-11-1925. Catatan: Sam Ratoelangi meraih gelar doktor dalam bidang matematika di Zurich (Jerman) pada tahun 1918.
Artikel Tsuruichi Hayashi berjudul “A Brief History of the Japanese Mathematics” sangat menarik karena Hayashi menunjukkan secara luas dan mendalam bagaimana matematika dipelajari di Jepang sejak masa lampau, matematika khas Jepang (Wasan) hingga orang Jepang mengadopsi matematika Eropa (melalui orang Belanda) sebelum Restorasi Meiji (1868).
Matematika adalah fondasi utama bagi perkembangan teknologi dan teknik. Pada masa ini cabang matematika dasar yang menjadi pilar pengembangan teknologi: Kalkulus digunakan dalam pemodelan sistem fisik hingga kini kecerdasan buatan (AI), dan pengolahan citra. Kalkulus membantu menghitung perubahan variabel secara kontinu dalam algoritma. Aljabar Linear, sangat krusial untuk teknologi Machine Learning, grafika komputer serta pengolahan data besar (Big Data). Statistika dan Probabilitas menjadi dasar bagi analisis data, prediksi tren pasar, serta pengembangan algoritma AI dalam mengenali pola. Matematika Diskrit mempelajari struktur seperti graf dan pohon yang digunakan dalam kriptografi (keamanan data), optimasi jaringan internet, dan struktur. Logika Matematika dan Aljabar Boolean dasar dari sirkuit digital dan pemrograman komputer. Semua instruksi perangkat lunak beroperasi menggunakan logika "True/False" atau "1/0".
Saat Tsuruichi Hayashi menulis artikel “A Brief History of the Japanese Mathematics” tentu saja matematika yang digunakan adalah matematika Eropa. Matematika khas Jepang (Wasan) sudah lama tidak digunakan. Namun Tsuruichi Hayashi menemukan hanya satu buku (dalam bahasa Jepang) yang menulis buku tentang Wasan berjudul “Dai Nikon Sugaku Shi” (Sejarah Matematika di Jepang Raya) yang ditulis oleh Toshisada Endo, seorang guru di sekolah menengah Akita.
Toshisada Endo mencurahkan waktu hingga enam belas tahun untuk menyusun buku tersebut dengan usaha tanpa henti dan ketekunan yang gigih. Harus dikatakan bahwa mengumpulkan dan menyusun materi seperti yang terdapat dalam buku itu merupakan tugas yang sangat sulit dalam keadaan masa itu. Toshisada Endo menyelesaikan usaha besarnya dengan upaya yang cermat dan gigih, tanpa mempedulikan kehilangan waktu, tenaga dan uang. Toshisada Endo adalah salah satu dari sedikit matematikawan senior yang masa itu di Jepang, dan mahir dalam apa yang disebut Wasan, sehingga Toshisada Endo paling kompeten untuk menyusun buku sejarah matematika tersebut.
Buku berjudul “Dai Nikon Sugaku Shi” telah diminta oleh Dr PH Schoute, Profesor Universitas Groningen untuk diterjemahkan oleh Tsuruichi Hayashi ke dalam bahasa Inggris. Menurut Tsuruichi Hayashi di dalam artikel di atas, terdapat lebih dari dua ribu jilid buku manuskrip dan buku cetak tentang Wasan di Tokyo Imperial University. Tsuruichi Hayashi dalam menulis artikel tersebut merujuk pada buku sejarah Toshisada Endo dan buku-buku Wasan yang terdapat dalam perpustkaan Tokyo Imperial University.
Buku-buku kuno Jepang (Wasan) tersebut telah ditulis ke dalam sejumlah artikel-artikel dalam bahasa asing antara lain oleh Prof D Kikuchi berjudul “On the method of the old Japanese school to find the area of a circle” (The Tokyö Sugaku Buturigakkwai Kiji, Vol. VII, p. 24 26). Prof D Kikuchi juga menulis artikel berjudul “Japanese mathematicians”; “A series for π2 obtained by the old Japanese mathematicians”; “Ajimas’s method to find the length of an are of a circle”; “Seki’s method to find the length of an are of a circle”. Prof. R. Fujisawa berjudu “Note on the mathematics of the old Japanese school” (Compte rendu du deuxième congres international des mathématiciens, 1900, publiés par E. Duporcq, p. 379-393).
Belanda, Inggris, Jerman dan Sistem Pendidikan STEM: Science), Technology, Engineering dan Mathematics
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar