Minggu, 07 Juni 2020

Sejarah Pulau Bali (4): Awal Pembentukan Pemerintahan1908; Penaklukan Bali Selatan dan Puputan di Badoeng dan Kloengkoeng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini
 

Sejarah Bali dan Sejarah Tapanoeli berada dalam rentang waktu satu masa, namun memiliki riwayat yang berbeda. Ekspedisi pertama Belanda yang dipipin Cornelis de Houtman (1595-1597) sudah mengidentifikasi nama (wailayah) Bali dan Batak (kemudian disebut Tapanoeli). Cornelis de Houtman hanya melewati perairan Tapanoeli sebelum berakhirnya pelayaran di Bali. Pada era VOC, dua wilayah ini tidak begitu menarik perhatian pemerintah VOC ke pedalaman dan hanya melakukan perdagangan yang longgar di (kota-kota) pantai. Situasinya menjadi berbeda ketika Belanda memasuki dua wilayah ini untuk membentuk pemerintahan.

Pada tahun 1938 Pemerintah Hindia Belanda berhasil membebaskan tirani di Tapanoeli bagian selatan yang kemudian membentuk pemerintahan pada tahun 1840 dengan ibu kota di Panjaboengan. Namun tidak semua penduduk dan pemimpin lokal menerima kehadiran Belanda, lalu terjadi perang pada tahun 1842. Pemimpin penduduk ditangkap (lalu diinternir), sebagian penduduk eksodus ke Semenanjung (Inggris). Dua tokoh penting dalam pembebasan dan permulaan pemerintahan di Tapanoeli bagian selatan ini adalah [Luitenant Kolonel] AV Michiels. Di Bali mulai bergejolak tidak lama setelah Pemerintah Hindia Belanda membuka agen perdagangan di Bali tahun 1840 dan kemudian terjadi kasus Tawan Karang (kliprecht) 1841. Perang antara Belanda dan Bali tidak terhindarkan, kembali [Majoor Generaal] AV Michiels aktif memimpin pasukan. Seperti halnya Tapanoeli (Selatan) sudah dibebaskan Belanda, tetapi menemui kesuliran di utara, sementara di Bali (Utara) sudah berhasil dibebaskan tetapi tidak mudah membebaskan di selatan. Setelah Sisingamangaradja XII tewas tertembak tahun 1905 pemerintahan di (Residentie) Tapanoeli terbentuk seluruhnya; lalu menyusul di (pulau) Bali terbentuk pemerintahan keseluruhan tahun 1908 setelah peristiwa poepoetan di Badoeng (1906) dan peristiwa poepoetan di Kloengkoeng (1908). Pembebentukan pemerintahan Belanda secara keseluruhan di Bali dan Tapanoeli membutuhkan waktu masing-masing 55 tahun.

Bagaimana proses pembentukan pemerintahan di (pulau) Bali? Pembentukannya dimulai pada tahun 1908. Jika di Tapanoeli ibu kota tetap berada di selatan, di Bali ibu kota justru dipindahkan dari utara ke selatan (Denpasar). Mengapa? Setiap wilayah di Indonesia (baca: Hindia Belanda) memiliki alasan sendiri-sendiri. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Ekspedisi 1906 dan Pembentukan Pemerintahan di Bali, 1908

Secara geografis, pulau Bali adalah wilayah paling mudah diakses. Semua pintu (pelabuhan) terbuka dan dari pantai sangat dekat ke pedalaman. Namun secara mental, pertempuran (ekspedisi) Belanda tidak selalu mudah. Ada jiwa yang sangat kuat di dalam tubuh sejumlah pemimpin Bali (raja-raja Bali). Setelah setengah abad, Bali tidak bisa sepenuhnya dijinakkan Belanda. masih ada tiga raja yang tersisa untuk menjaga harga diri: Badoeng, Tabanan dan Kloengkoeng. Pendaratan ekspedisi dimulai di Gianjar dan kemudian Badoeng.

Situasi dan kondisi saat ekspedisi 1906 dimulai kehidupan sehari-hari berjalan normal di Gianjar dan Badoeng. Kehadiran orang asing (Eropa, Cina dan pribumi non-Bali sudah ada) di Bali. Dalam hal ini kehadiran ekspedisi militer di Bali (Selatan) lebih tepat disebut militer Pemerintah Hindia Belanda melawan pemberontakan pribumi. Koresponden perang juga menyertai ekspedisi termasuk koresponden surat kabar yang terbit di Semarang dan yang terbit di Soerabaja. Pada tanggal 13 September ekspedisi dari laut mulau mendarat (lihat De locomotief, 20-09-1906). Disebutkan beberapa kapal sudah berada di perairan Sanoer dimana Komisaris Pemerintah (pimpinan ekspedisi) tetap berada di kapal MS Wilhelmina. Pendaratan tanpa perlawanan sukses sore hari menjelang malam jauh yang diperkirakan angkatan laut. Pelukis dan fotografe Nieuwkamp juga ikut berada di TKP, Tidak ada orang Bali yang muncul dan pasukan dengan tenang menaiki pantai yang sedikit naik. Pasukan didistribusikan di Pabean Sanoer di kompleks perumahan Cina. Tampaknya muncul sikap baik orang Gianjar yang secara mengejutkan tidak diduga militer mendapat tawaran sebanyak 400 kuli angkut dan 40 kuda beban. Militer merangsek sepanjang pantai menuju Badoeng. Pada tanggal 15 mulai ada serangan. Mayor Biyan diperintahkan untuk menggunakan Batalyon ke-11, Kavaleri ke-4, dan bagian artileri cepat untuk membersihkan area dari kompleks kampung Sanoer hingga Sindoe dari musuh. Sebanyak 20 hingga 30 Baliers (pasukan Bali) ditangkap dibaringkan. Saat itu pukul 1 siang bendera putih dinaikkan dimana-mana dan penduduk Sanoer kemudian dikumpulkan. Awal ekspedisi berjalan sukses dan dengan situasi dan kondisi di Sanoer, milter semakin percaya diri untuk maju melawan Den Pasar. Belum diketahui kapan pasukan bergerak. Yang jelas saat ini Puri (Den Pasar) ditembaki setiap hari oleh angkatan laut. Namun, belum diketahui secara jelas hasilnya.

Koresponden surat kabar De Telegraaf mengirim pesan bahwa Angkatan Laut membakar Den Passar. Pawai umum pasukan disana berlangsung kemarin pagi [20 September]. Ibu kota (hoofdplaats) kerajaan Badoeng terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh sungai Badoeng: Pametjoetan dan Den Passar. Ibu kota ini memiliki penduduk sekitar 2,000 jiwa. Poeri (sterkte) di Den Passar, kediaman kepala pangeran Badoeng adalah sebuah bangunan kolosal dengan panjang sekitar 200 meter dan lebar 175 meter dan dikelilingi oleh tembok batu besar setinggi sekitar 4 meter dan tebal 1.5 meter.

Sebelumnya, Komisioner Pemerintah di Bali kemarin sore mengirim ke pemerintah dan diterima di Buitenzorg surat kedua dari raja Tabanan, yang menyatakan bahwa dia bersedia membayar setengah biaya perang dan bahwa jumlahnya telah diminta. Raja tidak berbicara tentang tuntutan lain yang dibuat dalam ultimatum (lihat De locomotief, 20-09-1906).

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar