Jumat, 25 November 2022

Sejarah Bengkulu (35): Abdoel Rivai, Warga Hindia vs Warga Negara Kerajaan Belanda; Soetan Casajangan hingga Parada Harahap


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini 

Siapa Abdoel Rivai? Tentulah sudah dikenal luas. Bagaimana hubungan Dr Abdoel Rivai dengan wilayah Bengkulu? Tampaknya kurang terinformasikan. Di dalam laman Wikipedia tidak ada indikasi hubungan Dr Abdoel Rivai dengan wilayah Bengkoeloe. Satu yang jelas belum lama ini nama Dr Abdoel Rivai termasuk diantara tokoh yang diusulkan Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.


Abdoel Rivai (13 Agustus 1871 – 16 Oktober 1937) adalah dokter dan wartawan. Orang Indonesia pertama menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari luar negeri, pribumi Indonesia pertama yang meraih gelar doctor. Ayah Abdul Karim dan ibu Siti Kemala Ria. Ayahnya guru di sekolah Melayu. Pada tahun 1886, usia 15 tahun diterima bersekolah di STOVIA. Setamat 1894, ditugaskan menjadi dokter di Medan. Penghujung 1899, Rivai melanjutkan pendidikan ke Belanda. Rivai merupakan orang Hindia pertama yang bersekolah kedokteran di Belanda, lulus 1907. Ia kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Gent, Belgia dan dinyatakan lulus 23 Juli 1908, sebagai pribumi pertama meraih gelar doktor. Rivai terlibat perdebatan dengan AA Fokker, pejabat Belanda yang mengklaim lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang orang Melayu sendiri. Dalam perdebatan ini Fokker berang karena ada orang inlander yang berani menantangnya. Akibat kegemilangannya dalam berdebat, Rivai diperbolehkan sekolah di Utrecht. Tahun 1900 Rivai memprakarsai surat kabar Pewarta Wolanda. Selain itu Rivai mengirimkan tulisan ke berbagai media di Belanda maupun Hindia. Bersama Henri Constant Claude Clockener Brousson, Rivai menerbitkan Bendera Wolanda pada 15 April 1901. Juga bersama Brousson, ia mendirikan usaha penerbitan Bintang Hindia pada Juli 1902. Selanjutnya, Rivai memutuskan untuk keluar dari Bintang Hindia pada tahun 1907, hingga akhirnya Bintang Hindia meredup dan akhirnya pada tahun 1910 berakhir. Setibanya dari Belanda pada tahun 1911, Rivai turut mendukung pembentukan Indische Partij (IP) di Sumatra. Tahun 1913 IP dibubarkan karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Mantan aktivisnya kemudian mendirikan Insulinde. Pada tahun 1918, ia diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Insulinde. Ia kemudian menetap di Batavia, sebagai pembantu utama surat kabar Bintang Timur. Sementara itu surat kabar Pewarta Deli, Medan menyebutnya Sebagai "Bapak dalam golongan Jurnalistik (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Abdoel Rivai, penduduk Hindia dan warga negara Kerajaan Belanda? Seperti disebut di atas, sejarah Abdoel Rivai sudah ditulis. Lalu mengapa harus ditulis Kembali. Yang jelas Dt Abdoel Rivai memiliki kedekatan dengan guru Soetan Casajangan dan Parada Harahap. Lantas bagaimana sejarah Abdoel Rivai, penduduk Hindia dan warga negara Kerajaan Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Abdoel Rivai, Penduduk Hindia dan Warga Negara Kerajaan Belanda; Soetan Casajangan dan Parada Harahap

Pada era awal pendidikan bagi pribumi (Hindia Belanda) baru ada dua jenis sekolah yang lebih tinggi yakni sekolah guru (kweekscool) dan sekolah kedokteran (geneeskundigen). Kedua sekolah ini mulai didirikan pada tahun 1851. Sekolah pertama didirikan di Soerakarta, kemudian di Fort de Kcok (1856) dan yang ketiga di Tanobato, Afdeeling Angkola Mandailing Residentie Tapenoeli (1862). Lalu dalam perkembangan Sekolah guru kemudian terdapat di sejumlah tempat termasuk sekolah guru di Padang Sidempoean (Afdeeling Angkola Mandailing Residentie Tapenoeli). Sementara itu sekolah kedokteran hanya ada di satu tempat yang dimulai tahun 1851 di Batavia (Docter Djawa School).


Pada awal pendiriannya, docter djawa school lama studi dua tahun. Jumlah siswa yang diterima setiap tahun sekitar 10 siswa. Disebut namanya Docter Djawa School karena didirikan di Jawa (Batavia) dan juga siswa yang diterima awalnya lulusan sekolah dasar di Jawa. Namun pada tahun 1854 dua lulusan dari Afdeeling Angkola Mandailing Residentie Tapenoeli yakni Si Asta dari onderafd. Mandailing dan Si Angan dari onderaf. Angkola. Mereka berdua adalah siswa pertama yang diterima dari luar Jawa. Keduanya lulus tahun 1856 yang mana Dr Asta Nasoetion ditempatkan di onderaf. Mandailing dan Dr Angan di onderafd. Angkola. Masih pada tahun 1856 dua siswa dari Afdeeling Angkola Mandailing diterima di Docter Djawa School dimana studi ditingkatkan menjadi tiga tahun. Beberapa tahun kemudian ditingkatkan lagi statusnya menjadi lima tahun dan para tahun terakhir ini lama studi menjadi delapan tahun dimana tiga tahun tingkat persiapan dan lima tahun tingkat medik.

Pada tahun 1895 di Docter Djawa School dilakukan ujian akhir beberapa hari dari tanggal 31 Januari hingga 9 Februari dari tujuh kandidat lulus semuanya diantaranya Abdoel Rivai (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-03-1895). Disebutkan ketujuh siswa kelas tertinggi tersebut adalah Abdul Rivai, Raden Benggol, Raden Soekienoen, Mas Goenoeng, Raden Soemeroe, Mohamad Rabain dan Mas Paidjo.


Siswa-siswa yang diterima di sekolah guru dan sekolah kedokteran adalah pribumi lulusan sekolah dasar. Lama studi di sekolah guru adalah tiga tahun, sementara di sekolah kedokteran lama studi lima tahun. Beberapa tahun sebelumnya, nun jauh di pedalaman Sumatra, pada tahun 1884 Kweekschool Padang Sidempoean melakukan ujian akhir dimana salah satu yang lulus adalah Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Satu lulusan Kweekschool Padang Sidempoeanm yang kelak juga sangat dikenal adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (lulus tahun 1887).

Seperti sebelumnya, semua lulusan Docter Djawa School tahun 1895 di tempatkan di berbagai tempat di wilayah Hindia Belanda. Abdoel Rivai ditempatkan di Medan (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 19-03-1895). Dr Abdoel Rivai menggantikan Dr Amir Hamzah yang dipindahkan ke rumah sakit kota (stadsverband) Soerabaja. Dalam berita ini juga disebut dari Trenggalek (Kediri) dipindahkan ke Loeboe Pakam Mas Samidi, sementara dari Loeboe Pakam dipindahkan ke Amboina, R Tholense.   


Di Medan diketahui Abdoel Rivai telah menikah dengan seorang wanita Belanda dengan satu anak (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-08-1895). Setahun kemudian Abdoel Rivai dipindahkan dari Medan ke Tandjoeng Balai (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-08-1896). Dalam berita ini juga disebutkan Dr Madjilis dipindahkan dari Tandjoeng Balai ke Moko-moko. Dalam hal ini posisi yang ditinggalkan oleh Dr. Madjilis ditempati oleh Dr. Abdoel Rivai.  Dr Madjilis lulus docter djawa school tahun 1886 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-06-1886). Dr, Madjilis adalah dokter pribumi lulusan terbaik. Dr Madjilis berasal dari Afdeeling Angkola Mandailing. Dr. Madjilis setelah beberapa kali pindah kemudian dipindahkan kembali ke Tandjong Balai. Dr. Madjilis dari Tandjong Balai terakhir dipindahkan ke Padang Sidempoean (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 21-02-1906). Setelah mengabdi selama dua dasawarsa, Dr. Madjilis akhirnya meminta pensiun dini dikampungnya di Padang Sidempoean terhitung tanggal 6 November 1906 (Bataviaasch nieuwsblad, 06-11-1906). Pada tahun 1907 keluar beslit Dr, Madjilis yang mengizinkan membuka praktik untuk kedokteran, operasi dan farmasi (Bataviaasch nieuwsblad, 06-07-1907). Setelah itu, Dr. Madjiis kerap bolak-balik ke Tandjong Balai. Nama, Dr. Madjilis terdeteksi terakhir sebagai dokter di perusahaan perkebunan yang berkantor di Tandjong Balai (De Sumatra post, 07-08-1917).

Dr Abdoel Rivai kembali dipindahkan ke Medan. Pada bulan Oktober 1896 Dr Abdoel Rivai dipindahkan ke Laboehan Deli (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-10-1896). Dalam berita ini juga disebutkan Dr Madjilis kembali ditempatkan di Tandjoeng Balai. Setahun kemudian Dr Abdoel Rivai dipindahkan dari Laboehan Deli ke Bindjai (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1897). Pada tahun 1899 Dr Abdoel Rivai dari Bindjai dipindahkan ke Tebingtinggi (lihat De Preanger-bode, 31-07-1899). Beberapa waktu kemudian diketahui Dr Abdoel Rivai berangkat ke Batavia dengan kapal ss Riebeeck (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-09-1899).


Tidak diketahui apa alasan Dr Abdoel Rivai ke Batavia. Apakah Dr Abdoel Rivai telah mengundurkan diri atau dipecat dari dinas pemerintah? Yang jelas istri Abdoel Rivai dan seorang anak telah berangkat dari Medan ke Batavia. Istri dan anak tersebut saat ini sudah di Belanda.

Pada bulan September 1899 diketahui Dr Abdoel Rivai berangkat ke Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 26-09-1899). Disebutkan besok kapal ss Gede akan berangkat dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana salah satu penumpang adalah Abdoel Rivai. Dari semua penumpang hanya nama Abdoel Rivai yang non Eropa/Belanda. Dalam manifes kapal tercatat Abdoel Rivai seorang diri (tidak ada istri dan anak).


Di Belanda sudah terdapat pribumi. Salah satu diantaranya adalah Raden Kartono yang setelah lulus HBS Semarang berangkat studi ke Belanda pada tahun 1896. Raden Kartono adalah abang dari RA Kartini. Bataviaasch nieuwsblad, 28-09-1899 memberitakan bahwa Dr Abdoel Rivai diberhentikan dengan hormat. Ini mengindikasikan Dr Abdoel Rivai mengajukan pengunduran diri dari dinas pemerintah. 

Apa yang menjadi alasan Dr Abdoel Rivai mengundurkan diri dari dinas pemerintah dan berangkat ke Belanda tidak terinformasikan. Yang jelas Abdoel Rivai diketahui kemudian telah menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Amsterdam (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 19-06-1900). Disebutkan Abdoel Rivai akan menjadi editor majalah berbahasa Melayu Pewarta Wolanda yang akan terbit setiap dua minggu sekali. Disebutkan Abdoel Rivai bekerjasama dengan Strikwerda. Surat kabar ini akan terbit pertama pada tanggal 1 Juli.


Strikwerda adalah pensiunan Asisten Residen yang menjadi penerjemah bahasa Melayu di Amsterdam (lihat De Maasbode, 08-07-1900). Y Strikwerda paling tidak diketahui tahun 1851 sebagai pejabat pemerintah di Westerafdeeling van Borneo (lihat Samarangsch advertentie-blad, 28-06-1861). Pada tahun 1871 Strikwerda diketahui sebagai Asisten Residen di Sintang (lihat Makassaarsch handels-blad, 22-03-1871). Pada tahun 1873 Strikwerda sebagai asisten residen di Koeningan (lihat Bataviaasch handelsblad, 06-06-1873). Pada tahun 1879 Strikwerda pensiun sebagai asisten residen Koeningan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-04-1879). Setelah pensiun Strikwerda kembali ke Belanda. Pada tahun 1881 Strikwerda diangkat menjadi dosen di perguruan tinggi perikanan laut Nederlandsche staatscourant, 02-11-1881). Pada tahun 1890 Y Strikwerda menerbitkan buku praktek bahasa Melayu dalam aksara Arab (lihat Algemeen Handelsblad, 30-05-1890). Disebutkan Strikwerda sebagai dosen bahasa Melayu dan pertanian di Amsterdam. Pada tahun 1891 Strikwerda menerbitkan majalah berita berbahasa Melayu yang diberinama Pewarta Boemi (lihat Arnhemsche courant, 24-04-1891). Disebutkan terbit dua minggu sekali. Sasarannya adalah orang Cina, Arab dan pribumi di Hindia. Surat kabar ini diterbitkan oleh Van Der Weide en Pijttersen. Surat kabar ini adalah satu-satunya di Belanda yang berbahasa Melayu. Terhitung sejak tanggal 1 Desember 1898 Y Strikwerda digantikan oleh Dr AA Fokker (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-01-1898). Disebutkan Dr AA Fokker adalah editor linguistik ternama di Den Haag, guru bahasa Melayu di Handelsschool di Amsterdam.

Y Strikwerda adalah orang yang sudah berpengalaman dalam penerbitan surat kabar berbahasa Melayu. Sementara itu, Abdoel Rivai baru ini menjadi terlibat dalam dunia jurnalistik. Setelah Abdoel Rivai lulus di Docter Djawa Schooh tahun 1895 tidak terdetekasi pernah aktif dalam dunia jurnalistik. Dalam hal ini Dr Abdoel Rivai akan mendapat bimbingan dari Y Strikwerda.


Pada tahun 1895 di Padang terbit surat kabar berbahasa Melayu yang diberi nama Pertja Barat yang diterbitkan oleh Baumer. Yang menjadi editor surat kabar Pertjha Barat adalah Dja Endar Moeda, seorang pensiuan guru yang telah membuka sekolah swasta di Padang. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi surat kabar Pertja Barat beserta percetakannya. Pada tahun 1900 ini juga Dja Endar Moeda menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu yang baru Tapian Na Oeli dan majalah Insulinde. Dja Endar Moeda adalah pribumi pertama yang menjadi editor surat kabar dan pribumi pertama yang memiliki surat kabar dan percetakan. Pada tahun 1902 surat kabar Sumatra Post di Medan menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu yang diberi nama Pertja Timor. Editor surat kabar baru ini adalah Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe. Dalam hal ini Dja Endar Moeda dan Mangaradja Salamboewe sama-sama lulusan sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean: Dja Endar Moeda lulus tahun 1884; Mangaradja Salamboewe lulus tahun 1892, ayahnya adalah Dr Asta yang lulus Docter Djawa School tahun 1856.

Namun Pewarta Wolanda hanya berumur singkat. Setelah tidak terbit, Abdoel Rivai melanjutkan studi kedokteran di Amsterdam. Dalam perkembangannya di Batavia, Soerat Chabar Soeldadoe merger dengan surat kabar Pewarta Wolanda (lihat De Sumatra post, 11-06-1901). Disebutkan tanggal 15 April 1901 surat kabar baru ini diterbitkan oleh Albrecht en Co di Batavia. Pada jajaran editor adalah Letnan Clockener Brousson, tentara Belanda, JE Tehupeiory, mahasiwa Dokter-djawa school dan F Wiggers, redaktur Pembrita Betawi,


Juga disebutkan para redaktur bekerjasama dengan Pangeran Harijo Sasraningrat di Djocja, Nawawi gelar Soetan Maa’moer guru kweekschol di Fort de Koek, Datoe Soetan Maharadja di Padang, J Thenu dan FJ Marunaja di Koeta Radja, MA Sahuleka di Magelang dan Lim Soen Hwat di Sibolga. Sebagai koresponden Abdul Rivai, mantan editor Pewarta Wolanda, mahasiswa kedokteran di Amsterdam dan Radhen Mas Pandji Sosro Kartono di Den Haag, pelukis Jawa Mas Abdullah di Amsterdam akan mengilustrasikan majalah tersebut.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Soetan Casajangan dan Parada Harahap: Abdoel Rivai Diantara Orang Cooperative dan Non-Cooperative

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar