Kamis, 19 Maret 2026

Sejarah Sepak Bola (43): Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia; Klub Hartono Bersaudara dari Serie-D ke Serie-A


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sepak Bola Indonesia di blog ini Klik Disini

Artikel ini sudah lama artikel dibuat, tetapi tidak kunjung diupload. Namun kabar duka hari ini tanggal 19 Maret 2026 pemilik klub Como bahwa Bapak Michael Bambang Hartono dikabarkan meninggal dunia di Singapura. Klub Como 1907 tengah berduka. Namun demikain nama Michael Bambang Hartono akan selalu dikenal oleh supporter Coma 1907. Semoga klub fenomenal ini terus Berjaya di bawah dukungan sang adik Robert Budi Hartono. Sejarah Sepak Bola di Indonesia


Como 1907 adalah klub sepak bola Italia yang saat ini berkompetisi di Serie A, kasta tertinggi liga Italia. Klub ini menjadi sangat populer di Indonesia karena dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia, yaitu Keluarga Hartono (Grup Djarum) melalui anak perusahaan mereka, SENT Entertainment. Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono sejak 2019 mengakuisisi klub yang berada di kota peguinungan di pinggir danau Como. Dukungan finansial mereka, Como dinobatkan sebagai klub sepak bola dengan pemilik terkaya di Italia menurut Forbes. Kabar Duka Terbaru: Pada 19 Maret 2026, klub secara resmi menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya salah satu pemiliknya, Michael Bambang Hartono. Saat ini klub dilatih oleh legenda sepak bola Cesc Fabregas dari Spanyol. Markar klub berada di Stadion Giuseppe Sinigaglia yang terletak di pinggir Danau Como. Klub ini dibeli saat berada di Serie D (divisi empat) setelah mengalami kebangkrutan, lalu berhasil promosi beruntun hingga mencapai Serie A pada musim 2024/2025. Identitas klub dikenal dengan julukan I Lariani dan identik dengan warna biru kerajaan (royal blue) (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Nah, itu dia: jarang ditulis. Pada masa ini hanya terinformasikan telah dimiliki oleh Hartono Bersaudara, klub yang awalnya berada di Serie-D tetapi kini dalam waktu singkat sudah di Serie-A dan moga-moga segera berpartisipasi dalam Liga Champion Eropa. Lalu bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Pers di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia; Klub Hartono Bersaudara dari Serie-D, Kini Serie-A

Kota Como dapat dikatakan adalah kota yang sudah sangat tua. Ketika kota Como di wilayah Lombardia di bawah Kerajaan Spanyol menjadi bagian yang diperintah oleh gubernur Spanyol dari Milan. Saat ini pelaut-pelaut Spanyol dan pelaut Portugis sudah mencapai seluruh muka bumi. Wilayah Italia yang sekarang sendiri pada masa itu berada di bawah kerajaan Spanyol (sejak 1559). Lalu kemudian bagian utara Italia terbentuk dua wilayah Republik: di pantai barat Republik Genoa dan di pantai timur Republik Venesia. 


Sebelum pelaut-pelaut Portugis dan pelaut-pelaut Spanyol membuka ruang yang lebih luas samudra dan daratan yang lebih jauh di timur (Asia) dan barat (Amerika), seorang penjelajah Venesia, Nicolo de' Conti, abad ke-15, sudah mencapai Indonesia dan tinggal di pulau Sumatra selama setahun yang hasil perjalanannya dilaporkan kepada Paus Eugenius IV. Dalam hal ini Nicolo de' Conti adalah orang Eropa pertama yang mempopulerkan nama Sumatra sebagai “Schumatera” sekitar tahun 1430. Sementara itu pada era ini, ekspedisi Cheng Ho dari pantai timur Tiongkok (Canton) mengunjungi sejumlah kota pelabuhan di Jawa dan Sumatra. Nicolo de' Conti juga adalah yang pertama menceritakan tentang keberadaan orang Batech (Batak) yang tinggal di Sumatera. Jauh sebelum Nicolo de' Conti, penjelajah Venesia pertama yang singgah di Sumatra adalah Marco Polo pada tahun 1292 saat perjalanan pulang dari Tiongkok. Marco Polo cukup lama di Ferlec (Perlak, Atjeh)) dan mengetahui penduduknya sudah ada yang beragama Islam. Pantai timur Sumatra sendiri pasa saat itu berpusat di sekitar wilayah Padang Lawas yang sekarang (Tapanuli Selatan) dimana kini masih ditemukan sisa peradaban lama (Hindu/Budha) di Padang Lawas berupa puluh candi-candi. Ludovico di Varthema asal Bologna, memulai pelayarannya dari pelabuhan Venesia pada tahun 1502 dan berhasil mencapai wilayah Pedir di Sumatera (Atjeh) sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa dan Maluku. Varthema dikenal sebagai orang Eropa non-Muslim pertama yang berhasil masuk ke Mekkah. Foto: Peta wilayah Republik Venezia 

Hubungan antara Italia dan Indonesia pada masa ini, sudah terindikasi sejak zaman kuno ketika para penjelajah Venesia sudah mengunjungi Sumatra. Seperti kita lihat nanti, bagaimana hubungan itu muncul pada masa ini, dapat diperhatikan dengan kehadiran investor Indonesia (Hartono Bersaudara) di kota Coma melalui ‘upgrading’ klub sepak bola “Como 1907”. 


Foto lukisan kuno yang ditemukan di Como: Lukisan reproduksi yang menggambarkan Pemujaan Anak Ilahi oleh Tiga Raja. Di atasnya tercetak Pemujaan Para Gembala. Kedua karya tersebut adalah karya pelukis Italia, Luini. "Pemujaan Tiga Raja" terletak di katedral Como; lukisan lainnya berada di gereja Saronne (juga di Italia). Bernardino Luini lahir pada tahun 1475 di Luino di Danau Maggiore. Ia bekerja di Milan dan Italia utara dan terutama melukis fresko. Ia meninggal di Milan pada tahun 1533 (lihat Dagblad van Noord-Brabant, 24-12-1930). 

Setelah era para penjelajah Venesia mengunjungi pulau Sumatra, lalu dalam perkembangannya diketahui pelaut-pelaut Portugis mencapai Sumatra tahun 1509. Pelaut-pelaut Portugis berhasil menaklukkan Malaka yang kemudian dilanjutkan pelayarannya ke Maluku pada tahun 1511. Sementara pelaut-pelaut Spanyol menyusul kemudian mencapai Maluku pada tahun 1519. Pelaut-pelaut Portugis berlayar dari Eropa ke Timur melalui Afrika Selatan, hingga ke India, lalu mencapai Malaka dan Maluku. Sementara pelaut-pelaut Spanyol berlayar menuju barat melalui Amerika Selatan dan kemudian melintasi Lautan Pasifik hingga mencapai pulau Zebu di Filipina dan Maluku pada tahun 1519.


Kehadiran pelaut-pelaut Portugis di Hindia Timur dapat dikatakan era baru orang Eropa di Indonesia. Dalam hal ini orang Portugis di Indonesia tidak hanya memenuhi misinya dalam perdagangan (rempah-rempah), juga memperkenalkan teknologi baru dari Eropa seperti senjata mesiu (senapan) dan juga introduksi ajaran (agama) Katolik (Roma). Hasil-hasil pemetaaan wilayah oleh para pelaut-pelaut Portugis di Indonesia telah memberi kontribusi penting bagi para kartografi Eropa khususnya di di Portugal untuk memperbarui peta-peta lama dari para penjelajah Venesia. Foto: Peta Portugis yang dibawa ekspedisi Belanda pertama (1595)

Berdasarkan pengetahuan (buku dan peta orang-orang Portugis dan Spanyol), ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dimulai pada tahun 1595 dengan berlayar melalui Afrika Selatan dan pada akhir tahun 1596 mencapai pantai barat pulau Sumatra di pulau Enggano. Sejak itu ekspedisi Belanda ke Maluku semakin intens. Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda di bawah pimpinan Admiral van Hagen berhasil menaklukkan benteng Portugis di Amboina. Pada tahun 1612 kembali pelaut-pelaut Belanda menaklukkan Portugis di pulau Solor dan Koepang (Timor). Sementara Spanyol tidak tergoyahkan di Filipina, lalu pada tahun 1619 pos perdagangan utama Belanda (VOC) direlokasi dari Amboina ke Batavia (kini Jakarta). 


Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 20-09-1620: ‘Venesia, 4 September. Situasi Gryson (seperti yang tertulis dari Italia) belum membaik, karena Gubernur Milan memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada para pemberontak di Voltolina (Valtellina), dan telah menyiapkan 1.500 orang untuk dikirim ke sana; namun, mereka tidak mengenakan lambang Raja Spanyol, melainkan lambang Paus, yaitu Kunci Santo Petrus. Sementara itu, segala macam persiapan militer sedang dilakukan di Como dan wilayah yang sama, untuk terlebih dahulu menangani Gryson dengan serius’. Catatan: Gryson atau Grisons adalah Grigioni dalam bahasa Italia atau Graubünden dalam bahasa Jerman. Graubünden kini salah satu negara bagian (kanton) di (negara) Swiss dengan ibukota di Chur (kota tertua di Swiss (dekat Davos). Voltolina (Valtellina)adalah nama lembah yang menjadi bagian dari provinsi Sondrio, di region Lombardia, Italia.

Singkatnya wilayah Como akhirnya berakhir di bawah kekuasaan Spanyol tahun 1737 seiring dengan beralihnya kekuasaan di Milan dan Napoli ke bawah kekuasaan Austria. Kebangkitan orang Italia dimulai tahun 1848. Pasukan Austria dapat dikalahkan Italia pada tahun 1859 dan tahun 1866 yang menyebabkan wilayah Lombardia dan (Republik) Venesia diserahkan ke Italia yang kemudian terjadinya penyatuan dan terbentuknya Kerajaan Italia pada 1861. Pahlawan perang Italia pada masa itu adalah Giuseppe Garibaldi (nama yang kini menjadi nama kapal induk Italia yang telah dihibahkan kepada Indonesia). 


Wilayah Lombardia pada masa ini adalah sebuah wilayah administratif di Italia Utara yang terletak di antara pegunungan Alpen dan Lembah Po. Ibu kota berada di Milano (Milan). Dalam perkembangannya wilayah adminstrasi Lombardia (Lombardy) berkembang yang kini terdiri dari 12 provinsi: Milan, Bergamo, Brescia, Como, Cremona, Lecco, Lodi, [Akhir] Matua, Monza dan Brianza, Pavia, Sondrio, dan Varese. Di wilayah Lombardia ini terdapat tiga danau besar: Danau Como, Danau Gard(i)a, dan Danau Maggiore. Foto: Peta Italia Utara dari Genoa ke Venezia (1600)

Dalam hal ini di masa lampau wilayah Como adalah bagian dari Milan. Sementara Valtellina adalah lembah strategis di Alpen yang menjadi perebutan kekuasaan antara Milan, Swiss (Grisons), dan Austria. Wilayah Valtellina menjadi bagian wilayah Italia sejak 1859. 


Nederlandsche staatscourant, 26-03-1874: ‘Italia. Dalam *Observatore Cattolico* dimuat surat yang disampaikan oleh para petinggi gereja Lombardia kepada Raja Italia sehubungan dengan rancangan undang-undang tentang perkawinan sipil wajib. Surat tersebut ditandatangani oleh Uskup Agung Milan dan para uskup Brescia, Bergamo, Mantua, Pavia, Cremona, Como, dan Lodi’. Apeldoornsche courant, 29-08-1874: ‘"Dia akan meninggalkan Belgia— tulis reporter ini — pergi ke Inggris atau Italia, dan lebih disukai ke tepi danau Como, di mana udaranya akan bermanfaat bagi kesehatannya’. Opregte Haarlemsche Courant, 05-02-1879: ‘Tahun lalu, di distrik Como saja, 37.000 kilogram tembakau dipesan’. Utrecht Provincial and Municipal Daily, 16-02-1879: ‘Suatu ketika, sebelum ketenarannya mapan, ia pernah tinggal di sebuah hotel di Danau Como dan menghabiskan waktu bersama para tamu lainnya’. De standard, 31-01-1899: ‘Di perbatasan Italia-Swiss dekat Como, delapan petugas bea cukai Italia terkubur di bawah salju beberapa hari ini. Tiga di antaranya ditemukan tewas di bawah tumpukan salju. Lima lainnya mengalami luka yang cukup serius’. Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 25-05-1899: ‘Raja Umberto membuka pameran listrik internasional di Como pada hari Sabtu, yang diadakan untuk memperingati seratus tahun penemuan besar (Alessandro) Volta’. Catatan: Alessandro Volta (lahir 18 Februari 1745 di Como) adalah fisikawan dan kimiawan Italia sebagai penemu baterai listrik pertama  sekitar tahun 1799–1800. Foto: Villa Carlotta, sebuah vila dan taman botani di Tremezzo di Danau Como (1897)

Seperti dilihat nanti, ada sejumlah tokoh penting di Italia asal kota Como, seperti Conte Alessandro Giuseppe Antonio Anastasio Volta dan Giuseppe Sinigaglia. Alessandro Volta lahir 18 Februari 1745 seorang fisikawan dan kimiawan asal Italia yang dikenal karena penemuan baterai listrik pada tahun 1800. Namanya diabadikan sebagai satuan tegangan listrik (volt). Giuseppe Sinigaglia adalah seorang angkatan laut Italia yang menjadi pedayung professional handal dari Italia. Nama Giuseppe Sinigaglia kelak dijadikan sebagai nama stadion di Como (markas klub Como 1907 pada masa ini). 


De Telegraaf, 23-02-1927: ‘Makam Volta. Atas inisiatif pemerintah Italia, peringatan meninggalnya Alexander Volta (gambar sisipan), salah satu pelopor teori listrik, tepat seabad yang lalu, diperingati. Makam Volta di Como’. Catatan: Alessandro Volta meninggal dunia 5 Maret 1827 di Como. Tentu saja, seperti dilihat nanti ada juga tokoh Italia dalam bidang sepak bola kelahiran Como: Marco Simone (lahir 1969), mantan pemain sepak bola profesional asal Italia yang lahir di Como dan pernah bermain untuk AC Milan, PSG, serta AS Monaco. Luigi Sala (lahir 1974) pesepak bola asal Italia yang lahir di Mariano Comense, dekat Como, dan pernah memperkuat Como 1907 serta AC Milan. Dan, bukan tidak mungkin suatu waktu nanti boleh jadi anak Mirwan Suwarso (lahir di Jakarta 18 Februari 1971) yang kini menjadi Presiden Como 1907 lahir di Como. 

Lantas bagaimana dengan sepak bola di Como? Belum terinformasikan. Yang jelas sepak bola sudah terinformasikan sudah lama di Inggris dan Belanda. Bahkan sudah beberapa decade ada hubungan sepak bola di Inggris dan di Belanda. Hal itulah mengapa kemudian terinformasikan adanya pertandingan sepak bola pertama (di Indonesia) di Medan pada tahun 1893.
 

Sepak bola di Indonesia: Pertandingan sepak bola pertama di Indonesia terinformasikan pada tahun 1893 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 02-01-1894). Disebutkan pada bulan Desember 1893 di Medan diadakan suatu pertandingan sepak bola antara kesebelasan Medan dengan kesebelasan yang datang dari Penang. Catatan:  Pertandingan sepak bola ini dapat dikatakan pertandingan sepak bola pertama di Hindia Belanda yang terinformasikan, Pertandingan ini juga dapat dikatakan pertandingan internasional, karena kesebelasan Penang berasal dari wilayh yueisdiksi Inggris di Penang yang menjadi bagian wilayah Strait Settlement. Pertandingan antara tim Penang dan tim Medan ini dilangsungkan di lapangan Esplanade (alun-alun) kota Medan. Klub sepak bola pertama muncul di Batavia pada tahun 1896. Lalu kemudian menyusu klub sepak bola di kota Semarang dan di kota Soerabaja. Pada tahun 1900 klub Medan Sportclub didirikan di kota Medan. Pada tahun 1901 di Batavia terbentuk perserikan sepak bola (bond) pertama, dimana bond tersebut menyelenggarakan kompetisi di wilayah bond Batavia. 

Lalu kapan sepak bola bermula di Italia? Tidak terinformasikan. Namun harus diingat bahwa sepak bola sudah lama dipertandingkan di Inggris dan juga di Belanda. Orang-orang Inggris (dan juga orang-orang Belanda) yang secara pro aktif memperkenalkan/mempopulerkan permainan sepak bola di berbagai wilayah (terutama di wilayah-wilayah koloninya). Pada saat pertandingan sepak bola diadakan dan juga sebagai pasangannya (komplemen) juga dipertandingkan permainan kriket. Hal itu juga yang dilakukan di Medan pada tahun 1893 saat kedatangan tim dari Penang (Inggris). Di hari yang sama, pertandingan kriket pada pagi hari dan pertandingan sepak bola pada sore hari.


Seperti disebut di atas, wilayah Italia pernah dikuasai (dijajah) oleh Spanyol dan berakhir tahun 1737, seiring dengan beralihnya kekuasaan di Milan dan Napoli ke bawah kekuasaan Austria. Kebangkitan orang Italia baru dimulai tahun 1848. Pasukan Austria dapat dikalahkan Italia pada tahun 1859 dan menyebabkan wilayah Lombardia dan (Republik) Venesia diserahkan ke Italia yang kemudian terjadinya penyatuan dan terbentuknya Kerajaan Italia pada 1861. Sebagaimana diketahui, di bagian utara Italia terdapat tiga wilayah: Republik Genoa dan Republik Venezia dan Kerajaan Lombardia. Wilayah Lombardia (dengan dua kota utama Turin dan Milan) ini diapit oleh Republik Genoa di pantai barat (Laut Mediterania)  dan Republik Venezia di pantai timur (Laut Adriatik). Kota Genoa dan kota Venezia adalah kota perlabuhan perdagangan kuno yang sudah eksis sejak zaman ‘doeloe’. Raja Italia pertama setelah penyatuan ini dengan ibukota di Turin adalah Vittorio Emanuele II yang dinobatkan 17 Maret 1861. Sebelumnya Vittorio Emanuele II adalah Raja Sardinia-Piedmont. Ibu kota Kerajaan Italia di Turin kemudian direlokasi ke Roma pada tahun 1871. Sebagai penggantinya kini adalah dari garis nama Umberto di Lombardia. Raja Italia saat ini Umberto (I) yang dinobatkan tahun 1878, lahir di Turin pada tanggal 14 Maret 1844. Seperti dilihat nanti, Raja Umberto I tewas dibunuh (ditembak) oleh seorang anarkis di Monza pada tanggal 29 Juli 1900. 

Dalam perkembangannya moda transportasi kereta api semakin meluas di Italia. Setelah ruas antara Naples dengan Portici (1839), kemudian menyusul ruas Milan dan Monza (1840). Lalu kemudian jalur yang sangat ambisius dibangun antara Genoa ke Turin melalui pegunungan (dibuatnya sejumlah terowongan) yang dimulai 1845 dan diresmikan tahun 1853. 


Sementara di Indonesia, ruas jalur kereta api pertama adalah antara Semarang-Tanggoeng diresmikan pada tahun 1864 dan kemudian menyusul diresmikan ruas antara Batavia dan Meester Cornelis (kini Jatinegara) pada tahun 1869. Lalu kemudian ruas antara Tanggoeng ke Solo dan Jogjakarta diresmikan pada tahun 1871 dan selanjutnya ruas Meester Cornelis dengan Buitenzorg (kini Bogor) diresmikan pada awal Januari 1873. 

Keberadaan jalur kereta api, tidak hanya penting dalam perpindahan barang dan orang tetapi juga dalam konteks lainnya. Kereta api dapat mengangkut barang dalam volume besar pada konteks perdagangan; kereta api dapat membawa penumpang secara massal dalam konteks mobilitas penduduk. Sebagaimana dilihat nanti lalu lintas kereta api menjadi factor penting dalam pertumbuhan sepak bola awal dan dan perkembangan sepak bola lebih lanjut yang memungkinkan terkoneksinya komunitas sepak bola antara satu kota/wilayah dengan kota/wilayah lainnya yang berjauhan. 


Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-11-1893: ‘Seorang pencuri ulung telah ditangkap di Genoa. Ia adalah putra seorang anggota parlemen Italia. Ia bepergian dengan rapi, mengenakan pakaian kelas bawah, menggunakan kereta api dari Genoa ke Turin dan mencuri koper kecil serta tas perjalanan dari ruang tunggu dan kompartemen, yang ia curigai berisi uang. Dengan cara ini, ia memperoleh cukup uang untuk hidup mewah, dengan beberapa pacar mahal, menggunakan nama palsu. Namun, perampok yang elegan itu baru-baru ini ditangkap di penjara negara bagian’. Foto: Stasion kereta api di Medan (1889)

Jaringan kereta api listrik sudah ada sejumlah wilayah terutama di kota-kota utama dan sekitarnya. Seperti disebut di atas, jaringan kereta api listrik (komuter) di wilayah (danau) Como dimulai pada tahun 1898. Seperti dilihat nanti, jaringan kereta api di danau Como diintegrasikan dengan jaringan kereta api di Milan.


Het vaderland, 10-08-1900: Roma, 8 Agustus. Ratu Margliorita disambut di sini saat kembali dari Monza dengan ungkapan rasa hormat dan kasih sayang yang tak terbantahkan dari kerumunan besar. ROMA, 9 Agustus. —Seluruh jalan untuk prosesi pemakaman telah dikordon oleh pasukan. Iring-iringan pemakaman yang membawa jenazah Raja Umberto tiba di sini pukul 6 pagi, didampingi oleh Adipati Aosta, Pangeran Turin, Pangeran Victor Napoleon, dan Adipati Oporto. Jenazah diterima di stasiun oleh Raja, para Pangeran Italia dan asing, korps diplomatik, dan berbagai pejabat tinggi. ROMA, 9 Agustus. Pasukan ditempatkan di sepanjang jalan yang dilalui prosesi. Pukul tujuh pagi, prosesi dimulai. Skuadron kavaleri memimpin jalan, diikuti oleh detasemen dan perwakilan dari korps lain, anggota Rumah Tangga sipil dan militer, para Menteri, Presiden Senat dan Majelis, dll. Raja Victor Emmanuel berjalan kaki di belakang kereta jenazah, diikuti oleh para Pangeran dari Keluarga Kerajaan dan kemudian para duta khusus. Kerumunan besar menyaksikan prosesi itu lewat dalam keheningan. ROMA, 9 Agustus. Upacara pemakaman dimulai pukul setengah tujuh dan berakhir pukul sebelas. Upacara itu sangat mengesankan. Kerumunan besar hadir. Raja mengikuti kereta jenazah di depan para Pangeran Italia dan para utusan asing. Kedua Ratu dan Putri menghadiri upacara keagamaan di Pantheon (Roma). Ketertiban terjaga dengan baik. Gangguan kecil tidak menimbulkan konsekuensi’. Foto: Stadion kereta api di Como (1906-1908)

Terkoneksinya semua jaringan kereta api listrik di wilayah Lombardia yang juga menghubungkan jaringan kereta api listrik di Milan dengan Como baru dioperasikan pada tahun 1902. Sekalipun demikian, hingga tahun 1902 belum terinformasikan sepak bola di Italia, khususnya di wilayah Lombardia (wilayah diantara Genoa di pantai barat dan Venezia di pantai timur). 


Algemeen Handelsblad, 16-04-1901: ‘Di lintasan (stadion) Umberto di Turin, kompetisi internasional pertama dimenangkan oleh Ellegaard di posisi 1, Dei di posisi 3, dan Terrari di posisi 3; dengan waktu 4 m 7 1/5 detik. Kompetisi internasional kedua dimenangkan oleh Momo dengan waktu 3 m 49 4/5, diikuti oleh Gasgåne di posisi 2, dan Jenkens di posisi 3. Tommaselli tidak meraih posisi’. Foto: Stadion Umberto di Turin (1901)

Bagaimana situasi dan kondisi awal sepak bola di Italia? Tetap tidak terinformasikan. Mengapa? Boleh jadi sepak bola di Italia belum sepopuler di Inggris dan di Belanda. Olah raga yang sudah terinformasikan sejak lama adalah senam. Namun untuk olahraga yang dilakukan di luar (outdoor) masih sebatas cricket dan sepeda. 


Dalam narasi sejarah sepak bola Italia yang sekarang disebutkan pada tanggal 8 Mei 1898 di Velodromo Umberto I, Turin diadakan suatu turnamen (sehari) sepak bola  yang diikuti oleh empat tim: tiga dari Turin dan satu dari Genoa. Di Genoa sendiri sudah terinformasikan keberadan asosiasi/perkumpulan (club) cricket dan athletic. Seperti halnya di Medan dan Batavia pada tahun 1896 sudah ada klub senam dan atletik yang kemudian pada tahun-tahun berikutnya ditambahkan cabang olah raga cricket dan voetbal (sepak bola). Lalu dalam turnamen sepak bola di Turin tersebut yang menjadi pemenang adalah tim XI (kesebelasan) dari Genoa: Genoa mengalahkan Ginnastica Torino pada pagi hari dengan skor 2–1. Di babak final yang digelar sore harinya, Genoa bertemu dengan Internazionale Torino (yang sebelumnya mengalahkan FC Torinese) dengan skor 2-1. Seperti halnya pertandingan sepak bola di Medan pada tahun 1893, tim XI dari Genoa didominasi oleh warga negara Inggris, termasuk dokter James Spensley yang bertindak sebagai penjaga gawang sekaligus kapten. Dalam hal ini, sebagaimana dinarasikan pada masa ini, turnamen sepak bola di Turin pada tahun 1898 dianggap sebagai gelar sepak bola kejuaraan nasional pertama (musim pertama 1897/1898) yang telah diakui oleh Federasi Sepak Bola Italia. Turnamen serupa kembali diadakan di Turin pada tahun 1899 (yang dijadikan sebagai musim 1898/1899). Lalu pada musim 1899/1900 kembali untuk ketiga kalinya dimenangkan oleh asosiasi cricket dan voetbal Genoa. Dalam musim 1899/1900 ini format turnamen dimulai dari wilayah geografis (regional) yang kemudian juara-juaranya dipertemukan yang berasal dari wilayah Piedmont yakni klub-klub dari Turin. FBC Torinese keluar sebagai pemenang wilayah ini setelah mengalahkan Juventus dan Ginnastica Torino; wilayah Lombardia dimana Milan Foot-Ball and Cricket Club (kini AC Milan), yang baru berdiri pada Desember 1899 dapat dikalahkan oleh FBC Torinese dengan skor 3–0. Wilayah Liguria: Genoa sebagai juara bertahan, akan ditantang oleh juara dari wilayah lainnya (FBC Torinese). Hasilnya: Di Velodromo Umberto I, Turin, tim XI Genoa menang dengan skor 3-1. 

Satu hal yang sudah terinformasikan adalah sudah adanya lintasan (untuk ateletik) Umberto di Turin (lihat Algemeen Handelsblad, 16-04-1901). Lintasan Umberto ini diduga kuat di bagian tengahnya adalah lapangan rumput untuk jenis kegiatan atletik lainnya dan juga untuk sepak bola. Oleh karena itu di Turin dapat dianggap sudah ada lapangan sepak bola (stadion), namun tidak terinformasikan sejak kapan mulai digunakan. 


Dalam konteks inilah diduga kuat bahwa, seperti yang dinarasikan pada tanggal 8 Mei 1898 di Velodromo Umberto I, Turin diadakan suatu turnamen (sehari) sepak bola  yang diikuti oleh empat tim: tiga dari Turin dan satu dari Genoa. Namun perlu disadari apa yang dinarasikan tentang sepak bola pada masa ini di berbagai tempat termasuk di Italia tidak selalu akurat. Sementara sejarah adalah narasi fakta dan data. Kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi dan ada bukti tertulisnya (data). Contohnya perhatikan tabel/daftar juara dan runner-up pada musim 1901/1902 di dalam daftar dicatat yang menjadi juara adalah Genoa dan sebagai runner-up adalah AC Milan. Apakah itu benar? 


Pada tahun 1902 terinformasikan pertandingan sepak bola di Italia (lihat Algemeen Handelsblad, 17-04-1902). Disebutkan olahraga dan pertandingan (sepak bola). Pertandingan penentu Liga Sepak Bola Italia (Italiaansche bonds competitie), yang dimainkan pada hari Minggu tanggal 11 di Genoa di hadapan banyak penonton, setelah pertarungan sengit dimenangkan oleh FC Genoa, yang mengalahkan FC Turin dengan skor 2-0.


Berdasarkan infomasi (data) semasa ini juara Liga Sepak Bola Italia (Italiaansche bonds competitive) pada (musim) 1901/1902 adalah Genoa dengan runner-up FC Turin. Namun jika dibandingkan dengan table pada masa ini (lihat table di atas),  memang benar yang menjadi juara adalah Genoa tetapi yang menjadi runner-up adalah Turin (bukan Milan).

Dalam hal ini, hingga sejauh tahun 1902 sudah terinformasikan adanya tim sepak bola di Genoa dan di Turin. Seperti disebutkan di atas, antara kota Genoa di pantai barat (di Laut Mediterania) dengan kota Turin di pedalaman sudah terhubung dengan jaringan kereta api Italia. Demikian juga jaringan kereta api dari kota Turin ke kota Milan juga sudah terbentuk. 


Pada tahun 1906 di Milan sudah ada beberapa tim sepak bola di Milan yakni Milan Club, Ansonia, Unione Sportiva (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906). Dalam hal ini di kota Milan sudah ada kompetisi loka. Juga pada tahun 1906 ini diinformasikan ada pertandingan antara tim sepak bola Juventus Turin dangan tim sepak bola CAFBC Genoa dan pertandingan antara Milan Club II dengan CAFBC Genoa (lihat Algemeen Handelsblad, 23-03-1906). 

Harus diakui bahwa pada masa ini hanya sedikit informasi yang tersedia yang dapat diakses tentang sepak bola di Italia. Meski demikian, hingga tahun 1906 sudah terinformasikan keberadaan tim sepak bola di Genoa, di Turin dan di Milan. Lalu bagaimana dengan sepak bola di Como? 


De avondpost, 19-09-1906: ‘Pemogokan, dll., terjadi di sektor tenun. Di Intia, Pallanza, Laveno, dan tempat-tempat lain di Danau Maggiore, lebih dari 8.000 penenun telah melakukan pemogokan. Karena para pengusaha tidak mau bertindak, para pekerja di pabrik-pabrik lain telah memutuskan untuk melakukan pemogokan umum. Kerusuhan di kalangan penduduk begitu besar sehingga pasukan telah dikirim dari Milan dan Como. Di Verviers, para penenun telah memutuskan untuk menutup sementara pabrik mereka. 20.000 pekerja akan dipekerjakan’. Het nieuwsblad voor Nederland, 01-12-1906: ‘Italia. Suatu bentuk pemogokan terselubung diperkenalkan pada waktu itu, jika kita tidak salah, pertama kali oleh para pejabat kereta api Italia, dan kemudian ditiru di Austria dan Hongaria. Itu disebut penghalangan. Para pekerja memang bekerja; mereka melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka, tetapi begitu lambat dan lesu sehingga layanan terganggu. Para pejabat bea cukai Italia sekarang mengikuti contoh ini; mereka memang menjalankan tugas mereka, tetapi dengan cara yang menyebabkan pergerakan umum orang dan terutama barang terganggu, dan di sana-sini hampir terhenti. Tetapi sama seperti para pejabat kereta api pada waktu itu, para pejabat bea cukai tidak mendapatkan banyak kesenangan dari tindakan mereka. Di stasiun bea cukai terpenting, dilaporkan dari Roma, semuanya sekarang kembali normal. Di Savona, Turin, Como, Verona, Venesia, Ravenna, Bari, Napoli, Palermo, Catania, Caglioari—terlihat bahwa pergerakan akan sangat luas, seandainya pemerintah menempatkan tentara dan pejabat pengawas di bawah kendali otoritas bea cukai. Namun, mereka bahkan tidak perlu dikerahkan, karena para pejabat sendiri sudah sibuk kembali bekerja. Seluruh gerakan ini telah gagal’. Venloosch nieuwsblad, 19-03-1907: ‘Di Italia Utara, khususnya di wilayah danau, kebakaran hutan besar sedang berkobar. Di Danau Como di utara Varenna, di Danau Lugano dekat Arcisate, dan di Danau Maggiore di utara Luino, hutan terbakar sejauh bermil-mil, yang menghadirkan pemandangan yang luar biasa, terutama di malam hari. Pasukan telah dikirim dari Como, Lecco, dan tempat-tempat lain’. Nieuwe Tilburgsche Courant, 12-04-1907: ‘Pemogokan. Gerakan pemogokan di Italia menyebar dengan cepat. Di Terni, semua pekerja melakukan pemogokan; di provinsi Como, 5.000 pekerja pertanian melakukan pemogokan; di provinsi Breecia, pemogokan mencapai skala besar; di provinsi Ferrara, pemogokan pekerja pertanian dipertahankan dengan sengit oleh kedua belah pihak, sehubungan dengan itu empat ratus pemilik tanah memutuskan untuk menjual ternak mereka dan menyerah pada panen tahun ini’. De courant, 02-05-1907: ‘Di distrik Brianza (provinsi Como), 6.000 pekerja tekstil telah melakukan mogok kerja’. Arnhemsche courant, 31-05-1907: ‘Gerakan mogok kerja di Italia semakin meluas: 10.000 pekerja lapangan di provinsi Piazenca telah menghentikan pekerjaan mereka, 1.500 pekerja tekstil di provinsi Como telah dipecat, dan di provinsi Bologna, 4.000 pekerja yang mogok menerobos komando pasukan dan mengusir 300 pekerja dari ladang’.

Dalam narasi sepak bola masa ini, disebut klub Como didirikan pada 25 Mei 1907. Dalam konteks sepak bola Italia itu berarti pada musim 1907/1908 (setelah berakhirnya musim 1906/1907). Juara musim 1906/1907 adalah klub Milan dengan runner-up Torino. 


Sementara itu di Medan pada tahun 1907 terinformasikan kompetisi sepak bola dalam dua divisi di bawah satu dewan perserikatan (bond) bernama Voetbalbond voor Sumatra’s Ooskust pada tanggal 16-07-1907 (lihat De Sumatra post, 17-07-1907). 

Dengan berdirinya klub sepak bola di kota Como, maka kota Como akan memiliki tiga cabang sepak bola yang popular. Pada masa ini di wilayah Como dua cabang olahraga yang popular adalah sepeda dan dayung. Perlu dicatat disini, pendayung-pendayung Como sangat terkenal dan bahkan di dalam turnamen internasional (lihat Algemeen Handelsblad, 07-06-1907). Disebutkan kompetisi dayung di Paris. Klub dayung "Lario" dari Como akan berkompetisi dalam kompetisi internasional di Paris dalam nomor dayung dua, empat, dan delapan dayung senior (nomor empat dayung berada di urutan kedua setelah tim Ghent di Kejuaraan Eropa tahun 1906). 


Sepak bola di Indonesia sebenarnya tekesan jauh lebih maju dan lebih massif di masa permulaan ini pertumbuhannya. Bandingkan sepak bola di Medan dan sepak bola di Milan. Belum lagi dengan di Batavia (Jakarta), Semarang, Soerabaja dan Bandoeng. Namun dalam perkembanganya sepak bola di Italia lebih cepat. Seperti dilihat nanti pada tahun 1930 pertama kali diadakan Piala Dunia di Uruguay, yang mana Italia tidak berpartisipasi. Pada tahun 1934 yang menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah Italia yang mana Indonesia tidak berpartisipasi. Pada Piala Dunia 1938 di Prancis, timnas Italia dan timnas Indonesia sama-sama berpartisipasi.

 

Dengan memperhatikan kembali table pada masa kini, dalam daftar juara liga Italia sejak musim pertama 1897/1898 hingga musim 1904/1905 mengapa klub Genua begitu dominan di permulaan sepak bola Italia? Apakah ini mengindikasikan sepak bola Italia bermula di kota pelabuhan Genua? Satu yang jelas kota Genua adalah kota terbuka di pantai barat di Laut Mediterania). Yang sudah barang tentu banyak orang asing di Genua, relatif di bandingkan di kota-kota di pedalaman seperti Turin dan Milan. Seperti disebut di atas, pertandingan sepak bola di Inggris dan di Belanda sudah lama terinformasikan (bahkan tim Inggris kerap berkunjung ke Belanda).


Idem dito dengan di Indonesia. Pertandingan sepak bola terinformasikan di Medan, dimana tim XI dari Penang berkunjung ke Medan untuk melakukan pertandingan sepak bola pada bulan Desember 1893. Pada pagi hari dipertandingkan kriket dan pada sore hari dipertandingkan sepak bola. Bagaimana pertandingan di Medan terjadi? Yang jelas Inggris memiliki koloni di wilayah Semenanjung Malaya (The Straits Settlement) di pulau Penang dan pulau Singapoera. Sementara Belanda di Sumatra. Jarak dari kota Penang ke  kota Medan cukup dekat jika naik kapal sekitar 8 jam. Pertandingan ini sejauh ini merupakan informasi pertama tentang pertandingan sepak bola di Indonesia. Setelah di Medan, kemudian terinformasikan pertandingan sepak bola di Batavia tahun 1896 dan kemudian di Semarang pada tahun 1899, lalu di Soerabaja tahun 1900. Semua kota-kota ini adalah kota-kota pantai yang bersifat kosmopolitas dimana terdapat pelabuhan perdagangan dan banyak orang asing. Tabel: Liga sepak bola di Medan: 1907 (dua divisi); 1908 (tiga divisi).

Kota Genua di Italia dalam hal ini juga merupakan salah satu pelabuhan persinggahan kapal-kapal dari Eropa (barat) ke Hindia Timur (dan sebaliknya) seperti kapal-kapal Belanda baik yang datang dari Belanda dengan tujuan akhir Batavia di Indonesia maupun sebaliknya kapal-kapal dari Indonesia seperti dari Batavia dengan tujuan kota-kota di Belanda seperti Amsterdam dan Rotterdam.


Kapal-kapal Belanda yang bolak-balik antara Belanda dan Indonesia terdapat beberapa kota persinggahan (jika berangkat dari Batavia atau jika berangkat dari Amsterdam): Sabang di Atjeh, Colombo di Ceylon, Suez (Port Said) di Laut Merah, dan kota Genua di pantai barat Italia dan kota Marseille di pantai selatran Prancis (liahat antara lain Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-10-1906). Hal itu pula diduga yang menyebabkan banyak juga orang Italia di Indonesia pada masa itu. Salah satu orang Italia terkenal di Bandoeng adalah yang membuka teater opera dan music di salah satu jalan dekat jalan utama kota Bandoeng yang gedungnya disebut gedung Braga (kemudian nama Braga menjadi nama jalan di Bandoeng). 

Dalam narasi sejarah sepak bola Italia, pada musim 1909/1910 mulai diperkenalkan di sepak bola Italia format kompetisi penuh dimana liga teratas yang disebut Prima Categoria setiap klub melakukan pertandingan tandang dan kandang. Jumlah klub yang memenuhi kriteria ada 9 klub. Pada putaran (pekan) terakhir kompetisi (liga) terjadi poin yang sama untuk dua klub peringkat teratas (belum ada aturan selisih gol) yakni Internazionale dan Pro Vercelli. Dalam pertandingan play off yang kontroversi, yang menjadi juara adalah Internazionale.


Di Indonesia juga sepak bola berkembang pesat. Seperti di sebut di atas, dengan dibentuknya perserikatan (bond) di Batavia lalu pada tahun 1902 diadakan kompetisi bond Batavia. Lalu kompetisi (bond) di Soerabaja dan kota-kota lainnya termasuk di Medan yang sebelumnya satu liga (1903) menjadi liga tiga divisi pada tahun 1907..

Pada tahun 1912 terinformasikan table liga sepak bola di Italia (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 13-01-1912). Informasi ini dapat dikatakan merupakaan musim 1911/1912. Dalam table klasemen (sementara) musim 1911/1912 pada permulaan paruh musim kedua dimana pada peringkat pertama Milan Club dengan 19 poin dan di urutan kedia Pro Vercelli dengan 18 poin. Pada bulan April, pada akhir kompetisi yang menjadi juara adalah Pro Vercelli (lihat De nieuwe courant, 22-04-1912). Disebutkan Kejuaraan Italia dimenangkan untuk kedua kalinya oleh Pro Vercelli, dengan selisih 1 poin atas Milano Club. Tabel masa kini yang ditampilkan di atas, tampaknya seseuai dengan informasi pada tahun 1912.


Dengan fondasi sepak bola yang sudah berjalan teratur di Italia, federasi sepak bola Italia juga mengikutsertakan tim sepak bola 1912 yang diadakan pada sekitar bulan Juni di Stockholm, Swedia (lihat De courant, 01-07-1912). Disebutkan “kami melakukan perjalanan melalui Belanda dan melalui Berlin. dan akhirnya naik kereta langsung ke Stockholm. Kereta yang sangat panjang, terdiri dari tidak kurang dari 8 gerbong. Secara kebetulan, kami menemukan tim sepak bola Italia di antara para penumpang, yang telah melakukan perjalanan selama sekitar tiga hari dan sekarang akan menempuh perjalanan terakhir bersama kami. Mereka adalah anak-anak muda yang ceria dan rendah hati, karena mereka dengan mudah mengakui bahwa mereka tidak pergi ke Stockholm untuk menang, tetapi semata-mata untuk belajar, di antara hal-hal lainnya. Jelas bahwa ada semangat dalam diri para pemain sepak bola Italia dan dalam organisasi sepak bola Italia, karena meskipun mungkin merupakan perjalanan yang panjang, mahal, dan melelahkan, hal itu pasti akan memberikan banyak manfaat bagi para pemain sepak bola Italia. Selalu berputar-putar di lingkaran sepak bola kecil yang sama hanya menawarkan sedikit perspektif baru, dan sepak bola yang dimainkan di stadion tentu akan memberikan dorongan besar bagi sepak bola Italia”. Sementara itu, tim sepak bola Italia langsung kalah di round pertama tanggal 29 Juni (lihat De courant, 01-07-1912). Tim Italia dikalah oleh tim Finlandia dengan skor 2-3 setelah perpanjangan waktu ½  jam (lihat table).

Sejatinya, permulaan sepak bola di Italia dengan di Indonesia berada pada kurun waktu kurang lebih sama. Dalam narasi sejarah sepak bola Italia disebutkan sepak bola diperkenalkan ke Italia oleh para pelaut dan ekspatriat Inggris. Klub tertua di Italia adalah Genoa CFC yang didirikan pada tahun 1893. Sementara pada tahun ini di Medan diadakan pertandingan sepak bola antara tim sepak bola Penang (Inggris) dengan tim sepak bola Medan (Belanda). 


Juga dalam narasi sejarah sepak bola di Italia disebutkan Juventus didirikan pada 1 November 1897 oleh sekelompok pelajar di Turin. Lalu kemudian Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) didirikan pada tahun 1898, suatu federasi sepak bola yang akan mengatur kompetisi sepak bola. Dalam narasi sejarah sepak bola Italia yang sekarang juga disebutkan pada tanggal 8 Mei 1898 di Velodromo Umberto I, Turin diadakan suatu turnamen (sehari) sepak bola  yang diikuti oleh empat tim: tiga dari Turin dan satu dari Genoa. Di Genoa sendiri sudah terinformasikan keberadan asosiasi/perkumpulan (club). 

Seperti halnya di Italia, hingga tahun 1900 sudah cukup intens pertandingan sepak bola diadakan di Medan, Batavia (kini Jakarta), Semarang dan Soerabaja. Medan Sport Club, klub sepak bola di Medan yang sangat terkenal di awal didirikan pada tahun 1900. Pada tahun 1907 di Medan kompetisi sepak bola dibagi dua divisi dan pada tahun 1908 menjadi tiga divisi. Dua surat kabar yang terbit di Medan (Deli Courant dan De Sumatra Post) secara intens memberitakan perihal sepak bola di dalam kota maupun di tempat-tempat lain. 


De Sumatra post, 12-10-1911: ‘Permainan dan olahraga. Sepak bola dan internasionalitasnya. Penggemar sepak bola terkenal CAW Hirschman menulis tentang subjek ini di Zondag-Avond courant di Den Haag: Jika kita pertama kali mempertimbangkan sejauh mana internasionalitas ini meluas, maka kita dapat mulai dengan mengamati bahwa sepak bola tersebar di lima bagian dunia. Berawal dari tempat asalnya, kami melihat bahwa permainan ini dipraktikkan di semua negara Eropa: dari Yunani hingga Norwegia, dari Portugal hingga Rusia, kurang lebih sudah mapan dimana-mana. Beralih ke benua hitam, kami mencatat praktiknya di sepanjang pantai Utara: Mesir, Aljazair, Maroko, serta di Selatan: Uni Afrika Selatan dan Jerman Afrika Barat Daya. Di Asia, pemain sepak bola ditemukan di Asia Kecil, koloni Inggris dan di Hindia Belanda  (Indonesia), juga di sebagian besar kota pelabuhan Cina dan Jepang. Australia sebagai koloni Inggris, tentu saja juga terkontaminasi oleh sepak bola untuk dapat menggunakan kata yang banyak digunakan saat ini. Benua baru juga tidak lepas darinya, sepak bola dapat ditemukan di Argentina, Chili, Brazil Suriname, Amerika Serikat dan Kanada. Lebih jauh lagi, ini akan ditemukan di seluruh penjuru dunia, tetapi saya tidak akan menyebutkan semua karena ini hanya gambaran umum….kesimpulan bahwa sepak bola adalah permainan yang hebat, mungkin permainan terbesar yang pernah ada. Tidak diragukan lagi ada hobi atau hiburan lain yang telah meningkat selama beberapa waktu, tetapi karena asosiasi sepak bola modern telah ada di Inggris selama sekitar lima puluh tahun, di negara kita selama sekitar dua puluh tahun..popularitas itu tidak lagi dapat dikaitkan hanya dengan iseng atau gaya, tetapi tidak diragukan lagi harus memiliki dasar yang kuat untuk keberadaan dan mengandung sesuatu di dalamnya yang sebagian besar memuaskan keinginan atau keinginan massa…Untuk memulai dengan yang sederhana, kami menyebutkan kesederhanaan dan murahnya permainan. Intrik permainan yang begitu sederhana sehingga orang awam atau kurang terpelajar segera memahaminya..Sederhana juga karena murahnya peralatan dan perlengkapan para pemainnya, dan ini juga menabur benih untuk perkembangannya sebagai olahraga yang demokratis. Setelah membaca penyebaran sepak bola di sub-bulan ini, pembaca akan menyimpulkan di dalam dirinya sendiri bahwa itu cocok untuk berkembang di bawah kondisi iklim yang paling bervariasi…Di negara-negara seperti Rusia dan Kanada, itu harus mati sebagai olahraga pada musim dingin dan yang muncul berbagai permainan atau olahraga es dan salju, karena sepak bola tidak mudah dilakukan di salju atau di lapangan beku yang keras sehingga ia harus menunggu dan hanya sesuai olahraga musim panas di sana). tetapi tidak ada tempat di negara tropis yang penetrasi sepak bola yang terhalang, karena orang biasanya berlatih di sore yang lebih sejuk. Satu hal permainan ini dengan mudah mengikuti bola oleh penonton yang berada cukup jauh dari lapangan permainan juga merupakan poin yang menguntungkannya, karena dalam hal ini mengalahkan bermain kriket, hoki, lacrosse, bandy, tenis, dimana gerakan bola kecil itu sendiri hampir tidak dapat diikuti dari jarak yang lebih jauh, dan dimana bola kemudian harus ditentukan dari pergerakan para pemain. Selain itu, game ini memiliki beberapa ciri karakter yang memikat massa: maskulinitas dan kesatria, yang berbicara tentang olahraga sepak bola, fakta bahwa unsur kekuatan  hadir di dalamnya’. 

Di dalam narasi sejarah sepak bola Italia disebutkan seiring dengan perkembangan dan banyaknya klub yang memenuhi kriteria dilakukan format kompetisi dua wilayah (utara dan selatan) yang juaranya dipertemukan (kandang dan tandang). Format ini diterapkan pada musim 1913/1914. Juara: Casale (utara) dengan runner-up Lazio (selatan/Roma). Namun kemudian pada musim berikutnya kembali dengan Prima Categoria (disatukan). 


Sementara itu di Indonesia yang jarak antara kota-kota di Jawa dan di Sumatra (dan Sulawesi). Oleh karena sepak bola di kota-kota di Jawa terpisah jauh dengan di Sumatra maka semua bond yang ada di Jawa mengadakan kompetisi (turnamen) antarkota (bond) pertama pada tahun 1914 di Semarang. Demikian seterusnya setiap tahun dengan kota penyelenggara yang berbeda. Seperti dilihat nanti, pada tahun 1919 lanjutan kejuaraan antara kota diadakan di Bandoeng. Pada saat inilah kemudian dibentuk federasi sepak bola nasional dengan nama NIVB. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Klub Hartono Bersaudara dari Serie-D, Kini Serie-A: Kota Como dan Promosi Indonesia

Wilayah Como di Lombardia adalah provinsi terjauh Italia di sebelah utara (berbatasan dengan Swiss). Sebagaimana diketahui, Swiss awalnya juga masuk wilayah kekuasaan Austria. Sebagai wilayah paling terpencil di Italia di pegunungan Alpen, provinsi Como sejatinya baru baru mendapat perhatian pada tahun 1903. Ini sehubungan dengan adanya konsesi pembangunan kereta api listrik dari Milan hingga ke Como. 


Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 29-09-1903: ‘Kereta api listrik. Di Italia, uji coba penting dengan kereta api listrik akan segera dilakukan. Perusahaan Milan Utara telah diminta untuk menerapkan traksi listrik pada jalur-jalurnya, dengan panjang gabungan 293 Km, yang sebagian besar membentang ke danau-danau. Untuk tujuan ini, mereka bermaksud memanfaatkan Sungai Liro yang berarus deras, sebuah aliran sungai pegunungan yang berasal dari Splugen dan mengalir ke Danau Como. Sebuah pembangkit listrik akan dibangun di Chiavenua untuk tujuan ini, yang akan memasok tenaga listrik berkinerja tinggi. Rencananya, operasi ini akan dimulai pada tahun 1905, bersamaan dengan pembukaan Terowongan Simplon’. 

Kereta api listrik bukanlah kereta uap. Kereta api listrik biasanya berbobot ringan, sementara kereta api uap dengan bobot berat utamanya untuk kereta api jarak jauh atau kereta api barang. Kereta api listrik, sebagai kereta api berbobot ringan pada masa ini lebih dikenal sebagai kereta komuter (kereta ulang-alik). Namun kereta api listrik juga digunakan untuk barang dalam jarak pendek. Dalam hal ini, sebelum jaringan kereta api Milan Utara (ibarat kereta api jaringan JABODETABEK) diterapkan untuk total panjang jalur rel 293 Km, di wilayah seputar Danau Como sendiri sudah terbentuk jaringan kereta api komuter. 


Bataviaasch nieuwsblad, 10-10-1902: ‘Baru-baru ini, jalur kereta listrik di sepanjang pantai Danau Como, melewati Chiavenna, Colico, dan Soudrio, dibuka untuk umum. Pada hari pertama, empat kereta ekspres, dua puluh kereta reguler, dan empat kereta barang beroperasi. Panjang jalur tersebut adalah 100 Km. Tenaga listrik disuplai oleh pembangkit air terjun Adda. Arus listrik, awalnya 20.000 volt, dikurangi menjadi 3.000 volt di stasiun dan dialirkan melalui jalur listrik atas. Segera, tenaga listrik yang sama juga akan digunakan untuk jalur Lecco-Colico’. Catatan: Adda berada di salah satu cabang selatan danau Como yang menjadi pintu keluar debit permukaan danau Como melalui sungai Adda yang bermuara ke sungai Po (diantara kota Piacenta dan kota Cremona—kota dimana klub Cremonese berada, klub yang mengandalkan kipper Indonesia, Emir Audero). 

Wilayah (provinsi Como di region Lombardia, di Italia utara) berpusat di danau Como dengan kota utama di kota Como (di cabang selatan lainnya danau Como). Kota Como sendiri terletak pada elevasi sekitar 201 M di atas permukaan laut (Mdpl) di tepi danau glasial, yang dikelilingi pegunungan kapur dan granit dengan ketinggian yang bervariasi di wilayah sekitarnya. Sementara dasar danau Como terbilang dalam (lihat De Nederlander, 04-01-1904). Disebutkan danau Laggiore memiliki kedalaman yang sama, danau Como hampir dua ribu kaki (609 M?), dan danau memiliki kedalaman 1.900 kaki di beberapa tempat dan danau Constance memiliki kedalaman lebih dari seribu kaki.


Kota Como sendiri letaknya tidak terlalu tinggi, Hanya sekitar 201 Mdpl. Yang menjadi luar biasa adalah kedalaman danau Como sendiri yang mencapai 609 M. Ini artinya dasar danau Como terbilang dalam (bahkan berada di bawah permukaan laut). Sebagai pembanding, Kota Milan ini cenderung datar memiliki elevasi rata-rata sekitar 120 Mdpl, sementara Kota Turin, ketinggian rata-rata sekitar 239 Mdpl (berada di kaki Pegunungan Alpen, yang menjadi wilayah awal lembah Sungai Po (Po Valley). Sedangkan Kota Piacenza memiliki elevasi rata-rata sekitar 61 Mdpl. 

Danau Como bertetangga dengan danau Maggiore. Kedua danau ini mirip, danau glasial, yang dikelilingi pegunungan kapur dan granit dengan ketinggian yang bervariasi. Kedalaman kedua danau ini juga kurang lebih sama. Dua danau ini juga menjadi hulu atau sumber utama sungai Po. Seperti halnya sungai Adda yang menjadi pintu keluar danau Como, sungai Tocino adalah pintu keluar danau Maggiore yang keduanya bermuara ke sungai Po (yang bermuara ke arah timur di laut Adriatik di dekat Kota Venezia/Venice). Kota terbesar di danau Maggiore adalah kota Verbania (elevasi 197 Mdpl). 


Sungai Tocini mengalir ke selatan dan kemudian bertemu dengan sungai Po di sekitar kota Pavia, kota yang memiliki elevasi rata-rata sekitar 80 Mdpl. Perlu ditambahkan disini kota lainnya yakni Kota Mantua di bagian hilir sungai Po berada pada ketinggian rata-rata 19 Mdpl. Seperti disebut di atas, sungai Po adalah sungai terpanjang di Italia (seperti halnya sungai Batanghari di Sumatra). Di daerah aliran sungai (DAS) Po ini nama-nama kota utama mulai dari laut: (1) Venezia, 0 Mdpl (pulau di sekitar muara sungai Po; seperti halnya pulau Canton di depan muara sungai Canton di pantai timur Tiongkok; dan pulau Mangore di depan muara Bengawan/Solo). (2) Mantua, 19 Mdpl yang mana kota dibentuk/dikelilingi tiga danau buatan di bagian utara dan sungai Po di bagian selatan); (3)  Cremona, 45 Mdpl; (4) Piacenta, 61 Mdpl, (5) Pavia, 77 Mdpl, dan (6) Turin 239 Mdpl (bandingkan dengan kota Como 201 Mdpl). Catatan: Mengapa disebut sungai Po, hanya satu suku kata? Di masa lalu, seperti pada peta-peta tahun 1600 di Jawa dan Sumatra terdapat beberapa nama tempat yang dimulai dari kara Po atau Poh. 

Kota Pavia dan kota Mantua adalah dua kota di DAS Po yang memiliki lanskapnya tersendiri. Kota Pavia merupakan muara sungai Tocini di sungai Po. Sementara kota Mantua adalah kota yang diantara sungai Po di selatan dan sungai Mincio di utara. Sungai Mincio berhulu di danau Gardia dan bermuara di sungai Po. Di sungai Mincio inilah dulunya di abad ke-12 dibentuk danau-danau buatan (Lago Superiore, Lago di Mezzo, dan Lago Inferiore) sebaga bagian  sistem pertahanan koat (dari arah utara).

 

Kota Pavia termasuk kota kuno. Berdasarkan Peta 1523 area kota berada di sisi utara sungai Po dan di selatan sungai Tocini. Akan tetapi pada masa ini area kota Pavia berada di sebelah utara sungai Tocini. Sementara Kota  Mantua pada Peta 1600 posisinya tetap seperti apa yang diperhatikan sekarang. Dalam hal ini dapat ditambahkan kota yang memiliki kaitan dengan pentingnya perairan adalah Kota Venezia. Seperti disebut di atas, adalah pada dasarnya adalah kota pulau (yang tidak jauh dari muara sungai Po di Laut Adriatik). 

Kota Como di danau Como meski berada di ujung utara (negara) Italia, tetapi sebenarnya kota/danau Como tepat berada di jantung pegunungan Alpen, yang juga menjadi jantung daratan Eropa. Oleh karena itu wilayah danau Como, wilayah (negara) Swiss dan wilayah (negara) Austria sejatinya terisolir dari laut. Seorang insinyur Swiss mengusulkan untuk menghubungkan Swiss dengan Laut Utara yang dapat dilayari melalui pembangunan kanal dengan menghubungkan danau Constance (Jerman) dengan Rotterdam via sungai Rhine. Insinyur Swiss tersebut juga mengusulkan wilayah Como dengan Laut Mediterania (Adriatik) dengan kanal dari danau Como ke Laut Mediterania di Venice melalui Sungai Po.


Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 06-01-1906: ‘London, 5 Januari. Central News melaporkan dari Jenewa kemarin: Surat kabar Swiss sedang membahas sebuah rencana besar, yang diusulkan oleh seorang insinyur Swiss untuk menghubungkan Swiss dengan Laut Utara dan Laut Mediterania yang dapat dilayari melalui pembangunan dua kanal besar. Yang pertama akan menghubungkan danau Constance dengan Rotterdam melalui sungai Rhine, yang kedua danau Como dengan Laut Mediterania melalui sungai Po. Biayanya diperkirakan mencapai 324.000.000 franc, yang jumlahnya akan meningkat pesat dengan pembangunan listrik tenaga air yang akan diperoleh. Diperkirakan 6.000 tenaga kuda dapat diperoleh dari sistem kanal di utara Pegunungan Alpen dan 220.000 tenaga kuda dari bagian selatan’. Catatan: Sungai Po adalah sungai terpanjang di Italia, membentang sekitar 652-661 Km dari Pegunungan Alpen (Monviso) di barat ke Laut Adriatik (dekat Venesia) di timur. Sungai ini merupakan tulang punggung ekonomi Italia Utara, mengairi lahan pertanian luas (termasuk penghasil beras terbesar) dan menopang kawasan industry. Seperti disebut di atas, sungai Po di Lembah Po mengalir melintasi kota-kota penting seperti Turin, Piacenza, Cremona dan Ferrara. Lembah Po sendiri memberi kontribusi sekitar 40% dari total produksi makanan Italia dan mencakup zona industri utama. Pada masa ini Lembah Po sering mengalami kekeringan menyebabkan penyusutan air dan ancaman terhadap irigasi serta produksi pertanian. Sungai Po ibarat sungai "Ganga-nya Italia" dan memiliki peran sejarah serta ekologi yang krusial. Sepak bola di Milan (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906 dan Algemeen Handelsblad, 23-03-1906).

Dalam narasi sejarah masa kini, pada tahun 1907 di kota Como didirikan klub sepak bola, klub yang kini masih eksis, Como 1907 (klub yang dimiliki Hartono Bersaudara). Klub Como mengadopsi warna biru kerajaan dengan stadion yang kini disebut Stadion Giuseppe Sinigaglia. Lantas bagaimana perjalanan klub Como ini? Sebagai klub sepak bola pertama di Como, sejatinya di Kota Como sejak lama terkenal dengan klub-klub dayungnya, yang bahkan ikut berpartisipasi dalam turnamen dayung internasional (lihat Algemeen Handelsblad, 07-06-1907). Disebutkan kompetisi dayung di Paris. Klub dayung "Lario" dari Como akan berkompetisi dalam kompetisi internasional di Paris dalam nomor dayung berpasangan senior, beregu empat orang, dan beregu delapan orang (tim beregu empat orang meraih posisi kedua yang bagus di belakang tim Ghent pada Kejuaraan Eropa tahun 1906). 


Klub Como didirikan setelah AC Milan dan sebelum Inter Milan. Klub AC Milan dididirikan tahun 1899; klub Internasional Milan didirikan pada tahun 1908 (klub yang pernah dipimpin oleh Ketua PSSI, Erick Thohir). Pada era itu, di Bandoeng, sepak bola terinformasikan pertama pada tahun 1904 (lihat De Preanger-bode, 31-03-1904). Disebutkan Bataviasch Voetbalclub (BVC) Batavia akan melawat ke Bandoeng untuk melawan anak-anak Bandoengsche. De Preanger-bode, 30-12-1904 melaporkan sore ini di Bandung akan dilangsungkan pertandingan antara klub BVC Batavia dan klub UNI Tjimahi dan besok sore pukul empat sore di Tjimahi. Lalu, pada awal tahun 1905 sejumlah pertandingan sepak bola digelar di Bandung. Kemarin antara BVC Batavia vs UNI dari Tjimahi. Hari ini Minggu akan ada pertandingan antara klub UNI dari Tjimahi dengan klub Sidolig dari Bandung di lapangan Tjimahi (lihat De Preanger-bode, 16-01-1905). Suksesi klub Sidolig kelak adalah Persib Bandoeng masa ini (biru-putih). Sementara suksesi klub Vios di Batavia kelak adalah Persija Jakarta masa ini. Perlu ditambahkan disini, pertandingan sepak bola di Indonesia (baca: Hindia) terinformasi pertama tahun 1893 di Medan, antara tim XI dari Penang (Inggris) melawan tim XI di Medan (Belanda). Sebagaimana diketahui pada masa ini, klub tertua di Italia adalah klub Genoa CFC yang didirikan pada tahun 1893. Peta: Peta geomorfologis (dataran luas) kota Bandoeng tempo doeloe mirip dengan peta geomorfologis kota Milan (Bandoeng, 768 Mdpl; Milan, 120 Mdpl). Kedua kota ini sama-sama diapit pegunungan di utara maupun di selatan. Jika di pegunungan utara Milan terdapat kota Como (kota wisata), dalam hal ini di pegunungan utara Bandoeng terdapat kota Lembang (kota wisata).

Wilayah Como yang masuk bagian dari pegunungan Alpen, selain yang sudah ada moda transportasi darat (mobil) dan moda transportasi kereta api, tentulah sangatlah sulit untuk menambah moda transportasi udara. Lagi pula, kota Como sebagai kota utama di wilayah danau Como, bukanlah kota besar (yang menyebabkan pergerakan orang/barang yang intens. Danau Como dan kota Como hanya unggul dalam destinasi wisata dan juga sangat menantang bagi perjalanan petualangan,


Arnhemsche courant,    01-08-1910: ‘Penerbangan yang berani di pegunungan. Sebuah telegram dari Bellinzona melaporkan bahwa di Lembah Sassina, dekat Danau Como, sebuah pesawat terlihat terbang tinggi di udara, mengelilingi Pic des Trois Seigneurs dua kali dan mendarat di Conca di Bianbino Pel. Banyak orang mendaki Conca di Bianbino untuk lebih memahami penerbangan tersebut. Setelah pesawat mendarat, kedua pilot di dalamnya dikelilingi oleh kerumunan yang antusias. Mereka mengaku sebagai dua insinyur dari Flurns, yang sedang membuat pesawat biplan hasil penemuan mereka di lokasi terpencil dekat Danau Lecco. Puncak gunung yang mereka lewati berada di ketinggi 1.500 Mdpl di atas danau. Setelah beristirahat selama satu jam, kedua orang asing itu lepas landas lagi dan menghilang ke arah lembah’. De avondpost, 14-09-1910: ‘Berita olahraga. Dayung. Tim dayung Paris mengalahkan tim dayung Milan di Danau Como’. De avondpost, 29-09-1911: ‘Olahraga motor. Henri Meyes, mantan pemimpin redaksi "Kamploe," akan melakukan perjalanan indah dengan sepeda motornya pada tanggal 2 Oktober. Rutenya sebagai berikut: Arnhem, Cologne, Bingen, Mainz, Paris, Heidelberg, Strasbourg, Basel; Basel, Olten, Lucerne, Fleulen, Göschenen; Overtoom, St. Gothard; Airolo, Bellinzona, Pallanza, Domodossola, menyeberangi Simplon; Brig, Bellinzona, Lugano, Como, Milan, Milan, Pavia, Genoa, Nice, Mars; Lyon, Dijon, Paris, Reims, Liège, Ark. Dia berharap dapat menyelesaikan perjalanan ini dalam 10 atau 14 hari. "Tentu saja", tulisnya, "akan ada kesulitan di sepanjang jalan". “Mungkin beberapa kesulitan juga akan terbukti tidak dapat diatasi. Kita tahu tentang jalur pegunungan Alpen yang hebat dalam proyek ini, yang sejauh yang diketahui, belum pernah dilalui oleh sepeda motor? Namun, ada kemungkinan bahwa kendaraan bermotor dengan mesinnya yang halus akan dengan cemerlang mengatasi transmisi dua kecepatannya”. Catatan: Danau Como seperti disebut di atas, sudah lama dikenal sebagai tempat wisata, yang bahkan sudah juga diketahui oleh orang Belanda karena kerap dipromosikan perjalanan travel wisata, termasuk pake ke Como. Hal itulah diduga mengapa seorang novelis Belanda pernah menulis novelnya berlatar belakang Como (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 08-01-1907). Disebutkan novel Marie Colban terbit berjudul “Professorsliefde” (Cinta Profesor). Novel ini, yang ditulis dengan gaya yang memikat, sebagian berlatar di danau Como dan di Swedia yang ditambahkan foto-foto’. Klassemen Liga utama Prancis (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906). 

Bagaimana status klub Como tidak terinformasikan. Statusnya di Serie apa? Siapa saja pemain klub Como? Banyak pertanyaan lainnya yang belum terjawab termasuk dimana letak stadion mereka juga tidak terinformasikan. Yang jelas pada masa ini, klub Como (1907) bermain di stadion Giuseppe Sinigaglia (tepat berada di pinggir danau Como). 


Giuseppe Sinigaglia adalah nama olahragawan utama dari kota Como. Bukan pemain sepak bola, tetapi pemain dayung professional (lihat De Maasbode, 13-09-1912). Disebutkan pada Rabu malam, pengundian berlangsung untuk kejuaraan (dayung tunggal senior), dayung ganda, dan nomor junior (dayung tunggal junior). Sebuah pesan telah diterima dari Giuseppe Sinigallia dari Societa Canottieri, di Como, bahwa ia mengundurkan diri dari partisipasi. Rekan senegara kita Belanda, Nereid, Nijkerfc, akan datang bersama Dr von Gaza, pemenang tahun lalu’. Klassemen Liga utama Inggris (lihat De avondpost, 23-10-1907) 

Kota Como sudah sangat dikenal luas. Namun tidak terinformasikan tentang sepak bola. Yang kerap terinformasikan tentang kota Como adalah kejuaraan dayung, tempat destinasi wisata dan juga tentang pendaratan pesawat terbang ampibi. Kota Como juga adakalanya dijadikan tempat kejuaraan olahraga lainnya seperti kejuaraan tennis internasional. 


Haagsche courant, 09-10-1913: ‘Kompetisi penerbangan di sekitar danau-danau Italia dimenangkan oleh pilot Jerman, Hirth. Dua hari yang lalu, Hirth dikalahkan dalam pesawat amfibi oleh pilot Prancis, Morano, dengan selisih waktu 3 menit 45 detik. Kemarin, Hirth unggul 12 menit 40 detik dalam penerbangan jarak jauh 160 km dari Pallanza ke Como. Hirth menyelesaikan perjalanan pulang pergi total dalam 3 jam 31 menit. 27 detik. Dengan demikian, Hirth tetap menjadi pemenang dengan pesawat monoplane Albatros dan mesin Mercedes-nya’. Klassemen Liga utama Belanda Wilayah Barat (lihat De courant, 25-03-1907). Liga utama Belanda terbagi dua wilayah: Barat dan Timur. Masing-masing juara wilayah diadu (kandang dan tandang) untuk menentukan juara nasional.

Klub sepak bola Como tidak kunjung ‘datang’ dalam pemberitaan. Mengapa? Yang jelas tentang sepak bola, yang kerap terinformasikan dalam surat kabar berbahasa Belanda adalah liga sepak bola Inggris, liga sepak bola Belanda dan liga sepak bola Belgia. Dalam hal ini dapat ditambahkan, tentang liga sepak bola di Hindia Belanda (baca: Indonesia) juga cukup sering terinformasikan. Hingga sejauh ini pada tahun 1916 bagaimana perjalanan klub Como tidak terinformasikan. Yang terinformasikan, dan tidak terduga adalah ‘kepergian’ Giuseppe Sinigallia. 


De courant, 19-08-1916: ‘Dayung. Sinigaglia. London, 18 Agustus. (Telepon pribadi-dari koresponden terbang kami). Dilaporkan dari Roma ke "Times": Menurut laporan dari Como, Letnan Sinigaglia, pemenang "Diamond Sculls" tahun 1914, telah gugur di medan perang. Dalam perjalanannya dari London pada Juni 1914, Sinigaglia pertama kali ikut serta dalam lomba "Coupe des Nations", lomba sepanjang 4.000 meter yang diadakan di Sungai Seine di Juvisy dekat Paris. Pada kesempatan itu, orang Italia itu menang dalam waktu 14 menit 19 detik. Orang Inggris Kinnear finis 15 panjang di belakangnya. Sinigaglia kemudian memberikan gambaran lain tentang apa yang menanti lawannya di Sungai Thames. Adapun lomba "Diamond Sculls", Sinigaglia memenangkan babak penyisihan pada hari pertama dalam waktu 8 menit 52 detik di depan Pinks. Pelaut Italia itu memulai dengan dua kali mengenai pasak, tetapi tetap berhasil menang dengan selisih dua panjang penuh. Keesokan harinya, Sinigaglia menang dalam waktu 9 menit 30 detik di depan Ayer, yang finis 3 panjang di belakang. Setelah itu, Dibblfc yang harus mengakui keunggulan pelaut Italia tersebut. Pelaut Italia itu menghadapi Stuart (Cambridge) dari Inggris dalam perlombaan penentu. Stuart benar-benar keluar dari perlombaan setelah hanya 1 mil dan harus diangkat keluar dari perahunya. Pada tahun yang sama, yang sangat disayangkan bagi Inggris, Grand Chaupjejenge Clip (untuk kelas 1 di belakang) dimenangkan oleh Harvard (Amerika)’. Klassemen Liga utama Belgia (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906).

Lantas mengapa klub sepak bola Como di kota Como di danau Como, di provinsi Como, region(al) Lombardia di negara Italia tidak terinformnasikan? Bisa jadi, meski disebutkan klub Como didirikan tahun 1907, hingga betahun-tahun hanya (tetap) sebagai klub kecil di kota kecil di wilayah terpencil (paling utara Italia) masih yang sulit atau belum mampu bersaing dengan klub-klub lainnya yang berada di kota-kota besar seperti di Milan dan Turin. Dalam hal ini, klub Coma bisa jadi masih berada di level rendah (Serie paling rendah) dimana klub-klub seperti dari Milan (AC Milan dan Inter Milan) sudah sangat kompetitif di serie paling atas. 


Namun itu hanya baru sekadar asumsi saja, tentunya, karena ketiadaan data kurang terinformasikan klub Como. Sementara itu, yang dinarasikan pada masa ini di Italia, klub yang tertua adalah klub Genoa, disebutkan didirikan pada 7 September 1893, klub sepak bola yang masih eksis hingga ini hari. Juga dinarasikan bahwa pembentukan federasi: sepak bola Italia (Federazione Italiana Giuoco Calcio-FIGC) pada tahun 1898. Ini dapat dikatakan lima tahun setelah didirikannya klub Genoa atau satu tahun setelah dibentuknya klub sepak bola Juventus di kota Turin. Tentu saja banyak pula klub-klub pendiri federasi sepak bola Italia yang sudah tiada, dilikuidasi, vakum, atau tetap sebagai klub kecil yang menjadikannya tidak terinformasikan. Klassemen Liga utama Jerman Wilayah Berlin (lihat De avondpost, 21-11-1907). Liga utama Jerman terbagi tujuh wilayah termasuk Wilayah Berlin.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Seperti di Italia, sebelum federasi sepak bola nasional didirikan, liga/kompetisi sepak bola bersifat perserikatan (bond) di berbagai kota/residentie/region. Perserikatan pertama dibentuk di Soperabaja pada tahun 1902. Sementara di Batavia perserikatan sepak bola baru dibentuk tahun 1904, dimana salah satu klub yang berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola Batavia merupakan pemain sepak bola pribumi seluruhnya yakni klub STOVIA. Lalu kemudian menyusul perserikatan di Medan pada tahun 1906. 


Kota-kota atau residentie/region di Jawa sudah banyak yang memiliki bond. Lalu pada tahun 1919 federasi sepak bola pertama dibentuk dengan nama Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Ini bermula ketika diadakan kejuaraan antar kota pada tahun 1914 di Semarang. Pada kejuaran antara kota tahun 1918 muncul gagasan pembentukan ferederasi NIVB (namun secara defacto masih terbatas di Jawa). Klub-klub terkuat di Batavia adalah Vios, di Bandoeng adalah Sidolig dan di Soerabaja adalah Thor. Pertandingan klub Vios dari Batavia dan Sidolig dari Bandoeng selalu memiliki tensi tinggi (saling menjadi musuh bebuyutan). Pada awal tahun 1927 klub Vios bertandang ke Bandoeng untuk melawan klub Sidolig. Panitia membuat foster besar yang dipajang di sudut jalan kota. Dalam foster dilukiskan kostum Sidolig Bandoeng dengan kaos warna biru dan celana putih, sementara klub Vios dengan kaos warna oranye dan celana warna hitam. Gambaran ini masih tampak pada masa ini sebagai cira khas kostum klub Persib Bandung dan kostum klub Persija. Sebagaimana dilihat nanti, pada tahun 1930 dibentuk federasi sepak bola pribumi yang diberi nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Federasi alternatif ini dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Ini mengindikasikan bahwa di Indonesia (Hindia Belanda) terdapat dua federasi, seperti kita lihat nanti bahwa FIFA hanya mengakui satu federasi di setiap negara. Sebagaimana diketahui kejuaran dunia (FIFA) pertama diadakan pada tahun 1930 (di Uruguay). 

Sebagaimana di berbagai negara, keutaman suatu klub pada masanya dapat diperhatikan bagaiman suatu klub memberikan kontribusi dalam pembentukan tim nasional (timnas) pada masa tersebut. Pembentukan timnas di berbagai negara tersebut (terutama di Eropa) biasanya dilakukan pada saat menjelang pertandingan persahabatan antara satu dengan negara lainnya (atau sebaliknya). Timnas Italia seperti kita lihat nanti bertanding dengan sejumlah negara- antara lain: Swiss, Belanda, Prancis dan lainnya. 


Inilah starting eleven Timnas Italia yang pernah terinformasikan yang diduga kuat baru dimulai pada tahun 1912 (lihat De Courant, 15-03-1912). Tim Italia ini dibentuk untuk melawan tim nasional Prancis. Para pemian timnas Italia tersebut adalah sebagai berikut: Faroppa (Piemonte, kiper); Sala (Milan), Vecchi (Milan), belakang; Ara (Milano I), Leone (Pro Vercelli) dan Milano II, tengah; Berardo (Pro Vercelli), Cevenini (Milan), Rampini (Pro Vercelli), Mariani (Genoa), depan. Setelah itu tidak terinformasikan lagi pembentukan tim nasional Italia. 

Dalam pembentukan tim nasional Italia pertama tidak terinformasikan adanya pemain dari klub Como. Sebakliknya yang terinformasikan hanya tiga klub yang memberikan kontribusi yakni Piemonte, Milan, Milano I, Pro Vercelli, Milano II, dan Genoa. Dalam hal ini Turun adalah ibu kota wilayah Piedmont (wilayah berbatasan dengan Prancis/Swiss). Klub Piedmonte beradan di kota Turun dan Pro Vercelli berasal dari kota Vercelli di wilayah Piedmont. Lantas apakah tiga wilayah itu (Genoa, Piedmont dan Milan) di bagian utara (negara) Italia yang menjadi gambaran sepak bola di Italia? Yang jelas, sejak pembentukan tim nasional sepak bola Italia pada tahun 1912 tidak pernah terinformasikan lagi pembentukan timnas berikutnya. Mengapa?

 

Perang Balkan pecah antara Liga Balkan dan Kesultanan Utsmaniyah yang sedang retak. Perjanjian London setelah itu mengurangi luas Kesultanan Utsmaniyah dan menciptakan negara merdeka Albania, tetapi memperbesar teritori Bulgaria, Serbia, Montenegro, dan Yunani. Ketika Bulgaria menyerbu Serbia dan Yunani pada tanggal 16 Juni 1913, negara ini kehilangan sebagian besar Makedonia ke Serbia dan Yunani dan Dobruja Selatan ke Rumania dalam Perang Balkan berikutnya sehingga destabilisasi di wilayah ini semakin menjadi-jadi. Sementara itu, Italia awalnya merupakan anggota Triple Alliance bersama Jerman dan Austria-Hungaria, namun memilih untuk tetap netral saat perang pecah pada tahun 1914. Pada akhirnya, Italia bergabung dengan Blok Sekutu (Inggris, Prancis, dan Rusia) setelah menandatangani Perjanjian London pada tahun 1915, dengan janji akan mendapatkan wilayah-wilayah tertentu milik Austria-Hungaria. Italia resmi menyatakan perang terhadap Austria-Hungaria pada 23 Mei 1915. Pertempuran sebagian besar terjadi di sepanjang perbatasan utara dengan Austria-Hungaria, yang dikenal sebagai Front Italia. Medan tempurnya sangat sulit karena berada di pegunungan Alpen yang terjal dan bersalju. Singkatnya eskalasi perang ini terus meningkat yang kemudian dikenal sekarang sebagai Perang Dunia di Eropa. Namun disela-sela perang itu juga terinformasikan pertandingan antara Italia dan Swiss (lihat Haagsche courant, 08-02-1915). Disebutkan hari minggu lalu di stadion di Turin diadakan pertandingan internasional antara Italia dan Swiss. Italia menang dengan skor 3-1. Singkatnya lagi perang ini baru berakhir pada tahun 1918.

Pembentukan tim nasional sepak bola Italia baru terinformasikan kembali pada tahun 1920. Singkatnya berikut adalah nama-nama pemain sepak bola berdasarkan klub dalam pembentukan timnas Italia. Lalu kemudian pada tahun 1921 timnas Italia yang bertandang ke Belanda.


Nama-nama pemain timnas sepak bola melawan timnas Belanda berdasarkan klub: 1920: Italia vs Belanda: Giaccone (Juventus Turin), kiper; Bruna (Juventus), deVecchi (Genoa), belakang; Ara (Vercelli), Menegheti (Novara), Lovali (Milan), tengah; Balloncewri (Alessandri), Brezzi (Genoa), Sardi (Genoa), Rampini II (Vercelli), Jorlivos (Modeno), depan (lihat Algemeen Handelsblad, 18-05-1920). Pada tahun 1921 Italia vs Belanda di Amsterdam yang berakhir imbang 2-2 dengan starting line up kedua timnas ditampilkan dalam skema (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 09-05-1921).) Catatan: Liga sepak bola Italia pada musim 1921/1922 terjadi dualisme kompetisi (CCI vs FIGC). Juara CCI adalah ProVercelli dengan runner-up Genoo; Juara FIGC adalah Novese dan runner-up Sampierdarenese.

Kehadiran sepak bola Belanda di Italia sudah pernah sebelumnya. Namun yang datang ke Italia tahun 1911 bukan tim nasional tetapi tim suatu klub (lihat De courant, 31-03-1911). Disebutkan sepak bola. Tur Paskah. Klub Quick (Nijmegen) bermain di kedua hari Paskah di Milan melawan FC Internazionale Milano dan Milan Football and Cricket Club. Ini adalah pertama kalinya klub Belanda akan bermain di Italia. 


Pada tahun 1922 timnas Italia melawan timnas Swiss. Nama-nama pemain timnas sepak bola Italia melawan timnas Swiss 1922: Italia vs Swiss: Trivellini (Bresscia), kiper; deVecchi (Genoa), Calligaris (Casale) belakang; Romano (Reggiana), Baldi (Bologna), Barbieri (Genoa), tengah; Forivesi (Modena), Gevenini III (Internazionale), Moscardini (Luchese), Balloncewri (Alessandri), Pozzi (Bologna), depan (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 07-12-1922). 

Jumlah klub yang terinformasikan di Italia dari waktu ke waktu semakin banyak. Dalam kompetisi sepak bola Italia pada tahun 1923 terinformasikan terbagi ke dalam dua divisi (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 15-09-1923).. 


Disebutkan kejuaraan Italia tahun ini akan dimainkan dalam dua divisi yang masing-masing terdiri dari 12 klub. Di Divisi A, klub-klub berikut akan bermain: Geneva, Alessandria, Livorno, PA d'Arena, Juventus, Novara, Casalé, Modena, Internztionale, Virtus, Brescia, dan Novese, sedangkan di Divisi B, klub-klub berikut akan berkompetisi: Pro Vervelle, Padova, Legnano, SPAI, Torino, Bologne, Milan, Doria, Hellas, Pisa, Cremona, dan Spozia. 

Pada tahun 1924 Italia juga berpartsipasi dalam turnamen sepak bola di Olimpiade di Paris selama 15 hari diantara tanggal 5 dan 27 Juli 1924 dengan 22 negara (lihat De Sumatra post, 12-07-1924). Berdasarkan 24 pertandingan yang dimainkan dalam turnamen, daftar di mana tim-tim dibagi ke dalam kelas sesuai dengan kekuatan mereka. 1. Uruguay; 2. Swedia, Belanda, Spanyol, Cekoslowakia. 3. Swiss, Hongaria, Italia, Mesir, Belgia. 4. Irlandia, Estonia, Amerika, Slavia Selatan, Turki, Rumania, Luksemburg, Bulgaria. 5. Polandia, Latvia, Luksemburg. Timnas sepak bola Italia memenangkan pertandingan putaran pertama melawan Spanyol (1-0) dan Luxemburg (2-0). Timnas Italia terhambat di perempat final setelah dikalahkan Swiss dengan skor 1-2. Ini menandakan tim Swiss dapat dikatakan tim kuat. Swiss akhirnya menyerah di final melawan Uruguay (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-07-1924).

 

1925: Italia vs Hongaria (di lapangan FC Milan); De Pra (Genova), kiper; De Vecchi (Genova) dan Calligaris (Genova), belakang; Aliberti (Torino), Baldi dan Genovesi (keduanya Bologna), tengah; Levratto (Hellas), Magnozzi (Livorno), Della Vaile (Bologna), Cevenini III dan Conti (Internazionale), depan (lihat De Sumatra post, 18-02-1925). Disebutkan Italia mengalahkan Hongaria (2-1). Italia telah membalas kekalahan telak yang diderita di Budapest pada Mei 1924. Hongaria menang 7–1 pada kesempatan itu. 

Pertandingan persahabatan antara Italia yang terbilang sering adalah melawan tim nasional Swiss sudah sebanyak empat kali (lihat Deli courant. 26-05-1926). Disebutkan timnas Italia sudah melakukan pertandingan empat kali lawan timnas Swiss: di Bern 1920 (3-0 untuk Swiss), di Malaan 1921 (2-1 untuk Italia); di Geneve 1922 (1-1), di Parijs 1924 (2-1 untuk Zwitserland). Kini pertandingan yang kelima akan diadakan di Zurich dengan komposisi pemain sebagai berikut: De Pra (Genoa), kipper; Calligaris (Casale), Borgato (Bologna), belakangl Fayenz (padua), Bernardini (Roma), Janni (Torino), tengah; Tansini (Cremona), Magnozzi (Livorno), Schiavio (Bologna), Balonciere (Torino), Conti (Internazionale, Mlilaan), depan (lihat Deli courant. 26-05-1926). Informasi tersebut kurang akurat. Mengapa pertandingan antara Italia vs Swiss tahun 1915 tidak disebutkan?

 

1927 Italia vs Inggris (di Italia; Combi (Juventus). kiper, Rosetta (Juventus), Caligaris (Casale), belakang; Jani (Turin), Bernardini (Internazionale), Cevenini  (Internazionale), tengah; Conti (Internazionale), Balonciere (Turin), Libonati (Turin), Rossetti (Turin), Levratto (Genoa), depan (lihat Voorwaarts : sociaal-democratisch dagblad, 07-02-1927).

 

1928: Italia vs Swiss (di Geneve): Combi (Juventus), kipper; Rosetta dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Colombari (Torina), Janni (Torino), Pitto (Bolgna), tengah; Conti (Ambrosiana), Balonciere (Torino), Libonati (Torino), Rossetti (Torino), Levratto (Genoa), depan (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 19-10-1928).

 

1928: Italia vs Belanda (di San Siro Stadion di Milaan): Combi (Juventus), kipper; Rosetta dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Colombari (Torina), Janni (Torino), Pitto (Bologna), tengah; Conti (Ambrosiana), Balonciere (Torino), Libonatti (Torino), Vecchina (Padoa), Levratto (Geno), depan. Kapten: Balonciere (Torino), Libonatti (Torino), Vecchina (Padoa) dan Levratto (Genoa). Untuk cadangan: Compiani (Milano), Pietoboni (Ambrosiana) dan Rosseti (Torino) (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 29-11-1928). 

Di Italia, sudah barang tentu selain liga Italia sudah berjalan dengan baik dan juga pembentukan tim nasional melawan timnas negara lain, juga ada pertandingan antar klub yang mewakili klub-klub Italia. Sebagaimana diinformasikan sejak tahun 1929 ini, yang sebelumnya terbagi wilayah, akan disatukan liga teratas sebagai liga nasional. 


Arnhemsche courant, 26-06-1929: ‘Untuk Piala Eropa Tengah, di mana setiap negara peserta telah menunjuk dua klub untuk saling bertanding sesuai dengan sistem piala, namun, klub yang diundi untuk saling berhadapan masing-masing memainkan satu pertandingan tandang dan satu pertandingan kandang. Empat pertandingan untuk babak pertama dimainkan pada hari Minggu. Di Turin, Juventus mengalahkan Slavia (Praha) 1-0; di Wina, Rapid mengalahkan Genoa FC (Italia) 5-1; di Budapest, First Vienna FC mengalahkan Hungaria 4-1; dan di Praha, Ujpest (Budapest) mengalahkan Sparta 6-1. Catatan: Daftar juara Piala Eropa Tengah: 1927: AC Sparta Prague (Cekoslowakia); 1928: Ferencvárosi TC (Hongaria); 1929: Újpest FC (Hongaria). De avondpost, 27-02-1930: Tim Italia melawan Jerman. Secara resmi, tim Italia yang akan bermain melawan Jerman Minggu mendatang di Frankfurt a.d Main belum dibentuk, tetapi secara tidak resmi susunan timnya sebagai berikut: Kiper/penjaga gawang: Combi (Juventus Turin); Rosetta dan Calligaris (keduanya Juventus, Turin), bek/belakang: Pitto (Bologna), Ferraris (Roma) dan Barbieri (Genoa), tengah/gelandang: Constantino (Bari), Balonoieri (Turin), Meazzo (Milan) atau Schiavip (Bologna), Magnozn (Livorno) dan Orsi (Juventus), depan/penyerang’. Foto: Seuah kota di bawah air. Italia saat ini sedang dilanda bencana alam. Sementara letusan Gunung Etna merenggut banyak korban, wilayah Utara berjuang melawan banjir. Mari kita lihat kondisi kota Como, di mana orang-orang harus menavigasi jalanan dengan perahu kecil. (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 14-11-1928).

Sejak tahun 1929 ini, yang sebelumnya terbagi grup/wilayah, akan disatukan liga teratas sebagai liga nasional. Ada sejumlah alasan mengapa penyatuan liga sepak bola teratas Italia menjadi format nasional yang dikenal sebagai Serie A pada tahun 1929 yakni efisiensi kompetisi, karena sebelumnya kompetisi sepak bola di Italia dibagi menjadi kelompok-kelompok regional (Utara dan Selatan) dianggap terlalu "gemuk" dan tidak praktis karena pemenang liga ditentukan melalui babak final antar-wilayah. Format partai di final juga tidak konsisten. Sementara itu dalam bentuk liga baru yang disatukan ini dilakukan dengan cara sistem round-robin (setiap tim saling bertemu kandang dan tandang) sehingga lebih adil. 


Pada musim 1926/1927 liga Italia dibagi ke dalam dua grup (Divisione Nazionale) A dan B. Sebanyak empat klub teratas dari masing-masing grup disatukan dengan kompetisi penuh (kandang dan tandang). Pada musim 1926/1927 ini juara adalah Torino dengan runner-up Bologna. Namun kemudian gelar juara Divisione Nazionale musim 1926/1927 dibatalkan Torino diputuskan terlibat dalam skandal pengaturan pertandingan. Pada musim 1928/1929 format kompetisi dua grup hanya juara masing-masing dipertemukan untuk menentukan juara dengan format kandang dan tandang (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 30-11-1928). Pada pekan ke-8 posisi teratas di grup-A adalah Torino dan di grup-B adalah Bologna dari masing-masing grup 16 klub. Seperti disebut di atas, setelah musim 1928/1929 berakhir, federasi sepak bola Italia menetapkan liga teratas disatukan dalam kompetisi tunggal pada musim 1929/1930. Bentuk tunggal inilah yang kemudian tetap dipertahankan hingga sekarang. Catatan: Dalam daftar grup B, nama klub asal Genoa dicatat sebagai Genova 93. Apakah ini mengindikasikan klub di kota Genoa didirikan pada tahun 1893? Jika hal itu benar, pada tahun 1893 adalah pertandingan sepak bola pertama di Indonesia yang diadakan di Medan antara tim Penang (Inggris) dengan tim Medan (Belanda).

Lalu bagaimana dengan kinerja liga di Italia yang baru khusususnya liga utama? Bagaimana pula dengan klub sepak bola di Como? Belum terlihat sepenuhnya karena liga teratas yang disatukan di Italia untuk pertama kali baru menyelesaikan paruh musim. Klub Como tampakya belum masuk klub liga teratas di Italia. Ini dapat dilihat pada nama-nama klub pada musim 1928/1929 seperti ditampilkan di atas tidak ada nama Como baik di grup A maupun di grup B. Sudah barang tentu pula dari dua grup inilah dibentuk liga teratus yang disatukan dalam kempetisi tunggal. Sebagai pembanding liga teratas yang disatukan di Inggris sudah berjalan stabil. Di Belanda sendiri masih terbagi wilayah dimana juara-juara wilayah dipertemukan untuk menentukan juara nasional.

 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-03-1930: ‘Olahraga di Italia. Semua organisasi di bawah satu payung. Sepak bola amatir berbayar. Sudah diketahui umum bahwa pemerintah fasis telah mengambil alih kendali penuh atas olahraga beberapa tahun yang lalu. Namun, bagaimana struktur organisasi olahraga secara umum tidak diketahui secara pasti di luar sana. Nah, menurut keadaan saat ini, ada organisasi untuk setiap cabang olahraga, yang kemudian disatukan di bawah satu payung, C.O.N.I. Presiden C.O.N.I. mengendalikan seluruh kancah olahraga di Italia, yang tidak mengubah fakta bahwa dewan setiap sub-divisi bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Dengan demikian, "Federazione Calciatori" (federasi sepak bola) memilih tim nasional, tetapi karena kondisi yang ada di Semenanjung Apennine, pemimpin olahraga umum Turati, sekretaris jenderal partai fasis, mampu memberikan pengaruh yang menentukan dalam hal ini. Turati ini, yang juga anggota Dewan Agung, badan yang saat ini memerintah Italia di bawah Mussolini, adalah tokoh olahraga, ahli pedang, dan penemu permainan baru yang memiliki unsur sepak bola dan rugbi. Permainan itu disebut "volata," yang saat ini tidak terlalu populer. Masyarakat tetap menyukai bersepeda dan sepak bola, tetapi penemuan "volata" adalah alasan mengapa rugbi hampir tidak lagi dipraktikkan, bahkan oleh mahasiswa yang dulu cukup mempromosikannya, tulis koresponden H dari Maasbode. Organisasi terbesar di bawah yurisdiksi C.O.N.I. adalah asosiasi berburu nasional, yang tahun lalu memiliki 380.000 anggota. Ini diikuti oleh asosiasi sepak bola dengan 70.000 anggota, dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa olahraga ini masih dalam tahap awal di Italia. Satu hal yang pasti, menurut pendapat kami, nomor 1: bahwa sepak bola di Italia hanya akan menyebar di kalangan masyarakat. Kalangan atas belum pernah memainkannya dan mungkin tidak akan pernah, mengingat perkembangan sepak bola Italia. Ini adalah permainan profesional secara menyeluruh, dan kami, dari pihak kami, tidak mengerti bagaimana Italia bisa dianggap sebagai asosiasi amatir hingga saat ini. Dapat dipastikan bahwa tim yang akan bermain melawan tim amatir Belanda di musim semi hampir seluruhnya terdiri dari pemain profesional. Hal ini sudah terlihat selama Olimpiade, ketika beberapa pemain bintang harus dikeluarkan karena sudah sangat dikenal di luar negeri bahwa mereka sebenarnya adalah pemain profesional. Klub-klub besar secara teratur mengimpor pemain, dan baru-baru ini pemain Argentina Indaco dan Cesarini (yang terakhir keturunan Italia) dibawa ke Italia oleh "Roma" dan "Juventus" masing-masing, sementara beberapa pemain lain, termasuk Orsi, telah bermain selama beberapa tahun. Secara terbuka ditulis di media olahraga tentang Indaco bahwa ia masih memiliki kontrak dengan klubnya di Rosario, tetapi negosiasi hampir pasti akan menghasilkan hasil yang menguntungkan. Pemain-pemain seperti itu tentu saja tidak bermain untuk tim nasional, tetapi mereka yang bermain memiliki kualitas yang sama. Dan kita bahkan tidak bisa berbicara tentang profesionalisme terselubung di sini. Siapa pun dapat mengamati, misalnya, di Roma, bahwa sebagian besar pemain dari "Roma" dan "Lazio" bermain sepak bola dan mencari nafkah tanpa bekerja. Kembali ke berbagai organisasi olahraga, setelah asosiasi sepak bola ada Klub Alpine dengan 40.000 anggota, diikuti oleh asosiasi dayung dengan 30.000 anggota, jumlah yang juga dimiliki oleh asosiasi bersepeda. Asosiasi pengendara motor memiliki 20.000 anggota, Klub Aero 15.000 anggota, dan asosiasi ski 6.000 anggota. Terakhir, ada berbagai organisasi olahraga, seperti federasi tinju, tenis, dan senam, dll., masing-masing memiliki keanggotaan beberapa ribu; sejauh menyangkut tenis dan senam, ini adalah angka yang agak rendah, yang, seperti keanggotaan federasi renang (1000), menunjukkan betapa relatif sedikitnya olahraga dan permainan yang masih dipraktikkan di Italia. Bagaimanapun, angka-angka ini minimal untuk populasi lebih dari empat puluh juta jiwa. Dari organisasi olahraga yang tersisa, kami sebutkan di sini federasi anggar (3000 anggota), federasi menembak (10.000 anggota), dan federasi catur (1500 anggota). C.O.N.I. terdiri dari serangkaian organisasi yang secara keseluruhan berjumlah sekitar 600.000 anggota. Secara keseluruhan, masih merupakan jumlah yang terhormat, terutama jika kita mempertimbangkan bahwa di Italia masih banyak yang berpendapat bahwa orang yang baik tidak terlibat dalam olahraga. Tidak diragukan lagi dapat dicatat bahwa fasisme telah banyak dan terus banyak berkontribusi dalam mempromosikan olahraga di Italia. Mussolini, yang merupakan penunggang kuda yang bersemangat, kadang-kadang juga menunjukkan minatnya pada olahraga. Misalnya, ia sesekali muncul di kompetisi divisi pertama Roma. Terakhir, perlu dicatat bahwa organisasi di stadion tempat pertandingan pacuan kuda dan sepak bola utama diadakan masih jauh dari memuaskan. Stadion penuh sesak, sementara fasilitasnya biasanya primitif, meskipun harga tiket masuknya tinggi. Italia mengalahkan Swiss. Pada 10 Februari lalu, pertandingan sepak bola antara Italia dan Swiss dimainkan di Roma. Pertandingan ini memberi Mussolini kesempatan baru untuk menunjukkan betapa ia bersimpati dengan prestasi olahraga anak muda Italia dan bagaimana ia ingin menunjukkan simpatinya kepada rakyat Swiss. Mussolini menghadiri pertandingan tersebut bersama kedua putranya dan menerima kedua kapten di tribunnya sebelum pertandingan dimulai. Selain itu, ia juga menerima tim Swiss dalam audiensi khusus. Pertandingan berakhir dengan kemenangan 4–2 untuk Italia, setelah Swiss bahkan sempat unggul 2–0 dalam dua puluh menit pertama. Namun, pada babak pertama, skor sudah 4–2 untuk Italia, dan tidak ada perubahan skor lebih lanjut setelah itu. Swiss puas dengan permainan yang ditampilkan dan percaya bahwa mereka melihatnya sebagai tanda efek positif dari metode pelatihan baru yang telah mereka perkenalkan. Ramseyer sekali lagi menjadi kapten tim Swiss’. 

Pada tahun 1930 ini pertandingan antara timnas Italia dan timnas Belkanda akan diadakan di Amsterdam (lihat Arnhemsche courant, 14-03-1930). Komposisi tim Italia saat ini mencerminknan komposisi berikut: Combi (Juventus), kiper; Rosetta dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Barbieri (Genova), Ferraris (AS Roma), Pitto (Bolgna), tengah; Constantibo (Bari), Balonciere (Torino), Meazza (Ambrosian), Magnozzi (Livorno), Orsi (Juventus), depam

 

Limburgsch dagblad, 28-03-1930: ‘Olahraga dan pertandingan Belanda dan Italia. Sebuah percakapan dengan Combi. Gianpiero Combi, penjaga gawang tim nasional Italia, termasuk selama Olimpiade, bisa dibilang pemain sepak bola paling populer di negaranya. Setelah pertandingan di Frankfurt, pers Jerman menyebutnya "tak terkalahkan" dan bahkan lebih tangguh daripada Zamorra. Seorang kontributor untuk Sport (Zurich) mewawancarai pemain hebat ini, yang juga akan berada di bawah mistar gawang di Amsterdam Minggu depan, setelah kembali dari Frankfurt, dan "Vad." menyimpulkan hal berikut dari artikel yang diterbitkan tentang masalah ini: Apakah Anda berlatih olahraga lain selain sepak bola? Saat ini jarang lagi, tetapi di masa lalu saya cukup mahir dalam tinju, renang, dayung, dan tenis. Sebagai pengemudi, saya belum pernah menyebabkan kecelakaan, dan sebagai pesenam saya telah memenangkan dua hadiah pertama. Mengenai metode latihannya, Combi mengatakan bahwa ia tidur pukul 10 malam dan memulai latihan senam pukul 7 pagi, khususnya berlatih lompat cepat. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa ia hampir tidak pernah menstruasi dan telah menjadi kiper timnas Italia sebanyak 23 kali. Ia mulai bermain di tim U-11 dan menjadi anggota Juventus pada usia 12 tahun. Sekarang ia berusia 28 tahun dan telah menjadi kiper tim utama selama 10 tahun. — Hari terbaik dalam karier sepak bola Anda? — Saat ini saya punya lima. Di Amsterdam ketika kami mengalahkan Spanyol 7–1, di Jenewa ketika kami mengalahkan Swiss 5–1, tiga tahun lalu ketika kami mengalahkan Verselli untuk pertama kalinya, dan kemudian ketika kami memenangkan kejuaraan di Bologna, dan sekarang kemenangan terbaru di Frankfurt melawan Jerman. — Dan hari terburuk? — Di Amsterdam dalam pertandingan melawan Uruguay, ketika seharusnya saya mencegah gol pertama. — Kapan Anda bermain terbaik? — Di Praha, ketika kami kalah 3–1 dari Republik Ceko. — Siapa kiper terbaik yang Anda kenal? Zamorra? — Tidak, saya menilai Planieka dari Republik Ceko lebih tinggi; ia kurang teknis, tetapi seorang seniman sejati di bidangnya. — Tembakan mana yang paling Anda sukai untuk diselamatkan? — Tembakan dari jarak dekat, sekitar 3 meter, dan penalti! Menanggapi pernyataan terkejut kami bahwa menyelamatkan penalti sebenarnya adalah keberuntungan, Combi dengan tegas membantah hal ini: Seseorang harus tahu bagaimana memposisikan diri. Saya biasanya tahu ke mana tembakan akan mendarat. Saya umumnya menganggap pemain yang harus mengambil penalti kalah jumlah. Dia harus menembak dari jarak 11, dan saya hanya memiliki 7 untuk dijaga. Siapa pun yang mengambil penalti hampir selalu melirik sekilas terlebih dahulu ke tempat yang ingin dia bidik. Itu sudah cukup bagi saya. — Dan jika pemain tidak melihat sama sekali? — Maka hampir selalu bisa dipastikan dia akan menembak ke kiri, jadi ke kanan saya. (Jadi pemain kami tahu ini sebelum 6 April). Kami kemudian bertanya kepada Combi siapa yang dia anggap sebagai pemain Italia terbaik. Rosetta, saran pemain Italia itu, tetapi jangan lupakan juga Caglieri. Lagipula, mereka semua cukup hebat’. 

Dalam hubungannya dengan pertandingan antara timnas Italia dan timnas Belanda yang akan diadakan di Amsterdam, publik Belanda semakin memperhatikan sepak bola Italia. Lebih-lebih karena kompetisi di liga teratas (liga utama) di Italia baru musim ini dimulai sebagai yang pertama kali. Jumlah klub yang berkompetisi di liga teratas Italia sebanyak 18 klub. 


Eindhovensch dagblad, 29-03-1930: ‘Sepak bola di Italia. Dengan pertemuan resmi keempat antara tim perwakilan Belanda dan Italia yang berlangsung pada hari Minggu, 6 April, minat terhadap sepak bola Italia di Belanda secara alami menjadi lebih hidup. Di Italia, meskipun negaranya sangat luas, terdapat divisi teratas dengan tidak kurang dari 18 klub, sehingga klub-klub yang memasok pemain untuk tim nasional memiliki tempat latihan yang sangat baik dan menantang. Namun, waktu semakin singkat, sebagian karena banyaknya pertandingan internasional, karena dibutuhkan 13 pertandingan lagi musim ini untuk menyelesaikan kompetisi. Beberapa pertandingan dimainkan pada hari kerja, menurut laporan N.R.Ct., sehingga masih ada harapan untuk menyelesaikan kompetisi tepat waktu. Perebutan gelar juara saat ini terjadi antara lima klub peringkat teratas, dengan Juventus, klub Combi dan Orsi, dianggap sebagai favorit. Beberapa hari lalu, Juventus mengalahkan Pro Patria 1-0 di Busto, dengan para pemain internasional memainkan peran penting dalam kesuksesan tersebut, terutama Orsi, pemain sayap kiri terkenal dari tim Olimpiade Argentina di Amsterdam, yang mencetak satu-satunya gol setelah melakukan solo run yang brilian. Kools dan Denis akan menghadapi tantangan berat melawan sang matador ini!’. 

Pada musim 1929/1930 liga di masing-masing negara: Inggris, Belanda, Jerman, Prancis dan Belgia dan Swiss. Pada musim 1929/1930 liga utama Italia untuk pertama kali disatukan sebagai liga utama nasional (Serie-A). Liga Belanda masih terdiri beberapa wilayah (afdeeling); Inggris, Prancis, Swiss, Belgia, Austria, Hongaria, Tjekoslowakia dan lainnya sudah disatukan liga utama secara nasional. Sejak musim 1929/1930 ini liga Italia dijadikan patokan hingga ke masa ini (Serie-A, Serie-B, dan seterusnya). 


Klub Como yang disebut didirikan pada tahun 1907 dengan kostum warna biru kerajaan tampaknya belum pernah pemainnya bermain untuk timnas Italia. Sebagaimana dinarasikan pada masa ini klub Como promosi ke liga utama (Prima Categoria) pada musim 1913/14 dan bertahan hingga mengalami degradasi tahun 1922. Lalu juga dinarasikan klub Como telah memilikui stadion baru tahun 1928 dengan nama Stadion Giuseppe Sinigaglia dengan kapasitas 13.602. Juga dinarasikan klub Como kembali promosi ke divisi utama pada musim 1930/31 dan bertahan hingga beberapa tahun. Namun semua itu tidak terinformasikan. 

Pada tahun 1930 diadakan kejuaraan dunia (pertama) FIFA di Uruguay. Mengapa timnas Italia tidak berpartisipasi? 


Sepak bola di Olimpiade (musim panas) sudah disertakan sejak 1900. Di wilayah Eropa Tengah sudah dilaksanakan kejuaraan antar negara maupun antar klub dimana Italia turut berpartisipasi. Pada tahun 1930 FIFA menyelenggarajkan kejuaraan dunia pertama yang diadakan di Uruguay. Juaranya adalah Uruguay. Catatan: Piala Dunia FIFA 1930 adalah Piala Dunia FIFA pertama, kejuaraan dunia untuk tim sepak bola nasional pria. Kejuaraan ini berlangsung di Uruguay dari 13 sampai 30 Juli 1930. FIFA memilih Uruguay sebagai tuan rumah, sebagai negara yang merayakan seratus tahun konstitusi pertama pada saat itu, dan Tim nasional sepak bola Uruguay telah berhasil mempertahankan gelar sepak bola mereka di Olimpiade Musim Panas 1928. Semua pertandingan dimainkan di ibu kota Uruguay, Montevideo, sebagian besar di Stadion Centenario, yang dibangun untuk turnamen. Tiga belas tim (tujuh dari Amerika Selatan, empat dari Eropa, dan dua dari Amerika Utara) ikut serta dalam turnamen. Beberapa tim Eropa memilih untuk tidak berpartisipasi karena sulitnya perjalanan ke Amerika Selatan. Tim Eropa: Prancis, Belgia, Yugoslavia dan Rumania. Yugoslavia mencapai semifinal dan di final antara Argeentina dan Uruguay. 

Italia tidak berpartisipasi. Mengapa? Yang jelas Italia akan menjadi tuan rumah kejuaraan dunia tahun 1934. Seperti dilihat nanti, kota-kota di Italia sebagai tuan rumah: Milan, Bologna, Roma, Firenze, Napoli, Genova, Turin dan Trieste. Lalu bagaimana dengan kota Como? Seperti dilihat nanti, timnas Uruguay tidak berpartisipasi di dalam piala dunia (kedua) di Italia. Fakta bahwa Uruguay adalah juara bertahan alias juara piala dunia pertama 1930. Mengapa? 


Dalam narasi sejarah yang sekarang: Tim nasional Italia tidak berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 1930 karena dua alasan utama: kekecewaan karena gagal terpilih menjadi tuan rumah dan kendala biaya serta jarak perjalanan yang sangat jauh menuju Uruguay. Berikut adalah penjelasan rincinya: Kegagalan Bidding Tuan Rumah: Italia adalah salah satu negara yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah edisi pertama ini bersama beberapa negara Eropa lainnya seperti Belanda, Spanyol, dan Swedia. Namun, FIFA akhirnya memilih Uruguay karena negara tersebut bersedia menanggung seluruh biaya perjalanan dan akomodasi tim peserta, serta sebagai perayaan seratus tahun konstitusi mereka. Aksi Boikot: Sebagai bentuk kekecewaan atas keputusan FIFA tersebut, Italia bersama banyak negara Eropa lainnya memutuskan untuk tidak mengirimkan tim mereka ke Uruguay. Jarak dan Biaya Perjalanan: Pada tahun 1930, perjalanan dari Eropa ke Amerika Selatan harus ditempuh menggunakan kapal laut melintasi Samudra Atlantik selama sekitar dua minggu. Banyak klub Italia yang enggan melepas pemain bintang mereka dalam waktu yang sangat lama hanya untuk turnamen yang saat itu masih dianggap eksperimental. Menariknya, sebagai balasan atas absennya Italia di edisi 1930, Uruguay menolak untuk berpartisipasi dan mempertahankan gelar mereka saat Italia menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 1934. 

Sementara itu Italia yang tidak akan berpartisipasi dalam Piala Dunia yang akan datang di Uruguay, tetapi melakukan pertandingan internasional, Pada tahun 1930 pertandingan timnas Italia akan melawan timnas Belanda yang juga tidak ke Uruguay. 


Komposisi tim dan head to head tim Italia vs tim Belanda (lihat Haagsche courant, 05-04-1930). Hasil pertandingan imbang 1-1 (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 07-04-1930). Starting line up dalam pertanidngan ini, posisi Barbieri digantikan oleh Colombarie. Lalu setelah dari Belanda, tim Italia bertanding dengan Hongaria di Budapest dimana Italia menang 5-0 (lihat Limburgsch dagblad, 14-05-1930). Dalam hubungan tim nasional ini, liga utama Italia tampaknya harus diundur. 

Di dalam liga utama Italia sendiri pada papan atas semakin sengit (lihat Eindhovensch dagblad, 18-04-1930). Disebutkan di Italia pertarungan untuk kejuaraan Italia tetap tidak berubah karena kedua tim favorit menang, Ambrosiana 2–0 atas Milano dan Juventus 2–1 atas Alessandria. 


Eindhovensch dagblad, 02-07-1930: ‘Liga Italia. Pertandingan liga di Italia pada Minggu, 29 Juni menghasilkan hasil sebagai berikut: Alessandria—Modena 1-1; Padova—Napoli 3-0; Lazio—Pro Vercelli 3-2; Torino—Milan 2-2; Genova—Livorn 2-0; Pro Patria—Triestina 1-1; Brescia—Kremone 4-3; Bologna—Roma 5-2; Ambrosiana—Juventus Turin 2-0. Berkat hasil tersebut, Ambrosiana menjadi juara Italia’. 

Akhirnya di dalam liga utama Italia, yang pertama kali diadakan di Italia, klub Ambrosiana di Milan menjadi juara (runner upa: Genoa). Sebagai Top Skor adalah Giuseppe Meazza (Ambrosiana) dengan 31 gol. Nama Ambrosiana sendiri kemudian akan dikenal sebagai Inter(nazionale) Milan. Perlu ditamahkan disini bahwa sebelumnya klub Ambrosiana sudah pernah meraih gelar juara nasional sebanyak dua kali. Dengan demikian, sebagai juara pertama dalam musim pertama Serie-A, klub Ambrosiana dapat sebagai gelar yang ketiga. Lantas bagaimana dengan klub di Como? 


Dalam musim 1930/1931 jumlah klub tetap sebanyak 18 (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 21-10-1930). Bandingkan dengan musim sebelumnya seperti disebut di atas: 1 Alessandria 2 Modena 3 Padova 4 Napoli 5 Lazio 6 Pro Vercelli 7 Torino 8 Milan 9 Genova 10 Livorno 11 Pro Patria 12 Triestina 13 Brescia 14 Cremone 15 Bologna 16  Roma 17 Ambrosiana 18 Juventus. Dalam musim 1930/1931 terdapat klub baru (sebagai promosi) yakni Casale dan Legnano, untuk menggantikan yang degradasi yakni Cremone dan Lazio. Catatan: Dalam musim 1930/1931) gelar juara diraih oleh Juventus dari Turin (lihat Haagsche courant, 12-06-1931). Pada musim berikutnya 193`1/1932 kembali Juventus sebagai juara (lihat Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 09-06-1932). Disebutkan yang menjadi juara kedua adalah FC Bologna.. 

Hingga sejauh ini, meski hiruk pikuk sepak bola di Italia sudah meluas, tetapi bagaimana situasi dan kondisi sepak bola di Como belum pernah terinformasikan. Yang terinformasikan selain dayung, yang kerap terinformasikan adalah balap sepeda (lihat Sport in beeld jrg 7, 1931, no 47, 17-11-1931). Disebutkan pada tanggal 1 November, pembalap Italia Manera memecahkan rekor kecepatan UCI di belakang sepeda motor di velodrome Como; ia mencapai kecepatan 78,183 kilometer per jam. Rekor sebelumnya dipegang oleh Paillard dengan 76,280 kilometer. Waktu-waktu menengah berikut dicapai, yang merupakan rekor tersendiri, kecuali untuk jarak 30 km: 10 km 8 menit 1 detik; 20 km 15 menit 42 1/5 detik; 30 km 23 menit 20 detik; 40 km 30 menit 56 3/5 detik; 50 km 38 menit 31 3/5 detik; 60 km 46 menit 4 detik; 70 km 53 menit 38 detik. 


Biasanya lintasan balap sepeda (vledrome) berada di dalam stadion, yang juga menjadi lintasan atletik yang mengelilingi lapangan rumput (untuk kegiatan sepak bola). Mengapa begitu/ Lintasan balap sepeda harus melingkar seperti lintasan atletik, yang di dalam stadion bentuk lingkarannya berbentuk elips. Lintasan balap sepeda dan lintasan ateletik dibedakan. Lintasan balap sepeda (semen/beton) berada di sisi luar lintasan atletik (tanah). Besar dugaan vledrome di Como ini berada di dalam stadion (sepak bola) di kota Como. 

Klub Juventus dari kota Turin menjadi klub yang konsisten di liga utama Italia. Dua tahun berturut-turun menjadi juara liga: musim 1930/1931 dan musim 1932. Bagaimana dengan musim 1932/1933? Pada musim 1932/1933 ini, kluvb Juventus kembali menjadi juara liga utama Italia, Lantas seberapa banyak pemain klub Juventus dalam pembentukan tim nasional, terutama dalam Piala Dunia 1934? 


De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 15-06-1933: ‘Sepak bola. Juara nasional. Juara nasional kini telah diketahui di 12 negara Eropa. Di Austria, First Vienna adalah juaranya, sementara Austria Vienna menjadi juara bertahan. Ini diikuti oleh juara Italia Juventus Turin, Hungaria Ujpest Budapest, Cekoslowakia Praha, Prancis Olympique Lille, Belgia Union St. Gilloise, Luksemburg Red Boys Differdingen, Swedia Helsingborg, Spanyol F.C. Madrid, Inggris Arsenal London, Skotlandia Glasgow Rangers, dan Jerman Fortuna Dusseldorf. Juara bertahan adalah Excelsior Roubaix untuk Prancis, F.C. Basel untuk Swiss, Everton untuk Inggris, dan Celtic untuk Skotlandia. Nama juara Swiss, Belanda, dan Denmark tidak ada dalam daftar juara. Dan sangat mungkin juara Belanda akan diketahui terakhir’. 

Pada musim 1933/1934 meski klub Ambrosiana dari Milan mencoba untuk meraih juara, tetapi ketangguhan klub Juventus belum hilang (lihat De Volkskrant, 07-03-1934). Disebutkan di Italia, Livorno membuat kejutan besar dengan mengalahkan Ambrosiana 2-1 di Milan. Sejak Juventus menang 1-0 melawan Triestina di Trieste, Ambrosiana kini hanya unggul satu poin atas juara bertahan Juventus. Lantas apakah klub Juventus akan mampu mengatasi klub dari Milan tersebut? 


Rotterdamsch nieuwsblad, 02-05-1934: ‘Sepak Bola. Koresponden kami di Roma menulis pada tanggal 29 bulan ini: Hari ini, Juventus, melalui kemenangannya atas Lazio (Roma), telah meraih gelar juara Italia untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Komite teknis akhirnya memiliki kebebasan dalam hal pemilihan pemain untuk Piala Dunia mendatang dan telah memutuskan bahwa 29 pemain akan tiba di Stresa pada tanggal 1 Mei, di mana mereka akan berada di bawah pengawasan Asosiasi Sepak Bola. Para pemain tersebut adalah: Aliemandi, Arcari, Bertolini, Busoni, Boría, Cavanna, Ceresoli, Combi, Calligaris, Cats'lazzi, Cesarini, De Maria, Ferrari, Gelgerli, Guarisi, Guaita, Monzeglio, Monti, Meazza, Pizioli, Pitto, Rosetta, Rocco, Schiavio, Rantoni, Vincenzi, Vanglien, Volgliani’. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Kota Como dan Promosi Indonesia: Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia, Piala Dunia di Italia 1934 dan Piala Dunia di Prancis 1938 

Dalam Piala Dunia di Uruguay Italia tidak berpartisipasi, tetapi Prancis mengirim tim nasionalnya. Prancis gugur di babak grup. Lantas seberapa kuat timnas Prancis? Yang jelas pada tahun 1932 diadakan pertandingan antara timnas Prancis melawan timnas Italia. Hasilnya Italia menang di kandang Prancis di Paris. Bersamaan dengan itu, timnas Italia-B melakukan pertandingan melawan Luxemburg di kota Como. 


De Maasbode, 11-04-1932: ‘Pertandingan Nasional. Keberhasilan Italia. Di Stadion Colombes-le-Parys, tim sepak bola Prancis dan Italia saling berhadapan. Italia menang 2–1. Skor babak pertama 1–1. Di Como, tim Luxemburg bermain melawan timnas Italia-B. Italia menang 13–0’. 

Pada tahun 1933 terinformasikan jalan tol dibangun antara Milan dan Como (lihat Nieuwe Venlosche courant, 06-10-1933). Ini dengan sendirinya menambah akses cepat dari Milan ke Como dan sebaliknya. Seperti disebuut di atas, jaringan kereta api komuter listrik sudah dioperasikan se wilayah Milan (Lombardia). Sudah barang tentu, jalan tol tersebut akan sendirinya menjadi penting ke depan, terutama tidak lama lagi Italia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia. 


Overijsselsch dagblad, 04-05-1934: ‘Jalan-jalan di Italia umumnya sangat bagus (di sana-sini bahkan sangat baik). Di bagian yang datar, rute agak monoton, tetapi ini diimbangi oleh fakta bahwa kita melewati kota-kota seperti Milan, Florence, Bologna, dan Assisi, yang begitu kaya akan keindahan perkotaan sehingga kita rela menempuh beberapa ratus kilometer jalan yang kurang menarik demi kota-kota tersebut. Dan akhirnya, tujuan akhir: Roma, yang hanya dengan menyebut namanya saja sudah cukup untuk membangkitkan gambaran keindahan. Dan siapa pun yang sama sekali tidak tertarik pada sepak bola, tentu saja, dapat memutar kemudi sekarang ke arah Kota Abadi, dari mana tidak ada seorang pun yang pernah kembali dengan rasa tidak puas’. Foto: Panorama Como (lihat Limburger koerier: provinciaal dagblad, 22-05-1934)

Piala Dunia 1934 di Italia semakin hari semaki heboh. Pers di Belanda sudah memetakan rute menuju Roma. Pertandingan babak pertama Belanda (melawan) Swiss justru diadakan di kota Milan. Mengapa harus menuju Roma? Boleh jadi orang-orang selama Piala Dunia juga ingin ke Roma, ibu kota negara Italia dan juga pusat Katolik (Vatikan). Boleh jadi juga karena orang-orang Belanda teringat pepatah lama: “mille viae dūcunt hominēs per saecula Rōmam” yang artinya “banyak jalan menuju Roma”. Berbagai rute tersebut juga ada yang melalui Como terus ke Milan. 


Overijsselsch dagblad, 04-05-1934: ‘(1). Utrecht— Namur— Lyon— Nice— Roma (3.161 km). Utrecht ’s-Bosch (56 km) —Eindhoven (31,5 km) K.M.) Hasselt (58.5 K.M.) Liège (39 KM) Namur (64.5 KM) Givet (51 KM) Reims (142 KM) Vitry le F. (76 KM) Chaumont (103 KM) Langres (35 KM) Dijon (65.5 KM) Chalon s.S. (68 KM) Lyon (126.5 KM) Valence (101 KM) Avignon (128.5 KM) Aix en P. (76 KM) St. Raphael (125 KM) Nice (72.5 KM) Genoa 206.5 KM) Livomo (215 KM) Grosseto (135 KM) Roma (185 KM). (2). Utrecht—Cologne—Munich—Bruner Pass—Roma (1.856 KM), Utrecht—Arnhem (60,5 KM) – Nijmegen (18 KM) Krefeld (80,5 KM)—Cologne (o5 KM) Koblenz (87,5 KM) Wfesbaden (72 5 KM) Frankfurt ad. Mam (35,5 KM) Nuremberg (220,5 KM) Munich (180,5 KM) Kufstein (91 KM) Innsbruck (76,5 KM) Brenner Pass (39,5 KM) Bolzano (87 KM) Verona (156,5 KM) Modena (103 KM) Bologna (38,5 KM) Roma (454 KM). (3). Utrecht—Luksemburg—Terowongan Simplon Roma (1.922 KM). Utrecht—Breda (68 KM) Antwerpen (50,5 KM) Brussel (47 KM) Namur (GO KM) Dinant (28 KM) Arlon (109 KM) Luksemburg (26 KM) Mstz (59 KM) Nancy (57 KM) Belfort (104 KM) Bern (146 KM) Lausanne (93,5 KM) Martigny (68,5 KM) Brig (82,5 KM) Simplon Pas (22,5 KM) Milan (166,5 KM) Bologna (220 KM) Florence (105,5 KM) Siena (69,5 KM) Grosetto (94 KM) Roma (185 KM). (4). Utrecht—Cologne—Basel—Terowongan Gothard—Roma (1.836 KM). Utrecht—Arnhem (60,5 KM) Wesel (69 5 KM) Cologne (102 KM) Koblenz (87,5 KM) Mainz (92 KM) Heidelberg (90 KM) Karlsruhe (57,5 KM) Freiburg (138,5 KM) Basel (67 KM) Luzern (95,5 KM) Göschenen (84,5 KM) St. Gotthard Pass (19 KM) Airolo (16,5 KM) Lugano (90 KM) Como (30,5 KM) Milan (43 KM) Bologna (220 KM) Florence (105,5 KM) Assisi (200,5 KM) Roma (166,5 KM). (5). Utrecht—Heidelberg—Chur—Julier pass—Roma (1.854 KM). Utrecht—Heidelberg (501,5 KM) Stutkar» (103 KM) Sigmaringen (113 KM) Lindau (101 KM) – Feldkirch (45.5 KM) – Chur (59 KM) Lenzerheide Pass (15 KM) Jul er Pass (49.5 KM) – Silvaplana (8 KM) – Maloja Pass Chiavenna (31.5 KM) Milan (122.5 KM) Roma (696 KM)’. 

Bagaimana persiapan tim dari berbagai negara? Ada 16 negara yang akan berpartisipasi di babak Final Piala Dunia di Italia 1934. Seperti disebut di atas Belanda akan menghadapi Swiss di babak pertama; sementara Italia akan mengahadapi Amerika Serikat. Pertandingan Belanda vs Swiss akan dimainkan di kota Milan. Kota yang sudah dikenal oleh beberapa pemain Belanda sebab, seperti disebut di atas pada tahun 1928 timnas Belanda dan timnas Italia melakukan pertandingan persahabatan yang dilakukan di Milan.


Rotterdamsch nieuwsblad, 05-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Kejuaraan Dunia. Pengundian di Roma. Het Nieuwsblad mewawancarai Lotsy. Koresponden kami di Roma menulis kepada kami pada tanggal 3 Mei: Malam ini pukul enam, seluruh dunia sepak bola internasional berkumpul di Hotel Ambassadors untuk acara besar pengundian Kejuaraan Dunia. Sekitar dua puluh jurnalis internasional diundang untuk hadir dalam upacara tersebut. Untuk Belanda, hanya Het Nieuwsblad yang diundang. Sebelumnya, Komite Persiapan mengalami kesulitan besar dalam menyepakati delapan tim yang akan tergabung dalam kelompok tim kuat. Awalnya, Belanda lolos di peringkat keenam, dan masalah utamanya menyangkut Hungaria. Tampaknya ada diskusi yang cukup intens di dalam FIFA tentang Hungaria, tetapi pada akhirnya baru terungkap saat pengundian bahwa "pihak" Hungaria yang menang. Daftar tim "kuat" adalah sebagai berikut: Argentina, Austria, Brasil, Cekoslowakia, Jerman, Italia, Belanda, dan Hungaria. Kami percaya bahwa Spanyol tersingkir pada saat-saat terakhir di hadapan Hungaria. Tim-tim yang disebut "lemah" adalah: Belgia, Prancis, Mesir, Rumania, Spanyol, Swedia, Swiss, dan pemenang pertandingan pendahuluan yang akan dimainkan di Roma melawan Amerika Serikat Meksiko. Bagi Belanda, sudah merupakan kehormatan besar untuk ditempatkan di grup "kuat", karena tidak diragukan lagi negara-negara di divisi ini memiliki peluang bagus untuk mencapai perempat final. Satu-satunya pertanyaan adalah: melawan siapa Belanda akan diundi? Aula tempat pengundian akan berlangsung tampak mengesankan. Sebuah meja besar, di sampingnya berdiri patung dada Mussolini yang mengagumkan, dan di kedua sisinya barisan tentara dari milisi fasis, dengan karabin di pundak mereka....Pertunjukan militer ini disebabkan oleh kedatangan H.E. Starace, sekretaris Partai, yang akan mewakili pemerintah pada pengundian tersebut. Tokoh-tokoh terpenting saat itu adalah dua pemuda Balilla, yang, dengan seragam mereka, akan memimpin pengundian. Di belakang meja, terlihat para tokoh besar gerakan sepak bola. Dr. Bauwens, Lotsy dari Belanda, Mauro, dan yang lainnya, yang melirik dengan agak iri ke arah Piala Dunia, yang diletakkan di depan meja. Sebuah pernak-pernik Avar, dari emas murni, tingginya sekitar tiga puluh sentimeter. Kami merasakan ketegangan di aula kecil itu, yang meningkat ketika Starace memperlihatkan dirinya. Akhirnya, para milisi menyerahkan senapan mereka, perintah-perintah terdengar, dan sekretaris partai dipimpin masuk. Para delegasi asing mengulurkan tangan kanan mereka, seolah-olah mereka semua memiliki darah Romawi di dalam pembuluh darah mereka. Tangan Lotsy menonjol di atas semua yang lain. Setelah pidato-pidato yang biasa, dilanjutkan dengan pengundian. Dua orang Balilla terjun ke ruang dewan dan yang pertama muncul dari pengundian adalah Italia dan pemenang pertandingan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Italia sudah memenangkan pertandingan pertama! Kami langsung ditempatkan di perempat final, karena baik Meksiko maupun Amerika Serikat bukanlah lawan bagi 'Nerazzurni'. Kami duduk dengan tegang menunggu Belanda, yang baru keluar dari pengundian pada percobaan keenam. Sebelumnya, kami menyaksikan dengan menyesal saudara-saudara lemah seperti Rumania, Mesir, Spanyol, dan Swedia melewati kami, sehingga dari partai-partai yang kurang kuat, hanya Swiss, Prancis, dan Belgia yang tersisa. Akankah ini menjadi pertandingan Belanda-Belgia lagi? Visi yang tak terlukiskan terbentang di depan mata kami. Lotsy pun termenung. Akhirnya, Belanda keluar dari bus yang tepat. De Balilla yang kedua menunggu agak terlalu lama, bahkan mengambil dua huruf sekaligus.... salah satunya harus ia abaikan. Yang tersisa adalah.... Swiss. Belanda—Swiss, kalau begitu! Bisa jadi lebih baik. Kami sudah mengamankan Belgia dan Prancis, seperti kata pepatah, tetapi Swiss selalu menjadi lawan yang berbahaya bagi kami. Selain itu, Swiss sangat dekat dengan Italia sehingga jumlah pendukungnya selalu melebihi jumlah pendukung Belanda. Sebuah handicap ganda. Hasil undian lengkapnya adalah: A. Italia—Pemenang Amerika Serikat—Meksiko di Roma. B. Cekoslowakia—Rumania di Trieste. C. Hongaria—Mesir di Napoli. D. Argentina—Sweden di Bologna. E. Brasil—Spanyol di Genoa. F. Belanda—Swiss di Milan. G. Austria—Prancis di Turin. H. Jerman—Belgia di Florence. Segera setelah itu, putaran kedua pada tanggal 3 Juni ditetapkan: Pemenang H—Pemenang D di Milan. Pemenang F—Pemenang B di Turin. (Oleh karena itu, kemungkinan Belanda akan menghadapi Cekoslowakia di Turin). Pemenang G—Pemenang C di Bologna. Pemenang E—Pemenang Ate Napeds. Penentuan lapangan pertandingan tidak mudah, tetapi terbukti berhasil bagi kami. Para delegasi berdiskusi selama lebih dari dua jam sebelum mencapai kesepakatan. Tuan Lotsy telah berupaya untuk menyelenggarakan pertandingan di Milan atau Turin dan ini dapat dianggap sebagai keberhasilan pribadi. Pejabat Belanda harus mempertimbangkan bahwa lapangan-lapangan ini memang telah ditentukan untuk Belanda. Pertama, stadion di Milan dan Turin adalah yang terbaik di Italia, dan kemudian jarak yang lebih pendek memainkan peran penting. Kami meminta pendapat Bapak Lotsy tentang peluang Belanda setelah pengundian. Meskipun dalam suasana hati yang baik, beliau tidak terlalu gembira. Swiss dan mudah-mudahan selanjutnya Chekho-Slovakia bukanlah lawan yang mudah, dan di atas itu, tim nasional Belanda agak kelelahan saat ini. Bayangkan saja, kita masih sepenuhnya terlibat dalam kompetisi kejuaraan, di mana banyak pemain terlibat. Anderiessen dari Ajax, misalnya, akan memainkan tiga pertandingan dalam satu minggu, karena Belanda bermain melawan Prancis pada Hari Raya Surga. Tetapi bukankah lebih baik mengganti pemain Ajax melawan Prancis? Itu akan menjadi solusi terbaik, tetapi untuk moral tim, itu mungkin merupakan langkah yang salah. Jika anak-anak kita dikalahkan oleh Prancis karena absennya Anderiessen, kekuatan mereka akan sangat berkurang. Sebuah tim sangat sensitif... Bagaimanapun, para pemain kami lelah, dan itu merupakan kendala besar melawan tim-tim profesional yang sekarang kami hadapi. Karena pemain Swiss juga profesional, kami bermain di Milan untuk pertama kalinya, dan saya menganggap itu sangat menguntungkan. Kami mungkin akan menampung pemain di Como atau tempat lain di Danau Como. Ada fasilitas pelatihan yang sangat bagus di Como. Selain itu, kami ingin membawa koki Belanda atau Jerman bersama kami, karena makanan Italia akan mengganggu perut. Bagaimanapun, Tuan Lotsy menyimpulkan, kami penuh semangat, meskipun bisa lebih beruntung. Kami masih memiliki satu kesempatan lagi untuk berbicara dengan Dr. Bauwens tentang tim kami. Dia akan memimpin pertandingan penultimate melawan Belgia dan percaya bahwa Belanda telah menjadi sangat kuat, tetapi telah melemah secara signifikan, padahal sebelumnya merupakan bagian terkuat dari tim, yaitu pertahanan. Sebelumnya, kata Dr. Bauwens, pertahanan Belanda mungkin yang terkuat di Eropa, tetapi masa itu tampaknya telah berakhir. Dia tidak banyak berkomentar tentang tim Swiss. Swiss sering mengubah susunan tim mereka paling lambat di musim ini, sehingga sulit untuk memprediksi apa pun. Hanya pertahanan mereka yang konstan dan sangat kuat. Séchehaye, Mincalli, dan Weiler adalah batu sandungan bagi setiap pertahanan, sehingga penyerang Belanda harus bertindak drastis untuk meraih kesuksesan melawan mereka’. Foto: Hotel Villa d’Este di Cemotobio, di Danau Como (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 22-05-1934).

Tim Italia ke kejuaraan dunia di Italia dipimpin oleh pelatih Vittorio Pozzo. Saat ini timnas Italia melakukan pemusatan latihan intensif yang diadakan di kota Florence. 


Rotterdamsch nieuwsblad, 17-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Untuk kejuaraan dunia. Para pemain Italia yang terpilih. Koresponden kami di Roma menulis kepada kami pada tanggal 14 bulan ini: Hari ini komite tim nasional Italia memilih 22 pemain yang harus membela warna Italia di Kejuaraan Dunia mendatang. Pilihannya jatuh pada: Penjaga Gawang: Combi (Juventus), Ceresoli (Ambrosiana), Cavanna (Napoli); Bek: Atlemanda (Ambrosiana), Montiglio (Bologna), Rosetta (Juventus), Caligaris (Juventus); Gelandang: Varglien (Juventus), Castellizzi (Ambrosiana), Fizziolo (Fiorentina), Monti (Juventus), Ferraris (Roma), Bertolini (Juventus); Lini depan: Arcari (Milan), Guarisi (Lazio), Meazza (Ambrosiana), De Maria (Ambrosiana), Borel (Juventus), Schiavio (Bologna), Ferrari (Juventus), Guaita (Roma), Orsi (Juventus). Menarik untuk dicatat bahwa empat pemain ini awalnya berasal dari Amerika Selatan dan dibeli dari sana seiring waktu, atau, seperti yang disebut secara halus di sini, dipanggil kembali ke tanah air mereka. Mereka adalah Guarisi, De Maria, Orsi, dan Guaita, di mana Orsi sangat menonjol di Olimpiade Amerika pada saat itu. Guarisi adalah warga Brasil; tiga lainnya "dipinjamkan" oleh Argentina ke sepak bola Italia. Tim juara Juventus secara tradisional memiliki perwakilan terbaik. Tidak kurang dari sembilan pemain dari klub Turin (Juventus) saat ini berada di sekitar Florence untuk mempersiapkan diri menghadapi perebutan Kejuaraan Dunia. Setelah mereka adalah Ambrosiana dari Milan, yang secara konsisten menduduki puncak klasemen selama musim lalu tetapi tersingkir oleh Juventus di menit-menit terakhir. Klub ini memiliki lima perwakilan di antara 22 pemain yang terpilih. Saat ini, Asosiasi Sepak Bola sedang bernegosiasi dengan Manchester City, yang bermain imbang dengan Fiorentina kemarin di Florence (3–3), untuk mengatur pertandingan tim Italia melawan juara Piala Inggris. Berita bahwa tim nasional Belanda akan tiba di Como pada tanggal 22 bulan ini untuk pertandingan melawan Swiss disertai dengan komentar yang sangat positif di pers Italia’. 


Pemain terbanyak di timnas Italia berasal dari klub Juventus. Lalu bagaimana dengan timnas Belanda? Setelah selesai pemusatan latihan di kota Arnhem, Belanda kemudian merangsek ke Italia mendekati TKP di kota Como. Untuk apa?


Ons Noorden, 07-05-1934: ‘Pemain untuk Piala Dunia. Para pemain terpilih untuk kejuaraan dunia akan diberangkatkan pada Selasa tanggal 22. Mereka adalah Keizer, van Male, Weber, van Run, van Diepenbeek, Lelveld, Pellikaan, Anderlessen, van Heel, Onorinsen. Graafland, Wels, Vente, Bakhuis, Smit, Miinders Lagenclaal, J Mol dan Schoemaker. Para pemain dan ofisial akan check-in di hotel di Como’. Pada tanggal 11 Mei, L Boeijon, Kepala Konsul KNVB, berangkat dari Den Haag untuk mencari tempat tinggal yang tenang di Como bagi tim nasional sepak bola Belanda selama pertandingan Kejuaraan Dunia. (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 26-05-1934). Skema: Belanda vs Swiss dalam Pialai Dunia di Milan

Masing-masing federasi sepak bola dari negara peserta Piala Dunia 1934 di Italia sudah barang tentu mengorganisasikan bagaimana masyarakatnya dapat mendukung timnas masing-masing. Belanda juga telah mempersiapkannya dengan perjalanan kereta api dari Den Haag ke Milan (pp). 


Haagsche courant, 09-05-1934: ‘Kejuaraan Dunia. Belanda—Swiss. Dewan Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda dengan ini memberitahukan kepada kami bahwa mereka yang ingin menghadiri pertandingan Belanda—Swiss yang akan dimainkan di Milan pada tanggal 27 Mei mendatang, dan yang tidak memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh agen perjalanan terkenal, dapat mengajukan permohonan tiket untuk pertandingan tersebut di Kantor Asosiasi di Van de Spiegelstraat 21 di sini, paling lambat tanggal 12 bulan ini, dengan menyertakan jumlah yang harus dibayar, ditambah 30 sen untuk biaya administrasi. Harga tiket masuk adalah ƒ1,30, ƒ1,95, ƒ3,25 dan ƒ6,50. Permohonan yang diterima setelah tanggal 12 Mei harus dibatalkan. Lokasi pertandingan. Panitia penyelenggara pertandingan Kejuaraan Dunia telah melakukan perubahan pada lokasi beberapa pertandingan. Dengan demikian, di babak kedua, pemenang pertandingan Brasil—Spanyol akan menghadapi pemenang pertandingan Italia—Amerika Serikat. Di sisi lain, Napoli telah ditetapkan sebagai pengganti Florence untuk pertandingan perebutan hadiah ketiga. Asosiasi Perjalanan Belanda. Partisipasi dalam kereta tambahan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perjalanan Belanda dijamin akan berjalan. Namun, pendaftaran masih dibuka. Jika jumlah penumpang untuk kereta tambahan terlalu banyak, kereta tambahan kedua akan dijadwalkan oleh N.R.V. untuk menciptakan kemungkinan membawa sebanyak mungkin pendukung ke Italia untuk tim nasional kita. Rotala Neerlandica. Perjalanan ke Italia dengan kereta khusus juga diselenggarakan oleh agen perjalanan "Rotala Neerlandica", Rijnstraat 18a, di sini, untuk menghadiri turnamen Kejuaraan Dunia. Kereta berangkat pada tanggal 25 bulan ini dan kembali pada tanggal 29 Mei. Tarif pulang pergi untuk kelas tiga hanya ƒ28,50. Perjalanan yang diselenggarakan oleh agen perjalanan Lissone—Lindeman ini dimulai pada tanggal 26 Mei. Warga Den Haag berangkat dari Stasiun S.S. pada pukul 08.29 pagi. Tarif pulang pergi ke Milan dan kembali, termasuk biaya tambahan perangko Italia, dan tempat duduk yang dipesan, adalah kelas 2 sebesar 95,30 dan kelas 3 sebesar 37,75. Dengan menggunakan kereta ini, Anda juga dijamin mendapatkan tempat duduk untuk dua pertandingan, dengan membayar 5,5 per pertandingan untuk tribun terbuka dan 6,75 per pertandingan untuk tribun tertutup. Kereta kembali dari Milan pada hari Jumat, 1 Juni, dan tiba di Belanda pada Sabtu pagi, 2 Juni, sehingga semua orang dapat sampai ke tujuan tepat waktu sebelum liburan Minggu. Untuk kenyamanan peserta, telah disediakan juga semua makanan dan penginapan di hotel-hotel yang sangat baik. Biaya untuk: penginapan dan semua makanan sesuai program, transportasi dari dan ke hotel, tiket untuk dua pertandingan, transportasi dari dan ke stadion Milan dan Turin, wisata ke Turin, dan semua tip, berjumlah total ƒ54,50. Jika menggunakan hotel terbaik, harga ini akan dinaikkan sebesar ƒ10. Karena, tentu saja, banyak yang ingin melihat sesuatu tentang Italia pada hari-hari ketika tidak ada pertandingan, beberapa wisata telah diorganisir, yang partisipasinya bersifat opsional. Jika Belanda secara tak terduga tidak bermain di Turin, perjalanan sehari penuh ke Como dan Villa d'Este akan ditawarkan sebagai pengganti perjalanan ke Turin dan tiket masuk untuk pertandingan; tidak ada biaya untuk perjalanan ini. Rutenya adalah: Milan—Monsa—Lecco—Bellagio—Como—Villa d'Este kembali ke Milan’. Foto: Panorama Como di Danau Como (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 25-05-1934).

Ambisi Italia untuk menjuarai Piala Dunia 1934 sangat kuat. Hal itu tentu saja karena bertindak sebagai tuan rumah yang akan didudukung oleh para supporternya. Para pemain Italia sudah ditetapkan (lihat daftar di bawah). Klub Juventus dari Turin sebagai juara liga (serie) Italia menjadi penyumbang pemain terbanyak. Federasi sepak bola Italia juga mendatangkan empat pemain dari Amerika Selatan. Bagaimana bisa? Yang jelas Italia akan melawan Amerika Serikat di Roma pada tanggal 27 Mei ini. 


Rotterdamsch nieuwsblad, 17-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Untuk Kejuaraan Dunia. Para pemain Italia yang terpilih. Koresponden kami di Roma menulis kepada kami pada tanggal 14 bulan ini: Hari ini komite tim nasional Italia memilih 22 pemain yang harus membela warna Italia di Kejuaraan Dunia mendatang. Pilihannya jatuh pada: Penjaga Gawang: Combi (Juventus), Ceresoli (Ambrosiana), Cavanna (Napoli); Bek: Atlemanda (Ambrosiana), Montiglio (Bologna), Rosetta (Juventus), Caligaris (Juventus); Gelandang: Varglien (Juventus), Castellizzi (Ambrosiana), Fizziolo (Fiorentina), Monti (Juventus), Ferraris (Roma), Bertolini (Juventus); Lini depan: Arcari (Milan), Guarisi (Lazio), Meazza (Ambrosiana), De Maria (Ambrosiana), Borel (Juventus), Schiavio (Bologna), Ferrari (Juventus), Guaita (Roma), Orsi (Juventus). Menarik untuk dicatat bahwa empat pemain ini awalnya berasal dari Amerika Selatan dan dibeli dari sana seiring waktu, atau, seperti yang disebut secara halus di sini, dipanggil kembali ke tanah air mereka. Mereka adalah Guarisi, De Maria, Orsi, dan Guaita, di mana Orsi sangat menonjol di Olimpiade Amerika pada saat itu. Guarisi adalah warga Brasil; tiga lainnya "dipinjamkan" oleh Argentina ke sepak bola Italia. Tim juara Juventus secara tradisional memiliki perwakilan terbaik. Tidak kurang dari sembilan pemain dari klub Turin saat ini berada di sekitar Florence untuk mempersiapkan diri menghadapi perebutan Kejuaraan Dunia. Setelah mereka adalah Ambrosiana dari Milan, yang secara konsisten menduduki puncak klasemen selama musim lalu tetapi tersingkir oleh Juventus di menit-menit terakhir. Klub ini memiliki lima perwakilan di antara 22 pemain yang terpilih. Saat ini, Asosiasi Sepak Bola sedang bernegosiasi dengan Manchester City, yang bermain imbang dengan Fiorentina kemarin di Florence (3–3), untuk mengatur pertandingan tim Italia melawan juara Piala Inggris. Berita bahwa tim nasional Belanda akan tiba di Como pada tanggal 22 bulan ini untuk pertandingan melawan Swiss disertai dengan komentar yang sangat positif di pers Italia’. Foto: Pemandangan Bellagio dengan Danau Como (1935)

Singkatnya: Belanda yang bermain melawan Swiss di Milan pada tanggal 27 Mei harus mengakui keunggukan Swiss dengan skor 2-3 (lihat De Indische courant, 28-05-1934). Lapangannya berada di San Siro (lihat Sport in beeld jrg 10, 1934, no 20, 30-05-1934). Dengan demikian timnas Belanda sudah langsung gugur di babak pertama.  Mengapa itu bisa terjadi? 


Stasion kereta api di Como menjadi tempat yang penting dalam gelaran Piala Dunia. Seperti disebut di atas, sebelum ke Milan, timnas Belanda  bermarkas di Como. Jarak antara Como dengan Milan 45 Km jalan darat dan juga dengan kereta api. Seperti disebut di atas, jalur kereta api listrik di wilayah Como dibangun tahun 1898. Lalu jaringan listrik kota Como dan kota Milang dioperasikan pada tahun 1903. Foto: Kedatangan Dr. Gejus van der Meulen di stasiun Como, di mana ia disambut hangat oleh para pemain. (lihat Sport in beeld jrg 10, 1934, No 20, 30-05-1934). Stasion kereta api di Como juga menjadi sangat penting antara negara karena menjadi hub antara negara Italia dengan jalur kereta api di bagian utara Eropa seperti Swiss, Austria, Jerman dan seterusnya ke Belanda. Dalam hal ini para pemain timnas Belanda dan para supporter  ke Piala Dunia menggunakan jalur kereta api. 

Dalam catatan lama antara Belanda dan Swiss sudah pernah melakukan pertandingan 10 kali dimana lima kali di Swiss dan lima kali di Belanda (saling mengalahkan). Dalam pertandingan yang terakhir 22 Januari 1933 di Amsterdam berakhir imbang (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 26-05-1934). Jadi dalam hal ini timnas Swiss juga sangat kompetitif. Lalu bagaimana dengan timnas Italia?


De Indische courant,28-05-1934; ‘Hiruk pikuk di Milan. Milan, 27 Mei (Aneta). Ribuan warga asing dan puluhan ribu warga Italia memadati delapan lapangan sepak bola tempat babak pertama Piala Dunia dimainkan. Milan dibanjiri oleh warga Swiss dan Belanda. Di stasiun Como, para pejabat Belanda menyambut para pendukung Belanda yang tiba dengan kereta tambahan, yang menyanyikan Wilhelmus saat kereta berangkat menuju Milan. Hasil pertandingan lainnya adalah: Cekoslowakia — Rumania 2-1 (babak pertama) 0-1. Italia — Amerika Serikat 7-1 (babak pertama 3-0). Argentina — Swedia 2-3 (babak pertama 1-1). Hongaria — Mesir 4-2 (babak pertama 2-2). Austria — Prancis (setelah perpanjangan waktu) 3-2 (babak pertama 1-1). Brasil — Spanyol 1-3 (babak pertama 0-3). Jerman — Belgia 5-2 (babak pertama 1-2). Analisis singkat pasca pertandingan. Hasil pertandingan secara umum dapat dianggap normal. Argentina, seperti yang diperkirakan, tidak memiliki peluang dengan tim amatirnya dan bahkan kalah dari Swedia, yang juga bukan termasuk tim kuat. Sementara Brasil kalah dari Spanyol dan Amerika Serikat kalah dari Italia, peserta Amerika telah tersingkir. Tim Prancis memberikan penampilan yang luar biasa dengan terlebih dahulu kalah dari Austria di babak perpanjangan waktu. Di babak selanjutnya, yang akan dimainkan pada tanggal 30 bulan ini, negara-negara berikut akan saling berhadapan: Jerman — Swedia. Cekoslowakia — Swiss. Austria — Hongaria. Italia — Spanyol. Detail penting lainnya. Como, 27 Mei (Aneta). Van Heel tetap menjadi kapten tim nasional Belanda, atas desakan Van der Meulen. FIFA. Roma, 27 Mei (Aneta). Kongres FIFA memilih Lotsy sebagai anggota dewan’. Foto: Komite penyelenggara kejuaraan dunia sepak bola pada pertemuannya di Roma. Duduk dari kiri ke kanan: Barassi (Italia), Fischer (Hongaria), Mauro (Italia), dan Meisi (Austria), berdiri: Schlicker (sekretaris/bendahara), Lotsy (Belanda), dan Dr. Bauwens (Jerman) (lihat Sport in beeld jrg 10, 1934, no 17, 08-05-1934).

Setelah mengalah Amerika Serikat dengan skor 7-1, bertemu Spanyol di babak perempat final yang diadakan di kota Firenze pada tanggal 31 Mei. Setelah perpanjangan waktu (1-1), akhirnya Italia berhasil unggul dengan satu gold an akan bertemu Austria di semifinal pada tanggal 3 Juni di kota Milan. Hasilnya Italia menang 1-0. 


Di partai puncak (grand final) yang diadakan di kota Roma pada tanggal 10 Juni, Italia berhasil mengalahkan Cekoslowaki dengan skor 2-1 (lihat Nieuwe Apeldoornsche courant, 11-06-1934). Italia di Piala Dunia: "Veni, vidi, vici" (Aku datang, aku melihat, aku menaklukkan). Starting line up Italia: Kiper, Combi; Belakang, Monzegito dan Allemandi; Tengah, Ferraris IV, Monti dan Bertolini; Depan, Guaita, Meazza, Schiavio, Ferrari dan Orsi. Skema: Berdasarkan grafik di atas, tampaknya "Kita akan pergi ke Roma" hanya benar secara harfiah jika Belanda mencapai final! Pertandingan perebutan hadiah ke-3 akan dimainkan di Florence pada tanggal 7 Juni (lihat Sport in beeld jrg 10, 1934, no 17, 08-05-1934).

Piala Dunia 1934 dengan final di kota Roma dimana juaranya Italia adalah satu hal. Kota Como adalah hal lain. Dalam hal ini kota Como menjadi “basecamp” timnas Belanda di Italia. Hal itu dipilih karena pertandingan melawan Swiss diadakan di kota Milan. Jarak antara kota Como dengan kota Milan hanya 45 Km. Satu yang penting dipilih Belanda di Como karena juga ada stadion bagus untuk latihan dan juga di Como tersedia masakan Jerman yang cocok buat orang Belanda.  


Stadion di Como bernama Stadio dell' Union Calcistica “Comense" (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 26-05-1934). Disebutkan para pemain sepak bola Belanda di Como. Pelatih timnas Belanda Herberts memberikan teori selama latihan di lapangan sepak bola di Como, di Stadio dell' Union Calcistica "Comense". Catatan: Stadion di Como ini selesai dibangun pada tahun 1928. Pemain andalan Italia, Monti juga pernah tinggal di Como (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 15-10-1938). Disebutkan bahwa Hans Gisdanni Monti, salah satu gelandang bertahan terhebat yang pernah dikenal dunia sepak bola, lahir pada tahun 1911 di Münster di tepi sungai Neckar. Ia tinggal bersama ibunya yang berkebangsaan Jerman hingga berusia sebelas tahun, dan kemudian pindah ke Como, Lugano, Locarno, dan pada tahun 1932, sebagai pemain sepak bola profesional, di Turin, di mana bintangnya bersinar sebagai gelandang bertahan tim nasional Italia di Juventus. Monti (berayah Italia), kini kembali bersama ibunya di Münster.
 Foto: Pelatih Belanda Herberts memberikan latar belakang kepada para pemain sepak bola Belanda di Stadion dell Union Calcistica "Comense" di Como (lihat De Telegraaf, 26-05-1934).

Sampai sejauh ini, meski kota Como sudah dikenal sejak ‘baheula’, tetapi bagaimana sepak bola di Como tidak kunjung terinformasikan. Yang terinformasikan adalah di kota Coma sudah memiliki stadion bagus bernama Stadio dell' Union Calcistica "Comense" dimana timnas Belanda melakukan pelatihan sebelum menuju pertandingan Piala Dunia 1934 di kota Milan. Tampaknya hingga sejauh ini klub sepak bola di kota Como masih terbilang klub kecil relatif terhadap klub-klub besar di Milan, Turin dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Piala Dunia tahun 1938 di Prancis?

 

Pada tanggal 15 Maret 1937, dalam sidang FIFA menunjuk Jepang dan Indonesia untuk melakukan pertandingan prakualifikasi Piala Dunia 1938 yang pemenangnya akan melawan (play-off) pemenang pertandingan (play-off) antara Amerika Serikat (juara Amerika Utara) dengan Argentina (juara Amerika Tengah) untuk memperebutkan satu tempat dalam melengkapi 16 negara yang akan berlaga dalam final Piala Dunia 1938 di Prancis. Dalam hal ini penunjukan Indonesia dari Asia karena masa itu Indonesia telah memiliki kompetisi lokal yang teratur, sedangkan Jepang sebelumnya pernah memiliki tim Olimpiade yang kuat. Tim yang kuat dari Jepang dan tim memiliki kompetisi teratur dari Indonesia (sekarang kompetisi Jepang yang teratur). Foto: Tim Belanda sedang berlatih di stadion Como (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 26-05-1934)

Dalam Piala Dunia 1938 di Prancis timnas Indonesia (baca: Hindia Belanda) akan melakukan pertandingan prakualifikasi. Piala Dunia 1938 di Prancis akan diadakan pada bulan Juni di sejumlah kota termasuk kota Lyon yang cukup dekat dijangkau dari kota Como (sekitar 350 Km) melalui terowongan Mont Blanc atau Frejus (terowongan di pegunungan Alpen bagian barat). 


Pertandingan melawan tim Jepang yang dijadwalkan di Hong Kong, Jepang mengndurkan diri (karena Jepang terlibat perang dengan Tiongkok). Indonesia menjadi maju untuk melawan hasil play-off antara Amerika Serikat dengan Argentina yang akan dijadwalkan dimainkan di Belanda. Namun Argentina berhalangan hadir. Oleh karena sepak bola belum popular di Amerika, Amerika juga kemudian membatalkan keberangkatannya ke Belanda untuk melawan wakil Asia yakni, Indonesia. Akhirnya Indonesia tanpa pernah melakukan babak kualifikasi yang sebenarnya berhak ke Prancis. Jadi, dalam hal ini prosesnya Indonesia menuju putaran Piala Dunia di Prancis berjalan normal (tetap dengan kemenangan WO). Foto: Pemandangan yang unik di Danau Como. — Yang sangat mencolok bagi wisatawan asing yang menjelajahi wilayah-wilayah indah di Italia Utara adalah barisan panjang wanita yang mencuci pakaian di tepi Danau Como lalu menggantungnya di rak untuk dikeringkan (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 14-07-1934)

Pelatih Indonesia Mastenbroek telah  menetapkan 17 pemain yang benar-benar berangkat ke Prancis berdasarkan hasil seleksi dari turnamen tiga subwilayah di Jawa. Mr. Karel Lotsy (Presiden KNVB, PSSI-nya di negeri Belanda) mendukung kehadiran Indonesia di Prancis. Surat kabar De Indische courant, 12-04-1938 memberitakan bahwa secara aklamasi Mohamad Nawir ditunjuk menjadi kapten tim dan Rohrig sebagai wakil kapten. Tim Indonesia (NIVU) terdiri dari: Mo Heng (Malang), Samuels (Surabaya), Anwar (Batavia), Nawir (Soer.), Taihutu (Batavia), Patiwael (Batavia), Hong Djien (Soer.), Hukom, F Meeng, Tan See Han, Summers. Cadangan: Van Beuzekom (Batavia), Harting (Surabaya), Van der Burj (Djocja), Faulhaber (Semarang), Sudarmadji (Surabaya) dan Telwe (Surabaya). Tim Indonesia berangkat dengan kapal ke Eropa. 


Tim Indonesia tiba di Den Haag tanggal 18 Mei 1938 setelah melakukan perjalanan panjang dengan kereta api dari Marseille. Di stasion kereta api Den Haag, tidak dinyana, Tim Indonesia disambut meriah, baik oleh pejabat KNVB, pengurus klub HBS maupun para simpatisan dan keluarga para pemain termasuk para mantan-mantan pemain sepak bola di Indonesia. Tim Indonesia kemudian menaiki bus menuju hotel Duinoord di Sweelinckplein, tempat para pemain dan official menginap selama di Belanda. Setiba di hotel dilakukan pertemuan khusus antara pemain dan official Tim Indonesia dengan pejabat KNVB, pimpinan HBS dan lainnya. Training kemudian dilakukan. Tempat training centre selama di Belanda ditetapkan di kompleks sepak bola klub HBS, Den Haag. Tim Indonesia di Den Haag direncanakan akan tinggal sampai tanggal 31 Mei 1938. Foto: Selama kebakaran yang melanda Katedral di Como, kubah besar yang indah itu hampir seluruhnya hancur. — Kubah setelah kebakaran,

Setelah tim menyelesaikan pemusatan latihan di Den Haag, Tim Indonesia berangkat tanggal 2 Juni 1938 menuju Rheims, Prancis. Tim Indonesia berangkat dari Den Haag pada pukul 10.56 ke Prancis. Setelah tiba di Paris jam 16.54, tim disambut oleh konsul. Pada hari berikutnya, pukul 10.30 meneruskan perjalanan ke Rheims. Menurut official tim, sampai tanggal 1 Juni penjualan tiket pertandingan Indonesia-Hongaria telah habis terjual dengan menghasilkan sebanyak 70.000 franc. Kapasitas stadion memiliki 19.000 tempat duduk.

 

Tim Hungaria sendiri sudah lebih dulu tiba di Rheims. Waktu yang ada dimanfaatkan oleh Tim Indonesia untuk berlatih fisik dan uji coba lapangan stadion Velodorme, Rheims. Malam sebelum hari-H, Walikota Rheims mengundang dan menjamu makan malam kedua tim. Susunan pemain kedua tim diumumkan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1938). Seperti disebut di atas, tujuh belas pemain ke Prancis terdiri dari delapan orang Belanda, tiga orang Ambon, dua orang Sumatra, satu orang Jawa dan tiga orang Cina. Yang diturunkan sebagai line-up adalah dua Cina (Mo Heng dan Hong Djien), satu Jawa (Sudarmadji), dua Ambon (Pattiwael dan Taihutu) dan dua Sumatra (Anwar dan Nawir). Itu berarti ada tujuh non-Belanda. Empat Belanda adalah Samuels, Hukom, Zommers dan F Meeng. Nama Meeng tidak ditemukan dalam marga orang Belanda, apakah Frans Meeng adalah orang Indo? Demikian juga dengan nama Hukom, apakah orang Indo? Yang benar-benar orang Belanda hanya ada nama Zommers dan Samuels. Foto: Katedral Como bergaya Trachtic abad ke-15, yang kubahnya hancur terbakar pada hari Sabtu. Menara di sebelah kiri adalah Torre di Comune abad ke-13, yang membentuk satu kesatuan dengan Katedral (lihat Algemeen Handelsblad, 30-09-1935).

Orang Prancis ternyata memiliki cara pandang tersendiri tentang sepakbola. Ternyata penduduk Kota Rheims datang berbondong-bondong ke stadion untuk menonton dan menunaikan tiket yang telah mereka beli jauh sebelum hari pertandingan. Mereka sangat respek terhadap Tim Indonesia setelah membaca semuanya di dalam koran pagi. Tapi, tak mereka sangka, sebelum pertandingan dimulai, dari tengah lapangan para pemain Indonesia memberi salam hormat kepada para penonton yang telah duduk manis baik ke arah tribun barat maupun tribun timur (hal serupa ini tidak dilakukan Tim Hungaria). Sontak, para penonton berdiri untuk membalas salam hormat Tim Indonesia. Rasa hormat di balas dengan rasa hormat.

 

Pertandingan dimulai. Priiit. Roger Conrie, wasit asal Prancis meniup pluit, tanda pertandingan dimulai. Mo Heng, yang sudah sembuh dari cedera pergelangan tangan, berada sigap di depan gawang. Pertahanan Tim Indonesia yang dikawal oleh dua center back, Hukom dan Samuel agak rapuh, sehingga Mo Heng harus beberapa kali menyelamatkan gawang Tim Indonesia sebelum akhirnya gawang Tim Indonesia kebobolan. Tidak ada riuh rendah, melainkan penonton terdiam saja ketika gol pertama terjadi. Ini menujukkan tanda bahwa kelihatannya penonton yang hampir seluruhnya orang Prancis dan sebagian besar penduduk Kota Rheims memihak Tim Indonesia. Tidak ada sorak sorai penonton setiap gol yang tercipta kepada Tim Hungaria. Akan tetapi, setiap ada adegan indah dan heroik dari pemain Indonesia, para penonton bergemuruh. Foto: Hotel Villa d’Este di Cemotobio dan Katedral di Como (now)

Indonesia dalam pertandingan ini kalah telah 6-0. Boleh jadi, orang Prancis melihat pertandingan ini sebuah drama: antara tim kuat vs tim lemah. Memang akhirnya, Tim Hungaria menang telak enam kosong, tetapi para penonton puas melihat penampilan Tim Indonesia yang sangat heroik. 

 

Inilah drama dalam sepak bola dan orang Prancis yang hadir di stadion memang menikmati betul drama itu. Sisi humanis penonton Prancis lebih mengemuka dalam pertandingan Tim Indonesia vs Tim Hungaria. Untuk diketahui klub kota Rheim bernama Stade de Rheim adalah juara nasional liga Prancis tahun 1935 (lihat De Telegraaf, 27-05-1935). Peta: Koneksi moda transportasi darat di Italia bagian utara.

Tunggu deskripsi lengkapnya 

Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia, Piala Dunia di Italia 1934 dan Piala Dunia di Prancis 1938: Como 1907 Klub Orang Indonesia dan Timnas Indonesia di Piala Dunia

Dalam dunia sepak bola, suatu kota dihubungkan dengan lokasi stadion dan namanya, dan juga dhubungkan dengan nama klub yang ada tingkat pencapaiannya di berbagai level pertandingan/kompetisi. Seperti disebut di atas, hal yang berkaitan dengan klub sepak bola di Como, hingga sejauh ini belum terinformasikan. Hanya dinarasikan bahwa di kota Como didirikan klub bernama Como pada tahun 1907. 


De grondwet, 21-09-1940: ‘Pertemuan antara Harbig dan Lanzi yang lebih baik. Tahun ini, Rudolf Harbig akan memiliki kesempatan lain untuk menguji kekuatannya melawan Mario Lanzi. Pertemuan ini akan berlangsung pada kesempatan pembukaan stadion baru di Como pada tanggal 29 September. Namun, belum dikonfirmasi apakah kedua atlet hebat ini akan berkompetisi di nomor 400 atau 800 meter. Beberapa atlet Finlandia juga akan berkompetisi pada kesempatan ini’. 

Pada tahun 1940 terinformasikan di Como terdapat stadion baru. Pertanyaannya apakah stadion baru ini adalah stadion lama (yang disebut  Stadio dell' Union Calcistica "Comense" yang pernah menjadi tempat pelatihan timnas Belanda dalam Piala Dunia 1934)? Yang jelas stadion baru di Como memiliki lintasan atletik. Besar kemungkinan kelak lintasan atletik itu dihilangkan yakni dengan membangunan tribun yang menjadi tribun lebih dekat ke lapangan seperti masa ini. Perlu dicatat di sini, dengan membandingkan foto stadion Como pada tahun 1934 dan foto masa kini tampak kurang lebih sama view-nya (latar bukit di sebelah kanan ke arah danau). 


Kota Como adalah kota tua. Keutamaan kota Como sudah lama dikenal sebagai kota wisata (danau Como). Danau Como sendiri diinformasikan memiliki kedalaman 400 Mdpl (lihat De Graafschapper, 15-12-1947). Disebutkan danau Lugano mencapai kedalaman 270 meter di titik terdalamnya, danau Como mencapai kedalaman 400 meter. Seperti disebut di atas, berdasarkan informasi tahun 1904 kedalaman danau Como mencapai 609 Mdpl. Yang mana yang benar? Apakah danau Como menjadi semakin dangkal (200 M) selama 40 tahun terakhir ini? 

Pada musim 1944/1945 liga sepak bola Italia tidak dapat dilangsungkan. Hal itu karena terjadi perang. Musim ini merupakan satu-satunya penyelenggaraan sepak bola di Italia dan negara lainnya di Eropa seperti Belanda dan Jerman benar-benar dihentikan. Di Inggris bahkan lebih lama lagi( musim 1939/1940 sd musim 1945/1946); di Prancis dari musim 1939/1940 hingga musim 1944/1945. 


Perang di Italia tahun 1944-1945 adalah kampanye berdarah. Setelah jatuhnya pemimpin Italia Mussolini, Sekutu menembus garis pertahanan Jerman (Garis Gustav/Monte Cassino & Garis Gotik) ditandai dengan pembebasan Roma (Juni 1944) dan berakhir dengan menyerahnya Jerman pada Mei 1945. Ini juga melibatkan perang saudara antara partisan Italia pro-Sekutu dan pasukan fasis Republik Sosial Italia. Hal serupa juga terjadi di Asia Pasifik termasuk di Indonesia, dimana pasukan Sekutu akhirnya berhasilk menaklukkan Jepang setelah bom atom dijatuhkan Amerika di Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Dalam konteks ini pula bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Foto: Stadion di kota Como (1934)

Setelah sekian lama, keberadan klub sepak bola di kota Como mulai terinformasikan. Klub kota Como ini disebut AC Como. Mengapa baru terinformasikan sekarang di tahun 1949 ini? Apakah klub Como (Associazione Calcio Como) sudah meningkat prestasinya sehingga mendapat liputan media?


De Maasbode, 18-10-1949: ‘Risiko Profesi: Wartawan Sepak Bola Italia Dibunuh. Meskipun terkadang terjadi di lapangan sepak bola kita bahwa wasit diserang dan menerima pukulan keras dari pemain yang emosi, wartawan olahraga dibiarkan tanpa gangguan dan paling-paling hanya menderita akibat ulah pendukung klub yang melampiaskan kemarahan mereka di atas kertas tentang kritik tidak adil yang ditujukan kepada tim favorit mereka yang kalah. Namun, bahwa profesi ini bukannya tanpa risiko, terbukti dari sebuah laporan dari Como, di mana mayat Sergio Cabaglio, seorang wartawan sepak bola untuk sebuah surat kabar lokal, ditemukan di jalan. Polisi menetapkan bahwa kematiannya adalah akibat pukulan yang dilayangkan kepadanya. Beberapa hari sebelumnya, penerbit Het Wad telah menerima surat yang menyatakan bahwa kritik yang dilontarkan Cabaglio kepada tim AC Como telah menimbulkan kesan yang sangat buruk’. 

Kota Como sendiri masih memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia sepak bola. Pada tahun 1934 stadion di Como dijadikan timnas Belanda sebagai tempat p[elatihan terakhir sebelum berlaga bulan Mei di kota Milan (melawan timnas Swiss). Pada tahun 1949 ini, stadion yang terdapat di kota Como dijadikan timnas Italia sebagai pemusatan latihan sebelum bertolak ke London melawan timnas Inggris.

 

De Maasbode, 28-11-1949: ‘Skuad biru dalam nada minor. Pertandingan tahun ini. Namun kejutan di kandang Spurs masih mungkin terjadi. Hujan turun di Como pada Sabtu pagi. Hujan gerimis perlahan dan sunyi dari langit kelabu yang datar, dan angin terasa lesu namun anehnya dingin, dan kota serta danau tiba-tiba tidak lagi menyerupai, dari kejauhan, kartu pos berwarna di rak kartu di aula megah "Villa Imperiale di Montrasio". Di aula "Villa" duduk enam belas selebriti sepak bola berharga yang akan membentuk skuad Italia pada Rabu sore mendatang di London, di kandang Spurs di White Hart Lane, yang akan melakukan upaya gigih untuk kedua kalinya dalam lima belas tahun untuk mengalahkan para grandmaster sepak bola indoor Inggris di tanah mereka sendiri. Mereka menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke bandara Milan, dari mana mereka akan diterbangkan ke Inggris dalam beberapa jam, dan para jurnalis Italia jarang melihat rombongan sepak bola Italia yang tampak lebih murung daripada keenam belas orang terpilih ini. Keenam belas orang terpilih ini tahu betul. Mereka hanya perlu melihat langit Como yang kelabu dan meneteskan air untuk mengetahui bahwa rombongan Italia di sana, di London, menghadapi nasib yang sama seperti skuad Italia yang berangkat ke London lima belas tahun lalu’. Winschoter courant, 23-11-1949: ‘Nama-nama pemain timnas Italia yang akan ke Inggris: Kiper: Moro (Turino) atau Sentimenti (Lazio); Belakangr: Giovanni (Internazionale) dan Becattini (Genoa); Tengah: Fattori (Internazionale) Barola (Juventus) dan Piccini (Juventus) atau Annovazzi (Milano); Depan: Boniperti (Juventus), Basetto (Sampdoria), Amadei atau Lorenzi (keduanya Internazionale), Martino (Juventus) dan Carapellese (Torino)’. Foto: Perdagangan penyelundupan antara Italia dan Swiss merupakan bisnis yang menguntungkan. Seorang penyelundup yang cerdik memperoleh sebuah kapal selam kecil, yang dengannya ia secara rutin beroperasi di bawah permukaan Danau Como (lihat Algemeen Dagblad, 05-03-1947)

Klub sepak bola di kota Como saat ini sudah menjadi klub besar, klub yang sudah bersaing di liga utama Italia. Saat ini klub kota Como dirumorkan sedang mendatangkan bintang sepak bola dari Belanda. Apakah ini mengindikasikan klub AC Como baru saja promosi pada tahun 1949 ini? Yang jelas sejak disebut klub Como didirikan tahun 1907 belum pernah terinformasikan di dalam liga Italia. 


Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 08-12-1949: ‘Sepak bola. Terlouw ke Como. Rinus Terlouw, pemain kunci tim nasional Belanda dan Sparta, akan bermain untuk klub papan atas Italia, Como, menurut koresponden Milan dari Algemeen Dagblad. Meskipun Terlouw sendiri membantah rumor tentang kepergiannya beberapa hari yang lalu, koresponden tersebut mengklaim bahwa negosiasi antara Como dan Terlouw telah berhasil diselesaikan. Pemain kelahiran Rotterdam ini kemungkinan akan berangkat ke Italia dalam beberapa minggu lagi. Pertandingan Belanda-Denmark karenanya akan menjadi pertandingan internasional terakhir yang akan dimainkan Terlouw; Sparta mungkin dapat memanfaatkan kemampuan Terlouw satu atau dua kali lagi. Como menempati peringkat kedelapan di divisi teratas Italia dan berada di posisi yang sama dengan Internazionale, klub Wilkes’. Foto: Kapal selam penyelundup. Selama patroli malam, bea cukai Italia menyita sebuah kapal selam mini di Danau Como yang telah melakukan beberapa perjalanan penyelundupan antara pantai Italia dan Swiss. Kapal yang panjangnya hanya sekitar 3 meter ini dapat berlayar di bawah air, digerakkan oleh baling-baling yang menghasilkan putaran yang diperlukan menggunakan pedal sepeda (lihat Bredasche courant, 24-11-1948).

Rumor kehadiran bintang sepak bola Belanda Rinus Terlouw di Como semakin diperjelas (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 16-12-1949). Disebutkan mengenai pemain kunci Sparta dan tim nasional Belanda, Terlouw, ketua (klub) Como, Carlo Songla, membantah bahwa klubnya bermaksud untuk merekrut Terlouw. Songla menyatakan bahwa negosiasi telah dilakukan dengan Terlouw, tetapi negosiasi tersebut hanya terbatas pada "kontak sederhana". Tidak ada kontrak yang ditandatangani dan Como tidak berniat untuk membuka kembali diskusi tersebut. Satu yang penting dari tadisi klub di Como adalah mengunjungi. pemimpin agama Katolik.


Twentsche courant, 07-02-1950: ‘Para pemain sepak bola bersama Paus. Sabtu lalu, klub sepak bola Como, yang dijadwalkan bermain pertandingan di Como, diterima dalam audiensi oleh Bapa Suci. Ini hampir menjadi tradisi bagi para pemain sepak bola yang datang ke Roma untuk terlebih dahulu mengunjungi Bapa Suci’. 

Pertandingan antara klub ibu kota (Roma) dengan klub dari wilayah terpencil (AC Como). Klub AC Como mengalahkan klub “IL Tempo” Roma dengan skor 1-0. 


Dagblad voor Noord-Limburg, 28-04-1950: ‘Catatan Roma. (dari koresponden Roma kami). Menangis karena sepak bola. Ini menangis karena sepak bola. Karena sebagian besar ketenaran kami (baru-baru ini) berkat pertemuan kami dengan Faas Wilkes, kami juga membaca koran Senin. Hari ini Senin dan kemarin itu terjadi. Lima belas detik sebelum akhir pertandingan Roma vs Como ketika wasit memberikan penalti kepada Roma, yang akan diambil oleh kapten Andreoli. Bola membentur tiang dan gol penyelamat yang diharapkan gagal terwujud. Hasil: 1-0 untuk Como. Dan lihatlah sekarang bagaimana “II Tempo” menggambarkan tragedi ini: “Wasit telah meniup peluit akhir. Sebelum para Biru Cómö, sang pemenang, saling berpelukan, para Kuning-Merah yang kalah menangis. Dengan tangan di rambut mereka, Andreoli menangis di atas segalanya, tak terhibur karena ia gagal mencetak gol. Terbaring lelah di tanah, Trerè yang pemberani juga menangis, dan lawan yang tak kalah tangguh, Ghiandi muda, mencoba menghiburnya dengan penuh kasih sayang. Penonton pun sangat tersentuh oleh akhir yang dramatis ini.” Dan untuk membuat mereka yang berani di rumah ikut meneteskan air mata, foto-foto telah mengabadikan air mata dan keputusasaan Andreoli untuk selamanya, dan bahkan tiang gawang putih yang fatal dengan noda hitam kotor telah difoto, tiang yang menghancurkannya, dengan noda lumpur tempat Andreoli dan Trerè menangis. Setelah membaca ini, kami menyimpulkan bahwa kami telah salah. Sampai sekarang, kami menganggap pemain sepak bola sebagai semacam suku Mohican terakhir, sebagai semacam bajak laut yang merosot, namun tetap saja bajak laut; Sebagai koboi, perampok jalanan, orang-orang tangguh dengan tangan besar dan kaki yang lebih besar lagi yang melepaskan nafsu jahat ayah mereka pada bola dan bahkan tidak mendirikan kerajaan dalam prosesnya. Jadi, bukan begitu kenyataannya. Seseorang seharusnya menangis ketika bermain sepak bola dan kalah saat bermain. Dengan pengetahuan ini, kami telah merevisi penilaian kami terhadap para pemain sepak bola’. 

AC Como tidak hanya mampu mengalahkan klub Roma secara dramatis, klub AC Como juga mampu mengalahkan klub Internazionale di kandangnya di Milan. AC Como memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Sebuah kekecewaan, karena Inter mendominasi pertandingan pertama dengan skor 0-1. Selama lima menit terakhir, bola lebih banyak berada di tribun daripada di lapangan, karena pertahanan Como, yang disorak-sorai oleh para pendukungnya, senang memprovokasi penonton tuan rumah. 


De Telegraaf, 16-05-1950: ‘Adegan Sepak Bola Penuh Gairah. Warga Italia menunjukkan pertunjukan berkualiatas baik. Faas Wilkes Ikut Berperan. Oleh Jan Blankers. Milan. 13 Mei. Saling menatap tajam sambil berbicara dengan penuh semangat dan membuat gerakan tangan yang lebar, dua pendukung sepak bola Italia duduk di sebelah kiri saya, yang berselisih tentang pembatalan gol ketiga Como dalam pertandingan melawan "Inter", klub Faas Wilkes. Dalam perdebatan sengit mereka, mereka melupakan segala sesuatu di sekitar mereka, dan saat hidung mereka semakin dekat, apa yang telah saya duga sejak lama terjadi: mereka saling beradu fisik. Tetapi cara mereka melakukannya sangat berharga sehingga saya masih sakit perut karena tertawa. Pendukung Como, yang dagunya dihiasi janggut bergaya Balbo yang artistik dan yang jelas-jelas memenangkan duel verbal, merasa dirinya semakin berani seiring berjalannya perdebatan. Namun, tepat ketika dia berpikir dia dapat mengamankan kemenangan, seluruh gambaran pertempuran berubah dalam setengah detik. ‘Strijd om het baardje”. Gerakan tak masuk akal dari pendukung Inter itu berubah menjadi positif. Dan sebelum pendukung Como itu menyadari apa yang akan terjadi, janggut kecilnya dicengkeram erat dan kepalanya melakukan gerakan akrobatik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, cengkeraman janggut itu menandai akhir dari pertempuran. Para petugas bergegas maju dari segala arah untuk memisahkan para praktisi jiu-jitsu. Insiden kecil ini, yang berakhir tanpa pertumpahan darah dan mungkin hanya mengakibatkan leher kaku, menggambarkan dalam segala hal suasana dan atmosfer di tribun selama pertandingan sepak bola Italia. Ini adalah komedi dan drama sekaligus, di mana semua yang hadir berpartisipasi dengan antusiasme yang besar. Di lapangan, dua puluh dua seniman sepak bola yang telah melupakan lebih banyak tentang sepak bola daripada yang kita ketahui di negara kita pada umumnya, dan yang cukup artistik untuk menjual keterampilan mereka dengan cara yang artistik. Di tribun, ribuan penonton, yang juga menuntut bagian mereka dalam permainan. Para pemain sepak bola memainkan permainan mereka dengan sangat baik, meskipun keras dan rumit. Tetapi dalam segala hal yang mereka lakukan, pertanyaan mendasar selalu: bagaimana reaksi penonton saya? Bagi para seniman profesional, mereka adalah "pemain yang memikat penonton" dan ini adalah syarat yang penting, bahkan vital, karena popularitas mereka di kalangan penonton pada akhirnya menentukan apakah mereka akan tetap berada di garis depan. Mereka menampilkan pertunjukan sepak bola, dan sesuai dengan semua olahraga profesional, pertunjukan itu dirancang, di atas segalanya, untuk menciptakan efek. Tak terhitung banyaknya trik. Orang Italia menguasai seni ini dengan sempurna. Sore ini kita melihat banyak sekali trik dari kedua belah pihak, dengan para pemain yang menjatuhkan diri ke tanah bahkan sebelum bola dapat diarahkan kepada mereka. Ketika wasit meniup peluit untuk pelanggaran tersebut, lapangan sepak bola menjadi panggung tempat adegan-adegan penuh gairah berlangsung. Tidak pernah dalam satu sore pun saya melihat lebih banyak pengakuan ketidakbersalahan dan lebih banyak kemarahan palsu yang ditampilkan daripada dalam pertandingan sepak bola ini, yang sebenarnya tidak berarti karena posisi di klasemen praktis sudah ditentukan. Faas Wilkes juga telah menunjukkan banyak hal dalam hal ini. Dia juga menggunakan kedua tangannya dengan kekuatan yang penuh amarah ketika sesuatu yang menurutnya tidak dapat diterima membuatnya kesal. Sungguh pemandangan yang lucu melihat para pemuda Belanda yang rendah hati bermain dengan cara ini. Tetapi itu adalah bagian dari permainan, dan jika dia tidak melakukannya, para pendukung Inter pasti akan segera bosan dengannya. Pertandingan selalu diikuti dengan intensitas tinggi. Ketika para pemain melakukan kesalahan, para penonton tidak ragu untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka dengan jelas. Para penonton di tribun ikut berpartisipasi dalam setiap aksi yang terjadi, dan ketika penyerang tengah Inter menendang bola tinggi melewati gawang dari posisi bebas, saya langsung mendapat pelajaran visual di sebelah kanan saya tentang bagaimana seharusnya bola seperti itu dimainkan. "Bebaskan Horstelen." Tentu saja, mereka menggunakan sistem stopper-pivot di Italia, dan Wilkes sangat memahami perannya dalam sistem tersebut. Dia membantu bertahan jika diperlukan, dan selama serangan ke gawang, dia selalu berada di separuh lapangan sendiri untuk membantu mengalihkan permainan segera setelah serangan berhasil dipatahkan. Beberapa kali saya melihatnya mencoba melakukan salah satu larinya, yang membuatnya terkenal di Belanda. Tetapi tim lawan bereaksi secepat dia, sehingga dia tidak bisa langsung menerobos pertahanan. Selain itu, permainan ini sangat agresif sehingga akan sangat tidak bijaksana untuk terlalu lama menguasai bola. Karena jika seseorang gagal merebut bola secara sah, setidaknya ia dapat meraih pinggang pemain lawan atau menjatuhkannya dengan cara lain. Hal itu terjadi dengan cepat dan membuat suasana di tribun tetap meriah. Yang sangat mengecewakan para penggemar Inter, Como memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Sebuah kekecewaan, karena Inter mendominasi pertandingan pertama dengan skor 0-1. Selama lima menit terakhir, bola lebih banyak berada di tribun daripada di lapangan, karena pertahanan Como, yang disorak-sorai oleh para pendukungnya, senang memprovokasi penonton tuan rumah dengan terus-menerus menendang bola keluar, bahkan ketika sama sekali tidak ada alasan untuk itu. Pelakunya dijamin akan mendapatkan tepuk tangan meriah, dan ini dimanfaatkan dengan sangat cerdik. Ada kemungkinan besar kedua tim akan datang ke Belanda akhir tahun ini untuk memainkan sejumlah pertandingan. Dan! tanpa ragu, kita akan menyaksikan sepak bola yang sempurna, meskipun dari sisi Italia itu akan menjadi "sepak bola liburan". Namun, jangan terlalu meremehkan trik-trik yang digunakan para pemain ini, karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari sepak bola ini seperti anak kecil bagi ibunya. Dan saya yakin, kita akan terkejut jika menganggapnya serius.’. Foto: Perlatih klub Como (lihat Nieuwsblad van het Zuiden, 07-06-1950).

Liga Italia musim 1949/1950 telah berakhir. Klub AC Como yang diduga baru promosi telah berhasil membuat kejutan masuk dalam papan atas di akhir musim. Seperti biasanya klub-klub selepas musim yang melelahkan diadakan tour ke luar negeri. Klub AC Como melawat ke Belanda. Mengapa harus ke Belanda? 


Winschoter courant, 23-05-1950: ‘Tim liga spartan. Tim Liga Spartan amatir Inggris akan memainkan empat pertandingan di Belanda di bawah naungan Dana Van Weerden Poelmans, yaitu: 27 Mei di Enschede melawan tim Twente; 29 Mei di Exloo melawan tim Drenthe; 2 Juni di Eindhoven melawan PSV di Philips Sports Park; dan 4 Juni di Bergen op Zoom melawan tim Brabant di taman olahraga Roozenoord. Como juga bermain di Den Haag. Kini telah dikonfirmasi bahwa klub papan atas Italia, Como, yang datang untuk memainkan beberapa pertandingan di Belanda, juga akan bertemu dengan tim Den Haag. Pertandingan ini akan dimainkan pada hari Kamis, 8 Juni atau Jumat, 9 Juni di lapangan HBS’. Foto: Logo klub Como, 1950 (lihat Nieuwsblad van het Zuiden, 07-06-1950).

Klub Como yang dapat dikatakan baru pertama kali promosi ke liga teratas Italia pada musim 1949/1950 suatu keajaiban. Mengapa. Pada musim pertamanya sudah masuk dalam papan atas. Saat ini pelatih sepak bola klub Como (allenatore) adalah Mario Varglien. Nama Marion Varglien adalah salah satu pemain tengah timnas Italia di Piala Dunia 1934 di Italia (lihat Haagsche courant, 17-05-1934). 


Foto: Starting line up klub Como di stadion Como: berdiri dari kiri ke kanan: Alceo Lipizer, Franco Cardani (kiper), Alfredo Travia, Franco Pedroni, Luigi Bosco, Jan Chawko, Mario Stua (capitano); jongkok dari kiri ke kanan: Renato Ghiandi. Maronati, Ercole Rabitti, dan Riccardo Villa. Cadangan: Benito Meroni, Carlo Maesani dan Sergio Susmel (lihat Nieuwsblad van het Zuiden, 07-06-1950). 

Di Belanda klub AC Como melakukan sejumlah pertandingan. Klub AC Compo sepenuhnya adalah pemain-pemain lokal yang berasal dari seputar danau Como. Meski demikian para pemain Como membuat klubnya mendapat bintang. Lantas siapa pemaian bintang AC Como? Pemain bintangnya adalah Faas Wilkes asal/orang Belanda. Hal itulah diduga mengapa tour AC Como diarahkan ke Belanda. Faas Wilkes tampaknya pengganti Rinus Terlouw asal Belanda sempat dirumorkan pada awal musim.


Nieuwsblad van het Zuiden, 10-06-1950: ‘Pertemuan di Danau Maggiore. Faas Wilkes di Como. Faas mengatakan bahwa tim Como ini sepenuhnya "dibina sendiri" bahwa para pemain berasal dari kota itu sendiri dan lingkungan sekitarnya, dan bahwa dia jarang melihat tim yang berlatih begitu intensif. Selain itu, katanya, Anda akan melihat sendiri kemampuan para pemain ini. Saya bahkan tidak memberi tim nasional Belanda kesempatan melawan para seniman sepak bola ini. Lihat, sungguh menyenangkan mendengar kata-kata ini dari mulut seorang warga Belanda yang sekarang telah memahami seluk-beluk sepak bola Italia. Tentu saja, percakapan kemudian beralih ke pengalaman Faas di Milan. Wilkes sangat puas, memiliki temperamen yang baik, dan memainkan sepak bola yang menyenangkan, meskipun ia merasa menyesal bahwa sebagian pers Belanda terus menyebarkan laporan tendensius tentang dirinya, berbicara tentang kegagalan, dll. Dengan melakukan itu, para jurnalis ini menunjukkan bahwa mereka tidak memahami apa yang ditawarkan. Jangan sampai orang-orang di Belanda melupakan, di atas segalanya, bahwa sepak bola di Italia adalah masalah. Saya sendiri juga harus mempertimbangkan hal ini ketika akan menandatangani kontrak baru. Iklan dan pencapaian hasil berjalan beriringan di sini, demikian pandangan Wilkes selama percakapan yang menyenangkan ini’. Tabel: Klassemen Liga Inggris, divisi pertama dan divisi kedua (lihat Algemeen Dagblad, 13-11-1950). 

Dalam musim 1949/1950 klub AC Como dari kota Como disebut sebagai klub papan atas Italia. Namun tidak terinformasikan peringkat berapa di dalam klassemen akhir kompetisi. Boleh jadi papan atas adalah sepertiga atas, dimana sepertiga bawah adalah papan bawas. Oleh karena liga utama Italia sebanyak 20 tim, itu berarti sepertiga atas sekitar 6 klub teratas. Yang jelas setelah usai kompetisi Italia, klub Como melakukan tour ke Belanda untuk melawan tim-tim sepak bola setempat. Bagaimana situasinya pada musim berikutnya?

 

Dalam awal musim kompetisi liga utama Italia 1950/1951, klub asal kota Como dalam tiga pertandingan awal berada pada posisi ke-7 dengan poin 4 (lihat De Telegraaf, 25-09-1950). Tidak terinformasikan apakah poin tersebut merupakan dua kali menang satu kalah atau satu kali menang dengan dua kali imbang (lihat klassemen sementara). Dalam berita ini juga ditampilkan hasil klassemen liga di Prancis, Belgia, Belanda dan Inggris. Catatan: Liga utama Belanda terbagi ke dalam lima wilayah. Nieuwe Apeldoornsche courant, 03-10-1950: ‘Milan dan Bologna bersama-sama memimpin liga Italia dengan 8 poin dari 4 pertandingan. Internazionale, klub Wilkes, berada di posisi ketiga dengan 7 poin dan diikuti oleh Palermo, Juventus, dan Como, yang masing-masing memiliki 6 poin. Pro Patria, klub yang diperkuat Lakerberg, berada di posisi yang sama dengan Atalanta, Trieste, Napoli, dan Florence dengan 3 poin (10–14). Di posisi terbawah adalah Sampdoria dan Lucca, yang hanya berhasil mengumpulkan 1 poin dari 4 pertandingan’. Algemeen Dagblad, 16-10-1950: ‘Italia. Hasil pertandingan Divisi Pertama adalah sebagai berikut: Bologna-Padua 2-2, Florence-Juventus 1-2, Milan-Lucca 2-0, Napoli-Genoa 1-1, Palermo-Novarra 3-2, Pro Patria-Internazionale 2-0, Lazio-Roma 1-0, Sampdoria-Trieste 3-1, Turin-Como 2-2, Udine-Atalanta 2-1. Milan memimpin dengan 12 poin, diikuti Bologna dengan 11 poin, Juventus dengan 10 poin, dan Internazionale serta Lazio dengan 9 poin. Lucca berada di posisi terbawah dengan 1 poin’. De Maasbode, 31-10-1950: ‘Di Italia, hasil pertandingan yang dimainkan di Divisi Pertama adalah sebagai berikut: Bologna-Juventus 0-5; Florence-Atalanta 1-0; Lucca-Lazio 1-1; Mithan-Genoa 4-0; Napoli-Como 7-0; Pro Patria-Trieste 2-2; Roma-Novarra 0-0; Padua-Sampdoria 2-1; Turin-Palermo 2-1; Internazionale-Udine 3-1. Setelah delapan pertandingan, Milan memimpin dengan 15 poin, diikuti oleh Internazionale dan Juventus, keduanya dengan 13 poin’. 

Dalam musim 1950/1951 klub AC Como tidak terinformasikan posisinya jelang berakhir paruh musim. Yang terinformasikan AC Como kalah melawan Roma (yang berada di posisi bawah). Ini menjadi revans bagi Roma, yang mana pada putaran kedua musim sebelumnya mengalami kekalahan yang menyakitkan. Juga terinformasikan Faas Wilkes pada musim 1950/1951 ini sudah pindah ke Internazionale di Milan. Klassemen sementara di puncak berada Internazionale dan Juventus (juara musim lalu). Pemain bintang asal Belanda yang kini di Inter, Faas Wilkes bersama Gunnar Nordahl asal Swedia top skor (masing-masing dengan 10 gol). 


Algemeen Dagblad, 13-11-1950: ‘Italia. Hasil pertandingan yang dimainkan pada hari Minggu untuk Divisi Pertama Italia adalah sebagai berikut: Atalanta-Lazio 1-0; Florence-Trieste 3-1; Turin-Juventus 1-4; Milan-Internazionale 2-3; Napoli-Novara 3-0; Palermo-Padua 3-0; Pro Patria-Genoa 5-2; Roma-Como 2-0; Udine-Bologna 2-1; Sampdoria-Lucea 3-1. Juventus, juara tahun lalu, dan Internazionale saat ini berada di puncak klasemen, masing-masing dengan 17 poin. Milan, yang kalah dari Internazionale di kandang, akibatnya naik ke posisi ketiga klasemen dengan 16 poin. Di posisi terbawah adalah Genoa dan Roma dengan masing-masing 6 poin. Luces menutup klasemen dengan 5 poin. Pertemuan kandang antara Milan dan Internazionale, pertandingan ke-109 antara kedua klub, sangat penting karena Milan memimpin liga dengan Inter di posisi kedua. Sekarang, tentu saja, peran telah berbalik. Terlebih lagi, tiga pencetak gol terbanyak Italia bertemu, yaitu Faas Wilkes dan Gunnar Nordahl (masing-masing dengan 10 gol) dan Lorenzi dengan 9 gol. Milan, 12 November. Derbi sepak bola besar di sini antara klub Faas Wilkes, Internazionale, dan Milano, yang dimainkan di tengah gerimis, berakhir dengan kemenangan (3-2) untuk Internazionale. Trio penyerang tengah Milano asal Swedia, Gunnar Nordahl sebagai penggeraknya, membutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi. Inter memanfaatkan hal ini, terutama berkat permainan brilian Faas Wilkes, untuk unggul. Gol pertama dicetak oleh pemain sayap kanan asal Hongaria, Nyers, dan gol kedua oleh penyerang tengah asal Swedia, Skoglund. Dua tembakan keras dari Faas Wilkes sangat sulit dihalau oleh kiper Milano. Di babak kedua, penyerang tengah Milano, Nordahl, mencetak dua gol. Kemudian Inter mencetak gol kemenangan melalui penyerang tengah Skoglund. Faas Wilkes secara umum dianggap sebagai pemain terbaik di lapangan’. 

Dalam paruh pertama musim 1950/1951 AC Como berhasil mengalahkan Juventus. Sebagaimana diketahui Juventus adalah juara musim sebelumnya. Klub AC Como dalam klasemen sementara berada pada peringkat ke-7 dengan 13 poin. Pada posisi pertama adalah Inter dengan poin 19 yang disusul Milan di peringkat ke-2 dan Juventus di posisi ke-3. Setelah dua pertandingan beikutnya posisi menjadi: 1. Internazionale, Milan, Juventus dan Como (bandingkan dengan saat kalimat ini ditulis, hasil pecan ke-30: 1. Inter, 2. Milan, 3. Napoli, 4. Como). Lalu apakah dalam hal ini klub AC Como tetap konsisten? 


De waarheid, 20-11-1950: ‘Di Italia: Karena kekalahan Juventus melawan Como, Internazionale, klub Faas Wilkes, telah memimpin klasemen sendirian. Internazionale sendiri menang 3-1 melawan Palermo. Klasemen sekarang adalah: Internazionale 19 poin; Milan 18 poin; Juventus 17 poin; Lazio, Palermo, Bologna, dan Como 13 poin. Bologna menang 5-2 melawan Pro Patria, tim tempat Wim Lakenberg bermain’. 

Singkatnya, pada akhir musim 1950/1951 klub AC Como berada pada peringkat ke-8 dengan 40 poin. Ini seakan kurang lebih sama dengan pencapaian musim, sebelumnya. Yang menjadi juara adalah Milan dengan 60 poin dan di belakangnya dengan kurang dari 1 poin ditempati Internazionale. Peringkat terbawah adalah Roma 28 poin dan Genoa 27 poin. 


De Maasbode, 18-06-1951: ‘Sepak bola di Italia. Internazionale finis 1 poin di belakang juara Milan. Di Italia, pertandingan terakhir kejuaraan sepak bola telah dimainkan. Milan, yang dikalahkan 2-1 oleh Roma, tetap memegang gelar juara: mereka memperoleh 60 poin dari 38 pertandingan dan tidak dapat disusul lagi. Tempat kedua diamankan oleh Internazionale (klub Faas Wilkes) dengan 59 poin, diikuti oleh Juventus dengan 54 poin. Peringkat selanjutnya adalah: 4 Lazio 46 poin. 5 Florence 44 poin. 6 Napoli 43 poin. 7 Bologna 41 poin. 8 Como 40 poin. 9 Udine 35 poin. 10 Palermo dan Pro Patria masing-masing 34 poin. 12 Novara dan Sampdoria masing-masing 33 poin. 14 Atalanta 32 poin. 15 Turin, Lucca dan Trieste masing-masing 30 poin. 18 Padua 29 poin. 19 Roma 28 poin. 20 Genoa 27 poin. Hasil kemarin, hari terakhir, adalah: Bologna-Lazio 7-2, Internazionale-Genoa 5-2, Juventus-Atalanta 6-2, Lucca-Como 5-0, Padua-Naples 2-0, Pro Patria-Turin 4-0, Roma-Milan 2-1, Sampdoria-Palermo 5-1, Trieste-Novara 3-0, Undine-Florence 2-2. 

Pada musim 1951/1952 AC Como masih berpartisipasi dalam liga pertama Italia. Pada pertandingan pertama melawan Turin di kandang dengan skor 1-0 (lihat Algemeen Dagblad, 10-09-1951). Pada pertandingan pekan ke-2, masih di kandang sedniri klub Como mengalahkan klub Padua dengan skor 2-0 (lihat De waarheid, 17-09-1951). Disebutkan klub Como dan Milan saat ini berada di peringkat pertama dengan masing-masing 4 poin; Internazionale, Palermo, Juventus, dan Napoli berbagi peringkat ketiga hingga keenam, masing-masing dengan 3 poin. 


Klub Como dan klub (AC) Milan adalah ibarat bersaudara. Klub Como di kota Como dan klub AC Milan di Milan yang berjarak 45 Km. Dalam hal ini Milan adalah ibukota wilayah Lambordia dan ibukota Como adalah salah satu provinsi di Lambordia. Di ibukota di Milan ada dua klub besar AC Milan dan Inter Milan, dua klub yang awalnya satu klub di masa lampau (dimana terbentuk klub Inter-nasionale). Klub AC Milan dan klub Inter kini menjadi berseteru yang jika terjadi pertandingan derbi maka kesannya adalah terjadi perang saudara (kandung). Klub Como dalam hal ini menjadi adik angkat bagi klub AC Milan. Catatan: Wilayah (region) Piedmont beribukota di Turin. Di lembah Po sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Po region Piedmont di arah hulu, region Lombardia di tengah dan di arah hilir region Veneto (ibu kota di Venezia). Dua klub lama di kota Turin adalah Torino dan Juventus. Sedangkan di kota Venezia terdapat klub Venezia (didirikan tahun 1907, tahun yang sama dengan klub Como).

Klub Como memulai kompetisi dengan manis dan sumringah. Pada pekan ke-3, klub Como kembali meraih kemenangan, masih di kandang, klub Como mengalahkan tamunya Trieaste dengan skor 2-0 , sementara AC Milan imbang 1-1 lawan di kandang Udinese (lihat De waarheid, 24-09-1951). Disebutkan tempat pertama saat ini ditempati oleh Como dengan 6 poin. Juara bertahan Milan, beserta Napoli, Juventus, dan Internazionale (klub Wilkes) berbagi tempat kedua dengan masing-masing 5 poin. Namun situasinya berbeda pada pekan ke-4. 


Het Binnenhof, 01-10-1951: ‘Sepak bola di luar negeri: Como, tim teratas di liga Italia, mengalami kekalahan pertamanya melawan Spal. Como turun dari posisi pertama ke posisi kelima. Empat tempat teratas ditempati oleh Internazionale (Wilkes), Milan, Napoli, dan Juventus dengan tujuh poin. Como memiliki enam poin. Hasil pertandingan kemarin adalah sebagai berikut: Atalanta-Palermo 2-2; Juventus-Florence 2-0; Sampdoria-Legnano 2-1; Internazionale-Lazio 2-1; Milan-Pro Patría 5-1; Napoli-Lucca 2-0; Padua-Bologne 2-1; Spal-Como 1-0; Novara-Turin 1-0; Trieste-Udine 0-0’. 

Pada pekan ke-5 klub Como kembali menelan kekalahan di kandang klub AC Milang dengan skor 2-1 (lihat Algemeen Dagblad, 08-10-1951). Hasil tersebut semakin membenamkan klub Como ke bawah dengan tetap 6 poin. Klub-klub Internazionale, Milan, dan Juventus memimpin dengan 9 poin, disusul Napoli, Novara, dan Sampdoria dengan 7 poin. 


Pada awal tahun 1952, klub Como berada pada posisi 11 dengan 10 poin (lihat De Maasbode, 07-01-1952). Di posisi teratas Juventus dengan 26 poin. Singkatya pada bulan Mei klub Como semakin sulit meniti tanggal lagi namun masih aman dari degradasi (lihat Het Rotterdamsch parool, 26-05-1952). Disebutkan Juventus memperluas keunggulan di Liga Italia. Roma. Hasil pertandingan sepak bola Italia: Palermo-Spal 3-0; Florence-Trieste 3-2; Atalanta-Pro Patria 1-1; Lazio-Bologna 4-2; Como-Udine 5-0; Sampdoria-Internazionale 1-0; Juventus-Naples 1-1; Legnano-Milan 2-1; Luceze-Turin 3-0; Novara-Padua 2-1. Juventus memimpin dengan 55 poin, unggul dari Milan 47 poin, Internazionale 44 poin, dan Florence 40 poin. Di bagian bawah klasemen, tim-tim yang berada di posisi terbawah adalah: Bologna 27 poin, Padua 26 poin, Legnano 13 poin. Satu bulan kemudian akhirnya Juventus menjadi juara liga Italia (lihat Het Binnenhof, 23-06-1952). Disebutkan Juventus Menangkan Gelar Sepak Bola Italia. Kejuaraan sepak bola Italia dimenangkan oleh Juventus, yang mengalahkan Padua 2–1 dan dengan demikian meningkatkan total poin mereka menjadi 60. Milan finis di posisi kedua dengan 53 poin, dan Inter Milan, yang kalah dari Pro Patria dengan skor 5–1, menempati posisi ketiga dengan 49 poin. Legnano finis terakhir dengan 17 poin. Hasil pertandingan sepak bola Minggu lalu di Italia adalah: Juventus–Como 4–2, Lazio–Trieste 4–1, Legnano–Papiermo 1–1, Lucchesse–Spal 2–0, Milan–Florence 3–1, Napoli–Ataianta 3–1, Padua–Juventus 1–2, Pro Patria–Inter Milan 5–1, Sampdoria–Novara 3–1, Turin–Udine 0–0.. 

Pada musim 1951/1952 klub Como yang di awal musim cukup positif, tetapi di akhir musim semakin sulit baik untuk naik, tetapi masih bisa menjaduh dari zona degradasi. Pada klassemen akhir musim 1951/1952 tidak terinformasikan pada posisi berapa. 


Twentsche courant, 12-09-1952: ‘Pemain Asing di Klub Sepak Bola Italia: Bintang Sepak Bola dari 12 Negara. Roma. 11 September (AP.) — Para pemain sepak bola senilai dua belas juta dolar dari dua belas negara memulai kampanye Italia yang melelahkan hari ini, yang akan berlangsung selama 34 minggu. Durasi musim telah dikurangi empat minggu, karena jumlah klub telah dikurangi dari 20 menjadi 18. Italia telah memasok jumlah pemain terbanyak ke Italia, yaitu sebelas pemain untuk tujuh klub. Akan ada delapan pemain Swedia, empat pemain Hungaria, Argentina, tiga pemain Turki, dan dua pemain dari Belanda, Norwegia, dan Uruguay, Paraguay, Rumania, dan Cekoslowakia yang masing-masing mewakili klub Italia. Juventus Turin, yang memenangkan kejuaraan Italia tahun lalu dengan bantuan pemain Denmark John Nie, Karl Aage Hasen, dan Karl Aage, memainkan pertandingan pertamanya di luar kandang di Palermo. Milan, yang juara pada tahun 1951, sekali lagi memiliki trio gelandang Swedia Hun-Nordahl, Gunnar Gren, dan Niels Olm, tetapi berdasarkan peraturan baru, hanya dua dari mereka yang boleh diturunkan dalam setiap pertandingan. Di Bologna, yang memiliki empat pemain asing, mereka akan diistirahatkan setiap minggu. Internazionale dari Milan, yang finis ketiga di musim sebelumnya, mempertahankan dua pemain asingnya: Stephan Nyers dari Hongaria dan Lennart Skoglund dari Swedia. Faas Wilkes telah dibeli dari Internazionale oleh tim Turin, Torino, yang juga membeli Horst Buhts dari Jerman. Namun, Torino masih menunggu izin dari Asosiasi Sepak Bola Jerman dan kemungkinan besar tidak akan dapat menurunkan Buhts di pertandingan pertama. Fiorentina, yang finis keempat tahun lalu, memiliki tiga pemain asing: André Roosenburg dari Belanda, Danheimer Ekner dari Swedia, dan Kucuk Andonyadis dari Turki. Satu-satunya klub di divisi teratas yang tanpa pemain asing adalah Como, yang finis di urutan ketiga dari bawah klasemen musim lalu. Napoli, tim milik miliarder pemilik kapal Achilles Lauro, dengan bayaran termahal Hans Jeppson dari Swedia. Ia dibeli dari Atalanta seharga 170.000 juta lira Italia — sekitar 105 juta dolar — untuk apa ia bermain musim lalu. Jeppson telah menunjukkan dalam beberapa pertandingan persahabatan yang dimainkan pada bulan September bahwa ia sepadan dengan harganya. Pertandingan pertama di mana ia tampil menghasilkan pendapatan 105 juta lira, sehingga sudah lebih dari 10 persen dari harga pembelian yang dibayarkan untuknya. Menurut media, Jeppson adalah pemain dengan bayaran tertinggi yang pernah dikenal Italia. Menurut sebuah surat kabar, penghasilannya per tahun setara dengan penghasilan rata-rata pekerja Italia selama 160 tahun’. 

Pada musim 1952/1953 klub Como masih berpartisipasi di liga teratas Italia. Fakta bahwa klub Como satu-satunya klub yang tidak mendatangkan pemain asing, apakah akan mampu bersaing di Seria-A? Yang jelas pada pertandingan pertama di awal musim, tidak seperti musim lalu dengan lawan-lawan yang mudah, pada musim ini, pertandingan pertama langsung melawan klub Inter (lihat De Volkskrant, 15-09-1952). Disebutkan sepak bola di Italia. Roma, 14 September - Hasil pertandingan sepak bola divisi satu Italia hari ini adalah: Lazio-Udineses 1-2, Palermo-Juventus 1-1, Trieste-Roma 2-3, Bologna-Pro Patria 4-1, Como-Internazionale 0-1, Milan-Novaro 2-0, Naples-Atalanta 2-0, Turin-Sampdoria 2-0, Florence-Spal 1-1. Meski kalah, sejatinya klub Como tidak buruk-buruk amat. Mengapa? Inter adalah peringkat ketiga musim sebelumnya. Fakta bahwa klub Como musim ini tidak memiliki pemain asing, sementara Inter dengan pemain asingnya Stephan Nyers dari Hongaria dan Lennart Skoglund dari Swedia. Apalagi pertandingan ini diadakan di kandang Inter di Milan. 


Pada pecan ke-2, klub Como dapat menahan imbang tanpa gol melawan Spal di kandangnya (lihat De Maasbode, 22-09-1952). Pada pecan ke-3 klub Como di stadion Como berhasil menang lawan Palermo dengan skor 3-1 (lihat Algemeen Dagblad, 29-09-1952). Pekan ke-4 klub Como kalah dalam tandang melawan Navarro dengan skor 1-2 (lihat Algemeen Dagblad, 06-10-1952). Klub Como di kandang imbang 0-0 dengan Udinese (lihat Het Binnenhof, 13-10-1952). Pada klasemen Roma dengan 9 poin yang disusul oleh dua klub sekota Inter dan AC Milan yang masing-masing 8 poin serta Juventus dengan 7 poin. Dalam hal klub Como baru 4 poin. Pada pekan ke-6 klub Como kalah telak di kandang Roma 0-3 (lihat Het Binnenhof, 20-10-1952). Roma sekarang yang berada diperingkat pertama memiliki 11 poin yang disusul Inter dengan 10 poin. Pada pecan ke-8  klub Como di kandang sendiri dikalahkan Juventus dengan skor 0-1 (lihat Het Binnenhof, 03-11-1952). Roma vs Turin bermain tanpa gol sehingga puncak klassemen sementara terdapat dua klub: Roma dan Inter dengan sama-sama 12 poin. Pada pecan ke-9 sedikit lega bermain tanpa gol di kandang Sampdoria (lihat Het Binnenhof, 10-11-1952). Roma dengan 14 poin dan disusul Juventus dengan 13 poin. Pada pecan ke-10 klub Como kembali kalah 0-1 di kandang Bologna (lihat De Maasbode, 17-11-1952). Pada pecan ke-11 klub Como menang 2-1 melawan tamunya Napoli (lihat De Maasbode, 24-11-1952). Di posisi puncak Inter dengan 18 poin disusul Juventus dengan 17 poin. Pada pecan ke-12 klub Como imbang 1-1 di kandang Atalanta (lihat De Maasbode, 01-12-1952). Pada pecan ke-13 di kandang sendiri kalah lawan Lazio dengan skor 0-1 (lihat Het Binnenhof, 08-12-1952). Pekan ke-14 tuan rumah AC Milan mengalahkan klub Como dengan 4-2 (lihat Het Binnenhof, 15-12-1952). Pada klasemen Inter sendiri berada di puncak dengan 22 poin dengan selisis 3 poin dengan AC Milan dan Juventus. Sementara di papan bawah Turin memiliki 9 poin, Como, Spal, dan Novara masing-masing memiliki 8 poin. 

Klub Como di akhir paruh musim 1952/1953 tetap berada pada posisi zona degradasi (lihat Het Binnenhof, 22-12-1952). Disebutkan klub Como di kandang sendiri kalah dari Torino 0-1. Pasa posisi puncak Inter dengan 24 poin yang disusul Juventus 21 poin. Lantas apakah klub Como akan bisa bangkit untuk menjauhkan dari zona degradasi di paruh musim kedua? Tampaknya klub Como tidak mampu lagi menolong diri sendiri, yang akhirnya terdegradasi dari Serie-A. 


Pada paruh kedua musim 1953/1954, klub Como mengawalinya dengan kekalahan besar 1-4 dikandang Trieste (lihat Het Binnenhof, 05-01-1953). Pada pertandiangan kedua kembali kalah melawan tuan rumah Pro Patria dengan skor 0-2 (lihat Algemeen Dagblad, 12-01-1953). Inter semakin melesat ke atas dengan 28 poin. Klub Como kemudian sedikit bernafas setelah meraih kemenangan di kandang pada pertandingan ketiga melawan Florence dengan skor 2-1 (lihat Algemeen Dagblad, 19-01-1953). Namun kembali kalah di pertandingan keempat dari pemucak klasemen di kandang Inter dengan skor 1-3 (lihat Algemeen Dagblad, 26-01-1953). Posisi Inter dengan 32 poin semakin sulit dikejar Juventus dengan 25 poin. Bagaimana dengan posisi klub Como sendiri? Tampaknya semakin sulit pula keluar dari zona degradasi. Di pertandingan kelima klub Coma lagi-lagi menelan kekalahan dari tuan rumah Palermo dengan skor 0-2 (lihat Algemeen Dagblad, 09-02-1953). Sementara Inter terus berlari dengan 34 poin. Pada pertandingan keenam, klub Como imbang 0-0 dengan tamunya Novaro (lihat Het Binnenhof, 16-02-1953). Inter terus berlari dengan 36 poin, sementara Como berada di peringkat terakhir dengan 13 poin. Pada pertandingan ketujuh kembali klub Como kalah dengan tuan rumah Udinese dengan skor 0-1 (lihat Algemeen Dagblad, 23-02-1953). Inter semakin tidak terkejar dengan 38 poin dan secara teoritis dapat dikatakan menjuarai liga. Bagaimana dengan klub Como? Yang jelas pada pertandingan kedelapan klub Como di kandang mangalahkan Roma dengan skor 2-1 dan Inter dikalahkan tuan rumah Bologna (lihat Het Binnenhof, 02-03-1953). Pada pertandingan kesembilan derby Milan berbagai poin (Inter vs AC Milan) dan Juventus mengalahkan klub Como di Turin dengan skor 2-1 (lihat Het Binnenhof, 09-03-1953). Pada pertandingan kesepuluh klub Como di kandang mengalahkan Sampdoria dengan skor 1-0 dan Inter bermain imbang dengan Spal (lihat Het Binnenhof, 16-03-1953). Pada pertandingan kesebelas klub Como menang lawan tamunya Bologna dengan skor 1-0 (lihat Dagblad de stem, 23-03-1953). Inter lagi-lagi tersandung dengan imbang lagi. Pada pertandingan keduabelas kembali klub Como kalah di Naples dengan skor 0-1 (lihat Het Binnenhof, 30-03-1953). Inter masih di puncak dengan 41 poin yang semakin didekati Milan dengan 35 poin. Sedangkan klub Como tetap tidak bergeser dari dasar klasemen dengan 19 poin. Pada pertandingan ketigabelas klub Como di kandang menang lawan Atalanta dengan skor 2-1 (lihat Het Binnenhof, 07-04-1953). Klasemen di peringkat 1 Inter dengan 43 poin dimana di peringkat 2 AC Milan dengan 37 poin dan di peringkat 18 klub Como dengan 21 poin. Pada pertandingan keempatbelas klub Como kembali kalah di kandang Lazio dengan skor 0-2 (lihat Het Binnenhof, 13-04-1953). Pada pertandingan kelimabelas di kandang klub Como mampu mengalahkan AC Milan dengan sekor 3-1 sementara Inter bermain imbang (lihat Het Binnenhof, 20-04-1953). Meski demikian Inter tetap di puncak dengan 45 poin dan Juventus menggantikan posisi AC Milan di peringkat kedua dengan 40 poin. Klub Como sendiri tetap berada di zona degradasi. Fakta bahwa sisa pertandingan tinggal dua pertandingan lagi. Pada pertandingan keenambelas klub Como kalah di kandang Turin dengan skor 1-2 (lihat De Maasbode, 04-05-1953). Pada pertandingan ke-17 klub Como di kandang menang 2-0 dari Trieste (lihat De Maasbode, 11-05-1953). Posisi klasemen Inter 47 poin, Juventus 42 poin dan AC Milan 41 poin. Pada pertandingan terakhir klub Como di kandang menang lawan Pro Patria dengan skor 4-1 (lihat De Maasbode, 26-05-1953). Posisi klasemen Inter 47 poin, Juventus 44 poin dan AC Milan 42 poin, Naples 40 poin. Sedangkan di posii terendah klub Pro Patria dengan 22 poin. Dengan demikian juara musim 1952/1953 adalah Inter dan tiga klub yang terdegradasi adalah Spal, Pro Patria dan klub Como. Catatan: Pada musim 1953/1954 klub yang berkompetisi di liga teratas Italia:  1 Atalanta, 2 Sampdoria, 3 Genua, 4 Inter, 5 Lazio, 6 Trieste, 7 AC Milan, 8 Bologna, 9 Naples, 10 Roma, 11 Novara, 12 Juventus, 13 Spal, 14 Palermo, 15 Turin, 16 Florence, 17 Udinese, 18 Legnano. Jadi dalam hal ini terdegradasi dua klub Pro Patria dan Como sementara yang promosi dua klub: Legnano dan Genua.

Lantas apakah ada yang ditangisi dari terdegradasinya klub Como di akhir musim 1952/1953? Tampaknya air mata klub Como sudah habis selama musim berjalan. Mengapa? Sebelum memasuki musim, klub Como sudah menangis sendiri karena terbilang tidak mampu mendatangkan pemain asing yang tentunya berkualitas. Hanya klub Como satu-satunya pada musim ini yang tidak memiliki pemain asing. Dampak pemain asing juga muncul di dalam pembentukan tim nasional Italia. 


Overijsselsch dagblad, 13-06-1953: ‘Sepak Bola di Italia Menghadapi Krisis Parah: Bintang Asing Kini Dituduh. Roma. Di Italia, musim sepak bola telah berakhir dengan catatan suram. Jurnalis olahraga memprediksi bahwa sepak bola di Italia menghadapi krisis serius. Mereka mengatakan, semua itu adalah kesalahan bintang asing. Sebagian besar adalah pemain Skandinavia. Para pemain asing itu terlalu bagus. Mereka memonopoli posisi-posisi kunci di tim-tim Italia, dan akibatnya, pemain Italia tidak mendapatkan pengalaman yang cukup. Prestise Italia dipertaruhkan dalam pertandingan internasional. Pemain asing tidak dapat dipilih untuk tim nasional. Namun, karena persaingan dari pemain asing, pemain Italia kekurangan pengalaman yang dibutuhkan untuk pertandingan internasional. Tahun ini, Italia tampil buruk melawan Cekoslowakia dan Hongaria, dan para penggemar sepak bola kini sangat kecewa. Pemerintah Italia telah memutuskan bahwa permohonan izin tinggal dari pemain asing baru tidak akan diberikan. Tetapi protes juga muncul terhadap hal ini, karena pemain asing di liga merupakan daya tarik utama bagi publik dan dengan demikian bagi kas klub. 39 pemain dari 12 negara asing berpartisipasi dalam liga Italia, mewakili total nilai hampir 50 juta gulden dalam talenta asing. Di antara mereka terdapat 7 pemain Denmark, yang tersebar di 7 tim, serta pemain Swedia, Norwegia, Hongaria, Argentina, Turki, Belanda, Jerman, Ceko, dan Rumania, dan kemudian satu dari Uruguay dan satu dari Paraguay. Dalam pertandingan yang dimainkannya untuk Napoli, ia menarik penonton yang menghasilkan 15 juta lire, yang lebih dari 10 persen dari harga pembelian. Menurut surat kabar, Jeppson adalah orang dengan bayaran tertinggi di Italia, negeri dengan gaji rendah. Para penggosip telah menulis bahwa ia menerima gaji tahunan yang setara dengan 160 tahun upah pekerja biasa di Italia. Ada hal lain: tim Como, satu-satunya yang memasuki kompetisi dengan skuad yang seluruhnya terdiri dari pemain Italia, adalah salah satu dari dua tim yang terdegradasi tahun ini. Dan itu juga telah menyebabkan perselisihan. Tim-tim yang bermain di divisi teratas tidak diperbolehkan menurunkan lebih dari tiga pemain asing. Karena peraturan baru pemerintah, hanya mereka yang sudah pernah bermain yang diizinkan untuk tetap tinggal. Akibatnya, para pemain yang ingin kembali ke negara asalnya menerima tawaran besar untuk tetap tinggal. Napoli, tim milik jutawan pemilik perusahaan pelayaran Achille Lauro, walikota Napoli, yang terutama menggunakan para pemain sepak bola untuk mempopulerkan partai monarkinya, sedang mengakuisisi pemain dengan bayaran tertinggi dalam sejarah sepak bola Italia, yaitu pemain ajaib Swedia, Hans Jeppson. Dialah yang hampir sendirian mengalahkan Italia di Piala Dunia 1948 di Rio, ketika ia masih bermain untuk Swedia. Lauro membelinya seharga 750.000 guilder dari sebuah klub di Bergamo, tempat ia bermain pada musim 1951–52. Jeppson telah membuktikan nilainya. Dalam pertandingan pertama... Larangan tersebut memberikan pengecualian untuk pemain keturunan Italia. Tim Roïna adalah yang pertama kali mendapat manfaat dari hal ini. Lima hari setelah kejuaraan, klub tersebut mengumumkan telah mengontrak bintang sepak bola Alcides Edoardo Ghiggia dari Uruguay, yang kakek-neneknya berasal dari Italia. Namun, klub berharap bahwa keputusan akhir tentang larangan tersebut belum diambil. Genoa kini menjadi rumah bagi dua pemain Denmark baru, Peter Tostensen dan Wladimir Kendzioz. Manajemen klub beralasan bahwa di Italia yang cerah ini, dengan tradisi Latinnya, orang-orang mudah berubah, begitu pula aturan yang mereka buat. Oleh karena itu, mereka berharap larangan tersebut akan dilonggarkan pada akhirnya’. 


Musim 1953/1954 sudah berjalan. Klub Como kini sedang berjuang di divisi kedua liga Italia. Klub Como tampaknya sangat berambisi utuk segera kembali promosi ke liga teratas Italia. Kini klub Como dipimpin oleh seorang akuntan terkenal di Milan, (Signor) Bonizzoni. 


Twentsche courant, 19-09-1953: ‘Berita Olahraga dari Italia: Kekaisaran Sepak Bola Italia Berperang Melawan Pemain Asing; Bonifaci Menjadi Pengecualian. Roma. Signor Bonizzoni adalah tokoh penting dalam kekaisaran sepak bola Italia. Dalam kehidupan sehari-hari, ia adalah seorang akuntan yang terhormat dan banyak dicari di Milan, tetapi dalam bisnis sepak bola, Bonizzoni adalah Karel Lotsy dengan caranya sendiri. Karena signor ini, yang ramah dan sopan dalam segala keadaan, belum lama ini tidak lebih dari tangan kanan dari taipan tekstil yang sangat kaya, Beretta, tokoh yang hampir mahakuasa hingga beberapa bulan lalu dalam segala hal yang berkaitan dengan sepak bola di Italia. Beretta adalah anggota komite teknis dan seleksi, dan satu-satunya orang yang dia ajak berkonsultasi mengenai komposisi tim nasional adalah Bonizzoni, akuntan dan manajer Como yang teliti dan cermat. Setelah hasil yang kurang memuaskan dari tim nasional Italia di musim lalu—kekalahan 3-0 melawan Hungaria di Roma pada bulan Juni menutup peluang—asosiasi sepak bola, bagaimanapun, dengan tegas mencopot Beretta dari posisinya yang hampir tak tersentuh, dan itu berarti Bonizzoni juga jatuh dari posisi tinggi yang selama ini membuatnya dipuji oleh jutaan penggemar sepak bola sejati. "Belum Ada Masa Tinggal yang Menyenangkan" Signor Bonizzoni tetap menjadi manajer, seorang manajer hebat. Musim panas itu ia melakukan perjalanan ke Inggris dan di sana ia juga mengunjungi Arsenal, yang pada saat itu, masih belum menyadari hari-hari berat dan menyedihkan yang akan datang, dianggap sebagai klub terkuat di Inggris. Tidak heran, kemudian, bahwa akuntan Italia itu mengetuk pintu Jack Crayston, sekretaris The Gunners, dan memintanya untuk menunjukkan beberapa rahasia Arsenal. Dan itu terjadi dengan cepat, karena — seperti yang kemudian dikatakan Bonizzoni kepada seorang reporter Italia dalam sebuah wawancara — orang Inggris sangat ingin menjaga hubungan dengan negara-negara sepak bola asing sebaik mungkin. Akuntan asal Milan dan manajer Como itu sangat terkesan dengan semua yang diizinkan untuk dilihatnya di Highbury. Terlebih lagi, ia sangat menghormati kemampuan dan kualitas Tom Whittaker dan Winterbottom, "Bersama kami di Italia"— ia memberi tahu Craystone — "asosiasi sepak bola berencana untuk menunjuk seorang Swedia sebagai penasihat teknis untuk menunjuk seorang komisaris". Atau lebih tepatnya seorang Ceko, karena Czeizler ini pindah dari Skandinavia ke Praha di usia muda. Asosiasi manajer Italia tentu saja memprotes keras penunjukan yang akan datang ini. Lagipula, kita tidak punya apa-apa lagi untuk dipelajari dari orang-orang seperti itu; oleh karena itu, mari kita pertahankan seorang rekan senegara di posisi itu. Pemain sepak bola Italia masih bisa belajar banyak dari Winterbottom atau Whittaker. Kita tentu tidak akan keberatan dengan orang-orang ini. Kecemburuan yang dapat dimengerti. Ada pertempuran diam-diam yang terjadi di dunia sepak bola Italia melawan pemain asing yang, selama bertahun-tahun, tergoda oleh sejumlah besar uang, telah datang ke Selatan dan jumlah mereka akhirnya meningkat begitu banyak — tidak ada tempat di Eropa di mana sepak bola dikomersialkan seperti di Italia — sehingga pengaruh mereka menjadi terlalu dominan pada jalannya peristiwa dalam sepak bola. Kampanye yang tidak mencolok melawan pemain asing dimulai lebih dari setahun yang lalu. Peraturan dari atas yang menyatakan bahwa sebuah klub tidak boleh mempekerjakan lebih dari tiga pemain asing merupakan awal mula dari persaingan yang perlahan tumbuh dan terus-menerus antara para penguasa sepak bola Italia, yang harus puas dengan gaji biasa, dan raksasa asing yang meraup sejumlah besar uang untuk sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan oleh orang Italia dengan sama baiknya. Dengan beberapa pengecualian. Salah satu pengecualian tersebut adalah Antoine Bonifaci, gelandang kanan Nice dan tim nasional Prancis. Internazionale mengincarnya dan menawarkan Nice sejumlah besar uang jika mereka bersedia melepaskan Bonifaci dari kontraknya. Namun, Federasi Sepak Bola Italia belum memberikan persetujuan untuk pembelian tersebut, sehingga Bonifaci tetap berada di Prancis. Meskipun demikian, transfer tersebut tampaknya akan berhasil sekarang karena "Inter" telah mengumpulkan dokumen yang membuktikan bahwa Antoine adalah warga negara Prancis yang dinaturalisasi (orang tuanya adalah orang Italia; kebetulan, namanya menunjukkan hal itu). Ini akan menjadi kerugian besar bagi Prancis, tetapi Marianne memiliki beberapa pemain muda yang sedang berkembang, seperti Ferry, Penverne, dan Marcel, sehingga mereka kemungkinan akan mengatasi kehilangan ini. Tidakan ada penginmapan yang menyenangkan. Sementara itu, kampanye diam-diam telah menghasilkan begitu banyak hasil sehingga beberapa pemain asing telah mengucapkan selamat tinggal kepada lapangan sepak bola Italia. Memang, mereka pergi secara sukarela seolah-olah tidak ada yang salah; namun, pada kenyataannya, suasananya telah menjadi sedemikian rupa sehingga tinggal lebih lama di Italia tidak akan menyenangkan. Kecuali seseorang memiliki mentalitas sekeras batu. Beberapa pemain Belanda yang pergi untuk mencari keberuntungan sepak bola mereka di Italia benar-benar mereka pergi satu per satu. Pertama Lakenberg (Pro Patria), lalu Roozenburg (Fiorentina), dan akhirnya bintang dari trio tersebut, Faas Wilkes (Internazionale). Ketiga pemain ini menjelaskan kepada para pewawancara bahwa mereka senang kontrak mereka telah berakhir. Sepak bola di Italia sangat keras, terlalu komersial, dan sangat egois dalam sentimen patriotiknya yang murni. Harus tinggal di sana sebagai orang asing bukanlah hal yang menyenangkan (tidak pernah menyenangkan), dan dengan peraturan yang semakin ketat, hal itu bahkan bisa menjadi sangat menjengkelkan. Surat yang baru-baru ini ditulis Albert Gudmundsson kepada Tom Whittaker adalah sebuah jeritan yang menyayat hati: "Saya berharap bisa pergi dari sini, tetapi kontrak saya belum berakhir dan mereka tidak ingin membiarkan saya pergi begitu saja. Seandainya saja saya tidak pernah meninggalkan Inggris dan tidak pernah meninggalkan tanah air saya Islandia. Saya ingin segera kembali ke Islandia, tetapi mereka tidak menginginkan saya di sana sebagai pemain sepak bola lagi. Dan saya tidak bisa melakukan hal lain". 

Sebagai seorang akuntan yang memahami bagaimana perputaran uang menciptakan keberlangsungan bisnis (Signor) Bonizzon, akan menambah kekuatan klub Como dengan mendatangkan pemain asing. Salah satu poemain asing di klub Como adalah pemain sepak bhola asal Hungaria. Lalu dengan demikian, apakah klub Como akan segera kembali ke liga teratas Italia? 


Nieuwe Tilburgsche courant, 08-10-1954: ‘Dua pemain Hungaria lagi untuk Twente Frofs? NV Twentse Professionals sedang melakukan negosiasi dengan dua pemain Hungaria. Salah satunya saat ini bermain sebagai penyerang tengah di klub Jerman di liga utama. Kemungkinan besar ia akan bermain Sabtu mendatang di Hengelo dalam pertandingan melawan Fortuna dari Geleen, lapor de Volkskrant. Selama kontrak belum final, Twente Professionals tidak akan mengungkapkan nama pemain ini. Hal ini juga berlaku untuk pemain Hungaria kedua yang telah dihubungi dan saat ini bermain untuk Como di Italia. Jika negosiasi berhasil diselesaikan, Twente Professionals akan memiliki tiga pemain Hungaria dalam skuad mereka, bersama dengan Dani’. 

Pada musim 1954/1955 klub-klub yang berkompetisi di liga teratas Italia adalah 1 Atalanta, 2 Napoli, 3 Bologna, 4 Juventus, 5 Lazio, 6 Inter, 7 AC Milan, 8 Genoa, 9 Sampdoria, 10 Roma, 11 Torino, 12, Fiorentina, 13 Triestina, 14 Spal, 15 Udinese, 16 Novara, 17 Catania, 18 Pro Patria. Catatan: terdegradasi Legnano dan Palermo (digantikan yang promosi: Pro Patria dan Catania). Muncul rumor terdapat masalah yang tersisa dalam musim ini. Apa itu? Diduga telah terjadi skandal korupsi di tubuh klub Udinese dan Catania. Ada rumor jika itu terbukti, dua klub itu di dalam liga teratas Italia dapat digantikan oleh klub Spal dan Pro Patria (dua yang terdegradasi) dan klub Como (klub peringkat ketiga divisi kedua).

 

Nieuwe Tilburgsche courant, 01-09-1955: ‘Sepak Bola. Hukuman terhadap Udinese dan Catania Ditegakkan. Hukuman terhadap klub sepak bola Italia Udinese dan Catania, yang terdegradasi dari divisi pertama ke divisi kedua karena korupsi, telah ditegakkan selama proses banding, demikian diumumkan secara resmi di ibu kota Italia. Dengan keputusan ini, tampaknya skandal sepak bola yang baru-baru ini menimbulkan kehebohan di Italia telah berakhir untuk sementara waktu. Belum diketahui apakah klub lain akan menggantikan klub yang terdegradasi di divisi pertama, Spal, Como, dan Pro Patria berpotensi dipertimbangkan untuk hal ini’. 

Namun rumor itu cepat berlalu dan menghilang. Yang jelas klub Catania yang baru promosi  pada musim lalu dan klub Udinese dihapus dalam kompetisi liga teratas Italia. Dalam liga teratas ini tetap terdapat klub Pro Patria dan Spal. Daftar lengkapnya sebagai berikut: 1. Fiorentina, 2 Bologna, 3 Genoa, 4 Padova (promosi), 5 Juventus, 6 Sampdoria, 7 Lanerossi (promosi), 8 Torino, 9 AC Milan, 10 Inter, 11 Pro Patria, 12 Napoli, 13 Spal, 14 Novara, 15 Triestina, 16 Atlanta, 17 Roma, 18 Lazio. 


Seperti disebut di atas, tampaknya hukuman atas skandal korupsi telah benar-benar diterapakan kepada klub Udinese dan Catania. Untuk menggantikannya dua klub yang awalnya terdegradasi Spal dan Pro Patria tetap berada di liga teratas. Sementara dari liga kedua yang promosi adalah Padova dan Lanersossi. Klub klub Como (dalam kasus ini) tidak beruntung untuk menggantikan salah satu dari empat klub di liga teratas (dua dihukum dan dua terdegradasi). Foto: Banjir di Lapangan Cavour di Como, air mencapai rumah-rumah. Angsa-angsa Danau Como telah memperluas wilayah mereka. Penduduk dan wisatawan harus menemukan jalan mereka melalui jalan setapak (lihat Trouw, 22-09-1960).

Klub kota Como baru terinformasikan kembali satu dekade berikutnya pada tahun 1963. Alih-alih ingin mendengar kabar promosi ke divisi satu Serie-A, klub Como justru yang terinformasikan klub Como terdegradasi ke divisi ketiga (lihat De Gooi- en Eemlander, 18-06-1963). Disebutkan Messina, Lazio, Roma, dan Bari dipromosikan ke divisi pertama sepak bola Italia. Klub Lucques, Como, dan Sambenedetto del Tronto terdegradasi ke divisi ketiga. Luigi Meroni pemain timnas Italia kelahiran Como tentu saja menyayangkan klub Como terdegradasi ke divisi 3. 


De Volkskrant, 16-10-1967: ‘Luigi Meroni meninggal dunia. Turin. 16 Oktober (AP).  Luigi Meroni, pemain sepak bola Italia untuk tim nasional Italia dan Torino, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil pada Minggu malam. Meroni yang masih lajang berusia 24 tahun. Ia merupakan bagian dari skuad Italia yang berpartisipasi di babak final Piala Dunia di Inggris tahun lalu. Meroni bernilai 3,5 juta guilder bagi klubnya. Hanya beberapa jam sebelum kecelakaan, Meroni bermain untuk Torino melawan Sampdoria Milan (4–2). Meroni ditabrak mobil tepat di depan rumahnya. Ia dibawa ke rumah sakit tetapi meninggal dunia saat menjalani operasi. Pemain internasional ini sangat populer di Italia. Ia dijuluki beatnik sepak bola nasional karena rambutnya yang panjang, janggutnya, dan kumisnya. Meroni, yang lahir di Como, pernah bermain untuk Genoa dan pindah ke Torino pada tahun 1964’. Catatan: Nama Luigi Meroni dibedakan dengan nama pemain klub Como tahun 1950 Benito Meroni.Foto: Danau Como meluap di beberapa tempat akibat curah hujan lebat di Italia. Cavourpleiti di Como juga tergenang banjir, dan angsa-angsa kini berenang di jantung kota. Air mencapai beberapa desimeter di atas trotoar, dan warga harus menyeberangi jalan setapak yang dibuat secara tergesa-gesa (lihat Het vaderland, 22-09-1960).

Warga provinsi Como tidak hanya menangisi klub kesayangan yang promosi ke divisi ketiga, warga Como juga merasa sangat kehilangan idola mereka Luigi Meroni pemain timnas Italia kelahiran Como meninggal karena tertabrak mobil. Bahkan ada pendukung sepak bola Coma yang tidak yakin apakah Luigi Meroni benar-benar telah meninggal dan kemudian membongkar makamnya. 


Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland, 29-12-1967: ‘Pria Sakit Jiwa Menggali Kembali Jenazah Pesepakbola Terkenal Italia. Pihak berwenang di Como kemarin menguburkan kembali jenazah pesepakbola Italia Gigi Meroni setelah menangkap seorang pria yang menyerahkan diri setelah menggali kembali jenazah tersebut. Pria itu, Gianni Viti (34), mengatakan bahwa "kekuatan gelap" telah memerintahkannya untuk membuka kuburan pesepakbola yang tertabrak mobil pada 15 Oktober, "untuk melihat apakah Meroni benar-benar dikuburkan, atau apakah itu boneka". Meroni, yang dijuluki "beatnik sepak bola Italia" oleh para pendukungnya karena kumisnya yang melengkung dan rambut panjangnya, berprestasi di tim yang datang ke Inggris untuk Piala Dunia tahun lalu. Pemain Torino itu dimakamkan kembali kemarin dalam peti mati baru’. Foto: Hujan lebat di Como. Sejumlah besar pengunjung resor wisata di Danau Como ini dikejutkan beberapa hari yang lalu oleh hujan deras yang mengubah jalanan menjadi aliran air dalam hitungan menit (lihat De Maasbode, 17-06-1939)

Klub Como kemali terinformasikan pada tahun 1969. Klub Como berpartisipasi dalam Piala Italia. Namun di dalam kompetisi liga Italia tidan terinformasikan klub Como tengah berada di divisi mana. Yang jelas klub-klub berkompetisi pada musi 1968/1969 di liga teratas Italia adalah sebagai berikut: 1. Bologna, 2 Atalanta Bergamo, 3 Cagliari, 4 AS Roma, 5 Inter, 6 Pisa, 7 Juventus, 8 Torino, 9 Lanerossie, 10 AC Milan, 11 Palermo, 12 Napoli, 13 Sampdoria, 14 Fiorentina, 15 Verona, 16 Varese.


De nieuwe Limburger, 06-09-1969: ‘Musim sepak bola di Italia kini juga telah dimulai dengan putaran pertama piala sepak bola Italia. AC Milan, juara Piala Eropa, hanya bermain imbang melawan Varese. Hasil putaran pertama piala: Arezzo - Fiorentina 0-2, Bari - Livorno 2-1 Catanzaro - Cagliari 0-l, Palermo - Catanja 4-l, Milan - Varese I-l. Como – Verona 3-4, Genoa – Sampdoria I-l, Pisa – Inter 0-l, Mantova – Juventus 0-0, Brescia – Atalanta I-2, Pacenza – Torino I-l, Monza – Vicenza 2-l, Foggia – Casetana I-0, Regina – Napoli I-l, Perugia – Lazio I-l, Ternana – Roma 0-0, Cesana – Modena 0-0, Bologna – Reggiana 2-0’. 

Pada musim 1969/1970 di liga teratas Italia adalah 1. Bologna, 2 Lazio, 3 Cagliari, 4 Lanerossi, 5 AC Milan, 6 Bari, 7 Napels, 8 Fiorentina, 9 Palermo, 10 Inter, 11 Roma, 12 Brescia, 13 Torino, 14 Sampdoria, 15 Verona, 16 Juventus. Pada musim ini Lazio dan Bari adalah klub promosi (untuk menggantikan dua klub yang terdegradasi Atalanta Bergamo dan Varese). 


Klub Como terinformasi terakhir pada tahun 1963 yang terdegradasi ke divisi 3. Besar dugaan pada musim 1968/1969 pada saat terinformasi berpartisipasi dalam Piala Italia klub Como sudah berada (kembali) di divisi 2. Seberapa lama klub Como di divisi 3 tidak terinformasikan. 


Seberapa lama pula klub Como di divisi 2 juga  tidak terinformasikan. Yang jelas klub Como kembali promosi ke divisi pertama (utama) liga Italia pada tahun 1975 (lihat Het Parool, 27-06-1975). Disebutkan Verona promosi ke Divisi Pertama Italia, mengikuti jejak Perugia dan Como. Dalam pertandingan penentu, Verona mengalahkan Catanzaro dengan skor 1-0. Dalam musim 1975/1976 di liga teratas Italia adalah 1 Torino, 2 Juventus, 3 AC Milan, 4 Napoli, 5 Inter Milan, 6 Cesena, 7 Bologna, 8 Perugia, 9 Fiorentina, 10 Roma, 11 Verona, 12 Lazio, 13 Ascoli, 14 Sampdoria, 15 Cagliari, 16 Como.


Het Parool, 06-10-1975: ‘Italia: Ascoli-Fiorentina I-0, Bologna-AC Torino 1-0, lnternazionale-Cesena 0-0. Juventus-Verona 2-1. Napoli-Como 2-0. Perouse-AC Milan 0-0, AS Roma-Cagliari 1-1, Lazio-Sampdoria 1-0. Het Parool, 13-10-1975: ‘Italia. US Cagliari-AC Ascoli 0-0. AC Cesena-AS Roma 2-0. Como-Juventus 2-2. Fiorentina-SSC Napoli 1-1. Lazio Roma- lnternationale Milan 1-1, AC Mllan-Sampdoria 1-0. AC Torino-Peruggia 3-0, Verona-AC Bologna 1-0. Algemeen Dagblad, 12-04-1976: ‘Italia. Bologna - Sampdoria 1-0, Cagliari - Lazio 2-1, Como Torino 0-1, Juventus - Ascoli 2-1, Milan - Fiorentina 2-1, Napoli - Inter Milan 3-1, Roma Perugia 1-2, Verona - Cesena 2-2. Torino 25-38, Juventus 25-37, Milan 25-34, Napoli 25-31, Inter M. 25-30, Cesena 25-28, Bologna 25-28, Perugia 25-27, Fiorentina, Roma 25-22, Verona 25-19, Lazio 25-18, Ascoli 25- 18, Sampdoria 25-18 Cagliari, Como 25-13’.

Klub Como kembali ke liga utama Italia pada musim 1975/1976 setelah 23 tahun. Klub Como degradasi ke liga kedua pada musim 1952/1953. Dalam rentang waktu 23 tahun tersebut klub Como juga sempat degradasi ke divisi ketiga dan kemudian naik lagi ke divisi kedua. Pada musim 1975/1976 ini klub Como kembali ke divisi utama liga Italia dan tampaknya tidak akan bertahan (sekadar “numpang lewat”).


Algemeen Dagblad, 10-05-1976: ‘Italia. Ascoli - Bologna 0-0, Cagliari - Fiorwitina 2-1, Cesena - Conin 2-0, Inter - Roma 2-0, Juventus - Sampdoria 2-0, Lazio - Milan 4-0, Napoli - Perugia 4-0, Verona - Torino 0-0. Torino 29-44, Juventus 29-43, Milan 29-38, Napoli 29-36, Inter 29-35, Bologna 29-32, Cesena 29-31, Perugia 29-29, Fiorentina 29-26, Roma 29-24, Verona 29-23, Sampdoria 29-22, Ascoli 29-22, Lazio 29-22, Como 29-20, Cagliari 29-17.

Klub Como tampaknya kesulitan bersaing di liga utama Italia. Pada pelamn ke-25 klub Como sempat ke posisi terendah. Pada minggu ke 29 klub Como memang naik satu peringkat, namun masih ada peluang untuk lolos degradasi dari sisa 3 pertandingan terakhir asalkan klub-klub peringkat bawah lainnya tersandung.

 

Limburgsch dagblad, 21-06-1976: ‘Roma. Setelah pertandingan pada pekan terakhir divisi utama Italia, telah dipastikan bahwa Genoa, Catanzaro dan Foggia akan bermain di divisi kedua musim depan. Klub-klub ini akan menggantikan Ascoli, Como, dan Caglieri’. 

Klub Como tidak mampu bertahan di liga utama Italia. Klub Como terpaksa terdegrasi. Hanya satu musim di liga utama. Klub Como kembali berkompetisi di divisi kedua. Dalam perkembangannya pada tahun 1980 klub Como kembali promosi. 


NRC Handelsblad, 15-09-1980: ‘Italia. Bologna - Ascoli 1-0, Brescia - Avellino 1-2, Cagliari - Juventus 1-1. Como - Roma 0-1. Fiorentina - Perugia 1-0. Napels - Cantranzaro 1-1. Torino - Pistoiese 1-0, Udinese - Internationale 0-4’. De: Volkskrant, 29-09-1980: ‘Italia. Bologna-Rome 1-1, Bescia-Juventus 1-1, Cagliari-Ascoli 2-0, Como-Internazionale -0, Fiorentina-Catanzaro 1-1, Napels-Pistoise 1-0, Torino-Avellino 2-0, Udinese-Peregia 1-1. Fiorentina 3 5; Roma 3 5, Inter 3 4, Juventus 3 4, Torino 3 4, Catanzaro 3-4, Napoli 3-3, Cagliari 3-3, Ascoli 3-2, Como 3-2, Udinese 3-2, Brescia 3-1, Pistoiese, 3-1,  Bologna 3 min 1; Perugia 3 min 1; Avellino 3 min 3’. 

Klub Como pada musim 1980/1981 masih bisa bertahan di peringkat 13 dari 16 klub. Dalam hal ini klub Como nyaris terdegradasi. Lantas bagaimana dengan musim berikutnya 1981/1982? Pada musim 1981/1982 klub Como tetap kesulitan untuk bangkit. Pada akhir musim klub Como masuk ke zona degradasi. Satu yang perlu dicatat disini adalah saat klub AC Milan melakukan pertandingan tandang pada pekan ke-23 melawan klub Como di stadion Como. Pendukung AC Milan mengamuk menghancurkan stadion Como. Mengapa? 


Algemeen Dagblad, 24-03-1982: ‘Teror di Italia. Pemerintah Italia akan menangani vandalisme yang dilakukan oleh pendukungnya dengan lebih tegas. Titik terendah baru dicapai akhir pekan lalu ketika pendukung Roma membakar kereta dalam perjalanan pulang dari Bologna (kalah 0-2) (lihat foto). Andrea Vitone yang berusia 14 tahun tewas dalam kobaran api. Dua puluh ribu pendukung AC Milan menghancurkan stadion Como. Para pemain klub tuan rumah dilempari batu, namun yang lebih parah lagi, Collovati dari Milan juga terkena lemparan. Setelah itu polisi menangkap 440 orang’. 

Ini bermula pada pekan ke-22 yang mana klub AC Milan dan klub Como sama-sama berada di zona degradasi: AC Milan 15 poin dan Como 10 poin. Lalu pada pecan ke-22 kedua klub akan bertanding di stadion Como. Tentu saja kedua klub ingin menang untuk bisa keluar dari zona degradasi. Dalam pertandinagam yang dimainkan 22 Maret 1982 itu klub Como mampu mengalahkan AC Milan dengan skor 2-0. Hasil ini tampaknya tidak diterima para pendukung AC Milan dan kemudian mengamuk menghancurkan stadion. 


Pada pekan ke-27 keduanya masih di zona degradasi. Pada pekan ke-28 klub Como imbang di kandang Avellino dengan skor 1-1, sementara AC Milan juga imbang di kandang Cgaliarie dengan skor 1-1.  Pada klassemen klub Como berada di posisi terbawah (16) dengan 14 poin. Di atas klub Como terjadi persaingan ketat antara AC Milan dan Bologna yang saman-sama 21 poin. Ini mengindikasikan klub Como sudah terdegradasi. Bagaimana dengan AC Milan? Dalam pecan ini klub Como menang di kandang lawan Cesena 2-1 menjadi Como meraih 16 poin. Namun itu tidak berarti lagi untuk keluar dari zona degradasi seban sisa pertandingan tinggal satu lagi. Nah, ini dia, AC Milan di kandang sendiri imbang tanpa gol melawan Torino yang menjadikan AC Milan menjadi 22 poin. Sementara saingan AC Milan yakni Bologna di kandang sendiri melawan tamunya Inter dengan skor telak 3-1 yang menyebabkan Bologna menjadi 23 poin. Hari penentuan bagi AC Milan tiba pada pecan ke-30. Bologna kalah di kandang Ascoli, Como di kandang Torino imbang 0-0 dan AC Milan menang di kandang Cesena dengan 3-2. Di klasemen akhir Como pada posisi 16, Bologna posisi 15 dan AC Milan posisi 14 (lihat De Volkskrant, 17-05-1982). 

Pada akhir kompetisi, klub Como yang berada di peringkat terbawah di dalam klasemen akhir, benar-benar tidak bisa lagi keluar dari zona degradasi. Akhirnya klub Como nafasnya putus dan kemudian terdegradasi. Bagaimana dengan AC Milan? Como sudah terdegradasi, juga AC Milan dan Bologna terdegradasi. Tiga klub ini telah digantikan klub promosi: Pisa, Sampdoria dan Verona. 


Bagi AC Milan pada musim 1981/1982 adalah degradasi yang kedua (yang pertama pada musim 1979/1980 karena hukuman pengaturan skor). Bandingkan dengan Inter dan Juventus yang belum pernah terdegradasi dan AS Roma pernah terdegradasi pada musim 1950/1951. 

Klub Como sebelum ini (musim 1981/1982) sudah pernah dua kali terdegradasi dari liga teratas Italia. Yang pertama pada musim 1952/1953 dan yang kedua pada musim 1975/1976.


Lalu dua musim berada di liga kedua (1982/1983 dan 1983/1984), klub Como kembali promosi liga teratas Italia. Pada musim 1984/1985 klub Como masih kesulitan dalam kompetisi. Pada minggu terakhir atau minggu ke-30 musim 1984/1985 berada pada posisi 13 dari 16 dengan 25 poin (lihat Het Parool, 20-05-1985). Tiga klub di bawahnya Ascoli, Lazio dan Cremonese sama-sama 15 poin. Klub Como di liga teratas Italia tetap bertahan. 


Klub Como kembali promosi pada musim 1985/1986 klub Como di awal kompetisi masih tetap kesulitan dalam memulai kompetisi. Pada pekan kedua klub Como berada pada posisi ke 15 dari 16 klub (lihat De Volkskrant, 16-09-1985). Pada pertandingan kedua ini klub Como kalah dari Juventus dengan skor 0-1. Apakah ini tanda-tanda klub Como akan terlempar ke degradasi? Pada jelang akhir paruh mnusim klub Como tampaknya masih aman. Pada pertandingan pekan ke-14 klub Como menang 1-0 di kandang melawan Internazionale dimana posisi klub Como pada peringkat 13 dari 16 klub (lihat De Volkskrant, 16-12-1985). Dalam hal ini Inter berada di posisi ke-4. Pada akhir paruh musim perrtama Como imbang 0-0 di kandang Roma, dengan posisi tetap di 13 dengan 12 poin yang mana dua klub di bawahnya Pisa dan Bari masing-masing dengan 11 poin (lihat De Volkskrant, 23-12-1985) Pada peringkat teratas: 1 Juventus, 2 Napoli, 3 Inter dan 4 AS Roma


Pada paruh kedua musim 1985/1986 klub Como tidak terlalu buruk. Pada pertandingan teakhir pecan ke-30 klub Como di kandang berhasil mengalahkan Roma dengan skor 1-0. Posisi Como di klasemen akhir berada pada posisi 9 dengan 29 poin (lihat De Telegraaf, 28-04-1986). Sementara itu di dalam Piala Italia klub Como tidak terlalu buruk. Klub Como berhasil melaju hingga babak perempat final. Klub Como berhasil mengalahkan kembali Verona di leg ke-2 (lihat Algemeen Dagblad, 22-05-1986). Disebutkan Piala Italia; leg kedua perempat final: Inter Milan - Roma 2-1 (Roma melaju dengan 3-2), Como - Verona 3-1 (Como 4-3), Fiorentina - Empoli 3-0 (Fiorentina 5-3), Torino - Sampdoria ditunda. Ini mengindikasikan klub Como untuk kali pertama dalam Piala Italia berhasil mencapai semifinal. Tentu saja ini juga menjadi puncak prestasi klub Como selama ini. Di partai semifinal klub Como bertemu klub Sampdoria. Klub Como imbang 1-1 dengan Sampdoria di leg pertama (lihat Algemeen Dagblad, 30-05-1986). Masih ada harapan melaju ke final. Bagaimana dengan di leg kedua? Yang jelas AS Roma melaju ke Final, klub yang di dalam liga dikalahkan Como di kandang dan imbang waktu tandang. Tampaknya ada masalah dengan pertandingan leg kedua antara klub Como dengan Sampdoria (lihat Algemeen Dagblad, 05-06-1986). Disebutkan Piala Italia, leg kedua semifinal. Hasil leg pertama dalam kurung: Fiorentina - AS Roma 1-1 (0-2), Como - Sampdoria 2-1 dibatalkan. Ada apa? Yang jelas Federasi Sepak Bola Italia telah memutuskan bahwa Sampdoria Genoa vs Roma (lihat Trouw, 06-06-1986). Disebutkan Sampdoria di Final setelah Insiden. Genua. Federasi Sepak Bola Italia telah memutuskan bahwa Sampdoria Genoa telah mencapai final piala, dan bukan Como, lawan mereka di semifinal. Ketika Genoa yang bertandang unggul 2-1 dan mendapatkan penalti dari wasit Redini, seorang penonton melemparkan korek api ke kepala wasit. Pertandingan kemudian dihentikan. Komite pengatur menetapkan skor akhir 2-0 untuk Genoa. Finalis lainnya adalah AS Roma. Pada leg pertama Sampdoria mengalahkan Roma dengan skor 2-1 dan leg kedua tanggal 14 di Roma (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 09-06-1986). Akhirnya yang menjadi juara Piala Italia adalah AS Roma setelah mengalahkan Sampdoria 2-0 (lihat De Volkskrant, 16-06-1986). 

Pada musim 1986/1987 klub Como memulai kompetisi dengan bertanding melawan tuan rumah AS Roma dengan skor 0-0 (lihat Trouw, 15-09-1986). Pada pecan kedua, klub Como kembali imbang dengan skor 1-1 melawan tamunya Torino (lihat Algemeen Dagblad, 22-09-1986). Pada pecan ke-7 menang 0-1 saat tandang ke Sampdoria di Genoa (lihat Algemeen Dagblad, 29-09-1986). Klub Como langsung melompok ke peringkat ke-3 di dalam klasemen dengan 4 poin. Pada pecan ke-4 klub Como menang 1-0 melawan tamunya Brescia yang membuat klub Como di peringkat kedua bersama Napoli dengan 4 poin dan selisih gol sama dengan perbedan 1 poin dengan peringkat pertama (lihat NRC Handelsblad, 06-10-1986). Sementara di posisi teratas liga Serie-A adalah Juventus dari Turin. 


Klub Como sedikit mulai tertahan. Pada pecan ke-10 klub Como berada di posisi 5 (di bawah 1. Napoli, 2 Juventus, 3. Inter, dan 4 AS Roma (lihat De Volkskrant, 24-11-1986). AC Milan tepat berada di bawah Como yang dengan 10 poin hanya berbeda dalam  selisih gol dengan AS Roma dan AC Milan. Pada pecan ke-13 Como turun satu peringkat (lihat NRC Handelsblad, 22-12-1986). Pada pertandingan terakhir di paruh musim pertama Como bermain imbang 0-0 di kandang Empoli (lihat De Volkskrant, 12-01-1987). Posisi Como diklasemen hanya menempati posisi 8 dengan 15 poin. Tiga teratas ditempati Napoli, Inter dan AC Milan. Catatan: di klub Napoli terdapat pemain mega bintang asal Argentina, Maradona. Diego Armando Maradona bermain untuk klub Napoli sejak 5 Juli 1984. Kedatangannya dari Barcelona memecahkan rekor transfer dunia saat itu dengan biaya sekitar $10,48 juta. 

Seperti biasa, sebagaimana juga pada persiapan musim kompetisi, pada jeda musim isu tentang pemain mengisi halaman pemberitaan sepak bola. Sebagaimana juga klub AC Milan, klub Como yang bertetangga juga dirumorkan tengah membidik pemain bintang asal PSV Belanda. 


De Telegraaf, 30-01-1987: ‘Istri Gullit dan Van der Gijp mencari rumah di Milan dan Como. Perdebatan bernilai jutaan dolar di antara para pemain top mengganggu PSV. Milan. Jumat. Perdebatan bernilai jutaan dolar seputar para pemainnya mulai benar-benar membuat PSV gelisah. "Tapi," katanya tadi malam dari kamp pelatihan di Tenerife, terdengar sangat tenang, "Saya tidak kehilangan tidur karena apa yang dilakukan Gullit. Kami tidak perlu mengambil inisiatif untuk bertemu dengannya, karena dia masih terikat kontrak selama 3 1/2 tahun. Jika Ruud yakin bahwa dia bisa pergi, maka menurut saya wajar jika dia datang kepada kami terlebih dahulu. Tidak, kami tidak khawatir. Saya hanya percaya bahwa Ruud, terlepas dari semua perkembangan, akan menyelesaikan musim ini dengan baik. Dan fakta bahwa Como menunjukkan minat pada Van der Gijp adalah berita baru bagi saya." Jadi, sementara Ruud Gullit sedang berlibur bersama PSV di resor cerah Los Realejos de Tenerife, istrinya Yvonne saat ini sedang mencari rumah yang cocok di Milan bersama agen sepak bola Appolonius Konijnenburg. Istri kapten Belanda itu ditemani oleh Jacquelien, pasangan dari Rene van der Gijp. Keluarga Van der Gijp juga sangat ingin pindah ke Italia musim depan. Como dari Serie-A tertarik pada pemain sayap kanan PSV dan tim nasional Belanda tersebut. Dan meskipun manajemen PSV belum melakukan kontak dengan AC Milan atau Como mengenai transfer jutaan dolar yang akan datang untuk pemain bintang mereka, surat kabar Italia setiap hari memberitakan’. Foto: Warga Como berjalan tertatih-tatih melewati kota yang terendam banjir. Cuaca buruk beberapa hari terakhir di Italia Utara telah sedikit mereda, tetapi dampaknya masih menyebabkan ketidaknyamanan besar. Warga kota Como tidak menyukai perbandingan dengan Venesia, karena sekarang jalan setapak telah dipasang di mana-mana untuk membuat pusat kota dapat diakses oleh pejalan kaki. Italia Utara belum pernah mengalami bencana alam seperti ini dalam 50 tahun terakhir (lihat Het Parool, 23-07-1987)

Lalu bagaimana rumor Rene van der Gijp ke klub Como? Yang jelas pertandingan pertama di paruh kedua musim ini telah dimulai dimana di klub Como terinformasikan keberadaan striker asal Belanda Wim Kieft yang dalam hal ini dimana Como menang 0-1 ke kandang Torino (lihat Algemeen Dagblad, 02-02-1987). Sementara rumor Ruud Gullit telah terkonfirmasi akhirnyan bergabung dengan AC Milan pada 21 Maret 1987.. 


Klub Como dalam perkembangannya tertahan di posisi ke-8. Sementara klub AC Milan sedikit bergeser ke bawah. Pada minggu ke-27 klub Como tetap berada di posisi ke-8, sementara klub AC Milan turun satu tingkat ke posisi ke-7 (lihat NRC Handelsblad, 27-04-1987). Pada pekan ke-27 ini klub Como imbang dengan Verona dengan skor 1-1 di kandang, sementara AC Milan yang diperkuat Gullit kalah di tandang melawan Napoli yang diperkuat Mara Dona. Pada pecan ke-28 klub Como bermain imbang 1-1 dengan klub dari Naples/Napoli (lihat NRC Handelsblad, 04-05-1987). Ini mengindikasikan klub Como bukan tim yang mudah dikalahkan tim besar yang popular. 

Pada pekan ke-29 klub Como mampu menahan AC Milan di kandang skor 0-0 (lihat NRC Handelsblad, 11-05-1987). Antara klub Como dan klub AC Milan sudah dari dulu cukup dekat. Ibarat dua bersaudara “abang dan adik”. AC Milan (dan Inter) adalah dua klub di ibukota region Lombardia di Milan. Sementara Como hanya sebagai ibu kota provinsi di pinggiran di region Lomboardia. Namun setelah mampu menahan imbang dua klub besar (Napoli dan Milan), pada pekan terakhir yakni pecan ke-30 klub Como justru kalah di kandang sendiri melawan Empoli yang berada di zona degradasi dengan skor 0-1 (lihat NRC Handelsblad, 18-05-1987). Klub Como harus puas di posisi ke-10 di klasemen akhir. Lantas bagaimana klub Como di musim selanjutnya? 


De Telegraaf, 13-06-1987: ‘Pemain internasional Argentina Claudio Borghi (23) dipinjamkan oleh AC Milan ke Como untuk musim mendatang. Borghi, yang direkrut pada musim semi seperti Van Basten dan Gullit, harus memberi jalan karena hanya dua pemain asing per klub yang diizinkan bermain di liga Italia’. Foto: Pemain asing klub Como pada musim 1986/1987 Dan Cornellusson asal Swedia (lihat De Telegraaf, 22-09-1983). 

Perlu dicatat, pada musim 1986/1887 level liga teratas Italia Serie-A berada di puncak gunung tertinggi di dunia sepak bola. Klub Como berada di salah satu lembah di gunung itu. Pada musim 1987/1988, apakah klub dapat kompetitif? Yang jelas pada musim ini pemain asing klub Como adalah Claudio Borghi asal Argentina) dan Dan Cornellusson dari Swedia.

 

Nieuwsblad van het Noorden, 25-07-1987: ‘Tiga Puluh Pemain Asing di Sepak Bola Top Italia. Roma, Roma. Liga utama sepak bola Italia, Serie A, akan menampilkan setidaknya tiga puluh pemain asing musim depan. Lima belas dari enam belas klub telah mencapai jumlah maksimum yang diizinkan yaitu dua pemain "asing". Hanya Cesena yang baru promosi yang belum memiliki pemain asing. Meskipun sebagian besar klub tidak berada dalam situasi keuangan yang baik, mereka telah berhasil memperbarui daftar pemain asing mereka sepenuhnya atau sebagian. Sampdoria mempertahankan kepercayaannya pada Briegël dari Jerman Barat dan Cerezo dari Brasil. Lima belas klub lainnya menghabiskan ratusan juta lira untuk memperkuat skuad mereka. Pemain di kelompok gaji tertinggi masing-masing akan mendapatkan setidaknya satu juta guilder pada tahun sepak bola mendatang. Sejumlah dewan klub dengan penuh semangat menunggu saat klub diizinkan untuk menurunkan tiga pemain asing. Dengan motto "Tiga terlalu banyak" misalnya, pemain Argentina Borghi (dari AC Milan ke Como) dan Hugo Maradona (dari juara nasional Napoli ke Ascoli) telah ditempatkan di klub lain. Di antara para pemain yang pindah ke Italia adalah, selain pemain Belanda Ruud Gullit dan Marcó van Basten (AC Milan), Borghi dan saudara Diego Maradona, Hugo, pemain Wales Ian Rush (Jüyer's), pemain Belgia yang baru datang Enzo Scifo (Inter), dan pemain Jerman Barat Rudi Voller (AS Roma) dan Thomas Berthold (Verona). Di antara mereka yang pergi adalah Wim Kieft (dari Torino ke PSV) dan kemungkinan pemain Jerman Barat Karl-Heinz Rummenigge yang cedera, yang tidak memiliki kontrak dengan Inter maupun klub lain. Klub-klub tersebut memiliki pemain-pemain berikut dalam jajaran mereka: Ascoli: Hugo Maradona (Arg) dan Waller Casagrande (Bra). Avellino: Walter Schachner (Aus) dan Nitos Anastopoulos (Gri). Como: Claudio Borghi (Arg) dan Dan Cornellusson (Swe). Empoli: Johnny Ekström (Swe) dan Dava Copgoe). Fiorontina: Glenn Hysen (Swe) dan Ramon Diaz (Arg). Inter: Enzo Scifo (Bel) dan Daniël Passareila (Arg). Juventus: lan Rush (GBr) dan Michael Laudrup (Den). AC Milan: Ruud Gullit dan Marco van Basten (keduanya Ned). Napoli: Diego Maradona (Arg) dan Careca (Bra). Pescara: Junior (Bra) dan Blaz Sliskovic (Joe). Pisa: Dunga (Bra) dan Paul Elliott (GBr). AS Roma: Rudi Voller (WDI) dan Zbigniew Boniek (Pol). Sampdoria: Toninho Cerezo (Bra) dan Hans-Peter Briegel (WDI). Torino: Tony Polster (Oos) dan Klaus Berggreen (Den). Verona: Thomas Berthold (WDI) dan Preben Elkjaer-Larsen (Den). Catatan: Hugo Maradona adalah saudara dari Diego Maradona. 

Pada musim 1987/1988 klub Como sempat masuk zona degradasi pada pertengahan musim. Namun secara perlahan menjauh dan kemudian berakhir pada posisi 11 dari 16 klub. Pada pertandingan terakhir pada musim 1987/1988 ini melawan AC Milan di Como. Dalam hal ini AC Milan sudah berada pada posisi teratas dengan 44 poin, sementara Napoli mengincar pada posisi kedua dengan 42 poin. Klub Como, yang sudah aman dari degradasi tentu saja sangat bersemangat untuk menaklukkan AC Milan, sementara AC Milan tidak hanya tercancam dari tuan rumah Como juga Napoli sangat berambisi memenangkan pertandingan akhirnya. Namun, apa yang terjadi? AC Milan dapat dikatakan beruntung. Mengapa? Meski AC Milan imbang 1-1 (dan sempat tertinggal pada paruh game), namun masih tidak dapat digeser Napoli karena justru kalah di kandang sendiri melawan Sampdoria dengan skor (1-2).


Leeuwarder courant: hoofdblad van Friesland, 16-05-1988: ‘(ANP/Reuter). Kaki-kaki yang terpotong sempurna dilemparkan ke tribun, pelatih  Sacchi dicemooh. AC Milan menjadi juara Italia, untuk kesebelas kalinya dalam sejarah klub. Tidak ada orang Italia yang meratapi pertandingan anti-sepak bola di Como kemarin sore, yang berakhir dengan hasil imbang 1-1. Karena hasil imbang tersebut, AC Milan dipastikan menduduki puncak klasemen di era delapan puluhan, dan belakangan ini klub tersebut kembali berjaya di AC Milan, sama-sama memastikan tempat mereka di Como, untuk mempertahankan gelar Gianni Rivera. Sejak 1979, skuad Gianni Rivera telah meraih scudetto, para penggemar setia AC Milan harus menunggu hingga kedatangan kapten yang terkenal dan berharga, Berlusconi, sebelum menyaksikan kemenangan ganda. Berlusconi mendatangkan Sacchi, membeli Gullit dari PSV seharga 17 juta euro, mengakuisisi Marco van Basten dengan harga murah (2,7 jutaa euro), dan merekrut pemain dari klub-klub Italia lainnya, seperti gelandang Ancelotti. Kebijakan pembelian tersebut menghasilkan skuad yang terlalu kuat dibandingkan dengan klub Como. Melawan klub AC Milan pada hari Minggu di stadion kecil tepi danau biru langit berkapasitas 28,000 penonton. Kedudukan pada paruh pertandinfgan 1-0, namun pada paruh kedua menyaman menjadi 1-1’. Foto: Kapten AC Milan Franco Baresi dkk merayakan menjadi kampiun di stadion Como.  

Pada akhir musim 1987/1988 dua klub di posisi terendah adalah klub Avellino di peringkat 15 dan Empoli di peringkat 16 yang otomatis terdegradasi. Pada papan atas, klub AC Milan menjadi juara, yang kemudian disusul Napoli di peringkat kedua. 


Nieuwsblad van het Noorden, 16-05-1988: ‘Italia. Hasil: Ascoli-Cesena 0-0, Como-AC Milan 1-1, Empoli-Pescara 3-2, Internazionale-Avelino 1-1, Juventus-Fiorentina 1-2, Napoli-Sampdoria 1-2, Pisa-Torino 2-0, AS Roma-Verona 1-0. Klasemen akhir: 1. AC Milan 30-45; 2. Napoli 30-42; 3. AS Roma 30-38; 4. Sampdoria 30-37; 5. Internazionale 30-32; 6. Juventus 30-31; 7. Torino 30-31; 8. Fiorentina 30-28; 9. Cesena 30-26; 10. Verona 30-25; 11. Como 30-25; 12. Pescara 30-24; 13. Ascoli 30-24; 14. Pisa 30-24; 15. Avellino 30-23; 16. Empoli 30-20’. 

Pada musim 1988/1989 jumlah klub ditambah dari 16 klub menjadi 18 klub. Dalam hal ini Avellino dan Empoli terdegradasi dan yang promosi Lecce, Lazio (Roma), Bologna dan Atlanta. Lalu mengapa diubah jumlah klub dengan menambah dua klub menjadi 18, sementara di masa lampau pernah 18 klub tetapi kemudian dikurangi menjadi 16 klub? Yang jelas pada musim baru ini dengan 18 klub aka nada empat klub degradasi dan empat klub promosi. 


Pada musim 1987/1988: 1. AC Milan 2. Napoli 3. AS Roma 4. Sampdoria 5. Internazionale 6. Juventus 7. Torino 8. Fiorentina 9. Cesena 10. Verona 11. Como 12. Pescara 13. Ascoli 14. Pisa 15. Avellino 16. Empoli. Pada musim 1988/1989: 1. Ascoli, 2 Lazio, 3 Bologna, 4 AC Milan, 5 Como, 6 Napoli, 7 Inter, 8 Fiorentina, 9 Juventus, 10 Verona, 11 Lecce, 12 Torino, 13 Pisa, 14 Pescara, 15 Roma, 16 Atlanta, 17 Sampdoria, 18 Cesena.

 

Seperti musim sebelumnya, klub Como pada musim 1988/1989 mengawali kompetisi dengan kesulitan. Pada putaran ketiga klub Como berada di posisi 15 dengan dua poin (lihat De Volkskrant, 24-10-1988).

 

Pada akhir paruh musim klub Como pada posisi 13 dengan 13 poin. Sementara pada puncak klasemen Inter dengan 28 poin, yang disusul oleh Napoli dan Sampdoria (lihat De Volkskrant, 13-02-1989). Pada pecan ke-30, klub Como pada posisi 17 dengan 21 poin (lihat De Telegraaf, 29-05-1989). Ini menjadi lampu merah bagi klub Como dalam sisa pertandingan empat terakhir. Pada pecan ke-31 klub Como imbang 1-1 dengan Pescara. Pada pecan ke-32 di kandang sendiri kalah 2-3 dari Torino. Como tetap di posisi 17 sementara Torino di posisi 16 dan Pisa di posisi 18 (lihat De Volkskrant, 12-06-1989). Masih ada harapan jika menang dengan syarat pesaingnya di papan bawah kalah. Pada pekan ke-33 klub Como kalah pada posisi 17 (dari Cesena 1-0) dan Pisa imbang dengan Napoli 0-0 pada posisi 18. Dua di atas mereka dengan poin 27 dan 26. Dengan demikian, dua terbawah dengan sendirinya sudah terdegradasi sebelum pertandingan terakhir. Pada pertandingan terakhir klub Como kalah 0-1 dari Napoli (lihat Trouw, 26-06-1989). 

Akhirnya klub Como terdegradasi. Tiga klub lainnya yang juga terdegradasi adalah Torino, Pisa dan Pescara. Sementara empat klub yang promosi adalah Genua, Udinese, Bari dan Cremonese. Bagi klub Como, ini untuk yang keempat kalinya klub Como terdegradasi dari liga utama Italia. Boleh jadi klub Como sangat kecewa dan tidak berada di liga utama untuk kompetisi musim 1989/1990. Mengapa? Pada tahun 1990 ini negara Italia kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia. Yang pertama pada tahun 1934.


De Telegraaf, 26-05-1990: ‘Menuju Stadion Sepak Bola. Di halaman ini, Anda akan menemukan rute tercepat ke stadion sepak bola di Italia tempat tim nasional Belanda akan berkompetisi di Piala Dunia Sepak Bola. Ini adalah rute ke tempat-tempat di mana Belanda akan bermain terlebih dahulu. Tetapi mari kita menuju ke tempat-tempat di Italia di mana tontonan sepak bola diharapkan akan berlanjut untuk Oranje. Anda akan menemukan rute ke Genoa dan Bari di kotak terpisah. Rute ke selatan Italia dalam rencana perjalanan ini adalah rute estafet dengan beberapa pemberhentian. Rute ini dimulai di perbatasan Swiss/Italia dekat Chiasso/Como atau di persimpangan rute jalan lingkar menuju A9 - Como/Milan - dekat Lomazzo. Kota penyelenggara Piala Dunia 1990: Palermo, Roma, Genua, Bari, Florence, Naples, Cagliari dan Bologna’. 

Selama dekade 1990an klub Como tidak sepenuhnya tenggelam dari hingar bingarnya sepak bola dunia, termasuk di Indonesia. Klub Como di divisi kedua liga Italia masih eksis dalam Piala Italia (1991/1992 dan 1994/1995). 


NRC Handelsblad, 30-08-1991: ‘Piala Italia, babak ke-2, pertandingan ke-1: Sampdoria - Modena 3-1, Bari - Ascoli 2-1, Napoli - Reggiani 1-0, AS Roma - Luchese 1-0, Fiorentina - Cesena 2-1, Parma - Palermo 0-0, Pisa - Foggia 2-1, Taranto - Genua 0-1, AC Milan - Brescia 2-0, Lecce - Verona 1-0, Torino - Ancona 4-1, Fidelis Andria - Lazio 0-2, Unidese - Juventus 0-0, Cremonese - Como 0-0, Inter - Casertana 1-0, Atalanta - Padua 3-1’. Het Parool, 05-09-1991: ‘Babak ke-2 Piala Italia, pertandingan ke-2: Sampdoria -Modena 3-0 (pertandingan pertama 3-1), Ascoli-Bari 1-3(1-2), Napoli-Reggiana 0-0(1-0), Fiorentina-Cesena 3-1 (2-1), Parma-Palermo 2-1 (0-2), Foggia-Pisa 1-1 (1-2), AC Milan-Brescia 2-1 (2-0), Verona-Lecce 5-0 (0-1), Torino-Ancona 1-1 (4-1), Lazio-Andria 3-2 (2-0), Atalanta Bergamo-Padua 1-2 (3-1), Juventus -Udinese 3-0 (0-0), Cremonese-Como 0-1 (0-0), Internazionale-Caserta 2-2 (1-0), Genova' –Taranto 0-1 (1-0)’. NRC Handelsblad,, 31-10-1991: ‘Piala Italia, Babak 16 Besar, Piala Italia ke-1 Atalanta Bergamo - Juventus 0-0, Internazionale - Como 2-2, Parma - Fiorentina 0-0, Pisa - Genoa 2-0, Sampdoria - Bari 1-1, Torino - Lazio Roma 2-0, Verona - AC Milan 2-2, AS Roma - Napoli 1-0’. Algemeen Dagblad, 18-11-199: Serie-A: Italia Atalanta - Fiorentina 1-0, Bari - Lazio 1-2, Cagliari - Parma 0-0, Cremonese - Foggia 0-2, Inter - Ascoli 2-1, Juventus - Torino 1-0, AS Roma - Napoli 1- 1, Sampdoria - AC Milan 0-2, Verona - Genoa 2- 1. Klasemen setelah sepuluh pertandingan: 1 AC Milan 16 (9 dimainkan), 2. Juventus 15, 3. Napoli 13, 4. Lazio 13. 5. Foggia 13, 6. Inter 13. 7. Torino 11, 8. Parma 11, 9. AS Roma 11, 10. Atalanta 11, 11. Genoa 9 (9). 12. Fiorentina 9, 13. Sampdoria 8, 14. Verona 7, 15. Cagliari 6, 16. Cremonese 5, 17. Ascoli 4, 18. Bari 3’. NRC Handelsblad, 05-12-1991: ‘Piala Italia, leg kedua babak 16 besar: Napoli - AS Roma 3-2 (leg pertama 0-1), Fiorentina - Parma 1-1 (0-0), Genoa - Pisa 4-0 (0-2), Lazio Roma - Torino 0-0 (0-2), Como - Inter Milan 1-2 (2-2), Bari - Sampdoria 2-2 setelah perpanjangan waktu (1-1). Perempatfinal: Sampdoria - AS Roma, Parma - Genoa, pemenang Verona/AC Milan - Torino, Juventus - Inter Milan. Algemeen Dagblad, 01-09-1994: ‘Italia, Putaran Kedua Piala Italia: Fiorenzuola - Roma 0-3, Parma - Perugia 4-0, AC Milan - Palermo 0-1, Padova - Inter 0-3, Como - Foggia 0-2, Cagliari - Atalanta 1-0, Sampdoria - Vicenza 5-1, Bari - Piacenza 0-1, Napoli - Fidelis Andria 3-2, Cremonese - Lecce 1-1, Cesena - Genoa 0-1, Reggiana - Brescia 1-0, Juventus - Chievo 0-0, Udinese - Fiorentina 1-0’. Het Parool, 22-09-1994: ‘Piala Italia, putaran ke-2, kembali: Inter-Padova 0-1 (leg pertama 3-0), Foggia-Como 5-0 (2-0), Atalanta-Cagliari 2-1 (0-1), Perugia-Parma 1-0 (0-4), Fiorentina-Udinese 2-0 (2-2), Lanerossi-Sampdoria 2-1 (1-5), Modena-Lazio 1-4 (0-5). Piacenza-Bari 1-1 (1-0), Genoa '93-Cesena 2-0 (1-0), Fidelis-Napoli 1-1 (2-3), Brescia-Reggiana 1-1 (0-1), Chievo-Juventus 1-3 (0-0), Torino-Monza 4-2 (1-0)’. 

Sisa-sisa kekuataan klub sepak bola Como di tingkat nasional meski masih terlihat dalam Piala Italia hingga tahun 1994, namun setelah itu tmpaknya menghilang. Namun kota Como bukan berarti redup dari dunia olah raga. Klub basket wanita kota Como terbilang yang terkuat di seluruh Italia. Selama satu dekade 1990an klub basket wanita kota Coma disegani di kompetisi Eropa. Sementara itu, sebagaimana diketahui sejak musim 1994/1995 liga professional (penuh) Indonesia dimulai (peleburan kompetisi perserikan dan liga semi pro Galatama. Pada masa ini Kurniawan Dwi Yulianto tergabung dengan Sampdoria Primavera pada tahun 1994. Kurniawan turut mengikuti tur pramusim tim senior Sampdoria ke Asia pada tahun 1994 di bawah pelatih Sven-Göran Eriksson termasuk melawan timnas Indonesia GBK (saya juga turut hadi di GBK). Kurniawan berlatih bersama pemain bintang seperti Roberto Mancini dan Ruud Gullit, dan karena keterbatasan kuota pemain asing sebelum akhirnya dipinjamkan ke FC Luzern di Swiss.

 

Pada dekade ini klub-klub Italia lainnya yang berkunjung ke Indonesia yang dinarasikan pada masa ini, antara lain: AC Milan (1994) membawa skuat terbaiknya (seperti Franco Baresi dan Dejan Savicevic) dan bertanding melawan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Parma (1995) membawa bintang-bintang seperti Gianfranco Zola dan Hristo Stoichkov. Parma bertanding melawan tim Selection di Jakarta. Lazio (1996) bertanding melawan Timnas Indonesia. Saat itu, Lazio diperkuat oleh pemain top seperti Alessandro Nesta dan Pierluigi Casiraghi. Sampdoria (1996) bertanding dalam turnamen segitiga bersama Timnas Indonesia dan AC Milan. Saat Sampdoria bermaijn di Stadion Teladan, Medan, melawan timnas Indonesia kalah dengan skor 1-2, gol kemenangan Indonesia dicetak oleh Fakhri Husaini dan Peri Sandria. Fiorentina (1996) diperkuat oleh salah satu striker legendaris dunia, Gabriel Batistuta. Mereka melakoni laga persahabatan melawan Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Juga sebelumnya menurut AI Wikipedia ada sejumlah klub Italia yang berkunjung ke Indonesia. 1990: Bologna kunjungan rangkaian tur promosi; Atalanta untuk melakoni laga eksibisi. Kunjungan ini menandai awal populernya Liga Italia di mata penggemar sepak bola tanah air. 1989: Sampdoria dalam turnamen persahabatan bertajuk Piala Kemerdekaan membawa bintang-bintang seperti Roberto Mancini dan Gianluca Vialli. Fiorentina  bertanding melawan tim nasional Indonesia dengan bintang muda sedang naik daun, Roberto Baggio. 1981: Lazio melakoni laga persahabatan melawan klub lokal ternama saat itu, Niac Mitra, di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang saat ini Niac Mitra diperkuat Fandi Ahmad. 1980: AS Roma bertanding melawan tim nasional Indonesia. 1975: Lazio setelah mereka menjuarai Serie A musim 1973/1974 menghadapi Timnas Indonesia (PSSI Tamtama). 1974: Sampdoria melakoni beberapa pertandingan, salah satunya melawan tim pilihan dari Jakarta. 1970: AS Roma bertanding melawan Timnas Indonesia di Stadion Utama Senayan (sekarang GBK) pada 14 Juni 1970 imbang dengan skor 1-1. 1963: Cagliari (Cagliari Calcio) bertanding melawan skuad Garuda. 1962: Varese (Calcio Varese) melakukan pertandingan persahabatan melawan tim nasional Indonesia. 1950an: Inter Milan berkunjung ke Jakarta dan Sampdoria dari kota Genoa ini melakukan kunjungan ke Indonesia di penghujung 1950-an hingga awal 1960-an. 


Lalu setelah lebih dari satu dekade, klub Como kembali promosi. Untuk memperkuat tim di musim 2002/2003 klub Como mendatangkan Jean-Paul van Gastel asal Belanda bebas transfer. Jean-Paul van Gastel sendiri musim sebelumnya di klub Temana di Serie-B, tetapi klubnya tersebut degradasi ke Serie-C. Namun yang menjadi persoalan, Jean-Paul van Gastel di Temana sebelumnya kurang menit bermain.

 

Algemeen Dagblad, 13-07-2002: ‘Van Gastel pindah ke Como. Rotterdam - Jean-Paul van Gastel melanjutkan kariernya di sepak bola Italia di Como, yang berhasil promosi ke Serie A musim lalu. Mantan gelandang Feyenoord ini telah menandatangani kontrak dua musim dengan klub barunya. Van Gastel, yang mengunjungi De Kuip pada hari Kamis, sebelumnya terikat kontrak dengan Temana selama enam bulan. Setelah klub tersebut terdegradasi ke Serie C, pemain asal Brabant ini menjadi pemain bebas transfer. Ia hampir tidak mendapatkan waktu bermain di Temana, tempat ia memiliki kontrak 2,5 tahun’. Catatan:  18 klub: 1929–1934; 16 klub: 1934–1943; 20 klub: 1946–1947; 21 klub: 1947–1948; 20 klub: 1948–1952; 18 klub: 1952–1967; 16 klub: 1967–1988; 18 klub: 1988–2004; 20 klub: 2004–sekarang.

Pada musim 2002/2003 di liga utama Italia (Serie-A) ini, tampaknya klub Como mengalami kesulitan dalam bersaing dengan klub-klub lainnya. Pada pertandingan terakhir di kompetisi liga teratas Italia, klub Como melawan Atalanta dengan skor 1-1 setelah memimpin 1-0 pada paruh pertama (lihat Algemeen Dagblad, 13-01-2003). Hasil ini semakin membenamkan klub Como di dasar klasemen akhir yang membuat klub Como harus terdegradasi.. 


Klub Como tidak mampu bertahan di liga. Klub Como terkesan hanya numpang lewat satu musim di liga teratas Italia. Pengalaman serupa ini pernah dialami klub Como yang tidak mampu bertahan di liga utama pada musim 1975/1976. Seperti disebut di atas, pada musim itu klub Como harus terdegradasi bersama klub Ascoli dan Caglieri yang mana tiga klub promosi untuk menggantikan yakni Genoa, Catanzaro dan Foggia. Sementara itu di dalam klasemen berada dua klub sekota yang sudah terkenal sejak 'beheula' yakni AC Milan di posisi puncak dan Inter sebagai runner-up.

Lantas kapan kembali klub Coma promosi ke liga utama Italia (Serie-A)? Dalam hal inilah sangat berperan Hartono Bersaudara di klub Como di pegunungan di danau Como di wilayah Italia utara. Yang jelas seperti kita lihat nanti, klub Como promosi kembali ke liga teratas Italia (Serie-A) yakni klub Como kembali ke Serie-A pada musim 2024/2025. Sebagaimana diketahui, hingga artikel ini ditulis, klub Como saat ini pada musim 2024/2025 klub Como masih eksis di Serie-A. Lantas apakah klub Como dapat bertahan untuk seterusnya?


Yang jelas klub Como bukanlah klub Juventus, Inter Milan, AC Milan dan AS Roma. Empat klub ini sudah mencapai lebih dari 3.000 pertandingan sepanjang masa (sejak musim 1929/1930). Klub Como hanya berada di peringkat ke-29 dari 69 klub Italia yang pernah di Serie-A. Jumlah pertandingan klub Como semasa hidup (life time) di Serie-A sebanyak 494 pertandingan (138 kali menang; 153 kali imbang dan 203 kali kalah selisih gol (minus 133) dengan total 567 poin. Bandingkan dengan tetangganya Inter Milan: 3.186, 1.620, 865, 701, +2.194 dan 5.725 poin; dan AC Milan: 3.125, 1.526, 913, 686, 1.930, 5.417 poin. Dalam hal ini klub Como baru berpartisipasi sebanyak (dari 14 musim) hingga sekarang. Sejak musim 1929/1930 hingga kini (musim 2025/2026) sudah 94 musim. Bandingkan dengan klub Inter Milan yang tidak pernah terdegradasi dan satu-satunya yang mengikuti Serie-A sebanyak 94 musim. Sementara Juventus yang sudah memiliki rekor 93 musim (sempat sekali degradasi ke Serie-B pada musim  2006/2007). Demikian juga dengan AS Roma pernah sekali degradasi (musim (1951/1952). Sedangkan AC Milan pernah dua kali terdegradasi musim1980/1981 (akibat skandal Totonero) dan 1982/1983 (terdegradasi secara teknis). Berikut adalah daftar juara Serie-A: Juventus: 36 gelar; Inter Milan: 20 gelar; AC Milan: 19 gelar; Genoa: 9 gelar; Torino: 7 gelar; Bologna: 7 gelar; Pro Vercelli: 7 gelar; Napoli: 4 gelar; AS Roma: 3 gelar; Lazio: 2 gelar; Fiorentina: 2 gelar. Lalu apakah ada potensi klub AC Como menjadi juara di masa datang? Yang jelas pada musim ini klub Como memiliki peluang besar berada di posisi 4 dalam klassemen, suatu pencapaian tertinggi klub Coma dalam 14 musim yang pernah diikuti. 

Dalam penulisan sejarah sepak bola tidak banyak orang yang tertarik. Hal itulah mengapa sejarah  klub sepak bola Como di Como sulit ditemukan. Memang sudah ada yang menulis dalam tulisan singkat tetapi boleh jadi belum ada buku yang ditulis. Tulisan singkat antara lain ditemukan dalam situs https://comofootball.com, yang berjudul: “The Beginning of Beauty: The Origins of Como 1907“. Sementara itu sudah ada buku yang membicarakan sejarah sepak bola di Italia, tetapi bagian dari sejarah klub Como sangat minim. 


Buku Sepak bola di Italia dan di Indonesia: Calcio: A History of Italian Football Paperback by John Foot.  Harper Perennial, 2007; Forza Italia: The Fall and Rise of Italian by Paddy Agnew. Ebury, 2007; Golazzo: The Football Italia by Jonathan Grade. Independently published, 2020; dan lainnya. Sementara sejarah sepak bola di Indonesia sudah ada yang menulisnya dengan judul: Sejarah sepak bola di Indonesia oleh Akhir Matua Harahap. Deepublish, 2024. 

Lantas bagaimana sepak bola di Como bermula? Dalam narasi sejarah sepak bola di Como berdasarkan https://comofootball.com disebutkan sepak bola di Como bermula di suatu lapangan yang kini menjadi Stadion Como (Sinigaglia) dimana pertandingan pertama kali dimainkan pada tahun 1906 sebagaimana dikisahkan sebagai berikut: 


Pertandingan ini dimainkan di dekat Klub Dayung 'Canottieri Lario' melawan para anggota dari Buffalo Bill's Circus. Pertandingan tersebut dipimpin oleh Buffalo Bill sendiri (Kolonel William Cody) yang mungkin masa tinggalnya di Inggris telah memberinya pengetahuan tentang permainan tersebut, atau mungkin tidak. Meskipun demikian, ini adalah awal dari kecintaan Como terhadap permainan ini dan dengan cara yang paling indah, puitis, dan menarik, perjalanan pun dimulai. Pertandingan tersebut, omong-omong, berakhir imbang”. 

Kisah ini tampaknya terkesan bagia suatu kisah (his-story) daripada sejarah (history). Mengapa? Yang jelas dalam kisah itu disebut peran Buffalo Bill's Circus sebagai awal mula orang Como mulai tertarik dengan permainan sepak bola. Lalu, bagaimana Buffalo Bill's Circus berada di Como? 


Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 20-03-1905: ‘Buffalo Bill, sirkus Amerika yang terkenal, telah tiba di Paris dan telah mendirikan tendanya di Champs-de-Mars’. Het nieuws van den dag : kleine courant, 10-04-1905: ‘Bagi banyak orang di Eropa, dan juga di Belanda, Kolonel WF Cody, alias Buffalo Bill, bukanlah orang asing; karena pada tahun 1889 dan 1890 ia melakukan tur besar bersama pasukannya melalui Inggris dan benua Eropa, dan tinggal di kota-kota utama. Pada kesempatan Pameran Dunia terakhir, ia juga berada di Paris, tempat ia meninggalkan kenangan terbaik. Sehari setelah kedatangannya di sini, sementara kafilahnya sibuk mendirikan perkemahan di Champ-de-Mars tempat mereka akan tinggal selama dua bulan.. kita hanya perlu melihat pria berusia 59 tahun itu di depan pasukan berkudanya yang tangguh. Ketika saya pergi menonton pertunjukan siang "Wild West" Buffalo-Billl beberapa hari yang lalu, saya melihat, menjulang di Champ-de-Mars di bawah Menara Eiffel. Kemudian ada juga tenda-tenda besar tempat makan bersama disajikan, yang membutuhkan 800 kilogram daging, 1.000 kilogram roti... dan 1.600 liter teh dan kopi per hari. Di wilayah Wild West, anggur dan alkohol dilarang keras. Di sana-sini sebuah tenda berdiri terbuka, dan saya dapat melihat betapa praktis dan bersihnya segala sesuatu di dalamnya’. Utrechtsche courant, 03-01-1906: ‘Di antara kuda-kuda Buffalo Bill, yang telah tiba di Marseille bersama seluruh pasukannya. Oleh karena itu, Kolonel Cody telah menerima pujian yang sama besarnya di seluruh Eropa selama tur mereka. Itu adalah akhir untuk sepuluh tur Eropa. Kolonel Cody datang ke Prancis dengan inventaris 325 kuda Demikianlah penampilan terakhir para Koboi Amerika. De morgenpost, 03-04-1906: ‘Yang Mulia Paus menolak memberikan audiensi kepada anggota Katolik dari kelompok Buffalo Bill Amerika yang terkenal, yang tinggal di Roma untuk beberapa waktu dan memberikan pertunjukan di sana. Yang Mulia tidak ingin hak istimewa audiensi disalahgunakan sebagai iklan untuk usaha hiburan publik. Rotterdamsch nieuwsblad, 21-05-1906: ‘Hiburan juga tersedia melimpah di Milan. Buffalo Bill ada di sana bersama para Indiannya’. Bredasche courant, 05-07-1906: ‘Tahun ini juga, kita akan kembali menyaksikan sirkus besar dan terkenal di sini, yaitu Buffalo Bill's Wild West, yang kemungkinan akan mengadakan beberapa pertunjukan di sini pada bulan Oktober’. Rotterdamsch nieuwsblad, 26-09-1906: ‘Buffalo Bill. Dewan Kota Den Haag telah mengadopsi usulan Walikota dan Anggota Dewan untuk mengizinkan sirkus Amerika Buffalo Bill menggunakan Lapangan Alexander di sana selama beberapa hari dengan biaya 1.000 guilder’. De avondpost, 20-09-1906: ‘Walikota dan Anggota Dewan mengusulkan, dengan sewa sebesar fl00, dan dengan empat syarat, untuk memberikan izin penggunaan Alexanderveld kepada perusahaan Buffalo Bill's Wild West di Wina selama beberapa hari, untuk mengadakan pertunjukan di sana pada bulan Oktober. Het vaderland, 22-10-1906: ‘Perkumpulan "Buffalo Bill’s Wild West" di Vienna telah memberitahu Walikota dan Anggota Dewan bahwa, karena keberangkatan lebih awal ke Amerika, mereka melepaskan hak penggunaan Lapangan Alexander yang telah diberikan kepada mereka selama beberapa hari di bulan Oktober. Arnhemsche courant, 01-11-1906: ‘Menurut telegram dari New York, Kolonel Cody, yang dijuluki Buffalo Bill, dan rombongan berburunya yang berjumlah 16 orang telah terjebak dalam badai salju di Pegunungan Bighorn yang liar (Negara Bagian Arizona) dan semuanya dianggap hilang’. 

Tampaknya Buffalo Bill Circus tidak pernah beraksi di kota Como. Berdasarkan berita-berita Buffalo Bill Circus yang datang dari Amerika selama pertunjukan mereka di Eropa hanya disebut kota-kota besar. Kota Como bukanlah kota besar. Kota Como adalah kota wisata dan hanya kota kecil. 


Setelah dari Marseille (Prancis) kemudian ke kota Roma dan kemudian ke kota Milan. Lalu dari Milan ke kota Wina (Austria) sebelum kembali ke Amerika. Bisa jadi pernah ke kota Como, bukan singggah dalam perjalanan tour, tetapi mungkin hanya sekadar liburan pada saat pertujukan jeda di Milan (dalam hal ini warga Como menonton ke Milan). Jarak Milan ke Como hanya sekitar 45 Km. 

Buffalo Bill Circus setelah dari Milan ke Wina (ibu kota Austria). Saat ini belum dimungkinkan dari Milan (Italia) ke Austria melalui kota Como karena belum ada jalur kereta api. Jalur kereta api dari Italia (dari Milan) ke Austria baru melalui kota Verona dan Trento lalu menyeberang melalui kota-kota di Ausria yakni Bolzano/Bozen, Innsbruck dan Salzburg. Lalu mengapa Buffalo Bill Circus berakhir di Wina untuk kembali ke Amerika dan tidak dilanjutkan (rencana) ke Belanda di Den Haag, ibu kota Belanda? Besar dugaan sirkus asal Jerman sedang melakukan pertujukan di kota-kota Belanda. 


Haagsche courant, 28-07-1896: ‘Sirkus Corty-Althoff, yang saat ini berlokasi di Jalan Rotterdam di Scheveningen, memberikan pertunjukan pembukaannya pada Sabtu malam di hadapan penonton yang sangat banyak. Ketika Tuan Althoff muncul di sirkus, ia disambut dengan sorak sorai yang meriah: bukti bahwa sirkus tersebut telah meninggalkan kesan yang baik pada warga Den Haag. Sekali lagi, terbukti bahwa manajemen sirkus ini memahami seni memikat perhatian melalui variasi dan tahu bagaimana mendapatkan yang terbaru dan terbaik di bidang hippologi. Sebagai contoh, Nona Dora yang liar sangat cepat dalam lompatannya ke udara, dan Tuan Althoff sendiri memiliki kuda ajaibnya "Saus-Rival" yang melakukan aksi-aksi paling luar biasa dan kuda apinya "Luccia" berlari kencang menembus hujan api. Ghezzi dan August ada di sana lagi, tentu saja, dan lucu seperti biasanya. Lebih jauh lagi, kita melihat "orang Cina" melakukan aksi-aksi konyol dengan anggota tubuh mereka yang lemas, dan dua badut Italia mengadakan pertandingan sepak bola yang lucu. Dan akhirnya, singa-singa, singa sungguhan, dalam wujud nyata. Di tengah IJsselmeer, mereka dibawa ke dalam kandang besi yang kokoh dan melakukan aksi akrobatik mereka di sana ditemani oleh dua Dogue de Ulmer. Mereka tampak cukup ramah dan menjalankan perintah tuan mereka sambil menguap. Bagaimanapun, mereka tidak memberi kesan kecurangan kepada penonton. Bagi mereka yang tidak berfilosofi tentang kejatuhan raja yang begitu dalam, memang pemandangan yang menyenangkan melihat seekor singa mengendarai sepeda’. 

Lantas apakah para personil Buffalo Bill Circus yang menginspirasi sepak bola bagi warga kota Como? Hal ini juga tidak memiliki argumentasi. Sebab sudah sejak lama ada pertandingan sepak bola di Milan. 


Seperti disebut di atas, pada tahun 1902 terinformasikan pertandingan sepak bola di Italia (lihat Algemeen Handelsblad, 17-04-1902). Disebutkan olahraga dan pertandingan (sepak bola). Pertandingan penentu Liga Sepak Bola Italia (Italiaansche bonds competitie), yang dimainkan pada hari Minggu tanggal 11 di Genoa di hadapan banyak penonton, setelah pertarungan sengit dimenangkan oleh FC Genoa, yang mengalahkan FC Turin dengan skor 2-0. Pada tahun 1906 di Milan sudah ada beberapa tim sepak bola yakni Milan Club, Ansonia, Unione Sportiva (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906). Dalam hal ini di kota Milan sudah ada kompetisi loka. Juga pada tahun 1906 ini diinformasikan ada pertandingan antara tim sepak bola Juventus Turin dangan tim sepak bola CAFBC Genoa dan pertandingan antara Milan Club II dengan CAFBC Genoa (lihat Algemeen Handelsblad, 23-03-1906). Daftar: Organisasi olahraga di Belanda (lihat Geschiedenis en encyclopaedie der sporten door Ley, R. van der. Drukker/Uitgever Van Sijn, 1953).

Keberadaan sepak bola di Turin dan di Milan lebih masuk akal yang menjadi sebab munculnya sepak bola di (kota) Como. Kisah Buffalo Bill Circus dalam awal sepak bola di Como besar dugaan adalah cerita yang dibuat yang didasarkan pada bukti empiris. 


Sangat naïf mengatakan warga kota Como terpapar sepak bola karena para personil sirkus singgah (berlibur) di danau Como, sementara sepak bola di Milan sudah sangat masif. Klub AC Milan didirikan 16 Desember 1899 yang kemudian sejumlah pemain AC Milan membentuk klub baru pada 9 Maret 1908 dengan nama Internazionale (Inter Milan). Di kota Turin klub Juventus didirikan 1 November 1897. 

Lantas apakah orang Italia tidak terlalu tertarik untuk menulis sejarah, khususnya sejarah sepak bola? Satu yang jelas, orang Belanda sangat menyukai sejarah dan bahkan aktif menulis sejarah sepak bola. Bagaimana dengan di Indonesia? 


Buku tentan, 1946)Buku tentang sepak bola yang telah ditulis oleh orang Belanda, antara lain: Het boek der sporten door Feith, Jan, Leliman, G.F. Drukker/Uitgever Van Holkema en Warendorf, 1900; Het sportboek voor 1904 door Feith, Jan. Drukker/Uitgever Hollandia, 1904; Jubileum-boek H.V.V., 1883-1908 door Administratie "De Revue der Sporten", 1908; De organisatie van de voetbalsport in Nederland door Nederlandsche Voetbalbond. Pers- en Propaganda-Commissie, 1912; Gedenkboek gewijd aan het 25-jarig bestaan van de Haarlemsche Football Club "Haarlem" 1889-1914. Oostenbroek en Zoon, 1914; Jubileum-nummer van het clubnieuws der Dordrechtsche Football-Club "D.F.C": Uitgegeven ter gelegenheid van het 40-jarig (1883?) bestaan door Roosendaal, C.J. Bandt, J.C. Drukker/Uitgever Dordrechtsche Football-Club "D.F.C", 1923; Handboek der sporten door Schagen, K.H. van, Hubert van Blijenburgh, W.P. Hamersveld, J. van, Mulder, Henri, Looman, G.J.B. Nijgh & Van Ditmar, 1924; Hoe Nederland vertegenwoordigd werd bij de Olympische Spelen Parijs 1924 door Comité Olympische Spelen Parijs. Secretariaat van het Comité Olympische Spelen Parijs. Haagsche Drukkerij & Uitgeversmij, 1925; 25 jarig jubileum A. F. C. "AJAX" 18 maart 1900-18 maart 1925 door Amsterdamsche Footballclub "AJAX" (Amsterdam). "AJAX Clubnieuws, 1925; R.K. Voetbal- en Athletiekvereeniging "Vooruit", 1916-1926: Jubileumboek uitgegeven bij gelegenheid van het 10-jarig bestaan door Engelman, A. R.K. Voetbal- en Athletiekvereeniging "Vooruit", Utrecht 1926; Ter herinnering aan het zilveren jubileum van de Maastrichtsche Voetbal Vereeniging, 1902-1927 door MVV, Maastricht. Maastrichtsche Voetbal Vereeniging, 1927; Nationaal sport gedenkboek door Meerum Terwogt, H.A. Nijland, G.J. Lauer, Leo. Koloniale Boek Centrale, 1927; Gedenkboek U.V.V: 1902 - 10 september – 1927 door Kramer, A.A. Utrechtsche Voetbal Vereniging, 1927; Het N.V.B.-boek: Gedenkboek bij het 40-jarig bestaan van den Nederlandschen Voetbalbond 1889-8 december-1929 door Hans, D. 1929; Gedenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het 50-jarig bestaan der Haarlemsche Football Club, 1879-1929 door Lotsy, Karel Johannes Julianus. Drukker/Uitgever Henskes, 1929. Fédération Internationale de Football Association 1904-1929 door Hirschman, C.A.W. Drukker/Uitgever Debussy, 1930; Gedenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het 40-jarig bestaan der Arnhemsche Voetbal- & Athletiekclub "Vitesse" 1892–1932 door Vitesse (voetbalclub). Arnhemsche Voetbal- & Athletiekclub "Vitesse". Drukker/Uitgever Vitesse, 1932. Geschiedenis der Dordrechtsche Football-Club door Dordrechtsche Football Club D.F.C., Dordrecht. Henskes, 1933; HBS 1893-1933: Jubileum-nummer ter gelegenheid van het 40-jarig bestaan der Haagsche voetbalvereeniging "Hoodt Braef Stant" op zaterdag 7 october 1933 door Ruyter de Wildt, C.F. de. Haagse Voetbal,- Cricket- en Hockeyvereniging "Houdt Braef Stant". Drukker/Uitgever HBS, 1933; 1908-1933: Gedenkboek, uitgegeven ter gelegenheid van het 25-jarig bestaan van de Rotterdamsche voetbal- en athletiek-vereeniging "Feijenoord" door Heesakker, L.A. Weber, J.M. Drukker/Uitgever(?), 1933; Haagsche Voetbal Vereeniging 1883-1933: Gedenkboek ter gelegenheid van het 50-jarig bestaan door Beelaerts van Blokland, V.P.A. Bölger, T.C.A. Schill, J.A. Haagsche Voetbal Vereeniging. Drukker/Uitgever Boogaards, 1933; Gedenkboek ter gelegenheid van het vijftigjarig bestaan van de Cricket- & Football-club "Hermes-D.V.S.": 1884 - 8 April – 1934 door Nordlohne, J. Bochove, P. van. Cricket- & Footballclub "Hermes-D.V.S." (Schiedam), 1934; De kwestie N.I.V.B. - V.B.O., van Batavia-zijde belicht: Voetbalbond Batavia en Omstreken (Batavia). Drukker/Uitgever Albrecht & Co, 1934; Haagsche voetbalbond: Jubileumboek bij het veertigjarig bestaan door Emmenes, A. van. Luctor et Emergo, 1934; 40 jaar voetbal in Ned. Indië 1894 – 1934. Drukker/Uitgever W. Berretty, 1934; Enschedesche Football-, Cricket- en Hockey-club Prinses Wilhelmina, 1885-1935: Jubileumboek uitgegeven ter van het 50-jarig bestaan door Enschedese Football, Cricket- en Hockeyclub "Prinses Wilhelmina". Drukker/Uitgever [[Enschedesche Football-, Cricket- en Hockey-club "Prinses Wilhelmina", 1935; Gedenkboek der Gron. Cricket- en Voetbalvereen. "Be Quick", 1927-1937 door Groningsche Cricket- en Voetbalvereeniging "Be Quick". 1937; Voetbalglorie door Hollander, Han. Stoomkoffiebranderij en theehandel H. Smith, 1938; Nijmeegsche Voetbal-, Cricket- en Athletiek-vereeniging Quick: Een herinnering aan het gouden jubileum, 10 april 1888-1938 door Hartog, D. den, Nijmeegsche Voetbal-, Cricket- en Athletiek-vereeniging Quick. Drukker/Uitgever Thieme, 1938; Koning voetbal door Bakhuys, Bep. "De Combinatie", 1938; Jubileumboek K.N.V.B: Koninklijke Nederlandsche Voetbalbond, 1889-1939 door Moorman, J. Lotsy, K.J.J. Emmenes, A. van. Koninklijke Nederlandsche Voetbalbond, `1939; Goal!: Alles over voetbal voor jong en oud door Pagano, Leo.Zeepfabrieken v/h De Haas & van Brero, Apeldoorn, 1949; Neerlands voetbalglorie door Emmenes, A. van. "Nieuwe Wieken", 1949; Voetbalprestaties in oranjeshirt: Het Nederlandse elftal gedurende ruim een halve eeuw door Adriani Engels, M.J. Drukker/Uitgever Kuurstra, 1949. Tabel: Daftar juara liga Belanda (lihat De voetbalkampioenen, Drukker/Uitgever De Internationale Pers, 1946)

Buku Sejarah Sepak Bola di Indonesia yang ditulis Akhir Matua Harahap yang diterbitkan Deepublish, 2024 mencakup sejarah sepak bola di Indonesia sejak era Hindia Belanda, sejak permainan sepak bola diperkenalkan oleh orang-orang Eropa terutama Inggris dan Belanda. Buku ini menyajikan data dan fakta untuk menjawab semua pertanyaan yang ada tentang sepak bola. 


Isi buku Sejarah Sepak Bola di Indonesia, diantaranya: Awal Mula Sepak Bola di Indonesia; Perserikatan dan Kompetisi; Kejuaraan Antarkota; Klub Pribumi di Perserikatan NIVB; Pertandingan Internasional; Persatoean Sepak Bola Seloeroeh Indonesia; Klub Sepak Bola Cina; Lapangan Olahraga dan Stadion Sepak Bola; Tokoh Sepak Bola di Indonesia; Media Sepak Bola; Pemain Sepak Bola Terkenal; Sepak Bola Negara Tetangga; Kejuaraan Sepak Bola Perserikatan; Pekan Olahraga Nasional dan Olimpiade Internasional; Ekonomi, Bisnis dan Industri Sepak Bola. 


Buku adalah sumber umum tentang informasi sepak bola yang ketiga. Dua yang pertama adalah surat kabar dan majalah. Harus pula diingat, dalam penulisan buku juga berbagai sumber dari surat kabar dan majalah dikompilasi. Seperti disebut di atas, buku-buku olahraga dan kususnya buku-buku sepak bola belum lama ditulis/dipublikasikan. Lantas bagaimana dengan surat kabar dan majalah. 


Secara historis surat kabar berisi tentang informasi banyak hal, mulai dari ekonomi, politi dan hingga olahraga. Pada rubrik olahraga inilah berita-berita sepak bola dapat dibaca. Demikian juga dengan majalah berisi banyak hal. Namun dalam perkembangannya, majalah banyak yang berfokus pada satu hal, satu bidang saja. Lalu bagaimana dengan surat kabar dan majalah olahraga dan khususnya yang fokus pada sepak bola. Tentu saja pada masa ini di berbagai negara ditemukan surat kabar maupun majalah yang khususnya hanya tentang sepak bola. Bagaimana di masa lampau? Yang jelas surat kabar umumnya bersifat harian, sedangkan majalah bersifat mingguan atau dwimingguan. Jadi dalam hal ini, inrtinya surat kabar, majalah dan buku memiliki aktualitas data dan informasi yang disajikan. 

Pertanyaannya sejak kapan surat kabar olahraga/sepak bola terinformasikan pertama? Tidak/belum terinformasikan. Yang sudah terinformasikan di Belanda adalah majalah olahraga. Oleh karena itu, sumber yang paling aktual untuk semasa (pada masanya) hanyalah surat kabar dan majalah. Hal itulah yang menyebabkan majalah olahraga/sepak bola menjadi sangat penting di awal sejarah sepak bola. 


Majalah olahraga pertama di Belanda terbit kali pertama pada tahun 1882. Namanya “Nederlandsche sport; officiëel orgaan der Nederlandsche Harddraverij- en Renvereeniging, der Nederlandsche Jachtvereeniging "Nimrod", der Koninklijke Nederlandsche Zeil- en Roeivereeniging, der Amsterdamsche IJsclub en der Amsterdamsche Skating-club”. Majalah edisi pertama (tahun pertama) bertanggal 11-03-1882. Seperti judulnya, majalah “Nederlandsche sport” ini menjadi organ resmi bagi asosiasi lari dan balap, asosiasi berburu, asosiasi layar dan dayung, klub Es dan klub skating. Dalam hal ini semua cabang olahraga yang mengusung majalah tersebut adalah cabang olahraga di luar ruangan (di dalam ruangan seperti senam, boling, catur dan lainnya). 

Olahraga sepak bola (dan juga kriket) adalah cabang olah raga di luar ruangan. Dalam hal ini majalah olahraga pertama di Belanda cabang olahraga di luar ruangan tidak disertakan. Bagaimana dengan cabang olahraga sepak bola? Satu yang jelas pada tahun 1882 cabang olahraga sepak bola belum masif, baik di Inggris maupun di Belanda (dua negara yang terawal dalam pertumbuhan dan perkembangan sepak bola). Majalah “Nederlandsche sport” terbit di Amsterdam dua minggu sekali (dwimingguan) dengan ketebalan 12 halaman. 


Pada tahun ke-6 (1887) majalah “Nederlandsche sport” mulai didukung oleh Nederlandsche Cricket-Bond. Asosiasi ini mengusung selain cabang utama kriket, juga cabang olah raga lawn-tennis (tennis lapangan), football (sepak bola), kolven (golf) dan kegelen (boling). Sejak inilah cabang olahraga sepak bola dapat ditemukan dalam halaman majalah. Dalam edisi khusus ini sepak bola dengan judul: Amsterdam. Oprichting Voetbal-Vereeniging; Amsterdam Spel van de Voetbal-Vereeniging; Free Critic. Spel vau de Rotterdam Voetbalclub Concordia; Haarlemsche FC tegen de Haagsche Vreeeniging Olympia; 2e Elftal der Haarlemsch FC tegen FC Excelsior te Haarlem; Match tusschen de WCC en Go-ahead uit Wageningen; Returmnatch tusschen 2e elftal der HFC en Ie elftal Exeelsio; Rotterdamsche FC Concordia tegen de Amsterdam Voetbal-Vereeniging; Vertaling Eugelsehc termen; Voorstelling vau een veld voor voetbalspel. Sementara dalam majalah Nederlandsche sport edisi 17-09-1887 memuat artikel singkat tentang (dengan judul) Voetbal Vereenigiing Asmterdam. 

Lantas sejak kapan permainan sepak bola masuk berita di surat kabar? Tentu saja permainan sepak bola sudah ada yang melakukannya di Belanda. Namun belum popular (sebab masih baru di Belanda tetapi sudah lebih awal di Inggris). Dalam surat kabar berbahasa Belanda sudah ditemukan sebutan sepak bola (lihat Arnhemsche courant, 09-10-1871). Disebutkan banyak permainan yang penuh energi, yang menjadi sumber kekuatan dan kesehatan para lansia, kini jarang ditemukan. Kolf, misalnya. Di Inggris, di mana banyak permainan yang sangat dihargai yang terutama membutuhkan kekuatan dan gerakan—saya hanya menyebutkan sepak bola dan kriket dan banyak permainan bola wanita—senam tidak begitu diterima, karena kurang dibutuhkan di sana.


Surat kabar Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 26-05-1874 dimuat satu artikel (diterjemahkan dari bahasa Inggris, diduga artikel dari surat kabar Inggris). Artikelnya berjudul “Fransche Toestanden” (uit het Engelsch). bagian II. Di dalam artikel ini tertulis ‘Orang tidak dapat berkuda di Boulogne saat itu, karena akan berkuda sendirian; permainan bola nasional lama sudah ketinggalan zaman; jeux de paume publik tidak ada lagi, dan orang Prancis tidak menyukai kriket, sepak bola, polo, dan hiburan lainnya, di mana seseorang bisa melepuh di tangan dan melukai diri sendiri. 

Apa yang tergambar saai itu, sepak bola sudah cukup intens di Inggris, sementara di Belanda baru memulai demam. Sedangkan di Prancis sepak bola bahkan belum dikenal sama sekali. Dalam hal ini juga dengan sendirinya dapat diprediksi di Italia (tentang sebelah timur Prancis). 


Sampai sejauh ini belum ada surat kabar di Belanda yang memberitakan pertandingan sepak bola. Namun demikian eksistensi sepak bola di Belanda sudah terinformasikan. Sekali lagi, dalam hal ini, memang sepak bola di Belanda sudah terinformasikan, namun sebagai suatu pertandingan belum pernah ada yang masuk pemberitaan. Artinya, nilai berita sepak bola belum ada. Tentang sepak bola yang sudah dikenal luas di Belanda dapat dibaca dalam buku berjudul “Een schooljongen, of Van kwaad tot erger door Farrar, F.W. Kneppelhout, Johannes, Mesker, J.J. Hoogstraten, H.L. van. Drukker/Uitgever W.H. Kirberger, 1868. Beberapa decade sebelumnya (mungkin di Inggris) di dalam berkala ”The freemason's quarterly review [1848-1849:] and general assurance advocate: [publ. by Rob. Thom. Crucefix] 1834-1843 [With] New series 1843-1850 by Crucefix, Rob. Thom, 1848” disebut “dan dengan itu mereka bermain sepak bola”.

Sebagaimana surat kabar yang ada di Indonesia (baca: Hindia Belanda), kerap menyalin artikel-artikel yang terdapat di dalam surat kabar yang terbuit di Belanda. Dengan kata lain sebutan sepak bola (voetbal) sudah menyebar ke Indonesia, namun diduga kuat belum ada yang memainkan sepak bola di Indonesia. Sebab bagaimanapun Indonesia adalah wilayah tropis, wilayah dimana olahraga di luar ruangan akan kesulitan bagi orang-orang Eropa/Belanda. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-11-1882: ‘Spes Patriae. Bagian II. Orang Inggris—begitu yang baru-baru ini saya baca di “Nederlandschen Spectator”—adalah “bangsa” yang bahagia. Mereka menangkap Arabi Pasha, menyelesaikan “masalah tanah yang rumit,” makan daging sapi terbaik, dan minum anggur merah terbaik! Mereka “membuat meriam Armstrong yang paling hebat”, memiliki pelaut yang paling cakap, kapas terbaik, “buku-buku termahal,” dan Perdana Menteri “Eropa” yang paling fasih. Tetapi lebih dari itu—dan sekarang “semua omong kosong” berakhir—sebagai “bangsa sastra,” mereka hampir berada di puncak “Eropa.” Tidak banyak yang perlu diperdebatkan mengenai pujian itu—kami menyerahkan poin tentang anggur merah dan [masalah Inggris] kepada Jan ten Brink, yang merupakan penulisnya—tetapi kami bahkan ingin menambahkan sesuatu. Orang Inggris—begitu kata kami—juga memiliki sistem terbaik untuk mendidik anak laki-laki. — Program pendidikan mereka tampaknya agak kuno; beberapa bentuk dan cara disiplin tampak sangat menggelikan bahkan bagi kami orang asing: tingkat pengetahuan. Menurut pandangan kami, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut: — Di sekolah-sekolah Inggris, anak laki-laki terbiasa dengan kemandirian; mereka harus belajar untuk mengurus diri sendiri dan berdiri di atas kaki mereka sendiri sejak usia dini. — Anak laki-laki menikmati kebebasan pribadi yang jauh lebih besar dan memiliki waktu luang yang jauh lebih banyak daripada di tempat kami. — Disiplin di sana jarang diterapkan tetapi ketat dan efektif. — Sekolah dan pelajaran dipenuhi dengan semangat klasik; Roma Kuno berbicara dari setiap sudut dan buku, dengan contoh-contoh kepahlawanan, kebajikan sipil, dan kekuatan penakluk dunia yang tak tertandingi. —Dan akhirnya, mungkin yang paling penting, anak laki-laki Inggris, sejauh menyangkut permainan mereka, sepuluh kali lebih kaya daripada rekan-rekannya dari benua Eropa, daripada anak laki-laki Jerman atau Belanda. Memang benar bahwa poin-poin kemandirian dan kebebasan tersebut kurang relevan di sini, karena kami tidak hanya menulis tentang sekolah berasrama, tentang pendidikan dan pengasuhan, tentang seluruh perlakuan terhadap kaum muda, tetapi semua hal lainnya, jika itu adalah kebajikan dan hak istimewa —dan itulah yang kami anggap— sangat menyentuh kami. Untuk pertama kalinya, tidak banyak yang bisa dilakukan tentang kurangnya klasisisme itu. Dengan kebijaksanaan mereka yang luar biasa, para legislator kita menganggap perlu untuk membuat pendidikan menengah semodern dan serealistis mungkin. Bahkan bahasa dan sejarah lebih ditoleransi daripada dihormati di sana. Mata pelajaran fisika yang bertanggung jawab, dan dengan rasa harga diri yang tinggi, guru yang bertugas mengajar mata pelajaran tersebut memandang rendah rekan-rekannya yang ditugaskan mengajar bagian sastra dan sejarah dalam kurikulum. Mereka dianggap kurang lebih sebagai ras yang ditakdirkan untuk punah oleh kemajuan peradaban, seperti suku Maori di Selandia Baru dan suku Indian di Amerika Utara. Dan klasisisme, Yunani, Latin, Sejarah Kuno, contoh-contoh kuno, Cato, Pericles, Leonidas, dll. —dimasukkan ke dalam Daftar Isi! Tentu saja, seseorang harus mengetahui sesuatu tentang hal itu, tetapi untuk memberikan banyak makna padanya, untuk mendapatkan kekuatan inspiratif darinya, untuk mendapatkan semangat darinya yang secara bertahap memenuhi sekolah, murid, dan pendidikan—yah, sekadar memikirkan hal ini akan dianggap di kalangan sekolah borjuis kita sebagai tanda klasisisme. Namun, contoh-contoh kuno yang sama, pada periode sebelumnya di antara kita dan masih hingga kini di Inggris, telah membangkitkan keinginan pertama pada banyak anak laki-laki untuk membedakan diri dari orang lain dan telah menabur benih konsepsi agung tentang 'menjadi warga negara' di hati banyak anak laki-laki; yang hingga kini tetap menjadi salah satu karakteristik terbaik bangsa Inggris. Tetapi, seperti yang telah dikatakan, klasisisme itu telah disingkirkan dari seluruh sistem pendidikan di antara kita, kecuali dari beberapa fakultas universitas dan dari gimnasium, tempat ia mencari perlindungan. Di antara kita orang Belanda, orang mengharapkan segalanya dari nilai +? Anak-anak laki-laki diberi pelajaran fisika, dididik secara matematis, dan dimuliakan secara kimia. Semua ini tidak mengubah fakta bahwa, justru dalam ranah kehidupan praktis—yang mana studi realistis, jika memang berarti sesuatu, pasti mempersiapkan kita—kita tampak menyedihkan dibandingkan dengan orang Inggris; Sosok yang jauh lebih menyedihkan bahkan daripada di masa lalu yang bodoh itu, ketika seorang anak laki-laki diajari sejarah Yusuf oleh kepala sekolah desa dan, pada usia dua belas tahun, atau terkadang bahkan lebih awal, mulai mempelajari sejarawan Latin dan mendengar tentang Caudinae ke-10 dan Pertempuran Marathon, tentang Ilannibal dan Regulus. Jangan sampai ada yang berpikir bahwa kami buta terhadap kekurangan sistem sekolah sebelumnya dan terhadap kemajuan saat ini! Apalagi jangan sampai ada yang mencurigai kami berprasangka terhadap mata pelajaran fisika! Sebaliknya; kami menganggapnya sebagai berkah besar bahwa sekarang setidaknya tidak ada kota penting yang tersisa di Belanda di mana seseorang tidak dapat mempelajarinya sepenuhnya. Tetapi mengapa jiwa dan inti dari semua pendidikan dan pengasuhan sebelumnya harus dibuang dengan reformasi sistem sekolah? Hak apa yang ada untuk yang kaku, sombong, yang Keunggulan yang luar biasa dari mata pelajaran fisika yang sama? Eh, langsung saja kita beralih ke Hindia Belanda, bagaimana mungkin Batavia, ibu kota Koloni, Játavia, pernah memiliki gimnasium dan sekarang tidak memilikinya lagi, sementara hanya namanya yang tersisa dan sekarang menjadi sebutan resmi dan umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk sekolah menengah atas kita? Setidaknya di sini, sedikit penawar klasik akan sangat bermanfaat untuk melawan kesan pengasuh dan lingkungan Melayu. Tapi mari kita kembali ke anak-anak Inggris. Hak istimewa terakhir dan mungkin terbesar mereka, yang telah kita sebutkan, adalah kekayaan permainan mereka. Ingat, permainan di udara terbuka, bukan petak umpet dengan para saudari di dalam ruangan, tetapi kriket dan sepak bola. Dan permainan-permainan itu bukan sekadar hiburan di sana, yang membuat para pemuda itu sibuk selama lima belas menit; tidak, itu adalah hal yang penting. Penguasaan dan kemenangan yang diraih di dalamnya sama tingginya, bahkan bagi banyak orang lebih tinggi, daripada hadiah dan peringkat di sekolah. Dan ini juga terjadi di Inggris, bahwa permainan anak muda juga merupakan permainan orang dewasa dan lansia, bahwa permainan tersebut membangkitkan antusiasme nasional, membentuk bagian penting dari seluruh kehidupan nasional. Satu-satunya hal yang dapat ditawarkan oleh anak laki-laki kita, yang sedikit lebih dewasa, sebagai kontras adalah permainan biliar yang penuh semangat, di mana aroma kedai anggur dan "kedatangan awal" bertindak sama menariknya dengan kain hijau. Apakah akan sepenuhnya salah jika kita mengatakan: anak laki-laki Inggris bermain bola di waktu luangnya sampai ia kelelahan, anak laki-laki keturunan India Belanda berpakaian rapi, menyalakan cerutu, berjalan-jalan dengan beberapa orang lain dan — bosan atau bosan dan merenungkan sesuatu yang jauh lebih buruk? Lebih jauh lagi, memang benar, kita memiliki pesta dansa anak-anak—tentu saja untuk melepaskan mereka dari kesopanan, dan untuk menjadikan mereka pria praktis yang mampu menjalani kehidupan yang keras! Dan juga—mungkin dengan tujuan yang sama—kita melihat sejumlah pengunjung muda di opera berulang kali. Apakah kita kemudian menentang dansa? Sama sekali tidak; Ini adalah bentuk olahraga yang sangat baik. Atau berlawanan dengan opera? Jauh dari itu. Tetapi sebagai tempat rekreasi bagi anak laki-laki, bola dan teater tentu tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan lapangan kriket. Memang benar, kita—dan terlebih lagi Jerman dan Swiss—memiliki satu keunggulan dibandingkan Inggris dalam pendidikan, dan itu adalah senam; praktik senam baru saja dimulai di kalangan orang Inggris. Seluruh buku dapat ditulis tentang senam itu sendiri; tetapi betapapun tingginya kita menghargainya, kita tidak boleh lupa bahwa itu adalah olahraga yang diatur dan, terlebih lagi, hampir tidak pernah dilakukan di udara terbuka. Dalam hal-hal tersebut, senam berada di bawah permainan Inggris sebagai obat kesehatan. Dan kemudian ada prestasi tambahan ini: bahwa mata pelajaran ini, satu-satunya yang dianggap dapat menyelamatkan tubuh yang terabaikan—saraf dan otot, postur dan sirkulasi—yang setengah hancur karena duduk di sekolah dan bekerja dari rumah, bahkan tidak termasuk di antara mata pelajaran wajib. Sebuah contoh baru dari kebijaksanaan para legislator kita! Untungnya, banyak orang tua lebih bijaksana daripada para pria di Den Haag. Untungnya, anak-anak laki-laki itu sendiri juga melihat manfaatnya. Karena tidak ada bidang studi yang mengalami kemajuan begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan tidak ada pula yang menikmati begitu banyak dukungan dan simpati, seperti senam, yang dulu diremehkan oleh para pembuat undang-undang. Terutama di sini di Batavia, di mana, selain Turnverein dan kursus anak-anak yang banyak diikuti, dan selain banyak instruksi privat dalam senam, terdapat tiga asosiasi untuk olahraga ini, yaitu O'mpia, Luctor, dan Achüles. Praktik sukarela ini, dalam tingkat yang begitu kuat, merupakan fenomena yang menggembirakan, yang layak dipuji dengan sebuah puisi. Jika ada yang, mengingat sekolah dan dunia anak laki-laki kita, pernah berseru dengan kecewa: — “Apakah itu benar-benar tujuan yang diinginkan?” — maka kita dapat menjawabnya:— “Mungkin mereka masih belum mencapai tujuan yang diinginkan, tetapi mereka sedang dalam perjalanan untuk kembali mencapainya!” Mengenai apa yang dilakukan Bientjes dan rekan-rekannya untuk tujuan itu di Belanda, serta argumen dan indikasi mereka, akan dibahas dalam artikel selanjutnya’. Iklan: Pembbuat dan penjual sepatu, termasuk sepatu sepak bola (lihat Haagsche courant, 03-05-1886). 

Nama olahraga sepak bola sudah dikenal di Indonesia tetapi belum menjadi permainan yang dimainkan (di wilayah tropis). Sementara di Inggris permainan sepak bola sudah dimainkan secara intens. Sedangkan di Belanda masih bersifat random (tertentu saja). Hal itulah mengapa belum terinformasikan di majalah olah raga di Belanda “Nederlandsche sport” yang terbit sejak 1882. Dalam perkembangannya sepak bola masih cabang olah raga pilihan bagi perkumpulan olahraga kriket. 


Algemeen Handelsblad, 14-09-1887: ‘Baru-baru ini diadakan pertemuan di sini dengan tujuan mendirikan Klub Sepak Bola. Rencana tersebut mendapat persetujuan umum, sehingga diputuskan untuk mendirikannya, setelah itu sekitar lima belas orang yang hadir bergabung dengan asosiasi yang baru didirikan, yang sekarang bernama "Voetbal-Vereeniging Amsterdam". 

Perkumpula sepak bola di Amsterdam telah didirikan, Bagaimana dengan di kota-kota lainnya? Tidak terinformasikan. Lantas apakah "Voetbal-Vereeniging Amsterdam" adalah perkumpulan sepak bola pertama di Belanda? Tentu saja tidak pasti. Mengapa? Yang jelas artikel tentang perkumpulan sepak bola di Amsterdam sudah dimuat di dalam majalah “Nederlandsche sport”, majalah yang terbit di Asmterdam pada edisi khusus tahun ke-6, 1887. Seperti disebut di atas di dalam edisi khusus ini juga terinformasikan Rotterdam Voetbalclub Concordia; Haarlemsche FC, Haagsche Vreeeniging Olympia, FC Excelsior te Haarlem, WCC dan Go-ahead dari Wageningen. Dalam hal ini, pada tahun 1887 paling tidak sudah ada perkumpulan sepak bola di Amsterdam, Haarlem, Den Haag, Rotterdam dan Wageningen. Namun untuk menambah informasi mari kita periksa buku-buku yang ditulis di atas. 


Buku tentang sepak bola yang mengindikasikan tahun kelahiran perkumpulan sepak bola di Belanda: Jubileum-nummer van het clubnieuws der Dordrechtsche Football-Club "D.F.C": Uitgegeven ter gelegenheid van het 40-jarig (1883?) bestaan door Roosendaal, C.J. Bandt, J.C. Drukker/Uitgever Dordrechtsche Football-Club "D.F.C", 1923; Gedenkboek de Cricket- & Football-club "Hermes-DVS": 1884 - 8 April – 1934. Gedenkboek gewijd aan het 25-jarig bestaan van de Haarlemsche Football Club "Haarlem" 1889-1914; 25 jarig jubileum AFC "AJAX" 18 maart 1900-18 maart 1925; Jubileum van de Maastrichtsche Voetbal Vereeniging, 1902-1927; Gedenkboek UVV 1902 - 10 september – 1927; Gedenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het 50-jarig (1879?) bestaan der Haarlemsche Football Club, 1879-1929. Haagsche Voetbal Vereeniging 1883-1933: Gedenkboek ter gelegenheid van het 50-jarig bestaan. Perlu ditambahkan disini: “Jubileumboek KNVB Koninklijke Nederlandsche Voetbalbond, 1889-1939” dan “40 jaar voetbal in Ned. Indië 1894 – 1934”. Nijmeegsche Voetbal-, Cricket- en Athletiek-vereeniging Quick: Een herinnering aan het gouden jubileum, 10 april 1888-1938. 

Jadi, sebenarnya, sudah cukup jelas, awal mula sepak bola di Belanda, di Indonesia dan di Italia berada pada kurun waktu yang kurang lebih sama. Dalam konteks inilah menjadi menarik melihat kehadiran Hartono Bersaudara sebagai pemilik klub Coimo 1907 di kota Como, Italia. Seperti disebut di atas, sepak bola di Indonesia bermula di Medan pada tahun 1893 dimana diadakan pertandingan sepak bola di lapangan Esplanade Medan antara kesebelasan Medan (Belanda) dengan tamunya kesebelasan Penang (Inggris) dimana pada pagi hari dipertandingkan kriket dan pada sore hari pertandingan sepak bola. 


Permainan kriket dan permainan sepak bola ibarat abang dan adik di dalam satu keluarga (perkumpulan olahraga). Hubungan kedua cabang olahraga ini dapat diuraikan lebih rinci sebagai berikut: Seperti disebut di atas, perserikatan kriket Belanda (Nederlandsch Cicket Bond=NCB) didirikan tahun 1883. Pada tahun sebelumnya (1882) didirikan majalah olahraga pertama di Belanda “Nederlandsche sport” yang mana para pendukungnya antara lain perkumpulan olahraga lari dan balap, olahraga berburu, olahraga layar dan dayung. Pada edisi khusus tahun  ke-6 Nederlandsch Cicket Bond sudah turut mendukung “Nederlandsche sport”. Dalam edisi ini disebut Nederlandsch Cicket Bond=NCB juga memiliki cabang olahraga pilihan seperti tenis lapangan, sepak bola dan golf. Salah satu perkumpulan kriket yang sudah terbilang tua adalah perkumpulan kriket di Den Haag seperti dinyatakajn dalam buku besar mereka berjudul “Haagsche Cricketclub, 1878-1928: Gedenkboek ter gelegenheid van het 50-jarig bestaan” door Coops, J.W.G. Manen, H. van. Drukker/Uitgever Moorman's Periodieke Pers, 1928. Buku besar Nederlandsch Cicket Bond=NCB: “Gedenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het vijftigjarig bestaan van den Nederlandschen Cricket Bond: 1883-30 september-1933” door Coops, J.W.G. Drukker/Uitgever NCB, 1933. 

Selanjutnya di Belanda, dengan semakin banyaknya perkumpulan (Vereeniging) sepak bola seperti di Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag, lalu pada tahun 1889 didirikan perserikatan sepak bola (nasional) di Belanda yang diberi nama Koningrijk Nederlandsche Voetbal Bond (KNVB) yang masih eksis hingga kini (setelah dua tahun tentang olahraga dimuat dalam majalah “Nederlandsche sport”. Salah satu anggotanya adalah perkumpulan (klub) sepak bola di Den Haag (sejak 1879). Lantas, apakah kemudian muncul majalah sepak bola? 


Seperti kata pepatah yang pertama yang menulis. Yang pertama pula lebih awal tertulis. Demikianlah cara kerja penulisan sejarah. Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan haruslah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman. Buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam hal inilah menjadi penting sejarah dan pentingnya penulisan sejarah, termasuk penulisan sejarah sepak bola. Berdasarkan AI Wikipedia tingkat popularitas, jumlah penjualan di toko daring, dan ulasan dari komunitas sepak bola (seperti Pandit Football atau Fandom), berikut adalah buku-buku sejarah sepak bola Indonesia yang paling populer dan banyak dicari di Indonesia adalah “Sejarah Sepak Bola di Indonesia” karya Akhir Matua Harahap: Menjadi salah satu buku referensi sejarah paling laris saat ini dengan angka penjualan mencapai ribuan eksemplar di platform belanja daring. Buku terbitan Deepublish Store ini menyajikan data sejarah yang sangat lengkap, mulai dari masa kolonial hingga tahun 2024. 


Namun yang tetap menjadi pertanyaan, hingga sejauh ini perkumpulan senam tidak termasuk yang mendukung majalah “Nederlandsche sport”. Mengapa? Fakta bahwa perkumpulan senam di Belanda sudah jauh lebih awal. Perserikatan senam Kiningrijk Nederlandsche Gymnatiek Verbond (KNGV) sudah didirikan pada tahun 1868. Yang jelas pada tahun 1886 terbit majalah De athlete, majalah yang menjadi organ dari Nederlandschen Athletiek Bond. Pada tahun 1888 majalah senam di Belanda diterbitkan dengan nama Tijdschrift van het Nederlandsch Gymnastiek-Verbond (lihat Tijdschrift van het Nederlandsch Gymnastiek-Verbond, jrg 1, 1888, no. 4, 1888). Lalu bagaimana dengan majalah sepak bola? 


Pada tahun 1889 terbit majalah orlahraga baru bernama “Het sportblad; geïllustreerd weekblad voor alle takken van sport” (lihat Het sportblad; geïllustreerd weekblad voor alle takken van sport, jrg 1, 1889, 01-01-1889). Majalah ini juga menjadi organ dari berbagai klub/Vereeniging atau bond termasuk termasuk Nederlandsch Voetbal en Athletiek Bond. Tampaknya perkumpulam sepak bola tergabung dengan perkumpulan atletik. Sebagaimana disebut di atas pada tahun 1889 ini didirikan perserikatan sepak bola Belanda (KNVB). Tabel: Klassemen liga sepak bola Inggris (lihat Nederlandsche sport;, jrg 12, 1893, no. 557, 25-03-1893). 

Hingga sejauh ini belum/tidak ada majalah sepak bola. Yang ada adalah majalah olahraga, majalah yang didukung oleh perkumpulan/perserikatan cabang olahraga tertentu. Ini mengindikasikan, jika surat kabar umumnya bersifat komersial, majalah olahraga masih bersifat terbatas (kebutuhan sendiri). Pada tahun 1902 terbit majalah Sportkroniek: Weekblad voor sport Rijwiel- en motor-orgaan. Majalah sepak bola baru muncul tahun 1905. 


De courant, 23-10-1905: ‘Majalah olahraga baru. Sekali lagi kami harus melaporkan kemunculan majalah olahraga baru, majalah sepak bola khusus, bernama "De Sport". Awalnya dimaksudkan sebagai majalah sepak bola khusus Rotterdam, yang diterbitkan oleh Asosiasi Sepak Bola Rotterdam, majalah ini setidaknya memiliki alasan untuk eksis! Tetapi sekarang, pada penampilan keduanya, editor, Bapak D. Hans, mengumumkan bahwa majalahnya juga akan menjadi majalah olahraga umum, sehingga kita melihat seluruh publikasi majalah ini tidak lebih dari anak yang lahir mati. Negara kita terlalu kecil untuk begitu banyak majalah olahraga yang tidak dapat menghasilkan keuntungan. Menurut pendapat kami, akan jauh lebih baik jika, alih-alih desentralisasi, sesuatu yang lebih seperti sentralisasi dipertimbangkan. Jika satu majalah olahraga besar dan terstruktur dengan baik dengan laporan olahraga yang solid dapat muncul, di mana semua kontributor yang cakap dari majalah olahraga yang ada saat ini mencurahkan upaya mereka, maka sesuatu yang baik dapat diciptakan! Sekarang sebagian besar adalah pekerjaan setengah hati, persaingan yang tidak perlu dan, akhirnya, menghilang dengan cepat!’. 

"De Sport" adalah majalah olahraga pertama di Belanda yang bersifat komersial, layaknya surat kabar. Meski demikian, karena begitulah masanya, majalah ini juga menjadi organ dari perserikatan sepak bola Rotterdamsche Voetbalbond tetapi mengusung olahraga umum (tidak terbatas pada seputar Rotterdamsche Voetbalbond. Lalu kapan muncul majalah olahraga/sepak bola yang bersifat umum (non organ)? Itu menjadi soal, namun dalam hal ini yang terpenting bagaimana sejarah awal sepak bola yang  sudah cukup intens di Inggris dan Belanda (klub, bond dan media) pada akhirnya menemukan jalan ke pengenalan dan pertumbuhan sepak bola di Italia? 


De courant, 02-12-1909: ‘De Voetbal-almanak (Almanak Sepak Bola). Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Paruh pertama musim sepak bola hampir berakhir dan lihatlah, sore ini kami akhirnya menerima volume ke-12 Almanak Sepak Bola, yang diterbitkan oleh Asosiasi Sepak Bola Belanda. Mulai volume ini dan seterusnya, buklet tersebut berjudul "Buku Tahunan Sepak Bola". Namun, kali ini ada alasan. Sekretaris komite editorial yang rajin, Bapak J.A. Wijnmalen, telah sakit parah selama beberapa waktu. Hampir pulih, beliau sudah kembali menghabiskan waktu luangnya untuk buku tahunan yang tebal itu, yang, jika dilihat sekilas, tampak rapi dan tidak diragukan lagi akan memberikan kesan yang baik. Kami akan kembali membahas isinya secara lebih detail dalam beberapa hari mendatang’. 

Kapan sepak bola bermula di Inggris di wilayah mana dimulai tidak terinformasikan secara pasti. Mari mulai dari yang terinformasikan (lihat A Suffolk rector: Stray leaves from a freemason's note-book, 1846). Disebutkan dahulu, anak laki-laki menerbangkan layang-layangnya; dan kini anak muda menyemangati permainan sepak bolanya yang meriah; dan para bujangan kota memasang gawang mereka untuk pertandingan kriket. Apakah dalam hal ini permainan sepak bola (juga) dilakukan malam hari?

 

Algemeen Handelsblad, 26-09-1865: ‘Awalnya kami disambut dengan beberapa makian yang tulus, tetapi beberapa kata bercanda dari teman saya yang orang Inggris memastikan bahwa kami dibiarkan menonton tanpa gangguan. Namun, ketika beberapa penonton lain mendekat, sebuah "bola sepak" dilemparkan ke udara, dan mereka semua tampaknya berkumpul dengan rencana yang menakjubkan untuk menikmati permainan yang menghibur itu di bawah cahaya bintang. Betapapun konyol dan tanpa rasa takutnya hiburan malam seperti itu, namun tetap dapat membahayakan nyawa warga sipil yang damai di provinsi tersebut’. 

Deskripsi tentang (permainan/pertandingan) sepak bola di Inggris ditemukan dalam satu artikel di majalah Gentleman's Magazine Volume X (Januari-Juni) 1873 dengan judul “Football” oleh Sirius (halaman 385-391). Untuk kebutuhan penulisan sejarah ini, artikel tersebut telah diringkas sebagai berikut: 


Gentleman's Magazine, Or Monthly Intelligencer, 1873: Sepak Bola oleh Sirius: Dengan kembalinya para pemain kriket Inggris dari Amerika, sisa terakhir kriket untuk musim ini telah hilang, dan sepak bola kemudian kembali berkuasa dengan kekuatan dan daya tarik yang lebih besar dari biasanya. Para penggemar permainan ini semakin bertambah jumlahnya setiap tahun, dan tampaknya popularitas yang dapat diraih sepak bola sama besarnya dengan popularitas yang telah diraih kriket. Hal ini mungkin tidak mengejutkan jika diingat bahwa para pemain kriket, agar dapat bermain di lapangan pada awal musim—yang sering dimulai di banyak sekolah pada bulan Maret—harus menjaga kondisi mereka dengan cara tertentu, atau mereka tidak akan mudah memenuhi syarat untuk dipilih ke dalam sebelas dan dua puluh dua pemain. Sepak bola, maka, umumnya diakui sebagai satu-satunya permainan musim dingin luar ruangan yang baik yang dapat mendekati kriket dan menjadi permainan tambahan yang sehat. Namun, sepak bola tidak hanya populer di sekolah. Anak-anak yang lebih besar banyak bergabung dalam permainan ini, dan di antara banyak selebriti yang terus memainkan permainan ini, jauh setelah masa sekolah mereka, dapat disebutkan Tuan W.H. Gladstone, putra Perdana Menteri dan Anggota Parlemen untuk Whitby. Orang-orang tidak pernah sepakat tentang hal-hal ini, dan jika kita mencari catatan, kita akan menemukan sejumlah daerah yang mengklaim kehormatan sebagai yang pertama mendirikan klub. Mengenai popularitasnya, yang lebih langsung menjadi perhatian kita, cukup dengan sekilas melihat daftar pertandingan yang muncul setiap hari dan mingguan di surat kabar selama musim tersebut untuk memastikannya. Alasan popularitas ini telah saya coba jelaskan dengan satu-satunya cara yang tampaknya masuk akal—bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga diri tetap bugar dan dalam kondisi prima selama musim dingin. Hampir tidak ada sekolah yang memiliki reputasi dan jumlah anggota yang memadai yang tidak memiliki tim sepak bola beranggotakan dua puluh orang, dan sungguh luar biasa bahwa hampir selalu di antara mereka akan ditemukan nama-nama anggota klub kriket sebelas dan dua puluh dua orang. Fakta itu seharusnya menjadi bukti yang meyakinkan, jika memang diperlukan, bahwa para pemain kriket menganggap permainan ini sebagai satu-satunya permainan praktis untuk musim dingin. Dalam hal kriket, setiap klub di seluruh dunia terikat oleh aturan dan otoritas Klub Marylebone. Tidak ada keraguan tentang apa pun aturan permainan - selalu kecuali kekhususan leg-before-wicket masalah, keputusan mengenai poin rumit ini masih secara tidak dapat dijelaskan diserahkan kepada "pendapat" wasit - dan akibatnya kesulitan sangat jarang terjadi, dan ketika sayangnya terjadi, banding ke markas besar segera membuat semua masalah yang diperdebatkan menjadi lancer dan terselesaikan kembali. Tetapi dalam sepak bola tidak ada parlemen dan banding seperti itu ada, tetapi di sini adalah Quot homines tot sententiæ yang artinya, hanya secara komparatif sedikit klub yang dapat ditemukan di antara begitu banyak klub yang memadati lapangan bermain di Inggris yang bermain di bawah aturan yang sama kode atau aturan. Sekarang ini adalah hal yang sangat disayangkan, karena ada begitu banyak pemain permainan ini yang setiap tahunnya tersebar di seluruh negeri, jika mereka belum dilatih di bawah aturan yang sama, mereka jarang dapat bermain bersama, atau jika mereka bermain bersama, mereka harus bermain di bawah keuntungan atau kerugian dengan lawan mereka. Mungkin tidak begitu penting bahwa harus ada aturan yang ketat seperti dalam kriket, tetapi namun demikian, merupakan kemalangan yang cukup besar bahwa anomali seperti itu harus ada, dan seharusnya menjadi tujuan semua penggemar permainan ini untuk bersatu dalam pembentukan kode tetap yang dapat dipatuhi semua orang, dan dengan demikian menjadikan sepak bola sebagai permainan musim dingin nasional Inggris yang sesungguhnya. Sekarang secara umum diakui dua jenis aturan yang berbeda—aturan dari Sekolah Rugby dan aturan dari Asosiasi Sepak Bola—tetapi sayangnya, ada banyak modifikasi dari aturan-aturan ini, dan keduanya masih tidak dapat disebut sebagai satu-satunya kode yang benar-benar ada, yang salah satunya diadopsi oleh semua pemain sepak bola. Asosiasi Sepak Bola dibentuk pada tahun 1863 untuk tujuan yang terpuji yaitu mempromosikan dan memperluas permainan. Kerja sama dari anggota semua klub diundang, dan sangat memuaskan untuk menyatakan bahwa sejumlah besar klub "secara langsung mendukung asosiasi tersebut, sementara banyak klub lain mengikuti hukum yang diumumkan oleh otoritasnya." Namun Rugby tetap berpegang teguh pada aturan-aturannya yang kuno, terlepas dari kenyataan bahwa aturan 'offside' yang ketat, yang berlaku hingga saat itu (1863), sebagai langkah strategis, dihapus demi ketentuan yang kurang ketat yang digunakan di Westminster dan Charterhouse, sehingga kerja sama dari sekolah-sekolah ini terjamin. "Namun ada banyak sekolah yang, walaupun mereka sendiri tidak pernah bersaing melawan Rugby, namun mendukung aturannya, karena mereka enggan berinovasi. Seseorang dianggap sebagai orang yang tidak berguna di sekolah besar jika ia tidak berhasil masuk ke dalam tim sepak bola, tetapi ia harus menjadi ayah yang berhati keras, yang pernah mengalami kesulitannya sendiri, yang akan peduli untuk melihat putranya yang penuh harapan dalam perebutan bola di bawah aturan Rugby. Mauling, hacking, kicking, shinning, collaring—itulah beberapa istilah dan aturan permainan. Hacking didefinisikan sebagai "niat menendang lawan; dan ini adalah hukuman”. Istilah-istilah lainnya cukup jelas sehingga tidak perlu definisi. Sebagai bukti bahwa beberapa perhatian dialihkan pada tekel yang bijaksana, kami membaca di antara deskripsi pemain tahun lalu bahwa seorang pria adalah "sangat lesu, sering salah mengira tulang kering lawan sebagai bola; tidak sebagus tahun lalu. "Kualifikasi terakhir ini seharusnya menjadi hal yang menggembirakan bagi lawan-lawan pria tersebut, yang tentu saja lebih menyukai sedikit kelesuan darinya. Tetapi ada beberapa deskripsi lain yang sangat aneh dan sangat lucu tentang pemain sepak bola, dan bagi orang yang belum memahaminya, deskripsi ini pasti tampak disusun dengan tujuan khusus untuk membingungkan dan tidak dapat dipahami. Mari kita ambil beberapa contoh. Seorang pemain di sekolah yang sangat terkenal dikatakan sebagai "mungkin yang terbaik, tentu saja yang paling aman di antara dua puluh pemain belakang, selalu mendapatkan bola setelah berlari, sering kali menghindari tuduhan karena kebiasaannya menjatuhkan bola di tikungan". Di mana sumbernya? "Selalu mendapatkan bola" - kita semua tahu, pemain sepak bola atau bukan, apa artinya itu? - "setelah berlari," dan kemudian begitu licik sehingga menghindari tuduhan yang sah atau tidak sah dengan "menjatuhkan bola di tikungan!" "Tentu ini pasti capung yang besar, atau pemain terkemuka ini seharusnya dicoret dari daftar sebelum dimulainya musim berikutnya. Istilah lainnya "fudging" berarti "menggiring bola". Yang terakhir akan 'hot' dengan baik jika dia tidak terlalu mudah jatuh". “Di Cheltenham College, pertandingan tahunan dimainkan antara departemen klasik dan modern, dan berbagai macam kecelakaan hampir selalu terjadi selama perayaannya. Bahkan, lebih dari sekali pertandingan dihentikan karena permainan kasar yang ditunjukkan. Pertandingan lain, yang disertai dengan konsekuensi yang lebih buruk, dulunya adalah pertandingan tahunan yang dimainkan antara College dan "The Trainers," seperti sebutan mereka. Pelatih, "seperti yang tersirat dari namanya, dan sebagian besar adalah pria dewasa. Dalam "perkelahian" yang biasa terjadi, perlakuan kasar sangat menjijikkan. Anggota tubuh yang terlepas, tulang selangka yang patah, dan lengan yang patah adalah hal yang sering terjadi, dan semuanya tidak jantan dan absurd. Tidak ada keterampilan dan ilmu sama sekali, dan hanya perilaku yang meragukan dan perasaan buruk yang dihasilkan. Di Blackheath sering terlihat klub bermain dengan cara yang sangat biadab; orang-orang besar dan kuat saling mencabik dan menendang seperti orang gila, setiap orang menganggap dirinya sebagai "pusat perhatian" mata yang cerah, atau dorongan yang menginspirasi untuk melakukan tindakan barbar. "Ini pemandangan yang menyedihkan;" tetapi keadaan tampaknya tidak lebih baik di India, karena seorang penulis dari negara itu mengatakan: "Para penonton tampaknya menikmatinya melihat orang-orang itu dipukuli. "Musim kini hampir berakhir, karena pertandingan "Internasional" antara Inggris dan Skotlandia telah dimainkan untuk keempat kalinya dengan hasil yang bervariasi. Pertandingan ketiga dan yang paling menarik dari rangkaian pertandingan ini dimainkan di Glasgow dalam cuaca yang sangat tidak menguntungkan. Meskipun demikian, empat ribu penonton hadir. Ketidakberdayaan lapangan secara signifikan menghambat upaya kedua belah pihak, terutama para pemain belakang. Freeman, yang sangat menonjol—primus inter pares—setelah timnya memaksa Skotlandia hingga harus melakukan touchdown dua kali, ketika mereka tidak lagi memiliki keuntungan berupa bukit dan angin seperti pada awal pertandingan, melakukan tangkapan yang bagus sekitar empat puluh yard dari gawang, dan tendangan drop kick yang luar biasa mengirimkan bola melewati salah satu tiang gawang Skotlandia. Skotlandia harus melakukan touchdown tiga atau empat kali lagi, dan pertandingan berakhir imbang untuk Inggris. Pertandingan terakhir dari pertandingan-pertandingan ini dimainkan di Kennington Oval pada Sabtu, 8 Maret, dengan hasil yang sangat menguntungkan Inggris.  Pertandingan-pertandingan sebelumnya dimainkan berdasarkan aturan Asosiasi Rugby -apa pun artinya itu-tetapi pertandingan hari Sabtu dimainkan berdasarkan aturan Asosiasi Sepak Bola, dan tampaknya perlu dikatakan, untuk apresiasi dari para pria yang ikut serta di dalamnya, bahwa itu adalah pertandingan anak-anak yang paling memuaskan yang dimainkan musim ini. Aturan asosiasi cukup ketat, dan di dalamnya hal seperti menebas dilarang keras. Sangat disayangkan bahwa aturan mereka tidak diadopsi secara umum di seluruh negeri, dan di mana pun permainan sepak bola dimainkan, dan diharapkan bahwa semua yang melihat Kenyon-Slaney dan Chenery bermain dalam pertandingan terakhir ini akan memiliki pendapat yang sama’. 

Dari artikel yang dipublikasikan tahun 1873 itu terangkap bahwa popularitas permainan sepak bola di Inggris sudah menyamai popularitas permainan kriket; sejumlah daerah mengklaim kehormatan sebagai yang pertama mendirikan klub di Inggris; belum ada aturan yang standar dalam permainan maupun dalam pertandingan. Perserikatan/asosiasi sepak bola Inggris dibentuk pada tahun 1863. Sudah empat kali diadakan  pertandingan "Internasional" antara Inggris dan Skotlandia dengan hasil yang bervariasi. 


Pertandingan antara timnas Skotkandia dan timnas Inggris. *Dimainkan pada tahun 1872. *+Bermain di kedua pertandingan. Susunan pemain kedua tim adalah: SKOTLANDIA: JLP Sanderson (Edinburgh Academicals), *+ WD Brown (Glasgow Academicals), dan *+ T Chalmers (Glasgow Academicals), pemain belakang; *+TR Marshall (Edinburgh Academicals) dan W St. Clair Grant (Craigmount), pemain tengah; *GB McClure (West of Scotland) dan *+JL McFarlane (Edinburgh University), pemain belakang tiga perempat; *+ F Moncrieff, kapten (Edinburgh Academicals), *+R Irving (Edinburgh Academicals), *EM Bannerman (Edinburgh Academicals), *+T Mein (Edinburgh Academicals), TP Davidson (Cooper's Hill Club), A Anton (St. Andrew's University), HW Allan (Glasgow Academicals), CC Bryce (Glasgow Academicals), R Wilson (West of Scotland), *CW Cathcart (Edinburgh University), J Petrie (Royal High School), AG Wood (Royal High School), dan T Whittington (Merchistonian), pemain depan. INGGRIS: *FW Mills (Marlborough Nomads), C Vanderspar (Richmond), +WRB Fletcher (Marlborough Nomads), belakanh; CW Boyle (Oxford University), G Finney (ICE College), dan S Morse (Law Club), bek sayap; *H Freeman (Marlborough Nomads), belakang tiga perempat; *+ EF Stokes, kapten (Blackheath), *JA Body (Gipsies), *JA Bush (Clifton), EC Cheston (Law Club), *+A St. G. Hammersley (Marlborough Nomads), ER Still (Ravenscourt Park), pemain tangah. H Lawrence (Richmond), *F Luscombe (Gipsies ), *J Mackinley (St. George's Hospital), H Marsh (ICE College), MW Marshall (Blackheath), CA Rickards (Gipsies), *+P Turner (Richmond), pemain depan’. 

Pada tahun 1878 terinformasikan pertandingan sepak bola besar dimainkan di Sheffield pada malam hari (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 17-10-1878). Disebutkan di Sheffield, sebuah pertandingan sepak bola besar dimainkan pada malam hari. Kekuatan pencahayaannya setara dengan 8.000 lilin dari masing-masing dari empat lampu tersebut dimana pertandingan itu  mencapai sekitar 30.000 orang yang hadir sebagai penonton. Sementara itu, orang Belanda mulai menyadari ada yang kurang pada kebutuhan bentuk-bentuk permainan di dalam pendidikannya (yang sudah lama diterapkan di Inggris).

 

Algemeen Handelsblad, 03-12-1879: ‘Inggris. Taman bermain umum. Orang Belanda yang datang ke Inggris segera menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang dalam pendidikan mereka. "Mereka tidak pernah belajar bermain." Di Inggris, orang-orang tahu apa arti bermain, bagaimana seharusnya bermain. Setelah menghabiskan beberapa sore di dataran luas Blackhead, Nunhead, dan Peckham Bay, seseorang mengamati bagaimana anak laki-laki dan pria Inggris menghibur diri dengan melatih tubuh mereka, dan seseorang menemukan bahwa orang Belanda tidak bisa bermain, karena mereka tidak pernah mempelajarinya. Seseorang kemudian dengan cepat sampai pada keyakinan bahwa permainan Belanda kita tidak memiliki struktur, tidak ada sekolah, tidak ada bimbingan, dan oleh karena itu menghasilkan sedikit atau tidak ada hasil praktis, bahwa sebagian besar klub anak laki-laki kita—termasuk kelereng—sudah membangkitkan minat pada dobbelea sejak usia dini. Tidak hanya "corea" kita tetapi juga yang lain sama-sama membutuhkan bimbingan dan pengawasan. Bukan maksud saya untuk mengkritik anak-anak Belanda dalam kaitannya dengan permainan mereka, tetapi sekarang setelah saya mengetahui dari Handelsblad bahwa Belanda juga akan memiliki "lapangan bermain" umum dan bahwa mereka ingin mempromosikan permainan umum secara teratur, saya merasa perlu untuk mengalihkan perhatian saya ke apa yang dilakukan atau diajarkan di Inggris, di mana kepercayaan pada manfaat permainan, dalam kaitannya dengan perkembangan fisik, telah dibuktikan oleh hasilnya. Apa yang terlihat di Inggris?... Bukan hanya anak-anak yang bermain, tetapi juga pemuda dan pria yang telah mencapai perkembangan penuh mereka pergi ke luar pada waktu luang mereka dan bermain dengan ambisi yang tampaknya tidak dapat dipahami, jika tidak berlebihan, bagi orang yang bukan pemain game. Apa yang mereka inginkan untuk permainan mereka, yang tidak mungkin diringkas sebagai 'ruang'. Semua permainan mereka seperti kriket dan sepak bola membutuhkan ruang, dan hanya permainan di mana latihan fisik menjadi prioritas yang populer. Dari permainan, 'olahraga' dan 'olahraga' telah berkembang menjadi perjudian dan taruhan; tetapi inti dari semuanya sebenarnya adalah keinginan bawaan orang Inggris untuk bersaing satu sama lain. Tidak diragukan lagi bahwa keluhan ini telah menyebabkan banyak kerugian, tetapi karena 'permainan' pada awalnya merupakan fondasinya, orang juga semakin yakin bahwa 'permainan' juga membutuhkan pengawasan, sedangkan dalam 'olahraga' semuanya bergantung pada bimbingan. Saya dapat menjelaskan secara singkat tentang permainan laki-laki dan anak laki-laki itu sendiri. Kriket dan 'permainan pria' lainnya sulit untuk dijelaskan. Seseorang harus melihat, harus mengamati gerakan-gerakan tersebut dengan cermat, dan barulah kemudian dapat memahami kegunaan permainan tersebut dan pengaruhnya terhadap perkembangan fisik. 'Sepak bola' (melempar bola besar dengan kaki dan kemudian mengembangkan kekuatan dan kelincahan, di mana seseorang bersaing dengan orang lain untuk menangkap bola tersebut) tidak dapat disangkal telah menyebabkan banyak kecelakaan, bahkan kehilangan nyawa manusia... tetapi saran ini telah diterima dengan sepenuh hati di tempat-tempat umum dan pengawasan dalam permainan telah ditingkatkan. Sepak bola dan kriket adalah favorit. "Dimainkan oleh muda dan tua. Para gadis telah lama memegang kehormatan bermain kriket. Permainan ini telah digantikan oleh "tenis lapangan" Amerika selama dua tahun terakhir, mungkin karena tenis lapangan lebih dinamis dan membuat semua peserta sibuk hampir secara bersamaan. Ketika bagus..." Jika Anda mengunjungi keluarga Inggris di sore hari selama musim panas, Anda dapat yakin bahwa kriket atau tenis lapangan sedang dimainkan. Tidak hanya anak-anak muda, tetapi juga para ayah yang sudah tua ikut serta, dan permainan ini tersebar luas. Kebutuhan akan bermain, yang diamati di mana-mana di Inggris, hanya sedikit terlihat dari sekilas pandang pada pemuda Inggris yang umumnya begitu bersemangat. Tetapi untuk bermain, area bermain sangat diperlukan. Tidak ada yang lebih disukai orang Inggris selain ruang terbuka. London sangat besar, tetapi juga sangat kaya akan dataran terbuka dengan dimensi yang lebih besar atau lebih kecil. Saya tidak terlalu memfokuskan perhatian saya di sini pada alun-alun yang terkenal di dunia yang semuanya ditata dengan taman, tetapi pada hamparan hijau yang luas, terkadang tidak dapat dibedakan, seperti Bethlehem Green, London Field, dan Victoria Park. Taman Battersa di distrik kelas pekerja dikenal sebagai Hyde Park, Regent Park, St. James Park, atau Kensington Park di kawasan mewah London barat. Di pinggiran kota, ruang terbuka seperti itu bahkan lebih banyak tanpa pagar atau pepohonan, sehingga gagasan tentang "taman" pun hilang. Ini adalah tempat bermain yang mudah dijangkau dengan trem, bus, atau berjalan kaki, dan di mana terdapat "hak istimewa" yang bahkan dilindungi dan ditegakkan oleh polisi. Ketika kebutuhan untuk membangun di ruang terbuka yang tidak memiliki hak istimewa diperdebatkan dari waktu ke waktu, sungguh luar biasa untuk mengamati kemarahan dan protes keras, bahkan tindakan yang sangat kasar dari para tetangga. Mereka menganggap ruang terbuka ini sebagai tempat perlindungan dan tempat suci mereka, sebuah hak milik publik, yang tidak boleh diganggu oleh badan pemerintah kota mana pun, apalagi pemerintah kota. Dibutuhkan ribuan guilder untuk tuntutan hukum sebelum lahan terbuka selebar satu kaki dapat diambil dari masyarakat. Oleh karena itu, sangat jarang lahan terbuka dibangun, sedangkan sebaliknya, deretan gang dan jalan sempit yang padat penduduknya seringkali diubah menjadi lapangan terbuka. Dan berkat hal inilah kondisi kesehatan London yang luas dan hampir tak terbatas itu terus membaik. London kaya akan taman bermain umum, di mana, karena sifat permainannya, tidak diperlukan alat bantu atau aksesori apa pun. Tetapi justru karena merupakan milik umum, pengawasan tidak memadai dan mustahil. Itulah mengapa terbukti perlu untuk membangun taman bermain terpisah dan tertutup untuk kaum muda. Kebutuhan akan hal ini, yang saat ini dirasakan di Amsterdam, sangat jelas. ...pergi ke London pada tahun 1870, ketika Undang-Undang Pendidikan yang baru mulai berlaku, lembaga swasta dan keagamaan telah memberikan contoh yang patut dipuji. *Sekolah swasta di Inggris ini sangat penting dalam prospektusnya di atas: Bahwa ada taman bermain yang luas di belakang gedung. Dulwieh, Harrow, Ruyby, dan Iton telah mengorbankan lahan untuk menjaga lahan berharga mereka tetap bebas untuk taman bermain di sebelah sekolah, dan apa gunanya sekarang? Pendidikan publik di Inggris sangat buruk hingga tahun 1870. Hingga saat itu, 500.000 anak berkeliaran di Inggris dan Wales yang sama sekali tidak mendapatkan pendidikan. Inggris telah menyadari kesalahannya, menulis ulang fondasinya, dan harta yang telah dihabiskan sejak tahun 1870 untuk peningkatan pendidikan publik telah memungkinkan Inggris untuk mendapatkan kembali tempatnya di antara bangsa-bangsa yang beradab. Namun, setelah pembaruan pendidikan publik, kebutuhan akan sekolah publik yang lebih baik segera dirasakan, dan mengenai peningkatan, atau lebih tepatnya pendirian gedung sekolah baru, perhatian khusus diberikan pada kesempatan untuk bermain dan berolahraga. Di sebelah sekolah, taman bermain, adalah sistem yang diadopsi setelah pertimbangan panjang, dan di mana gedung sekolah baru dibangun, muncullah "sebuah taman bermain, di atasnya Van Alphen kita akan menempatkan sebagai motto: 'Bermain adalah belajar bagiku'". Taman bermain seperti itu dapat digambarkan dalam beberapa kata. Bangunan sekolah, jika memungkinkan, berdiri di tempat yang tinggi dan dikelilingi tembok rendah; ruang kosongnya adalah lapangan bermain, dari mana sebuah pintu memberikan akses langsung ke ruang kelas. Di sini peralatan senam didirikan, dan di sini tidak hanya permainan dimainkan, tetapi senam dan bertelur juga diajarkan kepada anak laki-laki dan perempuan di atas panggung. Lapangan bermain ini berfungsi dengan sangat baik, karena setiap distrik memiliki sekolahnya sendiri dan dengan demikian lapangan bermainnya sendiri, sementara pengawasan dan bimbingan terhadap anak-anak muda dalam bermain dapat dilakukan dengan cermat. Pada awalnya, tempat-tempat ini hanya ditujukan selama waktu bermain dan untuk anak-anak muda di sekolah tersebut. Secara bertahap, kebutuhan untuk membuka lapangan bermain tersebut bahkan setelah jam sekolah dan membuatnya lebih mudah diakses oleh anak-anak yang bersekolah di tempat lain pun dirasakan. Ketika saya ditanya: "Sistem apa yang diikuti di Inggris mengenai lapangan bermain umum?" Maka saya akan menjawab: "Mereka berupaya menghubungkan sekolah dengan lapangan bermain, karena kebutuhan akan hal ini telah diakui". Minggu lalu, Komisi Sekolah London mengeluarkan laporan yang berkaitan secara eksklusif dengan lapangan bermain. Di dalamnya, ketentuan-ketentuan berikut direkomendasikan: 1. Dianjurkan untuk membuka taman bermain tidak hanya untuk anak-anak yang bersekolah di sekolah negeri, tetapi juga untuk anak-anak lain, asalkan mereka berusia di bawah 13 tahun. 2. Dianjurkan agar pengeluaran luar biasa ditanggung oleh sumbangan sukarela. 3. Kepala sekolah bertanggung jawab selama jam-jam utama, dan pengawas sekolah selama jam-jam bebas atau setiap saat untuk pengawasan, tetapi dengan izin untuk membantu dalam hal ini, jika perlu, dengan bantuan tambahan. Usulan ini belum memiliki kekuatan hukum, tetapi akan dibahas dan pasti akan diadopsi. Jika seseorang mengunjungi Crystal Palace ketika festival nasional sedang dirayakan, ia akan melihat apa itu bermain, apa yang dipromosikan oleh bermain. Di sana akan muncul kesadaran bahwa orang Belanda, seolah-olah, akan sedikit bermain. Saya menantikan prospek untuk kemudian mengirimkan rekan-rekan muda saya ke panggung, ketika taman bermain yang banyak dibicarakan itu akan muncul di Amsterdam. Di sana para pencuri dan rombongan akan tumbuh dan berkembang, dan 'pria dan wanita tua' yang menua sebelum waktunya akan belajar menyadari apa yang mereka lewatkan di masa muda mereka. Kesadaran itu akan mendorong banyak orang untuk merogoh kocek mereka ketika dibutuhkan uang receh, karena dalam satu hal semua kota sama satu sama lain. DimulaiSegala sesuatu harus ditegaskan melalui perbuatan dan ucapan, melalui kata-kata yang lantang. 

Dari gambaran pertumbuhan awal sepak bola di Inggris dapat dibandingkan selanjutnya dengan pertumbuhan awal sepak bola di Belanda. Pada saat sepak bola di kedua negara ini sudah dilakukan permainan/pertandingan sepak bola secara intens dan teratur (klub, perserikatan dan kompetisi yang terjadwal) dan pertandingan internasional, pada saat inilah terinformasikan di Italia (juga di Indonesia), seperti disebut di atas, sepak bola mulai dipertandingkan dan kemudian tumbuh dan berkembang. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Como 1907 Klub Orang Indonesia dan Timnas Indonesia di Piala Dunia: Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono

Siapa (alm) Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono? Di Indonesia, tidak perlu ditanya. Keduanya orang sangat kaya. Dua diantara lima orang Indonesia terkaya. Namun karena mereka jarang ‘pamer’ banyak pula yang tidak mengenalnya. Michael Bambang Hartono bahkan terkesan di permukaan seperti orang biasa umumnya. Konon, merasa nyaman saja makan di warung pinggir jalan di Semarang. Nah. Lho! Lantas siapa “abang adik” Hartono yang dimaksud? 


Michael Bambang Hartono atau Oei Hwie Siang lahir 2 Oktober 1939 di Koedoes. Robert Budi Hartono atau Oei Hwie Tjhong, lahir 28 April 1941 di Semarang. Mereka adalah anak pendiri perusahaan Djarum yaitu Oei Wie Gwan (ayah) dan dan Goei Tjoe Nio (ibu)..

Dua Hartono bersaudara inilah yang diharapkan akan membawa klub Como 1907 untuk meraih gelar juara liga utama Italian (Serie-A) pada musim-musim mendatang. Apakah itu dimungkinkan? Seperti disebut di atas, klub Como 1907 pada pekan-pekan terakhir ini sudah berada di posisi ke-4. Ini adalah pencapaian klub asal kota Como ini selama 14 musim sejak musim 1949/1950. Sebelum dua Hartono Bersaudara menjadi pemilik klub Como 1907, sudah ada sebelumnya orang Indonesia yang juga turut memiliki klub di Italia yakni Erick Thohir. 


Erick Thohir di klub Inter Milan memiliki saham mayoritas (70 persn). Erick Thohir juga menjadi presiden klub. Erick Thohir di dalam klub Inter Milan, presidennya adalah Erick Thohir sejak November 2013 hingga Oktober 2018. Erick Thohir kini menjadi ketua PSSI dan Menteri Pemuda dan Olahraga. 

Nama Inter Milan sendiri dulunya dikaitkan dengan nama Ambrosiana. Demikian juga nama Ambrosiana sebelumnya dikaitkan dengan nama US Milanese. Pada musim 1907/1908 dan musim 1908/1909 US Milanese menjadi runner-up. Pada musim 1909/1910 US Milanese menjadi juara. Nama Ambrosiana sebagai klub sepak bola terinformasikan pada tahun 1928 (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 19-10-1928). Disebutkan timnas Italia mengalahkan timnas Swiss di Zurich dengan skor 3-2 dimana dalam starting line up terdapat nama Conti sebagai salah satu pemain tengah dari klub Ambrosina. Pada musim 1929/1930 liga utama Italia disatukan sebagai liga teratas. Pada musim pertama liga baru ini Ambrosiana menjadi juara. Singkatnya nama Ambrosiana masih eksis hingga tahun 1940 dimana pada musim 1939/1940 ini Ambrosiana menjadi juara liga utama Italia. 


Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 06-06-1940: ‘Di Italia dan Hungaria, di mana kompetisi sepak bola berlangsung normal, juara nasional telah diumumkan. Di hadapan 50.000 penonton, pertandingan penentu dimainkan di Milan antara Ambrosiana dan Bologna. Setelah pertandingan yang menegangkan, Ambrosiana berhasil mengamankan gelar juara kedua berturut-turut dengan kemenangan tipis. Di Hungaria, hari terakhir harus menentukan pemenangnya. Tiga klub: Hungarla, UJpest, dan Perencvaros, dengan jumlah poin yang sama, masing-masing memiliki satu pertandingan tersisa. UJpest tersingkir dalam pertandingan 10 detik; dua lainnya menang dengan skor 2-1 dan 7-1. Babak final, yang kini harus menentukan hasilnya, akhirnya menobatkan Ferencvaros sebagai juara Hungaria. Klub ini juga meninggalkan kesan yang sangat baik di negara kita selama tur mereka’. Limburger koerier: provinciaal dagblad, 17-01-1942: ‘Di Italia, liga sepak bola kini hampir mencapai puncaknya. Tim-tim seperti Roma, Lazio, dan Torino masih memainkan peran terpenting di dalamnya. Ambrosiana, yang pernah menjadi bagian dari tim-tim papan atas Italia, tidak sepenuhnya tampil sesuai harapan musim ini. Pada hari Minggu, misalnya, Ambrosiana mengalami kekalahan 6-1 di Genoa, dan itu tidak banyak menyerupai masa kejayaan mereka di masa lalu’. Limburger koerier: provinciaal dagblad, 08-01-1944: ‘Apakah ada dua Piola? Pers Prancis melaporkan bahwa penyerang tengah terkenal Italia itu berada di Swiss, bersama Meazza dan sejumlah pengungsi lainnya, tetapi dilaporkan dari Italia bahwa…Piola mencetak 3 gol untuk klubnya, Fiat Turin, melawan Ambrosiana Minggu lalu’. 

Nama Ambrosiana masih terus eksis (lihat De Volkskrant, 01-04-1949). Disebutkan beberapa bulan yang lalu, para manajer klub Italia menyeberangi samudra untuk mencari pemain baru bagi klub-klub Italia yang tak pernah puas di negara itu di Rio de la Plata. "Azurri" tidak menghabiskan waktu mereka dengan sia-sia. Mereka membawa enam bintang sepak bola Argentina ke Italia dengan penuh kemenangan: Armondola, Castana, dan Santos, bek kanan, gelandang, dan sayap kanan dari klub "Tosario Central"; Lacono dan Habruna dari "Fiver Plata"; dan penyerang sayap kiri dari "Fioca Juniores", Ricagni, yang akan bermain untuk klub olahraga "Ambrosiana" di Milan. Enam pemain bintang, yang masing-masing dibeli Italia seharga 15.000 gulden dan masing-masing memiliki kontrak tiga tahun dengan gaji pokok 40.000 gulden per tahun.

 

Bagaimana hubungan antara nama US Milanese, Internazionale Milano dan Ambrosiana? Saat ini yang masih eksis, klub tertua di Italia adalah Genoa, didirikan pada 7 September 1893 yang menjadi bagian dari asosiasi Genoa Cricket and Football Club. Pada bulan Desember 1893 di Medan diadakan pertandingan sepak bola antara tim XI Penang (Inggris) dengan tim XI Medan (Belanda). Dalam pertandingan yang diadakan di lapangan esplanade (kini lapangan Merdeka) Medan, pada pagi hari dilakukan pertadingan kriket dan pada sore hari pertandingan sepak bola (satu paket). Pada tahun 1896 di Italia terinformasikan asosiasi atletik (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 23-03-1896). Disebutkan berikut nama-nama yang terdaftar untuk Kejuaraan Atletik Internasional di Amsterdam: Marquis Monticelli Obizzi, dari klub "Atletico Milanese" dari Milan. Klub "Atletico Milanese" juga membawahi tim sepak bola Unione Sportiva Milanese (US Milanese) yang berpartisiapasi dalam kompetisi sepak bola (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906). Disebutkan di Italia, di Milan, Milan Club mengalahkan Ansonia 4-0. Selanjutnya, hasil berikut dicapai: Milan Club III—Ansonia II 3-1, Unione Sportiva II—Milan Club II 4-4. Ansonia II—Milan Club III 3-3. Pertandingan-pertandingan ini merupakan bagian dari rangkaian pertandingan (trofi turnamen) "Boule Dapples". Klub sepak bola Milan Club pada masa ini dinarasikan berada dibawah Milan Foot-Ball and Cricket Club yang didirikan ekspatriat Inggris,tanggal 16 Desember 1899. Sementara itu nama Ambrosiana saat itu dihubungkan dengan nama perpustakaan Milaneesche Ambrosiana (perpustakaan Ambrosiana di Milan) terinformasi pertama pada tahun 1908 (lihat De Preanger-bode, 05-09-1908). Lalu kemudian sejumlah pemain sepak bola Milan Club memisahkan diri yang selanjutnya pada tanggal 9 Maret 1908 terbentuk klub baru yang diberi nama Internazionale Milan. Dalam kompetisi sepak bola Italia pada musim 1907/1908 juara adalah Pro Vercelli dan runner-up US Milanese. Pada musim 1908/1909 kembali Pro Vercelli menjadi juara dan US Milanese sebagai runner-up. Pada musim 1909/1910 yang menjadi juara adalah Internasionale Milan dan Pro Vercelli sebagai runner-up. Pada tahun 1911 salah satu klub di Belanda berkunjung ke Milan (lihat Nieuwe Apeldoornsche courant, 29-03-1911). Disebutkan klub Quick (di Nijmegen) bermain di Milan melawan FC Internazionale Milano dan Milan Football and Cricket Club. Ini adalah pertama kalinya klub Belanda akan bermain di Italia. Pada musim 1921/1922 terjadi dualisme dalam kompetisi sepak bola Italia. Klub Internazionale Milano masuk CCI (Confederazione Calcistica Italiana) sementara Milan Club masuk FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana pengurangan anggota liga teratas Italia. Juara CCI adalah Pro Vercelli dengan runner-up Genoa; juara FIGC adalah Novese dengan runner-up Sampierdarenese. Pada tahun 1924 Novese melakukan pertandingan internasional di Paris (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 18-04-1924). Disebutkan klub Sparta (Rotterdam) dan Cercle Athlé tique Généraux (Paris) dimana Sparta berhasil mengalahkan klub Paris tersebut di final dengan skor 2-1. Sebelumnya pada tahun 1922 klub Paris juga berpartisipasi dengan klub Standard, klub Unione Sportiva Novèse, juara Italia, dan AFKVersovice dari Cekoslowakia. Pada tahun 1922 dibentuk timnas Italia untuk menghadapi timnas Swiss dimana terdapat nama Gevenini III dari klub Internazionale (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 07-12-1922). Pada pembentukan timnas Italia tahun 1927 dalam melawan timnas Inggris terdapat nama Bernardini (Internazionale), Cevenini (Internazionale), Conti (Internazionale) (lihat Voorwaarts : sociaal-democratisch dagblad, 07-02-1927). Pada tahun 1928 Internazionale Milano merger dengan klub US Milanese yang kemudian dibentuk klub bernama Società Sportiva Ambrosiana (AS Ambrosiana). Pada tahun 1931 nama klub adakalanya disebut AS Ambrosiana-Inter.  Pada pembentukan timnas Italia dalam melawan Swiss tahun 1928 terdapat nama Conti (Ambrosiana) (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 19-10-1928). Pada musim 1929/1920 klub Ambrosiana menjadi juara. Seperti disebut di atas, nama klub Ambrosiana masih eksis hingga tahun 1940 dan bahkan hingga tahun 1949. 

Hasil belanja pemain klub Ambrosiana ke Amerika Selatan pada bulan April 1949 diduga kuat menjadi awal kebijakan baru klub. Mengapa? Nama Ambrosiana tidak pernah terinformasikan lagi dalam hingar bingar sepak bola Italia. Apakah nama klub Ambrosiana pada musim 1949/1950 telah diubah? Yang jelas pada musim 1949/1950 ini klub sepak bola dari kota Como untuk kali pertama berkompetisi di liga teratas Italia. Pada musim inilah diketahui nama klub Ambrosiana telah diubah menjadi Internasionali Milan (mengikuti nama lama sebelum bergabung dengan klub US Milanese yang terbentuknya nama baru: Ambrosiana). 


De Telegraaf, 14-01-1952: ‘Juventus-Inter, Kekacauan Cedera Faas Wilkes berakibat fatal bagi Inter: 3-2 Mantan pemain Belands tersebut mendapat pukulan keras – terpaksa dikeluarkan dari lapangan. Akhirnya tradisi telah dipecahkan dan Juventus berhasil meraih kemenangan penuh dalam pertandingan melawan Inter di kandang sendiri untuk pertama kalinya. Bahkan di masa ketika Inter masih menyandang nama Ambrosiana, tim Milan selalu unggul satu atau dua poin atas Juventus. Kali ini pun, tampaknya hal itu akan terjadi. Namun, di babak akhir pertandingan, dua penalti untuk Juventus terbukti menentukan. Meskipun salah satunya gagal, skor sudah 3-1 untuk tuan rumah dan kemenangan sudah dipastikan. Faas Wilkes, yang kembali ke tim untuk pertama kalinya dalam 1 bulan, terpaksa dikeluarkan dari lapangan di babak kedua’. 

Pada musim pertama klub Como di liga teratas Italia pada musim 1949/1950, seperti disebut di atas, salah pemain yang didatangkan dari luar negeri adalah Faas Wilkes asal Belanda. Faas Wilkes memberi kontribusi positif di klub Como yang kemudian mengakibatkan klub dari Milan, Internazionale melirik Faas Wilkes dari klub Como. 


Pada musim 1950/1951 Faas Wilkes di klub Internazionale juga memberi pengaruh besar. Pada musim ini Inter berada pada posisi runner-up. Namun pada musim kedua Faas Wilkes di klub Inter (musim 1951/1952) mengalami cedera berat ketika melawan klub Juventus. Akibat dari itu kinerja klub Inter tampaknya menurun sehinga yang menjadi juara musim 1951/1952 asalah klub Juventus dengan runner-up klub AC Milan (yang justru menjadi seteru Inter). Lalu bagaimana klub Inter pada musim-masim berikutnya: Pada musim 1952/1953 yang menjadi juara adalah Inter Milan dan Juventus sebagai runner-up; pada musim 1953/1954 kembali Inter Milan menjadi juara dan Juventus sebagai runner-up. 


Nama Oei Wie Gwan paling tidak terinformasikan pada tahun 1930. Jika Oei Wie Gwan pada masa ini disebut lahir di Lasem, 1902, berarti Oei Wie Gwan sudah menjadi pengusaha pada usia muda (28 tahun). Oei Wie Gwan merantau ke Semarang.


De locomotief, 08-09-1930: ‘Tender Kanal Siranda. Pagi ini pukul sepuluh, tender untuk pekerjaan penggalian bagian pertama kanal drainase di sepanjang jalan Gergadji, Genoek, dan Tegalwareng, hingga ke pabrik susu "Leyting" diadakan di balai kota. Penawaran diajukan sebagai berikut: Yap Tjien Bing, f32.687; Th. Koreman, f32.150; Ooiman dan Van Leeuwen, f30.850; Oei Wie Gwan, f28.850; Lie Hok, £27.900; Kuhbauch, f26.978; dan Kwik Kiem Kwat, f26.540. Estimasi biaya mencapai £30.000, termasuk 10% untuk biaya tak terduga. Penilaian lebih lanjut akan dilakukan untuk menentukan kepada siapa pekerjaan tersebut akan diberikan’. 

Dalam perkembangannya diketahui Oei Wie Gwan pulang kampong di Residentie Rembang. Lasem termasuk salah satu distrik di residentie Rembang. Salah satu usaha Oei Wie Gwan di Rembang adalah (pabrik) kembang api (lihat De Indische courant, 27-01-1938). Disebutkan kemarin siang, sekitar pukul 14.45, terdengar ledakan dahsyat, yang awalnya membuat warga mengira itu adalah tembakan pertama dalam acara perayaan. Namun, laporan kemudian datang bahwa pabrik kembang api milik Oei Wie Gwan telah meledak. Investigasi mengungkapkan bahwa kerusakan relatif kecil. Belum ada kepastian mengenai penyebab ledakan tersebut. 


De Indische courant, 28-01-1938: ‘Sebagaimana telah kita ketahui lebih lanjut mengenai ledakan di Rembang, penyebab kecelakaan tersebut, meskipun belum dapat dipastikan, kemungkinan besar adalah kelalaian dari para buruh yang diduga bertindak bertentangan dengan peraturan keselamatan. Mengenai penyebab kecelakaan tersebut, seperti yang telah disebutkan, belum dapat dipastikan. Para ahli sedang melakukan penyelidikan. Area pabrik kembang api milik Oei Wie Gwan dibagi menjadi zona berbahaya dan zona aman. Kantor dan bangunan administrasi lainnya serta tempat tinggal berada di zona aman, sedangkan zona berbahaya hanya berisi rumah-rumah kecil tempat pembuatan kembang api. Rumah-rumah ini berkonstruksi sederhana: berukuran satu setengah kali satu setengah meter dan terbuka di bagian atas. Setiap wanita hanya diperbolehkan membawa sepuluh kilogram bubuk mesiu, dan hanya setelah bubuk mesiu tersebut habis barulah ia boleh mengambil bubuk mesiu baru. Selain itu, pondok-pondok tersebut dibangun agak berjauhan satu sama lain. Tindakan ini diambil untuk mencegah kecelakaan besar. Misalnya, jika seorang wanita merokok sedotan yang bertentangan dengan peraturan dan hal itu menyebabkan ledakan, biasanya hanya akan ada satu korban yang berduka. Karena ledakan tersebut kini memiliki kekuatan yang sangat besar dengan konsekuensi tragis yang sudah diketahui, pasti ada sesuatu yang lebih terjadi yang melanggar peraturan keselamatan. Pabrik tersebut diperiksa pada bulan Oktober dan November; saat itu ditemukan bahwa peraturan keselamatan dipatuhi dengan ketat. Bapak Oei Wie Gwan juga tidak pernah mengalami kesulitan dalam hal ini dan dikenal sebagai orang yang dapat diandalkan dan mematuhi peraturan hukum. Ledakan terjadi di perbatasan kotamadya Rembang. Ketika ledakan terjadi, banyak orang terkejut. Api awal dengan cepat dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran yang tiba, sehingga api tetap terkendali. Pemilik diasuransikan terhadap kehilangan bahan baku dan peralatan pabriknya, tetapi ia harus menanggung sendiri kerugian akibat terhentinya bisnis dan hilangnya pondok-pondok tersebut. Polisi, petugas pemadam kebakaran, dan pihak berwenang yang hadir telah dengan penuh semangat melakukan segala upaya untuk meminimalkan dampak kecelakaan tersebut’. De Indische courant, 29-01-1938: ‘Pabrik Kembang Api. Pabrik yang terletak sekitar satu kilometer dari permukiman penduduk dan hanya dapat diakses melalui banyak genangan lumpur dan kubangan ini milik Oei Wie Gwan, yang tinggal di Rembang. Kami diberitahu bahwa pabrik kembang api di Jawa ini adalah salah satu perusahaan terbesar sejenisnya. Ratusan orang mencari nafkah di sini. Sebagian besar pekerja di sana adalah perempuan yang membuat selongsong kembang api, menumbuk bubuk mesiu, dan lain-lain. Berbagai gudang telah dibangun di lokasi untuk pekerjaan tersebut, yang kurang lebih tertutup karena risiko kebakaran. Pabrik ini telah berdiri selama sebelas tahun, dan tidak pernah terjadi hal serius selama periode tersebut’. 

Pabrik kembang api di Rembang adalah pabrik sejenis terbesar di Jawa. Pabrik ini telah beroperasi selama 11 tahun hingga tahun 1938 ini. Namun tidak terinformasikan sejak kapan Oei Wie Gwan mengakuisisi pabrik tersebut. Satu yang jelas pada tahun 1930 Oei Wie Gwan masih berada di Semarang.

 

De locomotief, 02-04-1938: ‘Pabrik kembang api baru. Seperti yang mungkin Anda ingat, sebuah ledakan dahsyat terjadi di pabrik kembang api milik Bapak Oei Wie Gwan Januari lalu, yang menewaskan 19 orang. Sembari menunggu penyelidikan, Bapak Oei Wie Gwan, yang sebelumnya telah mengajukan permohonan untuk membangun pabrik baru di jalan utama dari Rembang ke Blora (sekitar 2,5 Km) di luar kota, yang mendapat rekomendasi positif dan telah mulai dibangun, tetap melanjutkan pembangunan meskipun mengalami kemunduran ini. Kini, beliau mendapat kabar gembira melalui telepon bahwa izin pembangunan telah dikeluarkan. Pabrik yang beroperasi dengan kapasitas penuh ini menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 1.000 orang, sehingga keputusan ini sangat patut disambut baik demi kepentingan masyarakat’. De locomotief, 25-07-1938: ‘Selama bertahun-tahun, pabrik kembang api milik Bapak Oei Wie Gwan telah berdiri di kota kami, memasok kembang api ke seluruh Jawa. Karena permintaan yang terus meningkat, pabrik tersebut harus diperluas, namun hal itu tidak memungkinkan karena keterbatasan lahan. Oleh karena itu, pemilik memutuskan untuk membangun pabrik baru di lokasi lain, yang terletak di jalan pos menuju Blora, 2 km di luar kawasan perkotaan. Pekerjaan kemudian dimulai dengan mengerahkan seluruh tenaga untuk mengoperasikan pabrik baru secepat mungkin. Setelah semuanya dinyatakan sesuai oleh dua petugas dari Pengawasan Keamanan di Jogja, izin dapat diberikan untuk memulai pekerjaan. Peresmian berlangsung beberapa hari yang lalu, di mana tradisi slametan tidak dilupakan’. 

Pada tahun 1938 ini timnas Indonesia (Hindia Belanda), seperti disebut di atas, berangkat ke Prancis untuk mengikuti final Piala Dunia. Persiapan pada bulan April telah selesai (lihat De Indische courant, 12-04-1938). Disebutkan secara aklamasi Mohamad Nawir ditunjuk menjadi kapten tim dan Rohrig sebagai wakil kapten. Tim Indonesia (NIVU) terdiri dari: Mo Heng (Malang), Samuels (Soerabaja), Anwar (Batavia), Nawir (Soerabaja), Taihutu (Batavia), Patiwael (Batavia), Hong Djien (Soerabaja), Hukom, F Meeng, Tan See Han, Summers. Cadangan: Van Beuzekom (Batavia), Harting (Soebaja), Van der Burj (Djocja), Faulhaber (Semarang), Sudarmadji (Soerabaja) dan Telwe (Soerabaja). Tim Indonesia berangkat dengan kapal ke Eropa. Tim Indonesia tiba di Den Haag tanggal 18 Mei 1938 setelah melakukan perjalanan panjang dengan kereta api dari Marseille. 


Setelah tim menyelesaikan pemusatan latihan di Den Haag, Tim Indonesia berangkat tanggal 2 Juni 1938 menuju kota Rheims, Prancis. Menurut official tim, sampai tanggal 1 Juni penjualan tiket pertandingan Indonesia-Hongaria telah habis terjual dengan menghasilkan sebanyak 70.000 franc. Kapasitas stadion memiliki 19.000 tempat duduk. Tim Hungaria sendiri sudah lebih dulu tiba di Rheims. Waktu yang ada dimanfaatkan oleh Tim Indonesia untuk berlatih fisik dan uji coba lapangan stadion Velodorme, Rheims. Seperti disebut di atas, tujuh belas pemain ke Prancis terdiri dari delapan orang Belanda dan sembilan non Belanda (tiga orang Ambon, dua orang Sumatra, satu orang Jawa dan tiga orang Cina). Yang diturunkan sebagai line-up adalah dua Cina (Mo Heng dan Hong Djien), satu Jawa (Sudarmadji), dua Ambon (Pattiwael dan Taihutu) dan dua Sumatra (Anwar dan Nawir). Dalam hanya ini hanya empat Belanda adalah Samuels, Hukom, Zommers dan F Meeng. Orang Prancis ternyata memiliki cara pandang tersendiri tentang sepakbola. Ternyata penduduk Kota Rheims datang berbondong-bondong ke stadion untuk menonton dan menunaikan tiket yang telah mereka beli jauh sebelum hari pertandingan. Mereka sangat respek terhadap Tim Indonesia setelah membaca semuanya di dalam koran pagi. Tapi, tak mereka sangka, sebelum pertandingan dimulai, dari tengah lapangan para pemain Indonesia memberi salam hormat kepada para penonton yang telah duduk manis baik ke arah tribun barat maupun tribun timur (hal serupa ini tidak dilakukan Tim Hungaria). Sontak, para penonton berdiri untuk membalas salam hormat Tim Indonesia. Rasa hormat di balas dengan rasa hormat. Pertandingan dimulai. Priiit. Roger Conrie, wasit asal Prancis meniup pluit, tanda pertandingan dimulai. Mo Heng, yang sudah sembuh dari cedera pergelangan tangan, berada sigap di depan gawang. Namun saaing sekali, timnas Indonesia dalam pertandingan ini kalah telak 6-0. Boleh jadi, orang Prancis melihat pertandingan ini sebuah drama: antara tim kuat vs tim lemah. Memang akhirnya, Tim Hungaria menang telak enam kosong, tetapi para penonton puas melihat penampilan Tim Indonesia yang sangat heroik. Inilah drama dalam sepak bola dan orang Prancis yang hadir di stadion memang menikmati betul drama itu. Sisi humanis penonton Prancis lebih mengemuka dalam pertandingan Tim Indonesia vs Tim Hungaria. Untuk diketahui klub kota Rheim bernama Stade de Rheim adalah juara nasional liga Prancis tahun 1935 (lihat De Telegraaf, 27-05-1935). 

Sudah barang tentu Oei Wie Gwan (ayah Hartono Bersaudara) mengikuti pertandingan yang bersejarah tersebut. Saat ini Oei Wie Gwan, seorang pengusaha, tinggal di Koedoes. Sudah barang tentu Oei Wie Gwan (ayah Hartono Bersaudara) mengikuti pertandingan yang bersejarah tersebut. Saat ini Oei Wie Gwan, seorang pengusaha, tinggal di Koedoes. Dalam pertandingan timnas Indonesia melawan timnas Hungaria, penduduk Indonesia juga mendapat akses langsung melalui siaran langsung pandangan mata.


Siaran langsung pandangan mata ini dilakukan oleh Erres Radio dengan me-riley Radio PHOHI, satu-satunya stasion radio di Nederland yang melakukan ’siaran pandangan mata’ ketika berlangsungnya pertandingan ‘Perdelapan Final’ Piala Dunia 1938 antara Indonesia vs Hungaria tanggal 5 Juni 1938 pukul 5 sore dari stadion Stade Veledrome Minicipal, Rheims, Prancis. Han Hollander, reporter PHOHI dari Rheims mengawali reportasenya sejak pukul 11.10. Sebelum membaca tulisan di bawah ini, dan mengikuti siaran pandang mata tersebut, simak dulu video di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=ZNcUbvqDnCQ. Catatan: Radio di Semarang ada dua stasion: Radio Vereeniging Midden-Java dan Radio-Club Semarang (Wels’ Radio). 

Pabrik kembang api Oei Wie Gwan di Rembang diusahakan bersama saudaranya Oei Wie Jan. Saat terjadi ledakan di pabrik kembang api tersebut, Oei Wie Gwan tengah berada di Koedoes (lihat De locomotief, 08-04-1939). Apakah dalam hal ini Oei Wie Gwan rumahnya berada di Koedoes (dan usahanya di Rembang). Jarak antara Rembang dan Kudus sendiri berkisar antara 65 Km (bandingkan jarak antara Semarang dan Kudus sekitar 57 Km).

 

Seperti disebut di atas, Michael Bambang Hartono atau Oei Hwie Siang lahir 2 Oktober 1939 di Koedoes. Robert Budi Hartono atau Oei Hwie Tjhong, lahir 28 April 1941 di Semarang. Oei Hwie Siang dan Oei Hwie Tjhong adalah anak pengusaha terkenal dari Koedoes, 

Pada tahun 1950 nama Oei Hwie Siang terinformasikan (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 13-07-1950). Disebutkan pada bulan April lalu oleh Bond van Verenigingen voor Handels-onderwijs in Indonesië kandidat Soerabaja yang lulus ujian persiapan boekhouden (pembukuan), antara lain Oei Hwie Siang. Pada tahun 1950 ini Oei Hwie Siang sudah berumur 11 tahun. Bagaimana dengan Oei Hwie Tjhong? Masih berusia 9 tahun pada tahun 1950. 


Nama Oei Hwie Tjhong terinformasikan beralamat di Koedoes pada tahun 1949 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-05-1949). Disebutkan (iklan) menjual anjing muda (jenis) Rasechte Herdershonden. Dipersilahkan menghubungi Oei Hwie Tjhong di Djalan Raja No. 277 Koedoes. Iklan serupa kembali dipublikasikasn pada bulan Agustus (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 05-08-1949). Tampaknya Oei Hwie Tjhong akan menjual anjing kesayangannya. Pada tahun 1951 Oei Hwie Tjhong yang diadakan bulan Maret lulus ujian persiapan pembukuan (boekhouden) (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 20-06-1951). 

Michael Bambang Hartono (Oei Hwie Siang) dan Robert Budi Hartono Oei Hwie Tjhong sama-sama sudah lulus ujian persiapan pembukuan ((boekhouden) pada umur yang sangat muda; Michael Bambang Hartono pada umur 11 tahun; Robert Budi Hartono pada umur 10 tahun. Artinya kedua bersaudara tersebut melakukan ujian pembukuan semasih usia anak sekolah dasar. Ujian pembukuan yang diselenggarakan oleh Bond van Verenigingen voor Handels-onderwijs in Indonesië berada (dipusatkan) di Soerabaja. Pada masa inilah Oei Wie Gwan di Koedoes mengakuisisi perusahaan rokok (Djarum). 


Wikipedia: PT Djarum adalah perusahaan konglomerat yang merupakan perusahaan rokok terbesar keempat di Indonesia yang berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah. PT Djarum dikelola oleh keluarga Hartono, yang generasi pertamanya adalah Oei Wie Gwan. Pada tahun 1951, Oei Wie Gwan, membeli perusahaan rokok NV Murup yang hampir gulung tikar di Kudus. Perusahaan tersebut memiliki merek Djarum Gramofon. Dia menyingkat merek tersebut menjadi Djarum. Perusahaan ini hampir punah ketika kebakaran besar menghancurkan pabrik perusahaan pada tahun 1963, diikuti oleh kematian Oei Wie Gwan. Anaknya, Budi dan Bambang Hartono, akhirnya mengambil kesempatan untuk membangun perusahaan kembali. Awalnya, produk Djarum adalah rokok kretek lintingan tangan dan rokok kretek lintingan mesin. Rokok kretek lintingan mesin diperkenalkan pada awal tahun 1970. Setelah krisis finansial Asia tahun 1997, perusahaan ini menjadi bagian dari konsorsium yang membeli Bank Central Asia (BCA) dari BPPN. BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia dan sebelumnya merupakan bagian dari Grup Salim. Saat ini saham mayoritas bank (51%) dikendalikan oleh Djarum. PB Djarum didirikan pada tahun 1974 oleh CEO perusahaan Budi Hartono. Pemainnya seperti Liem Swie King dan Alan Budikusuma telah memenangkan berbagai kejuaraan untuk Indonesia. Michael Hartono turut serta menjadi atlet bridge pada Pesta Olahraga Asia 2018, sebagai peserta tertua di ajang olahraga tersebut dalam usia 78 tahun. Djarum juga memiliki klub sepak bola Italia Como 1907. Iklan: Impor dan perdagangan Bond van Rokok Pabrik Jawa Timur (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 08-12-1948).

Kota Koedoes termasuk kota-kota utama yang memproduksi rokok keretek pada masa ini. Kota-kota lainnya di Semarang dan  Malang. Pada saat ini tengah terjadi gencatan senjata antara militer Belanda dan militer Indonesia yang dilnjutkan ke persiapan konferensi KMB (Konferensi Medja Boendar) di Den Haag (Belanda). Wilayah Semarang (pantai utara Jawa) masuk wilayah federal (di bawah otoritas Belanda). 


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 28-01-1949: ‘Nitisemito harus mulai beroperasi kembali. Industri rokok kretek Nitisemito yang tersebar luas berlokasi di Kudus. Sebelum perang, sekitar 12.000 orang dipekerjakan di perusahaan ini, yang berarti lebih dari 40.000 orang di Kudus dan sekitarnya (pekerja termasuk keluarga mereka) memperoleh penghidupan yang layak melalui industri kretek. Selama era Republik, pasar kretek Nitisemito yang awalnya tak terbatas secara alami dibatasi di wilayah Republik, sehingga menyebabkan krisis bagi perusahaan dan, akibatnya, bagi Kudus. Saat ini, pekerjaan di pabrik masih terhenti. Membayar gaji karyawan dan mengamankan pasokan bahan baku yang dibutuhkan adalah kesulitan yang harus diatasi terlebih dahulu agar perusahaan kretek raksasa ini dapat beroperasi kembali. Kredit adalah yang dibutuhkan Nitisemito untuk membantu ribuan penduduk Kudus mendapatkan pekerjaan kembali. Sejauh yang dapat kami pastikan selama kunjungan singkat kami ke Pati dan Koedoes, dewan pengurus sedang melakukan segala upaya untuk membuka kembali usaha tersebut, yang sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat, sesegera mungkin. Baru-baru ini, seorang inspektur dari Algemeene Volks Credit-bank juga menghubungi Nitisemito, dan dapat diharapkan bahwa Nitisemito akan menerima kredit yang cukup untuk membuka kembali pabrik-pabriknya, yang akan sangat bermanfaat bagi masyarakat’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-09-1949: ‘Industri Kretek dalam Kesulitan. Organisasi payung baru para produsen ingin membantu. Motto: Persatuan menciptakan kekuatan. Industri kretek di Java Tengah saat ini menghadapi kesulitan. Harga cengkeh, yang sangat penting bagi industri ini, telah naik secara mengkhawatirkan. Pada tanggal 1 Oktober, kewajiban bagi produsen untuk menggunakan banderol mulai berlaku. Banderol ini harus dibeli secara tunai. Ini berarti bahwa bea cukai, yang seharusnya dibayar tiga bulan kemudian, sekarang harus dibayar di muka. Bagi produsen di Semarang saja, ini melibatkan jumlah sekitar 750.000 gulden. Oleh karena itu, kemungkinan bahwa produsen tidak akan mampu mengatasi kesulitan saat ini dan akan menutup pabrik mereka bukanlah khayalan. Di Semarang saja, ada 75 pabrik tempat 30.000 pekerja mencari nafkah. 12.000 pekerja dipekerjakan di pabrik-pabrik di Kudus. Tak perlu dikatakan bahwa penutupan pabrik—dan dengan demikian PHK massal—akan memiliki konsekuensi serius. Sehubungan dengan hal ini, para produsen tembakau telah menyadari pentingnya bersatu. Meskipun sudah ada dua organisasi produsen tembakau di Semarang dan satu di Koedoes, tujuannya adalah untuk membentuk satu organisasi pusat tunggal untuk seluruh Jawa Tengah. Di masa depan, organisasi ini akan dapat bergabung dengan produsen tembakau di Jawa Timur. Organisasi pusat ini kemudian akan dapat memperjuangkan kepentingan anggotanya kepada pihak berwenang terkait. Untuk mencapai pembentukan organisasi pusat yang menyeluruh ini, pertemuan delegasi dari tiga organisasi produsen tembakau yang disebutkan di atas berlangsung kemarin pagi di Kit Wan Kie. Delegasi yang ditunjuk oleh PPRK Koedoes adalah Bapak Soepardi Soekandar (ketua), HM Ashadi (sekretaris/bendahara), dan SAB Bragil dan M Soemadji Nitisemito (komisaris). Serikat Tembakau Semarang mendelegasikan Bapak Liom Hok Gie (Ketua), Tan Sie Bing (Wakil Ketua), dan Tjoa Kian Sie (Perwakilan). CTIOS, juga dari Semarang, mendelegasikan Bapak Ong Hing Tik (Ketua), Tjoa Kwie Hien (Bendahara), dan Bapak Mr Tan Tjing Hak (Penasihat Hukum). Bapak Tan Tjing Hak terpilih sebagai Ketua rapat. Semua yang hadir menyetujui pembentukan organisasi payung pusat untuk produsen tembakau. Diputuskan bahwa dua orang dari setiap asosiasi akan ditunjuk oleh asosiasi itu sendiri untuk menjadi pengurus organisasi ini. Pengurus organisasi baru yang dibentuk tersebut terdiri dari Bapak-bapak: Soepardi Soekandar, Ashadi, Tan Sie Bing, Liem Hok Gie, Ong Hing Tik, dan Tjoa Kwie Hien. Bapak Mr Tan Tjing Hak terpilih sebagai perwakilan organisasi, dan Bapak Tjoa Kian Siei sebagai sekretaris. Nama yang dipilih untuk organisasi tersebut adalah "Poesat Persarikatan Peroesahaan Rokok—Djawa Tengah", disingkat PPPR Djawa-Tengah. Setelah itu, notulen dan peraturan internal disusun’. Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 08-09-1949: ‘Pabrik Kretek di Semarang dan Kudus, tempat rokok tembakau berbumbu diproduksi, juga telah menghentikan produksi sebagai protes terhadap kenaikan bea cukai. Ini menyangkut 130 pabrik dengan 50.000 pekerja’. Indische courant voor Nederland, 17-09-1949: ‘Pabrik Kretek Dibuka Kembali. Para produsen kretek di Semarang dan Kudus memutuskan pada tanggal 13 September untuk melanjutkan pekerjaan di pabrik. Artinya: mereka akan mulai memproduksi kembali; namun, mereka tidak akan menjual rokok kretek yang diproduksi untuk sementara waktu, menunggu hasil kunjungan ke Batavia. Pada Jumat pagi, Bapak Tan Tjing Hok, perwakilan produsen kretek di Kudus dan Semarang, berangkat ke Batavia dengan pesawat, setelah sebelas tokoh terkemuka lainnya dari industri kretek telah berangkat ke Batavia dengan kereta api sehari sebelumnya. Pada saat yang sama, delegasi dari industri kretek di Malang juga berangkat ke tujuan yang sama. Bersama-sama, mereka bermaksud untuk mengadakan diskusi di Batavia dengan kepala departemen Bea Cukai dan Urusan Ekonomi. Mereka ingin mengadvokasi pengurangan bea cukai dan mata uang asing agar dapat mengimpor cengkeh sendiri’. De Volkskrant, 24-09-1949: ‘Akibat kenaikan pajak ekstra: Kesulitan Industri Rokok di Indonesia, Pendapatan Tambahan untuk Negara. Semarang, 18 September — Para produsen rokok kretek (jenis rokok yang mengandung cengkeh) di Malang, Semarang, dan Kudus, tiga pusat utama industri ini, telah menutup usaha mereka. Terdapat 35 pabrik di Malang dengan 10.000 pekerja, 70 di Semarang dengan 35.000 pekerja, dan 60 di Kudus dengan 15.000 pekerja. Para produsen tidak menganggap mungkin untuk terus beroperasi secara menguntungkan. Kenaikan pajak ekstra merupakan penyebab utama hal ini. Selain itu, terjadi kekurangan dan kenaikan harga cengkeh. Sepertiga dari isi rokok kretek terdiri dari cengkeh. Pada awal tahun ini, cengkeh dibeli dari pemerintah seharga 285 gulden per kuintal. Batch terakhir yang dijual pemerintah harganya mencapai 1.200 gulden per kuintal. (Harga pembelian pemerintah adalah 200 guilder). Harga pasar bebas telah naik menjadi 1.600 guilder per kuintal. Kesulitan ketiga muncul akibat pengenalan banderol mulai 1 Oktober. Para produsen terbiasa membayar bea cukai mereka secara tertunda. Sekarang mereka harus membayarnya di muka setiap bulan. Ini merupakan modal mati. Para produsen rokok ini menyatakan bahwa mereka hanya akan membuka kembali pabrik mereka dan memasarkan produk mereka kembali ketika pemerintah mencabut kenaikan bea cukai, atau ketika pemerintah menyediakan mata uang asing sehingga masyarakat dapat mengimpor cengkeh sendiri. Lagipula, hanya cengkeh Zanzibar yang cocok untuk rokok kretek. Menurut para produsen ini, langkah-langkah pemerintah saat ini akan memaksa mereka untuk menaikkan harga sebatang rokok kretek dari 3 menjadi 10 sen. Namun, mereka menganggap rokok tersebut tidak laku dengan harga tersebut’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22-10-1949: ‘Ungkapan Rasa Syukur! Komite Sub-Pasar Malam PMI/TNI. dengan ini menyampaikan ribuan terima kasih atas dukungan moral dan material yang diterima untuk Stand "Dwiwarna", yang memungkinkan semuanya berjalan dengan baik. Donasi amal yang diterima meliputi: (para pengusaha di Jawa Tengah termasuk pabrik jamu Njonja Meneer dan pabrik rokok kretek Nitisemito) dengan susunan panitia (sejumlah tokoh di Semarang). Sekali lagi, terima kasih yang sebesar-besarnya dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan! Sub-komite PMI/TNI, Ketua, MT Ritonga (kepala bea cukai Semarang).

Nama Nitisemito  tidak hanya terkenal sebagai pengusaha rokok kretek di Koedoes, tetapi namanya juga cukup dikenal di Jawa Tengah termasuk kota Semarang. 


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-10-1950: ‘Sebanyak 145.000 Batang Rokok Disita. Polisi Semarang berhasil menyita 145.000 batang rokok kretek merek "Djual Manik". Rokok-rokok ini berasal dari pabrik di Kudus dan akan diangkut ke Cheribon. Dari 145.000 batang rokok yang disita, 1.000 batang tidak memiliki pita, sedangkan sisanya memiliki pita kadaluarsa’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 09-11-1950: ‘Tadi malam, rapat Gabungan Perusahaan Rokok Indonesia berlangsung di Semarang, sebuah badan yang terdiri dari asosiasi produsen tembakau dari Kudus dan dua asosiasi dari Semarang. Dalam rapat tersebut, diputuskan untuk mengusulkan kepada pemerintah agar pajak cukai tembakau dikurangi menjadi 25% untuk rokok dan 20% untuk cengkeh. Kerugian pendapatan yang akan ditanggung pemerintah akibat hal ini dapat — menurut usulan tersebut — diimbangi dengan pengenaan pajak keuntungan bebas atas cengkeh impor. Namun, pasokan cengkeh melalui jalur resmi kemudian harus mencukupi sehingga produsen tidak perlu membeli di pasar gelap’. 


Seperti di kota-kota lainnya, para produsen rokok kretek di Koedoes yang tergabung dalam asosiasi Perserikatan Perusahaan Rokok Kretek Kudus akibat kebijakan pemerintah dan dianggap tidak cepat merespon keluhan para produsen  serta semakin intensnya impor rokok (putih) Virginia mulai berguguran.


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-10-1951: ‘Residentie Kudus memiliki 336 pabrik kretek. Menurut laporan terbaru tentang industri rokok di Residentie Kudus, saat ini terdapat 336 pabrik kretek di wilayah ini, yang menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 15.000 pekerja pria dan wanita. Beberapa pabrik tersebut telah bergabung dalam Perserikatan Perusahaan Rokok Kretek Kudus’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-12-1951: ‘Kesulitan dalam Industri Kretek. Asosiasi produsen rokok kretek di Semarang telah mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan untuk menurunkan bea cukai rokok, khususnya rokok kretek buatan tangan dari 40% menjadi 30%, dan rokok robotik dari 30% menjadi 20%. Para produsen rokok ini, baik di Semarang maupun Kudus, menunjukkan bahwa biaya produksi telah meningkat tajam akhir-akhir ini. Harga cengkeh yang dibutuhkan untuk pembuatan rokok kretek telah naik sebesar Rp 1.000 menjadi Rp 2.100 per kuintal, sementara harga tembakau tiga kali lipat dari harga tahun lalu. Dan di atas kenaikan harga produksi ini, kenaikan bea cukai semakin memberatkan. Terlebih lagi, produsen kretek yang jujur ​​harus menghadapi persaingan yang sangat serius dari produsen yang memasarkan rokok mereka secara diam-diam tanpa pita atau dengan pita yang salah. Polisi Ekonomi, menurut PPRS, tidak mampu mengakhiri hal ini, yang merugikan para produsen yang jujur. Terakhir, PPRS menunjukkan bahwa persaingan dari pabrik-pabrik asing yang beroperasi secara mekanis sangat merugikan perusahaan-perusahaan nasional yang lebih kecil, yang harus beroperasi dengan ribuan pekerja yang mahal’. 

Satu faktor lainnya yang memperburuk situasi dan kondisi industri rokok kretek di Koedoes adalah semakin memburuknya TNI dengan para tentara yang yang desersi yang berbalik melawan TNI (otoritas pemerintah RI). Salah satu pabrik rokok kretek di Koedoes telah menjadi markas pemberontak yang kemudian dikepung TNI dari divisi Diponegoro. 


De Volkskrant, 11-12-1951: ‘34 Tewas, 53 Luka-luka: Pemberontakan di Jawa Tengah. Djakarta, 10 Desember (Aneta, AP). Dalam pertempuran sengit antara tentara Indonesia yang setia dan seluruh batalion pembelot yang memberontak, 34 tentara tewas dan 53 luka-luka akhir pekan ini di dekat Magelang dan Koedoes di Jawa Tengah. Para pembelot, yang berjumlah beberapa ratus tentara dari Divisi Dipenegoro, telah bergabung dengan Darul Islam yang memberontak, sebuah organisasi pejuang Muslim. Kerusuhan dimulai pada hari Sabtu ketika empat kompi Batalion 426 menolak untuk tunduk pada otoritas militer. Di bekas pabrik cerutu (sigarettenfabriek) dekat Koedoes, sekelompok pemberontak yang berjumlah 21 kompi dikepung oleh pasukan yang setia. Pada malam hari, para pemberontak menerobos dan bergerak ke utara. Di Magelang, pemberontak lainnya —sekitar 1 kompi — nyaris lolos dari pengepungan. Mereka melarikan diri ke pegunungan dengan semua senjata mereka. Secara total, 22 desertir dan 12 anggota Apri, tentara Indonesia, tewas. Lima puluh tiga tentara setia terluka dan 69 pemberontak ditawan’. Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 09-02-1952: ‘Raden Mas Pandji Sosro Kartono wafat, Penyelamat ribuan orang yang meminta pertolongannya. Pada usia 75 tahun, Raden Mas Pandji Sosro Kartono, sarjana sastra, wafat kemarin pagi pukul 11:50 di rumahnya di Dar-oes-salam, yang terletak di sudut Dj. Kaboepaten dan Dj. Pungkur. Beliau adalah saudara dari almarhum Raden Adjeng Kartini dan putra dari Bupati Japara yang terkenal, RM. Ario Adipati Sosroningrat. Jenazah diterbangkan ke Semarang pagi ini untuk dimakamkan di makam keluarga di Koedoes. Drs Sosro Kartono adalah mahasiswa Indonesia pertama yang melanjutkan studinya di Belanda setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya di sini. Ia pertama kali belajar di Delft dan kemudian di Leiden, terutama di bawah bimbingan ahli bahasa terkemuka Profesor Hendrik Kern, yang memberinya kesempatan untuk mengembangkan kecintaannya yang besar terhadap bahasa dan masyarakat Barat dan Timur. Ia menghabiskan lebih dari 25 tahun di Eropa, di mana ia memegang posisi-posisi penting. Kemudian, ia menetap di Bandung, di mana ia mengabdikan dirinya pada pekerjaan amal dan penyembuhan selama lebih dari 26 tahun, hingga kematiannya. Setiap hari ia menerima ratusan orang dari berbagai ras, kebangsaan, agama, pangkat, dan kelas sosial dari seluruh Indonesia dan Melaka. Mereka semua adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan, tidak bahagia, cacat, atau sakit. Ia membantu mereka semua, tanpa membedakan, besar atau kecil, miskin atau kaya, sepenuhnya tanpa pamrih. Jika orang memberinya sesuatu, ia memberikan atau mengirimkan semuanya kembali atau membagikannya kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Rumah tempat ia melakukan pekerjaan ini diberikan kepadanya untuk tujuan tersebut oleh teman-temannya. Rumah itu bernama Dar-us-salam, yang berarti "Tempat Kedamaian." Semua pekerjaan di rumah ini dilakukan melalui tindakan persahabatan. Melalui pekerjaan spiritual ini, Drs Sosro Kartono menyembuhkan dan menyelamatkan ribuan orang, tidak hanya dari penyakit fisik tetapi juga dari penyakit spiritual dan moral. Banyak yang layu dalam roh dan jiwa menjadi manusia seutuhnya melalui beliau. Transformasi ajaib ini, yang dapat terjadi di dalam diri seseorang dan yang bermanifestasi sebagai kesehatan tubuh dan pikiran, atau sebagai perubahan moral, atau sebagai solusi atau hasil dari kesulitan segala jenis, dapat bermanifestasi secara tiba-tiba atau bertahap dan dianggap sebagai hasil dari pengaruh doa yang dikabulkan. Imannya yang teguh kepada Tuhan dan teladannya yang cemerlang selalu menjadi penopang ribuan orang, terutama selama tahun-tahun sulit setelah tahun 1940. Beliau juga seorang pencinta hewan yang hebat dan menyembuhkan semua jenis hewan dari penyakit. Perhatian dan pengabdian Drs Sosro Kartono meluas kepada setiap makhluk, terlepas dari apakah itu manusia, hewan, atau tumbuhan. Baginya, segala sesuatu memiliki kehidupan, dan dalam segala hal ia melihat bagian dari Yang Esa’. 

Pada tahun 1952 ini terinformasikan pabrik rokok keretek tjap Djarum (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-07-1952). Tidak terinformasikan dimana lokasi pabrik yang telah memiliki pusat penjualan di Djakarta. Disebutkan hari ini, sumbangan berikut diterima oleh pengurus Bode Jawa untuk para korban kebakaran besar di Kampong Bunder, antara lain Pusat Pendjualan Rokok Kretek tjap “Djarum". 


Nama Djarum dalam hal ini juga menjadi nama alat elektronik granofon merek Djarum (“Djarum Gramofoon”) yang dijual oleh (toko) Radio Omega di Semarang (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-08-1952). Tentu saja masih ada nama Djarum yang digunakan sebagai merek produk yang berbeda misalnya bena ng jahit merek “Djarum Mas”. Sebelumnya juga sudah terinformasikan menggunakan nama surat kabar (“Djarum Masa”) (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 06-06-1950). Foto: jarum gramofon. 

Di Koedoes sendiri sangat banyak pabrik rokok kretek. Nama-nama pabrik rokok kretek di Koedoes antara lain merek (tjap) Bola Tiga, Djambu Bol (milik HMA Ma'roef), Djagung dan Delima. Bagaimana dengan nama (tjap) Djarum yang sudah memiliki pusat pernjualan di Djakarta? 


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-12-1952: ‘Rehabilitasi Perusahaan Rokok-kretek di Kudus. Dipimpin Bupati Kudus Bapak S. Reksoprodjo, Sabtu pekan lalu diadakan rapat yang dihadiri kurang lebih 45 produsen rokok-kretek asal Kudus. Tujuan pertemuan ini antara lain untuk membentuk panitia rehabilitasi usaha. Pembentukan komite tersebut disetujui dengan suara bulat. Yang bertugas dalam panitia ini adalah bapak-bapak: Muzjahid Mochtar (ketua serikat kretek di Kudus), Sumadji Nitisemito (produsen Bola Tiga), HMA Ma'roef (produsen Djambu Bol), Husnan Muslich (produsen Djagung), dan Abdul'lah Noor (produsen Delima), sedangkan H Hardjowinoto, petani asal Kudus, adalah terpilih sebagai penasehat. Produsen yang berhak mendapatkan alokasi cengkeh adalah: 1. produsen yang sangat menderita selama pendudukan Jepang, 2. pabrik yang didirikan sebelum perang dan hingga Perang Dunia II, 3. pabrik kecil diberikan prioritas. Cengkeh akan didistribusikan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan’.. 

Pabrik rokok kretek di Indonesia terkonsentrasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Koedoes di Jawa Tengah, jumlah pabrik kretek besar dan kecil yang berafiliasi dengan Persatuan Perusahaan Rokok Kudus mencapai 132 perusahaan. Sebanyak 100 perusahaan dimiliki oleh warga pribumi, sisanya oleh warga Cina dan Arab. Secara keseluruhan di Residentie Koedoes menyediakan lapangan kerja bagi 25.000 orang. Namun, karena adanya krisis seperti disebut di atas pada akhir kuartal kedua tahun 1952, hanya tersisa 32 perusahaan yang mampu terus beroperasi. 


Indonesische documentatie dienst van ANP-Aneta, 1952, no. 29, 01-09-1952: ‘Industri Kretek. Situasi industri kretek juga tidak menggembirakan. Banyak pabrik di Jawa Tengah dan Jawa Timur terpaksa tutup atau membatasi produksinya. Akibatnya, banyak pekerja di industri kretek menjadi pengangguran. Penyebab utamanya adalah kenaikan tajam harga salah satu bahan utama kretek, yaitu tjengkeh, yang sekarang harganya sekitar Rp 2.750 per kuintal dibandingkan Rp 800 pada kuartal kedua tahun 1951. Secara khusus, fakta bahwa perdagangan tjengkeh berada di tangan importir dan perantara asing berarti bahwa para produsen di Kudus tidak siap untuk menghadapi situasi saat ini. Jumlah pabrik kretek besar dan kecil di Kudus mencapai 132, yang berafiliasi dengan Persatuan Perusahaan Rokok Kudus. Dari 132 perusahaan tersebut, 100 dimiliki oleh warga Indonesia, sisanya oleh warga Cina dan Arab. Usaha kecil ini menyediakan lapangan kerja bagi 25.000 orang. Namun, krisis juga terlihat di sini. Pada akhir kuartal kedua tahun 1952, hanya tersisa 32 perusahaan yang mampu terus beroperasi. Dari 32 perusahaan tersebut, tentu hanya sedikit yang akan bertahan jika pemerintah tidak mengambil tindakan dalam jangka pendek. Yang juga membebani perusahaan-perusahaan ini adalah pajak cukai tembakau, yang umumnya terasa terlalu berat, terutama karena keberadaan bisnis tembakau ilegal yang menjual produk mereka tanpa label (Aneta). 

Pabrik kretek terbesar di Kudus adalah perusahaan rokok kretek tjap "Bola Tiga” (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 09-03-1953). Seperti disebut di atas, pemilik perusahaan rokok kretek tjap “Bola Tiga” adalah Nitisemito (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 02-12-1952).

 

Pada tahun 1953 Nitisemito diberitakan meninggal dunia (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 09-03-1953). Disebutkan Radja Rokok Kretek meninggal dunia. Pada usia 90 tahun, Bapak Nitisemito, pemimpin pabrik kretek terbesar di Kudus, Tjap "Bola Tiga", meninggal dunia Sabtu lalu di Kudus. Bahkan sebelum meninggal, almarhum dikenal di seluruh Indonesia sebagai "raja rokok-kretek". Pada Sabtu sore, pemakaman berlangsung di Krapjak di tengah perhatian besar dari pihak berwenang, produsen kretek, dan warga Kudus. Perusahaan akan dilanjutkan oleh putranya, Bapak Soemadji Nitisemito. Catatan: Nitisemito memulai karir bisnis dari bawah (lihat De koerier, 27-01-1940). Disebutkan Kelas Menengah Pribumi. Semalam, di gedung Akademi Administrasi di Kebon Sirih, sebuah ceramah tentang Kelas Menengah Pribumi disampaikan kepada mahasiswa Akademi Administrasi oleh Ir. Teko dari Departemen Urusan Ekonomi. Ceramah ini, yang diilustrasikan dengan slide, dihadiri oleh, antara lain, Qud-Edeleer Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat dan Bupati Batavia. Pembicara memulai dengan proposisi bahwa kelas menengah membentuk tulang punggung masyarakat dan bahwa tanpa kelas menengah yang sehat, kemakmuran di suatu negara tidak mungkin terjadi. Salah satu penyebab kemunduran Kekaisaran Romawi juga adalah tidak adanya kelas menengah. Selanjutnya, beliau memberikan deskripsi tentang apa yang beliau pahami sebagai Kelas Menengah Pribumi; Beliau menganggap mereka sebagai: masyarakat adat yang memiliki modal sendiri, mandiri (dengan demikian bukan pegawai negeri), dan tidak termasuk, di satu sisi, kapitalis besar dan, di sisi lain, buruh upah. Jika diukur berdasarkan kriteria tersebut, Hindia Belanda masih memiliki sangat sedikit warga kelas menengah. Sebagian besar, hal ini disebabkan oleh keinginan yang masih kuat untuk bekerja di sektor jasa di kalangan masyarakat. Pemerintah, setelah menyadari pentingnya kelas menengah pribumi yang berkembang di wilayah ini, berupaya untuk merangsang pertumbuhannya dengan berbagai cara. Ada Dinas Penyuluhan Pertanian dan Industri serta Dinas Kerja Sama dan Perdagangan Dalam Negeri. Pendirian sekolah-sekolah perdagangan ritel juga dimulai dengan tujuan ini. Apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat pribumi sendiri dalam hal ini adalah, pertama-tama, untuk menghormati warga kelas menengah lokal yang sudah ada, terutama di depan umum, dan menganggap mereka tidak kurang dari pegawai negeri. Lebih jauh lagi, Pemerintah telah mendahului mereka dalam hal ini dengan memberikan beberapa warga kelas menengah Jawa penghargaan berupa bintang emas atau perak sebagai tanda apresiasi atas jasa mereka. Slide yang ditampilkan berkaitan dengan kapasitas bisnis dan organisasi dari para pemilik usaha kelas menengah yang sudah ada, banyak di antaranya, yang memulai dari kecil, kini telah menjadi produsen atau pedagang besar. Nitisemito yang terkenal dari Koedoes, misalnya, memulai karirnya sebagai seorang buruh biasa, yaitu penggulung rokok klobot. Kemudian, ia berkeliling menjual rokok klobot sepanjang jalan; dan sekarang ia memiliki pabrik kretek modern yang besar. Para pemilik usaha kelas menengah yang kaya dan giat banyak ditemukan di Solo, Djokja, Koedoes, Cheribon, Bandoeng, Batavia, dan Palembang. Bapak Loekman Djajadiningrat (BUpati Batavia) mengucapkan terima kasih kepada pembicara atas ceramahnya yang menarik dan mendidik’. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-01-1940: ‘Tuan Lasahido adalah sosok yang sering muncul di Manado, meskipun sangat tidak mencolok. Seorang jutawan Cina atau pribumi, seperti Oey Tiong Ham di Semarang dan radja kretek terkenal Nitisemito di Koedoes’. 

Bagaimana rokok kretek bermula? Rokok kretek adalah tembakau yan dibungkus dicampur dengan cengkeh. Dalam sejarahnya, cengkeh sudah dikenal sejak baheula yang menjadi komoditi perdagangan dari Maluku (Banda) sejak awal VOC/Belanda. Bagaimana dengan tembakau? Boom perkebunan tembakau di Jawa belum lama yang kemudian planter tembakau dari Jawa Timur memperkenalkannya di Deli pada tahun 1863 (yang menjadi awal mula kota Medan). Lantas bagaimana munculnya rokok kretek yang selalu diasosiasikan dengan Jawa. Yang jelas sebelum munculnya rokok kretek yang terinformasikan adalah rokok klobot yang diduga kuat menjadi asal usul munculnya rokok kretek. 


Sebutan rokok klobot paling tidak terinformasikan pada tahun 1894 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-01-1894). Disebutkan “Selain Sinjos dan nonas, rumah itu dipenuhi debu dari keset pintu, dan asap dari rokok klobots (rokok yang terbuat dari dari daun jagung muda yang direbus dan dikeringkan). De Indiër, 13-04-1917: ‘Pabrik Rokok Madjapait. Dari pabrik tersebut, kami menerima Rokok Klobot RM. dan rokok Dipanegara yang dipasarkan oleh pabrik tersebut untuk dievaluasi. Harus kami akui bahwa baik Rokok maupun rokok tersebut sangat memuaskan kami, terutama mengingat harga jualnya. 20 batang rokok Dipanegara hanya berharga 12 sen, sedangkan untuk 20 batang Rokok RM harganya 3,5 sen. Diskon diberikan untuk pembelian dalam jumlah besar’. Catatan: Mengapa disebut rokok kretek (karena bunyi yang timbul saat rokok terbakar) adalah satu hal. Namun nama tempat Kretek sudah ada pula seja lama di Afdeeling Kendal (lihat Rotterdamsche courant, 07-02-1826) dan nama tempat/sungai Tjikretek (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-04-1865). De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 28-10-1868: ‘Panitia Surabaya untuk pengumpulan dana, untuk menyediakan bahan merokok bagi pasukan di Bali, mengumumkan bahwa Laksamana Madya Fabius telah mengirimkan: 10.060 kantong tembakau dan 5.000 buah cerutu Blitar; Selanjutnya, Bapak NN memberikan hadiah berupa 3.000 cerutu Blitas, 3.000 cerutu klobot, dan 2 bungkus cerutu dan tembakau’. Dalam hal ini kretek (rokok) dibedakan dengan keretek (nama jenis alat angkut seperti delman, geobak guda, betja dan sebagainya). 

Rokok klobot (dibungkus daun jagung) adalah cikal bakal rokok kretek (dibungkus kertas tembakau/rokok) pada masa ini. Namun yang menjadi pertanyaan, sejak kapan dan dimana rokok klobot ini bermula? Tentu saja di Indonesia, tetapi di kota/desa mana? 


Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 17-01-1931: Industri Rokok Kretek di Koedoes. Suku Moeren sebagai pembuat roko-kretek pertama — Cengkeh awalnya adalah obat. — Kemudian menjadi bahan dalam roko-kretek. — Bahan baku lainnya. — Salah satu produsen terbesar: Nitisemito. — Harga daun djagoeng. — Terdapat 40 hingga 50.000 pembuat rokok. — Pada tahun 1929, 5.408 ton daun jagung diangkut oleh SJS. — Ini berarti angka 3,5 miliar. — Kepentingan pemerintah. Kelesuan juga di Kudus! (Dari kontributor khusus). Selama beberapa tahun terakhir, industri lokal telah berkembang di ibu kota Kudus, yang telah mencapai skala sedemikian rupa sehingga menjadi faktor ekonomi yang sangat penting bagi tempat tersebut dan sekitarnya. Ini merujuk pada pembuatan jerami yang dicampur dengan tembakau dan cengkeh, yang ditujukan untuk pasar domestik. Produk ini sangat diminati sehingga pembuatan sedotan krètek kini dilakukan di beberapa lokasi lain di Jawa. Asal mula industri ini, yang kini cukup luas dan menyediakan mata pencaharian yang substansial bagi ribuan keluarga di Jawa, terletak di ibu kota, Koedoes. Orang mungkin bertanya-tanya mengapa pembuatan sedotan krètek dimulai tepat di Koedoes. Lagipula, baik di wilayah ini maupun di sekitarnya tidak ada budidaya tembakau, dan cengkeh juga tidak tumbuh di sana—dua komponen utama sedotan krètek. Ada dua versi mengenai asal mula industri krètek di Koedoes, yang akan kami sajikan di sini tanpa menjamin keakuratannya. Di ibu kota, Koedoes, kita menjumpai keturunan Moor yang konon pertama kali menetap di Japara beberapa abad yang lalu, di mana mereka membentuk pemukiman Moor pertama di Hindia. Memang, pemukiman Moor masih ada di Japara hingga saat ini, yang anggotanya tetap memisahkan diri dari penduduk Jawa hingga sekarang. Beberapa ratus orang Moor juga masih tinggal di ibu kota, Koedoes, di bagian tertua kota ini. Tidak terpisah dari populasi lainnya. Memang benar bahwa selama bertahun-tahun orang-orang Moor ini telah bercampur sedikit banyak dengan penduduk Jawa melalui perkawinan campur, namun mereka tetap mempertahankan adat dan kebiasaan mereka, sementara tipe Moor masih jelas terlihat. Orang-orang Moor ini, sekarang, dikatakan sebagai yang pertama mencampur cengkeh ke dalam tembakau di sedotan mereka, sebuah kebiasaan yang mereka pelajari dari leluhur mereka dan yang pasti selalu ada di tanah air mereka. Secara bertahap, penduduk di sini dikatakan telah mengadopsi kebiasaan itu, sehingga menemukan pengikut dalam lingkaran yang semakin luas. Kisah lainnya adalah sebagai berikut. Sekarang, bertahun-tahun yang lalu, di desa Djanggalan, di kota utama Koedoes, hiduplah seorang Hadji Djamahri yang saat itu terkenal. Pria ini memiliki dada yang lemah dan akibatnya sangat menderita karena batuk yang sangat mengganggu. Terlepas dari semua pengobatan yang dia terapkan, dia tidak dapat disembuhkan dari penyakitnya yang mengganggu. Salah satu dari banyak obat yang dia gunakan adalah minyak cengkeh. Obat ini memang memberinya kelegaan ketika dia menggosok dada dan punggungnya dengan minyak itu, tetapi kesembuhan total tidak terjadi. Hal itu tidak terjadi. Hadji Djamahri menyadari bahwa mengunyah cengkeh sangat bermanfaat baginya. Ia memahami bahwa penyakitnya adalah akibat dari kondisi patologis pada organ pernapasannya. Hal ini membawanya pada gagasan untuk mencampur cengkeh ke dalam tembakau di sedotannya dan, dengan menghirup asapnya, memasukkan uap cengkeh ke dalam organ pernapasannya. Hasilnya dikatakan ajaib, sehingga obat tersebut menjadi sangat terkenal. Tak lama kemudian, Djamahri harus membuat campuran cengkeh tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk teman dan kenalannya. Awalnya dimaksudkan sebagai obat, para pengguna sedotan cengkeh menjadi kecanduan dan tidak lagi menyukai sedotan tanpa cengkeh. Permintaan akan sedotan kretek sebagai stimulan menjadi sangat besar sehingga Hadji Djamahri mendirikan usaha kecil untuk memenuhinya. Keuntungan yang diperolehnya dari usaha ini mendorong orang lain untuk mengikuti contohnya, dan tak lama kemudian produk Kudus mendapatkan reputasi jauh melampaui batas Kota, akhirnya mencapai sebagian besar penduduk di Jawa, dan bahkan hingga ke Luar Negeri. Hadji Djamahri dikatakan meninggal di Kudus pada tahun 1890 sebagai seorang pria yang cukup kaya. Seperti yang telah disebutkan, tembakau dari pembungkus kretek dicampur dengan cengkeh, sedangkan daun kering dari daun djagoeng digunakan sebagai pembungkusnya. Isi bungkusan tersebut terdiri dari sekitar 60 hingga 70 persen tembakau dan sekitar 40 & 30 persen cengkeh, yang dipotong menjadi irisan yang sangat tipis. Saat menghisap bungkusan tersebut, cengkeh akan berderak dan mendesis serta mengeluarkan suara. Produk ini mendapatkan namanya dari hal tersebut. Awalnya, hanya tembakau dari (Residentie) Kedoe yang digunakan. Namun, sekarang para produsen mendapatkan bahan baku ini dari seluruh wilayah Jawa dan Madura. Tembakau dari Madura, khususnya, semakin banyak digunakan. Meskipun awalnya hanya satu jenis tembakau yang digunakan dalam satu batang, sekarang berbagai campuran digunakan. Pencampuran berbagai jenis tembakau dalam satu batang adalah rahasia terbesar setiap produsen, karena rasa produknya menentukan nilai jual dan mengendalikan penjualannya. Cengkeh diperoleh dari Zanzibar melalui perantara importir Eropa. Cengkeh dari Maluku kurang cocok karena kandungan minyaknya yang berlebihan. Karena berbagai alasan, para produsen telah mencoba mengganti cengkeh dengan minyak cengkeh. Namun, mereka harus meninggalkan metode pengolahan ini, karena omset mereka menurun sangat signifikan, meskipun rasanya tetap sama, tetapi batangnya... tidak berbunyi gemerisik saat dihisap! Meskipun awalnya industri ini sebagian besar berada di tangan penduduk pribumi, sekitar 14 hingga 15 tahun yang lalu orang Cina juga mulai fokus pada industri ini. Hal ini memunculkan persaingan sengit antara para produsen yang berasal dari satu kelompok penduduk di satu sisi dan kelompok penduduk lainnya. Di sisi lain, persaingan di Koedoes pada tahun 1918, yang menyebabkan begitu banyak korban, berakar pada persaingan tersebut. Industri di tangan orang Cina berkembang paling pesat; pabrik-pabrik terbesar dimiliki oleh orang Cina. Di antara para produsen pribumi, yang paling menonjol adalah M. Nitisemito. Pria ini, seorang penduduk desa Jawa biasa yang tidak berpendidikan, adalah putra kepala desa Langardalem yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Atas desakan ayahnya, ia menjadi Nitisemito, atau yang biasa disebut Niti tjarik (juru tulis desa), di desa ayahnya. Niti tidak tertarik dengan pekerjaan itu, dan segera menjadi jelas bahwa ia tidak cocok untuk pekerjaan tersebut. Kecenderungannya lebih condong ke arah perdagangan. Karena putus asa, Loerah tua mengalah kepada putranya yang tidak berguna itu. Niti memasuki layanan salah satu produsen rokok klobot yang ada pada waktu itu. Setelah mengumpulkan sejumlah uang, ia mulai bekerja untuk dirinya sendiri. Dengan uang yang diperolehnya, ia membuka toko daging di samping bisnis pembuatan rokok klobotnya. Namun, industri rokok klobotnya berkembang lebih cepat daripada toko dagingnya, sehingga Niti memutuskan sekitar tahun 1920 untuk mengesampingkan toko daging dan fokus sepenuhnya pada industri klobot. Dengan melakukan hal itu, petani sederhana ini menunjukkan kemampuan organisasi, kecerdasan bisnis, dan wawasan ekonomi yang mengagumkan dan unik. Bisnis klobotny terus berkembang dan menjadi industri yang sangat penting. Nitisemito, yang merupakan orang yang sangat dihormati di daerahnya dan jauh di luarnya, saat ini diperkirakan memiliki kekayaan sekitar 3 juta guilder. Meskipun demikian, ia tetap menjadi pria sederhana yang sama—seorang pria yang sangat bersahaja untuk seorang jutawan dalam gaya hidupnya. Ia masih bekerja bersama para pekerja di pabriknya setiap hari. Ia berpakaian seperti buruh lainnya dan berdiri, kepanasan karena pekerjaan, bermandikan keringatnya. Ketika seseorang memasuki bengkelnya dan bertemu dengan salah satu kuli yang bekerja di sana yang diidentifikasi sebagai jutawan Nitisemito, orang tersebut akan berdiri dengan bingung dan tak percaya; Niti memiliki sekitar 3.000 orang yang bekerja untuknya setiap hari. Untuk memberikan gambaran tentang skala industri rokok kretek Koedoes dapat diikuti dengan penjelasan berikut. Seperti yang telah disebutkan, klobot (daun pelindung dari daun djagoeng) digunakan sebagai pembungkus jerami. Klobot ini diimpor dari berbagai tempat. Meskipun klobot dulunya, seperti yang kebetulan masih terjadi di daerah lain saat ini, tidak berharga, pada saat munculnya industri kretek, harganya mencapai f0,25 per seribu. Saat ini, dijual dengan harga tidak kurang dari f1.— per seribu. Jika dihitung bahwa sebuah bangunan sawah jika sekitar 8 hingga 10 ribu bulir jagoeng dapat dipanen, salah satu konsekuensi dari industri krètek adalah hasil panen dari satu baris penanaman jagoeng telah meningkat sekitar 8 hingga 10 guilder. Industri krètek di Kudus membutuhkan sekitar 40 hingga 50.000 pekerja per hari. Tidak perlu diragukan lagi bahwa pabrik-pabrik gula di Kudus sangat merasakan persaingan dari produsen klobot untuk mendapatkan tenaga kerja. Akibatnya, jumlah pengangguran meningkat sangat signifikan. Di ibu kota Kudus, tidak ada kuli harian yang dapat diperoleh dengan upah kurang dari 70 sen per hari; meskipun afadeeling Kudus memiliki populasi yang relatif besar, pabrik-pabrik gula terpaksa bekerja sebagian dengan tenaga kerja impor. Klobot sebagian besar diangkut oleh SJS, meskipun pabrik terbesar perusahaan-perusahaan mengirimkan produk mereka menggunakan truk milik mereka sendiri. Ini termasuk Nitisemito, antara lain. Dalam beberapa tahun terakhir, pengiriman dilakukan oleh S.J.S. Diangkut: 1927 — 5458 ton klobot; 1928 — 6496 ton; 1929 — 5408 ton atau rata-rata sekitar 5800 ton per tahun. Jika kita memperkirakan bahwa SJS mengangkut total produksi selama 2 tahun, kita tentu meremehkan pengangkutan dengan truk. Meskipun demikian, total produksi 8700 ton klobot per tahun dapat diasumsikan. Tes menunjukkan bahwa produsen menghasilkan sekitar 50.000 klobot dari campuran 140 katti (tembakau x cengkeh); dengan asumsi klobot yang dibutuhkan untuk ini beratnya sekitar 60 katti, berat 50.000 jerami setara dengan sekitar 2 pikol atau 125 kg. Oleh karena itu, 1 ton mengandung 8 x 50.000 klobot. Total produksi tahunan Kudus karenanya akan berjumlah 8700 x 8 x 50.000 = 3.480.000.000 klobot, atau sekitar 31 miliar. Keuntungan yang diperoleh produsen rata-rata 40 sen per seribu sedotan, sehingga total keuntungan tahunan dapat diperkirakan sebesar satu juta empat ratus ribu gulden. Biaya tenaga kerja yang dibayarkan sekitar 50 hingga 60 sen per seribu. Dengan demikian, industri ini membayar penduduk sebesar £1.925.000—atau hampir 2 juta gulden—dalam biaya tenaga kerja untuk sedotan (sedotan diproduksi sepenuhnya dengan tangan). Jika ditambah dengan upah yang dibayarkan untuk pengemasan dan pekerjaan lain di pabrik, dapat diasumsikan bahwa industri rokok kretek di Kudus menghasilkan sekitar 200 juta gulden bagi penduduk. Sebagai ilustrasi, berikut beberapa angka lainnya. Pada tahun 1927 dan 1928, masing-masing 2.483 ton diimpor ke Semarang dari Zanzibar. 2.304 ton cengkeh, yang hampir seluruhnya masuk ke industri kretek di Kudus. Kita telah melihat bahwa campuran tersebut mengandung sekitar 35% cengkeh, atau sekitar 1/3 rata-rata. Dihitung berdasarkan jumlah cengkeh yang digunakan, produksi tahunan pada tahun 1927 dan 1928 akan berjumlah 3 x 2.483 ton — 7.449 ton dan 3 x 2.304 ton — 6.912 ton masing-masing; jika ditambahkan dengan jumlah cengkeh yang diimpor dari Wilayah Luar (yang dicampur dengan cengkeh Zanzibar, yang jauh lebih mahal), yang berjumlah 765 ton pada tahun 1928, terlihat bahwa angka produksi tahunan yang diperkirakan di atas, yaitu sekitar 8.700 ton jerami, tentu tidak terlalu tinggi. Kami hanya memilih beberapa contoh dari data kami untuk menunjukkan betapa pentingnya industri rokokkréték di Kudus. Maka, kami juga terkejut bahwa faktor ekonomi yang sangat penting ini baru-baru ini menarik perhatian pemerintah. Ketertarikan itu belum meluas lebih jauh dari pengiriman tim industri. konsultan. Hingga saat ini, misi tersebut tampaknya belum menghasilkan apa pun selain pengumpulan beberapa data mengenai industri ini. Setidaknya, kita belum mendengar bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk melindungi industri ini dari persaingan pengusaha asing yang sedang membangun pabrik besar di Semarang, tempat rokok murah akan segera diproduksi untuk konsumen lokal. Industri kretek di Kudus juga merasakan dampak buruk dari kemerosotan ekonomi umum. Omset terus menurun; selusin produsen kecil telah bangkrut dan terpaksa menutup usaha mereka’. 

Pada masa ini, sebagaimana dinarasikan PT Djarum adalah perusahaan rokok terbesar keempat di Indonesia besar yang berkantor pusat di Kudus. Sejarahnya sendiri dimulai pada tahun 1951, Oei Wie Gwan, membeli perusahaan rokok NV Murup yang hampir gulung tikar di Kudus. Perusahaan tersebut memiliki merek Djarum Gramofon yang kemudian disingkat Djarum. 


NV Murup dalam hal ini apakah yang dimaksud HMA Ma'roef (produsen rokok kretek “Djambu Bol”)? Fakta bahwa ada juga rokok kretek bernama (tjap) Djarum yang bahkan sudah memiliki pusat penjualan di Djakarta. Penulisan (nama) Murup berbeda dengan penulisan (nama) Ma’roef. 


Satu yang jelas, seperti dinarasikan pada masa ini, Oei Wie Gwan meninggal dunia pada tahun 1963. Lalu bagaimana dengan anak-anak Oei Wie Gwan yakni Oei Hwie Siang dan Oei Hwie Tjhong? Dalam konteks inilah pada masa diketahui perusahaan rokok kretek Dajrum di Kudus dimiliki oleh Hartono Bersaudara (yang notabene anak-anak dari Oei Wie Gwan).


Michael Bambang Hartono sudah tiada, meninggal tanggal 19 Maret 2026 ini. Meski demikian, dalam hal klub sepak bola Como 1907, masih ada sang adik Robert Budi Hartono. Mereka berdua adalah sama-sama orang terkaya di Indonesia. Bagaimana bisa? Yang jelas Robert Budi Hartono sejak usia 10 tahun dan (alm) Michael Bambang Hartono sejak usia 11 tahun sudah lulus ujian tatabuku (boekhouden). Bandingkan dengan kakek Nadiem Makarim (mantan menteri pendidikan), Anwar Makarim lulus ujian persiapan (boekhouden) pada tahun 1937. Anwar Makarim lulus sekolah menengah atas (HBS) di PHS Batavia tahun 1936 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1936). 

Oei Wie Gwan telah memberikan pendidikan yang sesuai kebutuhan bagi kedua anaknya sejak dini: Oei Hwie Siang dan Oei Hwie Tjhong. Ibarat pemain sepak bola professional yang hebat pada masa ini, sudah masuk sekolah sepak bola (SSB) sejak usia dini (sejak masih usia sekolah dasar). Demikianlah dengan dua orang terkaya Indonesia Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono sudah mengikuti ujian pembukuan sejak usia dini. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar