Sejarah Persija Jakarta [5]: Sepakbola Jakarta dan Sepakbola Bandung, Ibarat Pinang Dibelah Dua, Awal Kebangkitan Bangsa



Si Oranye VIOS (Jakarta) dan Si Biru Sidolig (Bandung)
Tidak ada komunitas sepakbola yang begitu dekat, kecuali antara sepakbola Jakarta dan sepakbola Bandung. Bertetangga saling mengunjungi. Karena kedekatan (geografis dan psikologis) keduanya saling memperkuat. Pertandingan sepakbola perdana di Bandung adalah antara klub Jakarta dan klub Bandung. Klub-klub Jakarta kerap mengunjungi klub-klub Bandung, demikian sebaliknya. Salah satu klub terkuat di Jakarta (Bataviasch Voetbal Bond) adalah VIOS, sedangkan salah satu klub terkuat di Bandung (Bandoengsch Voetbal Bond) adalah Sidolig. Klub de orange (si oranye-hitam) VIOS dan klub de blue-witten (si biru-putih) Sidolig, jika bertanding akan selalu banyak penonton. Persija Jakarta (oranye) dan Persib Bandung (biru) yang sekarang adalah suksesi klub VIOS dan Sidolig. Julukan kedua klub ini dalam perkembangannya muncul nama Macan Kemayoran dan Maung Bandung.


Saat itu, Jawa dibagi tiga provinsi: West Java, Middle Java dan Oost Java. West Java terdiri dari empat residentie: Batavia, Bantam, Preanger dan Cheribon. Residentie Batavia meliputi afdeeling Batavia, afd. Buitenzorg dan afd. Karawang. Depok, bagian dari afdeeling Buitenzorg (Bogor). Gibernur berkedudukan di Batavia.

Klub Bandung mulai pede dan mampu mengalahkan klub Jakarta 
 
Di sela-sela mengikuti turnamen, klub-klub Jakarta masih sempat bertandang ke Bandung. De Preanger-bode, 30-12-1904 melaporkan sore ini di Bandung akan dilangsung pertandingan antara BVC Jakarta dan UNI Cimahi dan besok sore pukul empat sore di Cimahi antara UNI dengan klub dari Jakarta lainnya, Oliveo. Di Bandung juga akan digelar pertandingan antara VIOS Jakarta versus Sidolig Bandung..

Pada awal tahun 1905 pertandingan sepakbola digelar di Bandung. Kemarin antara BVC Bandung vs UNI dari Cimahi dengan skor lima nol untuk kemenangan BVC. Hari ini Minggu akan ada pertandingan antara UNI dengan Sidolig dari Bandung di Cimahi. Sidolig datang dengan pemain lengkap, pertandingan akan menarik (De Preanger-bode, 16-01-1905).

Di Bandung, frekuensi pertandingan makin tinggi. Tampaknya sepakbola Bandung dan Cimahi makin ramai. Di Jakarta, setelah turnamen yang melelahkan itu, seperti dilaporkan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-04-1905 berlangsung antara BVC vs Oliveo. Pertandingan berlangsung seru yang dimulai pukul 4.45. Pada babak pertama imbang nol-nol. Setelah jeda istirahat 10 menit pertandingan dimulai lagi, yang pada akhirnya Oliveo menang dengan tiga gol. Berita lain, dalam libur Paskah, salah klub di Bandung mengundang klub BVC dari Jakarta, namun sejauh ini belum diketahui keputusannya (De Preanger-bode, 14-04-1905). Ini menunjukkan bahwa klub Bandung mulai pede, sebab selama ini yang berinisiatif melakukan pertandingan di Bandung adalah klub-klub di Jakarta. Di Bandung sendiri sudah mulai banyak klub, selain Sidolig UNI, juga sudah didirikan SS Voetbal Club di Bandung dan Sios di Cimahi. Satu klub lainnya di Cimahi bernama Insulinde. Di Bandung pertandingan di pusatkan di Pieters Park, di Cimahi di lapangan militer.

Akhirnya BVC Jakarta memenuhi undangan dari Bandung. BVC akan berangkat dengan kereta tanggal Minggu 23 April 1905. Dalam pertandingan itu BVC melawan tim gabugan Bandung. BVC kemudian besoknya akan melawan militaire Voetbal-vereenigingm UNl di Cimahi (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-04-1905). Hasil-hasil pertandingan sebagaimana dilaporkan De Preanger-bode, 25-04-1905, BVC Jakarta imbang 2-2 di Bandung dan kalah 3-4 di Cimahi.

Klub-klub sepakbola Jakarta telah berhasil meramaikan sepakbola di Bandung. Sepakbola Bandung cepat adapatif, cepat pula berkembang. Sepakbola Bandung sudah mulai sejajar dengan sepakbola di Batavia. Di Bandung bermunculan klub, selain BVC, UNI dan Sidolig, juga belakangan muncul dari sekolahan yakni klub baru: OSVIA. Klub sekolah pangreh pradja ini telah melalukan pertandingan dengan klub Sidolig yang dimainkan di lapangan Tegallega (milik OSVIA) dan juga telah melakukan pertandingan dengan UNI (yang kini telah pindah markas ke Bandung). Di Cimahi muncul nama klub VIOS. Di Bandung juga muncul klub sepakbola Advendo, sarikat siswa dari KWS. Advendo adalah klub siswa anak-anak Eropa/Belanda, sebelumnya sudah ada klub sekolah OSVIA (klub anak-anak pribumi). Klub Jakarta bulan-bulan ke depan tetap sibuk, setelah turnamen Droogdok-beker akan dilanjutkan dengan turnamen berikutnya (Aguilar-beker). 

De Preanger-bode, koran Bandung terus melaporkan perkembangan sepakbola di Bandung dan sekitarnya. Dalam ulasan yang terdapat di koran itu, Bandung harus mulai siap-siap mengantisipasi perubahan. Setelah sepakbola, kota Bandung juga sudah mulai dikunjungi cabang olahraga lain, seperti sepeda. Pemain sepeda ini tidak dalam pertandingan balap sepeda tetapi lebih bersifat turis. Wisatawan Jakarta sudah mulai meningkat dari waktu ke waktu. Transportasi kereta yang lancar, udara Bandung yang sejuk menjadi daya tarik warga Jakarta untuk berkunjung, Bandung harus siap-siap menerima wisatawan dari Jakarta. Demikian De Preanger-bode mengomentari dari lapangan sepakbola. Sementara itu dilaporkan bahwa pertandingan sepakbola di Bandung sudah dialihkan dari Pieters Park ke lapangan Aloon-Aloon, seperti pertandingan baru-baru ini antara Sidolig Bandung vs UNI dari Cimahi.


Di Batavia pada bulan Maret lalu sudah terbit majalah khusus olahraga pertama. Majalah ini diterbitkan oleh Algemeen Handelsblad, Majalah ini dalam edisi perdana melaporkan dinamika sepakbola di Medan dan sekitarnya (lihat De Sumatra post, 13-03-1905).

Sepakbola dan awal kebangkitan bangsa pribumi

Sejauh ini klub orang pribumi hanya terdapat di Docter Djawa School (Jakarta) dan OSVIA (Bandung). Di Bandung belum terdeteksi adanya klub pribumi. Di Jakarta sudah mulai terdeteksi sebagaimana di laporkan oleh Bataviaasch nieuwsblad, 17-06-1905. Koran ibukota ini melaporkan sejumlah pertandingan sepakbola untuk pribumi besok sore antara Gang Solitude vs Norbek di Meester Cornelis, Pedjambon vs Gang Timboel di Koningsplein, Kebon Manggis vs Gang Aboe dan Petjenongan vs Kwitang di Waterlooplein.

Di Medan sudah lebih awal adanya klub pribumi (1904), seperti Toengkoe Sportclub (kerabat kerajaan di Bindjai), Zetterletter (anak-anak pengusaha asal Angkola dan Mandailing). Di Bandung, klub pribumi sejauh ini belum ada laporannya. Docter Djawa School dan OSVIA tidak dapat dikategorikan sebagai klub pribumi, karena dua sekolah (tinggi) itu dimiliki oleh pemerintah colonial dan dosen-dosennya adalah orang Belanda (yang mungkin menjadi pembina klubnya).

Kebangkitan sepakbola pribumi, tidak hanya ditunjukkan oleh semakin banyaknya klub pribumi yang muncul tetapi juga sudah ada klub pribumi yang mengalahkan klub orang-orang Belanda. Di Jakarta, interaksi antara klub pribumi dan klub orang-orang Belanda belum terjadi. Sepakbola di Jakarta seakan terdiri dari dua kamar: pribumi dan orang Eropa/Belanda, berjalan sendiri-sendiri. Di Medan, pembauran ini telah lama terjadi antara klub orang-orang Eropa/Belanda dengan klub pribumi. Kemenangan klub pribumi pertama terjadi pada tanggal 31 Agustus 1905 antara Toengkoe Club melawan Medan Sportclub dengan skor 2-1 (lihat De Sumatra post, 01-09-1905). Tapi ternyata ada konsekuensi (ada kaitannya atau tidak dengan kekalahan klub Belanda ini), bahwa lapangan Esplanade (kini lapangan Merdeka) tidak boleh lagi digunakan oleh klub pribumi, hanya dapat digunakan oleh ETI (klub orang-orang Eropa/Belanda).
Kebangkitan lainnya terjadi di bidang pendidikan. Sutan Casajangan pada 5 Juli 1905 dari Batavia berangkat kuliah ke Belanda dan tiba di Rotterdam 30 Juli 1905. Sutan Casajangan adalah mahasiswa pertama yang kuliah di Belanda. Surat kabar Telegraaf mewawancara Soetan Casajangan di Amsterdam yang dilansir Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907 (hanya mengutip beberapa saja di sini).
‘…mengapa anda mengambil risiko jauh studi kesini meninggal kesenangan di kampungmu, calon koeria, yang seharusnya sudah pension jadi guru dan anda juga harus rela meninggalkan anak istri yang setia menunggumu…anda tahu untuk masyarakat saya, masih banyak yang perlu dilakukan, kami punya mimpi, kami diajarkan dengan baik oleh guru Ophuijsen….tapi kini masyarakat kami sudah mulai menurun dan melemah pada semua sendi kehidupan.. saya punya rencana pembangunan dan pengembangan lebih lanjut dari penduduk asli di Nederlandsch Indie (Hindia Belanda)..saya mengajak anak-anak muda untuk datang ke sini (Belanda) agar bisa belajar banyak..di kampong saya kehidupan pemuda statis, baik laki-laki dan perempuan..dari hari ke hari hanya bekerja di sawah (laki-laki) dan menumbuk padi (perempuan)…mereka menghibur diri dengan menari (juga tortor) yang diringi dengan musik, simbal, klarinet, gitar dan ensambel gong…(dansten zij op de muziek van bekkens, klarinet, guitaar en gebarsten gong...)..anda tahu dalam Filosofi Batak kuno, kami yakin bahwa jiwa itu berada di kepala, dan karenanya kami harus tekun agar tetap intelek…’.
Pada tahun 1908 jumlah mahasiswa yang kuliah di Belanda sudah ada sekitar 20 orang. Sutan Casajangan menggagas untuk didirikannya persatuan (pelajar) Indonesia yang disebut Indisch Vereeniging pada tanggal 25 Oktober 1908 di rumahnya di Leiden. Radjioen Harahap gelar Sutan Casajangan kelahiran Padang Sidempuan menjadi presiden pertama. Pada tahun ini juga organisasi kemasyarakatan didirikan namanya Boedi Oetomo. Organisasi kemasyarakatan pertama didirikan tahun 1900 di Padang, namanya Medan Perdamaian. Yang menjadi Ketua pertama organisasi ini adalah Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda kelahiran Padang Sidempuan. Organisasi ini bersifat nasional dan telah memberikan bantuan untuk pembangunan sekolah di Semarang (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Medan Perdamaian cabang Medan juga membentuk klub sepakbola bernama Sarikat Voetbal Club yang ikut kompetisi dalam Deli Voetbal Bond (1907).
Kompetisi sepakbola perdana di Bandung


Di Jakarta turnamen berikutnya dilaksanakan yang disebut Agilar-beker. Pertandingan pertama dimulai pada tanggal 23 Juli 1905 dengan mempertemukan VIOS dan PTVC di lapangan Stovia, Waterlooplein dan BVC vs STOVIA di lapangan Oliveo, Waterlooplein pada pukul 4.45 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-07-1905). Hasil pertandingan BVC mengalahkan STOVIA (mahasiswa docter djawa school) 3-0, sedangkan VIOS mengalahkan tim dari Post en Telegraag (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-07-1905)

Di Bandung kompetisi sepakbola yang pertama akhirnya terselenggara. Jumlah klub yang berkompetisi sebanyak tiga klub: Sidolig, UNI dan SS (De Preanger-bode, 16-10-1905). Juara dari kompetisi sepakbola perdana di Bandung ini adalah Sidolig.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-07-1905 juga melaporkan adanya pertandingan sepakbola pribumi (Inlandsch- Voetbal) pada Minggu sore pukul setengah empat antara klub Gang Solitude dan Gang di di Meester Cornelis. Pertandingan disponsori oleh firma Thio Tek Hong. Kedua klub bersedia atas permintaan editor dari Bintang-Hiudia. Hasil pertandingan 3-2 untuk Gang Solitude. Besok akan dilangsungkan antara Kampong Norbek dengan Gang Petjenongan. Sponsor tetap Toko Thio Tek Hong dan kostum disediakan Bintang Hindia (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-07-1905).

Bintang Hindia adalah majalah berbahasa Melayu (baca: Indonesia) yang terbit di Belanda yang dipimpin oleh Dr. AA. Fokker. Pada tahun 1904, Fokker berkunjung ke Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) dan mengajak Dja Endar Moeda dan Abdul Rivai berkunjung ke Belanda. Dja Endar Moeda pada awalnya adalah editor koran Pertja Barat di Padang 1897, kemudian tahun 1900 mengakuisisi koran itu bersama percetakannya. Abdul Rivai adalah alumni docter djawa school yang suka menulis. Ajakan Fokker ini bertujuan (pada akhirnya) Abdul Rivai menjadi editor Bintang Hindia sedangkan Dja Endar Moeda menjadi korespondensi di Sumatra dan mendistribusikan Bintang Hindia di bawah perusahaannya (yang mendistribusikan buku-buku (pelajaran dan novel) karangannya sendiri dan surat kabar dan majalah yang dimilikinya. Dja Endar Moeda adalah radja persuratkabaran di Sumatra (Padang, Sibolga, Medan dan Banda Aceh). Besar dugaan inisiatif Abdul Rivai dan Dja Endar Moeda mensponsori sepakbola pribumi di Jakarta. Di Jakarta sendiri sebenarnya sudah ada surat kabar berbahasa Melayu, Pewarta Betawi, milik Karel Wijbran (mantan editor Sumatra Post, Medan) yang sejak 1903 editornya adalah Tirto Adhi Soejo. Sementara itu di Medan juga ada surat kabar berbahasa Melayu yang sejak pendiriannya tahun 1902 dipimpin oleh editor Mangaradja Salambuwe. Praktis pada tahun 1905 hanya ada empat orang editor pribumi: Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (Pertja Barat di Padang, sejak 1897), Hasan Nasution gelar Mangaradja Salambuwe (Pertja Timur di Medan, 1902), Tirto Adhi Soerjo (Pembrita Betawi di Jakarta, 1903) dan Abdul Rivai (Bintang Hindia di Amsterdaam, 1904). Keutamaan Dja Endar Moeda, alumni Kweekschool Padang Sidempuan, 1884 dan mantan guru adalah satu-satunya pribumi yang telah memiliki surat kabar dan percetakan (untuk buku-buku dan majalah dan surat kabar). Dja Endar Moeda sangat dikenal di Hindia Belanda mulai dari Aceh hingga Ternate karena dialah yang berinisitif menulis buku panduan haji tahun 1901 dan telah diadopsi pemerintah kolonial dan didistribusikan ke semua daerah di Indonesia. Dja Endar Moeda pendiri organisasi social Indonesia pertama (1900) juga memiliki klub sepakbola pribumi di Medan bernama Zetterletter VC (dibentuk tahun 1904). Mangaradja Salamboewe, alumni Kweekschool Padang Sidempuan, 1893, mantan jaksa  adalah anak Dr. Asta, siswa pertama dari uar Jawa yang diterima di Docter Djawa School tahun 1854. Pada tanggal 30 Juli Soetan Casajangan, tiba di Rotterdam. Pada bulan Oktober, Soetan Casajangan menulis di Bintang Hindia yang mengajak putra-putri Indonesia untuk kuliah di Belanda (agar bisa lebih maju). Pada tahun 1906 mahasiswa sudah ada enam orang termasuk Soetan Casajangan dan pada pertengahan tahun 1908 sudah ada 20an orang. Lalu bulan Oktober 1908 Soetan Casajangan menggagas didirikannya persatuan pelajar Indonesia. Beberapa tahun kemudian, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, alumni Kweekschool Padang Sidempuan menggantikan posisi Abdul Rivai sebagai editor berbahasa Melayu di Belanda. Satu lagi anak Padang Sidempuan adalah Radjamin Nasution, yang saat ini menjadi mahasiswa STOVIA dan salah satu dari pemain klub Docter Djawa School. Radjamin Nasution kelak menjadi pendiri perserikatan sepakbola pribumi (Deli Voetbal Bond) di Medan (1924), pembinan sepakbola di Surabaya (sejak 1932) dan walikota pribumi pertama di Kota Surabaya).

Dalam partai terakhir turnamen Aguilar-beker berte,u antara VIOS dan Oliveo. Sebagaimana dilaporkan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-09-1905 bahwa kemarin sore VIOS mengalahkan Oliveo dengan 2-1 yang sekaligus menjadi juara. Pada malamnya di Bondslokaa van Rikkers op Noordwyk dilakukan penyerahan piala yang diserahkan oleh perwakilan Aguilar & Co kepada kapten VIOS, Mr. Martens. Ketua panitia mengucapkan kepada pimpinan Auilar & Co. Dalam acara ini terjadi insiden pelemparan batu dari luar yang memecahkan kaca pintu tempat acara dan seorang cidera dan kemudian memanggil bantuan polisi.


Bersambung:





*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar