Minggu, 26 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (15): Sejarah Organisasi Sosial di Bali; Medan Perdamaian di Padang hingga Bali Darma Laksana di Singaradja


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Lembaga sosial (social institution) sudah ada sejak lama di jaman kuno seperti kerajaan dan subak. Lembaga sosial terkecil adalah keluarga. Namun organisasi sosial masih terbilang baru untuk semua penduduk di Indonesia. Lembaga cenderung disebut bersifat tradisi(onal) sedangkan organisasi bersifat modern. Lembaga dan organisasi kurang lebih sama yang membedakan sifatnya. Contoh organisasi misalnya sekolah, OSIS, perusahaan dan pemerintahan. Kita sendiri hidup dalam berbagai organisasi-organisasi bahkan sejak lahir (rumah sakit) hingga mati (TPU).

Dalam sejarah Indonesia, yang sering disebut adalah organisasi sosial Boedi Oetomo. Namun organisasi sosial masyarakat Indonesia banyak yang telah didirikan, seperti Pagoejoeban Pasoendan, Kaoem Betawi, Perserikatan Nasional Indonesia, Jong Java, Jong Batak dan lain sebagainya. Organisasi sosial ini ada yang berubah menjadi organisasi partai. Organisasi-organisasi sosial ini mengambil peran masing-masing dalam merajut persatuan yang kemudian terbentuk persatuan yang lebih besar seperti PPPKI, Madjelis Rakjat Indonesia dan NKRI.

Lantas bagaimana dengan sejarah organisasi sosial di (pulau) Bali? Yang jelas tempo doeloe terdapat satu organisasi sosial yang terkenal di Bali yang diberi nama Bali Darma Laksana. Seperti halnya Boedi Oetomo bukan yang pertama, di Bali juga ada organisasi sosial yang lebih tua dari Bali Darma Laksana. Untuk itu, agar menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Organisasi Sosial (Societeit) Surya Kanta dan I Goesti Tjakra Tanaja

Dalam permulaan terbentuknya organisasi-organisasi sosial di Hindia Belanda (baca: Indonesia) setiap wilayah (kota) memiliki karakternya sendiri, prospek dan tantangan yang dihadapi. Lain di Sumatra, lain pula di Jawa dan lain lagi di Bali. Yang jelas, penduduk mulai maju, makin banyak yang berpendidikan dan banyak pula yang telah memiliki pergaulan antara bangsa. Meski setiap wilayah berakar ke dalam, tetapi pengetahuan mampu menyerap perkembangan yang terjadi di tempat lain untuk diterapkan di wilayahnya. Satu perhatian yang mengemuka di ruang pengetahuan dan pergaulan adalah keinginan untuk terwujudnya persatuan di dalam kelompok sosial. Realisasi persatuan itu adalah mendirikan organisasi sosial.

Di antara orang-orang Eropa-Belanda organisasi sosial itu sudah tumbuh sejak lama dan telah berkembang di banyak kota-kota. Organisasi sosial pertama (societeit) didirikan di Batavia yang diberi nama Societeit Harmonie. Organisasi sosial ini semakin semarak di era pendudukan Inggris (1811-1816). Pada tahun 1837 didirikan societeit di Padang. Pada tahun 1865 Societeit Harmonie di Soerabaja dan pada tahun 1868 di Makassar. Dalam perkembangannya di Batavia muncul organisasi sejenis di kalangan para mantan-mantan militer yang diberi nama Societeit Concordia. Organisasi Societeit Concordia ini kemudian dikloning di Soerabaja (1862) dan di Bandoeng (1879) tetapi kemudian bersifat umum (tidak terbatas di antara para pensiunan militer). Di Buitenzorg sebelumnya sudah muncul societeit tahun 1875. Di Medan societeit baru didirikan pada tahun 1887.

Organisasi sosial (societeit) Eropa-Belanda ini dibentuk oleh para anggotanya sebagai fungsi sosial dimana di societeit dilangsungkan kegiatan-kegiatan sosial seperti pertunjukan musik, kegiatan olah raga dan sebagainya.Organisasi sosial ini memiliki struktur kepemimpinan dan daftar anggota tetap dan anggota luas biasa. Organisasi sosial ini memiliki statuta (AD-ART) yang mana diajukan ke pemerintah untuk disahkan dan diizinkan melakukan kegiatan. Untuk societeit yang lebih besar dapat dibagi ke dalam bidang-bidang tertentu (club) seperti sepak bola, sepeda, pacuan kuda, seni dan bahkan ada bidang (club) yang terkait dengan ilmu dan pengetahuan. Societeit besar tidak jarang yang mengundang grup musik dari Eropa atau mengundang para pembicara untuk mempresentasikan topik tertentu. Sebagai anggota dan untuk mendukung kelangsungannya dikutip iuran dan setiap tahun diadakan rapat anggota dan pemilihan pengurus baru setiap dua atau tiga tahun.

Pada tahun 1900 di Padang dibentuk organisasi sosial diantara penduduk pribumi. Penggagasnya adalah Dja Endar Moeda, seorang pensiunan guru yang menjadi pemilik dan pemimpin (editor) surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Barat. Organisasi sosial (societeit) di Padang ini disebut Medan Perdamaian. Medan Perdamaian adalah organisasi sosial pertama kaum pribumi, direktur pertamanya adalah Dja Endar Moeda.

Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda lahir di Padang Sidempoean (Tapanoeli) pada tahun 1861. Lulus sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean pada tahun 1884 yang mana salah satu gurunya yang terkenal Charles Adriaan van Ophuijsen.  Setelah berpindah-pindah tempat menjadi guru dan setelah mengabdi selama delapan tahun meminta pensiun dini di Singkil dan selanjutnya berangkat naik haji ke Mekkah. Sepulang dari Mekah menetap di Padang dan mendirikan sekolah swasta di kota itu pada tahun 1895. Pada tahun 1897 ketika menawarkan novel terbarunya ke penerbit di Padang, dia juga ditawari menjadi editor surat kabar mereka, surat kabarberbahasa Melayu bernama Pertja Barat. Dja Endar Moeda menyanggupi. Lalu muncul statementnya bahwa sekolah dan jurnalistik sama pentingnya karena sama-sama untuk mencerdaskan bangsa. Pada tahun 1900 diketahui Dja Endar Moeda telah mengakuisisi pecetakan dan surat kabar Pertja Barat. Pada tahun ini juga Dja Endar Moeda menerbitkan satu surat kabar berbahasa Melayu dengan nama Tapian Na Oeli (untuk sirkulasi di Residentie Tapanoeli) dan juga satu majalan (bulanan) yang diberi nama Insulinde (yang berisi atrtikel-artikel pembangunan, kemasyarakat dan pertanian). Dengan portofolio yang tinggi di Padang, Dja Endar Moeda menginisiasi pembentukan organisasi sosial (sosieteit) yang diberi nama Medan Perdamaian.

Organisasi sosial (societeit) Medan Perdamaian tidak bersifat eksklusif tetapi secara sadar dibentuk sebagai organisasi trans-nasional, tidak hanya untuk warga Padang (Melayu dan Minangkabau) tetapi juga mencakup penduduk Batak, Jawa, Madura dan Bali. Sebagai penggagas, Dja Endar Moeda mengubah motto surat kabar Pertja Barat dengan motto ‘Oentoek Segala Bangsa’ (untuk semua suku bangsa pribumi). Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda, direktur Medan Perdamaian menyumbang sebanyak f14.490 untuk peningkatan kulitas pendidikan di Semarang (lihat De locomotief: Samarangsch handels en adv blad, 21-08-1902).

Sekolah pertama kali di buka di Bali pada tahun 1872. Ini sesuai dengan surat Menteri Koloni 13 Juni 1871 yang diterima di Buitenzorg pada tangga 19 Agustus 1871 yang berisi tentang pendirian sekolah pribumi (inlandsche School) di Boeleleng, pulau Bali Residentie Banjoewangi (lihat Bataviaasch handelsblad, 23-08-1871). Disebutkan dalam surat ini, sekolah di Boelelng akan dibuka pada tanggal 7 Januari 1872. Saat itu di Boeleleng adakan ibukota dimana Asisten Residen berkedudukan dan seorang Controleur ditempatkan di Djembrana (Negara). Sejak 1871 di Boeleleng N van der Tuuk melakukan studi bahasa dan sastra Bali. Boeleleng adalah kota pelabuhan terpenting di Bali dan Lombok. Sejak 1876 sudah ada siswa lulusan Boeleleng yang melanjutkan studi ke Jawa.

Pada tahun 1882 Bali dipisahkan dari Jawa (Banjoewangi) dan kemudian membentuk Residentie Bali en Lombok dengan ibu kota di Boeleleng. Cabang Pemerintah Hindia Belanda baru terbatas di Afdeeeling Boeleleng dan di afdeeeling Djembrana. Sekolah pemerintah kemudian didirikan di Negara. Pada tahun 1895 dibentuk afdeeling Lombok dengan ibu kota Mataram. Status asisten residen Bali en Lombok ditingkatkan menjadi Residen dimana di Lombok juga ditempatkan seorang asisten residen (dan Controleur di Selong dan Praja). Sejak 1897 di Selong didirikan sekolah. Beberapa tahun kemudian sudah ada beberapa siswa yang melanjutkan studi pamong pradja ke Jawa (Mosvia) dan sekolah guru (kweekschool) di Makassar.

Pada tahun 1908 dibentuk cabang Pemerintah Hindia Belanda di Zuid Bali sebagai satu afdeeeling yang ditetapakn ibu kota di Denpasar dimana seorang Asisten Residen ditempatkan, Sejak ini di Denpasar didirikan sekolah. Dengan demikian di Residentie Bali en Lombok sudah terbentuk cabang pemerintahan dengan empat afdeeeling: Boeleleng, Djembrana, Lombok dan Zuid Bali. Pulau Bali dengan sendirinya mulai terhubung antara satu afdeeeling dengan afdeeling lainnya dengan dibangunnya (ditingkatkannya) jalan trans Bali. Selama ini jalan kelas-1 hanya terbatas antara ruas Tjandikoesoema dengan Negara=Djembrana, ruas Boeleleng dan Soekongenep (timur) dan ruas Boeleleng dengan Pengastoelan (barat).

Pada bulan Mei 1908 sejumlah pemuda Jawa yang kuliah di sekolah kedokteran (STOVIA) di Batavia yang dimotori Soetomo dkk mendirikan organisasi sosial (societeit) yang diberi nama Boedi Oetomo. Dalam kongres pertama yang diadakan pada awal bulan Oktober 1908 di Djogjakarta AD-ART Boedi Oetomo disahkan. Namun yang menjadi persoalan, societeit ini diaokupasi oleh golongan senior seperti bupati dan bangsawan lainnya. Para pemuda STOVIA gigit jari. Hal ini karena cakupan Societeit Boedi Oetomo hanya terbatas di Jawa dan Madoera. Societeit Boedi Oetomo ini disebut mirip (copy paste) dengan Societeit Medan Perdamaian di Sumatra (lihat Soerabaijasch handelsblad, 20-10-1908).

Rumor tentang okupasi oleh golongan senior di Boedi Oetomo sudah beredar luas hingga negeri nun jauh di sana di Belanda. Jumlah mahasiswa pribumi di Belanda sudah ada sebanyak 20 orang yang tersebar di berbagai kota. Salah satu diantara mahasiswa tersebut Soetan Casajangan (non-Jawa) menginisasi dibentuknya organisasi sosial (societeit) di Belanda. Dalam rapat yang diadakan di tempat Soetan Casajangan di Leiden, diputuskan didirikan organisasi (mahasiswa) yang diberi nama Indische Vereeniging pada tanggal 25 Oktober 1908 dengan aklamasi mengangkat Soetan Casajangan sebagai presiden dan Raden Soemitro sebagai sekretaris-bendahara. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean (adik kelas dari Dja Endar Moeda).

Dalam perkembangannya, Dr. Soetomo melanjutkan studi ke Belanda. Ketika Dr. Soetomo cs menjadi pengurus Indische Vereeniging tahun 1821 mengubah nama organisasi dengan nama Indonesiasche Vereeniging. Soetan Casajangan sendiri pulang ke tanah air pada tahun 1915, Pada tahun 1921 menjabat sebagai Direktur sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara, Jakarta). Lalu pada tahun 1924 Mohamad Hatta dkk mengubah lagi nama organisasi Indische Vereeniging dengan nama Perhimpoenan Indonesia (PI). Dr. Soetomo sendiri setelah selesai studi dan mendapat gelar dokter setara Eropa kembali ke tanah air pada tahun 1924. Pada tahun 1924 ini Dr. Soetomo dkk di Soerabaja mendirikan klub studi yang diberi nama Indonesiaas Studieclub (lihat De Indische courant, 14-07-1924). Klub studi menerjemahkan persoalan penduduk pribumi, Sebagaimana Indonesiasche Vereenigingdi Belanda, klub studi ini melakukan diskusi, analisis dan presentasi dan menerbitkan media.

Pada tahun 1924 seorang terpelajar dari Boeleleng bernama I Goesti Tjakra Tanaja mendirikan organisasi sosial (societeit) di Bali yang diberi nama Surya Kanta. Organisasi Surya Kanta ini juga membentuk surat kabar (bulanan) sebagai organ dari organisasi. Organisasi ini yang awalnya digagas oleh I Goesti Tjakra Tanaja untuk mengusung kesetaraan ternyata sangat diminati oleh kaum bangsawan. Persoalannya mirip yang dialami oleh Boedi Oetomo yang diokupasi oleh golongan senior (para bangsawan). Seperti halnya Soetomo, tampaknya I Goesti Tjakra Tanaja juga gigit jari. Misi pembentukan Surya Kanta (bersifat trans-nasional) tidak jalan.

I Goesti Tjakra Tanaja adalah alumni sekolah pamong pradja (OSVIA) di Jawa. Pada tahun 1910 kepala district (penggawa) Soekasada-Pandji, afdeeeling Boeleleng Goesti Njoman Raka meminta dengan hormat mengundurkan diri karena alasan kesehatan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-11-1910). Lalu muncul dua kandidat yakni Goesti Bagoes Mantra dan I Goesti Tjakra Tanaja. Untuk memilih satu kemudian dewan adat (Raad van Kerta) melakukan rapat. Dalam sidang dipilih dan ditetapkan dan I Goesti Tjakra Tanaja (lihat De Maasbode, 14-12-1910). Tampaknya preferensi jatuh kepada I Goesti Tjakra Tanaja karena ia memiliki pendidikan yang lebih tinggi (alumni OSVIA).

Dalam perkembangannya diketahui bahwa I Goesti Tjakra Tanaja dipecat dari jabatannya sebagai kepala district Soekasada, Boeleleng. Tidak diketahui secara jelas apa yang menyebabkan dirinya dipecat. Tentu saja bukan karena kapasitas, sebab untuk urusan pemerintahan dia telah memiliki ilmunya (sebagai lulusan OSVIA Malang). Tentu saja pemecatan itu bersifat fatal yang boleh jadi membuat murka pejabat Belanda atau para anggota dewan Raad van Kerta. Sejak pemecatan ini I Goesti Tjakra Tanaja menyingkir ke Jawa. Satu tempat yang mungkin baginya di Jawa adalah Soerabaja. Organisasi-organisasi sosial baru juga di Jawa bermunculan seperti Pagoejoeban Pasoendan, Sumatranen Bond (1917, digagas oleh Sorip Tagor Harahap di Belanda), Bataksche Bond (1919, digagas oleh Abdoel Rasjid Siregar di Batavia), Kaoem Betawi dan sebagainya. Besar dugaan I Goesti Tjakra Tanaja telah mengikuti presentasi-presentasi Indonesia Studiclub di Soerabaja yang dipimpin oleh Dr. Soetomo yang kemudian memicunya kembali pulang ke Bali dan lalu mendirikan organisasi sosial (societeit) Surya Kanta.

Afdeeling Boeleleng tidak hanya ibu kota (Singaradja). Pelabuhan Boeleleng adalah pelabuhan transit ke berbagai tempat yang ramai. Afdeeling Boeleleng sendiri termasuk yang paling heterohen penduduknya di (pulau) Bali. Hubungan transportasi yang lancar ke Soerabaja menyebabkan berbagai media mudah dibeli di Boeleleng. Oleh karena itu Boeleleng adalah pintu perubahan di Bali (yang dalam hal ini soal isu-isu persatuan dan politik berbangsa). I Goesti Tjakra Tanaja adalah salah satu tokoh muda Bali yang cepat merespon itu. Meski dia terikat dengan tanah kelahiran, tetapi secara pikiran dia terhubung ke dinamika di Jawa. I Goesti Tjakra Tanaja bagaikan Soetan Casajangan van Tapanoeli dan Dr Soetomo van Java.

Di Bandoeng, pada tahun 1926 Soekarno dan kawan-kawan juga berinisiatif mendirikan studieclub yang diberi nama Algemeene Studie Club. Pada tanggal 7 November 1926 di Bandoeng diadakan pertemuan publik pertama Algenieene Studieclub dengan tema ‘Politiek en Economie in de Koloniale Overheersching’ (Politik dan Ekonomi di dominasi kolonial). Pertemuan ini dilakukan di balairung yang dipenuhi sekitar 600 orang termasuk 15 orang perempuan pribumi (Bataviaasch nieuwsblad, 08-11-1926). Dalam pertemuan ini juga turut hadir Goenawan, Mohamad Sanoessi, Soeprodjo, Soediro, Darmoprawiró, Dr Tjipto dan Dr. Douwes Dekker. pertemuan itu dipimpin oleh Ir. Darmawan Mangun Koesoemo. Sementara pada panel duduk Ir. Anwari, Ir. Soekarno dan guru Kadmirah.

Parada Harahap, editor surat kabar Bintang Timoer di Batavia mulai memperhatikan sepak terjang Ir. Soekarno dan memberitakannya dan kemudian mengundangnya untuk mengirim tulisan ke surat kabar yang dipimpinnya Bintang Timoer yang belum lama didirikan. Gayung bersambut. Parada Harahap yang menjadi sekretaris Sumatranen Bond sudah sejak lama mengenal Mohamad Hatta. Dr. Soetomo berutang budi kepada Parada Harahap.

Parada Harahap yang masih berusia 17 tahun dipecat sebagai krani (juru tulis) di sebuah perkebunan (plantation) di Deli tahun 1918. Ini bermula ketika Parada Harahap sebagai krani tidak tahan melihat penderitaan kuli asal Jawa di perkebunan-perkebunan Eropa-Belanda di Deli karena penerapan poenalie sanctie. Lalu Parada Harahap melakukan penyelidikan dan laporannya dikirim ke surat kabar Benih Mardika yang terbit di Medan. Laporan-laporan itu disarikan menjadi beberapa artikel yang kemudian artikel-artikel di Benih Mardika itu dilansir surat kabar Soeara Djawa. Lalu heboh di (pulau) Jawa. Akhirnya diketahui sumber peberitaan itu, lalu Parada Harahap dipecat sebagai krani. Memang dasar patriot, Parada Harahap tidak pulang kampong ke Padang Sidempoean tetapi merantau ke Medan dan melamar menjadi wartawan di Benih Mardika dan anehnya langsung diangkat sebagai editor pada tahun 1918. Sebelumnya Dr. Soetomo yang ditempatkan di Tandjoeng Moerawa mengeluh melihat nasib kuli Jawa di Deli. Setelah selesai bertugas di Deli dua tahun pada tahun 1915 kembali ke Jawa. Ketika tiba di Batavia, Dr. Soetomo meminta Boedi Oetomo afdeeling (cabang) Batavia yang diketuai Dr Sardjito untuk mengadakan rapat umum. Dalam rapat umum ini, Dr. Soetomo berkeluh kesah tentang penderitaan kuli asal Jawa di Deli. Dalam pidatonya Dr. Soetomo menggarisbawahi ‘kita tidak bisa hidup sendiri [hanya terbatas di Jawa], banyak orang Tapanoeli yang terpelajar dan terdapat dimana-mana. Penderitaan warga kita di Deli tidak bisa kita selesaikan sendiri’. Setelah berita di Soeara Djawa yang mengutip Benih Mardika, pemerintah mulai memperhatikan kesejahteraan kuli di perkebunan dengan perubahan aturan-aturan.

Oleh karena surat kabar Benih Mardika dibreidel karena kasus perdata yang dialami para pemimpinya, Parada Harahap tidak mau menganggur tetapi segera pulang kampong dan mendirikan surat kabar di Padang Sidempoean pada bulan September 1919. Surat kabarnya diberi nama Sinar Merdeka dengan motto meningkatkan keadilan penduduk. Pada tahun ini juga Sumatranen Bond mengadakan kongres pertama di Padang. Ketua panitia kongres Amir, mahasiswa STOVIA dan pembina kongres Dr. Abdoel Hakim Nasution, anggota dewan Gemeenteraad kota Padang). Parada Harahap memimpin delegasi Tapanoeli ke kongres itu. Di sinilah Parada Harahap pertama kali bertemu dengan Mohamad Hatta sebagai pemimpin delegasi kota Padang. Pada kongres kedua tahun 1921 Parada Harahap kembali bertemu. Pada tahun 1922 Mohamad Hatta melanjutkan studi ke Belanda. Oleh karena Sinar Merdeka dibreidel karena delik pers, Parada Harahap pada tahun 1823 hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar yang diberi nama Bintang Hindia (pembinanya adalah Dr. Abdoel Rivai dan Soetan Casajangan, keduanya adalah pentolan Indische Vereeniging tempo dulu di Belanda). Pada tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi pertama yang diberi nama Alpena dengan merekrut WR Soepratman sebagai editor. Sepulang Parada Harahap melakukan kunjungan jurnalistik ke Sumatra dan Semenanjung Malaka dan membukukan serta menerbitkannya pada tahun 1926. Pada tahun ini juga Parada Harahap mendirikan surat kabar baru yang diberi nama Bintang Timoer.

Dalam konteks ini, Parada Harahap mulai menggalang persatuan yang lebih besar, tidak hanya diantara organisasi-organisasi kebangsaan (Sumatranen Bond, Boedi Oetomo, Kaoem Betawi, Pasoendan dan lainnya), Parada Harahap juga ingin organisasi-organisasi mahasiswa yang menjadi organ organisasi kebangsaan untuk menyatukan langkah menuju Indonesia Merdeka. Inilah yang mendasari, mengapa Parada Harahap berambisi segera mewujudkan persatuan yang lebih besar. Lalu Parada Harahap, sekretaris Sumatranen Bond pada bulan September 1927 mengundang pemimpin organisasi-organisasi sosial di rumah Dr. Hussein Djajadiningrat (salah satu pentolan Indische Vereeniging). Dalam rapat ini disepakati dibentuk supra organisasi yang diberi nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia yang disingkat PPPKI. Dalam rapat ini hadir antara lain perwakilan dari Pasoendan, Kaoem Betawi (MH Thamrin), Islamieten Bond, Bataksche Bond dan Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) yang berpusat di Bandoeng diwakili oleh ketuanya Ir. Soekarno serta Boedi Oetomo (secara sukarela diwakili Dr Soetomo). Secara aklamasi pengurus diangkat sebagai ketua MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap. Tugas pertama pengurus adalah membangun kantor-gedung dan persiapan untuk kongres yang akan diadakan pada bulan September 1928.

Parada Harahap pada satu sisi terus aktif membangun PPPKI, namun di sisi lain Parada Harahap terus membendung  serangan pers Belanda soal tanah air milik nenek moyang, soal persatoean dan munculnya partai politik. Anehnya, sebagian wartawan dari pers pribumi turut mendiskreditkan Parada Harahap dan lebih memihak pers Belanda. Parada Harahap tentu tidak sendiri, masih banyak orang-orang revolusioner seperti Soekarno dan Mohammad Hatta yang berani bertarung dan bersuara garang di publik. Musuh utama yang menjadi seteru polemik Parada Harahap adalah Karel Wijbrand (mantan editor Sumatra post yang kini, seperti Parada Harahap berkarir/hijrah ke Batavia). Pers Belanda terus menggarisbawahi statement-statement para revolusioner baik yang terdapat di media (seperti Bintang Timoer) maupun di rapat-rapat besar.

Kantor-gedung PPPKI  selesai dibangun di Gang Kenari. Lahannya adalah sumbangan dari milik MH Thamrin. Untuk biaya pembangunan Parada Harahap menggalang dana dari para pengusaha pribumi di Batavia. Parada Harahap adalah ketua organisasi perngusaha pribumi Batavia (semacam KADIN pada masa ini). Rapat-rapat umum oleh berbagai perhimponena kebangsaan. Satu yang unik di dalam gedung ini, Parada Harahap sebagai kepala kantor memajang tiga foto di dinding yakni Soeltan Agoeng, Soekarno dan Mohamad Hatta. Di sekitar gedung ini juga didirikan sekolah. Untuk sekadar diketahui gedung ini masih eksis hingga ini hari.

Sebelum pembentukan PPPKI ini di Batavia, di Bali organisasi sosial (societeit) Surya Kanta meski sudah memasuki tahun ketiga namun respon penduduk tidak menyeluruh seperti organisasi-organisasi sosial seheboh di Jawa dan Sumatra. Ada permasalahan rumit yang dilihat oleh I Goesti Tjakra Tanaja. Surya Kanta hanya bersemangat di afdeeeling Zuid Bali dimana para bangsawan dominan. Sebaliknya di Afdeeling Boeleleng di kampong halaman I Goesti Tjakra Tanaja agak sedikit bermasalah. Sebagaimana diberitakan surat kabar De Indische courant, 02-04-1927 ketika Surya Kanta mengadakan rapat di Singaradja pada akhir bulan Desember 1926 hanya dua orang bangsawan yang hadir. I Goesti Tjakra Tanaja sebagai ketua melihat tingkat ketertarikan yang rendah ini dia menyatakan kekecewaannya. Rapat di Singaradja didominasi kalangan orang biasa (sementara di Zuid Bali sebaliknya kalangan bangsawan yang dominan). Ada perbedaan tarikan di antara dua wilayah ini (utara dan selatan). I Goesti Tjakra Tanaja berharap sesuai misinya dalam membentuk organisasi satu sama lain elemen masyarakat menyatu (membentuk persatuan dan kesatuan). Boleh jadi permasalahan internal di Bali yang diduga menjadi sebab Surya Kanta tidak terwakili di rapat pembentukan PPPKI di Batavia.

Dalam persiapan Kongres PPPKI (senior) pada bulan September 1928, Parada Harahap telah meminta Dr. Soetomo yang menjadi ketua panitia. Lalu penyelenggaraan Kongres PPPKI diintegrasikan dengan kongres para pemuda yang akan diadakan pada bulan Oktober 1928. Parada Harahap telah menginisiasi pembentukan komite Kongres Pemoeda. Dalam susunan komite ini ditempatkan tiga tokoh pemuda yang terhubung dengan Parada Harahap dan Dr Soetomo. Ketua komite adalah Soegondo (ketua PPPI, organ pemuda PPPKI), sebagai sekretaris adalah Mohamad Jamin (dari Jong Sumatranen Bond) dan sebagai bendahara adalah Amir Sjarifoeddin Harahap (dari jong Bataksche Bond). Tiga orang ini kebetulan sama-sama mahasiswa di Rechthoogeschool Batavia (yang mana sebagai dekan adalah Dr Husein Djajadiningrat, Ph.D).

Meski demikian, tampaknya pada Kongres PPPKI yang diadakan pada tanggal 29 dan 30 September 1928 perwakilan Surya Kanta hadir. Hal ini karena selepas kongres, Parada Harahap yang dikutip surat kabar Belanda menyebutkan kekecewaannya karena dalam kongres tidak hadir perwakilan Minahasa dan Ambon.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bali Darma Laksana dan I Njoman Kadjeng

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar