Sejarah Kota Padang (33): Edward Douwes Dekker di Kota Padang; Controleur Natal, Dibuang di Tengah Bangsanya Sendiri

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Edward Douwes Dekker atau Multatuli pada tahun 1843 dipecat dari jabatannya sebagai Controleur di Afdeeling Natal lalu ditelantarkan (dibuang) di Kota Padang. Edward Douwes Dekker yang dalam status dibuang tidak diizinkan bertemu dengan istri yang tinggal di Kota Batavia. Selama hampir setahun, Edward Douwes Dekker terlunta-lunta di Kota Padang, di tengah-tengah bangsanya sendiri. Sangat tragis dan itu terjadi di era kolonial Belanda.
 
Het vrije volk, 28-03-1956
Afdeeling Natal, Residentie Air Bangies, Province Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1846 Residentie Air Bangies dihapus, lalu afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli menyusul afdeeling Mandailing en Angkola yang dimasukkan ke Residentie Tapanoeli tahun sebelumnya.

Apa pasal? Edward Douwes Dekker respek terhadap perlawanan yang dilakukan oleh sebagian penduduk Mandailing en Angkola terhadap kebijakan koffiestelsel. Soetan Mangkoetoer di Mandailing dan Ranggar Laoet di Angkola memimpin perlawanan terhadap Belanda. Sebagian penduduk melarikan diri ke Sumatra’s Oostkust dan Semenandjong Malaya. Dalam situasi kondisi serupa inilah Edward Douwes Dekker melihat penderitaan rakyat dan simpati terhadap pemimpin pribumi yang memimpin perlawanan.

Tidak hanya orang pribumi yang dibuang atau diasingkan oleh Belanda di era colonial, akan tetapi juga terdapat nama satu orang Belanda yang fenomenal bernama Eduard Douwes Dekker. Imam Bondjol diasingkan, Mohammad Hatta juga diasingkan. Di Mandailing dan Angkola Soetan Mangkoetor dan Ranggar Laoet ditangkap dan lalu dibuang.

Eduard Douwes Dekker, Controleur di Natal

Di Natal, Eduard Doewes Dekker tidak bisa menahan keprihatinannya terhadap perlakuan petugas terhadap penduduk. Dekker yang baru beberapa bulan bertugas menjadi tempat ‘curhat’ dan keluh kesah penduduk itu diresponnya dengan baik. Dekker bahkan melakukan advokasi, suatu yang tidak lazim dilakukan oleh pejabat pemerintahan colonial. Pengawas menganggap Dekker tidak pro pemerintah (yang mengeksploitasi) dan malahan pro terhadap penduduk (yang dieksploitasi). Akibatnya, Eduard Doewes Dekker dipanggil ke Kota Padang dan dibebaskan dari tugas controleur dan digantikan oleh H. Dipenhorst.

Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1842 sempat direkam oleh Eduard Douwes Dekker yang kala itu baru bertugas sebagai controleur di Afdeeling Natal. Melihat penderitaan penduduk Afdeeling Mandailing dan Angkola, Dekker berbalik arah dan melakukan pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena Dekker manjadi tempat curhat para pimpinan penduduk menyebabkan dirinya dipecat dan diombang-ambingkan bagaikan gelandangan selama setahun di Padang tanpa mendapat gaji dan dihalangi bertemu istrinya yang tinggal di Batavia.

Beberapa tahun kemudian, nama Eduard Doewes Dekker karena dianggap tuduhan palsu lalu namanya direhabilitasi. Eduard Doewes Dekker terbukti tidak melakukan pelanggaran administrasi (penyelewengan) dan pelanggaran kemanusian tetapi Edward Douwes Dekker justru menyuarakan perlindungan kemanusiaan bagi penduduk Mandailing dan Angkola. Setelah direhabilitasi nama Eduard Doewes Dekker lalu dipekerjakan kembali di tempat lain (diantaranya di Lebak).

Kisah inilah yang menjadi pemicu awal mengapa Eduard Douwes Dekker dikemudian hari novelnya diberi judul Max Havelaar atau Multatuli (aku yang menderita). Eduard Doewes Dekker sendiri di Hindia Belanda tidak sendiri. Eduard memiliki saudara kandung bernama Jan Doewes Dekker. Dia adalah seorang militer dengan pangkat kapten yang pada tahun 1842 bertugas di Tjirebon. Jan Doewes Dekker adalah kakek dari Ernest Douwes Dekker, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi.

Keterangan kapan Eduard Doewes Dekker mulai dan kapan berakhir sebagai Controleur Natal simpang siur karena cukup lama informasi itu disembunyikan. Baru pada tahun 1931 keterangan ini diketahui lebih kongkrit. Eduard Doewes Dekker menjabat secara efektif diperkirakan antara tanggal 30-11-1842  hingga 25-08-1843 berdasarkan surat-suratnya yang ditahan.

Rumah Multatuli di Natal 1842 (foto 1910)
De Sumatra post, 18-03-1931: ‘Surat-surat dari Eduard Douwes Dekker. Telah ditemukan dari arsip Negara untuk disimpan, controleur  di Natal, Eduard Douwes Dekker menulis surat dari 30 November 1842 hingga 25 Agustus 1843. Meskipun isi dari surat-surat ini tidak signifikan dan mengingat hal ini tidak ada kaitannya dengan literatur serius yang telah muncul di dalam tahun perjalanan Multatuli, tapi pasti akan disambut, sebab di dalam surat-surat itu dapat diperhatikan tentang kepribadian (ED Dekker) yang luhur di wilayah kerjanya (di Natal)’

Peringatan Meninggalnya Multatuli

Setelah Edward Douwes Dekker namanya terehabilitasi, namanya kemudian cukup dikenang di berbagai tempat. Di Kota Medan, namanya dikenang sebagai nama jalan, bukan nama aslinya tetapi nama novelnya yang terkenal Max Havelaar. Tidak hanya judul novel yang ditabalkan sebagai nama jalan, juga nama-nama yang disebut dalam novel tersebut seperti Saidjah dan Adinda. Nama Max Havelaar tidak hanya ditemukan di Kota Medan tetapi juga di Kota Bandoeng.

Pada pasca kedaulatan RI oleh Belanda pada tahun 1951 nama jalan Max Havelaar dihilangkan di Kota Bandoeng. Akan tetapi di Kota Medan, nama Max Havelaar diganti dengan Jalan Multatuli. Sementara nama-nama seperti Saidjah dan Adinda tetap dipertahankan. Mengapa begitu? Sebagaimana diketahui, pemerintahan RI di Indonesia baru mulai berjalan normal setelah pengakuan kedaulatan RI. Pada saat tatakelola Kota Medan sudah berjalan efektif pada masa Gubernur Sumatra Utara, Abdul Halim Harahap (1952) dan Residen Sumatera Timur, Muda Siregar dan Walikota Medan, AM Djalaloedin (1951). Pada fase inilah dimulai mengubah nama-nama jalan di Medan. Perubahan nama ini tentu saja dibuat secara bertahap, mulai dari Walikota AM Djalaloedin dan dilanjurkan Walikota Muda Siregar (keduanya tukar tempat pada tahun 1954). Tiga tokoh yang berasal dari Angkola dan Mandailing ini tentu masih ingat kisah turun temurun bagaimana Eduard Douwes Dekker membelan penduduk dan pemimpin di Mandailing dan Angkola di masa lampau.

Pada tahun 1953, Eduard Douwes Dekker alias Multatuli sudah meninggal 66 tahun lalu. Peringatan untuk pertama kali atas nama Multatuli oleh pribumi, bagi Mochtar Lubis barangkali lebih ingat kejadian tahun 1843 saat Eduard Douwes Dekker dicopot dari jabatannya karena ‘membela’ penduduk Mandheling en Ankola, yang notabene adalah kakek moyangnya.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 19-02-1953: ‘Baru-baru ini, atas inisiatif dari Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional (dewan konsultatif untuk budaya nasional) sebuah komisi (herdenkingscomité) didirikan di Jakarta dalam rangka memperingati fakta bahwa 66 tahun yang lalu Multatuli sudah meninggal. Komite yang diketuai oleh Bapak Mochtar Lubis, duduk sebagai komisi, yakni: Mr Joebaar Ajoeb, Armijn Pane, dr. Ir. S.Udin, Pramoedya Ananta Toer, HB Jasin, Achdiat K.Mihardja, Buyung Saleh dan RF Sumarto. Menurut program, kemarin pukul 20.00 dilakukan sebuah upacara peringatan yang akan diadakan di gedung proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, dengan beberapa kutipan dari novel Multatuli akan dibacakan. Hari ini pukul 21:30-22:00, RRI Jakarta akan menyiarkan hasil reportase dari peringatan tersebut’.

Nilai peringatan Multatuli ini bagi sastrawan Mochtar Lubis lebih dari pada sekadar peringatan biasa seperti dirasakan oleh teman-temannya. Mochtar Lubis memperingatinya lebih khusuk, karena Eduard Douwes Dekker alias Multatuli adalah pembela pemimpin dan penduduk Mandailing en Angkola. Soetan Mangkoetoer dari Mandailing yang telah memberikan perlawanan terhadap praktek koffistelsel Belanda yang dibela Edward Douwes Dekker adalah kakek buyut dari Mochtar Lubis sendiri.

Saat ini nama jalan Multatuli di Indonesia mungkin hanya terdapat di Kota Medan dan Kota Rangkasbitung. Belakangan ini di Rangkasbitung bahkan pemerintah daerah akan membangun museum Multatuli. Sebagaimana diketahui, setelah Eduard Doewes Dekker namanya direhabilitasi, ia kembali dipekerjakan sebagai pejabat sebagai asisten residen di Lebak tahun 1856. Setelah dari Lebak ini Eduard Doewes Dekker mulai menulis dan hasil karyanya itu berjudul Max Havelaar. Materi dalam novel Max Havelaar ini sesungguhnya merupakan gabungan dari pengalaman Eduard Doewes Dekker di Mandailing dan Angkola dan pengalamannya di Lebak. Novel hebat yang disukai oleh Mochtar Lubis ini terbit pertama kali tahun 1860.

Memang di era kemerdekaan Indonesia tidak lazim menggunakan nama terkait Belanda untuk ditabalkan sebagai nama jalan atau nama situs lainnya. Namun tentu ada kekecualian, seperti nama Multatuli, nama Pasteur dan sebagainya. Juga tidak lazim untuk memperingati tokoh orang-orang Belanda. Akan tetapi Eduard Doewes Dekker alias Multatuli adalah kekecualian. Bahkan saat peringatan Multattili oleh para sastrawan yang dipimpin Mochtar Lubis tahun 1953 tampak kaget. Orang-orang Belanda yang ada di Indonesia khususnya di Jakarta pada tahun 1956 luluh dan berinisiatif pula melakukan peringatan kepada Multatuli yang bernama asli Eduard Douwes Dekker (lihat Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 28-03-1956).


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar