*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bisnis di Indonesia di blog ini Klik Disini
Produk dagangan utama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) berfokus pada rempah-rempah dari Nusantara, yang sangat langka dan berharga di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18. VOC memonopoli perdagangan komoditas ini untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Produk dagangan utama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada era kejayaannya berfokus pada komoditas bernilai tinggi dari Asia, terutama rempah-rempah. Tujuan utama VOC didirikan adalah untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah ini di pasar Eropa. Produk dagangan utama tersebut meliputi: Cengkeh: Salah satu rempah paling berharga yang banyak ditemukan di Kepulauan Maluku (Ambon, Saparua, Hitu). Pala dan Fuli (bunga pala): Komoditas eksklusif dari Kepulauan Banda yang sangat diburu di Eropa. Lada: Rempah penting lainnya yang diperdagangkan dari berbagai wilayah di Nusantara. Kayu manis: Rempah yang juga memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global. Kopi dan Teh: Komoditas yang kemudian menjadi penting seiring berjalannya waktu dan permintaan pasar Eropa. Selain rempah-rempah dari Nusantara, VOC juga memperdagangkan produk lain dari seluruh Asia dalam jaringan perdagangannya, termasuk: Tekstil dan Kapas dari India Mughal. Sutra dan Porselen dari Tiongkok Qing. Perak dan Tembaga dari Jepang, yang digunakan sebagai alat tukar untuk berdagang dengan India dan Tiongkok. VOC menggunakan kekuatan militer dan perjanjian monopoli untuk mengamankan pasokan komoditas ini, memastikan harga tetap tinggi di Eropa dan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah produk dagang dari Batavia ke Eropa awal era VOC? Seperti disebut di atas, yang dikutip dari AI Wikipedia apakah begitu adanya? Yang jelas sejarah adalah narasi fakta dan data. Lalu bagaimana sejarah produk dagang dari Batavia ke Eropa awal era VOC? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Produk Dagang dari Batavia ke Eropa Awal Era VOC; Sejarah - Narasi Fakta
dan Data
Seperti dikutip di atas, produk dagangan utama VOC (khusus hasil bumi) antara lain cengkeh, pala dan fuli (bunga pala), lada, kayu manis, kopi dan teh. Juga disebutkan bahwa cengkeh adalah komoditas asli kepulauan Maluku, Indonesia, yang menjadi pusat perdagangan rempah dunia.
Bukti fisik tertua
mengenai keberadaan cengkeh ditemukan oleh para arkeolog di Terqa, Suriah
(Mesopotamia kuno), yang berasal dari sekitar tahun 1720 SM. Cengkeh tersebut
ditemukan di sebuah situs dapur domestik dalam kondisi terbakar. Berikut adalah
garis waktu penemuan dan penggunaan cengkeh di berbagai belahan dunia: 1720 SM:
Penemuan arkeologis tertua di Terqa, Suriah, yang menunjukkan cengkeh telah
diperdagangkan jauh ke barat sejak ribuan tahun lalu. Abad ke-2 SM (200-an SM):
Ditemukan satu butir cengkeh di situs Batujaya, Indonesia, yang berasal dari
fase budaya Buni. 206 SM – 220 M: Pada masa Dinasti Han di Tiongkok, para
pejabat istana diketahui mengunyah cengkeh untuk mengharumkan napas sebelum
bertemu kaisar. Abad ke-1 M: Cengkeh mulai mencapai Kekaisaran Romawi melalui
jalur perdagangan maritim. Tahun 600–1100 M: Bukti empiris cengkeh ditemukan di
pelabuhan kuno Mantai, Sri Lanka, yang mengonfirmasi peran wilayah tersebut
sebagai pusat perdagangan rempah eksotis di Asia Selatan. Cengkeh merupakan
tanaman asli (endemik) dari Kepulauan Maluku, Indonesia (seperti Ternate,
Tidore, Moti, Makian, dan Bacan), di mana pohon ini telah tumbuh secara alami
selama ribuan tahun sebelum akhirnya diperdagangkan secara global (AI Wikipedia).
Namun yang menjadi pertanyaan: apakah demikian fakta dan datanya? Itu satu hal. Dalam hal ini, bagaimana catatan sejarah produk dagangan utama VOC yang dapat dilacak? Pada masa ini, berdasarkan AI Wikipedia, disebut dalam catatan perjalanannya, William Dampier mendeskripsikan "clove bark" (kulit kayu cengkih) sebagai salah satu rempah berharga yang ia temui di Pulau Mindanao, Filipina yang deskripsi dan penggunaan: Dampier mencatat bahwa kulit kayu ini memiliki rasa dan aroma yang menyerupai cengkih. Ia menuliskan pengamatan ini dalam bukunya yang terkenal, A New Voyage Round the World (1697), yang didasarkan pada perjalanannya ke Asia Tenggara dan Filipina antara tahun 1686 hingga 1687.
Oprechte Haerlemsche courant, 16-11-1697: ‘Di Den Haag, Abraham de Hont mencetak dan menerbitkan: Pelayaran Baru Mengelilingi Bumi, yang dilakukan pada tahun 1679 hingga 1691, termasuk, yang di dalamnya dijelaskan secara rinci Tanah Genting Amerika; beberapa Pantai dan Pulau di Hindia Barat, Kepulauan Kabo, perjalanan lebih lanjut Selat Le Maire ke Laut Selatan, Pantai Chili, Peru, Meksiko, Pulau Guam, salah satu Kepulauan Ladrones, Pulau Mindanao, salah satu Kepulauan Filipina, dan Kepulauan Hindia Timur di sekitar Kamboja, Cina, Formosa, Lukonia, Celebes, dll., selanjutnya New Holland, Sumatra, Kepulauan Nicobar, Tanjung Harapan, dan Pulau St. Helena; Bersama dengan pedesaan, sungai, pelabuhan, tanaman, buah-buahan, hewan, dan penduduk yang sama, serta adat istiadat, agama, pemerintahan, perdagangan, dll.: Dijelaskan dalam bahasa Inggris oleh William Dampier, dan diterjemahkan darinya oleh W Sewel: Dengan peta negara yang akurat dan lempengan tembaga.
Dalam hal ini, salah satu sumber data sejarah sejaman adalah surat kabar. Seperti disebut di atas, surat kabar yang terbit di Haarlem, Belanda yakni Oprechte Haerlemsche courant, 16-11-1697 memberitakan keberadaan buku William Dampier yang juga mendeskripsikan "clove bark" (kulit kayu cengkih) sebagai salah satu rempah berharga yang ia temui di Pulau Mindanao.
Surat kabar pertama di Belanda, yang dapat diakses pada masa ini (masih tersimpan dengan baik) adalah Courante uyt Italien, Duytslandt, &c. dengan edisi terawal bertanggal 14-06-1618 (tidak dinyatakan nomor/tahun); Tijdinghe uyt verscheyde quartieren dengan edisi terawal bertanggal 10-02-1619 (tidak dinyatakan nomor/tahun). Kedua surat kabar yang diterbitkan di Amsterdam ini masing-masing hanya terdiri satu halaman folio yang dibagi dua kolom. Jenis huruf yang digunakan keduanya adalah Gothic. Sejak tahun 1620 Courante uyt Italien, Duytslandt, &c. menjadi dua halaman folio. Edisi terakhir Courante uyt Italien, Duytslandt, &c. bertanggal 05-10-1669. Sementara itu Tijdinghe uyt verscheyde quartieren sejak 1620 juga menjadi dua halaman folio. Tijdinghe uyt verscheyde quartieren edisi terakhir bertanggal 03-01-1671. Selain dua surat kabar Belanda pertama terebut adalah Nieuwe tijdingen diterbitkan di T'Antwerpen dengan edisi pertama 15-03-1620. Formatnya berbeda dengan ukuran kuarto satu kolom dengan jumlah halaman sekitar 20 halaman. Namun surat kabar ini hanya bertahan dengan edisi terakhir bertanggal 15-06-1624. Surat kabar Ordinarisse middel-weeckse courante di Amsterdam denganj edisi terawal 25-01-1639. Surat kabar dua halaman folio ini terbit terakhir bertanggal 17-09-1669. Surat kabar Courante extraordinaris di Amsterdam terinformasikan beberapa edisi pada tahun 1626. Surat kabar Europische: ... courant edisi pertama 12-06-1642 (terakhir edisi 25-12-1646). Surat kabar di La Haye yakni Le Mercure anglois pernah terbit beberapa edisi pada tahun 1649. Itulah berbagai surat kabar terawal di Belanda.
Surat kabar di Belanda tampaknya baru eksis setelah dibentuknya usaha
dagang Belanda (VOC). Pos perdagangan utama VOC di Hindia Timur pada tahun 1619
dipindahkan dari Amboina ke Batavia. Ini dimulai penaklukan kerajaan Jacarta
oleh Jan Pieterr Zoon Coen pada tahun 1618 (dari benteng Asmterdam di pulau
Ontong Jawa di teluk Jacarta).
Ekspedisi Belanda pertama ke Hindia Timur. Eskpedisi pertama ini di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang mencapai pulau Enggano tahun 1596 yang kemudian berlabuh di Banten. Sejak itu berbagai eskpedisi Belanda terus mengali ke Hindia Timur. Pada tahun 1605 ekspedisi di bawah pimpinan admiral Hagen berhasil menaklukkan benteng Fortugis di Amboina. Lalu eskpedisi Belanda berikutnya mengusir Portugis dari pulau Solor dan Kupang tahun 1613 (orang Portugis bergeser ke bagian timur pulau Timor—kini Timor Leste). Kekuatan utama Portugis masih eksis di Malaka, Kambodja dan Macao.
Surat kabar di Belanda pertama kali menginformasikan kapal dagang VOC yang membawa produk dagangan dari Batavia (Hindia Timur) adalah surat kabar Tijdinghe uyt verscheyde quartieren edisi 23-02-1621. Di dalam berita ini disebut kapal Goede Dzede dari Hindia Timur di Zeelant berisi kargo berikut, antara lain: 2117 picol peper (lada), 40.000 pon naghelen; 352 keranjang foely (fuli); dan camphora (kamper), jahe (gember) dan suyker (gula). Surat kabar Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 05-06-1621 memberitakan dari Hindia Timur Iacatra (Jacarta) di Zeelant tiba kapal antara lain kargo peper (lada) dan folij (fuli). Demikianlah seterusnya.
Pada tahun 1623 surat kabar Tijdinghe uyt verscheyde quartieren kembali memberitakan di Zeelant tiga kapal dari Hindia Timur Bat(avia) dan satu kapal dari tempat lainnya di bawah pimpinan admiral Coenen (Jan Pieterszoon Coen?). Kapal Mauritius dengan kargo antara lain, naghelen, foely, jahe (gember), gula (suycker), kemenyan (benjuin), getah (gomne) dan lada (peper). Kapal Alckmaer dengan kargo antara lain, lada (peper), foely, dan indigo. Kapal Delfs Haven terdiri kargo antara lain lada (peper), foely dan indigo. Kapal Walcheren terdiri kargo antara lain lada (lihat Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 16-09-1623). Selain surat kabar Tijdinghe uyt verscheyde quartieren yang memberitakan produk dagangan dari Hindia Timur juga kemudian menyusul surat kabar Courante uyt Italien, Duytslandt, &c. (lihat antara lain edisi 04-07-1626).
Lantas mengapa sejauh ini dalam daftar kargo yang dibawa dari Hindia Timur ke Belanda ini tidak terdapat cengkeh (clove)? Yang ada dan utamanya adalah naghelen, lada (peper) dan pala (foely). Dalam hal ini pala dari Maluku dan lada dari Sumatra. Produk dagangan dari Hindia Timur ke Eropa/Belanda lainnya adalah kemenyan dan kamper (umumnya dari Tanah Batak) dan indigo (umumnya dari Jawa). Sudah ada disebut gula. Apakah gula tersebut adalah gula aren atau gula kepala? Yang jelas, kamper dan kemenyan diduga kuat berasal dari produk (dagangan) zaman kuno. Konon, kamper (kapur barus) dari Nusantara sangat penting bagi Mesir kuno, digunakan terutama sebagai bahan kunci dalam proses mumifikasi (pengawetan jenazah) dan juga untuk obat-obatan serta parfum.
Uniknya, hanya terdapat di pantai barat Sumatra antara Air Bangis dan Singkel. Seperti disebut di atas, perdagangan kamper masih cukup signifikan hingga awal era VOC. Dalam bahasa Batak kamper disebut “hapur” dan kemenyan disebut “haminjon”. Konon, sebutan “hapur” ini masuk ke dalam bahasa Arab melalui bahasa Persia sebagai “kafura” yang pada gilirannya masuk ke Laut Mediterania (Latin) sebagai “camphora”. Sebutan “kapur Barus” menjadi nama generik untuk kamper berasal dari Barus. Bagaimana dengan “haminjon”? Nama itu juga diduga masuk ke bahasa Latin sebagai “benjuin”.
Perdagangan produk kamper dan kemenyan masih terus berlangsung, bahkan setelah William Dampier mengunjungi Asia Tenggara dan Filipina antara tahun 1686 hingga 1687 yang ditulisnya dalam buku A New Voyage Round the World (1697). Produk dagangan yang tiba di Belanda dari Hindia Timur sebelum William Dampier mengunjungi Filipina, antara lain: lada (peper); nagelen (naghelen), indigo; kamper (champur), foulie (getah fuli), teh (thee); kemenyan (benjuin). Tidak dapat disimpulkan apakah teh dari Hindi Timur.
Oprechte Haerlemsche courant, 19-10-1684: ‘Generale Carga ofte Ladinge, van 5 Oost-Indische Retour-schepen, met Namen: de Ridderschap van Hollandt, de Vrye Zee en het Wapen van Alckmaer voor de Kamer van Amsterdam: 't Eyland Mauritius voor de Kameren van Delft en Rotterdam: Oostenburgh voor de Kameren van Hoorn en Enchuysen; alle behouden in de Havenen deser Landen gearriveert in de Maent October deses Jaers 1684, bestaende in sodanige Sorteeringen, als te weten: 1490574 catty bruyne Peper. 25200 catty witte Peper. 300090 Ponden Nagelen. 4500 p. Moer-Nagelen. 364500 p. Nooten. 62524 p. Foulie. 134240 p. Caneel (kulit manis). 32080 pieces geconfijte Noten. 1142188 pont Salpeter. 32515 p. swart Mauritius Ebben- Hout. 215894 p. Sappan-Hout. 32894 p. Caliatours-Hout. 57451 p. diverse Indigo. 74813 p. Bengaelsche Zyde. 19422 p. Florette Garen. 13031 p. Cattoene Garen. 7085 p. Camphur. 3277 p. Thée. 15850 p. Benjuin. 5323 Pieces Armosijnen. 50 ps. Japanse Zyde Rocken. 66820 ps. divers Guinees Lywaet. 20800 ps. diverse Salampouris. 20000 ps. Parcallen. 10400 ps. diverse Bethilles. 3760 ps. diverse Baftas. 5000 ps. Mouris. 148 ps. Dasjes. 960 ps. Cust-Cambayen. 1200 ps. rouwe Camises. 3097 ps. diverse Gingans. 2700 ps. diverse Chitsen. 5760 ps. Negros Kleeden. 2700 ps. Chiavonys d'Oirnael. 3963 ps. Cassa Bengale 2751 ps. Hammans. 4317 ps. Mallemolens. 5409 ps. Gerberys. 2640 ps. Garras. 1690 ps. Dourias. 468 ps. Sanen. 884 ps. Adathays. 936 ps. Sologesjes. 3 ps. Kamer-Behangsels. 1000 ps. Photassen. Amsterdam den 18 October. De Oost-Indische Compagnie deser Landen heeft geresolveert van haer Waren en Koopmanschappen, soo die laetst uyt Indien gekomen, als andersints overgehouden zijn, een Verkoping aen te stellen, namentlijck in de Kamer van Amsterdam op den 13 November aenstaende: In de Kamer van Zeelandt op den 23 dito: in de Kamer van Rotterdam den 29 dito: in de Kamer van Delft den 30 dito: in de Kamer van Hoorn den 4 December, en in de Kamer van Enchuysen den 6 dito. Het Retour-schip, genaemt de Ridderschap van Hollant, heeft in Tessel niet konnen binnen komen, doch 't selve is echter in Zeelandt behouden gearriveert. Men adviseert, als soude Adriaen Klinck in Zeelandt zijn gearriveert, komende van Suriname; oock segt men van een Scheepje van Tercera’.
Hingga sejauh ini tidak dikenal nama clove (cengkeh). Lalu bagaimana dengan sejarah cengkeh itu sendiri di Maluku? Yang jelas tidak ada disebut clove dari Maluku. Nama cengkeh di Belanda dengan bahasa Belanda adalah naghelen atau nagelen. Kosa kata neghelen/nagelen adalah paku. Bentuk bunga cengkeh (clove bark) di Inggris mirip “paku” (nagel) di Belanda. Kosa kata “paku” di Inggris adalah “nail”.
Cloves are the aromatic flower buds of a tree in the family Myrtaceae, Syzygium aromaticum. They are native to the Maluku Islands, or Moluccas, in Indonesia, and are commonly used as a spice, flavoring, or fragrance in consumer products, such as toothpaste, soaps, or cosmetics. Cloves are available throughout the year owing to different harvest seasons across various countries. Etymology: The word clove, first used in English in the 15th century, derives via Middle English clow of gilofer, Anglo-French clowes de gilofre and Old French clou de girofle, from the Latin word clavus "nail". The related English word gillyflower, originally meaning "clove", derives via said Old French girofle and Latin caryophyllon, from the Greek karyophyllon "clove", literally "nut leaf" (Wikipedia)
Catatan perdagangan produk Hindia Timur ke Eropa/Belanda sudah satu abad yakni lada (peper), nagelen (cengkeh), fuli (foulie), kamper (champur) dan kemenyan (benjuin). Dan jangan juga lupa kacang-kacangan (nooten/noten), yang diduga kuat adalah kacang tanah juga sudah berumur satu abad dalam perdagangan di Eropa/Belanda. Bagaimana dengan kopi? Yang jelas produk teh (thee) sudah muncul pada tahun 1684 (namun tidak dapat dipastikan apakah berasal dari Hindi Timur).
Surat kabar di Belanda terus berkembang. Pusat perkembangan surat kabar di Belanda masih berada di Amsterdam.dan kemudian berkembang antara lain di Leiden dan juga di Haarlem. Surat kabar Oprechte Haerlemsche courant terbit pertama dengan edisi 11-02-1659. Saat ini VOC di Hindia Timur yang berpusat di Batavia dapat dikatakan sudah sangat maju dan wilayah perdagangannya sudah sangat meluas. Setelah berhasil menekan semua perlawanan di Jawa (khususnya Mataram dan Banten), VOC kemudian menaklukkan Portugis di Malaka tahun 1641 dan Portugis di Kamboja pada tahun 1642. Pada tahun 1652 VOC membangun pos perdagangan di Afrika Selatan. Pada tahun 1659 VOC mengusir Spanyol dari semenanjung Sulawesi Utara (Manado), lalu kemudian berhasil mengusir Atjeh dari wilayah pantai barat Sumatra pada tahun 1665 yang kemudian VOC membangun benteng di Baros tahun 1668 dan kemudian di Singkil. Surat kabar Oprechte Haerlemsche courant termasuk yang secara intens memberitakan produk perdagangan dari Hindia Timur di Eropa/Belanda. Pada tahun 1684 utusan VOC dari Malaka dikirim ke pedalaman Sumatra (Pagaroejoeng). Pada tahun 1684 ini juga VOC berhasil di wilayah Banten. Praktis seluruh wilayah Hindia Timur (minus Timor bagian timur dan Sumatra bagian ujung utara Sumatra/Atjeh) sudah berada di bawah kekuasaan pedagangan VOC.
Produk alami asal Hindi Timur tidak hanya cengkeh dari Maluku. Juga ada lada dari Sumatra dan sebagian pulau Jawa serta indigo dari Jawa dan kacang-kacangan dari berbagai tempat. Produk kamper dan kemenyan hanya diekspor dari Tanah Batak (pantai barat Sumatra). Teh belum tentu berasal dari Jawa. Bagaimana dengan pala dari Maluku? Belum terinformasikan produk pala yang diperdagangan di Belanda. Mengapa? Lalu kulit manis (Caneel) dari mana?
Amsterdamse courant, 26-08-1688: ‘Kapal dari Hindia Timur Lands Walvaren, Zallandt, Courtgene (Zeelandt), Waelstroom, Goudeftyn; Bantam dan Hollande (Amsterdam), Sion (Delft), De Eenhoorn (Rotterdam), Silerfrein (Hoorn), Hobre (Enkhuysen). Konvoi Lands Walvaren, Zallandt, Waelstroom, Goudeftyn, Sion dan De Eenhoorn dari Batavia berangkat pada perayaan Desember 1687, lalu dengan yang lainnya dari Ceylon, Cust, Bengale dan semuanya secara bersama-sama meninggalkan Ceylon pada tanggal 2 Januari 1688 dan tiba di negara-negara ini pada bulan Agustus, Februari 1688, yaitu: peper, naghelen, nooten, fouly, dst. Lalu dalam daftar produk tersebut selain masih ada kamper dan kemenyan dan juga dicatat taffa de foula (pala?). Dalam hal ini nama fouly dan foula mirip. Yang jelas ada nama caneel (kulit manis).
Pala sudah terinformasikan. Lantas mengapa baru terinformasikan pala? Produk pala ini sudah terinformasikan setahun sebelumnya sebagai tafta de foulla (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 19-08-1687).
Oprechte Haerlemsche courant, 23-10-1692: ‘Surat-surat dari Zeeland menyatakan bahwa semua kapal Hindia Timur kita sekarang berada di pelabuhan, kecuali kapal Eenhoorn, yang untuk Kamar Zeeland, terlepas dari jangkarnya akibat angin timur yang kencang terakhir, telah hanyut melewati perairan Flemish dan telah sampai dengan selamat di Inggris; dengan ini, Inggris telah menerima rincian tentang tenggelamnya Laksamana kita dan selamatnya kapal mereka, Orange, di Tanjung Bon Esperance; antara lain, bahwa empat kapal layar dengan barang-barang dari kapal Inggris Chesbury yang karam telah diselamatkan di St. Mauritius; dan dikatakan bahwa dua puluh enam bal dari kapal Orange juga telah diselamatkan. Armada Timur mencapai laut dari Vlie Sabtu lalu; namun, salah satu konvoi, yang dikomandoi oleh Douwe Harcksz., yang juga mengawal beberapa kapal ke Norwegia, hilang saat berlayar. Surat-surat dari Portsmuiden tiba kemarin dari beberapa kapten Armada St. Hubesse, termasuk satu dari Kapten Floris Groot, yang menulis bahwa ia dan rombongannya berlayar dari Portsmuiden pada tanggal 17 bulan ini; mereka telah maju hingga Bevesier; tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan, kami kembali mengelilingi Swaneklif dan tiba di tempat berlabuh; kami berlabuh dengan riang; memotong banyak jangkar mereka, dan kembali ke Portsmuiden sekali lagi. Kemudian dengan angin baik pertama, mereka akan berangkat ke sini lagi. Sebuah surat dari Paris menyatakan bahwa Prancis telah menangkap dua kapal Inggris, yang dinaiki oleh Kapten Canonero; tetapi kapal-kapal tersebut tidak disebutkan secara spesifik. Muatan umum atau pemuatan 6 kapal kembali dari Hindia Timur; dengan nama-nama, Eenhoorn untuk Kamar Zeeland, Schoondijck untuk Kamar Delft, Voetboog dan Moer-Capel untuk Kamar Rotterdam, Waelstroom untuk Kamar Hoorn dan Ridderschap van Hollant untuk Kamar Enckhuysen; semuanya berangkat dari Batavia pada tanggal 30 Januari tahun ini, dari Moer-Capel tersebut, yang menyusul pada tanggal 24 Maret, semuanya tiba dengan selamat di negara-negara ini. 2995836 pont peper cokelat. 50717 p. peper putih. 1626900 p. salpeter (sendawa). 254679 p. kayu sapan (sapanhout). 81774 p. foulie (fuli), 1342 p. moer-nagelen. 12 toples geconfijte nagelen. 67 p. sarang burung (vogelnesjes). 59 p. darah naga (drakenbloet, resin merah). 32307 p. benjuin cabessa (kamper). 2348 p. kapulaga Jawa (Javacardamon), 32496 ps. geconfijte gengber (jahe). 24290 ps. geconfijte noten (kacang). 9287 ps. teh. 2445 ps. Den Haag, 22 Oktober’.
Sudah semakin intens teh. Produk gula tidak pernah diberitakan lagi dari Hindia Timur. Bagaimana dengan kopi? Produk yang baru muncul adalah kapulaga dan sarang burung serta resin merah dan sapanhout (gaharu?). Produk indigo jarang terinformasikan.
Pada tahun 1703 Abraham van Riebeeck melakukan ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong. Pada tahun ini juga Pemerintah membeikan izin bagi Abraham van Riebeeck membuka lahan (land) di Bodjongmanggis (kelak disebut land Bodjong Gede). Sepulang dari Malabar sebagai Gubernur, Abraham van Riebeeck diangkat menjadi Gubernur Jenderal (1709-1713). Pada tahun 1711 Abraham van Riebeeck mulai mengintroduksi kopi di Kedaoeng (Tangerang). Sejak inilah tanaman kopi meluas hingga ke hulu sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane (ter masuk di land Depok dan landnya sendiri di Bodjongmanggis). Abraham van Riebeeck juga mulai bekerja sama dengan pemimpin lokal (bupati Kampong Baroe, bupati Tjiandjoer dan bupati Bandoeng) dengan kontrak-kontrak penanaman kopi.
Sejumlah produk baru muncul dari Hindia Timur di perdagangan Belanda (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 21-07-1701). Produk yang disebut antara lain bruyne Peper, witte Peper, nuten, foulie, nagelen, dengber, thin (timah), indigo, jamboeser (jambu mete?), sapanhout, poeyersuyker, benjuin, campher, berg cinabrum (kulit manis?), drakebloet dan teh (sekali lagi teh belum diketahui dari mana). Juga dicatat ada nama Bandanoes atau Tafta Foula (pala?).
Amsterdamse courant, 09-08-1703: ‘Kargo Umum, atau Kargo sebelas kapal Hindia Timur, dengan nama Spiegel, Liefde, Land Welaren, Huyste Loe, Vosmeer, Osterflyn, Denburg, Reygersdael, Grimneslyn, Nieuwburg dan Gent. Dalam surat tertanggal November 1702, dari Batavia ditransfer: 3428744 Lada Cokelat, Lada Putih, Foulie, Caneel (Kayu Manis), Gengber (jahe), Indigo, Sapanhout, Poeyer Suyker, Kunyit (kurkuma), Cauwa of Coffy, Benjuin, Kamper Baros (Campher Baros), drakenbloed, dan lainnya’.
Dalam berita Amsterdamse courant tahun 1703 dicatat
ada kopi. Kopi dari mana? Yang jelas tidak dicatat nagelen (cengkeh) dan foula
(pala). Mengapa? Yang jelas nama kamper disebut nama Baros (kamper Baros). Produk
kemenyan (bunjuin) masih ada. Seperti jahe, juga ada kunyit.
Batavia adalah pusat perdagangan VOC di Hindia Timur dan Ceylon di India. Volume perdagangan VOC selalu lebih besar dari Batavia dari waktu ke waktu. Pos-pos perdagangan VOC di berbagai tempat seperti Jepang, Formosa dan Kambodja dipusatkan ke Batavia sebelum dibawa dengan kapal-kapal kargo ke Belanda. Pada saat ini pos perdagangan Inggris yang berpusat di Calcutta untuk meliputi seluruh Kawasan dan pos perdagangan Inggris di Hong Kong. Tentu saja di Macao masih ada pos perdagangan Portugis. Di wilayah Filipina terdapat pos perdagangan utama Spanyol.
Seperti disebut di atas, jenis produk perdagangan yang dibawa dari Hindia Timur (Batavia/VOC) dari waktu ke waktu semakin beragam. Khusus dari wilayah Indonesia yang sekarang, produk andalan lada masih unggulan, tetapi juga muncul produk-produk baru seperti kunyit dan kulit manis (dari Sumatra). Produk kamper (Baros) dan kemenyan (bunjuin) sebagai produk yang berasal dari zaman kuno tampaknya masih terus bertahan.
Sejarah adalah Narasi Fakta dan Data: Cek en Ricek Sumber Data Sejaman
Hubungan perdagangan (produk dagang) dari Indonesia (baca: Hindia Timur) sudah berlangsung satu abad (sejak kehadiran ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman pada tahun 1696). Pada tahun 1711 Gubernur Jenderal VOC Abraham van Riebeeck mulai mengintroduksi tanaman kopi. Catatan sejarah perdagangan (produk dagang) dari Hindia Timur ke Eropa/Belanda tidak cukup berdasarkan dokumen dan buku-buku yang diterbitkan. Dalam hal ini surat kabar memberitakan bagaikan “real time”.
Surat kabar di Belanda baru dimulai setelah VOC dididrikan. VOC yang didirikan tahun 1602 adalah suatu perusahaan dagang yang besar yang bermarkas di Amsterdam. VOC dalam hal ini menjadi agen perdagangan terpenting dalam sejarah hubungan antara Hindia Timur dan Eropa/Belanda. Dalam konteks inilah sejatinya surat kabar menjadi sumber sejarah yang sangat penting. Seperti disebut di atas, surat kabar pertama di Belanda terbit pada tahun 1618. Surat kabar yang hanya terdiri hanya satu halaman folio saja (dua kolom) font 12 Gothic. Satu abad kemudian (1718), surat kabar lama sudah lama berhenti. Suksesinya adalah surat kabar: Oprechte Haerlemsche courant yang diterbitkan di Haarlem sejak 11-02-1659 dan Amsterdamse courant yang diterbitkan di Amsterdam sejak 1670. Dua surat kabar ini terdiri dua halaman folio, dua kolom dengan font 10 Roman). Juga ada surat kabar berbahasa Prancis La gazette d'Amsterdam yang diterbitkan pertama tahun 1665 di Amsterdam (terbit terakhir tahun 1698). Surat kabar baru Opregte Leydse courant diterbitkan sejak 1690 di Leiden (dua halaman folio, dua kolom dengan font 10 Roman). Seperti kita lihat nanti, surat kabar ini terbit terakhir tahun 1718. Sebagai suksesinya adalah surat kabar baru: Leydse courant di Leyden (sejak 1720). Surat kabar 's Gravenhaegse courant di 's-Gravenhage terbit pertama tahun 1708.
Oprechte Haerlemsche courant, Amsterdamse courant dan Opregte Leydse
courant tetap memberitkan arus perdagangan produk dari Hindia Timur ke
Eropa/Belanda. Surat kabar Belanda juga memberitakan perdagangan produk dagang
di Inggris yang berasal dari India seperti kain dan dari Hindia Timur seperti
nila (indigo) dan lada (lihat Amsterdamse courant, 14-10-1710). Produk yang
berasal dari zaman kuno (kamper dan kemenyan) juga masih tetap eksis. Lantas
mengapa tidak ada produk perdagangan benjuin dan kamper yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan
Belanda pada tahun 1740?
Produk asal Hindia Belanda yang diperdagangkan yang diambil dari gudang-gudang (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 12-03-1740). Kepada Istana Duta Besar Turki yang akan datang ke sini, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Istana kami, untuk kebutuhan hidupnya, harus dikirimkan setiap hari: 48 (48 kg) Levantfe Cofty, 21 (40 kg) gula Canary, 41 (40 kg) gula roti halus, 12 (20 kg) minyak, 78 (40 kg) madu murni, 100 (400 kg) jeruk nipis, 100 (400 kg) apel jeruk Portugis, 9 (400 kg) almond terbaik, 11 (400 kg) bawang bombai besar terbaik, pati, 7 (400 kg) Juyn, 10 tangkai pala, 10 tangkai akar mustard, 10 tangkai rempah-rempah, 40 tangkai kayu manis halus, 8 tangkai lada, 40 (400 kg) jahe putih (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 24-05-1740). Kapal Theis tanggal 18 dari Orient berlabuh, dari Bengale, terdiri kargo antara lain peper, roodhout, sapanhout, salpeter, caffes dan produk-produk khas dari India (lihat Amsterdamse courant, 02-07-1740). Tanggal 8 Juli tiba kapal Gunttrftyn en Noodwolfirgen van Batavia, Weflhoven van Batavia, Ristenwerk dari Batavia, Merluf van Batavia, Leyduyn van Batavia, antara lain kargo Bruyne Peper, Witte Peper, Noten, Nagelen, Foelie, Pouyer Suyker, Geconfyte Gengber, Salpeter, Borax, Cardemom Java, Coffy Java, Kurkema Java, Sapanhout, Thee, Tin Malax, Bandanoes of Tafta de Foula (lihat Amsterdamse courant, 09-07-1740).
Pada tahun 1740 terjadi kerusuhan di Batavia yang puncaknya pada bulan
Oktober. Kerusuhan yang dikenal pembantaian Cina (Chinezenmoord) di Batavia baru
terinformasikan kemudian. Tampaknya arus perdagangan dari Batavia tidak terlalu
terganggung dengan arus perdaganvgan. Produk kamper dan kemenyan asal Hindia
Timur baru terinformasikan kembali pada tahun 1741. Berita pertama tentang peristiwa
orang-orang Cina di Batavia dilaporkan surat kabar Oprechte Haerlemsche
courant, edisi 15-07-1741 dan edisi 18-07-1741. Dua edisi inilah satu-satunya
surat kabar yang memberitakan.
Leydse courant, 17-07-1741 memberitakan 3.600 pon benjuin dan 20.153 pon kamper dari Hindi Timur. Dalam laporan perdagangan produk ini juga termasuk lada coklat, lada putih, kulit manis (kaneel), tepung gula, jahe, kacang tanah, kapulaga Jawa. Yang juga menarik diperhatikan terdapat kopi Jawa, indigo (nila) Jawa dan kunyit Jawa.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com











Tidak ada komentar:
Posting Komentar