Kamis, 27 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (22): Outer Ring Road Tempo Doeloe, Buitenzorg, Meester Cornelis dan Depok; Kapan Outer Ring Road Dalam Kota Depok?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cara pandang masa kini tentang jalur lalu lintas di Jabodetabek tidak terlalu berbeda dibandingkan tempo doeloe. Pada masa lampau hanya dikenal jalur lurus dari hilir di pantai di Batavia ke hulu di gunung di Buitenzorg. Tiga jalur lurus yang ada adalah: pertama, Westerweg (jalur lalu lintas sisi barat sungai Tjiliwong via Depok, suatu jalur (rute jalan) kuno sejak era Pakwan-Padjadjaran). Kedua, muncul jalur Oosterweg (sisi timur sungai Tjiliwong via Tjimanggis saat Istana Buitenzorg dirintis, 1745). Ketiga, ketika jalur lebih barat muncul via Paroeng dan Tjinere sekitar 1850an, jalur ini disebut Westerweg, sedangkan Westerweg via Depok menjadi jalur Middenweg. Tiga jalur inilah yang kita lihat hingga sekarang ini.

Depok Outer Ring Road (DORR) Tempo Doeloe (*=landhuis)
Jalan kuno semasa era Padjadjaran dari Pakuan ke Soenda Kalapa mengikuti rute sisi barat sungai Tjiliwong. Hal ini karena tidak akan pernah menyeberangi sungai Tjiliwong. Pelabuhan Soenda Kalapa sendiri berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Ketika, VOC memulai koloni dengan membangun Casteel Batavia (sisi timur sungai Tjiliwong), maka ketika melakukan ekspansi ke hulu hingga eks Pakwan-Padjadjaran yang kemudian dikenal Buitenzorg, VOC justru mengembangkan jalur sisi timur sungai Tjiliwong. Namun pilihan VOC memilih jalur timur justru memiliki konsekuensi yakni harus membangun jembatan di Buitenzorg, tepatnya di Warung Jamboe yang sekarang. Jembatan inilah jembatan permanen pertama yang dibangun untuk menghubungkan Westerweg dengan Oosterweg (1745).

Saat kali pertama Pemerintah Hindia Belanda memulai (konsep) pembangunan jalan raya, pemahaman outer ring road belum ada. Jalan pos trans-Java yang dimulai 1810 dari Anjer (barat) ke Panaroekan (timur) justru (hanya) memperkuat jalur Oosterweg. Sebab, jalan pos trans-Java dari Anjer (Banten),Tangerang langsung ke Batavia, dan dari Batavia ke Weltevreden (Gambir) lalu Meester Cornelis (Jatinegara) dan kemudian ke Buitenzorg via Tjimanggis.

Dengan semakin diutamakan Oosterweg sebagai jalur utama dari Batavia ke Buitenzorg atau sebaliknya, maka jalur Middenweg dan jalur Westerweg semakin dilupakan dan tertinggal. Integrasi fungsional tiga jalur tidak pernah terpikirkan dan yang tejadi tiga jalur ini berkembang dengan caranya sendiri-sendiri.
   
Outer Ring Road Pertama: Meester Cornelis

Stad (kota) Batavia terus berkembang di era VOC. Pada saat Pemerintah Hindia Belanda dimulai Daendels memindahkan kantor Gubernur Jenderal dari Stad Batavia ke Noordwijk (Istana Presiden yang sekarang). Lalu developer mengembangkan Weltevreden (Gambir) menjadi metropolitan baru. Saat inilah dibangun jembatan permanen kedua di Kwitang tahun 1820an yang menghubungkan Oosterweg (Senen) dengan Middenweg (Tjikinie. Menting).

Oosterweg (kiri) dan Kwitang (kanan), lukisan 1772
Sebelumnya sudah terhubung Middenweg (yang berpusat di Tjikine) dengan Westerweg (di Tanabang dan Pasar Baroe Doeri) melalui jalan kecil melalui jalan Kebon Sirih yang sekarang (Sebagian Land Menting dan Bundaran HI dan Jalan Thamrin yang sekarang saat itu masih rawa-rawa). Tjikinie, Menteng ke Senen (Weltevreden) hanya dihubugkan jembatan bambu/kayu di atas sungai Tjiliwong di Kampong Kwitang. Perbaikan mutu jembatan Kwitang ini sepintas seakan outer ring road, tetapi pembangunan jembatan permanen Kwitang pada hakekatnya adalah bagian dari perkembangan kota dari kota lama (Batavia) ke kota baru (Weltevreden).

Gagasan pembangunan Outer Ring Road, sejatinya baru muncul ketika Meester Cornelis telah muncul sebagai kota satelit Batavia/Weltevreden. Namun sayangnya, kota Meester Cornelis berada di Oosterweg, sementara jalur Tjikinie/Menting dengan Tanaabang via stasion Karet yang sekarang semakin ramai. Aktivitas ekonomi dari Meester Cornelis ke Tanabang via Kwitang terlalu jauh.  

Saat itu terminologi Outer Ring Road (jalan lingkar luar) adalah jalan yang menghubungkan Oosterweg dengan Middenweg dan Middenweg dengan Westerweg. Pada masa kini, Outer Ring Road diartikan sebagai pembangunan jalan akses alternatif di pinggir kota untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di dalam kota.

Pembangunan jalan Outer Ring Road ini akhirnya direalisasikan pada tahun 1868 dengan membangun jembatan di atas sungai Tjiliwong di Meester Cornelis, tepatnya di jalan Slamet Riyadi yang sekarang. Pembangunan jembatan ini bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api ruas Batavia-Meester Cornelis. Jalur kereta api ruas Batavia-Meester Cornelis dibangun setelah ruas Batavia-Tandjong Priok selesai dibangun.

Berdasarkan peta proyeksi eksploitasi jalur kereta api tahun 1864, rencana pembangunan adalah Batavia-Buitenzorg via Bekasi, Tjilengsie dan Tjitrap. Ini mengindikasikan bahwa pembangunan jalur kereta api melalui sisi timur sungai Tjiliwong (sebagaimana sebelumnya pembangunan jalan pos trans-Java). Sebelum proyeksi ini direalisasikan, berkembang pembangunan jalur kereta api Batavia dengan (pelabuhan baru) Tandjong Priok dan Batavia dengan Meester Cornelis (kota satelit). Jalur kereta api Batavia-Meester Cornelis ini menariknya melalui sisi barat sungai Tjiliwong. Sebagaimana diketahui sungai Tjiliwong sejak era VOC sudah dikebiri: pertama dengan menyodet sungai Tjiliwong dengan membangun kanal melalui Molenvielt (jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk yang sekarang) agar mengurangi banjir di Stad Batavia; kedua, karena banjir tetap ada, sungai Tjiliwong yang menuju stad Batavia ditutup dan dialihkan ke timur dengan membangun kanal melalui Pasar Baroe dan Goenong Sahari menuju Antjol. Bekas jalur sungai Tjiliwong yang melalui Sawah Besar inilah dibangun rel kereta api Batavia ke Meester Cornelis. Ini dengan sendirinya lintasan kereta api di sekitar Masjid Istiqlal yang sekarang berada di atas kanal (bukan sungai) Tjiliwong. Sementara stasion Meeester Cornelis berada di Dipo Bukit Duri yang sekarang mentok dengan sungai Tjiliwong. Jembatan yang melalui jalan Slamet Riyadi yang sekarang inilah yang menghubungkan Gemeente (kota) Meester Cornelis dengan stasion Meester Cornelis. Jembatan ini dengan sendirinya telah menghubungkan Oosterweg dengan Westerweg.

Setelah selesai pembangunan jembatan Meester Cornelis maka hubungan Oosterweg dan Middenweg/Westerweg yang selama ini terkendala telah terhubung di Meester Cornelis. Sejak adanya jembatan ini, Bekasi di timur dengan Tangerang di barat dihubungkan dengan jalur alternatif di Meester Cornelis. Inilah yang dapat diklaim sebagai Outer Ring Road pertama di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Jembatan ini merupakan jembatan kedua di luar Batavia yang sudah dibangun di atas sungai Tjiliwong (yang pertama di Buitenzorg).

Outer Ring Road Kedua: Depok

Hingga tahun 1900 belum ada jembatan permanen yang menghubungkan Oosterweg dengan Middenweg/Westerweg. Ini dengan sendirinya kedua jalan utama itu hanya bisa dilalui di Buitenzorg dan Meester Cornelis. Baru pada tahun 1917 muncul gagasan pembangunan jalan lingkar luar yang baru (outer ring road), namun bukan di Tjililitan (Oosterweg) dengan Pasar Minggoe (Westerweg), melainkan untuk menghubungkan Depok (Westerweg) dengan Tjimanggis (Oosterweg).

Dengan selesainya jalan akses Depok-Tjimanggis yang ditandai dengan pembangunan jembatan di atas sungai Tjiliwong tahun 1917. Sebenarnya baru menghubungkan Oosterweg dengan Middenweg. Jembatan Meester Cornelis sendiri sudah menghubungkan sekaligus Oosterweg, Middenweg dan Westerweg, sementara jembatan Depok baru menghubungkan Oosterweg dengan Middenweg.

Jalan yang menghubungkan Middenweg dan Westerweg baru terjadi pada tahun 1936. Proses ini cukup alot karena sebelum terealisasi bahkan beberapa kali dilakukan konferensi antara Administrateur (Onderneming) Sawangan dan Gemeente Besturr Depok. Dalam konferensi yang terakhir tahun 1936 diputuskan, kedua belah pihak terlibat. Diharapkan dengan adanya jalan akses ini, Sawangan dalam waktu singkat dibebaskan dari isolasi, demikian De Indische courant, 13-07-1936.

Jembatan ini dibuat baru dari beton yang akan menghubungkan (land) Depok dengan (land) Tjimanggis. Konstruksi jembatan baru ini dibuat dengan konstruksi lengkung dengan tiga benteng 15 meter. Jembatan ini memakan biaya sebesar f35.600 (De Preanger-bode, 21-05-1917). Jembatan Depok yang menggunakan konstruksi lengkung, mirip Jembatan Merah di Buitenzorg (yang dibangun tahun 1855).

Dengan demikian Outer Ring Road yang menghubungkan Oosterweg, Middenweg dan Westerweg baru terealisasikan tahun 1936 di Depok. Ini mengindikasikan bahwa Outer Ring Road yang pertama di Meester Cornelis telah bertambah menjadi dua setelah adanya Outer Ring Road di Depok.

Outer Ring Road yang lain baru menyusul kemudian dengan membangun jembatan di atas sungai Tjiliwong yang menghubungkan Oosterweg dan Middenweg/Westerweg: Kampong Melayu, Kalibata, Tanjung Barat, Kelapa Dua, GDC Depok, Bojong Gede dan Kedong Badak.

Outer Ring Road Kereta Api: Manggarai dan Tjitajam

Eksploitasi jalur kereta api antara Batavia (Stasion Kota yang sekarang) ke Meester Cornelis (Djatinegara) yang berjarak 9 Km mulai beroperasi tanggal 15 September 1871 (lihat De Eeerste Jawasche Spoorwegen dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1873). Setelah jalur Batavia-Meester Cornelis terealisasi, baru perencanaan awal ditetapkan untuk menuju Buitenzorg. Ini menunjukkan bahwa proposal eksploitasi awal tahun 1864 gagal dan juga mengindikasikan bahwa eksploitasi ruas jalur kereta api Batavia-Buitenzorg tidak sekaligus.

Untuk merealisasikan jalur Batavia-Buitenzorg, Gubernur Jenderal atas nama Radja (Buitenzorg, 30 Juni 1870) membuat peraturan termasuk di dalamnya soal rute yang dilalui dan pembebesan lahan: dari batas Afdeeling Meester Cornelis dekat Afdeeling Buitenzorg di dekat desa Seregseng, sebagai titik awal, ke arah selatan sepanjang Land PondokTjina, Depok, Ratoe Djaja dan Pondok-Teroug, Bodjong- Gedeh, Tjileboet dan Buitenzorg atau Bloeboer ke jalan di sepanjang kampung Pleidang dekat Jembatan Merah di ibukota Buitenzorg (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 02-07-1870). 

Pembangunan jalur kereta api ruas Batavia-Buitenzorg via Depok selesai dan awal operasi dimulai tanggal 31 Januari 1873 (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-01-1873).

Pada tahun 1904 Outer Ring Road jalur kereta api dibuka yang menghubungkan jalur kereta api Batavia ke Jawa dengan jalur kereta api Batavia Buitenzorg dengan membangun jalur kereta api ke Tanah Abang. Jalur ini terhubung di stasion Paseban dengan stasion Tjikini.

Ketika perumahan Menteng dibangun tahun 1915, Outer Ring Road kereta api Paseban-Tanah Abang via Tjikini harus digusur. Untuk pemindahan jalur outer ring road ini muncul gagasan pengintegrasian pembangunan stasion kereta api Manggarai untuk menggantikan stasion Meester Cornelis di satu sisi dan pembangunan kanal barat. Proses ini dimulai tahun 1918 dan selesai tahun 1920.

Tidak lama kemudian setelah selesai outer ring road Manggarai (pengganti outer ring road Tjikini) tahun 1924 mulai dibangun outer ring road yang baru di stasion Tjitajam untuk menghubungkan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (Middenweg/Westerweg) dengan Oosterweg di stasion Nambo.

Sejak 1925 hingga sejauh ini jalur kereta api Osterweg dengan Middenweg/Westerweg hanya terdapat di Manggarai dan Tjitajam. Ini berbeda dengan outer ring road jalur jalan raya yang sudah cukup banyak jumlahnya.

Pembangunan Jalan Akses (outer ring road) di Kota Depok

Pada masa kini Outer Ring Road dibagi dua jenis yakni jalan tol dan jalan arteri. Untuk outer Ring Road kereta api belum pernah terpikirkan.

Outer Ring Road di DKI Jakarta tampaknya sudah selesai setelah dibangunya jalan tol ruas TB Simatupang. Hal yang sama juga di Bogor telah setelah dengan pembangunhan jalan layang Kedong Badak yang diintegrasikan dengan jalan tol yang baru.

Di Kota Depok Outer Ring Road meski sudah ada proyeksi namun hingga kini belum terealisasi. Satu-satunya jalan akses barat dan timur di Kota Depok hanya terdapat di jalan Sawangan. Jalan ini di masa lampau adalah outer ring road yang mulai digunakan tahun 1936.

Oleh karena jalan Sawangan satu-satunya jalan yang menghubungkan tengah dan barat di Kota Depok makan kemacetan tidak pernah terurai. Sementara antara tengah dan timur sudah teratasi dengan adanya jalan akses Kelapa Dua, Djuanda dan GDC Depok.

Untuk mengatasi kemacetan di jalan sawangan, mungkin akan teratasi sedikit dengan hampir rampungnya Depok Outer Ring Road (DORR) yakni jalan tol yang menghubungkan jalan tol Jagorawi (timur) dengan Cinere (barat). Hal yang perlu segera direalisasikan adalah membangun jalan akses utara sisi jalan tol Desari dan jalan akses selatan di Tjitajam. Gambaran serupa ini sudah ada di masa lampau di era tanah partikelir (Landhuis).

Depok Outer Ring Road (DORR) Tempo Doeloe
Di masa lampau untuk mengintegrasikan seluruh landhuis di Onderdistrik Depok, jalan akses barat-timur yang membentuk Outer Ring Road sudah ada dua buah. Pertama, di utara jalan yang menghubungkan Landhuis di Tjinere dengan Landhuis di Pondok Tjina dan Landhuis di Tjimanggis. Kedua, di selatan jalan yang menghubungkan Landhuis di Sawangan dengan Landhuis di Tjitajam kemudian dihubungkan dengan Landhuis Tjilodong, Landhuis Tjilangkap dan Landhuis Tapos. Depok Outer Ring Road tempo doeloe memusat pada tiga jalur lalu lintas utama Batavia-Buitenzorg: Oosterweg (Tjimanggis), Middenweg (Depok) dan Westerweg (Paroeng). Perhatikan kembali detailnya seperti sketsa di samping ini..


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar