Selasa, 13 Januari 2026

Sejarah Jepang (3): Matematika Jepang Wasan dan Ilmu Geometri; Ilmu Dasar dalam Pembangunan Candi-Candi di Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Matematika pada candi-candi di Indonesia terwujud melalui konsep etnomatematika, yaitu penerapan konsep matematika (geometri, pola, simetri, rasio) secara alami dalam konstruksi dan desain candi seperti Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, yang menunjukkan pemahaman mendalam tentang bangun datar (persegi, segitiga, lingkaran) dan ruang (piramida bertingkat), menjadi media pembelajaran konkret untuk menghubungkan matematika abstrak dengan budaya lokal. 


Wasan (和算) adalah sistem matematika tradisional Jepang yang berkembang pesat selama periode isolasi Edo (1603–1867), Bentuk adaptasi dari matematika Tiongkok menjadi sistem yang unik dan sangat canggih. Seki Takakazu (Seki Kowa) dikenal sebagai "Newton dari Jepang" yang hidup sezaman dengan Isaac Newton dan Gottfried Leibniz. Seki menemukan konsep determinan dan bernoulli numbers secara independen, bahkan sebelum matematikawan Eropa menemukannya. Takebe Katahiro, murid Seki yang mengembangkan deret tak hingga untuk menghitung nilai π (pi) hingga 41 digit desimal.  Salah satu tradisi paling unik dari Wasan adalah Sangaku, tablet kayu berisi teka-teki geometri rumit. Biasanya berupa masalah tentang lingkaran, elips, atau poligon yang bersentuhan di dalam bangun datar lainnya.  Teknik Enri (Prinsip Lingkaran) metode yang mirip dengan kalkulus modern untuk menghitung luas dan volume bangun lengkung. Soroban (Sempoa Jepang) adalah alat hitung utama yang digunakan dalam Wasan. Wasan menggunakan sistem notasi khusus yang disebut tendan jutsu untuk memecahkan persamaan tingkat tinggi. Pada tahun 1872, selama Restorasi Meiji, pemerintah Jepang memutuskan untuk mengadopsi Yosan (matematika Barat) ke dalam kurikulum sekolah nasional sebagai bagian dari modernisasi (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah matematika Jepang “wasan” dan ilmu geometri? Seperti disebut di atas, Jepang memiliki matematika sendiri yang awalnya diadopsi dari Tiongkok lalu dikembangkan menjadi “wasan”. Mari melihat “wasan” untuk memahami ilmu dasar dalam pembangunan candi-candi di Indonesia. Lalu bagaimana sejarah matematika Jepang “wasan” dan ilmu geometri? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Matematika Jepang Wasan dan Ilmu Geometri; Ilmu Dasar dalam Pembangunan Candi-Candi di Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

Ilmu Dasar dalam Pembangunan Candi-Candi di Indonesia: Matematika Eropa Menggantikan Peradaban Matematika Kuno  

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar