Rabu, 04 Maret 2020

Sejarah Jakarta (109): Pasar Pisang, Dari Pasar Buah Menjadi Pusat Perdagangan (Bisnis) Penting di Batavia; G Koff en Co


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Tempo doloe di Batavia terdapat nama suatu pasar yang disebut Pasar Pisang. Lokasi area pasar ini pada masa kini berada di jalan Kali Besar Timur III. Apa yang menarik dari Pasar Pisang adalah usianya yang sudah sangat tua. Pasar Pisang sudah terbentuk sejak era VOC/Belanda. Pasar Pisang pada era Pemerintah Hindia Belanda juga dianggap sebagai pusat perdagangan yang penting.

Toko buku G Koff en Co di Pasar Pisang (1872)
Gubernur Jenderal Coen pada tahun 1619 merancang kota (stad) Batavia, lalu pengembangannya dilanjutkan oleh penerusnya. Satu yang terpenting dari Gubernur Jenderal (Jenderal) Specx (1629-1632) adalah membangun kanal sungai Tjiliwong yang kemudian dikenal sebagai kanal Kali Besar. Kanal ini menjadi pelabuhan air sepanjang kanal. Untuk mendukung ketinggian air kanal Kali Besar pada tahun 1648 dibangun kanal Molenvliet dan dua tahun berikutnya (1650) dibangun kanal Antjol.

Kapan pasar Pasar Pisang terbentuk sulit diketahui. Pasar ini diduga terbentuk karena semakin berkembangnya perpasaran di stad Batavia. Pasar Pisang diduga muncul setelah adanya Pasar Ikan dan Pasar Borong. Lantas bagaimana sejarah area Pasar Pisang? Tentu saja belum pernah ditulisn. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Kali Besar dan Tijger gracht

Pasar Pisang pada masa ini berada di jalan Kunir (jalan Kali Besar Timur 3). Jalan ini berada di antara dua kanal, yakni kanal Groote Rivier/Kali Besar dan kanal Tijger (Tijger gracht). Kanal Groote Rivier pada era VOC adalah pusat perdagangan, sedangkan kanal Tijger adalah area perumahan elit. Di dua sisi kanal Tijger adalah area pemukiman termewah di era VOC.

Area Pasar Pisang (Peta 1624 dan Peta 1826)
Kanal pertama yang dibangun adalah Tijger gracht. Beberapa kanal dibangun untuk menghubungkan sungai Tjiliwong dengan Tijger gracht. Kanal-kanal tersebut dapat dilihat pada Peta 1624. Sedangkan jalan pertama yang dibangun adalah jalan Kunir yang sekarang (lihat Geschiedenis der Nederlanders in den Oost-Indischen Archipel, ingericht voor schoolgebruik, 1867). Dalam hal ini, dapat dikatakan jalan yang melalui Pasar Pisang adalah jalan tertua di kota (stad) Batavia. Pada Peta 1826 di selatan Pasar Pisang ini masih teridentifikasi balai kota (stadhuis: A). Lapangan yang berada di depan Stadhuis ini kini lebih dikenal sebagai Lapangan Fatahillah, sementara Stadhuis sendiri menjadi area/lokasi Museum Sejarah Jakarta yang sekarang.

Kanal Tijger gracht dibangun pada era Gubernur Jenderal Coen (1619). Sedangkan kanal Groote Rivier (Kali Besar) dibangun pada era Gubernur Jenderal Specx (1629-1632). Untuk menghubungkan sungai Tjiliwong (Groote Rivier) dan Tijger gracht dibangun jalan raya (jalan yang pertama di Batavia). Di selatan jalan inilah kemudian dibangun Stadhuis.

Peta 1740
Pada Peta 1740 (sebelum terjadinya kerusuhan tahun 1740) telah terjadi perubahan lanskap kota (Stad) Batavia. Pada peta teridentifikasi bangunan Stadhuis. Bangunan Stadhuis ini direnovasi pada era Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (1709-1713). Juga teridentifikasi sudah banyak kanal yang dibangun. Satu yang penting bahwa aliran sungai Tjiliwong telah digeser ke kanal yang berada di timur kanal Tijger gracht (untuk mengendalikan banjir). Penggeseran aliran sungai Tjiliwong ini bersamaan dengan pembangunan kanal antara benteng Noorwijk dan benteng Rijswijk. Untuk menjaga stabilitas ketinggian air di Kali Besar, sungai Kroekoet dialihkan menuju kanal Kali Besar. Kanal Kali Besar ini juga mendapat suplai air dari kanal Molenvliet (yang dibangun tahun 1648). Air kanal Molenvliet berasal dari kanal di Riswijk.   

Stadhuis menjadi ibu kota yang baru (sebelumnya pusat pemerintahan berada di Kasteel Batavia). Antara Stadhuis dengan Kasteel Batavia telah terbentuk jalan dan dua jembatan di atas kanal pada era Coen (lihat Peta 1740). Jalan dari Stadhuis ke Kasteel ini kemudian disebut Heerenstraat.

Masih pada Peta 1740 kanal di utara Stadhuis telah diperpanjang (dari Kali Besar hingga aliran sungai Tjiliwong yang baru). Kanal ini kemudian disebut Leeuwinnwn gracht. Kanal ini sejajar dengan jalan yang pertama (jalan Kunir yang sekarang).

Pasar Pisang

Kapan terbentuk pasar yang disebut Pasar Pisang? Pada tahun 1740 nama Pasar Pisang belum ada (lihat Omstandig en allernaeuwkeurigst verhaal van den oorsprong, begin, voortgang en gelukkige ontdekkinge van het vervloekt en schelms verraadt, 1741). Pasar yang ada adalah Pasar Ikan dan Pasar Borong (di sisi barat Groote Rivier). Pasar Pisang diduga terbentuk pada akhir era VOC atau awal Pemerintah Hindia Belanda.

Pada permulaan Pemerintah Hindia Belanda (1800), stad (kota) Batavia tetaplah penting karena pusat perdagangan utama. Namun pemerintahan yang baru (Hindia Belanda). Gubernur Jenderal (Johannes Sieberg) tidak memilih kantor/rumah di Stadhuis tetapi lebih memilih menyewa rumah di Molenvliet. Rumah tersebut kini lebih dikenal Gedung Arsip Nasional (jalan Gajah Mada yang sekarang). Pemindahan ibu kota ini menjadi terlaksana pada era Gubernur Jenderal Daendels yang membangun ibu kota baru di Weltevtreden.

Sehubungan dengan perpindahan ibu kota dari Batavia ke Weltevreden, situasi dan kondisi di Batavia berubah. Batavia secara perlahan hanya tinggal sebagai pusat perdagangan (sementara pusat pemerintahan telah relokasi). Pada fase inilah diduga Pasar Pisang berkembang sebagai pusat perdagangan yang baru (perluasan pusat perdagangan di Kali Besar).

Nama Pasar Pisang paling tidak telah diberitakan pada tahun 1825 (lihat Bataviasche courant, 16-02-1825). Disebutkan bahwa pemerintah akan melelang lahan di Pasar Pisang, lahan yang dimiliki oleh Tan Boanko.  

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

1 komentar:

  1. Terima kasih. Sungguh informasi yang berharga.
    Kebetulan saya sangat membutuhkan referensi untuk karya saya di Wattpad, judulnya Panca dan Petaka Sumur Tua.
    Latar masa Hindia Belanda akhir abad ke-19. Jadi, analisis anda sungguh membantu.

    BalasHapus